Sabtu, 10 Juli 2010

Pemkab Jombang Beri Insentif Takmir Masjid dan Musholla

Jombang, Pondok Pesantren Tegal - Pemerintah kabupaten Jombang, Jawa Timur, bakal memberikan insentif kepada takmir masjid dan musholla di setiap desa. Anggaran untuk pengelola tempat ibadah ini mencapai Rp 10 juta setiap desa.

Kepastian pemberian dana insentif bagi takmir masjid dan musholla ini dikatakan Bupati Nyono Suharli saat peluncuran dana Alokasi Dana Desa (ADD) serta Dana Desa (DD) yang bersumber dari APBN. "Untuk takmir masjid dan musholla juga kita anggarkan sebesar Rp 10 juta setiap desa," ujarnya di hadapan ratusan kepala desa se-Jombang di pendopo kabupaten, Rabu (27/1).

Pemkab Jombang Beri Insentif Takmir Masjid dan Musholla (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Jombang Beri Insentif Takmir Masjid dan Musholla (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Jombang Beri Insentif Takmir Masjid dan Musholla

Tidak hanya takmir masjid dan musholla, pemerintah juga memberikan insentif bagi penjaga makam yang nilainya sebesar Rp 3 juta. "Pada tahun anggaran 2016 ini insentif penjaga makam naik dari tahun sebelumnya," tambahnya.

Pondok Pesantren Tegal

Insentif juga bakal diberikan kepada kepala Rukun Tetangga (RT) dan rukun Warga (RW) yang nilainya setiap RT/RW sebesar Rp 500 ribu. "Kalau tahun lalu hanya Rp 100 ribu saja. Pada tahun ini setiap RT akan menerima insentif sebesar Rp 500 ribu. Ada sebanyak 9.984 RT/RW," kata Nyono.

Pondok Pesantren Tegal

Alokasi anggaran itu, dikatakan bupati Nyono harus dianggarkan oleh desa dari alokasi anggaran desa dan dana desa. Anggaran Alokasi Dana Desa untuk kabupaten Jombang tahun anggaran 2016 mencapai Rp 309 miliar. Anggaran itu bersumber dari APBD sebesar Rp 118 Miliar dan DD yang bersumber dari APBN sebesar Rp 191 Miliar."Ada 302 desa yang bakal menerima dari 306 desa dan kelurahan. Setiap desa rata rata menerima Rp 1 miliar lebih," pungkasnya.

Pemerintah Jombang setiap tahun juga memberikan insentif bagi guru ngaji di TPQ dan para penghafal Al-Quran atau hufadz.? Namun untuk guru TPQ dan hufadz ini anggarannya tidak melekat pada ADD dan DD, tetapi berada di bagian Kesra sekretariarat daerah. Setiap TPQ mendapatkan Rp 2,5 jutasetiap tahun sedangkan hufadz mendapatkan Rp 3 juta. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal AlaNu Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 03 Juni 2010

Kirim Santri Ke Mesir, Inilah Motif Syekh A Khotib Minangkabau

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal - Di antara ulama Nusantara yang menjadi imam besar di Mekkah adalah Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Selain mengajar di sekitaran Ka‘bah, ia juga mengarang beberapa kitab dengan berbagai macam bidang ilmu keislaman.

Syekh Ahmad Khatib Minangkabau memang tidak secara langsung menulis nasionalisme di dalam karya-karyanya, tetapi ia memiliki semangat nasionalisme. Hal itu ia buktikan dengan pengiriman murid-muridnya ke Mesir untuk menimba ilmu di sana dan menyerap semangat nasionalisme yang sedang menguat di Mesir.

Kirim Santri Ke Mesir, Inilah Motif Syekh A Khotib Minangkabau (Sumber Gambar : Nu Online)
Kirim Santri Ke Mesir, Inilah Motif Syekh A Khotib Minangkabau (Sumber Gambar : Nu Online)

Kirim Santri Ke Mesir, Inilah Motif Syekh A Khotib Minangkabau

Demikian disampaikan Zainul Milal Bizawie usai acara Kajian Turats Ulama Nusantara dengan tema Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Kemilau Nusantara di Tanah Mekkah di Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Tangsel, Sabtu (29/7).

"Motif yang dilakukan Syekh Ahmad Khatib mengirim santrinya ke Mesir, saya pikir untuk menimba semangat nasionalisme," ujar Gus Milal.

