Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Maret 2018

Dilantik, Muslimat NU Maros Diminta Perkuat Ranting

Maros, Pondok Pesantren Tegal

Ketua Pimpinan Wilayah Muslimat Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan Majdah Agus Arifin Numang melantik Pengurus Cabang Muslimat NU Kabupaten Maros serta 13 Pimpinan Anak Cabang sekabupaten Maros. Kegiatan tersebut dirangkai dengan deklarasi dan penandatangan Laskar Anti Narkoba di Ruang Pola Kantor Bupati Kabupaten Maros pada Ahad (20/11).

Dilantik, Muslimat NU Maros Diminta Perkuat Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Muslimat NU Maros Diminta Perkuat Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Muslimat NU Maros Diminta Perkuat Ranting

Majdah mengatakan, keberadaan pengurus PAC menjadi program utama Pimpinan Wilayah Muslimat untuk membangun jaringan sampai ke pelosok desa.

Karena, kata dia, kekuatan Muslimat berada di kepengurusan Anak Cabang dan Anak Ranting sebagai perpanjangan tangan untuk menyebarkan paham Islam Ahlusunnah wal-Jamaah Annahdliyah.

Pondok Pesantren Tegal

"Selain itu dengan adanya Deklarasi Laskar Anti Narkoba yang merupakan program nasional Muslimat NU sebagai upaya untuk bahu-membahu dalam mereduksi korban penyalahgunaan narkoba, melawan penyebaran narkoba, tentunya dimulai dari keluarga masing-masing," Rektor Universitas Islam Makassar tersebut.

Ketua PC Muslimat NU Maros Mardiah mengucapkan rasa terima kasih atas motivasi Pimpinan Wilayah sehingga pengurus mampu mengembangkan Muslimat sampai ke tingkat ranting.

Pondok Pesantren Tegal

"Kami bertekad bersatu padu bersama seluruh kader untuk memberantas narkoba, mendukung rehablitasi korban penyalahgunaan narkoba, dan akan melakukan gerakan masif sedini mungkin untuk menghindarkan Narkoba dari keluarga," tambahnya.

Bupati Kabupaten Maros yang diwakili Asisten I Pemkab Maros A Arifuffin mengatakan, setiap organisasi akan mendapati permasalahan SDM.

“Oleh karena itu kami berharap kepada NU, Muslimat NU, Ansor, IPNU, IPPNU, dan badan otonom lainnya untuk mengambil peran dan membantu Pemerintah dalam hal mencerdaskan masyarakat Maros,” pintanya.

Pengemban amanah

Sementara Rais Syuriyah Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan Anregurutta KH M. Sanusi Baco dalam tausiahnya menyinggung pentingnya pemimpin amanah.

Menurutnya, manusia adalah satu-satunya makhluk yang berakal yang siap mengemban amanah. Bahkan seluruh langit serta isinya tak mampu memikul amanah yang diberikan oleh Allah Swt.

Oleh karena itu, ia mengimbau kepada seluruh pengurus yang telah dilantik menjalanakn tanggung jawab untuk memajukan Muslimat NU di daerahnya masing-masing.

"Jadi jabatan yang kita terima adalah amanah dari Allah. Terkait masalah keterlibatan Muslimat NU dalam memberantas narkoba, tentunya ini perlu kita apresiasi bersama dan bersama-sama untuk membangun keluarga yang jauh dari bahaya narkoba," tambah Ketua MUI Sulsel tersebut.

Hadir pada kegiatan tersebut Kepala Kementerian Agama Kabupaten Maros Syamsuddin, Ketua Fatayat NU Maros, Ketua GP Ansor Maros, Wakil Sekretaris IPNU Sulsel, Muhammad Faqih, Ketua IPNU Maros Fudail, dan Ketua Lembaga Nahdlatul Ulama Kabupaten Maros. (Andy Muhammad Idris/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Meme Islam, Daerah Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

Kader IPNU Probolinggo Ikuti Latpel di Banyuwangi

Probolinggo, Pondok Pesantren Tegal. Sedikitnya tiga kader Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Probolinggo mengikuti pelatihan pelatih (latpel) yang digelar oleh Pimpinan Wilayah (PW) IPNU Provinsi Jawa Timur, Kamis (29/1) hingga Ahad (1/2).

Kader IPNU Probolinggo Ikuti Latpel di Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader IPNU Probolinggo Ikuti Latpel di Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader IPNU Probolinggo Ikuti Latpel di Banyuwangi

Kegiatan yang berlangsung di Pesantren Bahrul Sasrono, Banyuwangi tersebut merupakan sebagai bentuk implementasi pelatihan lanjutan dari Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), Latihan Kader Muda (Lakmud) dan Latihan Kader Utama (Lakut) yang diselenggarakan masing-masing PC/PAC (Pimpinan Anak Cabang).

“Setidaknya dengan mengikuti pelatihan pelatih ini, mereka nantinya siap menjadi fasilitator jika PC, PAC, PR dan PK IPNU mengadakan Makesta, Lakmud dan Lakut,” ungkap Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo Eko Cahyono, Jumat (30/1).

Pondok Pesantren Tegal

Dalam latpel ini, PC IPNU Kabupaten Probolinggo mengirimkan kader terbaiknya. Yakni, Mohammad Arifin, Suryadi dan Chandra Dani Cahaya. “Harapan saya dari kegiatan ini adalah ilmu yang diperoleh selama pelatihan nantinya siap diamalkan ke masing-masing PAC, PR dan PK. Selain itu selalu siap membantu PC jika ada pelatihan, baik Makesta, Lakmud ataupun Lakut,” jelasnya.

Pondok Pesantren Tegal

Menurut Eko, ada beberapa materi yang akan diterima oleh para kadernya dalam latpel tersebut. Yakni, analisa diri, kontrak belajar, ideologisasi Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah), ke-NU-an dan ke-IPNU-an, paradigma falsafah pendidikan kader, psikologi dan evaluasi pendidikan kader.

