Jumat, 06 Oktober 2017

Perihal Maaf-Memaafkan

Oleh Fathoni Ahmad

Momen Idul Fitri atau Lebaran dimanfaatkan oleh umat Islam di Indonesia untuk melestarikan tradisi silaturrahim. Dalam tradisi lebaran di Indonesia, silaturrrahim tidak hanya dijadikan sarana mengunjungi keluarga, sanak saudara, dan handai taulan, tetapi juga menjadi momen penting di mana manusia yang tidak luput dari salah dan dosa untuk saling maaf-memaafkan.

Perihal Maaf-Memaafkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Perihal Maaf-Memaafkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Perihal Maaf-Memaafkan

Dengan kata lain, silaturrahim ini menuntut upaya maaf-memaafkan. Muhammad Quraish Shihab (Membumikan Al-Qur’an, 1999) memberikan petunjuk terkait dengan sikap yang perlu dilakukan manusia dalam menghadapi seseorang yang melakukan kesalahan. Jika merujuk pada Qur’an Surat Ali Imran ayat 134, akan ditemukan bahwa seorang Muslim yang bertakwa dituntut atau dianjurkan untuk mengambil paling tidak satu dari tiga sikap dari seseorang yang melakukan kekeliruan terhadapnya, yaitu menahan amarah, memaafkan, dan berbuat baik terhadapnya.

“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran: 134)

Lain halnya ketika seseorang yang menekadkan diri untuk tidak berbuat baik kepada yang berbuat salah kepadanya. Bahkan ia berani bersumpah untuk tidak berbuat baik terhadap seseorang yang melakukan kesalahan kepadanya. Maka Al-Qur’an menganjurkan agar ia memaafkan dan melakukan apa yang diistilahkan oleh Al-Qur’an dengan al-shafeh. Hal ini seperti yang diterangkan dalam Surat An-Nur ayat 22:

Pondok Pesantren Tegal

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Dari kedua ayat yang dikutip di atas, dapat dipahami bahwa sebenarnya ada tingkatan yang lebih tinggi daripada sekadar memberi dan meminta maaf (dijelaskan di bagian akhir tulisan ini). Hal tersebut akan terlihat jelas ketika seseorang memahami apa itu istilah maaf. Kata maaf? berasal dari Al-Qur’an al-afwu yang berarti menghapus, karena yang memaafkan menghapus bekas-bekas luka di hatinya, begitu pandangan Quraish Shihab.

Hal itu bisa ditegaskan bahwa bukan memaafkan namanya jika masih tersisa bekas luka di hati dan jika masih ada dendam yang membara dalam hatinya. Boleh jadi ketika itu apa yang dilakukannya baru sampai pada tahap menahan amarah. Artinya, jika manusia mampu berusaha menghilangkan segala noda atau bekas luka di hatinya, maka dia baru bisa dikatakan telah memaafkan orang lain atas kesalahannya.

Oleh karena itu, syariat secara prinsip mengajarkan bahwa seseorang yang memohon maaf atas kesalahnnya kepada orang lain agar terlebih dahulu menyesali perbuatannya, bertekad untuk tidak mengulanginya lagi, serta memohon maaf sambil mengembalikan hak yang pernah diambilnya. Kalau berupa materi, maka materinya dikembalikan, dan kalau bukan materi, maka kesalahan yang dilakukan itu dijelaskan kepada yang dimohonkan maafnya.

Pondok Pesantren Tegal

Penulis kira hal demikian juga yang menjadi syarat bertaubat seorang hamba kepada Tuhannya. Taubat menuntut penyesalan yang mendalam atas segala salah, khilaf, dan dosa yang diperbuat seorang hamba. Esensi taubat juga bukan hanya satu arah saja, yakni hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga mengubah perilaku sosialnya di tengah masyarakat menjadi laku yang positif. Bahkan dalam urusan meminta ampunan kepada Allah atas segala kesalahannya kepada orang lain, Allah tidak akan mengampuni jika yang bersangkutan belum meminta maaf kepada orang tersebut. Jadi, keseimbangan hidup di bumi perlu diperhatikan ketika ingin memperoleh kebaikan di langit.

