Jumat, 17 April 2009

Ini Kenangan dan Harapan Anggota IPNU Tahun 1968

Boyolali, Pondok Pesantren Tegal -

KH Habib Ihsanudin dikenal sebagai ulama sepuh di daerahnya. Ketika Pondok Pesantren Tegal berkunjung ke kediamannya beberapa waktu yang lalu, Ketua PCNU Boyolali 1980-an tersebut, menyambut kami dengan ramah.

Setelah berbincang sejenak, sejurus kemudian ia masuk ke dalam. Rupanya ia mengambil sebuah buku. Ia pun mulai membuka beberapa lembar. Lalu berhenti pada satu halaman. Ia memperlihatkan foto hitam putih; seorang pemuda yang berbadan tegap dan berseragam lengkap dengan baret.

Ini Kenangan dan Harapan Anggota IPNU Tahun 1968 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Kenangan dan Harapan Anggota IPNU Tahun 1968 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Kenangan dan Harapan Anggota IPNU Tahun 1968

“Foto ini ketika saya masih aktif di Corps Brigade Pembangunan (CBP) IPNU pada tahun 1965,” terang KH Habib Ihsanudin.

Kiai Habib yang kini mengasuh sebuah pesantren di daerah Doglo, Boyolali, Jawa Tengah, mengenang kala itu, ia didapuk sebagai Komandan CBP IPNU Boyolali.

CBP merupakan salah satu badan semi-otonom IPNU, yang dibentuk bersamaan dengan lahirnya “Doktrin Pekalongan” yang ditetapkan pada Konferensi Besar IPNU di Pekalongan pada tanggal 25-31 Oktober 1964.

Pada 1965, Habib Ihsanudin muda, mengikuti latihan yang dipusatkan di Cebongan, Yogyakarta. Selama sepuluh hari, ia bersama kader CBP lainnya ditempa jasmani dan rohaninya agar menjadi pemimpin yang bertanggung jawab.

Pondok Pesantren Tegal

“Saya masih ingat salah satu pelatihnya yakni Pak Katamso, Danrem DIY (yang kemudian menjadi salah satu Pahlawan Revolusi,-red),” ungkapnya.

Pada tahun 1966, ia terpilih menjadi Ketua PC IPNU Kabupaten Boyolali hingga tahun 1968. Organisasi itu menjadi pintu awal pengabdiannya di NU. Setelah itu, ia sempat mengemban amanah sebagai Ketua PC GP Ansor Boyolali (1968-1973). Kemudian menjadi Ketua Tanfidziyah PCNU Boyolali (1977-1985).

Bahkan hingga kini, di sela kesibukannya mengasuh para santri, dirinya masih ikut mengabdi bersama NU sebagai Mustasyar NU Boyolali.

Pondok Pesantren Tegal

Ia memiliki harapan khusus untuk para generasi muda NU di masa kini. “Saya pribadi, memiliki cita-cita seperti KH Idham Chalid, yang diibaratkan seperti sedang menulis buku yang isinya 1000 lembar, bahkan lebih. Anda halaman 1 sampai 100, anak Anda 101 sampai 200, dan seterusnya. ini gambaran supaya ada regenerasi, ada yang meneruskan perjuangan ini,” kata dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tegal, Pahlawan Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 05 Februari 2009

ISNU Sumedang Gelar Lawatan Budaya Seni Tarawangsa Rancakalong

Sumedang, Pondok Pesantren Tegal - Pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Sumedang mengadakan kegiatan lawatan budaya kesenian tarawangsa atau jentreng di Dusun Cimanglid Desa Pasirbiru Kecamatan Rancakalong Sumedang, Jumat (17/2) malam. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk pembinaan nilai kesejahteraan di kalangan generasi muda melalui budaya.