“Materi lain yang akan diikuti adalah managemen pendidikan kader, skill, psikologi perkembangan remaja, metode dan media pendidikan kader, pengembangan kurikulum serta praktek melatih,” terangnya.

Eko menjelaskan keikutsertaan kadernya ini bertujuan untuk mempersiapkan kader-kader terbaik yang nantinya bisa membantu program-program dari PC IPNU Kabupaten Probolinggo. Apalagi program ini merupakan bagian dari program Departemen Kaderisasi dengan PW IPNU Jawa Timur.

“Mudah-mudahan dengan pelatihan ini mereka menjadi pengganti kader-kader PC IPNU berikutnya dan siap menggantikan yang akan segera purna. Di samping juga sebagai patner kami jika ada pelatihan. Setidaknya ada kader yang bisa diandalkan,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Internasional, Daerah, Halaqoh Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Gagasan Islam Damai di Ruang Publik

Oleh Muhammad Aras Prabowo



Islam damai memiliki prinsip al-tawassuth, yaitu jalan tengah, tidak ekstrem kanan atau kiri. Prinsip tawazun, yakni menjaga keseimbangan dan keselarasan, sehingga terpelihara secara seimbang antara kepentingan dunia dan akhirat, kepentingan pribadi dan masyarakat, dan kepentingan ? agama dan negara. Prinsip al-tasamuh, yaitu bersikap toleran terhadap perbedaan, sehingga tidak terjadi perasaan saling terganggu, saling memusuhi, dan sebaliknya akan tercipta ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Prinsip ta’adul (keseimbangan) Ahlussunnah wal Jamaah terefleksikan pada kiprah mereka dalam kehidupan sosial, cara mereka bergaul serta kondisi sosial pergaulan dengan sesama Muslim yang tidak mengkafirkan serta senantiasa ber-tasamuh terhadap sesama Muslim maupun umat manusia pada umumnya.

Gagasan Islam Damai di Ruang Publik (Sumber Gambar : Nu Online)
Gagasan Islam Damai di Ruang Publik (Sumber Gambar : Nu Online)

Gagasan Islam Damai di Ruang Publik

Corak ini pula yang mendatangkan kekaguman dari berbagai negara. Termasuk, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik memuji keberadaan pesantren yang ternyata berperan dalam menyebarkan kedamaian. "Selama 2,5 tahun, saya hanya mendengar tentang Pesantren Tebuireng yang punya peran sangat penting dalam sejarah Indonesia, dan saya yakin akan punya peran penting untuk masa depan Indonesia ke depan. Jadi, saya di sini untuk mempelajari dan melihat bagaimana Indonesia bisa lebih berhasil (mengatasi ekstremisme dan radikalisme)," ujarnya dalam rilis yang diterima, Jumat (28/4). (Republika.co.id)

Meskipun umat Islam sebagai warga negara mayoritas, tapi tidak membuat rasa egois dalam diri penganutnya untuk mendominasi dengan pemeluk keyakinan yang lain. Perbedaan suku, ras, agama dan budaya disatukan dalam sikap nasionalisme terhadap negara. Salah satu guru bangsa sekaligus mantan presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid sebagai bapak pluralisme mananamkam sikap saling menghargai antarsesama warga negara tanpa memandang suku, ras, agama dan budaya. Beliaulah yang banyak memahamkan bangsa ini pentingnya toleransi terhadap perbedaan dalam kehidupan bernegara.

Namun, belakangan ini kata kafir, bid’ah dan sesat seringkali mewarnai ceramah keagamaan baik di masjid, lingkungan kampus, lingkungan sekolah (rohis) maupun di media (televisi, youtube, facebook dan media sosial yang lain). Kelompok tersebut seringkali menampilkan Islam yang marah, padahal kita butuh Islam yang ramah bukan Islam marah, kata Gus Dur. Kelompok tersebut menganggap dirinya yang paling benar.

Pondok Pesantren Tegal

Pertarungan kebenaran dalam wacana agama bermula dari klaim kebenaran yang dibuat oleh masing-masing kelompok. Klaim kebenaran itu lahir dari interpretasi atas teks otoritatif yang diperkuat oleh pemegang otoritas dalam agama. Klaim kebenaran sejatinya adalah hal pokok yang mendasari dan diperlukan dalam setiap keyakinan. Seseorang akan merasa nyaman dengan keyakinannya ketika ia, secara sadar, meyakini kebenaran dari nilai-nilai yang tertuang dari keyakinannya tersebut. Namun, ketika interpretasi tertentu atas klaim kebenaran tersebut menjadi proposisi yang menuntut pembenaran tunggal dan diperlakukan sebagai doktrin kaku, maka kecenderungan terhadap penyelewengan dalam agama muncul dengan mudah. Kecenderungan itu merupakan tanda-tanda awal kejahatan atas nama agama (Kimball, 2003: 84).

Di mata mereka, sebuah negara menjadi musuh Islam dengan bertindak melawan kehendak hukum syariah, pada gilirannya mereka berpendapat bahwa orang-orang yang mendukung pemerintah murtad dan karena itu pembunuhan orang-orang semacam itu dapat diterima secara religius (Doran diedit oleh Hoge Jr & Rose 2001, halaman 35). Gagasan seperti ini harus diantisipasi, guna menjaga keutuhan bangsa.?

Gagasan tentang softpower ini pertama kali dibahas oleh Joseph Nye, dia menyatakan alih-alih penggunaan kekuatan, dengan kekuatan keras, softpower lebih bergantung pada diskusi dan debat, dengan menggunakan persuasi ideologis (Nye 1991, halaman 259-60).

Pondok Pesantren Tegal

Kelompok-kelompok islam moderat yang ada di Indonesia, seperti Nahdatul Ulama, harus merebut ruang-ruang publik dalam menyebarkan Islam damai. Pertarungan seperti ini tidak bisa dihindari guna mempersempit ruang gerak meraka. Gagasan Islam damai harus disebarkan lewat berbagai media (televisi, youtube, facebook dan media sosial yang lain) sama seperti metode yang mereka gunakan. Intensitas akan mengeser posisi mereka di tempat-tempat strategis.