Terkait dengan kesalahan ini, kenyatannya memang tidak mudah menyampaikannya kepada orang yang telah kita sakiti. Apalagi jika kesalahan tersebut sebelumnya tidak diketahui orang yang kita sakiti, biasanya dalam bentuk fitnah. Mungkin bukannya maaf yang kita terima tetapi justru kemarahan dan putus hubungan. Dalam hal ini, Quraish Shihab mengungkapkan doa yang dibaca Nabi Muhammad kala menghadapi situasi di atas:

Rasulullah SAW mengajarkan doa: “Ya Allah, sesungguhnya aku memiliki dosa kepada-Mu dan dosa yang kulakukan kepada makhluk-Mu. Aku bermohon Ya Allah, agar Engkau mengampuni dosa yang kulakukan kepada-Mu serta mengambil alih dan menanggung dosa yang kulakukan kepada makhluk-Mu.”

Dalam doa Nabi tersebut tersirat bahwa diharapkan dosa-dosa yang dilakukan terhadap orang lain yang telah dimohonkan maaf kepada yang bersangkutan akan diambil alih oleh Allah walaupun yang bersangkutan tidak memaafkannya. Pengambilalihan tersebut antara lain dengan jalan Allah memberikan kepada yang bersangkutan ganti rugi berupa imbalan kebaikan dan pengampunan dosa-dosanya. Tentu hal ini kembali kepada Allah, Sang Maha Pengendali segala sesuatu.

Maaf tingkat tinggi

Maaf-memaafkan tidak terlepas dari dampaknya terhadap kehidupan yang luas di tengah masyarakat. Meminta maaf membutuhkan sikap ksatria untuk mengakui segala kesalahannya kepada orang lain. Hal ini berangkat dari diktum bahwa meminta maaf tak semudah memberi maaf. Namun tidak lantas bahwa memberi maaf juga persoalan mudah, karena ia menuntut kelapangan dada untuk menerima maaf orang yang pernah menyakiti hatinya.

Mengingat dalamnya arti meminta dan memberi maaf, sebuah pertanyaan terlontar, adakah yang lebih tinggi tingkatannya daripada maaf (al-afwu)? Al-Qur’an mengajarkan bahwa dalam maaf-memaafkan butuh sikap ksatria dan kelapangan dada, ini benang merah yang dapat ditarik. Quraish Shihab menerangkan, tingkatan yang lebih tinggi dari al-afwu adalah al-shafhu. Kata ini pada mulanya berarti kelapangan.

?

Lebih jauh, Pakar Tafsir Al-Qur’an itu menjelaskan, dari al-shafhu dibentuk kata shafhat yang berarti lembaran atau halaman, serta mushafahat yang berarti berjabat tangan. Seseorang melakukan al-shafhu seperti anjuran ayat yang dipaparkan di awal, dituntut untuk melapangkan dadanya sehingga mampu menampung segala ketersinggungan serta dapat pula menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru, inilah esensi dari Hari Raya Lebaran atau Idul Fitri.

Mengutip Al-Raghib Al-Asfahaniy, seorang pakar bahasa Arab dan Al-Qur’an, Quraish Shihab menyatakan bahwa al-shafhu yang digambarkan dalam bentuk berjabat tangan itu, lebih tinggi nilanya daripada memaafkan. Bukankah masih ada satu-dua titik yang sulit bersih dalam lembaran yang salah walaupun kesalahannya telah dihapus? Atau bukankah lembaran yang telah ternoda walaupun telah bersih kembali tidak sama dengan lembaran yang baru?

Dari renungan-renungan tersebut, dapat ditarik esensi bahwa membuka lembaran baru merupakan langkah yang sangat penting. Sama signifaknnya ketika masing-masing orang yang terlibat dalam sebuah kesalahan untuk menutup lembaran lama. Sehingga hakikat Idul Fitri (kembali kepada kesucian) dapat diraih sebagai wujud peneguhan sikap ihsan, karena itulah yang paling disukai Allah. Wallahu a’lam bisshowab.

Penulis adalah Pengajar di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pesantren Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 05 Oktober 2017

Atasi TB-HIV, LKNU Blitar Bentuk Kelompok Relawan

Blitar, Pondok Pesantren Tegal. Pengurus Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama Blitar menggelar rapat koordinasi pembentukan tim pemberantas TB-HIV, Selasa (7/10). Pembentukan tim kerja yang melibatkan unsur Pemkab Blitar, Dinkes Blitar, dan lembaga kesehatan PBB, dimaksudkan untuk menemukan kesepahaman bersama bagi tujuan program pengendalian TB-HIV di Blitar.

