Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Maret 2018

Gelar Manaqib Kubro, Jamiyah Thariqah Bahas 5 Hal

Brebes, Pondok Pesantren Tegal. Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyah (JATMAN) Jawa Tengah rencananya menggelar Manaqib Kurbo di Brebes pada 24 Mei mendatang. Panitia membagi 700 peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Jateng ke dalam lima komisi pembahasan.

Lima komisi mencakup pembahasan masalah keorganisasian, pengajian Manaqib Kubro, komisi Bahtsul Masail, komisi muslimat thoriqoh, dan mahasiswa thoriqoh. Ketua Panitia H Emastoni Ezam berharap, kegiatan ini bisa menguatkan syiar Islam sekaligus memantapkan tali silaturahmi keluarga besar JATMAN Idaroh Wusto di Jawa Tengah.

Gelar Manaqib Kubro, Jamiyah Thariqah Bahas 5 Hal (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Manaqib Kubro, Jamiyah Thariqah Bahas 5 Hal (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Manaqib Kubro, Jamiyah Thariqah Bahas 5 Hal

“Mudah-mudahan kegiatan ini bisa bermanfaat dan barokah untuk masyarakat Brebes,” kata Emaztoni yang juga Sekda Brebes.

Pondok Pesantren Tegal

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti menyambut baik kegiatan bernuansa keagamaan ini. Sebagai pemerintah daerah, ia sangat mendukung kegiatan tersebut terlebih warga Brebes yang menurutnya sangat agamis. Bukti dari dukungan itu, Pemkab Brebes telah menyiapkan alokasi dana dari APBD 2014 untuk kegiatan di atas.

“Mudah-mudahan dengan doa para ulama se-Jawa Tengah nantinya Brebes menjadi lebih baik dan kehidupan masyarakatnya bisa tercukupi dengan maksimal, damai dan sejahtera, ” harap Idza. (Wasdiun/Alhafiz K)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tokoh, Pahlawan, Ulama Pondok Pesantren Tegal

Senin, 19 Februari 2018

STAI MAFA Lahirkan Kader Akademik Berbasis Pesantren

Pati, Pondok Pesantren Tegal. Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali’ul Falah (STAI MAFA), Sabtu (7/12) menyelenggarakan Wisuda II. Agenda wisuda ini berlangsung di Auditorium Salza, di depan alun-alun Pati. 

STAI MAFA Lahirkan Kader Akademik Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
STAI MAFA Lahirkan Kader Akademik Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

STAI MAFA Lahirkan Kader Akademik Berbasis Pesantren

Pada penyelenggaraan wisuda kali ini, STAI MAFA memberi tanda kelulusan pada 83 mahasiswa. Wisudawan terdiri dari 39 mahasiswa Jurusan Tarbiyah Program pendidikan (prodi) Pendidikan Bahasa Arab, 29 mahasiswa Jurusan Syariah Prodi Perbankan Syariah, dan 15 mahasiwa Jurusan Da’wah Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI). 

Sebagai perguruan tinggi berbasis pesantren, penyelenggaraan wisuda mahasiswa STAI MAFA ini menjadi tonggak kiprah sebagai pendidik maupun pemimpin masyarakat. Dalam proses pendidikannya, mahasiswa STAIMAFA diarahkan sebagai pribadi yang visioner, beretika dan memiliki spirit entrepreneur

Pondok Pesantren Tegal

Ketua STAI MAFA, H. Abdul Ghaffar Rozien, M.Ed, mengungkapkan bahwa, “Ada tiga nilai penting dalam karakter alumni STAI MAFA, yakni: berbasis nilai-nilai pesantren, menguasai perangkat riset dan memiliki skill enterpreneurship. Ketiga prinsip itulah yang menjadi bagian dari visi pribadi lulusan STAI MAFA,” ungkap Rozien. 

Dari nilai-nilai tersebut, diharapkan alumnus STAI MAFA cakap dalam mendidik masyarakat, mampu memberikan perspektif dan spectrum pemikiran yang luas, serta memiliki visi untuk mengajak masyarakat berusaha dalam bidang ekonomi kreatif. Penekanan nilai-nilai ini, juga menjadi bagian dari tema penyelenggaraan wisuda STAI MAFA. 

Pondok Pesantren Tegal

Ketua MUI Jawa Tengah, Prof H Ahmad Rofiq, yang hadir memberikan ceramah ilmiah, memberikan pesan kepada alumnus STAIMAFA, bahwa prinsip belajar itu sepanjang hayat. 

“Mahasiswa itu harus bisa menjadi leader di tengah masyarakat, mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang dimiliki, sensitif terhadap masalah sosial, serta mampu berjejaring untuk membuka ruang dan peluang”, pesan Prof Rofiq. 

Tidak lupa, Prof Rofiq juga menghimbau agar lulusan STAIMAFA berani meneruskan pendidikan, hingga jenjang magister (S2) dan doktor (S-3). 

Dari wisuda STAI MAFA, lulusan terbaik diraih oleh Sa’adatul Mardliyah (Pendidikan Bahasa Arab), Khabib Sholihin (Perbankan Syari’ah) dan Kunarti (Pengembangan Masyarakat Islam). Dari sejumlah 83 mahasiswa, 12 mahasiswa di antaranya berhasil meraih predikat cum laude. (munawir aziz/mukafi niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pahlawan, PonPes Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Menpera: Sayangilah NU, Karena NU Sayang Kalian

Wonosobo, Pondok Pesantren Tegal. Menteri Perumahan Rakyat Djan Farid mengatakan, sayangilah NU karena NU menyayangi kalian. Ia menyampaikan hal itu kepada warga, santri, dan mahasiswa Universitas Sains Al-Quran (Unsiq) Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Jumat malam (6/9).

Menpera: Sayangilah NU, Karena NU Sayang Kalian (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpera: Sayangilah NU, Karena NU Sayang Kalian (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpera: Sayangilah NU, Karena NU Sayang Kalian

Menpera mengungkap demikian sebab ia menjadi menteri atas dorongan NU. Tak heran ketika jadi mentri, ia memperhatikan pesantren-pesantren. Perhatian itu karena NU berbasis di pesantren-pesantren.

“Saya ini mentri NU, maka ambillah manfaat dari saya untuk NU,” tegasnya seraya disusul tepuk tangan hadirin pada Istighosah dan Pengajian. Kegiatan tersebut sebagai penanda akan dimulainya Rapat Pleno PBNU yang akan berlangsung Sabt-Ahad 7-8 September.

Pondok Pesantren Tegal

Menurut salah seorang Ketua PBNU itu, selama tahun ini kementrian yang dinakhodainya sudah membangun 700 toilet komunal di pesantren seluruh Indonesia, “Di Wonosobo ada sekitar 10,” katanya.

Selain itu, bukti sayangnya NU terhadap para santri, kata dia, Kementrian Perumahan Rakyat yang memilik program Rusunawa, sebagian dilimpahkan ke pesantren untuk membangun atau memperbaiki asrama.

Pondok Pesantren Tegal

“Biasanya kan di pesantren itu kamar 3x4 diisi 6 orang bahkan lebih,” katanya.

Djan Farid juga menyampaikan, kemanapun dia pergi selalu berjumpa dengan warga NU. Ia kemudian memperkirakan, sekarang ini ada sekitar 100 juta warga NU. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pahlawan, Jadwal Kajian, Hikmah Pondok Pesantren Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Lampung Tengah Bersholawat Disambut Ribuan Syecher Mania

Lampung Tengah, Pondok Pesantren Tegal - Terobati sudah kerinduan ribuan Syecher Mania (sebutan penggemar Habib Syech) Provinsi Lampung, khususnya di Kabupaten Lampung Tengah, dengan kehadiran Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf dari Solo Jawa Tengah dalam rangka Lampung Tengah Bersholawat, Kamis (22/9).

?

Abdul Ghofur selaku Ketua Panitia Lampung Tengah Bersholawat mengatakan, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf sudah pihaknya jauh-jauh hari sudah mengundang Mustasyar PWNU Jateng itu.

Lampung Tengah Bersholawat Disambut Ribuan Syecher Mania (Sumber Gambar : Nu Online)
Lampung Tengah Bersholawat Disambut Ribuan Syecher Mania (Sumber Gambar : Nu Online)

Lampung Tengah Bersholawat Disambut Ribuan Syecher Mania

"Dan alhmdulillah malam ini kurang lebih sepuluh ribuan Syecher Mania di seluruh pelosok propinsi Lampung hadir memadati pusat administrasi kabupaten Lampung Tengah ini," imbuh anggota DPRD Lampung Tengah ini, Kamis. Acara dipusatkan di Lapangan Merdeka Gunung Sugih, Lampung Tengah.

?

Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf dalam sambutannya mengaku sangat senang bisa silaturahim kembali dengan ribuan jamaah Syecher Mania di Kabupaten Lampung Tengah. Ia hadir di Provinsi Lampung sudah tiga kali, dua kali di kabupaten Lampung Tengah dan satu kali Kabupaten Pringsewu.

Pondok Pesantren Tegal

"Mudah-mudahan selanjutnya, saya dan rombongan Ahbabul Musthofa bisa silaturahim rutin di Provinsi Lampung setahun sekali. Dan saya nyatakan Kabupaten Lampung Tengah ini adalah sebagai pusatnya Syecher Mania di Provinsi Lampung," imbuh Habib Syech.

Pondok Pesantren Tegal

?

Hadir dalam Lampung Tengah? Bersholawat tokoh NU dan kiai-kiai pesantren, antara lain? H Mustafa (Bupati Lampung Tengah),? KH Fathul Mujib (Mustasyar PCNU Lampung Tengah), KH Muhtar Ghozali (Rais Suriyah PCNU Lampung Tengah), Kiai Ahmad Jailani MS (Ketua Tanfidziyah PCNU Lampung Tengah), Habib Yahya Pringsewu, KH Kholiq Amrullah Adnan (pengasuh Pesantren Tri Bhakti Attaqwa Lampung Timur), dan puluhan kiai-kiai pesantren, para habaib, serta pengurus badan otonom dan lembaga di lingkungan PCNU Lampung Tengah. (Akhmad Syarief Kurniawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kajian Sunnah, Pahlawan, Olahraga Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Umat Islam Bersatu Jika Didukung Nasionalisme

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Islam dan Nasionalisme mesti saling mengisi dan melengkapi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sebab hal itu mampu menjaga keutuhan Tanah Air dari perpecahan antarkelompok.

Demikian disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj di Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta, Sabtu (19/10).

Umat Islam Bersatu Jika Didukung Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Islam Bersatu Jika Didukung Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Umat Islam Bersatu Jika Didukung Nasionalisme

"Di sana bom meledak terus, karena tidak ada komitmen cinta Tanah Air. Orang Afganistan itu 100 persen Islam, Somalia 100% agamanya Islam, tapi Islam belum bisa  menyatukan mereka, yang bisa menyatukan mereka kalau Islam didukung dengan nasionalisme. Jadi walaupun kita beda partai, beda arah, ingat tentang tujuan menyelamatkan bersama negara ini," papar Kiai yang akrab disapa Kang Said ini.

Pondok Pesantren Tegal

Kang Said pun menegaskan bahwa KH Hasyim Asyari mempunyai jasa besar dalam mempertahankan negeri ini dengan membuat sebuah keputusan dalam Muktamar NU pada tahun 1936 di Banjarmasin yang menyatakan  bahwa Ukhuwah Islamiyah harus bersinergi dengan Ukhwah Wathaniyyah.