Pondok Pesantren Tegal

Senada dengan Penulis buku Masterpiece Islam Nusantara itu, Pemateri diskusi A Ginanjar Syaban menerangkan, saat itu menjadi pusat pergerakan belajar Indonesia yang sedang belajar di sana untuk menyuarakan kemerdekaan Indonesia di dunia internasional.

Pondok Pesantren Tegal

"Ini bisa disimak dari dua majalah. Pertama, Majalah Seruan Al-Azar yang ditulis dalam Arab pegon berbahasa Melayu tahun 1925 sampai 1927 dan diterbitkan oleh Thohir Jalaluddin, Mahfud Yunus, dan Idris Marbawi. Kedua, Majalah Merdeka," urainya.

Alumni Al-Azhar Kairo Mesir itu menambahkan, terjadi korespondensi antara dua majalah tersebut dengan majalah pelajar Indonesia yang ada di Belanda, Bintang Timur. Mereka bertugas menyebarkan gagasan terkait dengan cara memerdekakan Bumi Putera.

"Semangat kemerdekaan ini terus diperjuangkan oleh para murid Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Dengan melobi para pejabat kerajaan Mesir," ungkapnya.

Lebih lanjut, Ginanjar menceritakan bahwa setelah Perdana Menteri Mesir saat itu Nukrashi Pasya mengetahui bahwa ada negara yang penduduk Muslimnya besar. Lalu kemudian, Nukrashi bersama dengan Sekjen Liga Arab mengampanyekan kemerdekaan Indonesia di koran-koran Negara Arab, bahkan dibawa ke dalam sidang Liga Arab.

"Liga Arab mendukung penuh dan berhasil menekan PBB. Sampai PBB menekan Belanda agar menghentikan agresi militernya. Makanya kemerdekaan Indonesia pada 1949, merdeka secara total," terangnya.

Menurut Dosen Turats STAINU itu, ini juga tidak lepas dari perjuangan santri-santri Nusantara yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari tempat di mana mereka belajar.

"Tentang nasionalisme Syekh Ahmad Khatib sangat jelas sekali traknya," tegas Direktur INC itu. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 09 Maret 2010

Berbahaya, Jika Islam Dipahami Hanya Sebatas Gerakan

Jakarta, NU.Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi dan Syeikh Agung Al-Azhar Prof Dr Mohamed Sayed Tantawi  dalam pertemuannya di Kairo, Mesir, sependapat bahwa Islam tidak bisa dipahami hanya sebagai konsep gerakan semata, tapi harus di pahami secara holistik sebagai sebuah ajaran. Jika pola pikir gerakan yang dikedepankan, ini sangat berbahaya. Pasalnya pemahaman seperti ini hanya akan memberikan penilaian salah dan memasukan Islam sebagai kelompok radikal. Padahal, unsur radikalisme itu ada pada semua agama.

"Dalam pertemuan itu, PBNU dan Al-Azhar sepakat memprakarsai suatu pertemuan internasional di Jakarta untuk menampilkan Islam sebagai ajaran, dan bukan sebagai gerakan atau kekuatan. Sebab, sangat berbahaya, jika Islam hanya dipahami sebagai gerakan," kata Hasyim Muzadi,  Minggu (25/5).

Menurut Gus Hasyim, Pertemuan internasional yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta sekitar akhir 2003 ini, akan dihadiri para rektor universitas Islam di seluruh dunia, di samping para ulama yang membidani bidang ajarannya, bukan politikus Islam.

Muzadi dan Syeikh Tantawi berpandangan bahwa realitas sekarang  yang sangat ditonjolkan adalah Islam sebagai gerakan atau kekuatan, sehingga seolah-olah Islam itu berhadap-hadapan atau saling memusuhi dengan negara-negara Barat atau kelompok non-Islam lainnya.

"Sehingga pada gilirannya sangat merugikan dunia Islam dalam konteks hubungan internasional. Oleh karena itu, perlu kita tampilkan Islam sebagai ajaran atau sebagai filsafat hidup yang mengandung kebenaran rahmatan lil alamin (menjadi rahmat bagi semesta alam)," paparnya.

Pelaksanaan pertemuan internasional yang akan dijadwalkan itu  merupakan bagian dari upaya PBNU dalam langkah menjembatani antara dunia Islam dan dunia Barat, yang dalam hal ini akan difokuskan ke Eropa.