Bagi organisasi kemahasiswaan, memperbanyak diskusi di pojok-pojok kampus juga menjadi salah satu alternatif yang cukup strategis. Agar proses kaderisasi merka terhambat, dengan memberikan pemahaman Islam yang damai kepada mahasiswa, khusnya bagi mahsiswa yang baru masuk. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gusdurian dan organisasi lainnya herus hadir di tengah-tengah mahasiswa untuk mengemban tugas tersebut.

Selain di lingkungan kampus, lingkungan sekolah harus menjadi perhatian. Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (IPNU) yang wilayah kaderisasinya di sekolah harus memaksimalkan perannya dalam menularkan gagasan Islam damai kepada para siswa. Organisasi intra sekolah seperti Rohani Islam (rohis) harus di jadikan sebagai wadah dalam sosialisasi.

Teori Public Sphere Habermas mengatakan bahwa ruang terbuka publik adalah arena pertarungan ide dan gagasan, setiap kelompok mengambil peran ? dalam ruang publik dan berusaha mengambil kuasa, pemenangnya adalah: ide dan gagasan yang dikelola dengan baik, kuantitas ide dan gagasan yang masuk ke ranah publik.

Sinergitas gerakan akan mengambil kuasa dan peran ? dalam ruang publik mulai dari masjid, lingkungan kampus, lingkungan sekolah (rohis) maupun di media (televisi, youtube, facebook dan media sosial yang lain) akan melahirkan sebuah kaderisasi yang massif. Tentunya, akan mempersempit ruang gerak kelompok-kelompok yang merasa dirinya paling benar. Dan gagasan Islam damai akan mengakar di setiap ruang-ruang publik. Dengan begitu, keharmonisan dalam berbangsa dan bernegara akan selalu kuat dan terpelihara dengan gagasan Islam damai.





Penulis adalah Gusdurian Makassar/PMII RE UMI Makassar

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Habib, Daerah Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Fitnah Kehidupan dan Fitnah Kematian

Oleh? KH Ali Rahmat. Ketika mendengar kata cobaan, sering dari kita merujukkannya pada peristiwa-peristiwa menyakitkan seperti bencana, sakit, dan sebagainya. Manusia kerap lupa, ujian itu lebih luas dari itu. Pesan Rasulullah memaparkan bahwa kehidupan dan kematian adalah fitnah (cobaan).

Khotbah I

Fitnah Kehidupan dan Fitnah Kematian (Sumber Gambar : Nu Online)
Fitnah Kehidupan dan Fitnah Kematian (Sumber Gambar : Nu Online)

Fitnah Kehidupan dan Fitnah Kematian

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?? ? ? ?: ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.?

Para hadirin jamaah shalat Jum’at yang dimuliakan oleh Allah.

Marilah kita bersyukur kepada Allah, kita masih bisa menghadiri shalat Jum’at ini. Sebagai khotib, alfaqir berwasiat pada diri sendiri, dan pada hadirin, mari kita jaga dan kita tingkatkan takwa kita kepada Allah subhanahu wataala.

Pondok Pesantren Tegal

Para hadirin,

Rasulullah menganjurkan membaca doa sehabis tahiyat akhir. Doa ini, dianjurkan Rasulullah dibaca setelah fil alamiina innaka khamiidummajiid, yaitu:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? “Ya Allah, saya mohon perlindungan-Mu dari siksa neraka jahannam. Dan dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan, dan fitnah kematian, dan dari fitnah masikhid dajjal.”

Pondok Pesantren Tegal

Haditst ini terdapat dalam Shahih Muslim dengan nomor 584 dan juga terdapat dalam Shahih Bukhari dengan nomor 1377. Sayangnya hadits ini jarang dimunculkan dan jarang diamalkan, padahal sangat mudah sebenarnya. Yang ingin kami jelaskan, kalau masalah siksa neraka jahanam, kita sudah paham semuanya. Siksa kubur kita juga sudah paham semuanya. Di sini kita mohon perlindungan dari fitnah kehidupan.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah

Hidup ini fitnah (ujian), kebanyakan fitnah terjadi karena harta. Suami istri bercerai karena harta, orang berebut sesuatu sampai bunuh-bunuhan, sampai dipenjara karena memperebutkan harta. Karena itu, kita memohon kepada Allah dari fitnah kehidupan. Harta sedikit menjadi fitnah, tetapi harta banyak juga bisa menjadi fitnah. Yang lebih ironis adalah, sebagaimana terlihat di perkotaan, tak sedikit orang yang kekurangan secara ekonomi malah tidak beribadah. Di sini, perilaku tersebut terkait dengan hadits:

? ? ? ? ?

Artinya: Kefakiran mendekati kepada kekufuran

Orang-orang yang fakir jarang ibadah merupakan fitnah kehidupan. Namun demikian, banyak pula orang kaya yang jarang beribadah. Secara sederhana kita bisa mengamati antara jamaah masjid dan jumlah pendduk di Jakarta yang tidak seimbang. Oleh karena itu, kita mohon perlindungan dari Allah jangan sampai fitnah kehidupan menimpa kita.

Harta sedikit tidak menjadi fitnah kalau harta yang seadanya ini kita niatkan untuk Allah subhanahu wa taala. Apapun yang terjadi, jika kita niatkan untuk Allah, harta sedikit ini tidak menjadikan kita jauh dari Allah melainkan kita tetap taqarrub kepada Allah.

Begitu juga harta yang banyak tidak menjadi fitnah kalau dizakati, lebih-lebih kalau hartanya untuk membantu perjuangan Islam. Sebanyak apapun harta, kalau dizakati dan untuk perjuangan Islam, tidak akan menjadi fitnah. Malah, harta itu akan mengangkat kita, mengantarkan kita ke surganya Allah SWT.