"Islam bisa besar kalau didukung oleh semangat nasionalisme. Nasionalisme menjadi baik kalau diberi semangat ruhul islam, itu jasanya Mbah Hasyim itu, dulu kan orang Islam masih ingin negara Islam. Kalau kata NU tidak, yang penting merdeka dulu, bersatu dulu, ayo kita mengusir penjajah, setelah itu Islam bagaimana? Diamalkan, tidak usah dikonstitusikan, tapi diamalkan, itu (jasanya,-red) Mbah Hasyim itu," terangnya

Pondok Pesantren Tegal

Menurut Kang Said, Indonesia bisa menjadi contoh, walaupun masyarakatnya berbeda-beda organisasi atau partai politik namun hal itu selalu disinergikan dengan nasionalisme sehingga perbedaan yang ada tidak sampai menjadi ajang perpecahan dan pertumpahan darah seperti yang terjadi di Afghanistan dan Somalia. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pahlawan, AlaNu Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Kisah Waskito Jati, Santri Krapyak Peraih Beasiswa di Harvard University

Melalui langkah yang berliku, belajar, dan usaha kerasnya, Waskito Jati (26) Alumnus MA Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, Bantul, Yogyakarta berhasil meraih beasiswa di Harvard University. Dia memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi di Program Master of Theological Studies (MTS) di Harvard Divinity School dengan jurusan Islamic Studies.

Bagaimana proses kerja kerasnya dalam meraih beasiswa tersebut? Berikut kisah yang diutarakan oleh Waskito Jati melalui hasil wawancara yang dikirimkan ke Pondok Pesantren Tegal.

Kisah Waskito Jati, Santri Krapyak Peraih Beasiswa di Harvard University (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Waskito Jati, Santri Krapyak Peraih Beasiswa di Harvard University (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Waskito Jati, Santri Krapyak Peraih Beasiswa di Harvard University

Bagaimana awalnya anda bermimpi bisa kuliah ke luar negeri?

Tujuh tahun yang lalu, setelah membaca doa witir di pojok Masjid al Munawwir di Pondok Pesantren Krapyak, saya menggumamkan doa yang saya sendiri sedikit tidak yakin jika doa ini masuk akal. Saya meminta kepada Allah agar saya diberikan kesempatan untuk berkuliah di universitas terbaik di dunia. Mengingat ibu saya yang hanya lulus SD dan ayah saya yang hanya lulus SMP, wajarlah jika saya berpikir mungkin doa ini agak terlalu berlebihan. Walaupun begitu, doa dan usaha saya untuk mencapai mimpi tersebut tidaklah berhenti hanya karena keraguan itu. Man jadda wa jada, sering kali diucapkan oleh kyai saya untuk memberi semangat kepada para santrinya agar terus berusaha sekuat tenaga untuk mencapai mimpinya.?

Lalu apa yang terjadi kemudian?

Setelah bertahun-tahun membanting tulang untuk bekerja sembari kuliah dan berorganisasi, saya mendapatkan email dari Harvard University yang memberikan selamat kepada saya atas diterimanya saya sebagai salah satu dari sedikit mahasiswa yang lolos dalam program Master of Theological Studies (MTS) di Harvard Divinity School dengan jurusan Islamic Studies. Tidak hanya diterima, saya bahkan dibebaskan dari biaya kuliah yang bisa mencapai ratusan juta rupiah karena Harvard juga menawarkan saya beasiswa yang akan mencakup biaya kuliah dan sedikit uang saku untuk saya. Ternyata doa saya menjadi kenyataan, dan ternyata usaha saya adalah tidak sia-sia.?

Pondok Pesantren Tegal

Bagaimana anda memaknai keberhasilan yang diperoleh?

Pondok Pesantren Tegal

Satu hal yang saya pelajari dalam perjalanan saya menggapai mimpi ini adalah bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi. Semua mimpi itu dapat diraihkan asalkan kita dapat menuliskan proses untuk mencapai mimpi itu dalam kalender sehari-hari kita. Berapa jam saya akan membaca satu buku di hari ini, berapa vocabulary yang akan saya hafalkan setiap hari dan berapa essay yang akan saya tulis setiap harinya. Itulah yang saya lakukan selama bertahun-tahun ini. Berusaha untuk membangun kualitas diri yang setidaknya mendekati kualifikasi yang diinginkan oleh sekolah yang saya tuju. Proses ini tidaklah cukup hanya tiga atau empat bulan. Dalam pengalaman saya, proses ini memakan waktu kurang lebih delapan tahun.

Selain proses, apa resep anda bisa menembus Harvard University?

Kualitas yang dicari oleh semua universitas di luar negeri pastinya adalah kemampuan bahasa asing. Saya tahu ini pasti akan disyaratkan untuk mendaftar kuliah di luar negeri sejak saya kelas satu di MA Ali Maksum. Oleh karena itu saya bergabung dengan organisasi debat Bahasa Inggris di sekolah saya. Saya sangat bersyukur dengan MA Ali Maksum karena keikhlasan guru-gurunya yang tiada tara. Pelatih debat Bahasa Inggris saya yang bernama Bapak Abu Ali al-Hussein, melatih kami satu tim setiap hari dari ba’da Isya’ dan seusai mengaji sorogan hingga tengah malam tanpa diberikan bayaran tambahan. Hanya dengan memasak mie instan bersama-sama pun kami merasa puas. Hasil kerja keras kami juga mengantar kami untuk menjadi juara satu dalam lomba debat Bahasa Inggris se-DIY di tahun 2008 mengalahkan banyak SMA favorit lainnya di Yogyakarta.?

Belajar di madrasah yang juga pondok pesantren, apakah menguntungkan bagi anda?

Sangat menguntungkan. Saya justru bersyukur dapat tinggal satu asrama dengan teman-teman yang nantinya akan menjadi teman seumur hidup. Tidak hanya itu, di Pondok Pesantren Krapyak itulah saya berkenalan dengan banyak buku dan pemikiran yang tidak akan saya dapat jika saja saya tinggal di rumah sendiri. Saya sering kali terlibat diskusi hangat dengan teman-teman satu kamar saya untuk membahas masalah-masalah besar di dunia. Pada saat saya dihadapkan dengan interview untuk program pertukaran pelajar di tahun 2008, saya tidak kaget dan kesulitan berkat semua diskusi yang telah saya lakukan di asrama. Walhasil, saya berhasil mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar ke Amerika Serikat selama satu tahun di tahun 2008-2009.?

Apakah anda pernah merasa gagal?

Setiap proses untuk menuju kesuksesan tentunya akan diiringi dengan beberapa kegagalan. Sepulang dari program pertukaran pelajar, saya harus mulai memikirkan kemana akan berkuliah. Saya tidak memiliki banyak pilihan saat itu karena ayah saya baru saja meninggal dunia dua tahun sebelumnya sedangkan biaya kuliah tidaklah murah. Saya pun mendaftar program beasiswa pesantren, dan juga beasiswa dari Universitas Paramadina. Namun tidak diterima. Saya juga mendaftar dan sudah diterima di Fakultas Hukum UII dan bermaksud untuk mendaftar beasiswa pesantren yang disediakan oleh UII. Namun saya harus melakukan registrasi dahulu dan membayar Rp 8 juta sebelum bisa mengikuti seleksinya.?

Lantas, apa yang terjadi?

Jelas saya tidak mampu untuk membayar sejumlah itu dan pupus juga harapan saya untuk kuliah di UII. Akhirnya, hanya ada satu kampus yang akan dapat memberikan saya pendidikan yang terjangkau, yaitu kampus UIN Sunan Kalijaga. Bismillah, saya memilih jurusan Jinayah Siyasah di UIN Sunan Kalijaga. Meski sedikit kecewa, namun saya masih yakin bahwa Tuhan memiliki rencana yang lebih baik. Saya jalani masa kuliah dengan serius. Duduk selalu di depan dosen, aktif dalam riset dan organisasi, dan menjaga nilai IP agar tetap diatas 3,8.?

Siapa yang selama ini membimbing anda menekuni riset?

Dalam dunia riset dan akademis, saya belajar dengan bimbingan Prof. Noorhaidi Hasan, direktur program pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga dalam pembahasan mengenai hukum perang dalam Islam dan jihad diandingkan dengan Hukum Humaniter Internasional.

Apa yang anda peroleh dari riset tersebut?

Hasil dari riset ini, nantinya dapat digunakan untuk menganalisa keabsahan strategi perang ISIS serta untuk memberikan counter argument terhadap tuduhan yang diarahkan kepada Islam berkaitan dengan terorisme dengan menunjukkan kesamaan prinsip antara Islam dengan peraturan PBB. Dalam studi saya nantinya, saya berkeinginan untuk mengembangkan lagi diskursus peraturan perang dalam Islam ini.

Selain kuliah S1 di UIN Sunan Kalijaga, apa kesibukan anda?

Selain berkuliah, saya juga aktif dalam organisasi di luar kampus. Selama tahun 2010-2014 saya menjadi volunteer di organisasi Bina Antarbudaya yang juga organisasi yang mengirim saya ke Amerika dulu saat saya SMA. Dimulai dengan volunteer biasa hingga akhirnya saya diangkat menjadi Vice President untuk chapter Yogyakarta. Saya biasa rapat berkali-kali setiap minggunya dan mengurus banyak agenda organisasi. Juga menjadi Presiden dari asosiasi alumni program pertukaan pelajar saya yang bernama IYAA. Selama memimpin organisasi ini, saya membuat proyek yang berskala nasional seperti pengumpulan buku di 15 kota di Indonesia, donor darah massal, hingga hari mengajar nasional. Bersama dengan organisasi saya ini, saya seringkali diundang untuk mengikuti training dan rapat di luar negeri mulai dari Filipina, hingga Yordania dan Ghana.

Bagaimana anda bisa melakukan begitu banyak aktivitas?

Terkadang saya juga tidak percaya bagaimana saya bisa melakukan hal itu semua selama saya kuliah. Saya harus memenuhi semua kebuthan saya pribadi saya sendiri, sehingga saya berkerja sebagai guru privat Bahasa Inggris. Dengan semua kegiatan ini, saya berangkat ke kampus pukul 8 pagi dan pulang sampai rumah pukul 9 malam. Saya selalu berdoa dua hal selama saya kuliah, pertama agar tidak ada polisi di jalan raya karena motor butut saya sudah lama tidak dibayar pajaknya dan juga karena saya tidak punya SIM. Kedua adalah supaya saya tidak kehabisan bensin di jalan karena uang saya sudah benar-benar habis. Sepertinya Allah sudah melindungi saya, walaupun pernah saya satu kali tertangkap polisi karena plat motor saya kadaluwarsa.

Bisa anda ceritakan setelah lulus dari UIN?

Saya berhasil lulus dengan IP tertinggi UIN (walalupun tidak tercepat). Saya juga langsung mendapatkan perkerjaan di kantor Australian National University di Yogya selama beberapa bulan. Saya sudah mulai memikirkan untuk mendaftar beasiswa untuk sekolah lagi, dan biaya yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Alhamdulillah saya dapat mengambil test IELTS dan meraih nilai 7.5. Saya pun mendaftar beasiswa LPDP dengan bekal ini. (LPDP adalah Lembaga Pengelola Dana Pendidikan. Beasiswa ini adalah beasiswa yang berasal dari Pemerintah Indonesia yakni Kementerian Keuangan. Keberadaan beasiswa ini sangat populer di kalangan pencari beasiswa-red)

Sayangnya, Allah belum berkenan dan saya ditolak program LPDP di tahun 2015 lalu. Kecewa pastinya, namun kegagalan inilah yang mendorong saya untuk mencari kampus terlebih dahulu. Karena nilai IELTS (International English Language Test System) saya memadai untuk mendaftar di beberapa universitas terbaik di dunia, saya mencoba mendaftar ke sekolah-sekolah besar seperti University of Chicago dan Harvard University. Mendaftar di kampus Amerika memiliki syarat yang lebih ketat dibandingkan dengan kampus selain Amerika. Selain IELTS saya harus juga mengambil test GRE (Graduate Record Examination) yang bisa dibilang sepuluh kali lebih sulit dari IELTS.?