Atasi TB-HIV, LKNU Blitar Bentuk Kelompok Relawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Atasi TB-HIV, LKNU Blitar Bentuk Kelompok Relawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Atasi TB-HIV, LKNU Blitar Bentuk Kelompok Relawan

Wakil Bupati Blitar Drs H Rijanto dalam pembukaan menyampaikan, “Pengendalian TB dan HIV sangat ditentukan oleh komitmen dan dukungan semua pihak pemerintah maupun masyarakat. Kegiatan hari ini merupakan bentuk komitmen yang tinggi dari LKNU Blitar.”

Pada pertemuan ini, Kepala Dinkes Blitar dr Kuspardani memaparkan beberapa fakta ko-infeksi TB-HIV dan dasar kebijakan TB-HIV. Sementara Wijianto sebagai fasilitator advokasi LKNU Blitar menyampaikan isu stretegis program TB di Blitar berdasarkan hasil survey dan kajian indeks kepuasan masyarakat terhadap pelayanan pasien TB di puskesmas.

Pondok Pesantren Tegal

Di akhir pertemuan mereka menyepakati rencana tindak lanjut untuk membahas manajemen program dan jejaring pada semua tingkatan, kolaborasi dan kerjasama antara program TB dan HIV di Blitar.

Pondok Pesantren Tegal

Ketua LKNU Blitar dr Wahyuniati menyampaikan, gerakan koordinasi ini merupakan wujud kepedulian LKNU Blitar terhadap masalah kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.

“Melalui program Community empowerment of People Against Tuberculosis (CEPAT-LKNU) secara proaktif kita melakukan berbagai upaya mobilisasi sumberdaya sebagai upaya pengendalian TB secara optimal.” (Red. Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Tegal

Ketua NU Aceh Ungkap 3 Alasan NU Berdiri

Aceh Singkil, Pondok Pesantren Tegal. Ketua PWNU Provinsi Aceh Tgk. H. Faisal Ali mengungkapkan, ada tiga alasan yang melatarbelakangi lahirnya NU, yaitu motif agama, motif nasionalisme dan motif mempertahankan faham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Ketua NU Aceh Ungkap 3 Alasan NU Berdiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua NU Aceh Ungkap 3 Alasan NU Berdiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua NU Aceh Ungkap 3 Alasan NU Berdiri

NU lahir, kata dia, bertujuan membentengi umat Islam, khususnya di Indonesai, agar tetap teguh pada ajaran Islam dengan mengikuti faham sunnah nabi, sahabat dan ulama salaf, sehingga tidak tergiur dengan ajaran Islam sempalan dan sesat.

Ia menjelaskan hal itu pada pelantikan Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Kabupaten Aceh Singkil priode 2014-2019. Acara yang digelar di depan Kantor Bupati Aceh Singkil, Selasa (18/11) tersebut dihadiri oleh ratusan pengurus mulai ranting dan banom-banom NU  Kabupaten Aceh Singkil.

Pondok Pesantren Tegal

Turut hadir Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Tgk. H. Nurruzzahri Yahya (Waled Nu), Bupati Aceh Singkil H. Safriadi, SH, Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU) Provinsi Aceh Tgk. H. Faisal Ali, Sekretaris Tanfidziyah PWNU Aceh Asnawi M. Amin, S.Ag dan tokoh-tokoh NU yang ada di Kabupaten Aceh Singkil.

Bupati Aceh Singkil H. Safriadi, S.H dalam sambutannya, mengajak seluruh warga NU, untuk memiliki andil besar dalam penegakan syariat Islam dan membangun kemaslahatan umat yang sangat diperlukan saat ini, khususnya dalam pembentukan moral dan akhlak manusia ke jalan yang diridhoi Allah SWT. (Indra/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Makam, Pendidikan Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 04 Oktober 2017

Konsolidasi Batin Perlu Digalakkan

Makassar, Pondok Pesantren Tegal. Tradisi membaca dan mendengarkan Al-Qur’an (simaan) perlu terus-menerus digalakkan? agar umat Islam semakin mencintai Al-Qur’an, sekaligus sebagai ajang konsolidasi batin warga Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU).