Termasuk fitnah kehidupan lain adalah apapun yang terjadi terhadap kita, dari urusan pekerjaan, kesehatan, komunitas, bisnis, dan lainnya. Jika semuanya sampai menggoncangkan iman kita, itu fitnah. Banyak hal yang sepele merusakkan iman kita seperti salah pergaulan.Misalnya, hanya demi kawan, hanya demi komunitas, rela minum bir. Ini fitnah kehidupan.

Namun yang paling hebat, sehebat-hebatnya fitnah kehidupan adalah kalau kita meninggalkan kehidupan dengan tidak mengucapkan kalimat:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Jika hal itu terjadi, maka kita mengalami kerugian serugi-ruginya. Ibarat bumi ini terbuat dari emas semuanya, tetapi jika kita mati tanpa syahadat, maka bumi yang seluruhnya emas itu tidak ada nilai apa-apanya. Maka dari itu kita harus berhajat, setiap hari berdoa, “Ya Allah, kami mohon lindunganmu dari fitnah kehidupan.”

Para jamaah yang saya hormati,

Kita juga harus berdoa dari fitnah kematian. Ini adalah sakaratul maut. Sehebat apapun orang, setinggi apapun jabatan orang, sekaya apapun orang, semuanya akan mengalami sakaratul maut. Dalam sebuah hadits, kalau orang meninggal dunia, mereka ditampakkan gambaran calon tempat tinggalnya baik di surga atau neraka. Makanya kadang-kadang ada orang meninggal dalam kondisi tersenyum karena sudah melihat bakal tempat tinggalnya si surga. Ada juga yang meninggal dunia dalam kondisi ketakutan. Bahkan ada yang lidahnya menjulur karena menyaksikan gambaran buruknya keadaannya di akhirat. Tidak ada jaminan kiai atau tidak kiai, santri atau bukan santri bisa masuk surga. Anjuran membaca doa di atas adalah petunjuk bahwa kemungkinan untuk tak selamat dari fitnah kehidupan dan kematian ada pada semua orang.

Juga termasuk fitnah kematian adalah pertanyaan Munkar dan Nakir. Semua nyawa akan masuk ke alam barzah, bagaimanapun cara matinya, baik orang yang matinya jatuh karena pesawat terbang, meninggal di rumah atau cara lainnya. Orang sering mengatakan ada arwah gentayangan, padahal sebetulnya tidak ada arwah gentayangan.Apapun yang meninggal, langsung masuk ke alam barzah atau alam kubur. Di sana, mereka akan ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir. Bagi yang lolos dari pertanyaan dua malaikat itu, maka langsung masuk ke surga dalam kubur. Nabi bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Apabila meninggal seorang hamba maka datanglah dua orang malaikat, salah satunya bernama Munkar, dan yang lainnya bernama Nakir. Kedua malaikat itu bertanya: Apa yang dapat engkau katakan mengenai Muhammad SAW? Apabila yang ditanya adalah orang mu’min, ia akan menjawab: Beliau adalah hamba dan rasul Allah. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah rasul-Nya. Malaikat tersebut berkata: Sekarang kami telah mengerti akan apa yang engkau katakan. Setelah itu, dilapangkanlah kuburnya seluas tujuh puluh hasta dan diterangi dengan nur. Dikatakan kepadanya: Sekarang tidurlah engkau. Mayat tersebut memohon: Doakanlah agar aku dapat kembali pada keluargaku untuk mengabarkan kesenangan ini. Sang malaikat menjawab: Tidurlah! Maka tidurlah ia laksana tidurnya para pengantin, tak pernah bangun kecuali jika ia ingin menemui keluarganya.” (HR:al-Tirmidzi)

Ini merupakan bukti bahwa kalau di alam kubur sudah ada surga, cuma surga tidak selengkap di akhirat nanti. Begitu juga, kalau tidak bisa menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir, mereka langsung disiksa di alam kubur.

Kesimpulannya, surga dan neraka itu dekat dengan kita,tergantung pada kita sendiri. Makanya kita berhajat semoga Allah menyelamatkan kita dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Lalu bagaimana agar kita bisa selamat dari malaikat Munkar dan Nakir, Rasulullah bersabda dalam hadits terkenal.

? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Apabila manusia meninggal maka amalannya terputus kecuali tiga perkara, ; Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shalih yang mendoakannya..

Bekal kita agar selamat dari Munkar dan Nakir adalah, pertama, sedekah jariyah, menyumbang masjid dan mushalla, memberikan bantuan untuk fasilitas public, atau perjuangan apapun yang berdampak panjang dan luas bagi umat.

Kedua, ilmu yang bermanfaat. Ini tidak hanya ilmu agama, bisa ilmu matematika kalau diamalkan dengan ikhlas untuk memintarkan umat Islam, juga jadi sedekah jariyah.

Ketiga, anak sholeh, yaitu anak yang mau mendoakan orang tuanya. Jadi kalau kita punya anak tetapi tidak pernah mendoakan orang tuanya, tentu tidak mendapatkan apa-apa.

Terakhir adalah mari kita mengerjakan pekerjaan kita dengan tulus dan ikhlas, apapun pekerjaannya, enak atau tidak enak. Kita jadi guru, jadi pejabat, jadi pemerintah, jadi tukang sapu, kalau itu ikhlas karena Allah, insyaallah akan menolong kita di alam kubur, amiin ya rabbal alamiin. Semoga kita bisa bersama.

?

Khotbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Daerah Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Raperda Mihol Ditolak Bamus DPRD, NU Surabaya Sinyalir Ada “Permainan”

Surabaya, Pondok Pesantren Tegal. Penolakan Bamus (Badan Musyawarah) DPRD Kota Surabaya terhadap hasil Pansus (Panitia khusus) Mihol yang mengamanatkan pelarangan total peredaran Mihol di Surabaya menuai protes keras. 