Seluruh pengurus ISNU Sumedang dengan didampingi jajaran pengurus PCNU Sumedang ikut hadir dalam lawatan budaya tersebut. Ketua PCNU Sumedang H Sadulloh mengatakan, sekarang ini banyak orang yang alergi terhadap budaya.

ISNU Sumedang Gelar Lawatan Budaya Seni Tarawangsa Rancakalong (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU Sumedang Gelar Lawatan Budaya Seni Tarawangsa Rancakalong (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU Sumedang Gelar Lawatan Budaya Seni Tarawangsa Rancakalong

"Banyak orang yang alergi terhadap budaya, padahal Rasulullah diutus ke dunia hanya untuk menyempurnakan akhlak manusia, bukan untuk mengubah budayanya," kata H Sadulloh.

Pondok Pesantren Tegal

Begitu juga ketika Islam datang ke Indonesia, bukan untuk mengubah budaya Indonesia menjadi budaya Arab. Tapi bagaimana budaya yang sudah ada dikelola dengan baik. Budaya yang tidak sesuai dengan syariat Islam jangan dihilangkan tapi harus diluruskan sehingga para pelaku budaya akhlaknya semakin baik, lanjut H Sadulloh.

Sementara salah satu pengurus ISNU Sumedang Hendra Hidayat mengatakan, kebudayaan merupakan suatu proses panjang melalui tahapan belajar yang berkelanjutan hingga menjadi pengalaman dengan melahirkan karya. Hal ini terlihat dari keanekaragaman hasil budaya Nusantara yang diwariskan kepada bangsa Indonesia secara turun temurun. Lingkungan yang berbeda akan melahirkan kebudayaan yang berbeda pula.

Hendra yang merupakan aktivis budaya di Sumedang secara lebih jauh mengatakan, budaya adalah etika dan estetika hidup suatu bangsa. Sedangkan seni adalah kristalisasi nilai-nilai filosofis, sikap mental, dan nilai-nilai luhur budaya itu sendiri dengan segenap unsur pembentuknya.

Pondok Pesantren Tegal

Sementara Tarawangsa merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang ada di Jawa Barat. Istilah Tarawangsa sendiri memiliki dua pengertian. Pertama, alat musik gesek yang memiliki dua dawai yang terbuat dari kawat baja atau besi dan yang kedua nama dari salah satu jenis musik tradisional Sunda.

Tarawangsa lebih tua keberadaannya daripada rebab, alat gesek yang lain. Naskah kuno Sewaka Darma dari awal abad ke-18 telah menyebut nama Tarawangsa sebagai nama alat musik. Rebab muncul di tanah Jawa setelah zaman Islam sekitar abad ke-15, merupakan adaptasi dari alat gesek bangsa Arab yang dibawa oleh para penyebar Islam dari tanah Arab dan India. Setelah kemunculan rebab, tarawangsa biasa pula disebut dengan nama rebab jangkung (rebab tinggi), karena ukuran tarawangsa umumnya lebih tinggi daripada rebab, lanjut Hendra.

Pada sumber lain dikatakan bahwa tarawangsa adalah salah satu alat musik tradisional masyarakat sunda, yang keberadaannya bahkan disebut dan telah tertulis dalam naskah-naskah sunda kuno yang ditulis pada masa Kerajaan Sunda Padjadjaran dulu. Hingga saat ini kesenian tarawangsa masih hidup di beberapa daerah seperti di Rancakalong Sumedang, Cipatujah Tasikmalaya, dan di beberapa daerah di Bandung dan Banten.

Kabarnya, sulit sekali melacak sejarah sejak kapan dan dimana alat musik tarawangsa ini lahir di tanah pasundan, karena memang kurangnya litelatur yang menjelaskannya secara pasti. Namun di Rancakalong terdapat sebuah tradisi lisan yang hidup hingga sekarang dan diceritakan secara turun temurun mengenai kisah awal mula kesenian tarawangsa, yang menurut cerita tersebut kesenian tarawangsa telah ada sejak masa kerajaan Mataram Kuno sekitar abad 8 masehi dan kesenian tersebut berkaitan erat dengan hubungan Sumedang dengan Mataram.