Saya selalu belajar otodidak karena les GRE biayanya sangat mahal dan gaji saya sebagai guru les Bahasa Inggris tidaklah cukup. Belajar GRE ini adalah pengalaman belajar yang paling ekstrem yang pernah saya lakukan. Karena level kesulitannya, selama persiapan lima bulan, saya harus menghafalkan sekitar 25 kosakata Bahasa Inggris yang kebanyakan sangat sulit setiap harinya. Tiap hari, saya juga harus latihan menulis dua esai. Di akhir persiapan belajar, saya telah menghafalkan kira-kira 1.800 kosakata dan menulis kurang lebih 80 esai. Berangkatlah saya ke Surabaya untuk mengikuti tes ini. Hasilnya cukup memuaskan, walaupun nilai writing masih di bawah standar rata-rata Universitas Chicago dan Harvard, namun saya beranikan diri untuk mendaftar ke kedua universitas unggulan di Amerika itu.?

Lalu apa yang terjadi kemudian?

Setelah usaha berbulan-bulan, saya mendapatkan email di awal Maret kemarin bahwa saya diterima di University of Chicago dan juga ditawarkan beasiswa yang akan menutupi 50 persen dari biaya pendidikan. Saya sangat bahagia medapatkan kabar ini. Satu minggu kemudian, ada email masuk dari Harvard. Dalam hati, saya berfikir, “Apapun yang terjadi, kamu telah melakukan yang terbaik”, dan email itu pun saya buka. Alangkah terkejutnya saya membaca kata “Congratulation!” di awal surat tersebut, yang memberikan selamat kepada saya yang telah diterima di Harvard University. Selain itu, Harvard juga membebaskan dari biaya kuliah dan memberi sedikit uang saku. Saya sungguh tidak percaya bahwa Harvard benar-benar ingin saya bergabung dengan institusi mereka. Dalam email itu juga dilampirkan sebuah link video yang berisi pesan selamat atas diterimanya saya di Harvard University. Barulah disana saya sadar bahwa ini semua adalah kenyataan. Semua kegagalan saya di masa lalu, kerja keras selama bertahun-tahun dan doa yang saya panjatkan delapan tahun lalu kembali ke ingatan saya. Saya hanya bisa bersujud syukur dan berterima kasih kepada Allah atas jalan yang ditunjukkan-Nya.?

Bagaimana tanggapan orang tua, dalam hal ini Ibu terhadap keberhasilan anda menembus Harvard?

Pada saat saya memberi tahu ibu bahwa diterima di Harvard University, ibu bertanya dengan lugunya “Opo kuwi, Le? (Apa itu, Nak?)”, maklumlah karena ibu mungkin belum pernah dengar apa Harvard itu. Setelah saya terangkan, ibu bangga dan bahagia tentunya. Mungkin ibu tidak berdoa secara spesifik supaya saya diterima di Harvard, namun apapun doa beliau saya yakin itulah yang mengantar saya di titik sekarang ini.?

Bagi anda pribadi, apakah kisah anda sudah selesai?

Tentu saja belum selesai. Saya harus mencari dana tambahan untuk biaya hidup di Harvard nantinya. Walaupun saya sudah tidak harus membayar pendidikannnya, biaya hidup disana belum terpenuhi, sedangkan beasiswa LPDP, walaupun misalnya nantinya diterima, tidak dapat memberangkatkan saya tahun ini karena prosedur jarak waktu yang dimiliki.?

Saya saat ini sedang berusaha agar ada donatur yang berkenan membantu saya mewujudkan mimpi saya dan keluarga agar saya dapat meneruskan pendidikan di Harvard. Fase ini sejujurnya adalah fase yang lebih menakutkan, apakah saya bisa benar-benar berangkat ke Harvard? Saya tidak lagi bisa berusaha sendiri dalam tahap ini. Semoga ini juga termasuk rencana Allah, seperti rencana-rencananya di masa lalu, entah apa ujungnya nanti semoga saya dapat dengan ikhlas dan kuat menghadapinya.?

(Bap/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pahlawan Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Peringati Harlah NU, Pelajar NU Gelar Makesta hingga Naik Gunung

Boyolali, Pondok Pesantren Tegal - Memeriahkan momentum peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-91, IPNU-IPPNU Boyolali menggelar sejumlah kegiatan untuk memeriahkannya. Berbagai rangkaian acara digelar selama empat hari, Kamis-Ahad (2-4/2).

Menurut Ketua PC IPNU Boyolali, Khamidurrahim, pada hari pertama kegiatan diawali dengan acara diskusi dan shalawat. “Kemudian esoknya kita adakan tadabbur alam, naik kaki Gunung Merapi di daerah Selo,” tuturnya kepada Pondok Pesantren Tegal, Ahad (4/2).

Peringati Harlah NU, Pelajar NU Gelar Makesta hingga Naik Gunung (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harlah NU, Pelajar NU Gelar Makesta hingga Naik Gunung (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Harlah NU, Pelajar NU Gelar Makesta hingga Naik Gunung

Pada hari ketiga, berlanjut dengan acara Makesta yang dihelat di SMP NU Wonosegoro. “Alhamdulillah acara Makesta, juga dihadiri segenap keluarga besar MWC NU Wonosegoro, Polsek, dan sejumlah tokoh di sana,” ujarnya.

Pondok Pesantren Tegal

Kegiatan terakhir,? yakni outbond dan gelaran pertandingan futsal serta “Pelajar NU Sehat” yang dilaksanakan di daerah Karanggede.

Dalam kesempatan Harlah NU ini, ia juga berharap IPNU dapat menjadi bagian untuk ikut menanamkan ajaran NU, khususnya kepada para kalangan pelajar. “Semoga kita semua dapat meneruskan perjuangan para pendiri NU,” tegasnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Pahlawan Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Jelang Pileg, NU Jombang Sosialisasikan Sikap Politik

Jombang, Pondok Pesantren Tegal. Menjelang pemilihan calon anggota legislatif pada 9 April mendatang, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur memanfaatkan forum Lailatul Ijtima’ sebagai ajang sosialisasi sejumlah keputusan Musyawarah Kerja PCNU yang berkenaan dengan politik.

Jelang Pileg, NU Jombang Sosialisasikan Sikap Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Pileg, NU Jombang Sosialisasikan Sikap Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Pileg, NU Jombang Sosialisasikan Sikap Politik

Ketua PCNU Jombang KH Dr Isrofil Amar mengingatkan para fungsionaris NU di Kota Santri untuk ekstra hati-hati dalam mengambil sikap politik yang membawa nama organisasi. “Sebagai sebuah jam’iyah (organisasi), NU harus netral,” tandasnya.

Penegasan ini disampaikan Kiai Isrofil, sapaan akrabnya, saat memberikan taushiyah dalam forum Lailatul Ijtima’ di Masjid Ulul Albab Tebuireng, Diwek, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (22/2).

Pondok Pesantren Tegal

Bagi dosen Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang ini, panduan terhadap ketidakberpihakan NU dalam politik praktis sudah sangat jelas. Secara khusus, ia mengaku akan menuliskan panduan tersebut dalam sebuah tulisan di Majalah Nahdlah yang merupakan media resmi milik PCNU Jombang.

Pondok Pesantren Tegal

“Silahkan bapak dan ibu baca tulisan tersebut pada edisi majalah bulan Maret,” kata Kiai Isrofil berpromosi. “Semoga bisa memberikan arahan yang lebih jelas,” lanjutnya.

Pada kegiatan yang diikuti 7 MWC NU ini juga diisi dengan pemaparan soal keorganisasian dari mulai hasil musyawarah kerja serta materi pendalaman keaswajaan. Forum itu juga menyosialisasikan keputusan musyawarah kerja lainnya, seperti pelarangan penggunaan atribut NU sebagai alat peraga kampanye (APK) bagi seluruh partai dan caleg, keharusan untuk menjaga akhlaqul karimah, dan imbuan lain.

Kendati demikian, alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya ini tidak menutup mata dengan sejumlah calon yang berlatar belakang aktivis NU. “Kita hanya bisa mendoakan bahwa para kader NU yang merebut suara rakyat akan sukses,” terangnya. “Karena bila mereka sukses, tentunya akan bisa menguntungkan bagi NU dalam menyalurkan aspirasi perjuangan,” lanjutnya. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pahlawan Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Makesta, Pelajar NU Probolinggo Deklarasi Antinarkoba

Probolinggo, Pondok Pesantren Tegal. Sedikitnya 100 orang pelajar NU dari Kecamatan Leces, Tegalsiwalan dan Bantaran menandatangani deklarasi anti narkoba di aula Kantor PCNU Kabupaten Probolinggo di Desa Warujinggo Kecamatan Leces. Kegiatan ini dihadiri oleh Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimka) Leces.

Penandatanganan komitmen hidup sehat tanpa narkoba ini dilakukan dalam kegiatan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) yang digelar Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Probolinggo, Sabtu dan Ahad (17-18/9).

Makesta, Pelajar NU Probolinggo Deklarasi Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Makesta, Pelajar NU Probolinggo Deklarasi Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Makesta, Pelajar NU Probolinggo Deklarasi Antinarkoba

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi, Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo Babussalam, Ketua PC IPPNU Kabupaten Probolinggo Nur Hakimah Ismawati serta pengurus dari PW IPNU dan IPPNU Provinsi Jawa Timur.

“Dengan adanya deklarasi anti narkoba ini kami berharap agar nantinya para kader IPNU dan IPPNU di Kabupaten Probolinggo tertanam ghiroh ke-NU-an mampu dan mampu mengkampanyekan bahaya narkoba di lingkungan sekitarnya,” kata Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo Babussalam.

Terkait Makesta, Babussalam menegaskan bahwa kegiatan merupakan salah satu upaya untuk pemerataan kader di tiap-tiap kecamatan. Dimana makesta sendiri merupakan jenjang awal pengenalan organisasi IPNU dan IPPNU.?

Pondok Pesantren Tegal

“Dengan mengikuti makesta, berarti mereka telah resmi menjadi anggota baru IPNU dan IPPNU yang selanjutnya akan terus dibina untuk kemudian bisa mengaktifkan organisasi di lembaganya masing-masing,” tegasnya.

Pondok Pesantren Tegal

Sementara Ketua PC IPPNU Kabupaten Probolinggo Nur Hakimah Ismawati mengharapkan agar kader IPNU dan IPPNU yang sudah melakukan deklarasi anti narkoba ini mampu mengajak para generasi muda di daerahnya masing-masing agar bersama-sama menjauhi bahaya narkoba demi penyelamatan masa depan generasi bangsa.

“Kegiatan ini merupakan aksi nyata untuk penyelamatan masa depan generasi muda dari bahaya dan pengaruh narkoba,” ungkapnya.

Selama makesta mereka mendapatkan materi ke-NU-an, ke-Aswaja-an, ke-IPNU-IPPNU-an, keorganisasian, kepemimpinan dan tradisi keislaman NU. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pahlawan, PonPes Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Gedung Sekretariat MWCNU Hasil Swadaya

Cirebon, Pondok Pesantren Tegal. Rehabilitasi gedung sekretariat Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kec Susukan Lebak baru mencapai kondisi 60 persen.?