Raperda Mihol Ditolak Bamus DPRD, NU Surabaya Sinyalir Ada “Permainan” (Sumber Gambar : Nu Online)
Raperda Mihol Ditolak Bamus DPRD, NU Surabaya Sinyalir Ada “Permainan” (Sumber Gambar : Nu Online)

Raperda Mihol Ditolak Bamus DPRD, NU Surabaya Sinyalir Ada “Permainan”

"NU Kota Surabaya mensinyalir ada permainan dalam proses itu yang melibatkan pihak-pihak luar yang berkepentingan terhadap peredaran Mihol," kata H Muhibbin Zuhri, Ketua PCNU Surabaya di tempat berbeda saat mengawal aksi NU Surabaya, Senin (25/4).

NU juga menilai pimpinan Bamus dan anggota yang tidak mau menindaklanjuti keputusan Pansus adalah sikap amoral. "Mereka kelihatannya melakukan apa saja untuk mengganjal lolosnya pelarangan peredaran Miras. Ini politik amoral, mengabaikan nilai-nilai moral dalam berpolitik," tegas Muhibbin.

Lebih lanjut, Muhibbin menduga ada persekongkolan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap peredaran miras dengan orang-orang dalam DPRD. "Jangan-jangan ada yang happy dengan peredaran miras di Surabaya dan semakin rusak moral generasi muda Surabaya akibat peredaran miras," lanjutnya.

Penjegalan Raperda pelarangan total Mihol ini sudah mulai kelihatan sejak Pansus memutuskan tekad tersebut. Seperti diketahui, setelah kedatangan rombongan para ulama dari PCNU, Pansus akhirnya mengubah arah pembahasan raperda Mihol, dari yang semula pembatasan dan pengendalian mihol menjadi pelarangan.

Pondok Pesantren Tegal

Enam orang dari sepuluh anggota pansus penyetujui pelarangan total peredaran mihol. Sedangkan empat diantaranya tidak bergeming pada pelarangan di supermarket dan hipermart saja. Akhirnya, pansus memutuskan pelarangan total. "Keputusan pelarangan itu didasarkan pada komitmen bersama untuk mewujudkan Surabaya bebas narkoba dan Mihol," jelas pria yang juga dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya.

Namun kini nasib keputusan itu menjadi tidak jelas, setelah Bamus tidak menindaklanjuti hasil Pansus. Menyikapi hal ini, PCNU surabaya akan menyerukan pemberian sanksi moral kepada para anggota DPRD yang dinilai pro-peredaran miras. "Kami akan menggerakkan pemberian sanksi moral kepada pihak-pihak yang tidak sensitif terhadap keinginan warga surabaya untuk membebaskan kotanya dari peredaran Narkoba dan Miras," pungkas Muhibbin. (Rof Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Kyai, Doa, Daerah Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Awan PWNU Jateng: NKRI Tak Akan Pecah

Semarang, Pondok Pesantren Tegal. Islam tak akan berbenturan apalagi akan memecahkan NKRI, bila kita memahami dan mengamalkannya dengan benar. Kita harus mengacu kepada Rasulullah SAW yang mengajarkan untuk bersikap toleran kepada siapapun. 

Demikian dikatakan oleh Rektor UIN Walisongo Prof Dr H Muhibbin, MAg, yang juga Awan PWNU Jateng pada acara Seminar Nasional yang digelar oleh Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW), Rabu (25/3) bertajuk ‘Islam dalam Benturan Peradaban : Proyeksi Pecahnya NKRI’ di Auditorium I Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang.

Awan PWNU Jateng: NKRI Tak Akan Pecah (Sumber Gambar : Nu Online)
Awan PWNU Jateng: NKRI Tak Akan Pecah (Sumber Gambar : Nu Online)

Awan PWNU Jateng: NKRI Tak Akan Pecah

Muhibbin mengatakan, bahwa Walisongo berdakwah di tanah Jawa khususnya, mereka tidak berbenturan dengan budaya lokal. Meskipun budaya itu tidak selaras dengan Islam, tidak dimusnahkan. “Namun dijadikan instrumen dengan mengisi budaya lokal yang ada dengan ajaran Islam”, tutur mutakhorrijin atau alumni Pesantren Futuhiyyah, Mranggen Demak ini. 

Pondok Pesantren Tegal

Dia menjelaskan, bahwa prediksi NKRI akan pecah hanya menjadi prediksi belaka, tidak akan menjadi kenyatakan bila kita mampu memahami dan menjalankan Islam yang rahmatal lil alamin. 

Selain Prof Muhibbin, KSMW juga menghadirkan Waketum PBNU Dr H As’ad Said Ali dan Dr KH Fadlolan  Musyafa Muthi, Lc, MA, alumnus Fakultas Syariah wal Qanun lulusan Universitas  Al-Azhar yang juga menjabat sebagai Rais Syuriah PWNU Jateng. 

Menurut penuturan Ketua KWMW, Ahmad Muqsith, kegiatan ini didasarkan pada pernyatan Samuel Huntington (1927-2008) yang memproyeksikan benturan antara peradaban timur dan barat. Muqsith menyatakan, KSMW akan terus mewacanakan isu-isu regional, nasional hingga internasional. 

Pondok Pesantren Tegal

“Karena mahasiswa saat ini mulai melupakan entitas bangsa Indonesia yang terlingkup dalam tradisi dan budaya lokalnya,” ujarnya. (M Zulfa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Daerah, Makam Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Kalau Salah Tangan, Agama Bisa Jadi “Fitnatan lil Alamin”

Solo, Pondok Pesantren Tegal. Sejak kelahirannya pada tahun 1926, Nahdlatul Ulama (NU) telah membuktikan kapasitasnya sebagai salah satu organisasi masyarakat Islam yang besar, dengan berbagai pembuktian perannya, baik di tingkat lokal hingga kancah dunia.