Hal itu disampaikan Ketua Tandfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Makassar H Abdul Kadir Ahmad dalam acara Sima’an Al-Qur’an di Masjid H M Asyik, jalan A P Pettarani Makassar, Ahad (5/8).

Konsolidasi Batin Perlu Digalakkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Konsolidasi Batin Perlu Digalakkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Konsolidasi Batin Perlu Digalakkan

Konsolidasi batin juga sangat penting dalam rangka persiapan memasuki bulan suci Ramadhan yang tidak lama lagi akan dijalani, sehingga umat Islam akan semakin siap melakukan latihan mental dan ruhani.

“Konsolidasi batin ini sangat perlu untuk membangun semangat kecintaan pada Al-Qur’an agar dengan membaca serta mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an dapat membuat hati kita merasa aman dan tentram,” ujar Ketua Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Islam Kota Makassar yang juga adalah Dosen Filsafat Agama pada Universitas Islam Makassar itu.

Senada dengan Kadir Ahmad, Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Makassar, H. Nasran Mone mengemukakan, tradisi membaca dan mendengarkan Al-Qur’an agar senantiasa dikembangkan oleh PCNU kota Makassar untuk mengarahkan masyarakat pada pola kehidupan yang baik dan benar sesuai tuntunan agama.

“Kami di legislatif Kota Makassar salut dan bangga atas kerja dan karya Pengurus Cabang NU Makassar dalam rangka pengelolaan dan penguatan kelembagaan yang secara langsung menyentuh masyarakat khususnya umat Islam”, ujar mantan aktivis PMII ini.

Pondok Pesantren Tegal

Lanjut Nasran, bahkan Pemerintah Kota Makassar dalam hal ini Walikota Makassar turut hadir dan memberikan sambutannya dihadapan ribuan jamaah Nahdliyin dan ummat Islam lainnya yang hadir di Masjid ini oleh karena kepedulian dan kecintaannya untuk membangun ummat Islam di Makassar.

“Bukan hanya itu, hal-hal lain yang dilaksanakan oleh PCNU Kota Makassar antara lain Lailatul Ijtima’ setiap malam jumat di 14 Kecamatan dalam wilayah kota Makassar, Tradisi membaca Barazanji, kaderisasi Dai-dai muda NU senantiasa di apresiasi secara positif oleh Pemerintah Kota Makassar dan Pemerintah Kota Makassar pun selalu siap untuk membantu pelaksanaan program-program kerja NU Makassar,” tandasnya.

Walikota Makassar H Ilham Arif Sirajuddin dalam sambutannya mengatakan bahwa Tradisi membaca Al-Qur’an wajib dilaksanakan oleh siapa saja yang mengaku ummat Islam demi membangun ummat dan bangsa. Sebab kewajiban ini tidak tertulis, semata-mata merupakan tanggung jawab nurani. Dirinya berpesan agar NU Makassar dan jamaahnya lebih proaktif dan sama-sama menjaga kerukunan ummat beragama sehingga tidak tercipta perpecahan antara ummat yang satu dengan yang lainnya.

Pondok Pesantren Tegal

“Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada NU Makassar yang telah banyak membantu program kerja Pemerintah Kota Makassar dalam bidang keagamaan, dan semoga jalinan kerja sama ini dapat terus ditingkatkan,” tutupnya.(saz)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tegal, AlaNu, Anti Hoax Pondok Pesantren Tegal

Senin, 02 Oktober 2017

LPBHNU Sidoarjo Terima Pendampingan Hukum untuk Kepala Desa

Sidoarjo, Pondok Pesantren Tegal. Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) Sidoarjo menerima pendampingan hukum bagi Kelapa Desa (kades) yang terjerat kasus proyek operasi agraria nasional (prona).

Pasalnya, maraknya kepala desa di wilayah Kabupaten Sidoarjo yang terjerat kasus pungutan liar prona. LPBHNU juga akan melakukan koordinasi dengan Bupati Sidoarjo agar biaya materai, petok dan kepengurusan surat ditanggung pemerintah Sidoarjo agar kepala desa tidak terjebak dalam program prona gratis.