Gedung Sekretariat MWCNU Hasil Swadaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Gedung Sekretariat MWCNU Hasil Swadaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Gedung Sekretariat MWCNU Hasil Swadaya

Gedung sekretariat yang berdiri di atas luas tanah sekitar 140 meter persegi ini awalnya berupa rumah salah seorang warga desa Susukan Tonggoh Kec Susukan Lebak yang dibeli secara swadaya oleh masyarakat untuk digunakan sebagai pusat kegiatan para pengurus MWCNU Kec Susukan Lebak.?

Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Kiai Ahmad Mutohar yang terpilih kembali sebagai ketua tanfidziyah dalam konferensi MWC NU Kec Susukan Lebak (9/12).

Pondok Pesantren Tegal

“Donasi untuk pengadaan gedung sekretariat MWCNU Kec. Susukan Lebak itu murni berasal dari swadaya masyarakat. Masyarakat Kec. Susukan Lebak menunjukkan kecintaannya terhadap Nahdlatul Ulama melalui sumbangsih saran maupun materi,” katanya.

Awalnya gedung ini merupakan rumah salah seorang warga yang kami beli, maka perlu dilakukan perbaikan-perbaikan, kondisinya sekarang baru 60 persen, selebihnya kami terus melakukan perbaikan sedikit demi sedikit dengan dibantu hasil penjualan kalender NU yang kami terbitkan melalui koperasi.

Pondok Pesantren Tegal

Gedung yang terletak di desa Susukan Tonggoh Kec. Susukan Lebak Kabupaten Cirebon tersebut kelak diharapkan menjadi pusat kegiatan bagi para warga NU di sekitar Kec. Susukan Lebak. Kecamatan tersebut merupakan salah satu wilayah tingkat MWC yang berhasil menghidupkan segenap aktifitas NU dan banom-banomnya.

“Di kecamatan kami, alhamdulillah, hampir semua kegiatan NU dapat berjalan, bahkan banom-banomnya pun dapat dikatakan aktif hampir secara keseluruhan, dari mulai Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, sampai IPNU dan IPPNU,” papar Zaenal Abidin, Ketua PAC GP Ansor Kec. Susukan Lebak.

Untuk sementara, gedung yang masih dalam tahap perbaikan ini masih hanya dapat digunakan untuk agenda-agenda rapat para pengurus MWC NU Kec. Susukan Lebak, serta menjadi sekretariat Koperasi NU “An-Nahdloh” Kec. Susukan Lebak.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: ? Sobih Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Habib, Aswaja, Pahlawan Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Sejumlah Tokoh Agama Hadiri Konfercab NU Sudan

Khartoum, Pondok Pesantren Tegal. Sejumlah pemuka agama di Sudan turut menyaksikan konferensi cabang PCINU Sudan di Gedung Konferensi Percetakan Al-Quran Afrika. Kecuali mereka, perwakilan persatuan pelajar dari pelbagai negara seperti Thailand, Malaysia, Somalia, Philipina, dan dubes RI untuk sudan tampak hadir dalam forum itu.

Mereka yang terlihat hadir pada Sabtu (12/4) lalu Duta Besar RI untuk Sudan Burhanudin, Ketua Majlis Dakwah Kementerian Irsyad Sudan Sulaiman Muhammad, Mustasyar Presiden Sudan Fatih Ali Hasanaen, Ketua Persahabatan Indonesia-Sudan Syekh Jabir Al-Anshori, Ketua Organisasi Perlindungan Warga Asing di Sudan Syekh Abdullah Makki Sodiq, Ketua Riset Universitas Intenasional Afrika Abdurrahman Usman, dan Ketua Organisasi Pelatihan Dakwah Sudan Syekh Kamal Rizik.

Sejumlah Tokoh Agama Hadiri Konfercab NU Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Tokoh Agama Hadiri Konfercab NU Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Tokoh Agama Hadiri Konfercab NU Sudan

Ketua panitia Wildan menyampaikan rasa senang dan kagum, “Konfercab NU Sudan selama dua hari berjalan dengan baik dan tokoh ulama Sudan antusias banyak hadir. Ini menandakan hubungan antara NU Sudan dan pemuka agama Sudan baik.”

Pondok Pesantren Tegal

Rais Syuriyah NU Sudan Auzai Mahfudz berharap, “Para tokoh ulama Sudan dan Mustasyar NU Sudan dapat memberikan wawasan keilmuan dan membimbing warga NU Sudan agar pelajar NU di Sudan menjadi ilmuan bertaraf internasional.”

Pondok Pesantren Tegal

Burhanudin meminta pelajar dan organisasi NU di Sudan untuk terus menyambung silaturahmi dengan kedutaan dan para pemuka agama di Sudan. Ia menekankan kader NU di Sudan untuk menguasai berbagai bahasa asing.

“Dengan itu, upaya untuk mencetak ulama bertaraf internasional menjadi lebih ringan,” kata Burhan.

Acara ini dibawakan Hambali dan Hanik dengan pengantar pelbagai bahasa asing seperti Inggris, Arab, Jerman, dan Mandarin. Pertemuan ini ditutup dengan penampilan grup sholawat NU Sudan dengan lagu “Ya Saykhona”. (Abdul Aziz/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Syariah, Pahlawan Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Anak Muda NU Turun Tangan Lawan Korupsi via Medsos

Waykanan, Pondok Pesantren Tegal. Alumni Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (Sanlat BPUN) Waykanan mengajak pelajar setempat memakai gambar "Damai Itu Tidak Indah! #Pada Korupsi" untuk profil akun fesbuk mereka. Komunitas yang ditemani GP Ansor Waykanan mengajak partisipasi kalangan muda dalam pencegahan terhadap kejahatan korupsi.

Anak Muda NU Turun Tangan Lawan Korupsi via Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)
Anak Muda NU Turun Tangan Lawan Korupsi via Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)

Anak Muda NU Turun Tangan Lawan Korupsi via Medsos

"Saya ikut memakai gambar tersebut karena ingin anak-anak remaja seusia saya atau yang lebih tua dan sebaliknya bisa membaca gambar itu. Korupsi itu hal yang sangat merugikan negara," ujar Desi Novitasari, pelajar kelas XI jusrusan akuntansi SMKN 1 Blambangan Umpu, Waykanan, Ahad (20/9).

Warga kampung Sri Rejeki kecamatan Blambangan Umpu itu melanjutkan, uang yang dipakai para koruptor untuk kepentingan pribadi itu seharusnya bisa digunakan membuat hidup rakyat lebih makmur lagi. "Korupsi memang sepantasnya diberantas," kata dia lagi.

Pondok Pesantren Tegal

Desi lalu menambahkan, korupsi sangat perlu dilawan, karena jika tidak dilawan maka habislah uang negara. "Sebagai seorang warga negara saya akan berpartisipasi melawan korupsi. Ketika mengetahui ada pejabat negara korupsi, saya akan melaporkan ke pihak berwajib yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK. Saya masih percaya KPK bisa memberantas perilaku buruk merugikan itu," kata Desi yang berharap menjadi bagian keluarga BPUN itu lagi.

Penggunaan gambar "Damai Itu Tidak Indah! #Pada Korupsi" sebagai profil akun fesbuk akan dilakukan hingga 22 September 2015. Sebanyak 20 pelajar SMA sederajat di Waykanan yang menggunakannya gambar ini paling cepat akan mendapat kaos disiapkan GP Ansor Waykanan.

Pondok Pesantren Tegal

Sebagaimana diketahui tanggal 21 September setiap tahun ditetapkan sebagai hari perdamaian internasional oleh PBB dengan tujuan memperkuat gagasan perdamaian baik antarbangsa maupun di dalam sebuah bangsa.

Tahun ini PBB mengusung tema "Partnerships for Peace-Dignity for All" yang bertujuan untuk menekankan pentingnya semua segmen masyarakat bekerja bersama mewujudkan perdamaian.

"Tetapi pada korupsi tidak ada kata damai," ujar Ketua Alumni Sanlat BPUN Waykanan 2015 Disisi Saidi Fatah yang mengampanyekan perlawanan tersebut lewat akun fesbuknya. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pahlawan, Anti Hoax Pondok Pesantren Tegal

Senin, 08 Januari 2018

Orang-orang Terbaik Menurut Rasulullah

Khutbah I

Orang-orang Terbaik Menurut  Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Orang-orang Terbaik Menurut Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Orang-orang Terbaik Menurut Rasulullah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?}? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ?

Pondok Pesantren Tegal

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Jika seseorang bertanya kepada kita tentang siapa orang-orang terbaik, tentu kita harus menjawab pertanyan itu berdasarkan petunjuk Rasulullah SAW.  Beliau telah menyebutkan kelompok orang-orang terbaik sebagaimana dijelaskan dalam beberapa hadits beliau sebagai berikut: 

Pondok Pesantren Tegal

Pertama, orang terbaik adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari sebagai berikut: 

? ? ? ? ?

Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Rasulullah SAW tidak saja mengajurkan kita belajar Al-Qur’an, tetapi juga mendorong  siapa saja supaya mau mengajarkannya kepada orang lain.  Artinya seseorang sesungguhnya tidak cukup jika hanya berhenti pada belajar Al-Qur’an. Ia sebaiknya juga mengajarkannya kepada orang lain setelah cukup menguasainya. Oleh karena itu dalam belajar Al-Qur’an sebaiknya hingga sampai tingkat mahir, yang  tidak saja  mahir membacanya, tetapi juga mahir memahami kandungannya, dan bahkan mahir mengamalkan isinya. Bukankah al-Quran bukan sekedar bacaan, tetapi sekaligus harus diamalkan karena merupakan kitab suci sebagai petunjuk dari Allah SWT bagi seluruh kaum Muslimin.   

Kedua, orang terbaik adalalah orang yang paling baik sikapnya terhadap keluarganya. Hal ini sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi sebagai berikut: 

? ? ? ? ? ?

Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Rasulullah SAW memberikan suri teladan bagaimana sebaiknya seorang suami bersikap kepada keluarganya. Beliau mengatakan bahwa beliau adalah orang yang paling baik sikapnya terhadap keluarga. Ini artinya untuk menjadi suami yang baik, kita bisa mengikuti beliau. Sayyidah Aisyah RA menuturkan bahwa Rasulullah SAW sebagai seorang suami banyak melayani keluarga seperti  menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Beliau bahkan menjahit pakaian sendiri, mengesol sandal sendiri, memerah susu kambing sendiri, hingga berbelanja ke pasar untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan sebagainya. Oleh karena itu, sebagaimana sabda beliau diatas, orang terbaik adalah orang yang paling baik sikapnya terhadap keluarganya.    

Ketiga, orang terbaik adalah orang yang  paling bisa diharapkan kebaikannya dan paling sedikit keburukannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi sebagai berikut:

? ? ? ? ? ?

Artinya: “Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang (paling bisa) diharapkan kebaikannya  dan (paling sedikit) keburukannya hingga orang lain merasa aman.”

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Setiap orang memiliki sisi baik dan sisi buruk. Orang terbaik adalah orang yang sisi kebaikannya jauh lebih besar dari pada sisi keburukannya hingga orang lain merasa aman di sampingnya. Dengan kata lain orang terbaik adalah mereka yang, di satu sisi, dapat memberikan manfaat besar kepada orang lain, di sisi lainnya, dapat mengendalikan potensi buruknya hingga banyak orang merasa aman dan tenang di dekatnya karena terhindar dari peri laku buruknya.  

Keempat, orang terbaik adalah orang yang  memberikan makanan kepada orang lain. Hal ini sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad sebagai berikut:

? ? ? ?

Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan.” 