Kalau Salah Tangan, Agama Bisa Jadi “Fitnatan lil Alamin” (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalau Salah Tangan, Agama Bisa Jadi “Fitnatan lil Alamin” (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalau Salah Tangan, Agama Bisa Jadi “Fitnatan lil Alamin”

Meski demikian, masih ada beberapa hal yang mesti harus terus dibangun dan dikembangkan oleh NU. Menurut Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi, setidaknya ada empat hal yang mesti dibangun dalam NU.

“Pertama, sistem, nidham dan manhaj. Agama yang menjadikan negara selamat, kalau mengikuti manhaj cara pikir NU baik diniyah maupun syariah,” tutur kiai yang pernah menjadi Ketua Umum PBNU itu, pada acara lailatul ijtima PCNU Kota Surakarta, Selasa (7/4) malam.

Pondok Pesantren Tegal

Kiai Hasyim menyayangkan, kini manhaj NU sudah banyak ditinggalkan oleh warga Nahdliyin. “Warga NU sendiri banyak yang meninggalkan, karena mereka tidak tahu, kecuali hanya tahlil sebagai parameter NU,” ujar anggota Dewan Pertimbangan Presiden tersebut.

Padahal, tambahnya, seyogianya warga Nahdliyin yakin akan NU. “Di tangan NU, agama menjadi rahmatan lil alamin (rahmat bagi semua). Kalau salah tangan, agama bisa menjadi fitnatan lil alamin (cobaan bagi semua),” kata dia.

Pondok Pesantren Tegal

Hal berikutnya, menurut Pengasuh Pesantren Al-Hikam itu, yakni NU sebagai jam’iyah dan peran sosial NU. Sudah semestinya, NU memperkuat dan mengembangkan perannya dalam masyarakat.

Sedangkan hal terakhir, yakni penguatan ekonomi, agar warga NU semakin kokoh dalam berjuang. “Jamaah NU bila diteliti, begitu juga fikrah NU, ternyata tidak semurni dulu. Dulu orang masuk NU ibadah, kini niatnya macam-macam. Dulu NU menghadapi musuh, kuat. Kini NU menghadapi uang, lemes, nenggak-nenggok,” tuturnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pendidikan, Daerah Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Raja Abdullah II Nilai Bush Penting dalam Proses Damai Timteng

Amman, Pondok Pesantren Tegal. Raja Yordania Abdullah II, Senin (12/3) kemarin, menilai bahwa dirinya menemukan adanya "janji" dari Presiden Amerika Serikat (AS), George W Bush, mengenai pentingnya memulai kembali perundingan perdamaian di Timur-Tengah, terutama antara Israel dan Palestina.

"Saya merasakan adanya komitmen dari Presiden George Bush dan pejabat tinggi pemerintahan AS mengenai pentingnya memulai kembali proses perdamaian dengan solusi dua-negara," kata Abudllah II, merujuk pada didirikannya negara Palestina yang berdampingan secara damai dengan Israel.

Ia mengemukakan hal tersebut kepada para mantan perdana menteri dan politikus senior di istana saat menjelaskan hasil perjalanan ke AS pekan lalu, demikian pernyataan Istana Yordania, seperti dikutip AFP.

Raja Abdullah II Nilai Bush Penting dalam Proses Damai Timteng (Sumber Gambar : Nu Online)
Raja Abdullah II Nilai Bush Penting dalam Proses Damai Timteng (Sumber Gambar : Nu Online)

Raja Abdullah II Nilai Bush Penting dalam Proses Damai Timteng

Abdullah II mendapat dukungan "mutlak dan sepenuhnya" dari parlemen dalam pidatonya ke kongres, kata Ketua parlemen Yordania, Abdul Hadi Majali.

Selama kunjungannya, ia berbicara di hadapan kedua parlemen kongres AS, dan dia menekankan pentingnya Washington memimpin usaha menyelesaikan solusi konflik Arab-Israel.

Pondok Pesantren Tegal

"Pendirian negara merdeka dan berdaulat penuh Palestina di atas tanah bangsa Palestina merupakan kepentingan Yordania, sebagaimana kepentingan Bangsa Palestina," kata raja kepada para politikus tinggi negara tersebut.

Dia memperingatkan "pencegahan solusi atas persoalan bangsa Palestina serta pencegahan pembentukan negara Palestina yang berdampingan dengan Israel, berarti tidak ada keadilan dan stabilitas yang sesungguhnya di kawasan tersebut dan semua pihak akan menanggung akibatnya."

Abdullah II meminta para pemimpin Arab, yang akan mengadakan konferensi tingkat tinggi di Riyadh pada 28 Maret mendatang, untuk menghasilkan "Posisi Arab yang bersatu-padu yang memberi momentum untuk proses perdamaian dan memungkinkan berbagai pihak membangun pencapaian dari bulan-bulan terakhir."

Pondok Pesantren Tegal

Ia secara khusus minta para pemimpin Arab untuk "menghidupkan kembali" Prakarsa Perdamaian Arab yang pertamakali diterimai pada KTT Arab di Beirut 2002.

"Memulai kembali proses perdamaian harus berdasarkan prakarsa ini termasuk peta jalan (kuartet) dan resolusi PBB," kata Abdullah II.

Prakarsa Perdamaian Arab, yang awalnya diusulkan oleh Pangeran Abdullah dari Saudi Arabia, akan memberikan pengakuan terhadap Israel oleh semua negara Arab asalkan Israel menarik diri dari semua tanah Arab yang diduduki dalam perang Arab-Israel 1967.

Abdullah II mengemukakan, Yordania, Mesir dan Saudi Arabia berusaha keras untuk menghentikan blokade ekonomi yang dilakukan terhadap wilayah Palestina setelah Hamas memenangkan Pemilu pada Januari 2005. (ant/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Fragmen, Daerah, Ubudiyah Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Tafsir Darul Islam Menurut NU

Dalam gerak dan pikirnya, para kiai dan santri mampu mensinergikan antara agama dan nasionalisme, terutama ketika KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947) memfatwakan bahwa agama dan nasionalisme tidak bertentangan. Mereka adalah dua entitas yang dapat saling memperkuat bangunan kebangsaan dan kenegaraan apapun perbedaan suku, agama, dan ras.