Dalam upaya menjembatani dunia Islam dan dunia Barat ini, PBNU telah berkunjung ke negara-negara Eropa, dan bertemu dengan pimpinan parlemen Uni Eropa serta sejumlah pejabat di sana, khususnya di Jerman beberapa waktu lalu, dan ternyata mereka mengharapkan agar NU menjembatani hal tersebut.

"Bertalian dengan itu, PBNU yakin bahwa jembatan yang paling baik adalah jika Islam ditampilkan sebagai ajaran, dan bukan sebagai kekuatan," tandas Muzadi.

Pada kesempatan tersebut, PBNU dan pihak Al-Azhar sepakat untuk meningkatkan kerja sama di bidang pendidikan. Dalam pertemuan dengan Syeikh Al-Azhar tersebut, Muzadi didampingi sejumlah pimpinan PBNU, di samping Kepala Bidang Politik Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kairo Agil Salem Al-Attas mewakili Dubes RI untuk Mesir Prof Dr Bachtiar Ali, MA yang saat ini melakukan tugas kerja di Jakarta, dan Kasub-Bidang Protokoler KBRI Krishna Djelani.

KH Hasyim Muzadi bersama rombongan PBNU melakukan kunjungan selama beberapa hari ke Mesir setelah melakukan ibadah umrah di Arab Saudi. Dalam kunjungan tersebut beliau didampingi oleh KH Abdul Aziz Ahmad, KH Masduki Baidlawi,  Ronin Hidayat, KH Sofyan Hidayat Bin Najmuddin. KH. Mas Soebadar, KH A. Idris Muzakki, Slamet Effendy Yusuf,  KH. Abd Wahid Bisri, Fakhrurozi, Muhammad Nafi, Ibu Mutammimah Muzadi,  Siti Aniroh Slamet,  Abd Hikam Hidayat, Elina Almaghfiroh, Laily Abidah, dan Alfi Rahamawati.

Selama di Mesir, selain bertemu dengan Syeikh Al-Azhar, juga Rektor Universtas Al-Azhar Prof Dr Omar Hashim, dan Wakil Menteri Waqaf Mesir. Dalam pertemuan tersebut, PBNU sepakat dengan kementerian wakaf untuk kerja sama di bidang wakaf, dan dalam hal ini PBNU akan mengirim tim khusus untuk melakukan studi banding ke Mesir menyangkut pelaksanaan wakaf.

"Manajeman wakaf  sangat penting dipelajari, karena selama ini kita belum mempraktekan secara baik manajeman wakaf, padahal persoalan ini sangat bertalian dengan pemanfaatan harta umat" ungkapnya.(Kln-S/kol/cih)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Internasional Pondok Pesantren Tegal

Berbahaya, Jika Islam  Dipahami Hanya Sebatas Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Berbahaya, Jika Islam Dipahami Hanya Sebatas Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Berbahaya, Jika Islam Dipahami Hanya Sebatas Gerakan

Kamis, 28 Januari 2010

LKNU Sumenep Periksa 400 Penderita Sakit Mata

Sumenep, Pondok Pesantren Tegal. Lembaga Kesehatan Nahdatul Ulama (LKNU) Kabupaten Sumenep mengadakan pemeriksaan (screening) mata di sekretariat PCNU pada Sabtu (2/10. Sekitar 400 orang memeriksakan kesehatan matanya.

Menurut Ketua LKNU Sumenep Hadariyadi, jumlah pengunjung yang memeriksakan kesehatan matanya di luar dugaan. Hingga H-1, peserta yang mendaftar hanya sekitar 300 orang. "Gak tahu tiba-tiba banyak yang datang dan langsung mendaftar di tempat," katanya.

LKNU Sumenep Periksa 400 Penderita Sakit Mata (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Sumenep Periksa 400 Penderita Sakit Mata (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Sumenep Periksa 400 Penderita Sakit Mata

Sebelumnya, LKNU telah menyebarkan pengumuman operasi katarak gratis melalui SMS dan jejering sosial. Dalam pengumuman itu disebutkan warga yang hendak mengikuti program tersebut harus terlebih dahulu mendaftar kepada beberapa panitia yang telah ditunjuk dan disyaratkan menyerahkan selembar foto copy kartu tanda penduduk.

Pondok Pesantren Tegal

Sekalipun langsung mendaftar di tempat, semua pengunjung dilayani. "Sekalipun di luar kuota kami, semuanya tetap diperiksa. Kasihan mereka telah datang jauh-jauh dari rumahnya," katanya di kantor PCNU Jalan Trunojoyo.