Makanan sesungguhnya dibagi menjadi dua, yakni makanan jasmani dan makanan ruhani. Makanan jasmani adalah seperti nasi, roti, buah dan sebagainya yang berguna untuk pengembangan diri yang bersifat fisik atau material. Sedangkan makanan ruhani adalah seperti ilmu, nasihat, dan sebagainya yang berguna untuk pengembangan diri yang bersifat mental spiritual.  Maka orang terbaik berdasarkan hadits ini adalah mereka yang bersedia memberikan makanan, baik jasmani maupun ruhani, kepada orang-orang yang membutuhkan demi menjaga keberlangsungan hidup dan kesehatan mereka baik jasmani maupun ruhani.

Kelima,  orang terbaik adalah orang yang paling baik dalam membayar hutang. Hal ini sebagaimana ditegaskan beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim sebgai berikut: 

 ? ? ? 

Artinya:“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.”

Fakta membuktikan bahwa tidak setiap orang bisa menepati janji-janjinya terkait dengan hutang-hutangnya kepada orang lain. Maka ada dua macam pembayar hutang, yakni pembayar yang baik dan pembayar yang tidak baik. Pembayar yang baik adalah mereka yang bisa menyelesaikan kewajiban hutangnya sesuai waktu yang telah disepakati, atau bahkan lebih awal dari itu. Pembayar hutang yang tidak baik adalah  mereka yang tidak disiplin, seperti para pengemplang dan sebagainya, hingga sering membuat marah orang yang telah berbaik hati memberikan pinjaman. 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Mungkin kita bertanya, apakah orang-orang terbaik itu hanya sebatas mereka yang telah disebutkan diatas? Jawabnya, tentu saja tidak sebab masih ada kelompok orang lain yang juga termasuk orang-orang terbaik sebagaimana pertanyaan seorang Arab Badui kepada Rasulullah SAW sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ?

Artinya: “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” Beliau menjawab: “Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.”(HR: Tirmidzi) 

Jadi, orang-orang terbaik sesungguhnya tidak dimonopoli oleh kelompok orang tertentu, tetapi terbuka lebar bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang ataupun bidang-bidang tertentu sebab substansi dari hal ini adalah tentang seberapa besar kebermanfaatan seseorang kepada orang lainnya secara nyata sebagaimana ditegaskan Rasulullah SAW dalam haditsnya yang diriwayatkan dari Jabir berikut:  

? ? ? ?

Artinya “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya).” 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Mudah-mudahan apa yang telah saya uraikan ini dapat bermanfaat khususnya bagi saya pribadi dan para jamaah Jumat pada umumnya. Apapun profesi, asal usul  dan status sosial kita, semoga kita semua dapat memberikan manfaat sebesar-sebesarnya kepada orang sebanyak-banyaknya. Amin ya rabbal alamin.   

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.  ? ? ? ? ? ? ? ?

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nahdlatul Ulama, Pahlawan Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Jelang Ujian Nasional, Santri Bontoala Beristighotsah

Makassar, Pondok Pesantren Tegal. Sedikitnya 100 santri pesantren Mahadu al-Diraasati al-Islamiyyah wa al-Arabiyyah (MDIA) Bontoala, Makassar melantunkan zikir dan doa di aula kampus 1 jalan Lamuru nomor 65, Makassar, Kamis (9/3). Pelajar MTs dan MA ini meminta ketabahan hati menjelang ujian nasional kepada Allah SWT.

Jelang Ujian Nasional, Santri Bontoala Beristighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Ujian Nasional, Santri Bontoala Beristighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Ujian Nasional, Santri Bontoala Beristighotsah

“Setiap tahun agenda zikir menjelang UN selalu dilaksanakan agar santri secara mental siap mengikuti ujian,” kata salah seorang pembina pesantren MDIA Bontoala, Ahmad Fuad al-Ahwani.

Pimpinan pesantren MDIA Bontoala AGH Abd Mutthalib turut hadir bersama beberapa guru dan pembina dalam kegiatan tersebut. Seorang santri kelas III MA Muhammad Elis menyatakan senang dengan kegiatan istighotsah ini.

Pondok Pesantren Tegal

"Semoga dengan zikir dan doa kami bisa mengikuti ujian dengan lancar dan lulus," kata Elis, santri asal Bone. (Rahman Hasanudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pahlawan Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Pesantren dan Pengembangan Masyarakat

Oleh KH MA Sahal Mahfudh. Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan lembaga sosial keagamaan yang pengasuhnya juga menjadi pemimpin umat dan menjadi sumber rujukan umat dalam memberikan legitimasi terhadap tindakan warganya, sudah barang tentu mempunyai dasar pijakan yang bersifat keagamaan dalam melakukan tindakannya, terutama jika itu dianggap baru" oleh masyarakatnya. Hal tersebut, karena watak pimpinan keagamaan dan masyarakat pendukungnya yang fiqih oriented selalu meletakkan kegiatan yang dilakukan dalam pola hitam-putih atau salah-benar menuntut hukum Islam.

Salah satu kegiatan yang dianggap baru menurut kalangan masyarakat pesantren adalah pengembangan masyarakat, setidaknya kalau dilihat secara kultural dari misi utama pesatren, serta porsi kegiatannya secara global, dalam bidang pendidikan. Sedangkan pengembangan masyarakat, meskipun selama ini sudah dilakukan, hanya bersifat sporadis. Kegiatan pengembangan masyarakat belum dilakukan pesantren secara kelembagaan, di samping tanpa disertai visi yang jelas, serta perangkat pendukungnya yang memadai.

Sementara itu pengembangan masyarakat yang bermuara pada peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat dengan pendekatan kebutuhan dan permasalahan masyarakat sebagai subyek atau obyek, sedangkan kebutuhan masyarakat itu selalu berkembang dan permasalahan masyarakat pun hampir tidak pernah absen di semua lapisan masyarakat, baik secara moril mau pun materiil, maka sesungguhnya pengembangan masyarakat akan selalu mendapat tempat sepanjang masa di masyarakat mana pun, baik kota mau pun desa, yang masih bersifat agararis mau pun masyarakat industri.

Pesantren dan Pengembangan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dan Pengembangan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dan Pengembangan Masyarakat

Namun kalau pesantren ingin berhasil dalam melakukan pengembangan masyarakat yang salah satu dimensinya adalah pengembangan semua sumber daya, maka pesantren harus melengkapi dirinya dengan tenaga yang terampil mengelola sumber daya. yang ada di lingkungannya, di samping syarat lain yang diperlukan untuk berhasilnya pengembangan masyarakat. Sudah barang tentu, pesantren harus tetap menjaga potensinya sebagai lembaga pendidikan.

Pesantren yang mampu mengembangkan dua potensinya, yaitu potensi pendidikan dan potensi kemasyarakatan, bisa diharapkan melahirkan ulama yang tidak saja dalam ilmu pengetahuan keagamaannya, luas wawasan pengetahuan dan cakrawala pemikirannya, tetapi juga mampu memenuhi tuntutan zamannya dalam rangka pemecahan persoalan kemasyarakatan.

Pondok Pesantren Tegal

***

Untuk meletakkan pengembangan masyarakat atau pembangunan dalam dimensi agama, terlebih dulu perlu dilihat kaitan kewajiban seorang muslim yang telah siap menerima amanat atau tanggung jawab dari Allah SWT. Untuk itu di samping memberi ajaran yang tertuang dalam bentuk Al-Qur’an dan Hadits sebagai pedoman hidup, Allah menciptakan manusia terdiri atas lima komponen(1): (1). Jasad, (2). Akal, (3). Perasaan, (4). Nafsu, (5). Ruh.

Pondok Pesantren Tegal

Dari terkumpulnya lima komponen itu, manusia mempunyai dua potensi atau kemampuan, yaitu pertama kemampuan fisik (quwwah amaliyah) atau kemampuan untuk melakukan kerja, yang kedua, kemampuan berpikir (quwwah nadhariyah). Kemampuan berpikir ini sehat, bila akal, perasaan dan nafsu berjalan sekaligus. Berpikir tanpa menggunakan akal akan menjadikan seseorang emosi. Maka atas dasar kemampuan yang diberikan oleh Allah di atas, manusia mempunyai tanggung jawab melaksanakan peritahNya dan meninggalkan laranganNya secara simultan.

Mahmud Syaltut melihat bahwa ajaran Islam itu pada dasarnya dibagi dua komponen pokok, yaitu aqidah dan syari’ah.(2) Dalam menghampiri masalah ‘aqidah yang menyangkut aspek kepercayaan manusia banyak dituntut menggunakan kemampuan berpikir. Dalam menghampiri masalah syanah yang menyangkut aspek perilaku, manusia dituntut banyak menggunakan kemampuan fisik.

Dari aspek syariah yang mengatur hubungan manusia inilah pada dasarnya lahir taklif, yang mesti dilakukan manusia dalam menjalin hubungan dengan empat macam sasaran terjadinya proses pembangunan atau pengembangan masyarakat. Empat macam sasaran dimaksud tidak bisa diabaikan dan dipisahkan salah satu dari yang lainnya, sebab dengan mengabaikannya akan terjadi ketidakseimbangan kehidupan seseorang. Atau dengan ungkapan lain, kehidupan seseorang yang mengabaikan salah satu hubungan dari empat macam sasaran tersebut tidak akan mencapai hasanah di dalam kehidupan dunia kini atau hasanah di dalam kehidupan akhirat kelak, di mana keduanya menjadi tujuan akhir kehidupan seseorang beragama.

Adalah tidak mungkin mengetengahkan semua dasar-dasar agama yang menjadi pangkal tolak para tokoh Islam, khususnya para pengasuh pesantren dalam melakukan kegiatan pengembangan masyarakat baik yang bersumber dari nash-nash Al-Qur’an, Hadits, mau pun Atsar (pendapat, atau perilaku para sahabat Nabi). Sesuai dengan alur pemikiran yang membagi syariah kepada empat macam hubungan manusia, maka ada baiknya di sini diketengahkan dasar-dasar keagamaan dengan empat pola hubungan yang mendorong para pengasuh pesantren (setidaknya kami sendiri) untuk melakukan pengembangan masyarakat.

***

Seperti dijelaskan di atas bahwa aspek syariah merupakan perwujudan dari aspek aqidah. Dengan kata lain, sebagai orang yang percaya kepada Allah, ia harus melakukan perintahNya dan menjauhkan laranganNya. Aturan mengenai "perintah dan larangan" yang mendasari hubungan manusia dengan Allah, disebut ‘ibadah, yaitu upaya seseorang dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Ibadah ini ada dua macam, pertama, ibadah yang bersifat qoshirah, yaitu ibadah yang manfaatnya kembali kepada pribadinya sendiri. Kedua, ibadah mutaaddiyah yang bersifat sosial. Ibadah sosial ini manfaatnya menitikberatkan pada kepentingan umum. Dalam kaidah fiqih(3) disebutkan: Ibadah yang bermanfaat kepada orang lain lebih utama daripada ibadah yang manfaatnya hanya kepada diri sendiri".

Akan tetapi dalam hal ini tidak bisa diartikan, lebih baik beribadah yang mutaaddiyah saja, dan ibadah yang qashirah kita tinggalkan. Kecuali apabila terjadi keadaan yang dilematis (taarudl) antara ibadah qoshirah dan ibadah mutaaddiyah diutamakan untuk memilih mutaaddiyah sepanjang yang qashirah tidak berupa fardlu ain. Dalam kaitan ini pula perlu diketengahkan bahwa pada dasarnya setiap manusia adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban (di hadapan Allah) seperti disampaikan Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits(4), yang artinya: "Kamu semua adalah penanggung jawab, dan akan dimintai pertanggunjawaban atas yang dipercayakan padamu". Sudah barang tentu setiap pemimpin diharapkan melakukan tanggung jawab sebaik-baiknya, sehingga orang yang dipimpin, orang yang diasuh, bisa menikmati kehidupan, menikmati kemerdekaan dan sebagainya.