ISNU Sumedang merasa terpanggil untuk mencoba menggali berbagai kebudayaan dan kesenian yang ada di Sumedang, termasuk seni tarawangsa ini. Lawatan budaya seperti ini akan terus dilakukan untuk bahan kajian para sarjana di Sumedang. Ngamumule budaya sunda pancen urang sarerea (melestarikan budaya sunda tugas kita semua), kata Hendra. (Ayi Abdul Kahar/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nahdlatul, Nasional Pondok Pesantren Tegal

NU, Dasar Negara, dan Asas Pancasila (1)

Oleh Nur Kholik Ridwan

Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, dalam Muqaddimah Qanun Asasi mengemukakan, “Mereka mengajak kepada Kitab Allah, padahal sedikit pun mereka tidak bertolak dari sana. Mereka tidak berhenti sampai di situ, malahan mereka mendirikan perkumpulan (organisasi) bagi kegiatan mereka tersebut. Maka kesesatan pun semakin jauh. Orang-orang yang malang beramai-ramai memasuki perkumpulan itu.”

NU, Dasar Negara, dan Asas Pancasila (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
NU, Dasar Negara, dan Asas Pancasila (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

NU, Dasar Negara, dan Asas Pancasila (1)

Kalimat-kalimat itu ditujukan Hadratussyekh untuk mengingatkan kepada umat Islam, khususnya warga Ahlussunnah wal Jama’ah an- Nahdliyah, untuk tidak terjun dalam lautan fitnah, apalagi ikut mengobarkannya. Beliau mengatakan: “Sementara itu ada segolongan orang yang terjun ke dalam lautan fitnah.” Jelas disadari, umat Islam Indonesia tidak lepas dari terkaman api fitnah yang merajalela, baik dulu atau sekarang. Dalam konteks itu, Hadratussyekh mengingatkan, akan banyak orang mengutip Al-Qur’an dan mengajak kepada Al-Kitab, tetapi sejatinya mereka tidak berpijak dari sana.

Pondok Pesantren Tegal

Oleh karena itu, Hadratussyekh mengingatkan, “Perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan, dan kegagalan sepanjang zaman,” dan fitnah adalah bagian dari sumber dari perpecahan itu.

Tentang fitnah yang sudah merajalela itu, juga menggerus Muslimin Indonesia, dan khususnya ditujukan kepada masyarakat NU, yaitu yang hubungannya dengan negara dan dasar Negara. Tidak hanya belakangan ini saja, tetapi juga sudah sejak lama ketika Republik ini telah berdiri. Digambarkan bahwa negara yang seperti NKRI dengan dasar Pancasila ini adalah tidak mencerminkan Islam. Pemerintah adalah thaghut dan yang mendukungnya adalah pembela thaghut. Ending - nya mereka berkampanye untuk mendirikan khilafah mengganti negara nasional dan Pancasila, sebagian menginginkan negara Islam dan mengulang tradisi Kartosoewirjo, dan sebagian membayangkan ingin perang Suriah segera terjadi dan daulah islamiyah seperti ISIS berdiri, dan hal-hal lain lagi.

Pondok Pesantren Tegal

Tulisan ini berusaha memenuhi permintaan dari sebagai sahabat-sahabat dan santri-santri pesantren yang menginginkan jawaban dari kemelut fitnah yang membuncah itu: bagaimana NU melihat dasar negara dan asas Pancasila? Karenanya fokus dari tulisan ini adalah NU dan dasar negara, yang dengan sendirinya juga membicarakan bentuk negara nasional dan hubungannya dengan agama.

