Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Maret 2018

Aspegnu Jalin Kerjasama dengan Garuda Food

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Asosiasi Petani Garam Nusantara (Aspegnu), sebuah asosiasi petani garam Nahdlatul Ulama, akan menandatangani kesepakatan bersama (MoU) dengan PT Garuda Food. Kesepakatan tersebut akan berlangsung di Pati, Jawa Tengah, pada 24 November nanti.

Aspegnu Jalin Kerjasama dengan Garuda Food (Sumber Gambar : Nu Online)
Aspegnu Jalin Kerjasama dengan Garuda Food (Sumber Gambar : Nu Online)

Aspegnu Jalin Kerjasama dengan Garuda Food

Hal tersebut mengemuka pada konferensi pers yang digelar Komite Garam PBNU di gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (22/11). Komite Garam adalah semacam syuriyah dari Aspegnu.

Ketua Komite Garam PBNU Prof. Rokhmin Dakhuri mengatakan, Aspegnu adalah tindak lanjut dari Kongres Garam Rakyat yang digelar di Madura, awal Juli 2012 lalu. Tujuannya adalah mensejahterakan petani garam.

Pondok Pesantren Tegal

Pada kesempatan itu, Dian Astriana, perwakilan dari Garuda Food, mengatakan pihaknya membutuhkan 30 ton garam per hari dan 400 ton per tahun. Kebutuhan itu dipenuhi berbagai suplayer yang telah menjadi langganan Garuda Food.

“Pihak kami siap untuk menerima suplai garam dari petani garam yang tergabung di Aspegnu karena sudah lama bekerjasama dengan NU,” katanya.

Pondok Pesantren Tegal

Pada pertemuan itu, belum menyebutkan harga, dan jumlah garam yang akan diterima PT Garuda Food. Hal itu akan akan ditentukan pada penandatangan MoU nanti.

Konferensi pers yang dipandu anggota Komite Garam PBNU, Ahmad Solechan, tersebut dihadiri belasan wartawan beragam media. Hadir pula pada salah seorang Ketua PBNU KH Mochammad Maksum Machfoedz dan Sekretaris PP Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama, Mustolihin Majid.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nasional, Lomba Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

Ijazah Pendiri NU untuk Kirab Resolusi Jihad

Jombang, Pondok Pesantren Tegal

Di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU), Jombang, Jawa Timur, rombongan Kirab Resolusi Jihad NU berada mendapat ijazah dari KH M Hasib Wahab secara khusus berupa Shalawat Burdah.

"Setiap menghadapi masalah pelik yang menimpa NU maupun bangsa, maka, KH Abdul Wahab Chasbullah selalu membaca Shalawat Burdah," kata putra Kiai Wahab, salah seorang pendiri NU, Sabtu (15/10) petang.

Ijazah Pendiri NU untuk Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Ijazah Pendiri NU untuk Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Ijazah Pendiri NU untuk Kirab Resolusi Jihad

Pesan ini disampaikan Gus Hasib, sapaan kesehariannya, ketika menerima rombongan Kirab Resolusi Jihad di PPBU.

Pondok Pesantren Tegal

Dan di hadapan peserta kirab serta ratusan santri yang memadati pesarean, Gus Hasib memberikan ijazah shalawat tersebut.

"Silakan dibaca sesuai kebutuhan," tandas Ketua PBNU tersebut sambil menjelaskan kaifiyatnya.

Pondok Pesantren Tegal

Keampuhan Shalawat Burdah terbukti saat Mbah Wahab memimpin NU dan juga menghadapi problem kenegaraan. "Alhamdulillah selalu ada jalan," ungkapnya.

Kesempatan langka berupa ijazah tersebut langsung dijawab "qabiltu" Ketua Kirab Resolusi Jihad NU Ishfah Abidal Aziz.

Rombongan berada di makam Mbah Wahab sejak sebelum maghrib hingga isya. Rombongan berbaur dengan santri membacakan tahlil. Rombongan kemudian bertolak ke Pesantren Mambaul Maarif di Denanyar. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ahlussunnah, Nasional, Khutbah Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 13 Februari 2018

Habib Luthfi Serukan Nahdliyin Jihad Ekonomi

Brebes, Pondok Pesantren Tegal. Rais ‘Aam Jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah Habib Luthfi bin Ali Yahya menyerukan kepada umat Islam terkhusus Nahdliyin (warga NU) untuk melakukan jihad ekonomi. Seruan tersebut disampaikan Habib terkait masih tingginya angka kemiskinan di Indonesia.

Habib Luthfi Serukan Nahdliyin Jihad Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi Serukan Nahdliyin Jihad Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi Serukan Nahdliyin Jihad Ekonomi

“Kita harus membangkitkan kembali jihad ekonomi, umat Islam butuh duit untuk membangun,” kata Habib saat mengisi mauidlotul hasanah 40 hari wafatnya Mursyid Thariqah Attijani Brebes Syekh Muhammad bin Ali Basalamah di Pondok Pesantren Darussalam Jatibarang Brebes, Selasa malam (18/3).

Habib Luthfi berharap umat Islam tidak terkecoh dengan pertentangan antara Suni dan Syiah. Menurutnya ada yang lebih urgen dan tinggi untuk diperbincangkan. “Boleh jadi kita sedang dibenturkan antara suni dan syiah agar umat Islam lemah dan bercerai berai,” katanya.

Pondok Pesantren Tegal

Boleh jujur, lanjutnya, kita seakan malu untuk bangga dengan produk-produk lokal. Jambu hidup di Jawa, berbuah di Jawa, dikatakan jambu bangkok. Begitupun dengan ayam yang makan di Jawa, telek di Jawa juga dikatakan ayam bangkok. Begitupun dengan jeruk, disebut jeruk mandarin. “Untung kita masih punya gula jawa,” kata Habib disambut ger hadirin.

Habib meminta kepada masyarakat untuk menyudahi pemberian merk dengan mengatasnamakan negara lain. Saatnya untuk menegakan kebangkitan ekonomi kerakyatan. Apapun jenis dan bentuknya usaha ekonomi yang halal, harus dibangkitkan. “Janda-janda miskin dan anak-anak yatim terlantar masih banyak yang harus kita bantu,” tuturnya.

Pondok Pesantren Tegal

Seharusnya kita malu, kata Habib Luthfi, dengan para Wali Sanga yang meskipun sudah wafat mampu memberikan kehidupan ekonomi kerakyatan yang luar biasa. “Lihat saja perputaran roda keuangan di sekitar makam-makam Wali Sanga, sangat cepat dan mensejahterakan masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Kepada para santri, Habib Luthfi memberi nasihat agar memaksimalkan pendayagunaan akal dan pikirannya. Sehingga akan bermanfaat dan mengubah dunia sesuai petunjuk ayat-ayat Al-Qur’an.

Syekh Muhammad Ali Basalamah meninggal pada Ahad 9 Februari 2014 dalam usia 87 tahun. Ia? menjadi Mursyid Thariqah Tijaniyah yang menggelar pengajian umum setiap Senin Pon. Di setiap pengajian, pengunjungnya selalu melebihi 10 ribu pengunjung.

Menurut anak almarhum, Syekh Sholeh Basalamah, kegiatan mengenang 40 hari wafatnya ayahnya sebagai upaya membangkitkan kembali semangat almarhum dalam mengembangkan Islam, utamanya thariqah Tijaniyah.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua PCNU Brebes H Athoillah SE MSi, Rais Suryah PCNU Brebes KH Amin Mashudi, Pengasuh pesantren Al Hikmah 1 Sirampog KH Labib Sodiq, Sekretaris PCNU Kota Tegal dr H Muslikh, dan segenap undangan lainnya. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nahdlatul, Nasional, Kajian Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

Shalat Jenazah yang Dilakukan Lebih dari Sekali

Asalamu’alaikum Wr. Wb. Ustadz pengasuh rubrik Bahtsul Masail yang insyaAllah dimuliakan Allah. Bersama ini saya mohon penjelasannya seputar shalat jenazah yang pelaksanaannya dilakukan lebih dari satu kali karena ruangan tempat shalatnya tidak cukup/sempit.... sementara jumlah jamaah yang menyalatkannya jika ditotal dari kesemua pelaksanaannya ada sekitar 40 orang saja....(satu kali pelaksanaan shalatnya kurang dr 40 jamaah).

Apakah diperbolehkan, dan adakah dalil dari masalah ini....dan apakah pelaksanaan shalat tersebut sudah memenuhi syarat bagi jenazah tersebut untuk mendapatkan syafaat dari yang menyalatkan mengingat jumlah jamaah setiap pelaksanaan shalatnya kurang dari 40 orang.... Walaupun jika ditotal dr semua pelaksanaan sholat jenazah yg lebih dr satu kali itu tetap jamaahnya lebih dr 40 orang....

Shalat Jenazah yang Dilakukan Lebih dari Sekali (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalat Jenazah yang Dilakukan Lebih dari Sekali (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalat Jenazah yang Dilakukan Lebih dari Sekali

Semoga pencerahan Ustad menjadi simpanan pahala ilmu yang bermanfaat bagi Ustad dan tambahan ilmu bagi kami...Aamiin... Wassalamu’alaikum.wr.wb. (H.Muhidin ~ Pringsewu Lampung)

Pondok Pesantren Tegal

Jawaban

Pondok Pesantren Tegal

Penanya yang budimana, semoga selalu mendapatkan rahmat Allah swt. Mengenai soal berulang-ulangnya shalat jenazah, menurut madzhab Syafii dan Hanbali pelaksanaan shalat janazah yang dilakukan lebih dari satu kali itu diperbolehkan bagi orang yang yang belum melaksanakan shalat tersebut walaupun setelah jenazah dikuburkan. Bahkan menurut madzhab Syafii dihukumi sunnah. (Abdurrahman al-Juzairi, al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba’ah, Bairut-Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet ke-2, 1424 H/2003 M, juz, 1, h. 479)

Di antara dalil yang menunjukkan kesunnahan untuk melakukan shalat janazah berkali-kali yang dilakukan oleh orang yang berbeda yang belum melakukan shalat janazah adalah sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  -- ? ? ?. Rasulullah sampai di kuburan yang masih basah kemudian shalat di atasnya, dan para sahabat membuat shaf dibelakang beliau. Lantas beliau-pun bertakbir empat kali” (H.R. Bukhari-Muslim)

Sedang dalam masalah jumlah jamaah shalat jenazah ada hadits yang menyatakan bahwa jika ada jenazah dishalati oleh empat puluh orang yang tidak mensekutukan Allah swt, niscaya Allah swt akan mengabulkan permintaan syafaat (doa) mereka untuk si mayyit.

? ? ? ? ?, ? ? ? ? ?, ? ? ? ?, ? ? ? ? -- ? ?

