Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Gagasan Islam Damai di Ruang Publik

Oleh Muhammad Aras Prabowo



Islam damai memiliki prinsip al-tawassuth, yaitu jalan tengah, tidak ekstrem kanan atau kiri. Prinsip tawazun, yakni menjaga keseimbangan dan keselarasan, sehingga terpelihara secara seimbang antara kepentingan dunia dan akhirat, kepentingan pribadi dan masyarakat, dan kepentingan ? agama dan negara. Prinsip al-tasamuh, yaitu bersikap toleran terhadap perbedaan, sehingga tidak terjadi perasaan saling terganggu, saling memusuhi, dan sebaliknya akan tercipta ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Prinsip ta’adul (keseimbangan) Ahlussunnah wal Jamaah terefleksikan pada kiprah mereka dalam kehidupan sosial, cara mereka bergaul serta kondisi sosial pergaulan dengan sesama Muslim yang tidak mengkafirkan serta senantiasa ber-tasamuh terhadap sesama Muslim maupun umat manusia pada umumnya.

Gagasan Islam Damai di Ruang Publik (Sumber Gambar : Nu Online)
Gagasan Islam Damai di Ruang Publik (Sumber Gambar : Nu Online)

Gagasan Islam Damai di Ruang Publik

Corak ini pula yang mendatangkan kekaguman dari berbagai negara. Termasuk, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik memuji keberadaan pesantren yang ternyata berperan dalam menyebarkan kedamaian. "Selama 2,5 tahun, saya hanya mendengar tentang Pesantren Tebuireng yang punya peran sangat penting dalam sejarah Indonesia, dan saya yakin akan punya peran penting untuk masa depan Indonesia ke depan. Jadi, saya di sini untuk mempelajari dan melihat bagaimana Indonesia bisa lebih berhasil (mengatasi ekstremisme dan radikalisme)," ujarnya dalam rilis yang diterima, Jumat (28/4). (Republika.co.id)

Meskipun umat Islam sebagai warga negara mayoritas, tapi tidak membuat rasa egois dalam diri penganutnya untuk mendominasi dengan pemeluk keyakinan yang lain. Perbedaan suku, ras, agama dan budaya disatukan dalam sikap nasionalisme terhadap negara. Salah satu guru bangsa sekaligus mantan presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid sebagai bapak pluralisme mananamkam sikap saling menghargai antarsesama warga negara tanpa memandang suku, ras, agama dan budaya. Beliaulah yang banyak memahamkan bangsa ini pentingnya toleransi terhadap perbedaan dalam kehidupan bernegara.

Namun, belakangan ini kata kafir, bid’ah dan sesat seringkali mewarnai ceramah keagamaan baik di masjid, lingkungan kampus, lingkungan sekolah (rohis) maupun di media (televisi, youtube, facebook dan media sosial yang lain). Kelompok tersebut seringkali menampilkan Islam yang marah, padahal kita butuh Islam yang ramah bukan Islam marah, kata Gus Dur. Kelompok tersebut menganggap dirinya yang paling benar.

Pondok Pesantren Tegal

Pertarungan kebenaran dalam wacana agama bermula dari klaim kebenaran yang dibuat oleh masing-masing kelompok. Klaim kebenaran itu lahir dari interpretasi atas teks otoritatif yang diperkuat oleh pemegang otoritas dalam agama. Klaim kebenaran sejatinya adalah hal pokok yang mendasari dan diperlukan dalam setiap keyakinan. Seseorang akan merasa nyaman dengan keyakinannya ketika ia, secara sadar, meyakini kebenaran dari nilai-nilai yang tertuang dari keyakinannya tersebut. Namun, ketika interpretasi tertentu atas klaim kebenaran tersebut menjadi proposisi yang menuntut pembenaran tunggal dan diperlakukan sebagai doktrin kaku, maka kecenderungan terhadap penyelewengan dalam agama muncul dengan mudah. Kecenderungan itu merupakan tanda-tanda awal kejahatan atas nama agama (Kimball, 2003: 84).

Di mata mereka, sebuah negara menjadi musuh Islam dengan bertindak melawan kehendak hukum syariah, pada gilirannya mereka berpendapat bahwa orang-orang yang mendukung pemerintah murtad dan karena itu pembunuhan orang-orang semacam itu dapat diterima secara religius (Doran diedit oleh Hoge Jr & Rose 2001, halaman 35). Gagasan seperti ini harus diantisipasi, guna menjaga keutuhan bangsa.?

Gagasan tentang softpower ini pertama kali dibahas oleh Joseph Nye, dia menyatakan alih-alih penggunaan kekuatan, dengan kekuatan keras, softpower lebih bergantung pada diskusi dan debat, dengan menggunakan persuasi ideologis (Nye 1991, halaman 259-60).

Pondok Pesantren Tegal

Kelompok-kelompok islam moderat yang ada di Indonesia, seperti Nahdatul Ulama, harus merebut ruang-ruang publik dalam menyebarkan Islam damai. Pertarungan seperti ini tidak bisa dihindari guna mempersempit ruang gerak meraka. Gagasan Islam damai harus disebarkan lewat berbagai media (televisi, youtube, facebook dan media sosial yang lain) sama seperti metode yang mereka gunakan. Intensitas akan mengeser posisi mereka di tempat-tempat strategis.

Bagi organisasi kemahasiswaan, memperbanyak diskusi di pojok-pojok kampus juga menjadi salah satu alternatif yang cukup strategis. Agar proses kaderisasi merka terhambat, dengan memberikan pemahaman Islam yang damai kepada mahasiswa, khusnya bagi mahsiswa yang baru masuk. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gusdurian dan organisasi lainnya herus hadir di tengah-tengah mahasiswa untuk mengemban tugas tersebut.

Selain di lingkungan kampus, lingkungan sekolah harus menjadi perhatian. Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (IPNU) yang wilayah kaderisasinya di sekolah harus memaksimalkan perannya dalam menularkan gagasan Islam damai kepada para siswa. Organisasi intra sekolah seperti Rohani Islam (rohis) harus di jadikan sebagai wadah dalam sosialisasi.

Teori Public Sphere Habermas mengatakan bahwa ruang terbuka publik adalah arena pertarungan ide dan gagasan, setiap kelompok mengambil peran ? dalam ruang publik dan berusaha mengambil kuasa, pemenangnya adalah: ide dan gagasan yang dikelola dengan baik, kuantitas ide dan gagasan yang masuk ke ranah publik.

Sinergitas gerakan akan mengambil kuasa dan peran ? dalam ruang publik mulai dari masjid, lingkungan kampus, lingkungan sekolah (rohis) maupun di media (televisi, youtube, facebook dan media sosial yang lain) akan melahirkan sebuah kaderisasi yang massif. Tentunya, akan mempersempit ruang gerak kelompok-kelompok yang merasa dirinya paling benar. Dan gagasan Islam damai akan mengakar di setiap ruang-ruang publik. Dengan begitu, keharmonisan dalam berbangsa dan bernegara akan selalu kuat dan terpelihara dengan gagasan Islam damai.





Penulis adalah Gusdurian Makassar/PMII RE UMI Makassar

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Habib, Daerah Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

PBB Keukeuh Pertahankan Keputusan Tak Undang Iran

PBB, Pondok Pesantren Tegal. Perserikatan Bangsa-Bangsa mempertahankan keputusannya untuk mengeluarkan Iran dari daftar negara-negara yang diundang untuk menghadiri pembicaraan perdamaian Suriah, setelah Rusia dan pemerintah Teheran mengkritiknya. 