Paling tidak, bagi sahabat-sahabat kami, adik-adik kami, orang-orang tua kami, dan saudara-saudara kami, semoga memberi manfaat meski hanya secuil. Agar yang bimbang kembali kokoh, yang kokoh merapatkan barisan, yang telah merapatkan barisan agar ikut terjun dalam jihad di dalam segala lapangan kehidupan untuk mengokohkan bangunan yang telah ada, dan mengisinya untuk menjaga dan memelihara NKRI- Pancasila-UUD 1945, dengan semangat dan ruh Ahlussunnah wal Jama’ah an- Nahdliyah. Wallahu a’lam.

Bersambung...

Penulis adalah anggota PP RMINU dan alumnus Pondok Pesantren Darunnajah Banyuwangi.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ubudiyah Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 04 Februari 2009

NU Care Latih Budidaya Jahe Merah Santri Global Insan Mandiri Sukabumi

Sukabumi, Pondok Pesantren Tegal. NU Care LAZISNU menggelar pelatihan budi daya jahe merah di Pesantren Global Insan Mandiri (GIM) Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat. Pelatihan berupa teori dan praktik berlangsung Selasa (16/5).

Pada kesempatan tersebut, juga dilakukan penyemaian 1.000 benih jahe merah yang nantinya akan ditanam dengan media polybag. Penanaman dengan media ini bertujuan agar lebih efisien pada penggunaan lahan dan pupuk.

Direktur Penyaluran NU Care Slamet Tuhari mengungkapkan, melalui pelatihan ini NU Care ingin mencetak 1000 santri entrepeneur yang mandiri secara ekonomi dan kuat secara ideologi.?

NU Care Latih Budidaya Jahe Merah Santri Global Insan Mandiri Sukabumi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Care Latih Budidaya Jahe Merah Santri Global Insan Mandiri Sukabumi (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Care Latih Budidaya Jahe Merah Santri Global Insan Mandiri Sukabumi

“NU Care juga berharap agar para santri GIM yang mengikuti pelatihan ini benar-benar serius mengembangkan budi daya jahe merah yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi,” kata Slamet.

Pemateri Aprizal Budi dari PT Bintang Toedjoe menyebutkan, pelatihan ini akan diteruskan dengan pendampingan saat proses penanaman benih di polybag. Pendampingan juga dilakukan selama masa perawatan hingga masa panen dan pasca panen (proses pengeringan).

“Kami juga akan membeli hasil panen jahe merah yang dikelola santri GIM,” tambah Aprizal.

Pondok Pesantren Tegal

Pengasuh Pondok Pesantren GIM, KH Ahmad Danial Fahad, mengungkapkan berbagai program di pesantren GIM berkonsentrasi dalam pengembangan agrobisnis.

“Semoga kerja sama ini terus berjalan. Dan yang paling penting selain ilmu yang diperoleh adalah adanya jaminan pasar pasca panen,” kata Kiai Fahad.

Peserta pelatihan tersebut mengikuti dengan gembira dan semangat. Budi, salah satu santri menuturkan Pesantren GIM memiliki 40 santri setiap angkatan.

”Kalau semua santri bisa mandiri, tentu dapat memberikan manfaat yang baik bagi diri sendiri dan masyarakat,” kata Budi. (Kendi Setiawan/Zunus)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Habib Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 23 November 2008

LAZISNU: Lembaga Amil Zakat Mutlak Harus Terbuka

Semarang, Pondok Pesantren Tegal

Sekretaris Pengurus Pusat LAZISNU Adna Khoirotul A’yun menekankan perlunya membangun sistem akuntansi yang bagus dengan prinsip keterbukaan. Dengan laporan keuangan yang transparan, kata dia, LAZISNU akan dipercaya masyarakat.

Ia menyampaikan hal itu saat memberi materi dalam Pendidikan dan Latihan (Diklat) Kaderisasi Amil Zakat yang digelar Pengurus Wilayah LAZISNU Jawa Tengah di kantor PWNU Jateng, Jalan Dr Cipto Mangunkusumo 180 Semarang, akhir pekan (14/2) kemarin.