“Tidak ada seorang laki-laki yang meninggal dunia kemudian empat puluh orang laki-laki yang sama sekali tidak menyekutukan Allah swt menyalati jenazahnya kecuali Allah akan menerima permintaan syafaat mereka untuknya” (H.R. Muslim)

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan, semoga bisa menambah wawasan yang bermanfaat. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nasional, Fragmen Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

UIM-IPNU Sulsel Gelar Uji Coba UN di Tiga Kota

Makassar, Pondok Pesantren Tegal. Dalam rangka menyambut Ujian Nasional tahun ini, Universitas Islam Makassar (UIM) bersama Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Sulawesi Selatan malaksanakan uji coba (try out) Ujian Nasional tingkat sekolah menengah atas (SMA) dan sederajat yang ada di Kota Makassar, Maros, dan Gowa.

Kegiatan yang dijadwalkan terlaksana pada 23 Maret 2014 ini tidak memungut biaya dari peserta alias gratis. Rencananya, uji coba UN akan berlangsung di kampus Universitas Islam Makassar.

UIM-IPNU Sulsel Gelar Uji Coba UN di Tiga Kota (Sumber Gambar : Nu Online)
UIM-IPNU Sulsel Gelar Uji Coba UN di Tiga Kota (Sumber Gambar : Nu Online)

UIM-IPNU Sulsel Gelar Uji Coba UN di Tiga Kota

Selasa (18/3), panitia dari IPNU telah mengadakan pertemuan dengan Rektor UIM Dr A Majdah  M Zain, Pembantu Rektor IV UIM Dr Nur Taufiq Sanusi, dan Humas UIM. Ketua Panitia Aswad didampingi Ketua IPNU Makassar Muh Nur, dan. Pertemuan tersebut membahas persiapan panitia dan teknis pelaksanaan acara.

Pondok Pesantren Tegal

“Sosoialisasi Try Out UN di beberapa sekolah di Makassar sudah dilaksanakan. Alhamdulillah banyak sekolah yang sudah konfirmasi untuk  mengutus siswanya hadir pada kegiatan tersebut”, ungkap Aswad. Kegiatan ini merupakan latihan menjawab soal bagi siswa mematangkan persiapan dalam menghadapi Ujian Nasional nanti.

Pondok Pesantren Tegal

Rencananya, kegitan tersebut akan dihadiri Rektor Universitas Islam Makassar, Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulsel, Ketua  Tanfidziah PWNU Sulsel, dan Ketua PW IPNU Sulsel. Peserta ujian juga akan dihibur oleh grup musik “Launun”, serta hiburan-hiburan lainnya. Kegiatan ini bekerja sama dengan Bimbingan belajar JILC dan Staedtler. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nasional, Santri, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Masyarakat Dunia Maya, Puasa dan Razia

Oleh Fathoni Ahmad

Dewasa ini tidak bisa dipungkiri bahwa dunia maya, era di mana interaksi sosial terjadi melalui koneksi internet melekat kepada dua generasi sekaligus, yakni Digital Native dan Digital Immigrant. Peran dua generasi tersebut saling melengkapi ketika generasi sekarang (Digital Native) mengisi dunia maya dengan berbagai ekspresi kekinian yang kerap kali disebut alay, kemudian dinetralkan oleh generasi tua yang baru beralih ke dunia internet (Digital Immigrant) dengan postingan yang berupaya menginternalisasi nilai-nilai luhur zaman dulu, terutama melalui media sosial.

Media sosial dalam berbagai bentuk atau channel, baik Facebook, Twitter, Instagram, Path, BBM, WhatsApp, Google Plus, Youtube, dan lain sebagainya digunakan oleh Netizen (masyarakat dunia maya) untuk melakukan interaksi sosial, baik berbagi informasi atau sekadar menyampaikan keluh kesah dan kegalauan. Proses interaksi sosial lewat dunia maya ini terjadi setiap detik. Bahkan salah satu analis media sosial mencatat bahwa Indonesia termasuk negara dengan interaksi sosial tertinggi di dunia per detik dalam penggunaan dunia maya khususnya media sosial.

Lalu konten materi apa yang sering menjadi lalu lintas terpadat di dunia maya? Penulis mencatat bahwa mayoritas Netizen menyukai tulisan inspiratif dan konten keagamaan. Kurangnya pengetahuan agama dan keagamaan kerap kali membuat masyarakat dunia maya terjebak sehingga tidak jarang berdampak pada watak keras, sikap radikal, mudah menyalahkan, membatasi diri dari kehidupan sosial hingga pada titik kulminasi melalukan tindak kekerasan atas nama agama.?

Masyarakat Dunia Maya, Puasa dan Razia (Sumber Gambar : Nu Online)
Masyarakat Dunia Maya, Puasa dan Razia (Sumber Gambar : Nu Online)

Masyarakat Dunia Maya, Puasa dan Razia

Terkait dengan konten keagamaan yang terus menjadi primadona dalam kehidupan media sosial, momen Ramadhan atau bulan puasa juga dijadikan instrumen menyebarkan berbagai inspirasi keagamaan hingga wacana kontroversi berbagai hal yang berkaitan dengan puasa. Level dunia maya yang tadinya lekat (inheren) dengan religiusitas naik intensitasnya menjadi lebih religius.?

Namun demikian, kondisi inheren ini tidak dibarengi dengan koherensi, yakni usaha mewujudkan keseimbangan sosial dengan sikap saling menghormati. Seakan pemahaman agama seseorang berdiri sendiri sehingga seolah berhak melakukan tindakan semena-mena dengan dalih menghormati bulan Ramadhan seperti aksi sweeping, melarang orang berjualan di siang hari yang dapat mengganggu kekhusyuan puasa umat muslim, dan tindakan-tindakan serupa. Materi ini yang menjadi salah satu menu di dunia maya tiap momen Ramadhan tiba. Selain dialektika penetapan awal puasa dengan metode rukyat maupun hisab.

Pondok Pesantren Tegal

Soal warung buka di siang hari yang dianggap bisa membuat orang tergoda, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memberi wejangan bahwa “jika kita merasa Muslim terhormat, maka kita akan berpuasa dengan menghormati orang yang tidak berpuasa.” Puasa maupun tidak puasa merupakan pilihan setiap individu karena urusannya langsung kepada Allah. Namun, Gus Dur juga menekankan kepada setiap muslim agar tetap menyampaikan dakwah yang baik, artinya dakwah yang mengajak, bukan mengejek apalagi menginjak. Hal ini justru dapat memberikan refleksi penyadaran diri kepada setiap individu bahwa dirinya adalah seorang Muslim yang terkena kewajiban berpuasa.

Kewajiban puasa merupakan ranah agama yang dibebankan kepada setiap individu yang sudah mukallaf. Mukallaf ini bukan tidak tahu hukum jika tidak melakukan puasa, tetapi dia memilih untuk tidak berpuasa tentu dengan menanggung kewajiban tersebut. Sebab itu, harus dihormati oleh individu lain sebagai sebuah pilihan karena tanggungan orang yang tidak melakukan puasa langsung berkaitan dengan Allah. Jadi jika ada warung yang buka di siang hari, lalu dirazia oleh pemerintah dalam hal ini Satpol PP, tentu langkah seperti ini justru di luar koridor pemerintah.?

Jika berjualan di siang hari dapat menuai kesejahteraan bagi si penjual, pemerintah wajib mendukung jika mempunyai misi mewujudkan kesejahteraan rakyat, bukan malah merazia karena alasan mengganggu orang yang sedang berpuasa. Perlu dicatat, seseorang yang sungguh-sungguh berniat puasa, tidak akan tergoda sedikitpun meski warung atau restoran ramai-ramai memamerkan menu makanannya tanpa ditutup tirai.

Media sosial dan kebaikan puasa?

Pondok Pesantren Tegal

Kembali ke dunia maya, momen bulan puasa tetap harus menjadi renungan bersama terkait aktivitas di media sosial atau di berbagai channel dunia maya secara keseluruhan. Hal ini tentu mempunyai korelasi bahwa kehidupan media sosial yang mempunyai karakter liar dan anarkis karena faktor interaksi sosial tidak langsung (indirect social interaction). Interaksi jenis ini kerap menimbulkan konflik horisontal yang berdampak pada kehidupan nyata karena media sosial juga dapat menciptakan kondisi nyata dalam kehidupan setiap individu maupun kelompok.

Netizen sebagai warga dunia maya juga mempunyai peran menciptakan kondisi yang baik dan tenang di bulan puasa. Perspektif dunia maya yang dapat menciptakan inspirasi dan gerakan di dunia nyata ini dapat dijadikan ladang dakwah oleh setiap individu untuk menciptakan ketenteraman di bulan puasa. Media sosial dan dunia maya tidak sepatut dan selayaknya didominasi oleh informasi dan berbagai konten negatif secara tekstual maupun verbal. Hal ini tentu harus diwujudkan setiap hari tidak hanya pada momen bulan puasa sehingga dapat menciptakan keseimbangan sosial (social equilibrium).

Untuk dapat meniciptakan kondisi tersebut, harus ada upaya dari setiap individu sebagai subjek dunia maya untuk setia pada informasi-informasi positif. Misal dengan mengakses berbagai channel dan portal dari berbagai media, baik cetak, online, visual, dan audio visual yang menyediakan konten-konten positif untuk menciptakan keseimbangan sosial tersebut. Paradigma ini persis seperti ngaji pasaran yang dilakukan di berbagai pesantren, madrasah, majelis taklim, masjid, dan mushola. Bedanya pengakses media sosial bisa langsung membagikan informasi positif tersebut ke sesama pengguna secara viral.

Jangan dikira menciptakan kebaikan di media sosial tidak diganjar pahala, karena terbukti interkasi di dunia maya dapat menciptakan kondisi di dunia nyata. Di titik inilah kebaikan bulan puasa dapat kita wujudkan secara menyeluruh (komprehensif) di berbagai media kehidupan, termasuk di media sosial agar ibadah puasa tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga mampu menciptakan dampak (impact) positif di tengah kehidupan digital maupun natural (nyata).***

Penulis adalah Pengajar di STAINU Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal AlaNu, Nasional Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

GP Ansor Surabaya Lakukan Napak Tilas Pesantren Se-Surabaya

Surabaya, Pondok Pesantren Tegal - Sejumlah kegiatan telah disiapkan oleh GP Ansor Kota Surabaya. Kegiatan diawali dengan penyambutan rombongan Kirab Resolusi Jihad NU yang dipimpin oleh PBNU pada tanggal 15 Oktober 2016 dini hari di Makam Sunan Ampel. Setelah Shubuh mereka mengunjungi gedung HBNO (sekarang Kantor PCNU Kota Surabaya) dan Monumen Resolusi Jihad di Jalan Bubutan Surabaya.