Hadits di atas juga berkaitan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an yang mengatakan bahwa, Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi dengan firmanNya yang artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat; Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi, orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman, "Sesungguhya Aku mengetahui yang tidak kamu ketahui".

Dari sini bisa dipahami, bahwa tugas kekhalifahan manusia di bumi ini sebenarnya agar manusia berbuat baik di atas bumi tidak merusak, baik merusak kehidupan, lingkungan atau tatanan yang ada. Dengan demikian sebenamya kuatlah dasar dan motivasi pengasuh pesantren untuk melakukan kerja membangun, baik untuk dirinya sendiri, keluarganya mau pun masyarakat. Sebab agama memberi wahana ibadah yang bersifat individual, di samping wahana ibadah yang bersifat sosial. Dan keduanya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah untuk mencari ridlaNya dalam arti melakukan tanggung jawab di hadapanNya.

***

Islam mengatur hubungan antar manusia, baik antar muslim dengan muslim, atau muslim dengan non-muslim. Apakah antara kedua belah pihak ada hubungan kekerabatan persaudaraan, atau hubungan sosial. Dengan demikian satu sama lain saling mengakui keberadaannya. Nabi memberikan dorongan perlunya memperhatikan damemecahkan masalah yang menimpa umat Islam, sebagai berikut: “Barang siapa yang tidak memperhatikan urusan umat Islam, tidak termasuk golongan mereka".(5)

Lebih lanjut untuk memberi gambaran betapa perlunya pemimpin umat agar selalu memperhatikan nasib dan kehidupan kaum dluafa, ada baiknya diketengahkan surat Khalifah Umar Ibn Khattab RA kepada Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, “Hendaknya engkau takut, jangan sampai menjauhi masyarakat, dan dekati mereka yang dla’if bahkan mereka yang di bawahnya, dan berilah mereka kesempatan untuk menyampaikan pendapat, sehingga luaslah kesempatan mereka untuk berbicara, kenalilah orang asing karena apabila mereka ditekan, lemahlah pemikirannya dan meninggalkan haknya".(6) Surat ini memberikan kesan agar para pemimpin umat selalu memikirkan keadaan masyarakat, mengetahui keadaan mereka, memberi kesempatan mereka untuk menyampaikan pendapat, agar dengan demikian terbuka pula kesempatan untuk pengembangan diri mereka dan pengembangan potensi manusiawinya.

Kalau melihat permasalahan orang desa di sekitar pesantren, yang pada umumnya pesantren berada di daerah pedesaan, banyak masyarakat desa dililit oleh permasalahan yang kompleks, seperti pendapatan rendah, ketidakmampuan membiayai pendidikan anak, ketidakberdayaan mereka untuk mendapatkan hak-hak yang asasi, lebih-lebih kalau mereka berhadapan dengan kekuatan yang lebih besar seperti kekuatan negara, mereka tak berdaya. Hanya saja karena penduduk desa ini sudah terbiasa dengan serba kesulitan, maka masalah yang mereka derita tidak dirasakan sebagai masalah, padahal orang lain melihatnya sebagai masalah serius yang perlu segera diatasi. Di sinilah kewajiban para pengasuh pesantren sebagai pemimpin umat untuk memperhatikan permasalahan umat tersebut.

***

Pada prinsipnya manusia diberi kebebasan berpikir tentang alam, di samping memanfaatkannya untuk diri sendiri atau kepentingan bersama. Bahkan dalam al-Qur’an surat Huud ayat 61, Allah berfirman, “Dia (Allah) telah menciptakan kalian dari tanah dan menuntut kalian membangun (memakmurkan) di atasnya". Setidaknya dari ayat yang diperintahkan Allah di atas, memberi himbauan kepada hambaNya, untuk meramaikan bumi atau membangun di atas bumi ini. Jelas perintah di sini adalah untuk berbuat baik, bukan sebaliknya, untuk melakukan kerusakan seperti yang dikhawatirkan para malaikat dalam dialognya dengan Allah dalam menanggapi proses awal penciptaan manusia.

Kewajiban membangun di atas bumi yang berwajah duniawi ini tentu perlu dilengkapi ilmu-ilmu pengetahuan dan keterampilan pendukungnya. Sebab, banyak Hadits Nabi yang mengacu pada hal ini, misalnya; “Barang siapa yang menghendaki dunia, maka ia harus menguasai ilmunya, dan barang siapa yang menghendaki akhirat maka ia harus menguasai ilmunya, dan barang siapa yang menginginkan keduanya, maka ia harus juga menguasai ilmunya."(7)

Banyak persoalan yang menyangkut apa dan bagaimana hubungan manusia dengan alam semesta ini. Di balik perintah memanfaatkan alam, manusia juga dilarang memanfaatkannya secara berlebihan. Apalagi pada saat sekarang ini, perlu disebarluaskan isu tentang lingkungan, misalnya bahaya radiasi nuklir, sehingga orang mempunyai kesadaran dan berperilaku shalih, yang menyangkut kelestarian, kebersihan dan kesehatan lingkungan -suatu kesadaran yang bertumpu pada ajaran agama.

Banyak petunjuk agama yang mengisyaratkan perlunya menjaga keseimbangan kehidupan yang berwajah duniawi dan ukhrawi; yang artinya tidak harus mementingkan hidup dan kehidupan yang berwajah ukhrawi saja, lalu meninggalkan kehidupan yang duniawi. Sebab manusia hidup di dunia tentu membutuhkan apa saja yang bersifat duniawi dan kalau kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka manusia yang bersangkutan tidak bisa melakukan aktivitas yang bersifat ukhrawi dengan baik.

Sebaliknya seseorang pun tidak boleh mementingkan kehidupan yang berwajah duniawi lalu meninggalkan kehidupan ukhrawi. Orang yang demikian, hidupnya menjadi keras dan panas, terutama sisi ruhaniahnya. Orang yang mementingkan kehidupan duniawinya saja belum tentu bahagia dalam arti sesungguhnya. Sebab kebahagiaan yang ia capai hanya dari segi lahiriah, sedangkan yang dari sisi batiniah ia tidak bisa menikmati.

Untuk mengisi kehidupan yang seimbang antara duniawi dan ukhrawi itu, Allah memberi kewajiban-kewajiban yang mesti dilakukan manusia yang bersifat ukhrawi seperti tercemin dalam rukun Islam, di samping memberi kesempatan bahkan kewajiban untuk melakukan usaha yang berwajah duniawi seperti pengaturan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kehidupan Nabi, kecuali sebagai pemimpin kehidupan keagamaan, juga sebagai pemimpin kehidupan masyarakat, telah menjadi petunjuk untuk itu. Secara individual, Islam juga memerintahkan berusaha untuk mencukupi kehidupan ekonomi. Kata Nabi, "Apabila kamu telah selesai melakukan shalat fajar (subuh) maka jangan terus tidur lalu tidak berusaha mencari rezeki".(8) Secara ekstrem Khalifah Umar Ibn Khattab ra. berkata, "Jangan sekali-kali engkau duduk saja meninggalkan usaha mencari rezeki sembari berdoa: Ya Allah, berilah kami rezeki", padahal eugkau mengetahui bahwa sesungguhnya langit itu tidak akan pernah memberi hujan emas dan perak".(9) Bahkan Islam melarang menganggur, seperti disampaikan oleh sebuah hadits Nabi, "Orang yang paling berat siksanya di hari kiamat, adalah orang yang dicukupi rezekinva tetapi ia menganggur".(10)

***

Kalau dilihat dari sejarah munculnya pesantren dan penerapan ajaran aqidah dan syariah pada masyarakat pendukungnya, tidaklah berlebihan apabila disebut, pesantren itu merupakan kesatuan dalam keragaman. Kesatuan dalam pemihakannya dalam Islam Sunni, kesatuan dalam misinya yaitu menyampaikan dakwah dan pesan keagamaan kepada masyarakatnya di samping lembaga yang menekuni tafaqquh fiddin. Namun pesantren beragam dalam cara, metoda, taktik dan strategi untuk melakukan dakwahnya. Bahkan dalam satu sisi dakwahnya sekalipun, seperti yang tercermin dalam pola pendidikannya.

Persoalan yang terakhir dapat dimengerti, karena dipengaruhi oleh pendiri pesantren dan masyarakat pendukungnya, atau salah satu dari dua faktor tersebut. Kedua faktor itu berkaitan dengan tantangan yang ada dan jawaban yang muncul. Bahkan hubungan saling mempengaruhi ini terus berlangsung pada periode pengasuh pengganti. Hanya saja pesantren itu sebenarnya sangat tergantung kepada pengasuh sebagai elemen yang paling esensial dan pemegang otoritas di pesantren.(11) Karena itu pula, arah, taktik, strategi, sistem dan organisasi pendidikan dalam pesantren sangat dipengaruhi oleh pengasuhnya.

Dalam kaitannya dengan upaya pengembangan masyarakat yang merupakan peningkatan peran pesantren ini,(12) respon para pengasuh pesantren pun menjadi beragam. Meskipun sebenarnya banyak nash al-Quran, Hadis atau Atsar para sahabat Nabi yang memberikan dorongan untuk melakukan usaha pembangunan kemasyarakatan seperti sudah dijelaskan pada permulaan tulisan ini. Memang ajaran tersebut tidak merupakan sesuatu yang baru, tetapi karena usaha pembangunan itu dianggap kegiatan baru, maka respon para pengasuh menjadi beragam.(13)

Sekali lagi hal tersebut tergantung kepada wawasan dan visi pengasuh pesantren tentang pengembangan masyarakat. Sebagai contoh dalam kasus ini, pada tahun 1984 BPPM Maslakul Huda Kajen, Pati bekerjasama dengan P3M mengajak 12 pesantren di Jawa Tengah, ternyata 3 dari jumlah itu (25 persen) tidak dapat menerima kegiatan pengembangan masyarakat dengan alasan yang tidak sama. Pada umumnya, alasan mereka tidak bisa melaksanakan kegiatan pengembangan masyarakat, karena misi pesantren adalah tafaqquh fiddin. Perluasan kegiatan di bidang kemasyarakatan selain dianggap asing, juga dikhawatirkan terabaikannya fungsi utama tersebut. Jadi antara tafaqquh fiddin dan pengembangan masyarakat belum dilihat kaitannya yang esensial, akibat dan belum lengkapnya informasi yang mereka terima tentang apa, bagaimana, mengapa pengembangan masyarakat itu, di samping belum banyaknya contoh kongkrit wujud pesantren yang melaksanakan pengembangan masyarakat.

Untuk menyebarkan ide, makna dan tujuan pengembangan masyarakat, barangkali lebih baik dkan dengan berkomunikasi secara lisan dengan para pengasuh pesantren. Dalam hal ini komunikasi tulis apakah lewat surat menyurat, penyebaran majalah atau buletin yang mempunyai pesan pengembangan masyarakat tidak cukup, mengingat budaya yang berkembang di pesantren masih kuat melalui komunikasi lisan.

***

Di banyak negara berkembang, strategi pembangunan yang mengutamakan pembangunan ekonomi dengan mengejar peningkatan pendapatan perkapita belaka, tidak bisa menyelesaikan masalah kemiskinan, pengangguran, kesenjangan antara kaya-miskin, antara sektor desa-kota; kecuali bila strategi tersebut dilengkapi dengan strategi yang mengarah pada pemerataan hasil pembangunan dan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat.(14)

Demikian pula kasus Indonesia, lebih-lebih pada dasawarsa delapan puluhan ini, di mana ekonomi Indonesia dilanda resesi, di samping masih dipengaruhi oleh berkurangnya penerimaan pendapatan negara dari sektor minyak. Maka dengan strategi yang kedua, (pemenuhan kebutuhan pokok) dirasa agak bisa mengurangi masalah kemiskinan, kesenjangan pendapatan dan pengangguran yang masih banyak dirasakan oleh sebagian besar penduduk Indonesia.