LAZISNU: Lembaga Amil Zakat Mutlak Harus Terbuka (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU: Lembaga Amil Zakat Mutlak Harus Terbuka (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU: Lembaga Amil Zakat Mutlak Harus Terbuka

Terbuka yang dia maksud adalah terbuka selebar-lebarnya. Yaitu bisa dilihat siapapun, kapanpun, dan di manapun. Laporan keuangan tersaji di situs internet dan berjalan real time. Sehingga, siapapun yang berkepentingan bisa langsung membuka melalui jaringan internet untuk mengetahui kondisi keuangan LAZISNU.

Pondok Pesantren Tegal

“Sebuah lembaga amil zakat mutlak harus menerapkan manajemen terbuka. Laporan keuangannya harus bisa diakses siapa saja, kapan saja, dari mana saja,” jelasnya dalam pelatihan bagi kader amil zakat profesional ini.

Pengurus Pusat LAZISNU, kata dia, telah membentuk manajemen eksekutif yang diberi nama NU-Care. Dengan Surat Keputusan (SK) Ketua LAZISNU, NU-Care dipimpin oleh seorang direktur yang tugasnya menjalankan program-program LAZISNU.

Pondok Pesantren Tegal

Profesionalitas Amil

Narasumber lain dalam diklat kali ini adalah Slamat Surachmat, Manajer Operasional LAZIS Baiturrahman yang juga sekretaris jenderal Forum Zakat Jawa Tengah, dan Ketua LAZISNU Jateng sendiri H Muhammad Mahsun.

Slamet Surachmat menyatakan, perilaku atau perbuatan amil zakat itulah yang merupakan produk lembaga amil zakat (LAZ). Karena LAZ adalah “bisnis kepercayaan” maka hal pertama yang harus “dijual” ke masyarakat adalah akhlak amilnya. Yaitu orang yang amanah, yang di dalamnya mengandung pengertian orang militan, jujur, cerdas. ?

“Amil adalah mujahid. Maka satu-satunya cara menjadi amil yang baik adalah punya modal jiwa amanah, bisa dipercaya,” tuturnya.

Ia pun mengutip sebuah hadits Rasulullah dari Imam Ahmad, “Sebaik-baik profesi adalah amil, jika dia ikhlas”. Serta hadits dari Imam Thabrani, “Amil yang bekerja lalu dia mengambil dan memberi dengan benar adalah seperti mujahid di jalan Allah sampai ia pulang kepada keluarganya”.

Selain itu ia mengajarkan pembentukan kepribadian amil, dari aspek penampilan, perilaku profesional ketika menerima tamu, mendatangi muzakki (wajib zakat), serta bagaimana menyapa mustahiq.

“Performance seorang amil harus benar-benar dibina. Kita harus tampil bagus dengan style yang sesuai profesi kita. Termasuk harus menguasai public speaking,” tuturnya seraya mengajak peserta praktik langsung walau secara singkat.

Adapun Ketua LAZISNU Jateng H Muhammad Mahsun mengajak peserta untuk serius bergiat di LAZISNU sebagai jalan untuk mengbdikan diri kepada masyarakat. “Mari kita serius bekerja untuk umat melalui LAZISNU ini. Jadikan ini profesi pilihan dalam karir pengabdian Anda kepada Allah karena zakat itu rukun Islam perintahnya datang langsung dari Allah,” tuturnya.? (Ichwan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Budaya, Hikmah, Sholawat Pondok Pesantren Tegal

Senin, 17 November 2008

Konsolidasi Organisasi, MWCNU Singajaya Buka Bersama ke Tiap Ranting

Garut, Pondok Pesantren Tegal?



Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Singajaya Kabupaten Garut memanfaatkan bulan Ramadhan untuk melakukan konsolidasi organisasi dengan berbuka puasa bersama ke tiap Ranting.