Agenda peringatan hari santri nasional dilanjutkan dengan napak tilas ke pesantren-pesantren di Kota Surabaya. “Napak tilas pesantren ini dilaksanakan pada tanggal 17-20 Oktober,” kata Ketua Pelaksana Peringatan Hari Santri M Faridz Afif, Rabu (20/10).

GP Ansor Surabaya Lakukan Napak Tilas Pesantren Se-Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Surabaya Lakukan Napak Tilas Pesantren Se-Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Surabaya Lakukan Napak Tilas Pesantren Se-Surabaya

Pesantren yang dikunjungi antara lain Pesantren An-Najiyah Sidosermo KH Mas Yusuf Muhajir, Pesantren Nurul Huda Sencaki KH Abdurrahman Navis, Pesantren Luhur Al-Husna Wonocolo KH Ali Maschan Moesa, dan Pesantren Al-Muhibbin Asemrowo KH Mas Ali Ja’far.

Pondok Pesantren Tegal

Hari Santri Nasional yang sudah ditetapkan oleh pemerintah sejak tahun 2015 kemarin merupakan momentum bagus yang bisa digunakan para pemuda NU dalam hal ini GP Ansor yang notabene merupakan santri NU untuk menunjukkan perannya di masyarakat, bangsa, dan negara.

“GP Ansor dalam gerakannya tidak boleh terlepas dari apa yang dibutuhkan masyarakat nahdliyyin, bangsa dan negara. Tentunya harus tetap taat patuh pula kepada ulama dan NU,” tutur Wakil Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdurrahman Navis dalam kegiatan tersebut.

Pondok Pesantren Tegal

Ketua GP Ansor Kota Surabaya M Asrori Muslich menjelaskan, napak tilas pesantren ini selain bertujuan untuk silaturahmi kepada para ulama dan konsolidasi organisasi dengan pimpinan anak cabang juga memberikan makna bahwa pesantren menjadi ujung tombak terwujudnya masyarakat yang bertakwa, berilmu, dan berakhlakul karimah khususnya para pemuda di kota Surabaya.

“GP Ansor adalah Santri NU. Santri dalam setiap gerakannya harus selalu berbuat mencerahkan dan manfaat untuk orang lain,” kata Asrori Muslich. (M Mundir/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nasional, Tegal, Sejarah Pondok Pesantren Tegal

Senin, 15 Januari 2018

19 Grup Ramaikan Festival Hadrah Tingkat Provinsi DIY

Yogyakarta, Pondok Pesantren Tegal. Dalam rangka memperingati hari ulang tahun yang ke-17, Pondok Pesantren Luqmaniyah Yogyakarta menggelar acara Festival Hadrah Tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di halaman pesantren, Jumat (10/2).?

Festival hadrah se-DIY yang dimulai sejak pukul 14.00 WIB tersebut menghadirkan tiga dewan juri, yakni Ustadz Ahmad Roni juri vokal, Ustadz Anas Fahrudin juri adab, dan Ustadz Yazid Bustomi juri pakaian.?

19 Grup Ramaikan Festival Hadrah Tingkat Provinsi DIY (Sumber Gambar : Nu Online)
19 Grup Ramaikan Festival Hadrah Tingkat Provinsi DIY (Sumber Gambar : Nu Online)

19 Grup Ramaikan Festival Hadrah Tingkat Provinsi DIY

Pengasuh Pondok Pesantren Luqmaniyah Yogyakarta, KH Naimul Wain dalam sambutannya mengatakan bahwa festival tersebut diadakan untuk menjalin ukhuwah antar-pesantren.?

“Syukur-syukur, bukan hanya ukhuwah pesantren, bukan hanya saling kenal tapi juga bisa ada tindak lanjutnya. Awalnya kenal, tapi akhirnya ada tindak lanjutnya,” ujar Kiai Naim yang disambut sorak-sorai para santri putra dan putri.?

Selain itu, lanjut Kiai Naim, acara ini merupakan upaya kita untuk membangun muhibbin, cinta kepada Rasulullah SAW.

Pondok Pesantren Tegal

“Semakin aktif kita menyelenggarakan acara seperti ini, akan bermunculan para pecinta-pecinta yang mengagungkan cinta kepada Allah SWT, dan Rasulullah SAW,” tegas Kiai Naim yang merupakan suami dari Nyai Hj Siti Chamnah.?

Pondok Pesantren Tegal

Acara festival hadroh tersebut diramaikan oleh 19 grup hadroh dari berbagai pesantren, kampus, sekolah dan majelis taklim yang ada di DIY.?

19 grup hadroh yang ikut di antaranya adalah Ihwanul Qolbi, Azkiyya (Pesantren Nurul Ummah), Fi Hubbil Jalil (Majelis Ta’lim Al-Hidayah, Prambanan), Kasyiful Quroob (MAN 1 Yogyakarta), Al-Jauhar (Pesantren Al-Jauhar Gunung Kidul), Sunan Pandanaran Pi & Sunan Pandanaran Pa (MTs Sunan Pandanaran), al-Mahalli Junior & al-Mahalli Senior (Pesantren al-Mahalli, Bantul).

Taufiqurrahman, As-Sa’adah (Jamaah Masjid Anas bin Malik Sleman), Darul Muslihin (Pesantren Darul Muslihin, Bantul), El-Tsuroyya (Pesantren Muntasyirul Ulum), Darul Adzkiyya’ (MTsN 1 Yogyakarta), Nurani Insani (Pesantren Nurani Insani, Gamping), Tsamrotul Muna (Pesantren al-Munawwir Komplek Q), Syauqol Mujtaba (Pesantren an-Nur Ngrukem), Alba Nada (Pesantren al-Barakah), Al-Layyinah (UIN Sunan Kalijaga). (Nur Rokhim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nasional Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Pesantren dan Pengembangan Masyarakat

Oleh KH MA Sahal Mahfudh. Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan lembaga sosial keagamaan yang pengasuhnya juga menjadi pemimpin umat dan menjadi sumber rujukan umat dalam memberikan legitimasi terhadap tindakan warganya, sudah barang tentu mempunyai dasar pijakan yang bersifat keagamaan dalam melakukan tindakannya, terutama jika itu dianggap baru" oleh masyarakatnya. Hal tersebut, karena watak pimpinan keagamaan dan masyarakat pendukungnya yang fiqih oriented selalu meletakkan kegiatan yang dilakukan dalam pola hitam-putih atau salah-benar menuntut hukum Islam.

Salah satu kegiatan yang dianggap baru menurut kalangan masyarakat pesantren adalah pengembangan masyarakat, setidaknya kalau dilihat secara kultural dari misi utama pesatren, serta porsi kegiatannya secara global, dalam bidang pendidikan. Sedangkan pengembangan masyarakat, meskipun selama ini sudah dilakukan, hanya bersifat sporadis. Kegiatan pengembangan masyarakat belum dilakukan pesantren secara kelembagaan, di samping tanpa disertai visi yang jelas, serta perangkat pendukungnya yang memadai.

Sementara itu pengembangan masyarakat yang bermuara pada peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat dengan pendekatan kebutuhan dan permasalahan masyarakat sebagai subyek atau obyek, sedangkan kebutuhan masyarakat itu selalu berkembang dan permasalahan masyarakat pun hampir tidak pernah absen di semua lapisan masyarakat, baik secara moril mau pun materiil, maka sesungguhnya pengembangan masyarakat akan selalu mendapat tempat sepanjang masa di masyarakat mana pun, baik kota mau pun desa, yang masih bersifat agararis mau pun masyarakat industri.

Pesantren dan Pengembangan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dan Pengembangan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dan Pengembangan Masyarakat

Namun kalau pesantren ingin berhasil dalam melakukan pengembangan masyarakat yang salah satu dimensinya adalah pengembangan semua sumber daya, maka pesantren harus melengkapi dirinya dengan tenaga yang terampil mengelola sumber daya. yang ada di lingkungannya, di samping syarat lain yang diperlukan untuk berhasilnya pengembangan masyarakat. Sudah barang tentu, pesantren harus tetap menjaga potensinya sebagai lembaga pendidikan.

Pesantren yang mampu mengembangkan dua potensinya, yaitu potensi pendidikan dan potensi kemasyarakatan, bisa diharapkan melahirkan ulama yang tidak saja dalam ilmu pengetahuan keagamaannya, luas wawasan pengetahuan dan cakrawala pemikirannya, tetapi juga mampu memenuhi tuntutan zamannya dalam rangka pemecahan persoalan kemasyarakatan.

Pondok Pesantren Tegal

***

Untuk meletakkan pengembangan masyarakat atau pembangunan dalam dimensi agama, terlebih dulu perlu dilihat kaitan kewajiban seorang muslim yang telah siap menerima amanat atau tanggung jawab dari Allah SWT. Untuk itu di samping memberi ajaran yang tertuang dalam bentuk Al-Qur’an dan Hadits sebagai pedoman hidup, Allah menciptakan manusia terdiri atas lima komponen(1): (1). Jasad, (2). Akal, (3). Perasaan, (4). Nafsu, (5). Ruh.

Pondok Pesantren Tegal

Dari terkumpulnya lima komponen itu, manusia mempunyai dua potensi atau kemampuan, yaitu pertama kemampuan fisik (quwwah amaliyah) atau kemampuan untuk melakukan kerja, yang kedua, kemampuan berpikir (quwwah nadhariyah). Kemampuan berpikir ini sehat, bila akal, perasaan dan nafsu berjalan sekaligus. Berpikir tanpa menggunakan akal akan menjadikan seseorang emosi. Maka atas dasar kemampuan yang diberikan oleh Allah di atas, manusia mempunyai tanggung jawab melaksanakan peritahNya dan meninggalkan laranganNya secara simultan.

Mahmud Syaltut melihat bahwa ajaran Islam itu pada dasarnya dibagi dua komponen pokok, yaitu aqidah dan syari’ah.(2) Dalam menghampiri masalah ‘aqidah yang menyangkut aspek kepercayaan manusia banyak dituntut menggunakan kemampuan berpikir. Dalam menghampiri masalah syanah yang menyangkut aspek perilaku, manusia dituntut banyak menggunakan kemampuan fisik.

Dari aspek syariah yang mengatur hubungan manusia inilah pada dasarnya lahir taklif, yang mesti dilakukan manusia dalam menjalin hubungan dengan empat macam sasaran terjadinya proses pembangunan atau pengembangan masyarakat. Empat macam sasaran dimaksud tidak bisa diabaikan dan dipisahkan salah satu dari yang lainnya, sebab dengan mengabaikannya akan terjadi ketidakseimbangan kehidupan seseorang. Atau dengan ungkapan lain, kehidupan seseorang yang mengabaikan salah satu hubungan dari empat macam sasaran tersebut tidak akan mencapai hasanah di dalam kehidupan dunia kini atau hasanah di dalam kehidupan akhirat kelak, di mana keduanya menjadi tujuan akhir kehidupan seseorang beragama.