PBB Keukeuh Pertahankan Keputusan Tak Undang Iran (Sumber Gambar : Nu Online)
PBB Keukeuh Pertahankan Keputusan Tak Undang Iran (Sumber Gambar : Nu Online)

PBB Keukeuh Pertahankan Keputusan Tak Undang Iran

Iran gagal untuk memberikan pernyataan tertulis sesuai yang dijanjikannya mengenai konflik Suriah sehingga Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon terpaksa bertindak, kata wakil juru bicara PBB Farhan Haq, Selasa, seperti dilaporkan AFP. 

Haq juga mengatakan Ban ingin sekali negara-negara yang menghadiri pembicaraan itu, yang mulai berlangsung di Montreux, Swiss, pada Rabu, berunding dengan "dalam suasana saling percaya."

Pondok Pesantren Tegal

Ban membatalkan undangan bagi Iran pada Senin kurang dari 24 jam setelah mengumumkan bahwa sekutu Presiden Bashar al-Assad itu akan diikutsertakan dalam pembicaraan.

Pondok Pesantren Tegal

Oposisi Suriah telah mengancam akan memboikot acara itu jika Iran hadir dan Amerika Serikat menyatakan bahwa Iran harus menyepakati komunike internasional yang menyerukan suatu pemerintahan transisi di Suriah.

Para pejabat PBB mengatakan Ban menghabiskan beberapa hari berunding dengan Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif mengenai dukungan bagi Komunike Jenewa 2012 yang menyerukan pemerintahan transisi dalam usaha mengakhiri perang saudara tiga tahun di Suriah.

"Ada pemahaman lisan bahwa Sekjen terdorong untuk meyakini akan ada pemahaman tertulis," kata Haq kepada wartawan untuk menjelaskan undangan itu kepada Iran.

"Kenyataannya terbalik, bahwa Iran menyatakan sikap sama seperti yang dipegang sebelumnya. Dan karena itu dia menyatakan kekecewaannya atas keputusan Iran dan mengambil keputusan untuk tak mengundang mereka," kata jubir itu.

Ban mengadakan kontak dengan AS dan pihak-pihak kunci lainnya selama pembicaraan itu, ujar Haq.

Zarif menyayangkan keputusan PBB itu dan menghimbau Ban "untuk memberikan alasan-alasan jelas bagi penarikan (undangan)."

"Sikap ini di bawah martabat Sekjen PBB," kata Menlu itu seperti dilansir media Iran.

Rusia pada Selasa menyebut keputusan PBB menarik undangannya bagi Iran untuk menghadiri konferensi perdamaian Suriah pekan ini suatu "kesalahan" yang dapat membayangi reputasi badan dunia itu.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov juga mengeluarkan kritik yang diarahkan kepada Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dengan menuduhnya menggunakan bahasa "lihai" untuk menjelaskan keputusannya yang mendadak.

"Tentu ini kesalahan," kata Lavrov kepada wartawan dalam taklimat tahunan. "Ketakhadiran Iran tidak memfasilitasi usaha-usaha untuk menjamin kesatuan dunia Muslim, termasuk dalam perjuangan melawan teror," kata Lavrov. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Bahtsul Masail, Habib, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Pesantren Tremas Gelar Turnamen Bola Voli Tingkat Kabupaten

Pacitan,Pondok Pesantren Tegal. Menyemarakkan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menyambut peringatan haul ke-18 almagfurlah KH Habib Dimyathi, Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, menggelar turnamen bola voli tingkat kabupaten pada Sabtu-Ahad (2-3/1) di halaman pesantren tersebut.

Panitia penyelenggara, Nasrowi, menyatakan, turnamen dihelat untuk memperkenalkan pesantren pada masyarakat luas. "Ini sebagai salah satu wujud mengkampanyekan gerakan Ayo Mondok, bahwa image pesantren tidak hanya ngaji saja, tapi ada olahraganya juga, " tuturnya kepada Pondok Pesantren Tegal, Ahad (3/1).

Pesantren Tremas Gelar Turnamen Bola Voli Tingkat Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tremas Gelar Turnamen Bola Voli Tingkat Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tremas Gelar Turnamen Bola Voli Tingkat Kabupaten

Dikatakannya, melalui turnamen ini masyarakat bisa datang menyaksikan pertandingan bola voli sekaligus bisa mengenal lebih dekat dengan dunia pesantren.

Pondok Pesantren Tegal

Turnamen yang digelar setahun sekali ini diikuti 52 tim se-Kabupaten Pacitan. Panitia menyediakan hadiah sebesar Rp. 5.250.000 beserta tropi tetap PHBI CUP 2016.

Pondok Pesantren Tegal

Pada laga final yang digelar pada Ahad sore (3/1), tim Sumber Rejeki Ketepung, Kecamatan Kebonagung menjadi juara setelah menekuk tim Desa Mlati. Pertandingan yang disaksikan ribuan massa ini berlangsung sangat ketat, dengan skor akhir 3-1.

Sumber rejeki berhak menerima hadiah uang pembinaan dan piala tetap PHBI CUP 2016. Penyerahan piala secara simbolis akan dilakukan pada malam pengajian Haflah Maulid Nabi Muhammad SAW Rabu malam (6/1). (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Habib, Ulama Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

PBNU Minta Presiden Ksatria Hadapi Interpelasi DPR Soal Nuklir Iran

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersikap ksatria dalam menghadapi interpelasi DPR pada Selasa, 5 Juni mendatang. Presiden harus datang dan menjawab langsung pertanyaan DPR terkait dukungan pemerintah Indonesia terhadap Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) nomer 1747 tentang program nuklir Iran.

“Presiden harus datang sendiri secara pribadi dan tidak diwakilkan, sebagai tanda ksatria dan gentle (berani). Banyak rakyat yang saat ini merasakan carut-marutnya keadaan, ingin melihat pemimpin yang tegar dan penuh tangung jawab,” kata Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Ahad (3/6)

PBNU Minta Presiden Ksatria Hadapi Interpelasi DPR Soal Nuklir Iran (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Presiden Ksatria Hadapi Interpelasi DPR Soal Nuklir Iran (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Presiden Ksatria Hadapi Interpelasi DPR Soal Nuklir Iran

Menurut Hasyim, apabila Presiden mewakilkan dirinya dalam sidang paripurna tersebut, maka akan banyak hal yang tidak terjawab. Pasalnya, dalam tempo 60 hari setelah Resolusi itu dikeluarkan dan Iran tidak mau taat, maka negeri pimpinan Presiden Mahmoud Ahmadinejad itu bakal menerima sanksi yang lebih berat.

“Apakah Indonesia akan setuju lagi untuk memberi “hukuman” tehadap Iran demi hubungan mesra dengan George W. Bush (Presiden Amerika Serikat) atau Israel?” gugat Hasyim yang juga Presiden World Conference on Religions for Peace.

Hasyim mempertanyakan sikap Presiden yang tak bersedia menemui Menteri Luar Negeri Iran yang datang langsung dari Afrika Selatan. “Diterimanya Menlu Iran oleh Menko Polhukam Widodo AS, mengapa tidak ada mandat dialog? Apakah ada pembicaraan goodwill antara Presiden Iran dan Presiden RI sewaktu di Jakarta? Itu semua pasti tidak bisa dijelaskan secara memuaskan oleh Menlu,” terangnya.

Terkait pertanggungjawaban Pemerintah terhadap DPR dalam hal dukungan Resolusi 1747 terhadap Iran, Hasyim mengungkapkan, hanya Presiden yang bisa menjelaskan. Menurutnya, Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda hanya mampu menjelaskan secara teknis dukungan Pemerintah di DK PBB dan perintah dari Presiden di Jakarta.

Pondok Pesantren Tegal

Di samping itu, lanjutnya, pertemuan Ketua Ketua DPR RI Agung Laksono dengan Ketua DPR Iran Gholam Ali Haddad Adel, di Teheran, pun perlu penjelasan langsung dari Presiden dalam kata pengantar di Sidang Paripurna DPR RI.