Ranting pertama yang didatangi MWCNU SIngajaya adlaah Sukamulya pada 2 Ramadhan 1438 H. Selanjutnya tanggal 5, Ranting Pancasura, tanggal 8 Ranting Ciudian, tanggal 11 Ranting Karang Agung, tanggal 14 Ranting Singajaya Kaum, tanggal 17 Ranting Cigintung, tanggal 20 Ranting ? Mekartani, tanggal 23 Ranting Sukawangi Leles, tanggal 26 Ranting Girimukti.

Konsolidasi Organisasi, MWCNU Singajaya Buka Bersama ke Tiap Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
Konsolidasi Organisasi, MWCNU Singajaya Buka Bersama ke Tiap Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

Konsolidasi Organisasi, MWCNU Singajaya Buka Bersama ke Tiap Ranting

Ketua MWC NU Singajaya KH Agus menerangkan bahwa kegiatan tersebu untuk membumikan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal-Jamaah di akar rumput agar pemahaman masyarakat tidak terbawa arus radikal.

Selain itu MWC NU Singajaya memiliki misi untuk menjalankan visi PCNU Garut periode 2015-2020 yaitu "Menjamiyahkan Jamaah dan Menahdlahkan Nahdliyyin".

Pondok Pesantren Tegal

"Dengan berkembangnya paham radikal melalui media serta propaganda isu SARA, maka kami selaku pengurus memiliki kewajiban untuk menjaga pemahaman warga NU di tingkat akar rumput agar perasaan masyarakat akan kecintaan pada NKRI dan ulama tetap terjaga," tandasnya.

Sekretaris MWC NU Singajaya, Endang, menambahkan, kegiatan tesebut untuk mempererat ukhuwah islamiyah agar jalinan silaturahmi antarpengurus dan warga NU Singajaya tetap terjaga dan saling memiliki akan keberadaan organisasi yang didirikan para ulama Nusantara. (Muhammad Salim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal AlaSantri, Pendidikan Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 08 Oktober 2008

Muslimat NU Sidoarjo Salurkan Bantuan untuk Korban Puting Beliung

Sidoarjo, Pondok Pesantren Tegal - Pengurus Cabang Muslimat Nahdlatul Ulama Kabupaten Sidoarjo menurunkan bantuan untuk warga yang terkena musibah bencana angin puting beliung di tiga desa, yakni Desa Tambak Sumur, Tambakrejo dan Tambak Sawah, Kecamatan Waru.

Mereka mendatangi satu per satu posko pengungsian korban puting beliung di tiga desa tersebut. Bantuan berupa uang tunai dan sembako itu diharapkan bisa dipergunakan dengan seperlunya untuk keperluan warga saat berada di pengungsian.

Muslimat NU Sidoarjo Salurkan Bantuan untuk Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Sidoarjo Salurkan Bantuan untuk Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Sidoarjo Salurkan Bantuan untuk Korban Puting Beliung

"Setelah mendengar adanya kejadian ini, kami langsung merespon, dan kami mengumpulkan dana untuk korban terutama yang tidak mampu sehingga bisa diterima oleh yang bersangkutan," kata Ketua Muslimat NU Sidoarjo Ainun Juwariyah, Sabtu (25/11).

Ibu-ibu Muslimat dan korban bencana puting beliung ini juga menggelar doa bersama untuk keselamatan bangsa agar terhindar dari bencana seperti angin puting beliung yang telah memporakporandakan tiga desa itu.

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal

Salah satu korban puting beliung, Mahmudah, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Muslimat NU Sidoarjo karena telah memberikan bantuan. Ia juga berharap, dalam waktu dekat bisa membangun rumahnya kembali.

"Sementara ini kami tinggal di pengungsian, karena belum bisa membangun rumah. Semoga kami bisa secepatnya membangun rumah kembali," ucap Mahmudah. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Makam Pondok Pesantren Tegal