Adalah tidak mungkin mengetengahkan semua dasar-dasar agama yang menjadi pangkal tolak para tokoh Islam, khususnya para pengasuh pesantren dalam melakukan kegiatan pengembangan masyarakat baik yang bersumber dari nash-nash Al-Qur’an, Hadits, mau pun Atsar (pendapat, atau perilaku para sahabat Nabi). Sesuai dengan alur pemikiran yang membagi syariah kepada empat macam hubungan manusia, maka ada baiknya di sini diketengahkan dasar-dasar keagamaan dengan empat pola hubungan yang mendorong para pengasuh pesantren (setidaknya kami sendiri) untuk melakukan pengembangan masyarakat.

***

Seperti dijelaskan di atas bahwa aspek syariah merupakan perwujudan dari aspek aqidah. Dengan kata lain, sebagai orang yang percaya kepada Allah, ia harus melakukan perintahNya dan menjauhkan laranganNya. Aturan mengenai "perintah dan larangan" yang mendasari hubungan manusia dengan Allah, disebut ‘ibadah, yaitu upaya seseorang dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Ibadah ini ada dua macam, pertama, ibadah yang bersifat qoshirah, yaitu ibadah yang manfaatnya kembali kepada pribadinya sendiri. Kedua, ibadah mutaaddiyah yang bersifat sosial. Ibadah sosial ini manfaatnya menitikberatkan pada kepentingan umum. Dalam kaidah fiqih(3) disebutkan: Ibadah yang bermanfaat kepada orang lain lebih utama daripada ibadah yang manfaatnya hanya kepada diri sendiri".

Akan tetapi dalam hal ini tidak bisa diartikan, lebih baik beribadah yang mutaaddiyah saja, dan ibadah yang qashirah kita tinggalkan. Kecuali apabila terjadi keadaan yang dilematis (taarudl) antara ibadah qoshirah dan ibadah mutaaddiyah diutamakan untuk memilih mutaaddiyah sepanjang yang qashirah tidak berupa fardlu ain. Dalam kaitan ini pula perlu diketengahkan bahwa pada dasarnya setiap manusia adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban (di hadapan Allah) seperti disampaikan Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits(4), yang artinya: "Kamu semua adalah penanggung jawab, dan akan dimintai pertanggunjawaban atas yang dipercayakan padamu". Sudah barang tentu setiap pemimpin diharapkan melakukan tanggung jawab sebaik-baiknya, sehingga orang yang dipimpin, orang yang diasuh, bisa menikmati kehidupan, menikmati kemerdekaan dan sebagainya.

Hadits di atas juga berkaitan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an yang mengatakan bahwa, Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi dengan firmanNya yang artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat; Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi, orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman, "Sesungguhya Aku mengetahui yang tidak kamu ketahui".

Dari sini bisa dipahami, bahwa tugas kekhalifahan manusia di bumi ini sebenarnya agar manusia berbuat baik di atas bumi tidak merusak, baik merusak kehidupan, lingkungan atau tatanan yang ada. Dengan demikian sebenamya kuatlah dasar dan motivasi pengasuh pesantren untuk melakukan kerja membangun, baik untuk dirinya sendiri, keluarganya mau pun masyarakat. Sebab agama memberi wahana ibadah yang bersifat individual, di samping wahana ibadah yang bersifat sosial. Dan keduanya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah untuk mencari ridlaNya dalam arti melakukan tanggung jawab di hadapanNya.

***

Islam mengatur hubungan antar manusia, baik antar muslim dengan muslim, atau muslim dengan non-muslim. Apakah antara kedua belah pihak ada hubungan kekerabatan persaudaraan, atau hubungan sosial. Dengan demikian satu sama lain saling mengakui keberadaannya. Nabi memberikan dorongan perlunya memperhatikan damemecahkan masalah yang menimpa umat Islam, sebagai berikut: “Barang siapa yang tidak memperhatikan urusan umat Islam, tidak termasuk golongan mereka".(5)

Lebih lanjut untuk memberi gambaran betapa perlunya pemimpin umat agar selalu memperhatikan nasib dan kehidupan kaum dluafa, ada baiknya diketengahkan surat Khalifah Umar Ibn Khattab RA kepada Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, “Hendaknya engkau takut, jangan sampai menjauhi masyarakat, dan dekati mereka yang dla’if bahkan mereka yang di bawahnya, dan berilah mereka kesempatan untuk menyampaikan pendapat, sehingga luaslah kesempatan mereka untuk berbicara, kenalilah orang asing karena apabila mereka ditekan, lemahlah pemikirannya dan meninggalkan haknya".(6) Surat ini memberikan kesan agar para pemimpin umat selalu memikirkan keadaan masyarakat, mengetahui keadaan mereka, memberi kesempatan mereka untuk menyampaikan pendapat, agar dengan demikian terbuka pula kesempatan untuk pengembangan diri mereka dan pengembangan potensi manusiawinya.

Kalau melihat permasalahan orang desa di sekitar pesantren, yang pada umumnya pesantren berada di daerah pedesaan, banyak masyarakat desa dililit oleh permasalahan yang kompleks, seperti pendapatan rendah, ketidakmampuan membiayai pendidikan anak, ketidakberdayaan mereka untuk mendapatkan hak-hak yang asasi, lebih-lebih kalau mereka berhadapan dengan kekuatan yang lebih besar seperti kekuatan negara, mereka tak berdaya. Hanya saja karena penduduk desa ini sudah terbiasa dengan serba kesulitan, maka masalah yang mereka derita tidak dirasakan sebagai masalah, padahal orang lain melihatnya sebagai masalah serius yang perlu segera diatasi. Di sinilah kewajiban para pengasuh pesantren sebagai pemimpin umat untuk memperhatikan permasalahan umat tersebut.

***

Pada prinsipnya manusia diberi kebebasan berpikir tentang alam, di samping memanfaatkannya untuk diri sendiri atau kepentingan bersama. Bahkan dalam al-Qur’an surat Huud ayat 61, Allah berfirman, “Dia (Allah) telah menciptakan kalian dari tanah dan menuntut kalian membangun (memakmurkan) di atasnya". Setidaknya dari ayat yang diperintahkan Allah di atas, memberi himbauan kepada hambaNya, untuk meramaikan bumi atau membangun di atas bumi ini. Jelas perintah di sini adalah untuk berbuat baik, bukan sebaliknya, untuk melakukan kerusakan seperti yang dikhawatirkan para malaikat dalam dialognya dengan Allah dalam menanggapi proses awal penciptaan manusia.

Kewajiban membangun di atas bumi yang berwajah duniawi ini tentu perlu dilengkapi ilmu-ilmu pengetahuan dan keterampilan pendukungnya. Sebab, banyak Hadits Nabi yang mengacu pada hal ini, misalnya; “Barang siapa yang menghendaki dunia, maka ia harus menguasai ilmunya, dan barang siapa yang menghendaki akhirat maka ia harus menguasai ilmunya, dan barang siapa yang menginginkan keduanya, maka ia harus juga menguasai ilmunya."(7)

Banyak persoalan yang menyangkut apa dan bagaimana hubungan manusia dengan alam semesta ini. Di balik perintah memanfaatkan alam, manusia juga dilarang memanfaatkannya secara berlebihan. Apalagi pada saat sekarang ini, perlu disebarluaskan isu tentang lingkungan, misalnya bahaya radiasi nuklir, sehingga orang mempunyai kesadaran dan berperilaku shalih, yang menyangkut kelestarian, kebersihan dan kesehatan lingkungan -suatu kesadaran yang bertumpu pada ajaran agama.

Banyak petunjuk agama yang mengisyaratkan perlunya menjaga keseimbangan kehidupan yang berwajah duniawi dan ukhrawi; yang artinya tidak harus mementingkan hidup dan kehidupan yang berwajah ukhrawi saja, lalu meninggalkan kehidupan yang duniawi. Sebab manusia hidup di dunia tentu membutuhkan apa saja yang bersifat duniawi dan kalau kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka manusia yang bersangkutan tidak bisa melakukan aktivitas yang bersifat ukhrawi dengan baik.

Sebaliknya seseorang pun tidak boleh mementingkan kehidupan yang berwajah duniawi lalu meninggalkan kehidupan ukhrawi. Orang yang demikian, hidupnya menjadi keras dan panas, terutama sisi ruhaniahnya. Orang yang mementingkan kehidupan duniawinya saja belum tentu bahagia dalam arti sesungguhnya. Sebab kebahagiaan yang ia capai hanya dari segi lahiriah, sedangkan yang dari sisi batiniah ia tidak bisa menikmati.

Untuk mengisi kehidupan yang seimbang antara duniawi dan ukhrawi itu, Allah memberi kewajiban-kewajiban yang mesti dilakukan manusia yang bersifat ukhrawi seperti tercemin dalam rukun Islam, di samping memberi kesempatan bahkan kewajiban untuk melakukan usaha yang berwajah duniawi seperti pengaturan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kehidupan Nabi, kecuali sebagai pemimpin kehidupan keagamaan, juga sebagai pemimpin kehidupan masyarakat, telah menjadi petunjuk untuk itu. Secara individual, Islam juga memerintahkan berusaha untuk mencukupi kehidupan ekonomi. Kata Nabi, "Apabila kamu telah selesai melakukan shalat fajar (subuh) maka jangan terus tidur lalu tidak berusaha mencari rezeki".(8) Secara ekstrem Khalifah Umar Ibn Khattab ra. berkata, "Jangan sekali-kali engkau duduk saja meninggalkan usaha mencari rezeki sembari berdoa: Ya Allah, berilah kami rezeki", padahal eugkau mengetahui bahwa sesungguhnya langit itu tidak akan pernah memberi hujan emas dan perak".(9) Bahkan Islam melarang menganggur, seperti disampaikan oleh sebuah hadits Nabi, "Orang yang paling berat siksanya di hari kiamat, adalah orang yang dicukupi rezekinva tetapi ia menganggur".(10)

***

Kalau dilihat dari sejarah munculnya pesantren dan penerapan ajaran aqidah dan syariah pada masyarakat pendukungnya, tidaklah berlebihan apabila disebut, pesantren itu merupakan kesatuan dalam keragaman. Kesatuan dalam pemihakannya dalam Islam Sunni, kesatuan dalam misinya yaitu menyampaikan dakwah dan pesan keagamaan kepada masyarakatnya di samping lembaga yang menekuni tafaqquh fiddin. Namun pesantren beragam dalam cara, metoda, taktik dan strategi untuk melakukan dakwahnya. Bahkan dalam satu sisi dakwahnya sekalipun, seperti yang tercermin dalam pola pendidikannya.