LPBHNU Sidoarjo Terima Pendampingan Hukum untuk Kepala Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBHNU Sidoarjo Terima Pendampingan Hukum untuk Kepala Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBHNU Sidoarjo Terima Pendampingan Hukum untuk Kepala Desa

"Ketika kasus pungutan liar program prona bergulir, banyak kepala desa terperangkap oleh kebijakannya. Padahal program prona sendiri melihat rujukan dari Menteri Agraria dan Tata Ruang sebetulnya gratis. Ketika proses itu terjadi dan mendengar proyek operasi agraria nasional itu gratis, ada yang melapor ke aparat baik kejaksaan maupun polisi. Sehingga ada kades yang terkena operasi tangkap tangan (OTT)," kata Ketua LPBHNU Sidoarjo, H Makin Rahmat usai acara silaturahim di aula PCNU Sidoarjo, Selasa (14/2).

Makin Rahmat menyebutkan bahwa, pihaknya juga sudah menerima pengaduan dari ketua paguyuban kades se-Sidoarjo untuk diminta memberikan pendampingan agar Kades lain tidak resah dan galau. Dengan demikian, kades se-Sidoarjo bisa melaksanakan program prona yang digagas oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang RI dengan lancar tanpa terjerat masalah hukum.

Pondok Pesantren Tegal

Perlu diketahui bahwa kenyataan dilapangan, kades di Sidoarjo banyak yang terjebak dalam program prona karena telah melakukan penarikan uang ke warga dengan dalih untuk membayar sejumlah adminitrasi seperti pembelian petok, materai dan surat-surat lainnya. Dengan peraturan desa yang dibuat sendiri, kades yang membuat kebijakan akhirnya berhadapan dengan hukum kepolisian maupun kejaksaan karena terindikasi pungli.

"Kami sudah ketemu bupati dan dalam waktu dekat akan ketemu dengan Legislatif untuk membahas biaya surat, petok dan lain sebagainya yang ditanggung pemerintah daerah, sehingga masyarakat tidak dikenakan biaya sama sekali," tegas Makin Rahmat. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Olahraga Pondok Pesantren Tegal

Dana Sosial Pesantren Tebuireng Jadi Sasaran Riset Mahasiswa

Jombang, Pondok Pesantren Tegal. Selama tiga minggu, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri Jawa Timur meneliti pengelolaan keuangan di Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng atau LSPT Jombang. Mereka yang berjumlah lima orang ini ingin mempraktikkan sejumlah pengetahuan yang telah diraih selama berada di kampus.

"Kami dari Fakultas Syariah Program Studi Ekonomi Syariah," kata Krisna Winata Putra, pimpinan kelompok tersebut saat dikonfirmasi Pondok Pesantren Tegal, Rabu (11/2).

Dana Sosial Pesantren Tebuireng Jadi Sasaran Riset Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Dana Sosial Pesantren Tebuireng Jadi Sasaran Riset Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Dana Sosial Pesantren Tebuireng Jadi Sasaran Riset Mahasiswa

Para mahasiswa sejak tanggal 9 hingga 28 Februari mendatang akan meneliti lebih dekat bagaimana LSPT mendapatkan dana sosial dari para donatur, pengadministrasian, penyaluran dana untuk kegiatan sosial, hingga pelaporan kepada khalayak.

Pondok Pesantren Tegal

"Para peserta juga terlibat dalam kegiatan yang diselenggarakan LSPT, khususnya saat memberikan santunan kepada sejumlah kalangan," kata Krisna, sapaan akrabnya.

Pondok Pesantren Tegal

Seperti pada kegiatan penyaluran bantuan. Bersama salah seorang pengurus, mereka diikutkan kegiatan penyaluran paket susu formula kepada masyarakat. "Kami menyaksikan, bantuan ini tidak semata diberikan kepada kalangan muslim, juga masyarakat yang beragama lain," tandas mahasiswa kelahiran Kediri ini. Bagi para mahasiswa, apa yang dilakukan LSPT adalah cerminan rasa solidaritas membantu masyarakat kurang mampu dengan tanpa membedakan agama dan keyakinan, lanjutnya.

Keterlibatan dengan kegiatan LSPT juga mereka rasakan saat pemberian santunan kepada para 200 fakir miskin dan kaum dluafa di Masjid Ulul Albab yang berada di lingkungan Pesantren Tebuireng. Selama acara berlangsung, para mahasiswa ikut dalam kegiatan shalat dhuha berjamaah, mendengarkan mauidhah hasanah, pemberian santunan dan layanan kesehatan secara gratis.