Kiai Hasyim Asy’ari menyadari betul bahwa Indonesia terdiri dari berbagai macam identitas kemajemukan. Kekayaan tradisi menguatkan identitas keindonesiaan, sedangkan kemajemukan agama dapat memperkuat bangunan nasionalisme dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama yang universal.

Tafsir Darul Islam Menurut NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Tafsir Darul Islam Menurut NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Tafsir Darul Islam Menurut NU

Sejak era pergerakan nasional, bangsa Indonesia dihadapkan oleh sejumlah kelompok yang begitu menonjolkan agamanya untuk membangun negara seperti yang mereka inginkan tanpa menyadari pluralitas dan kebhinnekaan Indonesia. Sebut saja DI/TII gawangan S.M. Kartosoewirjo yang hendak mendirikan Darul Islam (DI) di wilayah Indonesia tepatnya dimulai pada tahun 1942.

Padahal enam tahun sebelum wacana pendirian DI oleh Kartosoerwijo itu, Nahdlatul Ulama (NU) melalui Muktamar ke-11 tahun 1936 di Kota Banjarmasin telah mendefinisikan Darul Islam secara logis dan brilian. Dalam Muktamar ke-11 itu, NU memang dengan tegas memutuskan bahwa Indonesia merupakan Darul Islam.

?

Pondok Pesantren Tegal

Namun demikian, Darul Islam yang dirumuskan NU bukan rancangan memabngun negara teokrasi, bukan pula Islam sebagai agama hendak diformalisasikan ke dalam sistem negara. Tetapi, konteks Darul Islam yang dimaksudkan NU ialah wilayah Islam, bahwa Indonesia saat itu masih terjajah sehingga melawan penjajah merupakan kewajiban setiap Muslim, atau dengan kata lain berjihad melawan penjajah adalah kewajiban agama.

Definisi tersebut berdasarkan tafsir yang dijelaskan oleh ulama kharismatik NU, KH Achmad Siddiq (1926-1991) yang memberikan penafsiran hasil Muktamar NU tahun 1936 terkait keputusan Darul Islam. Kiai asal Jember tersebut menerangkan, kata Darul Islam dalam Muktamar tersebut bukanlah merujuk pada istilah tatanan politik kenegaraan, tetapi sepenuhnya istilah keagamaan yang lebih tepat diartikan sebagai Wilayatul Islam atau wilayah Islam (Piagam Kebangsaan, 2011).

Pondok Pesantren Tegal

Dari langkah para kiai NU tersebut, jauh hari sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, NU telah mengambil sikap tegas bahwa Indonesia merupakan wilayah Islam yang sedang dikooptasi, dijajah, dan dikuasai oleh kolonial. Maka, berjihad melawan penjajah merupakan kewajiban dan panggilan agama.

Gerak pikir dan langkah brilian para kiai NU tersebut menunjukkan bahwa perjuangan mereka tidak sebatas menegakkan simbol agama untuk kepentingan kelompok, tetapi meneguhkan nilai-nilai agama sebagai spirit perjuangan mengusir dan melawan penjajah sehingga akhirnya Indonesia pun merdeka atas jihad substansial umat Islam dan seluruh rakyat Indonesia kala itu.

Hal ini sangat berbanding terbalik dengan sebagian kelompok yang justru dengan simbol-simbol agama yang seolah gagah ingin mendirikan daulah Islamiyah dengan merontokkan sendi-sendi bangunan persatuan dan kesatuan Indonesia yang diikat kuat oleh hasil jeri payah para pendiri bangsa dengan menancapkan falsafah agung Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai perekat kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan spirit nilai-nilai keagamaan sebagai pondasi moral.

Memperhatikan poin-poin penting di atas, memahami Islam atau agama secara umum sebagai simbol hanya akan menyempitkan pandangan universalitas agama itu sendiri. Sebaliknya, menyerap setiap nilai-nilai yang terkandung dalam perjuangan dan rumusan falsafah yang dihasilkan oleh para pendiri bangsa akan menyadarkan hati dan pikiran bahwa betapa nilai-nilai agama atau ke-Tuhanan menjadi spirit persatuan dalam perjuangan merebut kemerdekaan.

(Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Daerah, Berita Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Harlah IKA-PMII, Tiga Lembaga Kolaborasi Bedah Buku ‘Fiqh Nusantara’

Jember, NU Jember.?

Dalam rangka memperingari harlah IKA-PMII dan pelantikan HMPS Hukum Tata Negara, Fakultas Syari’ah IAIN Jember mengadakan seminar dan bedah buku Fiqih Nusantara dan Sistem Hukum Nasional, pada Kamis, (20/4). ?

Acara yang dihadiri tak kurang dari 300 orang itu diadakan di auditorium IAIN Jember. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerja sama PC IKA-PMII Jember, Ponpes Darul Hikam Mangli Jember dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara Fakultas Syari’ah IAIN Jember. ?

Harlah IKA-PMII, Tiga Lembaga Kolaborasi Bedah Buku ‘Fiqh Nusantara’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah IKA-PMII, Tiga Lembaga Kolaborasi Bedah Buku ‘Fiqh Nusantara’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah IKA-PMII, Tiga Lembaga Kolaborasi Bedah Buku ‘Fiqh Nusantara’

Dalam sambutannya, Ketua Jurusan Hukum Islam, Muhaimin, mengatakan sangat senang adanya kegiatan ini.?

“Saya berterima kasih atas semua yang telah berkonstribusi dalam acara ini. Ini membuktikan bahwa prodi Hukum Tata Negara sangat bagus dan hebat. Saya harap akan banyak acara-acara serius tentang Islam Nusantara ini. Apalagi, sebentar lagi, Fakultas Syari’ah akan punya guru besar baru,” tukas Muhaimin memotivasi. ? ?