Persoalan yang terakhir dapat dimengerti, karena dipengaruhi oleh pendiri pesantren dan masyarakat pendukungnya, atau salah satu dari dua faktor tersebut. Kedua faktor itu berkaitan dengan tantangan yang ada dan jawaban yang muncul. Bahkan hubungan saling mempengaruhi ini terus berlangsung pada periode pengasuh pengganti. Hanya saja pesantren itu sebenarnya sangat tergantung kepada pengasuh sebagai elemen yang paling esensial dan pemegang otoritas di pesantren.(11) Karena itu pula, arah, taktik, strategi, sistem dan organisasi pendidikan dalam pesantren sangat dipengaruhi oleh pengasuhnya.

Dalam kaitannya dengan upaya pengembangan masyarakat yang merupakan peningkatan peran pesantren ini,(12) respon para pengasuh pesantren pun menjadi beragam. Meskipun sebenarnya banyak nash al-Quran, Hadis atau Atsar para sahabat Nabi yang memberikan dorongan untuk melakukan usaha pembangunan kemasyarakatan seperti sudah dijelaskan pada permulaan tulisan ini. Memang ajaran tersebut tidak merupakan sesuatu yang baru, tetapi karena usaha pembangunan itu dianggap kegiatan baru, maka respon para pengasuh menjadi beragam.(13)

Sekali lagi hal tersebut tergantung kepada wawasan dan visi pengasuh pesantren tentang pengembangan masyarakat. Sebagai contoh dalam kasus ini, pada tahun 1984 BPPM Maslakul Huda Kajen, Pati bekerjasama dengan P3M mengajak 12 pesantren di Jawa Tengah, ternyata 3 dari jumlah itu (25 persen) tidak dapat menerima kegiatan pengembangan masyarakat dengan alasan yang tidak sama. Pada umumnya, alasan mereka tidak bisa melaksanakan kegiatan pengembangan masyarakat, karena misi pesantren adalah tafaqquh fiddin. Perluasan kegiatan di bidang kemasyarakatan selain dianggap asing, juga dikhawatirkan terabaikannya fungsi utama tersebut. Jadi antara tafaqquh fiddin dan pengembangan masyarakat belum dilihat kaitannya yang esensial, akibat dan belum lengkapnya informasi yang mereka terima tentang apa, bagaimana, mengapa pengembangan masyarakat itu, di samping belum banyaknya contoh kongkrit wujud pesantren yang melaksanakan pengembangan masyarakat.

Untuk menyebarkan ide, makna dan tujuan pengembangan masyarakat, barangkali lebih baik dkan dengan berkomunikasi secara lisan dengan para pengasuh pesantren. Dalam hal ini komunikasi tulis apakah lewat surat menyurat, penyebaran majalah atau buletin yang mempunyai pesan pengembangan masyarakat tidak cukup, mengingat budaya yang berkembang di pesantren masih kuat melalui komunikasi lisan.

***

Di banyak negara berkembang, strategi pembangunan yang mengutamakan pembangunan ekonomi dengan mengejar peningkatan pendapatan perkapita belaka, tidak bisa menyelesaikan masalah kemiskinan, pengangguran, kesenjangan antara kaya-miskin, antara sektor desa-kota; kecuali bila strategi tersebut dilengkapi dengan strategi yang mengarah pada pemerataan hasil pembangunan dan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat.(14)

Demikian pula kasus Indonesia, lebih-lebih pada dasawarsa delapan puluhan ini, di mana ekonomi Indonesia dilanda resesi, di samping masih dipengaruhi oleh berkurangnya penerimaan pendapatan negara dari sektor minyak. Maka dengan strategi yang kedua, (pemenuhan kebutuhan pokok) dirasa agak bisa mengurangi masalah kemiskinan, kesenjangan pendapatan dan pengangguran yang masih banyak dirasakan oleh sebagian besar penduduk Indonesia.

Namun sekali lagi, satu hal yang perlu diperhatikan adalah jumlah penduduk yang berkekurangan sangat besar, tersebar di beberapa daerah pedesaan, dengan adat istiadat yang tidak sama, serta permasalahan yang bermacam-macam, sehingga dalam kondisi yang demikian tidak dapat diterapkan kebijaksanaan sentral atau pendekatan teknokratis -meminjam istilah Ismed Hadad- yang hanya mengejar target, baik target waktu mau pun hasil riil. Sebab kondisi alam, dan budaya masyarakat satu daerah dengan yang lain sangat berbeda.

Dalam kondisi demikian lebih tepat apabila dilakukan pendekatan yang mengajak peran serta (partisipasi) masyarakat dalam proses pembangunan. Pendekatan ini harus dilakukan sejak awal melihat permasalahan mereka sendiri, merencanakan kegiatan yang dipilih dalam mengatasi permasalahan, melakukan kegiatannya dan mengevaluasi hasil kerja yang dilakukan.

Dengan demikian semua proses kegiatan akan disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di masyarakat. Masyarakat tidak saja menjadi obyek, tetapi menjadi subyek pembangunan yang pada sisi lain akan mengembangkan keswadayaan dan sumber daya yang ada di sekitar mereka.

Tidak dapat dielakkan memang, strategi pemenuhan kebutuhan pokok yang membutuhkan peran-serta memerlukan waktu, di samping itu fasilitas pemandu, baik orang-perorang atau lembaga yang dapat berperan sebagai motivator, fasilitator untuk memunculkan atau mengembangkan peran-serta, atau swadaya masyarakat. Sebab pada dasarnya strategi pendekatan ini intinya usaha penyadaran masyarakat agar mereka bisa mengembangkan sumber daya yang ada pada diri mereka, lingkungan dan alam sekitar.

Di sinilah pesantren dengan potensi sosial keagamaannya bisa melakukan peran sebagai lembaga pengembangan swadaya masyarakat, terutama melalui nilai-nilai keagamaan seperti kemandirian, keadilan, kerja sama dan sebagainya. Mengingat kebutuhan masyarakat itu selalu ada dan bahkan selalu berkembang, maka apabila pesantren bisa melakukan peran sebagai lembaga swadaya masyarakat, ia akan selalu mendapat tempat di masyarakat, bahkan bisa lebih mengembangkan potensi kemasyarakatan.

Selanjutnya bagi pesantren diperlukan syarat yang mendukungnya, antara lain: 1) Wawasan yang benar dari pengasuh pesantren tentang pengembangan masyarakat, di samping kepekaannya terhadap permasalahan yang berkembang, baik yang menyangkut sosial, politik, ekonomi, budaya dan sebagainya, dan 2) Tersedianya tenaga dari kalangan pesantren yang menjadi motivator pembangunan masyarakat dan yang mampu menjadi manager of resources yang ada di sekitarnya.

Sudah barang tentu apabila pesantren melakukan peran pengembangan swadaya masyarakat sebagai upaya untuk mengikuti petubahan sosial yang ada, ia tetap harus menjaga kelestarian fungsinya sebagai lembaga pendidikan dan keilmuan.

***

Dalam suatu makalah berjudul Pengaruh Pendidikan Agama Terhadap Kegiatan Sosial, Soedjatmoko (15) memberi kesimpulan, pendidikan agama akan dapat memenuhi suatu fungsi yang sangat penting dalam perkembangan sosial yang ada di Indonesia. 1). Berusaha memupuk beberapa sifat tertentu, di antaranya keberanian hidup, bersedia mandiri dan berinisiatif, peka terhadap hak dan keperluan manusia, sanggup kerjasama untuk kepentingan umum, di dalam proses perubahan sosial terus menerus, tanpa ketakutan akan perubahan itu sendiri. 2). Berusaha merangsang anak didik untuk mengamalkan ilmu mereka. 3). Berusaha memupuk motivasi yang kuat pada anak didik untuk mempelajari dan memahami kenyataan sosial yang terdapat di masyarakat. 4). Berusaha untuk berintegrasi dan bersinkronisasi dengan pendidikan non-agama.

Dari uraian terdahulu tulisan ini dan kesimpulan Soedjatmoko di atas dapat ditarik benang merah, pesantren yang melakukan pengembangan masyarakat punya prospek sebagai berikut:

1). Pesantren akan selalu dapat mengikuti perkembangan sosial, sebab dari segi visi, orientasi dan programnya ada pemihakan untuk mengembangkan masyarakat sekitarnya. Implikasi dari kepeduliannya terhadap permasalahan masyarakat ini, pesantren akan dapat memberi arah perkembangan masyarakat dari aspek sosial, budaya, politik dan ekonomi yang ditindaklanjuti dengan kerja nyata dalam rangka pemecahan permasalahan yang ditentukan di masyarakat. Sehingga kalau ada permasalahan yang menyimpang dari tujuan serta nilai dan ajaran yang dikembangkan, pesantren tidak saja memberikan keputusan halal-haram, tetapi melihat permasalahan lebih dahulu dan mencarikan jalan keluar, sehingga masyarakat tidak terperangkap dalam kegelapan dan keharaman terus.

2). Pesantren yang bersangkutan mempunyai laboatorium sosial, yaitu adanya kelompok-kelompok swadaya yang difasilitasi pesantren. Baik kelompok dalam bidang ekonomi seperti kelompok pedagang kecil, perajin; mau pun kelompok di bidang sosial seperti kelompok taman gizi, kelompok pemakai air, kelompok kesehatan, kelompok belajar, kelompok wanita produktif dan sebagainya.

Sejalan dengan dinamika masyarakat, kelompok swadaya ini tidak bisa berhenti, harus selalu mempunyai inisiatif untuk pengembangan kelompok mereka, baik dari segi jumlah anggota, kualitas, pelayanan, mau pun perluasan sasaran. Dan karena kelompok swadaya diprakarsai dan difasilitasi oleh pesantren, maka kelompok itu akan melakukan komunikasi dengan pesantren secara timbal balik. Proses interaksi ini tentu mempengaruhi wawasan santri, terutama para santri senior yang sudah mempunyai pemikiran tentang masalah-masalah sosial.

Pengembangan masyarakat yang menjadi wahana laboratorium sosial ini selanjutnya akan menjadi bahan untuk tambahan khazanah ilmu pengetahuan santri yang pada gilirannya akan menambah wawasan pemikiran, sehingga menambah kepekaan mereka terhadap masalah-masalah sosial. Di sinilah perlunya bagi perpustakaan pesantren sekarang ini untuk melengkapi bahan bacaan non-kitab, apakah buku-buku keterampilan, ilmu-ilmu sosial, majalah, koran dan lain-lain. Dengan demikian ada media bagi para santri untuk melengkapi ilmu pengetahuannya, tidak saja dalam ilmu agama, tapi juga ilmu non-agama, sehingga terjadilah proses interaksi antara keduanya.

Untuk menutup tulisan ini ada baiknya kita perhatikan identitas ulama menurut Imam Ghazali seperti yang terekam dalam Ihya Ulumuddin, "Setiap ulama adalah orang yang abid (ahli ibadah); zuhud, mengerti ilmu-ilmu akhirat; pengetahuannya diabdikan untuk Allah; peka, jeli dan paham benar akan kemaslahatan makhluk".