Pemeriksaan mata tersebut untuk mengetahui orang-orang yang akan dioperasi katarak. Karena tidak semua orang yang diduga mengalami katarak bisa dioperasi karena ternyata bukan katarak, atau katarak tetapi sudah sangat parah sehingga tidak bisa dioperasi.

Pondok Pesantren Tegal

Dari ratusan orang yang memeriksakan kesehatan matanya, terdapat 96 orang yang positif menderita katarak. Mereka akan menjalani operasi pada tanggal 15-17 November 2013 di RSUD dr. H. Moh. Anwar, Sumenep. (Kamil Akhyari/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nahdlatul, Daerah Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 29 Oktober 2009

Wahyu Saputro-Khotimatus Saadah Pimpin Pelajar NU Kudus

Kudus, Pondok Pesantren Tegal

Konferensi Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Kudus telah menetapkan ketua baru masa khidmah 2016-2018.

Wahyu Saputro-Khotimatus Saadah Pimpin Pelajar NU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Wahyu Saputro-Khotimatus Saadah Pimpin Pelajar NU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Wahyu Saputro-Khotimatus Saadah Pimpin Pelajar NU Kudus

Pada sidang pemilihan secara terpisah di aula SMK NU Maarif, Sabtu (13/8) itu, M Wahyu Saputro terpilih menjadi ketua IPNU Kudus dan Khotimatus Saadah sebagai ketua IPPNU.

?

Dalam pemilihan yang dipimpin PW IPNU-IPPNU Jawa Tengah, M Wahyu Saputro memperoleh 53 suara mengungguli calon lain M Tausiul Ilma yang memperoleh 51 suara dan Saiful Huda (Bae) yang meraih hanya 2 suara. Sementara Khotimatus Saadah meraih 69 suara lebih unggul dari dua calon lain Nurul Afifah (23 suara) dan Asri Awaliyah (9 suara).

?

Pondok Pesantren Tegal

Setelah terpilih, keduanya menyatakan kesediaannya mengemban amanah badan otonom NU beranggotakan para pelajar ini tiga tahun mendatang. Kendati tidak menyangka mendapat kepercayaan, Wahyu Saputro menegaskan kesiapannya memimpin pelajar NU Kudus.

"Ini adalah sebuah amanah yang harus dijalankan, semoga mendapat ridha dari Allah SWT," ujarnya.

?

Pondok Pesantren Tegal

Kader terbaik dari Kecamatan Jati ini akan berusaha memperbaiki sistem pendirian komisariat di madrasah, sekolah dan pesantren guna menyiapkan kader sejak dini. Di samping itu, Wahyu juga akan membenahi sistem kaderisasi dari tingkatan cabang, anak cabang, ranting, hingga komisariat.

?

"Kita akan menginventarisir kader-kader di madrasah-sekolah dan pesantren untuk dijadikan cikal bakal pendirian komisariat," katanya.

?

Langkah lainnya, imbuh pria yang biasa disapa Yoyok ini, akan melakukan pendekatan kepada kepala madrasah/sekolah terutama wakil kepala kesiswaan dalam rangka mewujudkan pendirian komisariat.

?

"IPNU akan bersinergi LP Maarif, kepala madrasah/sekolah NU. Tanpa kekuatan sinergis tidak bisa berjalan program-program IPNU-IPPNU," ujarnya menyadari.

?

Senada dengan Yoyok, Khotimatus Saadah menyatakan siap mengemban amanah dan akan menjalin kerja sama dalam mengembangkan organisasi dengan visi keterpelajaran. "Doakan saja semoga kami amanah menjalankan mandat konferensi," ujarnya singkat.

?

Untuk melengkapi kepengurusan, ketua terpilih dibantu tim formatur yang terdiri dari ketua terpilih, ketua lama, dan 9 ketua Pimpinan Anak Cabang se-Kudus. (Qomaru Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Meme Islam Pondok Pesantren Tegal

Senin, 19 Oktober 2009

Ini Kriteria Pakaian Serupa Pakaian Lawan Jenis (Tasyabbuh) dalam Syariat Islam

Islam memang tidak menjelaskan secara detail bagaimana model pakaian Islam. Tidak ada aturan khusus di dalam Islam terkait kesunahan memakai pakaian tertentu. Urusan pakaian ini diserahkan kepada tradisi dan lokalitas masyarakat. Hanya saja, Islam memberikan panduan umum berpakaian yang harus dipatuhi.