Sebelumnya, Ketua DPR RI Agung Laksono mengatakan bahwa Presiden dipastikan tidak akan hadir ke DPR untuk menjawab interpelasi parlemen soal dukungan pemerintah terhadap Resolusi 1747 itu.

"Saya memang belum membaca suratnya, tetapi beliau (Presiden) sudah pasti tidak bisa hadir, seperti yang disampaikan Mensesneg Hatta Radjasa," kata Agung, di Kendari, Ahad (3/6).

Di sela-sela kampanye pemilihan walikota Kendari, ia mengatakan Mensesneg mengemukakan Presiden hanya menugaskan Menko Polhukam Widodo AS untuk mewakili pemerintah dalam sidang interpelasi DPR. (rif)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Makam, Habib Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Keluarga Mathali’ul Falah Semarang Adakan Silaturahim

Semarang, Pondok Pesantren Tegal. Keluarga Mathali’ul Falah Semarang mengadakan silaturahim dengan Ahmad Nadhif, Lc selaku perwakilan dari Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM).?

Acara tersebut mengambil tempat di kantor Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) wilayah Jawa Tengah yang diikuti puluhan santri PIM untuk temu kangen dengan salah satu guru mereka.

Keluarga Mathali’ul Falah Semarang Adakan Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)
Keluarga Mathali’ul Falah Semarang Adakan Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)

Keluarga Mathali’ul Falah Semarang Adakan Silaturahim

Agenda ini merupakan acara yang digagas untuk merekatkan santri PIM sebagai bentuk kecintaan terhadap almamaternya. Khotibul Umam selaku panitia mengutip pernyataan Kiai Muadz Thohir (salah satu asatidz PIM) ketika membuka acara KMF di Malang menyatakan bahwa anggota KMF tidak hanya mereka yang menjadi alumni PIM, walaupun satu hari menuntut ilmu di PIM menjadi keluarga besar Mathaliul Falah.

Pondok Pesantren Tegal

Acara yang dibalut dengan sederhana ini berakhir hingga sore hari. Terdapat dua sesi. Pertama, meneguhkan kembali semangat untuk nguri-nguri KMF dengan pemantik diskusi Gus Nadhif, sapaan akrabnya. Ia lebih banyak menceritakan teladan Mbah Sahal selaku pengasuh PIM dan keadaan makro bangsa Indonesia. Kedua, sharing dan dialog bersama anggota KMF Semarang untuk menjalankan program yang telah dirancang bersama.

Pondok Pesantren Tegal

KMF ini merupakan salah satu organisasi yang unik pasalnya organisasi ini tidak hanya dipenuhi dengan para mahasiswa dari berbagai universitas di Semarang saja. Namun, mereka yang tinggal di Semarang juga tampak hadir di forum ini. Umam menambahkan “Kami bangga memiliki salah satu anggota KMF yang menjadi ketua RMI Jateng yaitu Gus Rozin.”

Dari pihak pengelola kantor RMI Jateng juga mempersilahkan kepada organisasi alumni pesantren lain untuk bisa memanfaatkan kantor yang terletak di perumahan BPI blok H6 Ngaliyan Semarang. (Mukhamad Zulfa/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Habib, Nahdlatul, Anti Hoax Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Gedung Sekretariat MWCNU Hasil Swadaya

Cirebon, Pondok Pesantren Tegal. Rehabilitasi gedung sekretariat Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kec Susukan Lebak baru mencapai kondisi 60 persen.?

Gedung Sekretariat MWCNU Hasil Swadaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Gedung Sekretariat MWCNU Hasil Swadaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Gedung Sekretariat MWCNU Hasil Swadaya

Gedung sekretariat yang berdiri di atas luas tanah sekitar 140 meter persegi ini awalnya berupa rumah salah seorang warga desa Susukan Tonggoh Kec Susukan Lebak yang dibeli secara swadaya oleh masyarakat untuk digunakan sebagai pusat kegiatan para pengurus MWCNU Kec Susukan Lebak.?

Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Kiai Ahmad Mutohar yang terpilih kembali sebagai ketua tanfidziyah dalam konferensi MWC NU Kec Susukan Lebak (9/12).

Pondok Pesantren Tegal

“Donasi untuk pengadaan gedung sekretariat MWCNU Kec. Susukan Lebak itu murni berasal dari swadaya masyarakat. Masyarakat Kec. Susukan Lebak menunjukkan kecintaannya terhadap Nahdlatul Ulama melalui sumbangsih saran maupun materi,” katanya.

Awalnya gedung ini merupakan rumah salah seorang warga yang kami beli, maka perlu dilakukan perbaikan-perbaikan, kondisinya sekarang baru 60 persen, selebihnya kami terus melakukan perbaikan sedikit demi sedikit dengan dibantu hasil penjualan kalender NU yang kami terbitkan melalui koperasi.

Pondok Pesantren Tegal

Gedung yang terletak di desa Susukan Tonggoh Kec. Susukan Lebak Kabupaten Cirebon tersebut kelak diharapkan menjadi pusat kegiatan bagi para warga NU di sekitar Kec. Susukan Lebak. Kecamatan tersebut merupakan salah satu wilayah tingkat MWC yang berhasil menghidupkan segenap aktifitas NU dan banom-banomnya.

“Di kecamatan kami, alhamdulillah, hampir semua kegiatan NU dapat berjalan, bahkan banom-banomnya pun dapat dikatakan aktif hampir secara keseluruhan, dari mulai Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, sampai IPNU dan IPPNU,” papar Zaenal Abidin, Ketua PAC GP Ansor Kec. Susukan Lebak.

Untuk sementara, gedung yang masih dalam tahap perbaikan ini masih hanya dapat digunakan untuk agenda-agenda rapat para pengurus MWC NU Kec. Susukan Lebak, serta menjadi sekretariat Koperasi NU “An-Nahdloh” Kec. Susukan Lebak.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: ? Sobih Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Habib, Aswaja, Pahlawan Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Nyai Hj Machfudhoh, Usia Tak Halangi Berantas Narkoba

Bekasi, Pondok Pesantren Tegal



Luar biasa semangat ibu-ibu Muslimat NU dalam memerangi bahaya narkoba. Tak berhenti pada deklarasi dan bimtek, mereka juga mengikuti workshop Peningkatan Kapasitas Tokoh Agama dalam Penanggulangan Penyalahgunaan Napza yang digelar Direktorat RSKP (Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan) Napza Kemensos RI di Bekasi, Jawa Barat, 3-6 November.

Nyai Hj Machfudhoh, Usia Tak Halangi Berantas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyai Hj Machfudhoh, Usia Tak Halangi Berantas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyai Hj Machfudhoh, Usia Tak Halangi Berantas Narkoba

“Jangan lihat usia kami, tapi lihatlah semangat kami dalam mencegah bahaya narkoba,” kata Ketua I PP Muslimat NU, Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid saat acara pembukaan, Kamis (3/10) malam.

Menurut Machfudhoh, memberantas narkoba tak cukup dilakukan aparat atau Kemensos tapi juga butuh dukungan masyarakat, para tokoh agama termasuk Muslimat NU yang punya kepengurusan hingga anak ranting (dusun). “Insyaallah kami semua siap menanggulangi bahaya narkoba,” tegasnya.

Muslimat NU tergerak memberantas narkoba, lanjut Machfudhoh, karena punya tanggung jawab untuk memikirkan masa depan generasi bangsa.

Pondok Pesantren Tegal

“Kita melakukan ini tiada lain karena cinta pada bangsa dan negara, hubbul wathan minal iman (cinta tanah air bagian dari iman),” tandasnya seperti kutip dari laman resmi Muslimat NU.

Karena itu, katanya, tugas ibu-ibu yang pertama harus diselamatkan yakni lingkungan keluarga sendiri, lingkungan masyarakat baru anggota.