Dari ciri yang terakhir jelas sekali, apa yang seharusnya dilakukan oleh para ulama pengasuh pesantren dalam rangka membina umat. Bukan saja membina dalam kehidupan beragama, tapi juga kehidupan sosial ekonomi, serta membina kehidupan berbangsa dan bernegara.

***

Catatan Kaki:

Sahal Mahfudh, Makalah Tenaga Pengembangan Masyarakat, 1984 (tidak dipublikasikan) hal. 63 Mahmud Syaltut, Al-Islam Aqidah wa Syariah, Dar al-Qalam, cetakan ketiga, hal. 12 Imam Suyuti, Mawahib al-Saniah, Muhammad Ibn Ahmad Ibn Nabhan, Surabaya, hal. 237 Muhyiddin al-Nawawi, Riyadl al-Sholihin,hal. 142 Muhammad Athiyah al-Ibrasyi, Ruh al-Islam, Daru Ihya’i Kutubi al-Arabiyyah, tanpa tahun, cetakan kedua, hal. 220 Ibid Ibid, hal. 336 Jami’ al-Shaghir, juz I hal. 30 Al-Ibrasyi, Op. Cit., hal. 311 Ibid., hal. 312 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, LP3ES, hal. 55. Profil Pesantren, LP3ES. hal. 112 Profil Pesantren, LP3ES, hal. 112 Ibid, hal. 79-80 Ismed Hadad, Pembangunan Swadaya Masyarakat, dalam Prisma, April 1983 hal. 5-7 Soedjatmoko, Pengaruh Pendidikan Agama Terhadap Kehidupan Sosial, dalam Etika Pembangunan, LP3ES, hal. 274~275  

*) Tulisan ini pernah dimuat di Pesantren No: 2/Vol. IV/1987 dengan judul Pengembangan Masyarakat oleh Pesantren: Antara fungsi dan Tantangan. Juga bisa ditemukan di buku KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pahlawan, Kiai, Nasional Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Bupati dan Wakil Bupati Kompak Foto Kartanu

Jombang, Pondok Pesantren Tegal. Warga NU Kota Santri patut berbangga memiliki Bupati Suyanto dan Wabup Widjono Soeparno. Sebab keduanya tak segan turut menyukseskan program-program ormas Islam terbesar itu. Termasuk program pembuatan kartu tanda anggota NU (Kartanu) yang diluncurkan di Jombang sejak 10 Maret lalu.

Rabu (10/4) kemarin, keduanya melakukan pemotretan Kartanu di komplek pendopo kabupaten. 

Bupati dan Wakil Bupati Kompak Foto Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati dan Wakil Bupati Kompak Foto Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati dan Wakil Bupati Kompak Foto Kartanu

"Saat masih aktif sebagai pengurus MWCNU Bareng, saya dulu juga ikut menggerakkan Kartanu. Saya malah masih ingat kalau waktunya pemotretan di suatu kampung mesti dilakukan ledang lebih dulu. Diworo-woro menggunakan mobil kalau hari itu warga diharap berkumpul di rumah si A untuk pemotretan Kartanu. Tak ada salahnya kalau cara-cara seperti itu digunakan lagi sekarang,’’ kata Bupati Suyanto.

Pondok Pesantren Tegal

Wabup Widjono Soeparno sendiri mengaku bangga memiliki Kartanu. ’’Apapun program NU pasti kita dukung. Apalagi Kartanu ini sangat banyak manfaatnya. Selain untuk pendataan, ini juga menunjukkan ketaatan kita pada para kiai dan guru-guru kita di NU,’’ tegas adik kandung mantan Gubernur Jatim, Imam Utomo ini. 

Pondok Pesantren Tegal

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Rojiful Mamduh

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Bahtsul Masail, Anti Hoax, Nasional Pondok Pesantren Tegal

Drama “Posong” Al-Mizan Pentas di HUT Majalengka

Majalengka, Pondok Pesantren Tegal. Drama Posong dari SMA Islam Al Mizan diundang pentas di acara Hari Ulang Tahun (HUT) Majalengka ke-524 pada di kecamatan Jatiwangi, Majalengka Rabu, (4/6). Drama tersebut, sebelumnya, dinobatkan juara ketiga pada festival drama di kabupaten tersebut.

Wakil Kepala Bidang Kesiswaan Al-Mizan, Siti Maryam, bangga atas undangan tersebut karena dari sekian HUT Majalengka balu kali ini ada kesempatan.

Drama “Posong” Al-Mizan Pentas di HUT Majalengka (Sumber Gambar : Nu Online)
Drama “Posong” Al-Mizan Pentas di HUT Majalengka (Sumber Gambar : Nu Online)

Drama “Posong” Al-Mizan Pentas di HUT Majalengka

“Kami segenap tim drama dalam kesempatan ini akan mementaskan Posong karya Oom Samara De Uci. Kami akan all out dan menyukseskan acara tersebut. Dan kami akan bekerja maksimal agar penonton tidak kecewa,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Tegal

Lanjut Maryam, Posong menceritakan sebuah alat mendapatkan ikan yang sudah ditinggalkan. Para penangkap ikan sudah banyak menngunakan zat kimia, pukat harimau.

Pondok Pesantren Tegal

Para pemain drama terdiri dari Irene, Handini, Sri Nadia, Ulfa, Ali danUdin. “Meraka semuanya kelasXI,” katanya.

Sementaraitu, Kepala Sekolah SMA Islam Al Mizan, Zaenal Muhyidin, juga mengapresiasi diundangnya SMA menjadi salah satu mengisi acara.

“Kami belum bisa memberikan apa-apa ke Majalengka, kami baru bisa memberikan hasil kerja anak-anak pentas. Perhatian panitia HUT Majalengka menjadi motivasi buat adik-adik kelas yang lainnya,” tandasnya. (Tata Irawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Quote, Nasional Pondok Pesantren Tegal

Aktivis Pendidikan NU Diharap Tingkatkan Soliditas

Jombang, Pondok Pesantren Tegal

Ketua Pengurus Wilayah (PW) LP Ma’arif NU Jawa Timur Abdul Haris mengungkapkan bahwa aktivis pendidikan, khusussnya di lingkungan NU, hendaknya terus mengoptimalkan kinerjanya demi mencapai tujuan pendidikan yang sempurna, yakni mencedaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Aktivis Pendidikan NU Diharap Tingkatkan Soliditas (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktivis Pendidikan NU Diharap Tingkatkan Soliditas (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktivis Pendidikan NU Diharap Tingkatkan Soliditas

“Keharmonisan demikian harus terus menerus kita pelihara demi menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah dan keutuhan NKRI,” katanya di hadapan para kepala madrasah yang bergabung dalam panitia Ujian Akhir Madrasah Nahdhatul Ulama (UAMNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Panitia UAMNU dikukuhkan layaknya panitia Ujian Nasional, Sabtu siang (12/3) di aula Darul Hikmah Kantor Kementerian Agama setempat. Pengukuhan dimaksudkan untuk membangun kepercayaan panitia dalam melaksanakan UAMNU yang berkualitas. Di samping itu juga meningkatkan kesolidan antarsekolah yang ada di bawah naungan Pengurus Cabang (PC) Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Jombang.

Sementara Ketua PCNU Jombang KH Isrofil Amar optimis soliditas antarmadrasah dan PC LP Ma’arif NU akan menghasilkan produk sistem yang bisa menyokong terhadap tujuan pendidikan. Dan bisa membentengi dari paham yang menyimpang dengan Aswaja an-Nahdliyah.

Pondok Pesantren Tegal

“Dengan adanya UAMNU insyaallah kader-kader NU akan lebih eksis dan tidak mudah terpengaruh dengan adanya aliran radikal. Membentengi mereka dengan pemahaman dan kesadaran nilai-nilai luhur para masyayikh yang tidak diragukan kecintaannya pada NKRI,” terangnya.

Pondok Pesantren Tegal

Semetara itu keberadaan peserta UAMNU tahun ini sebanyak 419 lembaga dengan total 15.923 siswa. ”Ada 107 lembaga dengan jumlah peserta 5.559 siswa. Madrasah Aliyah ada 66 lembaga dengan jumlah 2.995 siswa. SMA ada 3 lembaga dengan jumlah siswa 250 orang. SMP ada 3 lembaga dengan 550 siswa dan SMK hanya 1 lembaga dengan siswa 150 orang,” kata Ketua PC LP Ma’arif Jombang, H Salmanuddin.

Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan dari Kemenag Jombang, Ketua PW LP Ma’arif Jawa Timur, ketua PC NU Jombang beserta jajarannya, PC LP Ma’arif setempat dan sejumlah kepala madrasah yang tergabung di UAMNU. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Doa, Pendidikan, Nasional Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Konferancab MWCNU Tahunan Gunakan Sistem Ahwa

Jepara, Pondok Pesantren Tegal. Sebanyak 17 Rais Syuriyah Pimpinan Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) se-Kecamatan Tahunan bermusyawarah menentukan 9 orang ulama untuk menjadi ahlul halli wal aqdi (Ahwa) dalam Konferensi Ke-5 Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Tahunan di Kantor NU Tahunan, Kompleks Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, Ahad (20/9) lalu.

Konferancab MWCNU Tahunan Gunakan Sistem Ahwa (Sumber Gambar : Nu Online)
Konferancab MWCNU Tahunan Gunakan Sistem Ahwa (Sumber Gambar : Nu Online)

Konferancab MWCNU Tahunan Gunakan Sistem Ahwa

Musyawarah ulama yang dipandu Ketua PCNU Jepara, H Asyhari Syamsuri dan Muhammad Nasrullah Huda dari PC LBMNU Jepara berhasil menentukan 9 orang ulama yang nantinya berwenang menentukan dan menetapkan Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Tahunan.

Mereka KH Muhammad Rusydi (Demangan), KH Mustaghfirin (Tahunan), KH Imam Abi Jamroh (Mantingan), Muhammad Nasrullah Huda (Tegalsambi), Muhammad Zainal Amin (Sukodono), Kiai Ali Masykur (Tahunan), Kiai Mundzirin (Platar), Amiruddin (Krapyak) dan KH Zawawi Abdurrahman (Kecapi).

Pondok Pesantren Tegal

Setelah anggota Ahwa bermusyawarah yang dipimpin KH Muhammad Rusydi, maka Ahwa menetapkan Kiai Ali Masykur (Tahunan) sebagai Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Tahunan masa khidmah 2015-2020.

Pondok Pesantren Tegal

Sedangkan Tanfidziyah, Misbahuddin SAg (Demangan) terpilih sebagai Ketua MWCNU Kecamatan Tahunan mengungguli M Munfaat SAg MM (Krapyak) melalui pemilihan langsung yang demokratis. Misbahuddin memperoleh 13 suara dan M Munfaat mendapatkan 4 suara.