Di antara panduan umum tersebut adalah pakaian yang digunakan tertutup, tidak transparan, tidak terbuka, dan tidak menyerupai lawan jenis. Apapun bentuk pakaiannya, kalau selaras dengan panduan umum ini, pakaian itu sudah termasuk pakaian islami.

Ini Kriteria Pakaian Serupa Pakaian Lawan Jenis (Tasyabbuh) dalam Syariat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Kriteria Pakaian Serupa Pakaian Lawan Jenis (Tasyabbuh) dalam Syariat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Kriteria Pakaian Serupa Pakaian Lawan Jenis (Tasyabbuh) dalam Syariat Islam

Salah satu aturan umum berpakaian ialah tidak menyerupai lawan jenis. Pembahasan ini tampaknya perlu diperjelas untuk mengetahui batasan menyerupai lawan jenis. Misalnya, kapan pakaian yang kita gunakan dikategorikan sebagai pakaian yang menyerupai lawan jenis: apa standarnya?

Pondok Pesantren Tegal

Batasan menyerupai lawan jenis ini sudah dijelaskan Sayyid Abdurrahman Ba’lawi dalam Bughyatul Mustarsyidin. Batasannya adalah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Tegal

Artinya, “Berhias dengan sesuatu yang dikhususkan untuk lawan jenis, atau secara umum di daerah tersebut hiasan itu dikhususkan untuk lawan jenis.”

Batasan menyerupai lawan jenis menurut Sayyid Abdurrahman adalah menggunakan pakaian atau hiasan yang lazim digunakan oleh lawan jenis. Bila ada laki-laki yang menggunakan model pakaian perempuan sehingga orang yang melihat laki-laki tersebut menyangka kalau dia perempuan, maka itu sudah termasuk kategori menyerupai lawan jenis.

Menggunakan pakaian lawan jenis dalam Islam tidak boleh. Sebab itu, sebaiknya masing-masing orang menggunakan pakaian yang sesuai dengan dirinya. Tujuan dari aturan ini tentu untuk menjaga fitrah manusia. Laki-laki sebaiknya bergaya sebagaimana laki-laki pada umumnya, begitu pula perempuan. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Hikmah, Pertandingan Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 16 Oktober 2009

Tingkatkan Perekonomian, Ansor Temanggung Produksi Kopi Bubuk

Temanggung, Pondok Pesantren Tegal

Sudah jamak diketahui bahwa Kabupaten Temanggung Jawa Tengah merupakan salah satu daerah sentra penghasil tembakau dengan mutu kualitas tinggi. Namun, taukah anda jika Temanggung juga mempunyai hasil pertanian lainnya yang tidak kalah potensialnya, yakni tanaman kopi. Beragam variasi kopi terutama jenis robusta banyak ditemui di Kecamatan Kandangan, Gemawang, Candiroto dan Wonoboyo.

Melihat potensi ini, pengurus GP PC ANSOR Temanggung berinisiatif memproduksi kopi hitam bubuk dengan merek "Lintang 9".  

Tingkatkan Perekonomian, Ansor Temanggung Produksi Kopi Bubuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Perekonomian, Ansor Temanggung Produksi Kopi Bubuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Perekonomian, Ansor Temanggung Produksi Kopi Bubuk

"Kopi Temanggung, diproduksi oleh KSU, Ansoruna. Kopi ini dijual dalam kemasan 100 gram dan tujuan memproduksi kopi ini adalah untuk meningkatkan kemajuan perekonomian di kalangan sahabat ANSOR Kabupaten Temanggung,"  kata pengurus PC ANSOR Temanggung, Muhammad Mujib.

Untuk  memperkenalkan potensi mengembangkan produk kopi, pada Sabtu (21/5) akhir pekan lalu digelar festival kopi di balai Desa Menggoro Kecamatan Tembarak, Temanggung. Festival ini bekerja sama dengan mahasiswa KKN STAINU Temanggung.



Pondok Pesantren Tegal



"Festival ini juga turut mengundang UKM-UKM lain yg ada di daerah Menggoro," kata Ketua panitia kegiatan, Ahmad Khudori.

Pondok Pesantren Tegal





Selain demonstrasi cara membuat kopi oleh para barista, festival ini juga dimeriahkan lomba mancing, pentas seni dari berbagai sekolah se-Kecamatan Tembarak, saresehan kewirausahaan dan pagelaran wayang orang dari Bengkel Kreasi Universitas Negeri Tidar Magelang.( M. Haromain/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pesantren Pondok Pesantren Tegal