Namun sekali lagi, satu hal yang perlu diperhatikan adalah jumlah penduduk yang berkekurangan sangat besar, tersebar di beberapa daerah pedesaan, dengan adat istiadat yang tidak sama, serta permasalahan yang bermacam-macam, sehingga dalam kondisi yang demikian tidak dapat diterapkan kebijaksanaan sentral atau pendekatan teknokratis -meminjam istilah Ismed Hadad- yang hanya mengejar target, baik target waktu mau pun hasil riil. Sebab kondisi alam, dan budaya masyarakat satu daerah dengan yang lain sangat berbeda.

Dalam kondisi demikian lebih tepat apabila dilakukan pendekatan yang mengajak peran serta (partisipasi) masyarakat dalam proses pembangunan. Pendekatan ini harus dilakukan sejak awal melihat permasalahan mereka sendiri, merencanakan kegiatan yang dipilih dalam mengatasi permasalahan, melakukan kegiatannya dan mengevaluasi hasil kerja yang dilakukan.

Dengan demikian semua proses kegiatan akan disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di masyarakat. Masyarakat tidak saja menjadi obyek, tetapi menjadi subyek pembangunan yang pada sisi lain akan mengembangkan keswadayaan dan sumber daya yang ada di sekitar mereka.

Tidak dapat dielakkan memang, strategi pemenuhan kebutuhan pokok yang membutuhkan peran-serta memerlukan waktu, di samping itu fasilitas pemandu, baik orang-perorang atau lembaga yang dapat berperan sebagai motivator, fasilitator untuk memunculkan atau mengembangkan peran-serta, atau swadaya masyarakat. Sebab pada dasarnya strategi pendekatan ini intinya usaha penyadaran masyarakat agar mereka bisa mengembangkan sumber daya yang ada pada diri mereka, lingkungan dan alam sekitar.

Di sinilah pesantren dengan potensi sosial keagamaannya bisa melakukan peran sebagai lembaga pengembangan swadaya masyarakat, terutama melalui nilai-nilai keagamaan seperti kemandirian, keadilan, kerja sama dan sebagainya. Mengingat kebutuhan masyarakat itu selalu ada dan bahkan selalu berkembang, maka apabila pesantren bisa melakukan peran sebagai lembaga swadaya masyarakat, ia akan selalu mendapat tempat di masyarakat, bahkan bisa lebih mengembangkan potensi kemasyarakatan.

Selanjutnya bagi pesantren diperlukan syarat yang mendukungnya, antara lain: 1) Wawasan yang benar dari pengasuh pesantren tentang pengembangan masyarakat, di samping kepekaannya terhadap permasalahan yang berkembang, baik yang menyangkut sosial, politik, ekonomi, budaya dan sebagainya, dan 2) Tersedianya tenaga dari kalangan pesantren yang menjadi motivator pembangunan masyarakat dan yang mampu menjadi manager of resources yang ada di sekitarnya.

Sudah barang tentu apabila pesantren melakukan peran pengembangan swadaya masyarakat sebagai upaya untuk mengikuti petubahan sosial yang ada, ia tetap harus menjaga kelestarian fungsinya sebagai lembaga pendidikan dan keilmuan.

***

Dalam suatu makalah berjudul Pengaruh Pendidikan Agama Terhadap Kegiatan Sosial, Soedjatmoko (15) memberi kesimpulan, pendidikan agama akan dapat memenuhi suatu fungsi yang sangat penting dalam perkembangan sosial yang ada di Indonesia. 1). Berusaha memupuk beberapa sifat tertentu, di antaranya keberanian hidup, bersedia mandiri dan berinisiatif, peka terhadap hak dan keperluan manusia, sanggup kerjasama untuk kepentingan umum, di dalam proses perubahan sosial terus menerus, tanpa ketakutan akan perubahan itu sendiri. 2). Berusaha merangsang anak didik untuk mengamalkan ilmu mereka. 3). Berusaha memupuk motivasi yang kuat pada anak didik untuk mempelajari dan memahami kenyataan sosial yang terdapat di masyarakat. 4). Berusaha untuk berintegrasi dan bersinkronisasi dengan pendidikan non-agama.

Dari uraian terdahulu tulisan ini dan kesimpulan Soedjatmoko di atas dapat ditarik benang merah, pesantren yang melakukan pengembangan masyarakat punya prospek sebagai berikut:

1). Pesantren akan selalu dapat mengikuti perkembangan sosial, sebab dari segi visi, orientasi dan programnya ada pemihakan untuk mengembangkan masyarakat sekitarnya. Implikasi dari kepeduliannya terhadap permasalahan masyarakat ini, pesantren akan dapat memberi arah perkembangan masyarakat dari aspek sosial, budaya, politik dan ekonomi yang ditindaklanjuti dengan kerja nyata dalam rangka pemecahan permasalahan yang ditentukan di masyarakat. Sehingga kalau ada permasalahan yang menyimpang dari tujuan serta nilai dan ajaran yang dikembangkan, pesantren tidak saja memberikan keputusan halal-haram, tetapi melihat permasalahan lebih dahulu dan mencarikan jalan keluar, sehingga masyarakat tidak terperangkap dalam kegelapan dan keharaman terus.

2). Pesantren yang bersangkutan mempunyai laboatorium sosial, yaitu adanya kelompok-kelompok swadaya yang difasilitasi pesantren. Baik kelompok dalam bidang ekonomi seperti kelompok pedagang kecil, perajin; mau pun kelompok di bidang sosial seperti kelompok taman gizi, kelompok pemakai air, kelompok kesehatan, kelompok belajar, kelompok wanita produktif dan sebagainya.

Sejalan dengan dinamika masyarakat, kelompok swadaya ini tidak bisa berhenti, harus selalu mempunyai inisiatif untuk pengembangan kelompok mereka, baik dari segi jumlah anggota, kualitas, pelayanan, mau pun perluasan sasaran. Dan karena kelompok swadaya diprakarsai dan difasilitasi oleh pesantren, maka kelompok itu akan melakukan komunikasi dengan pesantren secara timbal balik. Proses interaksi ini tentu mempengaruhi wawasan santri, terutama para santri senior yang sudah mempunyai pemikiran tentang masalah-masalah sosial.

Pengembangan masyarakat yang menjadi wahana laboratorium sosial ini selanjutnya akan menjadi bahan untuk tambahan khazanah ilmu pengetahuan santri yang pada gilirannya akan menambah wawasan pemikiran, sehingga menambah kepekaan mereka terhadap masalah-masalah sosial. Di sinilah perlunya bagi perpustakaan pesantren sekarang ini untuk melengkapi bahan bacaan non-kitab, apakah buku-buku keterampilan, ilmu-ilmu sosial, majalah, koran dan lain-lain. Dengan demikian ada media bagi para santri untuk melengkapi ilmu pengetahuannya, tidak saja dalam ilmu agama, tapi juga ilmu non-agama, sehingga terjadilah proses interaksi antara keduanya.

Untuk menutup tulisan ini ada baiknya kita perhatikan identitas ulama menurut Imam Ghazali seperti yang terekam dalam Ihya Ulumuddin, "Setiap ulama adalah orang yang abid (ahli ibadah); zuhud, mengerti ilmu-ilmu akhirat; pengetahuannya diabdikan untuk Allah; peka, jeli dan paham benar akan kemaslahatan makhluk".

Dari ciri yang terakhir jelas sekali, apa yang seharusnya dilakukan oleh para ulama pengasuh pesantren dalam rangka membina umat. Bukan saja membina dalam kehidupan beragama, tapi juga kehidupan sosial ekonomi, serta membina kehidupan berbangsa dan bernegara.

***

Catatan Kaki:

Sahal Mahfudh, Makalah Tenaga Pengembangan Masyarakat, 1984 (tidak dipublikasikan) hal. 63 Mahmud Syaltut, Al-Islam Aqidah wa Syariah, Dar al-Qalam, cetakan ketiga, hal. 12 Imam Suyuti, Mawahib al-Saniah, Muhammad Ibn Ahmad Ibn Nabhan, Surabaya, hal. 237 Muhyiddin al-Nawawi, Riyadl al-Sholihin,hal. 142 Muhammad Athiyah al-Ibrasyi, Ruh al-Islam, Daru Ihya’i Kutubi al-Arabiyyah, tanpa tahun, cetakan kedua, hal. 220 Ibid Ibid, hal. 336 Jami’ al-Shaghir, juz I hal. 30 Al-Ibrasyi, Op. Cit., hal. 311 Ibid., hal. 312 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, LP3ES, hal. 55. Profil Pesantren, LP3ES. hal. 112 Profil Pesantren, LP3ES, hal. 112 Ibid, hal. 79-80 Ismed Hadad, Pembangunan Swadaya Masyarakat, dalam Prisma, April 1983 hal. 5-7 Soedjatmoko, Pengaruh Pendidikan Agama Terhadap Kehidupan Sosial, dalam Etika Pembangunan, LP3ES, hal. 274~275  

*) Tulisan ini pernah dimuat di Pesantren No: 2/Vol. IV/1987 dengan judul Pengembangan Masyarakat oleh Pesantren: Antara fungsi dan Tantangan. Juga bisa ditemukan di buku KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pahlawan, Kiai, Nasional Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Silatnas Alim Ulama, Warga Sediakan Tempat Menginap dan Makanan

Rembang, Pondok Pesantren Tegal. Sudah menjadi kebiasaan warga nahdliyin, apabila ada perhelatan Nahdlatul Ulama, mereka semangat sekali memberikan apa yang dipunyai. Tak hanya tenaga maupun doa, juga apapun yang dipunya.?

Seperti terlihat di acara Silaturahim Nasional Alim Ulama NU yang hari ini digelar di Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah, Kamis (16/3). Warga sekitar pondok yakni penduduk desa Karangmangu Kecamatan Sarang banyak yang menyediakan rumahnya atau langgarnya untuk menampung para tamu atau penggembira yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.?

Silatnas Alim Ulama, Warga Sediakan Tempat Menginap dan Makanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Silatnas Alim Ulama, Warga Sediakan Tempat Menginap dan Makanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Silatnas Alim Ulama, Warga Sediakan Tempat Menginap dan Makanan

Amirotus Sholihah (37) adalah salah satu di antara warga yang menyediakan tempat menginap. Di rumahnya yang sederhana di sebelah selatan komplek Ponpes Mahadul Ilmi al Syar’i (MIS), telah dia sediakan untuk tamu putri yang membutuhkan tempat menginap. Sementara langgar (surau) di depan rumahnya diberikan untuk tempat menginap tamu pria.?

Sejak Rabu (5/3) pagi putri almarhum Kiai Imam Ghozali Umar ini telah menata langgar maupun kamar tamu rumahnya. Karpet baru digelar, kipas angin dipasang. Juga kamar mandi dan WC dibersihkan. Masakan spesial pun telah dia buat bersama para santrinya.?

Pondok Pesantren Tegal

Masakan khas pesisir Jawa sekaligus khas pesantren dia hidangkan. Ada sayur lodeh dengan isi ikan pari panggang, ada ikan bandeng goreng, juga sambal kosek di wadah cobek dari tanah liat. Juga sayur gudangan dan lalapan. Kerupuk dan es degan melengkapi kudapan serba pedas tersebut.?