KH Asyhari Syamsuri menyatakan diberlakukannya sistem Ahwa bahwa pasca Muktamar Ke-33 NU di Jombang maka penentuan Rais Syuriyah melalui musyawarah Ahwa. “Hal ini untuk mengembalikan supremasi lembaga syuriyah,” terangnya.

Sidang Bahtsul Masail

Pada sidang Komisi C tentang bahtsul masail, dibahas hukum wajib tidaknya orang pikun melaksanakan shalat wajib lima waktu. Para ulama bersepakat bahwa orang yang pikun terus menerus tidak diwajibkan shalat lima waktu karena dianggap tidak mukallaf, sedangkan orang yang pikun temporer maka dia tetap wajib shalat jika pada saat ‘sembuh’ dari pikunnya telah memasuki waktu shalat.

Sedang pada Komisi A bidang program kerja menyepakati perubahan nama Gedung Haji MWCNU Tahunan menjadi Kantor MWCNU Kecamatan Tahunan untuk mempertegas peran strategis NU di masa yang akan datang. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nasional, IMNU Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Peduli Harmoni Sosial, PMII Cilegon Nyatakan Tolak Hoax

Cilegon, Pondok Pesantren Tegal - Puluhan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Cilegon menggelar sarasehan keberagaman bertema Harmoni Berbangsa dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika di jalan raya depan Polresta Cilegon, Selasa (17/1) siang. Pada kesempatan ini mereka menyatakan sikap penolakan terhadap berita palsu (hoax) yang meresahkan masyarakat dan berpotensi merenggangkan simpul-simpul masyarakat.

Mereka berbincang kebangsaan bersama Polresta dan Kodim Kota Cilegon. Pertemuan ini dihadiri oleh beberapa organisasi kemahasiswaan seperti GMNI, GMKI, BEM FT Untirta, BEM Al-Khairiyah, IMC Kota Cilegon, KAMMI Kota Cilegon, Sapma PP. Acara ini diisi dengan berbagai orasi kebangsaan, pembacaan puisi, serta tarian daerah.

Peduli Harmoni Sosial, PMII Cilegon Nyatakan Tolak Hoax (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Harmoni Sosial, PMII Cilegon Nyatakan Tolak Hoax (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Harmoni Sosial, PMII Cilegon Nyatakan Tolak Hoax

Perwakilan Polresta Cilegon Iptu Hadi mengapresiasi kegiatan ini dan mendukung gerakan-gerakan positif yang mendorong persatuan bangsa.

Ketua PMII Cilegon mengatakan, “Tidak boleh ada sekat-sekat pemisah di mahasiswa. Mahasiswa harus bersatu menjaga, merawat, dan mengawal NKRI serta Pancasila dalam usia Indonesia menuju satu abad."

Pondok Pesantren Tegal

Menurutnya, pemuda dan mahasiswa harus selalu bersatu, bersilaturahmi, dan bertegur sapa serta menjaga dan menghormati keberagaman yang ada.

Pondok Pesantren Tegal

Pada pertemuan ini mereka mendeklarasikan gerakan anti-berita palsu (hoax). Di spanduk besar Polres, Kodim, dan unsur perwakilan organisasi mahasiswa setempat turut menandatangani pernyataan dengan tagline Turn Back Hoax. (Andra Iman Putra/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ubudiyah, Nahdlatul, Nasional Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Pesantren Lahirkan Tradisi Keberagaman yang Inklusif dan Moderat

Ponorogo, Pondok Pesantren Tegal. Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan kekagumannya setiap kali berbicara tentang pesantren dan tradisi yang tumbuh didalamnya. Sebab, menurut pengalaman Menag, pesantren adalah satu-satunya lembaga pendidikan Islam yang unik, genuine, otentik, dan tidak mudah lekang di makan zaman.

Pesantren, lanjut Menag, sudah tumbuh sejak 7 abad yang lalu bersamaan dengan prosesi Islamisasi Nusantara. Dan hingga kini, pesantren tetap bertahan dan tidak tercerabut dari akar kulturalnya. Bahkan, Menag menegaskan, pesantren begitu dinamis, kreatif, inovatif dan memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan masyarakat dan elemen kehidupan lainnya.

Pesantren Lahirkan Tradisi Keberagaman yang Inklusif dan Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Lahirkan Tradisi Keberagaman yang Inklusif dan Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Lahirkan Tradisi Keberagaman yang Inklusif dan Moderat

"Yang tak kalah penting lagi adalah saat pergumulan pesantren bersama dengan elemen bangsa melahirkan tradisi keberagaman yang inklusif dan moderat, yang menjadikan ciri khas keberagaman di Indonesia. Melalui pesantren inilah, watak ke Islaman dan ke Indonesiaan terbentuk seperti sekarang ini,” kata Menag saat berbicara dalam kesempatan menghadiri pertemuan akbar alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo bersamaan dengan Peringatan 90 Tahun Pondok Gontor, Jumat (2/9).

Dikatakan Menag, lembaga pendidikan pesantren di Indonesia merupakan lembaga swadaya masyarakat yang tidak hanya menyelenggarakan pendidikan keagamaan Islam, akan tetapi juga melakukan pemberdayaan kepada masyarakat, dan bahkan pusat peradaban Islam.

"Pesantren telah banyak memberikan kontribusi yang luar biasa dalam melakukan pelayanan pendidikan keagamaan Islam,” papar Menag yang juga berkisah suka dukanya saat menjadi santri Gontor.

Pondok Pesantren Tegal

Di luar kegiatan tersebut, Menag melanjutkan kunjungan kerjanya ke Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar yang pimpinannya sekarang Kiai Syaiful Anwar merupakan sahabat Menag satu angkatan (marhalah) saat menimba ilmu di Pondok Gontor.

Pondok Pesantren Tegal

Bersama santri dan pimpinan pondok Ngabar, Menag melaksanakan Shalat Jumat dilanjutkan dengan memberikan nasehat dan motivasi bagi santri-santri Ngabar agar terus berkhidmat menimba ilmu.

"Anak-anakku sekalian, inilah masa terbaik, kalian semua bisa berkesempatan belajar di pesantren. Lembaga pendidikan yang memiliki pengalaman bagaimana ilmu itu diajarkan, dan diamalkan," ujar Menag.

"Ilmu menjadikan manusia akan semakin baik dan arif. Orang yang ilmunya sempit, cenderung bersikap kurang bijak. Di pesantrenlah tempat kita menimba ilmu dan berbagi pengalaman,” pungkasnya. (Kemenag/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nasional, Kajian, Makam Pondok Pesantren Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Repshol Pringsewu Dua Jam Shalawat untuk Indonesia dan Hadratussyekh

Pringsewu,Pondok Pesantren Tegal

Remaja Pecinta Shalawat (Repshol) Kabupaten Pringsewu menggelar kegiatan Dua Jam Shalawat untuk Indonesia dan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari di Desa Fajar Agung Kecamatan Pagelaran Utara Sabtu (3/6/17). Kegiatan dirangkai dalam rangka peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni.

Repshol Pringsewu Dua Jam Shalawat untuk Indonesia dan Hadratussyekh (Sumber Gambar : Nu Online)
Repshol Pringsewu Dua Jam Shalawat untuk Indonesia dan Hadratussyekh (Sumber Gambar : Nu Online)

Repshol Pringsewu Dua Jam Shalawat untuk Indonesia dan Hadratussyekh

Menurut Komandan Jamiyyah Repshol yang merupakan perkumpulan beberapa Group Shalawat Para Remaja di Kabupaten Pringsewu, Muhammad Subhan, kegiatan tersebut merupakan satu bentuk dukungan dan kecintaan mereka kepada NU dan NKRI.

"Bagi kami, hambatan, ancaman dan gangguan adalah salam cinta kebangkitan sebuah perjuangan. Di mana pun, kapan pun dan bagaimanapun, kami akan terus mensupport kecintaan kami kepada NU dan NKRI. Kami akan terus membuat ukiran sejarah yang damai, kokoh dan beradab," ujarnya di sela-sela kegiatan.

Pondok Pesantren Tegal

Gus Subhan, begitu ia biasa disapa menegaskan bahwa jamiyyah dan jamaah yang dinakhodainya tersebut akan terus konsisten melanjutkan perjuangan para syuhada yang telah gugur membela kedaulatan Indonesia.

"Kami akan terus melanjutkan perjuangan para kiai NU sebagai pejuang sejati negeri ini dengan wujud nyata dan tidak dengan banyak alasan ini itu. Kami adalah santri yang siap mati mengawal para kiai," tegas kiai muda nyentrik ini.

Pondok Pesantren Tegal

Gus Subhan menambahkan bahwa lokasi Markaz Repshol yang jauh dari keramaian, tepatnya di perbukitan di Kecamatan Pagelaran Utara, tidak akan menyurutkan mereka untuk menyuarakan kecintaan kepada NKRI dan NU.

"Kami adalah masyarakat yang jauh dari jangkauan teknologi. Kami dari pedalaman Kabupaten Pringsewu berkomitmen dan akan terus berkhidmat sesuai kemampuan kami. Kami tidak akan pernah menyerah untuk berjuang mengisi kemerdekaan NKRI. Dengan kedamain dan selalu menanamkan nilai-nilai tradisi dan akhlak, kami akan terus menyuarakan kecintaan kami kepada NKRI dan NU," katanya optimis.

Kegiatan tersebut, lanjut Gus Subhan, juga sebagai bentuk penghargaan kepada KH Hasyim Asyari yang merupakan pendiri jamiyyah Nahdlatul Ulama yang memiliki kontribusi besar terhadap terwujudnya NKRI.

"Kami akan terus melantunkan shalawat dan memanjatkan doa untuk negeri tercinta Indonesia dan sebagai ungkapan rasa cinta dan terima kasih kami atas betapa besarnya perjuangan Hadhratussyekh Mbah KH Hasyim Asyari memperjuangkan kemerdekaan NKRI," ungkapnya.

Ia berharap agar Jamiyyah Repshol akan senantiasa mendapat curahan rahmat dan kekuatan dari Allah SWT untuk mengemban segala amanah.

"Semoga kita semua selalu hidup damai dengan ketetapan iman, islam dan ikhsan, salam damai pedalaman sumatra rimba," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ulama, Nasional, Kiai Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Hukum Baca Surat Yasin di Malam Nisfu untuk Hajat Tertentu

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Yang terhormat redaksi Bahtsul Masail Pondok Pesantren Tegal. Malam nisfu Sya‘ban sering ditunggu masyarakat. Mereka memanfaatkan waktu setelah sembahyang Maghrib untuk membaca Surat Yasin sebanyak tiga kali. Mereka juga berdoa kepada Allah agar diberikan umur panjang, rezeki yang halal, dan lain sebagainya. Pertanyaan saya, apakah kita boleh beramal tetapi diiringi permohonan kepada Allah? Bukankah beramal harus ikhlas? Mohon keterangannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Abdullah/Tuban).