Bagi mahasiswa semester 6 ini, pengalaman mengikuti sejumlah kegiatan LSPT merupakan hal menarik dan berharga. "Hal ini juga menjadi pembanding dengan ilmu yang selama ini kami peroleh di kampus," ungkapnya.

Meskipun belum genap semingu terlibat dalam kegiatan LSPT, para mahasiswa merasa bahwa secara umum pengelolaan keuangan di lembaga sosial ini lumayan baik. "Apalagi kami dibantu dengan keterbukaan informasi yang disampaikan pengurus," katanya. Keberadaan majalah dan website juga menjadi sarana dalam menyampaikan informasi keadaan keuangan yang masuk serta digunakan sejumlah kegiatan, lanjutnya.

Waktu 3 minggu akan benar-benar dioptimalkan para mahasiswa untuk mendapatkan gambaran pengelolaan administrasi dan keuangan LSPT. "Kami juga akan memberikan saran serta masukan kepada lembaga ini sesuai dengan ilmu yang telah kami dapatkan selama kuliah," pungkas Krisna. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nusantara, Khutbah Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 01 Oktober 2017

Para Predator Gol Tumbang

Bandung, Pondok Pesantren Tegal

Bola itu bulat. Begitu frasa klasik dalam dunia sepak bola. Di lapangan, sebelum pluit panjang dibunyikan, semuanya hanyalah kemungkinan-kemungkinan. Sementara menang dan kalah sepertinya tergantung kemauan bola itu sendiri. Jerman Barat misalnya, tim yang tak diunggulkan bisa mengalahkan Hongaria pada Piala Dunia 1954 di Swiss.

Di Liga Santri Nusantara (LSN) 2017, tim yang sangat diunggulkan menang dan masuk semifinal, Walisongo, kandas oleh tim debutan, Arraisiyah. Tim asal Sragen kalah tipis 0-1 dari tim Tangerang Selatan pada pertandingan di stadion Siliwangi kota Bangdung, Jumat, (27/10).

Para Predator Gol Tumbang (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Predator Gol Tumbang (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Predator Gol Tumbang

Walisongo, memulai seri nasional atau putaran final LSN dengan kalah tipis dari Darul Huda, 0-1. Hari berikutnya, mereka menang telak dengan telak 8-0. Hari berikutnya, mereka menekuk Nurul Fauzi 2-0.

Pondok Pesantren Tegal

Walisongo merupakan tim yang tiga tahun berturut-turut masuk seri nasional. Bahkan tahun lalu menjadi runner up setelah dikalahkan Nur Iman di grand final.

Secara material, 70 persen pemain Walisongo mengikuti LSN tahun lalu. Sekitar 20 persen pemain 2015, dan hanya 10 persen pemain baru. Dengan demikian, para pemain mereka memiliki pengalaman atmosfer putaran final Liga Santri dibanding Arraisiyah yang mengalahkannya sore ini.

Pondok Pesantren Tegal

Lebih dari itu, Walisongo merupakan sedikit dari pesantren-pesantren yang memiliki tradisi sepak bola yang baik. Mereka memiliki Sekolah Sepak Bola (SSB) yang saat ini memiliki 70 pemain. Tradisi semacam itu diperkuat pula dengan tradisi kompetisi yang diselenggarakan pesantren milik Ketua PCNU Sragen, KH Maruf Islamuddin, sejak 2010.

Namun, bola itu bulat. Mereka harus pulang lebih cepat ke Sragen. Padahal berbus-bus santri yang akan menjadi supporter, telah disiapkan datang ke kota kembang ini.

Tim lain, yang selalu merajai di region Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, DDI Kaballangan, memiliki nasib serupa Walisongo. Mereka tampil di seri nasional dengan meyakinkan, menang telak dengan mencukur Almadaniyah Tabalong, Kalimantan Selatan dengan skor 7-0.

Di hari berikutnya, mereka menang telak 5-0 . Namun, hari berikutnya, mereka harus angkat koper setelah ditundukkan Alkahfi Kebumen di babak 16 besar. (Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal AlaSantri, Kiai, Meme Islam Pondok Pesantren Tegal