Pondok Pesantren Tegal

“Tidak hanya Muslimat NU saja yang kita sasar, tapi masyarakat sekitar adalah tanggung jawab bersama. Tanggung jawab kita pada Allah Swt,” ujarnya.

Tak lupa Machfudhoh berterima kasih pada Kemensos, pengurus wilayah dan cabang Muslimat NU yang telah meluangkan waktu untuk datang, walaupun pada 23-27 November akan kembali berkumpul dalam arena kongres ke-17.

“Inilah yang menjadi kebanggan kami, inilah hebatnya Muslimat NU. Walau hanya diundang lewat SMS mereka bisa datang padahal sebentar lagi kami akan berkongres. Dan saya lihat mulai dari pojok belakang sampai depan, wajah ibu-ibu tegar dan segar,” katanya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Habib Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Ini Revolusi Mental Menurut Kasatkornas Banser

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal

Kasatkornas Banser H Alfa Isnaeni, di Pesantren Al Hamid, Jakarta Timur, Selasa (21/11) menegaskan, revolusi mental telah dilakukan kader inti Pemuda Ansor dengan jelas meski dengan beragam resiko.

Ini Revolusi Mental Menurut Kasatkornas Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Revolusi Mental Menurut Kasatkornas Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Revolusi Mental Menurut Kasatkornas Banser

"Indonesia dengan ideologi Pancasila bagi kami sudah clear, jelas. Sehingga jangan pernah ragukan kecintaan kami kepada negara ini," ujar Kasatkornas kepada sejumlah pejabat Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Revolusi mental bagi pemuda Nahdlatul Ulama (NU), tegas Kasatkornas, ialah mengajak mental masyarakat Indonesia untuk bisa sejalan dengan Pancasila, bukan malah ingin menggantinya.

Pondok Pesantren Tegal

"Mental Ansor dan Banser adalah mental Pancasila, bukan mental khilafah, bukan pula mental  Partai Komunis Indonesia," tegas Kasatkornas.

Pondok Pesantren Tegal

Ia menegaskan, tidak akan pernah kader-kader Ansor dan Banser membubarkan pengajian yang benar-benar pengajian.

"Kita tidak pernah melakukan pembubaran pengajian. Yang kita bubarkan atau tepatnya kita tolak ialah orasi politik jualan khilafah berkedok pengajian. Begitu ditolak merasa dizalimi Banser," kata dia lagi.

Ulama-ulama NU seperti KH Asad Syamsul Arifin telah menegaskan jika Pancasila merupakan ijtihad dalam membuktikan watak rahmatan lil alamin untuk Indonesia.

Adapun KH Wahid Hasyim, putra KH Hasyim Asyari menerima Pancasila sebagai ideologi bangsa sehubungan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan konsep tauhid dalam Islam.

Bagi Indonesia, Pancasila sudah cukup, seperti halnya rukun Islam berjumlah lima, syahadat, mendirikan salat, zakat, puasa dan berhaji bila mampu.

Dan itu tak perlu ditambah dagangan politik mengatasnamakan Islam yang malah tidak memberi kontribusi positif bagi negara, demikian H Alfa Isnaeni dalam sambutan kegiatan Fasilitasi Pelatihan Revolusi Mental Bagi Pemuda digelar Kemenpora melalui Pusat Pembentukan Pemuda dan Olahraga Nasional (PPON) Kemenpora. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Habib, Anti Hoax, Nahdlatul Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Kunjungi Tebuireng, Dubes AS Tabur Bunga di Makam Mbah Hasyim

Jombang, Pondok Pesantren Tegal. Duta Besar Amerika, Joseph R Donovan ke Jombang, melakukan kunjungan ke Pesantren Tebuireng Jombang, Kamis (2/3). Dalam kunjungannnya Dubes sempat melakukan tabur bunga di makam KH Muhammad Hasyim Asyari dan keluarga.

Kunjungi Tebuireng, Dubes AS Tabur Bunga di Makam Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi Tebuireng, Dubes AS Tabur Bunga di Makam Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi Tebuireng, Dubes AS Tabur Bunga di Makam Mbah Hasyim

Dalam kunjungannya ke pesanren pimpinan KH Sholahuddin Wahid itu, Dubes Donovan didampingi Konjen. AS di Surabaya, Heather C Variava sempat membicarakan pertukaran pelajar dengan adik presiden RI ke 4 KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur ini.

"Kita tadi sempat membahas tentang ? pertukaran pelajar, saya kemudian diajak bertemu dengan santri-santri Tebuireng," terang Donovan usai melakukan pertemuan tertutup.

Donovan sangat terkesan dengan keramahtamahan pesantren dan budaya Jawa Timur. Pihaknya mengaku sangat terhormat dengan sambutan pengasuh pesantren dan para santri. "Saya sangat tertarik untuk mempelajari peran Islam di Indonesia ini," jelasnya.

Pondok Pesantren Tegal

Terkait pesantren sendiri, Dubes Donovan mengaku pihaknya belum banyak paham, karena dirinya baru 3 bulan di Indonesia. Masih banyakk yang harus mendapat jawaban atas ketidak tahuan dirinya. "Banyak pertanyaan yang butuh jawaban harus saya cari disini, kalau ada saran dari temen-temen media bisa kasih saran," pintanya.

Usai mengunjungi pesantren Tebuireng, Donovan juga mengunjungi Klenteng Hook San Kiong Gudo Jombang. Kedatangan dubes disambut Barongsai dan Wayang Po Te Hi. Kemudian Dubes melakukan dialog dengan berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa serta tokoh tokoh tiong hua.

Ketua Klenteng Tertua di Gudo Jombang, Toni Harsono mengatakan kunjungan Dubes ke Klenteng Gudo merupakan kunjungan balasan. ? Karena sebelumnya pihaknya dengan Waang Pothe Hei pernah berkunjung ke keduataan Besar AS di Jakarta.?

"Beliau ingin mengenal lebih dekat budaya warga keturuanan di Jombang sini. Dan bertemu tokoh-tokoh Tiong Hua di sini," ujar Toni. (Muslim Abdurrahman/Fathoni)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pertandingan, Habib Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

Sarbumusi NU: Regulasi THR Perlu Direvisi

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (DPP K-Sarbumusi NU) menilai Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) mengenai Tunjangan Hari Raya (THR) perlu direvisi sehubungan bertentangan dengan amanat undang-undang.

Presiden DPP K- Sarbumusi NU, Syaiful Bahri Anshori di Jakarta, Rabu (7/6) menyatakan, THR merupakan hak bagi semua pekerja/buruh baik pekerja formal di perusahaan maupun pekerja non formal di luar perusahaan.

Hal tersebut mengacu Pasal 7 ayat 1 PP No.78/2015 ? yang menyatakan "Tunjangan Hari Raya Keagamaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) wajib diberikan oleh pengusaha kepada pekerja/buruh".

Sarbumusi NU: Regulasi THR Perlu Direvisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi NU: Regulasi THR Perlu Direvisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi NU: Regulasi THR Perlu Direvisi

Dan berikutnya Pasal 7 ayat 3 "Ketentuan mengenai tunjangan hari raya keagamaan dan tatacara pembayarannya diatur dengan peraturan menteri".

Namun demikian, kata Syaiful menambahkan, DPP K-Sarbumusi NU dengan seksama telah melakukan pengamatan adanya hal yang tidak sinkron antara ketentuan dari peraturan perundang-undangan ini dengan turunannya dalam Permenaker Nomor 6/2016 Tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan bagi pekerja/buruh diperusahaan. Dan tidak mengatur bagi pekerja/buruh diluar perusahaan.

Pondok Pesantren Tegal

"Hal tersebut merupakan kesalahan fatal dari ketentuan pasal 1 angka 4 dan angka 6 UU.13/2003," kata dia menjelaskan.

Syaiful menguraikan, pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyatakan, “Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.”