Jawaban

Hukum Baca Surat Yasin di Malam Nisfu untuk Hajat Tertentu (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Baca Surat Yasin di Malam Nisfu untuk Hajat Tertentu (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Baca Surat Yasin di Malam Nisfu untuk Hajat Tertentu

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan petunjuk-Nya untuk kita semua. Yasin adalah salah satu surat mulia di dalam Al-Quran. Surat Yasin menempati kedudukan mulia karena di dalamnya mengandung banyak nasihat dan pelajaran. Karena itu, membaca Surat Yasin merupakan ibadah yang baik.

Pondok Pesantren Tegal

Adapun aktivitas masyarakat di malam nisfu Sya‘ban yang membaca Surat Yasin 3 kali yang kemudian juga diiringi dengan permintaan berupa keberkahan pada umur, harta, dan hajat-hajat lainnya tidak perlu dipersoalkan karena memang tidak ada masalah secara syar‘i di situ. Yang dibaca adalah salah satu surat di dalam Al-Quran. Pihak yang diminta juga tidak lain adalah Allah SWT. Mereka juga meminta yang baik-baik untuk kemaslahatan dunia dan akhirat baik pribadi maupun kepentingan umum. Hal ini dijelaskan dengan detil oleh Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki berikut ini.

Pondok Pesantren Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?...?.. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Tapi tak ada larangan bagi seseorang yang mengiringi amal salehnya dengan permintaan dan permohonan hajat agama dan dunia, jiwa dan raga, lahir dan batin. Siapa saja yang membaca Surat Yasin atau surat lainnya dengan ikhlas lillahi ta‘ala sambil memohon keberkahan pada usia, harta, dan kesehatan, maka hal itu tak masalah. Artinya, orang ini telah menempuh jalan yang baik (dengan catatan ia tidak meyakini bahwa amal salehnya itu disyariatkan secara khusus untuk hajat tersebut).

Silakan membaca Surat Yasin 3 kali, 30 kali, 100 kali, atau mengkhatamkan 30 juz Al-Quran secara ikhlas lillahi ta‘ala diiringi dengan permohonan atas segala hajat, doa agar harapan terwujud, permintaan agar dibukakan dari kebimbangan, pengharapan agar dibebaskan dari kesulitan, permohonan kesembuhan dari penyakit, permintaan kepada Allah agar utang terbayar. Lalu di mana masalahnya? Allah senang terhadap hamba-Nya yang bermunajat kepada-Nya atas pemenuhan hajat apapun termasuk hajat atas garam pelengkap masakan dan hajat atas tali sandal yang rusak,” (Lihat Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki, Ma Dza fi Sya‘ban? cetakan pertama, 1424 H, halaman 119).

Sayyid Muhammad bin Alwi menyatakan secara jelas bahwa permohonan, munajat, dan doa kepada Allah SWT tidak menafikan keikhlasan amal tertentu. Artinya, para hamba Allah SWT boleh saja berdoa agar Allah SWT memenuhi segala hajatnya tanpa harus khawatir akan amalnya. Ini yang disebut dalam istilah agama dengan sebutan “tawassul” atau “wasilah”.

Salah satu dalil atas tawasul adalah cerita Rasulullah SAW dalam hadits shahih terkait tiga orang yang terperangkap di dalam gua. Pintu gua tertutup oleh batu besar. Di tengah keputusasaan, masing-masing dari mereka kemudian memohon kepada Allah sambil menyebut amal saleh terikhlas yang pernah mereka lakukan. Berkat tawasul dengan amal saleh itu, sedikit demi sedikit batu besar yang menutup mulut gua itu bergeser. “Tawasul jenis ini dijelaskan dengan detil dan rinci oleh Syekh Ibnu Taimiyah secara khusus dalam kitabnya terutama pada artikel berjudul ‘Qaidah Jalilah fit Tawassul wal Wasilah’,” (Sayyid Muhammad bin Alwi, 1424 H: 120).

Sebagaimana kita tahu bahwa istilah “wasilah” ini dipakai dalam Al-Quran dalam Surat Al-Maidah ayat 35. Berikut ini kami kutip istilah tersebut beserta tafsirnya.

? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? "?" ? "? ?" ? ? ? ? ?

Artinya, “(Wahai orang-orang beriman, takwalah kepada Allah) takutlah akan siksa-Nya. Caranya, taati perintah-Nya. (Untuk sampai kepada-Nya, carilah) kejarlah (sebuah wasilah) berupa amal ketaatan yang dapat mendekatkan kalian kepada-Nya,” (Lihat Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuthi, Tafsirul Jalalain, Beirut, Darul Fikr, tanpa tahun).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Jadwal Kajian, Kyai, Nasional Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

Di Malang, PMII Gelar Aksi Damai dan Istighotsah

Malang, Pondok Pesantren Tegal 

Aksi demonstrasi yang dilakukan lebih dari 200 Keder Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Rabu (17/4) berlangsung unik. Tidak seperti aksi pada umunya, aksi kali ini diwarnai potong tumpeng dan istighotsah di Balai Kota.

Tidak ada bentrok fisik yang terjadi antara Mahasiswa dan polisi seperti yang terjadi belakangan. Gabungan Mahasiswa Malang ini berjalan beriringan bersama polres Malang dari alun-alun kota menuju balai kota, JL Tugu no 1, Malang.

Di Malang, PMII Gelar Aksi Damai dan Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Malang, PMII Gelar Aksi Damai dan Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Malang, PMII Gelar Aksi Damai dan Istighotsah

Beberapa gabungan Mahasiswa Malang ini berdemo di depan Balai kota untuk memperingati hari lahir PMII yang ke 53.

Pondok Pesantren Tegal

“Kami di sini melakukan aksi damai, dan menunjukkan konsistensi kita untuk terus mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegas Fauzan, Mahasiswa UIN Maliki Malang dalam orasinya. “NKRI harga mati !!!!” serunya ditimpali lagu kebangsaan bersama.

Dwi Fitri Wiyono, ketua PC PMII Kota Malang, mengungkapkan bahwa PMII ke depannya akan terus melakukan manuver-manuver cantik untuk menyiapkan bibit unggul Generasi Nusantara, “Kami akan terus mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat,” tandasnya.

Pondok Pesantren Tegal

Dalam aksi damai itu, terlihat polisi dan mahasiswa saling bahu-membahu. Pasalnya, setelah melakukan orasi secara bergilir, polisi membantu awak demonstran mengangkat tumpeng sebagai sajian harlah PMII yang ke 53. 

Bahkan, potongan tumpeng pertama diberikan pada perwakilan polres Malang oleh Dwi sapa akrab Dwi Fitri Wiyono. Sebelumnya, para demonstran melakukan Istighosah bersama dan sholawat untuk para leluluhur dan Founding Fathers PMII.

Para aktivis pergerakan itu bubar secara tertib pukul 12.30, dengen tetap mengibarkan bendera kuning biru itu, mereka melakukan konvoi hingga JL Ijen, untuk selanjutnya pulang secara beraturan ke tempat kos masing-masing Mahasiswa.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Diana Manzila

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nasional, Quote, Budaya Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 28 November 2017

Ah, Ih, Uh Bacaanya Intaha

Dengan metode sorogan, satu persatu santri membaca kitab fiqih, Fathul Muin karya Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibary di hadapan kiai. Hampir semua santri lancar bacanya.

Tiba giliran Otong, kiai mengamati betul pergerakan bibir santri kesayangannya ini.?

"Kenapa berhenti? Tong?" tanya Kiai.

"Anu....ini kiai ada lafal ? (ditulis dengan huruf alif dan ha), saya harus baca apa ya kiai?“ tanya Otong sambil gemetar

Ah, Ih, Uh Bacaanya Intaha (Sumber Gambar : Nu Online)
Ah, Ih, Uh Bacaanya Intaha (Sumber Gambar : Nu Online)

Ah, Ih, Uh Bacaanya Intaha

"Coba kamu baca dulu Tong!" perintah Kiai.

Otong pun membacanya dengan bacaan IH

Pondok Pesantren Tegal

Kiai mengetuk meja dengan kayu, Tok. Tanda bacaan Otong keliru.

Otong membaca lagi, AH.

Pondok Pesantren Tegal

Suara tok kembali terdengar.

Otong coba lagi dengan bacaan lain, ? UH. Terdengar lagi suara tok.

Akhirnya Otong mencoba dengan bacaan AH IH UH

"Intaha (?) ? Tong," jelas Kiai Kampung.

Otong disuruh mundur oleh kiai, dan itu menandakan ia harus mengulangi bacaannya besuk.

(Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Meme Islam, Kiai, Nasional Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 22 November 2017

Para Da’i Perlu Perhatikan Relevansi Dakwah dan Persoalan Umat

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Ketua Umum Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa mengajak peserta pelatihan da’i dan da’iyah NU untuk mengidentifikasi masalah sosial untuk kemudian mencarikan solusinya. Khofifah mengingatkan, kekeliruan identifikasi persoalan umat akan berdampak pada efektivitas dakwah itu sendiri.

“Tugas Da’i itu mengamankan umat. Hanya saja konsep keamanan para da’i dengan aparat kepolisian tentu beda. Ancaman keamanan para da’i dan aparat keamanan tentu beda,” terang Khofifah dalam penutupan pelatihan kader da’i dan da’iyah NU di Gedung PBNU, Selasa (22/7).

Para Da’i Perlu Perhatikan Relevansi Dakwah dan Persoalan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Da’i Perlu Perhatikan Relevansi Dakwah dan Persoalan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Da’i Perlu Perhatikan Relevansi Dakwah dan Persoalan Umat

Ancaman keamanan yang jelas-jelas di depan mata itu eskalasi angka kelahiran bayi di luar nikah yang semakin tinggi. Bayangkan, remaja usia belasan sudah terbiasa bahkan tidak sekali melahirkan kandungan di luar nikah? Ini salah satu contohnya, tegas Khofifah.

Pondok Pesantren Tegal

Kita sebagai penyampai nilai-nilai agama, Khofifah menambahkan, mesti membuat sendiri standar keamanan dan ancamannya. Dari situ, titik gerakan dakwah kita menjadi jelas dan terukur.

Pondok Pesantren Tegal

Para da’i dan da’iyah juga perlu banyak belajar dan melihat tantangan lingkungan ke depan. “Katakan saja potensi pertambangan di daerah masing-masing. Para da’i sangat bertanggung jawab mengamankan aset umat dalam hal ini,” kata Khofifah.

Di akhir sambutan penutupannya, Khofifah menerangkan tugas berjenjang pengurus NU mulai dari tingkat ranting hingga PBNU. Dengan begitu, solusi keumatan tertangani secara tuntas dan menyentuh tepat di jantung persoalan umat. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nasional, Olahraga Pondok Pesantren Tegal