Ketika Pondok Pesantren Tegal datang ke rumahnya, Kamis siang, tampak enam mobil berplat nomor luar Rembang terparkir di halaman depan rumahnya. Dua orang sopir sedang tiduran di atas lantai keramik beralas karpet.?

Beberapa cangkir kopi yang belum habis nampak pating blasah? (berserakan) di lantai langgar tanpa pintu dan tanpa jendela itu, yakni bangunan model pendopo. Puluhan batang puntung rokok teronggok di piring-piring kecil bekas tatakan kopi.?

Ketika acara usai dan hadirin membubarkan diri, barulah ketahuan siapa yang beristirahat di tempat yang disediakan oleh Amiroh dan suaminya, Gus Imam Baehaqi tersebut. Ternyata ada banyak tokoh NU maupun para penggembira.?

Salah satu ketua PBNU KH Imam Aziz, Wakil Sekretaris PBNU Sulthonul Huda dan Direktur Pondok Pesantren Tegal Savic Alielha terlihat gayeng berbincang sambil diselingi tiduran atau tengkurap. Ada pula pengurus LTN PBNU Munawir Aziz.?

Pondok Pesantren Tegal

Di luar orang penting NU, ada wartawan Harian Kompas Susi Ivvaty, ada rombongan netizen dari Solo dan Ngawi yang transit di situ untuk melanjutkan pertemuan Kopi Darat grup Terong Gosong di Pondok Pesantren Leteh Rembang.?

"Alhamdulillah kami sangat senang bisa berjumpa para sahabat, para senior dan sedulur nahdliyin di sini. Terima kasih sudah sudi mampir ke langgar kami dan beristirahat di sini," tutur Bu Nyai muda yang aktif di Fatayat NU Lasem ini.?

Ribuan orang tumplek blek di desa Karangmangu, sehingga jalan raya Daendeles yang menghubungkan Semarang-Surabaya dijejali orang-orang yang lalu lalang. Tak pelak kemacetan sering terjadi di seputar pertigaan menuju Ponpes Al Anwar maupun di masjid-masjid sekitarnya. (Ichwan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pahlawan, Internasional, RMI NU Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

PMII Unila Galang Dana Peduli Bencana Banjir Lebak dan Pandeglang

Bandarlampung. Pondok Pesantren Tegal - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Lampung mengadakan bakti sosial solidaritas peduli bencana banjir Lebak dan Pandeglang Banten. Mereka melakukan penggalangan dana di lampu merah Tugu Adipura Bandarlampung, Rabu-Kamis (15-16/2).

Kegiatan yang diikuti? beberapa anggota dan pengurus PMII Ini bertujuan untuk melatih kader dan anggota PMII untuk peka dengan lingkungan sekitar.

PMII Unila Galang Dana Peduli Bencana Banjir Lebak dan Pandeglang (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Unila Galang Dana Peduli Bencana Banjir Lebak dan Pandeglang (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Unila Galang Dana Peduli Bencana Banjir Lebak dan Pandeglang

Ketua Satu Bidang Kaderisasi Riyan Agung menjelaskan, kegiatan ini merupakan implementasi dari hablum minan nas sebagai sesama saudara sebangsa Indonesia.

"Kegiatan ini untuk melatih kader dan anggota PMII agar peka terhadap lingkungan, dan tidak mementingkan diri sendiri. Sehingga kita bisa mengimplementasikan hablum minan nas di antara kita sesama warga Indonesia."

Pondok Pesantren Tegal

Ketua PMII Universitas Lampung Hendy Novrian berharap kegiatan ini bisa meringankan beban masyarakat yang terkena musibah.

Pondok Pesantren Tegal

"Saya harap dengan adanya kegiatan bakti sosial solidaritas ini dapat meringankan beban saudara kita yang terkena musibah. Selain itu kegiatan ini dapat menjadi pembelajaran untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan anak muda khususnya anggota PMII," tutupnya. (Rfz/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tokoh, Pahlawan, Ulama Pondok Pesantren Tegal

Senin, 11 Desember 2017

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Dua lembaga yang bergerak dalam bidang dakwah, Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dan Lembaga Pusat Informasi Dakwah (LPID) yang semuanya dikelola oleh warga NU menyelenggarakan halal bi halal di Gd. PBNU, Kamis malam (15/11).

Acara halal bi halal yang diselenggarakan mulai pukul 19.00 WIB ini dipenuhi oleh para pengurus dan jamaah yang menjadi binaan kedua organisasi ini. Hadir dalam acara tersebut Ketua LDNU KH Nuril Huda dan Ketua LPID KH Syukron Makmur. Sementara PBNU diwakili oleh KH Tolhah Hasan.

Sebelum memimpin LPID, KH Syukron Makmun sendiri merupakan mantan ketua LDNU selama tiga periode pada era Gus Dur sehingga pertemuan ini layaknya seperti kangen-kangenan dengan pengurus lama. Para pengurus LPID lainnya juga merupakan para kiai dan ulama dari kalangan nahdliyyin.

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal

Ketua Panitia H Baden Badruzzaman menjelaskan bahwa upaya untuk mempererat silaturrahmi melalui halal bi halal ini salah satunya juga untuk mengantisipasi maraknya aliran sesat yang kini kerap kali muncul dan meresahkan masyarakat.

Sementara itu, H. Ahmad Jauhari yang mewakili LDNU mengungkapkan bahwa tantangan dakwah dimasa depan menjadi semakin berat. Jika saat ini umat Islam dengan gampang bisa sholat, tahlil dan sholawat dengan gampang, apakah hal yang sama bisa terjadi pada 50 tahun ke depan. Dibeberapa daerah yang umat Islamnya minoritas, seperti di Bali, NTT dan Manado, mereka kesulitan untuk menjalankan ibadah.

“Karena itu, rahmat Allah berupa penduduk beragama Islam yang mayoritas ini harus disyukuri dengan saling bekerjasama, mendukung dan mendorong pengembangan dakwah,” katanya.

Pondok Pesantren Tegal

Sementara itu KH Syukron Makmun yang merupakan dai kawakan ini menjelaskan berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam seperti liberalisasi, sekulerisasi sampai dengan penanaman cara berfikir Barat pada umat Islam.

Liberalisasi yang dilakukan dalam rangka memperlemah iman umat Islam ini disebarkan dengan kedok modernisasi, padahal tujuannya adalah untuk membunuh umat Islam. Menurutnya, kini sudah banyak umat Islam yang mengaku memiliki pemikiran baru, padahal sebenarnya mereka hanya mentransfer dari Barat.

Pondok Pesantren Tegal

“Kini seorang ustadz tidak boleh menegur perempuan yang membuka auratnya karena ini melanggar HAM,” katanya.

Untuk melawan ini, kini LPID telah menyiapkan penerbitan sejumlah buku seperti Apakah Bid’ah Itu, Pluralisme Menuju Pemurtadan, Sekularisme Membunuh Syariat Islam, Liberalisme dan Yahudi, dan lainnya.

Acara ini diakhiri dengan musafahah atau ramah tamah diantara hadirin. Undangan juga disuguhi musik gambus ala padang pasir untuk menghibur mereka dengan lagu-lagu Islami. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pahlawan, AlaNu, Hadits Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 24 November 2017

Cara Ketum PBNU Ajak Gerakkan Wakaf Uang NU Mesir

Kairo, Pondok Pesantren Tegal

Di tengah-tengah orasi kebangsaan tentang peran ulama Nusantara di Gedung Fakultas Bahasa Arab Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengajak ratusan peserta dialog untuk ikut serta dalam gerakan wakaf uang.

Cara Ketum PBNU Ajak Gerakkan Wakaf Uang NU Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Ketum PBNU Ajak Gerakkan Wakaf Uang NU Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Ketum PBNU Ajak Gerakkan Wakaf Uang NU Mesir

Gerakan wakaf uang tersebut diinisiasi Pengurus Cabang Istimewa Mesir Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir untuk memperlancari kegiatan ke-NU-an di sana, termasuk pembangunan sekretariat PCINU Mesir.

"Bismillahirrahmanirrahim, gerakan wakaf uang PCI NU Mesir, resmi saya luncurkan," kata Kiai Said dalam sambutannya di hadapan sekitar 750 warga Indonesia di Kairo, Rabu (1/3).

Pondok Pesantren Tegal

Ajakan wakaf uang disambut pertama kali oleh Kiai Said Aqil sendiri. Sembari berdiri, Kiai Said membuka tasnya dan mengambil beberapa lembar mata uang dolar US. "Saya wakaf 1000 US Dolar. Silakan yang lain menyusul," katanya.

Disusul kemudian wakaf 1000 US Dolar dari Duta Besar RI untuk Mesir Helmy Fauzi. Kemudian 2000 US Dolar dari Tubagus Mansyur, salah satu pengurus Syuriyah PCINU Mesir. Berikutnya ratusan peserta dialog yang lain ikut serta waqaf.  Dalam waktu singkat di forum tersebut telah terkumpul dana ratusan juta rupiah.

Pondok Pesantren Tegal

Selain menyaksikan peluncuran gerakan waqaf uang PCINU Mesir, Kiai Said juga melantik pengurus baru Jamiyah Ahlith Thariqah al-Mutabarah An-Nahdliyah (Jatman) PCINU Mesir. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pesantren, Pahlawan, Sholawat Pondok Pesantren Tegal

UNISNU Jepara Gelar Parade Karya Seni Rebana

Jepara, Pondok Pesantren Tegal. Universitas NU Jepara pada tahun 2015 harlahnya yang ke-2, melibatkan 15 grup rebana pada Pentas Karya Seni Rebana sekabupaten setempat. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Haji MWCNU Tahunan, Jepara ini diikuti grup rebana terbaik di Jepara.

Peserta terdiri atas grup rebana SMK Fadlun Nafis Bangsri, MA Matholiul ? Ulum Bangsri, SMK Hasan Kafrawi Mayong, Al-Aqso Pakis Aji, Syifaul Qulub Mlonggo, El-Muhdhor Pecangaan, Nurul Furqon Tahunan, Jawasho Pecangaan, Annababa Pakis Aji, El Syifa Mlonggo, Al-Mukhlisin Tahunan, El Falah Amtsilati Putra Putri Bangsri, El-Nahawand Mlonggo, dan Nurul Iman Jepara.

UNISNU Jepara Gelar Parade Karya Seni Rebana (Sumber Gambar : Nu Online)
UNISNU Jepara Gelar Parade Karya Seni Rebana (Sumber Gambar : Nu Online)

UNISNU Jepara Gelar Parade Karya Seni Rebana

Pada acara Selasa (21/4) ini, peserta terdiri atas pelajarSMK/MA/SMA dan umum. UNISNU bekerja sama dengan Jamiyyah Muji Rosul (Jamuro) Arrobbaniyyin dalam menyelenggarakan even ini.

Pondok Pesantren Tegal

"Parade Karya Seni Rebana ini digelar dalam rangka membumikan sholawat di kabupaten Jepara khususnya di Kampus NU dan melalui media seni rebana diharapkan akan menambah motivasi untuk terus berkarya untuk maju dan demi ukhuwah Islamiyyah,” kata Koordinator panitia H Mufid.

Sementara pelatih rebana dari SMK Hasan Kafrawi M Ulil Albab menegaskan, "Demi sholawat serta atas nama cinta Rasul, kita akan selalu tampil penuh kreatif dan inovatif."

Pondok Pesantren Tegal

Acara juga dimeriahkan dengan pembagian door prize 1 set rebana dari sponsor oleh panitia. Peraihnya jatuh pada grup El-Falah Putra Bangsri, Nurul Furqon Tahunan, dan Amtsilati Putri Bangsri. (Miqdad Syaroni/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pahlawan, Cerita, Ubudiyah Pondok Pesantren Tegal