Pondok Pesantren Tegal

Selain itu Pasal 1 angka 6 huruf a UU 13/2003, lebih tegas dinyatakan, “Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan hukum, baik milik swasta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.”

"Sesuai dengan ketentuan tersebut maka makna pemberi kerja ialah orang yang menjalankan sebuah usaha milik perseorangan, yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah yang dinyatakan dalam bentuk uang," ujarnya.

Oleh karena itu, setiap bentuk usaha yang mempekerjakan tenaga kerja, berkewajiban untuk menjalankan ketentuan perundang-undangan ketenagakerjaan yang berlaku, termasuk diantaranya upah minimum, upah lembur, cuti-cuti dan seluruh hak-hak yang diatur dalam UU 13/2003 atau ketentuan lainnya.

? ?

Berkaitan dengan itu, DPP K-Sarbumusi NU meminta kepada Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia untuk segera merevisi Permenaker No. 6 Tahun 2016 Tentang Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

"Alasannya jelas, karena mereduksi makna pekerja/buruh hanya di perusahaan. Permenaker tersebut harus meng-cover pekerja/buruh di luar perusahaan sebagaimana amanat Peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan," tandas Syaiful Bahri Anshori. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Habib Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Takbir Keliling Pengungsi di Seminari

Sleman, Pondok Pesantren Tegal

Posko Merapi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY) bagian pendampingan anak mengadakan takbir keliling. Takbir Keliling yang digelar pada malam Idul Adha (16/11) diadakan di dua tempat, posko Seminari Kentungan, jalan Kaliurang kilometer 7,3 dan di posko di Desa Tlogogdadi, Turi, Sleman.



Takbir Keliling Pengungsi di Seminari (Sumber Gambar : Nu Online)
Takbir Keliling Pengungsi di Seminari (Sumber Gambar : Nu Online)

Takbir Keliling Pengungsi di Seminari

Koordinator devisi pendampingan anak Posko PWNU, Ghozi Nurul Islam, mengatakan anak-anak yang turut serta mengikuti takbir keliling dari posko Seminari berjumlah 75, terdiri dari laki-laki dan perempuan. Sedangkan yang di Tlogodadi tidak kurang dari 90 anak.

“Takbir keliling ini salah satu bentuk aktivitas untuk mengurangi kejenuhan anak-anak. Kegiatan ini juga bertujuan melestarikan tradisi takbir keliling. Ini tradisi bagus. Ya, olah raga juga. Mengenal lingkungan tempat tinggal semenentara. Pokoknya ini banyak manfaatnya, meskipun tanggal yang tertera di spanduk salah, mestinya 10 Dzulhijjah, tapi ditulis 9,” ujar Ghozi sambin tersenyum.

Pondok Pesantren Tegal

“Anak-anak tampak senang diajak jalan-jalan, putar-putar kampung, bawa obor, menabung alat musik seadanya, sambil bertakbir,” tambanya. 

Dalam kesempatan itu, Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Cabang Kota Yogyakarta, Mohammad Zaimul Umam, menyatakan acara takbir keliling di Seminari Kentungan ini membuktikan bahwa pengungsi muslim yang ditampung di Seminari yang Katolik tidak ada masalah.

Pondok Pesantren Tegal

“Kami yang muslim dapat menjalankan aktivitas keagamaan dengan leluasa. Dan mereka yang Katolik, yang jadi tuan rumah, juga merasa nyaman, tidak ada yang merasa terganggu. Takbir keliling ini kreasi kita semua. Kami punya ide, mereka mendukung,” kelas Zaimul Umam yang turut takbir keliling di Seminari. (mz/hh)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal News, Habib Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

Mantan Rektor IIQ: Lanjutkan Rintisan Kiai Ali Mustafa Ya’qub

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal

Berpulangnya pakar Hadis Indonesia KH Ali Musthofa Ya’qub, Kamis (28/4) pagi, terus memantik kesedihan berbagai tokoh masyarakat dan ulama. Salah satunya pakar Tafsir yang juga Rektor Institut Ilmu Al-Quran masa bakti 2010-2014, Dr KH Ahsin Sakho Muhammad Asyrofuddin.

Mantan Rektor IIQ: Lanjutkan Rintisan Kiai Ali Mustafa Ya’qub (Sumber Gambar : Nu Online)
Mantan Rektor IIQ: Lanjutkan Rintisan Kiai Ali Mustafa Ya’qub (Sumber Gambar : Nu Online)

Mantan Rektor IIQ: Lanjutkan Rintisan Kiai Ali Mustafa Ya’qub

Menurut Kiai Ahsin, Kiai Ali Musthofa merupakan sosok yang gigih sekali dalam mencerdaskan di masyarakat melalui pembahasan hadis-hadis yang dhaif (lemah). Ini merupakan suatu usaha yang masih jarang dilakukan di Indonesia.

“Beliau selalu mengingatkan kepada masyarakat bahwa apa yang selama ini diyakini terkait amal ibadah ternyata berdasar kepada hadis palsu. Perlu kita lanjutkan apa yang dirintis beliau,” ujar Kiai Ahsin kepada Pondok Pesantren Tegal usai menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Al-Ikhlas Kementerian Agama Jln MH Thamrin Jakarta, Jumat (29/4) siang.

Rintisan Kiai Ali, lanjutnya, baik kajian hadis dari berbagai sisinya maupun pesantren Darussunnah. Kiai Ali sangat konsen di bidang ilmu hadis, sebuah rintisan yang patut diapresiasi.

Pondok Pesantren Tegal

“Beliau mengkritisi masyarakat yang cenderung lebih menekankan kepada persoalan spiritualitas pribadi tanpa melihat kepada lingkungan sekitar. Kiai Ali sedih melihat mereka yang selalu haji berkali-kali, mbok ya sebagian dananya itu untuk kepentingan fuqara’ wal masakin. Seandainya umat Islam sadar tentang itu, tentu ini patut diacungi jempol,” tuturnya.

Menurut Kiai Ahsin, upaya Kiai Ali Musthofa Ya’qub dalam mencoba mendinginkan kaum muslimin Indonesia yang mayoritas warga NU dengan kaum Wahabi juga patut diapresiasi. “Saya melihat upaya beliau ingin hubungan kedua kelompok ini menjadi cair,” ujar adik KH Husein Muhammad ini.

Bagi Kiai Ali, lanjutnya, ajaran NU dan Wahabi tidak ada perbedaan secara ushuliyyah, tapi hanya furuiyyah saja. Kiai Ali berharap hubungan warga NU dan Wahabi tidak retak hanya gegara persoalan sepele.

Pondok Pesantren Tegal

“Hal tersebut beliau lakukan dengan mengundang para tokoh, semisal Kiai Syukron Ma’mun, untuk berbicara di forum tentang bagaimana sebenarnya pandangan Wahabi dan keterkaitannya dengan para tokoh NU di sini,” ungkap doktor jebolan Universitas Ummul Quro Mekah ini.

Ditanya tentang pendapat tersebut, Kiai Ahsin mengaku sepakat dengan ijtihad Kiai Ali Musthofa ini. Pakar tafsir dan pakar hadis ini sering terlibat dalam kerja tim, misalnya saat merevisi tafsir yang diterbitkan Kementerian Agama.

“Saya dalam banyak hal sependapat dengan pemikiran beliau. Pada waktu saya ditunjuk sebagai ketua tim revisi tafsir Kemenag, beliau jadi wakil. Jadi, dalam lima tahun setiap bulannya kami kumpul di Wisma Tugu Kemenag, satu kamar dengan beliau. Tidak hanya tafsir, tapi kami juga membincang berbagai hal, mulai pesantren, kehidupan masyarakat, hingga isu-isu lainnya,” kenang Kiai Ahsin. (Musthofa Asrori/Fathoni)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kyai, Habib, Hadits Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 22 November 2017

Telaah Pelaku Bom Gereja Oikumene Samarinda

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal

Agama diturunkan dengan fungsi sebagai sumber nilai, norma dan kehidupan sehingga apa yang dikerjakan manusia dan yang dikehendaki Tuhan, bisa selaras. Namun, terkadang yang terjadi malah sebaliknya. Orang menggunakan dalih agama untuk melakukan hal-hal yang sebetulnya bertolak belakang dengan esensi agama yang penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan, cinta kasih, dan damai. 

Telaah Pelaku Bom Gereja Oikumene Samarinda (Sumber Gambar : Nu Online)
Telaah Pelaku Bom Gereja Oikumene Samarinda (Sumber Gambar : Nu Online)

Telaah Pelaku Bom Gereja Oikumene Samarinda

Tidak sedikit dari mereka yang membajak agama untuk melakukan kekerasan dan tindakan-tindakan teror, sehingga agama terlihat dengan wajah yang sangat menyeramkan dan menakutkan. Di antara ajaran agama yang mereka bajak adalah konsep jihad. Mereka memiliki keyakinan dan pemahaman bahwa jihad adalah perang atas nama Allah dan membunuh orang-orang kafir yang tidak mau memeluk Islam.

Ada banyak kasus soal jihad di Indonesia. Umumnya, mereka melakukan bunuh diri di tengah-tengah kerumumunan ‘orang kafir’. Dengan meledakkan dirinya dan ‘orang kafir’ tersebut, ia meyakini Tuhan akan menyambutnya dan akan memberinya imbalan surga dan bidadari. Ada juga yang melakukan pemboman di tempat-tempat yang diyakini sebagai tempat kemungkaran, umumnya rumah ibadah agama lain seperti gereja. 

Di antara kasus jihad teror yang terjadi di Indonesia adalah kasus Gereja Oikumene Sengkotek Samarinda tahun 2016 lalu. Kasus ini mendapat perhatian yang cukup ramai dari warga Indonesia. Setidaknya ada lima korban dan semuanya anak balita. Intan Olivia Marbun, salah seorang korban, meninggal dunia saat menjalani perawatan di rumah sakit. Tentu jihad teror ini meninggalkan pilu yang mendalam bagi semuanya. 

Pondok Pesantren Tegal

Sebagaimana hasil penelitian Balitbang Diklat Kemenag Ritahun 2016, pelaku teror Juhanda bukanlah orang baru dalam kasus peledakan. Sebelumnya, ia pernah mendekam di penjara selama 3,5 tahun karena melakukan pemboman di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Tangerang. Tahun 2014, ia dibebaskan dari penjara dengan status bebas bersyarat. 

Belakangan diketahui, Juhanda tinggal di Masjid Mujahidin Sengkoten, jaraknya hanya 180 langkah ke Gereja Oikumene. Tercatat, ia tergabung dalam kelompok Jem’ah Anshorut Tauhid (JAT) yang didirikan oleh Abu Bakar Ba’asyir.

Di kehidupan barunya ini ia berprofesi sebagai penceramah dan tukang ikan. Hasil penelitian juga mengungkapkan, ia menganut paham keagamaan Salafi Wahabi, sebuah paham yang kaku dalam beragama karena hanya memiliki peniliaan hitam-putih dan halal-haram saja. Ia mengembangkan pahamnya ini ke jamaah yang tergabung dalam majelis taklim di masjidnya tersebut.

Apabila kita cermati, proses deradikalisasi yang dilakukan oleh pihak terkait berjalan kurang efekttif. Sebelumnya, Juhanda sudah ditahan karena kasus pembomam lalu kemudian dikeluaran setelah mendapatkan tindak lanjut deradikalisasi. Namun, nyatanya setelah keluar, ia terlibat dari dalam kasus yang sama. 

Pondok Pesantren Tegal

Berdasarkan kasus Juhanda ini seharusnya ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh lembaga yang terkait dalam masalah terorisme. Pertama, metode deradikalisasi terpidana terorisme harus disusun secara baik dan benar agar bisa berjalan secara efektif. Kedua, meningkatkan kualitas penyuluh agama di penjara untuk mengikis pemahaman jihad terpidana terorisme.

Ketiga, terpidana terorisme harus dipantau secara intensif meskipun ketika ia sudah keluar penjara. Terakhir, melakukan pembinaan yang berkelanjutan terhadap mantan terpidana terorisme, termasuk diantaranya adalah dengan memberikan lapangan pekerjaan. (A Muchlishon Rochmat/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Habib Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 17 November 2017

Innalillah, KH Masduqi Mahfudz Wafat

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Achmad Masduqi Machfudz wafat pada Sabtu, 1 Maret 2014 sekitar pukul 17.27 WIB di Rumash Sakit Syaiful Anwar Malang. Informasi diteruskan dari staf syuriyah PBNU H Mahbub Muafi. 



Innalillah, KH Masduqi Mahfudz Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillah, KH Masduqi Mahfudz Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillah, KH Masduqi Mahfudz Wafat

Dikutip dari website pesantren yang diasuhnya, Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda, KH Masduqi Mahfudz dilahirkan di desa Saripan (Syarifan) Jepara Jawa Tengah pada 1 Juli 1935. 

Mantan Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur ini dikenal dengan gaya hidupnya yang sederhana. Ia memiliki prinsip hidup "Kalau kita sudah meraih berbagai macam ilmu terlebih ilmu agama, maka kebahagiaan yang akan kita capai tidak saja kebahagiaan akhirat, akan tetapi kebahagiaan dunia pun akan teraih."

Dari hasil pernikahannya dengan Nyai Chasinah putri dari KH Chamzawi Umar pada 7 Juli 1957 dalam usia 22 tahun, ia dikaruniai 9 orang anak. Sebelum memasuki dunia perkuliahan seluruh putra dan putrinya tanpa kecuali diharuskan mengenyam pendidikan di pesantren. Ini merupakan prinsip yang ditanamkan Kiai Masduqi para putra putrinya. Dari pengalaman mengaji di pesantren ini, meskipun lata belakang pendidikan putra putri beragam, mereka mampu menjalankan amanah dakwah di tengah-tengah masyarakat.

Pondok Pesantren Tegal

Terlahir di tengah-tengah keluarga religius yang taat, sejak kecil ia sudah dihiasi dengan tingkah laku, sikap dan pandangan hidup ala santri. Ia dikenal sangat mencintai dunia keilmuan. Sejak kecil, Kiai Masduqi menimba ilmu di pesantren dan sekolah umum dengan biaya sendiri dengan menyempatkan berkeliling menjual sabun dan kebutuhan yang lain tanpa sepengetahuan kiai atau orang tuanya sendiri.

Sambil menuntut ilmu di SGHA (Sekolah Guru dan Hakim Agama) di Yogyakarta, ia mengaji di Pesantren Krapyak asuhan Yogyakarta KH Ali Maksum. Sejak 1957 ia mengajar di berbagai sekolah di Kalimantan, seperti di Tenggarong, Samarinda, dan Tarakan. Pada 1964 ia melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel Malang, sekaligus sebagai dosen Tadribul Qiraah (bimbingan membaca kitab), bahasa Arab, akhlak, dan tasawuf. 

Pondok Pesantren Tegal

Pemahamannya terhadap kitab gundul sangat dalam, baik ketika dalam pembahasan masalah di forum majlisul bahtsi wal muhadlaratud diniyyah, kodifikasi hukum Islam, bahtsul masail, maupun tanya jawab hukum Islam pada majalah Aula. 

Pesantren Nurul Huda yang dirintisnya bermula hanya sebuah mushalla kecil yang berada di Mergosono gang 3B. Mushalla yang sebelumnya sepi oleh aktivitas ibadah mulai digalakkan semenjak ia berdomisili di situ ketika meneruskan pendidikannya di IAIN Sunan Ampel Cabang Malang. Karena keahliannya dalam bidang agama, banyak mahasiswa yang nyantri kepadanya dan kemudian terus ia semakin dikenal dan semakin banyak orang belajar agama sampai akhirnya musholla kecil tersebut menjadi pesantren yang sesungguhnya. (mukafi niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Daerah, Habib, Aswaja Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 12 November 2017

Ketua DPRD Jatim Usul Calon Santri Harus Tes Urine

Sidoarjo, Pondok Pesantren Tegal

Upaya mengantisipasi agar peredaran narkoba tidak masuk ke pesantren, Ketua DPRD Jawa Timur H Abdul Halim Iskandar mengusulkan, di saat penerimaan santri baru atau peserta didik baru supaya dilakukan tes urine. Hal ini untuk mencegah peredaran narkoba sejak dini.

Ketua DPRD Jatim Usul Calon Santri Harus Tes Urine (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua DPRD Jatim Usul Calon Santri Harus Tes Urine (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua DPRD Jatim Usul Calon Santri Harus Tes Urine

Tak hanya itu, pria yang pernah menjadi aktivis PMII ini juga meminta kepada aparat penegak hukum untuk lebih tegas dan gigih lagi dalam memberantas peredaran narkoba. Pasalnya, narkoba saat ini menjadi momok di kalangan masyarakat.

"Bagi santri pindahan atau siswa baru tidak ada salahnya jika dilakukan tes urine. Karena, narkoba saat ini menjadi momok bagi kita semua dan harus diperangi bersama," kata Halim saat menghadiri acara halal bihalal bersama Ikatan Alumni Pondok Pesantren Mambaul Maarif (IKAPPMAM) Denanyar, Jombang, di Pendopo Delta Wibawa Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Ahad (24/7).

Pondok Pesantren Tegal

Halim mengaku, dirinya pernah menelusuri sebuah pesantren yang dikabarkan ada tersangka narkoba. Ia menyatakan, penelusurannya itu hanya ingin memastikan kebenarannya. Dan ternyata, santri yang terjerat kasus narkoba itu sebelum berada di pesantren.

Pondok Pesantren Tegal

"Jadi, sebelum berada di pesantren, santri itu sudah terlibat kasus narkoba. Bukan saat berada di pesantren. Setelah saya mengetahui hal itu, akhirnya saya merasa lega," jelasnya.

Ia berharap, jangan sampai ada anak yang terlibat narkoba, kemudian mondok dan mempengaruhi santri yang lain. Untuk itu, pihaknya mengajak kepada semua elemen masyarakat untuk senantiasa memerangi peredaran barang haram tersebut.

"Mari, kita jaga keluarga kita dengan sebaik mungkin, serta kita jauhi narkoba sekarang juga," tegasnya. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Habib, Ahlussunnah Pondok Pesantren Tegal

Doa Rasulullah saat Memasuki Bulan Rajab

Bulan Rajab merupakan salah satu bulan haram, artinya bulan yang dimuliakan. Dalam Islam, terdapat empat? bulan haram, yakni Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.? Rasulullah mencontohkan, saat memasuki bulan Rajab beliau membaca:

? ? ? ? ? ? ? ?

Doa Rasulullah saat Memasuki Bulan Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Rasulullah saat Memasuki Bulan Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Rasulullah saat Memasuki Bulan Rajab

Allâhumma bârik lanâ fî rajaba wasya‘bâna waballighnâ ramadlânâ

“Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadlan.” (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)

Pondok Pesantren Tegal

Selain berdzikir dan berdoa, pada bulan Rajab umat Islam juga dianjurkan untuk puasa sebanyak-banyaknya, sebagaimana juga pada bulan-bulan haram lainnya. Sebutan sebagai bulan haram merujuk sejarah dilarangnya umat Islam mengadakan peperangan pada bulan-bulan itu. Wallâhu alam.

Pondok Pesantren Tegal

(Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Habib, Pahlawan Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 11 November 2017

Remaja Kini Kian Jauh dari Masjid

Kudus, Pondok Pesantren Tegal. Remaja sekarang terancam berkembang menjauhi masjid. Pasalnya, mereka cenderung suka pada segala yang instan tanpa harus kerja keras. Hal ini bahaya bagi mental remaja yang mestinya menanam benih spiritualitas dan intelektualitas keagamaan dalam dirinya. Selain itu, merebaknya paham Islam yang tak arif juga mengancam ideologi mereka.

Remaja Kini Kian Jauh dari Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Remaja Kini Kian Jauh dari Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Remaja Kini Kian Jauh dari Masjid

Pandangan tersebut muncul dalam sarasehan dan dialog interaktif remaja masjid di aula Masjid Agung Kudus, Jawa Tengah. Agenda yang bertema Peran Remaja Masjid dalam Memakmurkan Masjid pada Konteks Kekinian ini dihadiri oleh para remaja masjid dan aktivis Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kudus.

“Mereka belum mengerti, kalau hal itu tidak sesuai dengan budaya kita semestinya. Mungkin kalau diterapkan di negara lain cocok, tapi untuk negara kita, tidak,” papar Noor Badi, Ketua Umum Pengurus Masjid Agung Kudus, Kamis (19/2) itu.

Pondok Pesantren Tegal

Karena itu ia menekankan perlunya para ramaja untuk segera kembali kepada masjid. Yakni membuat masjid menjadi lebih makmur dengan kegiatan-kegiatan Islami yang sesuai dengan semangat kepemudaan.

Namun hasrat ini terdapat ganjalan ketika menemui tak sedikit pengurus bahkan ulama di desa-desa yang justru melarang jama’ah mengajak anak kecilnya masuk masjid. Jika demikian, maka logisnya ketika besar anak pun akan malas ke masjid. Selain itu, terdapat juga masjid pinggir jalan raya yang tak memiliki lahan parkir. Hal ini justru dimaksudkan agar masjid steril dari kegiatan ramai.

Pondok Pesantren Tegal

Imam Taufiq, salah satu narasumber mengatakan bahwa tak selayaknya masjid sebatas digunakan untuk ibadah mahdhah. “Masa Rosulullah masjid merupakan pusat pembangun peradaban umat,” tegas menantu mendiang KH. Ahmad Basyir yang kini mengasuh pesantren Darul Falah Besongo Semarang.

Taufiq yang juga Sekretaris MUI Jawa Tengah ini menjelaskan, fungsi masjid selain untuk ibadah yang biasanya masyarakat shalat, dzikir dan i’tikaf di dalamnya, adalah sebagai tempat ukhuwah Islamiyah, dakwah-pendidikan, serta muamalah. Dengan demikian, pengembangan masyarakat dan pelayanan sosial pun semestinya dapat diakomodir oleh masjid.

Terdapat tantangan untuk mencapainya, baik internal maupun eksternal. Secara internal, tantangan yang mengahdang antara lain invasi ideologi sekular, modernisasi, dekadensi moral dan akidah, pecah belahnya masyarakat, serta bencana alam. Secara eksternal, tantangan berupa masalah khilafiyah, fanatisme, degradasi intelektual, dan kemiskinan. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Makam, Habib, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 10 November 2017

Buka Pra-Munas Lampung, Rais ‘Aam Ingatkan Pentingnya Penguatan Organisasi

Lampung, Pondok Pesantren Tegal 

Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maruf Amin menjelaskan tentang perlunya penguatan organisasi NU yang akan menjadi satu dari dua tema diskusi pra Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2017 yang diselenggarakan di Lampung, Sabtu (4/11). 

Buka Pra-Munas Lampung, Rais ‘Aam Ingatkan Pentingnya Penguatan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Buka Pra-Munas Lampung, Rais ‘Aam Ingatkan Pentingnya Penguatan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Buka Pra-Munas Lampung, Rais ‘Aam Ingatkan Pentingnya Penguatan Organisasi

Menurutnya, karena selain NU di penghujung 100 tahun, akidah, fikroh, harokah, amaliyah menurut paham ahlussunnah wal jamaah juga karena NU sebagai jamiyah (organisasi). 

"Kita harus melakukan penguatan organisasi di semua jajaran. Jangan sampai ada organisasi di satu bagian yang tidak jalan," tegas Kiai Maruf. 

Mengingat berbagai tugas yang diemban NU, oleh karena itu, katanya, harus dilakukan konsolidasi dan revitalisasi sehingga mampu melakukan tugas-tugas berat. 

Pondok Pesantren Tegal

Tugas NU saat ini, menurut Kiai Maruf Amin, ialah ada dua. Pertama radikalisme dan intoleran. Kedua, kesenjangan sosial dan ekonomi. 

"Dulu NU melawan penjajah, sekarang jihad NU melawan radikalisme dan Intoleran. Ini komitmen NU terhadap bangsa dan negara," katanya. 

Pondok Pesantren Tegal

Usai menyampaikan sambutan, Kiai Maruf turun dan menabuh bedug sebagai tanda dibukanya pra Munas-Konbes NU 2017 di Lampung. 

"Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Munas-Konbes 2017 di Lampung ini secara resmi dibuka," ujarnya. 

Sementara seminar sendiri akan dibagi dalam dua sesi. Di sesi pertama mengangkat tema Penguatan Organisasi Menuju Satu Abad Nahdlatul Ulama, dan sesi kedua, seminar membahas tentang Reforma Agraria untuk Pemerataan Kesejahteraan Warga. 

Hadir pada pembukaan pra Munas-Konbes NU ini, Wakil Ketua Umum PBNU H Mochammad Maksum Machfoedz, segenap pengurus PBNU, Menteri Agraria dan Tata Ruang Indonesia Sofyan A Jalil, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Sutono, seluruh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Lampung, PWNU Jawa Barat, PWNU DKI Jakarta, dan PWNU se-Sumatera. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Habib Pondok Pesantren Tegal

Warga Jember, Ikutilah Jalan Santai Santri 5 November 2017

Jember, Pondok Pesantren Tegal. Pimpinan Cabang GP Ansor Jember, Jawa Timur menginisiasi Jalan Sehat Santri. Kegiatan untuk memeriahkan Hari Santri Nasional 2017 tersebut dijadwalkan Ahad, 5 November 2017 mulai pukul 06.00 WIB, berpusat di Alun-alun Kabupaten Jember.

Saat ini persiapan telah seratus persen rampung dan tinggal menunggu hari H nya. Pantauan Pondok Pesantren Tegal, Rabu (1/11) hari ini tampak panitia sibuk melayani para pendaftar dari berbagai kalangan.

“Diperkirakan JSS diikuti 30 ribu lebih peserta baik santri dari pondok pesantren atau lembaga pendidikan maupun masyarakat umum,” ungkap H Kholidi Zaini, salah satu panitia pelaksana.

Warga Jember, Ikutilah Jalan Santai Santri 5 November 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Jember, Ikutilah Jalan Santai Santri 5 November 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Jember, Ikutilah Jalan Santai Santri 5 November 2017

Kholidi menyebut, yang unik dari kegiatan rutin tahunan ini mewajibkan pesertanya memakai busana muslim.

"Syaratnya bersarung bagi para peserta putra dan berbusana muslimah untuk peserta putri,” ujar Kholidi.

Syarat pemakaian sarungan bagi peserta putra karena sarungan sudah menjadi identitas santri terlebih bagi warga Nahdliyin dan merupakan salah satu kearifan budaya lokal. 

Pondok Pesantren Tegal

“Di samping itu, kegiatan ini mudah-mudahan menjadi semakin mengeratkan kebersamaan dan persatuan antarsesama anak bangsa, khususnya warga masyarakat Kabupaten Jember,” papar Kholidi.

Untuk menjadi peserta JSS, tidak dipungut biaya pendaftaran. Meskipun gratis, peserta berpeluang mendapatkan puluhan hadiah utama dan ratusan hadiah menarik lainnya.

Jalan Sehat Santri terlaksana berkat kerjasama dengan PCNU Jember, SBA Institute dan dukungan banom NU.

Pondok Pesantren Tegal

Masyarakat yang berminat mengikuti kegiatan, dapat mendaftarkan diri di Kantor PC GP Jember, Jl.Danau Toba No.1 Tegalgede Sumbersari Jember. Pendaftaran dibuka pukul 09.00-15.00.

Berikut syarat dan ketentuan pendaftaran:

1. Membawa fotokopi KTP/SIM/Kartu Pelajar/Mahasiswa/Kartu Santri untuk ditukar dengan 1 Kupon JSS.

2. Peserta utk 1 keluarga membawa fotokopi KK untuk ditukar dengan Kupon JSS.

3. Peserta dari lembaga/Pondok pesantren membawa surat rekomendasi dari pengurus/pengasuh untuk ditukar dengan Kupon JSS.

(Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Halaqoh, Sholawat, Habib Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 04 November 2017

PKB akan Lebih Kritis pada Pemerintah

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Partai Kebangkitan Bangsa melalui fraksinya di DPR RI mendeklarasikan diri sebagai oposisi dan berjanji bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Sikap kritis ini, bukan berarti menggoyang pemerintahan Presiden Yudhoyono, tetapi mengkritisi setiap kebijakan pemerintah demi kepentingan bangsa dan negara. Soalnya, banyak kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat," kata Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa di DPR RI, Effendi Choirie, setelah menerima tugas sebagai ketua fraksi dari pejabat lama Ida Fauziah di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Senin.

PKB akan Lebih Kritis pada Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
PKB akan Lebih Kritis pada Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

PKB akan Lebih Kritis pada Pemerintah

Sementara itu, dalam acara serahterima pimpinan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, hadir beberapa pimpinan fraksi, di antaranya Ketua Fraksi Partai Golkar, Priyo Budi Santoso, Ketua Fraksi Partai Demokrat, Syarif Hasan, Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional, Zulkifli Hasan, Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Lukman Hakiem Saifudin, juga Wakil Ketua DPR RI, Muhaimin Iskandar, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Laode Ida serta sejumlah anggota dewan.

Kepada wartawan, Effendi Choirie yang akrab disapa Gus Choi menambahkan, pihaknya juga telah sepakat untuk mendukung usulan amandemen ke-5 atas Undang Undang Dasar (UUD) 1945.

"Sikap kritis yang dilakukan fraksi kami ini sesuai dengan keputusan rapat pleno DPP PKB yang dihadiri Ketua Dewan Syuro, Gus Dur. Beliau dalam rapat pleno meminta ketua fraksi yang baru bersikap kritis dan berani kepada pemerintah. Ini sesuai dengan moto baru PKB yakni, kritis, konstruktif dan solutif," katanya.

Pondok Pesantren Tegal

Ia berharap, sikap yang dilakukan fraksinya itu tidak disalahartikan oleh fraksi-fraksi lainnya, seperti Fraksi Partai Demokrat sebagai pendukung pemerintah. "Apa yang kami lakukan ini untuk mengkritisi kebijakan pemerintah jika tidak pro-rakyat. Tetapi bukan bertujuan untuk menjatuhkan pemerintah," katanya.

Gus Choi lalu mencontohkan, kebijakan pemerintah Presiden Yudhoyono yang terkesan plin-plan, misalnya, dukungan pemerintah atas Resolusi Dewan Keamanan PBB dengan memberikan sanksi lebih berat terhadap Iran, juga proses penyelesaian kasus lumpur Lapindo serta DCA RI-Singapura.



Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pondok Pesantren, Habib, Pertandingan Pondok Pesantren Tegal