Pondok Pesantren Tegal

Pengasuh Putri Ponpes Darul Hikam, Nyai Robiatul Adawiyah menyebut pentingnya pesantren dalam mendukung kegiatan IAIN Jember dengan visinya Pusat Pengembangan Pesantren dan Islam Nusantara.?

“Kami, selaku pengasuh PP Darul Hikam mendukung visi IAIN Jember dengan Islam Nusantaranya, termasuk kegiatan bedah buku ini. Jadi, kalau ada acara yang berskala nasional bahkan internasional di masa-masa mendatang, kami siap berkonstribusi,” papar ibu Nyai muda yang masih menyelesaikan S2 Hukum Keluarga Pascasarjana IAIN Jember tersebut.?

Sementara itu, Ketua IKA-PMII Jember, Akhmad Taufik, mengatakan bahwa bedah buku ini adalah rangkaian harlah IKA-PMII yang ke-57.?

“Kita tanggal 17 April 2017 kemarin ada santunan anak yatim. Dan hari ini, 20 April, ada bedah buku Fiqh Nusantara. Selanjutnya, nanti tanggal 24 April ada tahlil dan halaqah kebangsaan untuk alm. KH Hasyim Muzadi di Masjid Sunan Kalijaga Jember. Selanjutnya, kerja sama tiga lembaga ini yaitu PC IKA PMII Jember, Ponpes Darul Hikam dan HMPS Hukum Tata Negara Fakultas Syari’ah berarti menunjukkan adanya kegiatan yang bisa diusung bersama,” kata Mas Taufik, panggilan akrabnya, yang juga dosen FKIP Universitas Jember.?

Pondok Pesantren Tegal

Seminar dan bedah buku ini juga berlangsung gayeng hingga berakhirnya pada pukul 13.00 WIB. Zaini Rahman, penulis buku ini menyebut bahwa pondasi hukum nasional di Indonesia ada dua, hukum Islam dan hukum adat.?

“Jadi, hukum Barat tidak menjadi pondasi hukum nasional di negara kita. Di sinilah, makanya para sarjana hukum Islam di negeri ini menjadi sangat penting, terutama untuk penalaran hukum. Itu kalau kita kembali ke hukum Islam. Saya sudah belajar bermacam-macam hukum, tapi akhirnya tetap kembali pada hukum Islam. Dan belajar hukum Islam ya di pesantren,” tukas Ketua PB IKA-PMII dan anggota DPR RI 2009-2014 ini.?

Kiai MN Harisudin memberi catatan buku ini sebagai buku yang lengkap untuk referensi buku pengetahuan hukum dan penalaran hukum.?

“Buku ini buku yang komprehensif membahas pengetahuan hukum dan penalaran hukum, dua hal yang dijadikan kompetensi hukum. Hanya, ada tiga catatan yang saya ajukan dalam buku ini. Pertama, buku ini kurang up date dalam hukum positif seperti UU Perbankan Syari’ah 2009, UU Produk Halal 2014, UU Haji 2014 dan sebagainya. Kedua, buku ini tidak menjelaskan metodologi fiqih Nusantara. Ketiga, buku ini sangat sedikit mengupas tentang fiqih Nusantara,” tukas Kiai yang juga Katib Syuriyah PCNU Jember.?

Al Khanif menambahkan tentang pentingnya hukum Islam. “Saya sering bertanya pada mahasiswa saya, kenapa hukum Islam dipelajari ? Apakah karena mayoritas? Mahasiswa saya tidak bisa menjawab. Saya katakan, hukum Islam dipelajari karena sudah menjadi bagian dari sistem hukum di dunia,” tandas al-Khanif yang juga Dosen Fakultas Hukum Universitas Jember. (Anwari/Mukafi Niam) ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Sejarah, Internasional, Daerah Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 26 November 2017

Pagar Nusa, Bentengi Kiai Jaga NKRI

Jember, Pondok Pesantren Tegal

Pencak Silat NU Pagar Nusa harus tetap menggenggam tekad untuk terus mengawal NU dan mengawal perjuangan para kiai dalam membumikan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua PCNU Jember Moch. Eksan saat menyampaikan taushiyah dalam acara Peringatan Harlah Pagar Nusa Ke-31 dan Tasyakuran Sabuk Pagar Nusa di Pondok Pesantren Yasinat, Kesilir, Kecamatan Wuluhan, Jember, Jawa Timur, Kamis (26/1) malam.

Pagar Nusa, Bentengi Kiai Jaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa, Bentengi Kiai Jaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa, Bentengi Kiai Jaga NKRI

Menurut Ustadz Eksan, Pagar Nusa adalah bagian penting dari NU. “Mereka (Pagar Nusa) adalah relawan dan benteng para kiai, dan itu otomatis menjaga, melindungi dan memelihara NKRI. NKRI sendiri bagi kiai dan NU adalah ikhtiar final umat Islam Indonesia dalam mendirikan negara dan menyelenggarakan pemerintahan. Jadi membela kiai dan membela apa yang telah diperjuangkan kiai, yaitu NKRI adalah harga mati bagi Pagar Nusa,” jelasnya.

Pondok Pesantren Tegal

Politisi Partai NasDem itu juga menyinggung peranan KH. Maksum Jauhari (Gus Maksum) dalam membidani lahirnya Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa pada tahun 1986. Dikatakan Ustadz Eksan, Gus Maksum-lah yang paling berjasa dalam menyatukan beberapa perguruan pencak silat yang tumbuh dan berkembang di lingkungan NU.

“Akhirnya Pagar Nusa menjadi wadah tunggal dari federasi pencak silat warga NU, menjadi organisasi otonom di dalam organisasi Islam terbesar di dunia itu (NU),” urainya.

Pondok Pesantren Tegal

Ia menambahkan, Indonesia merupakan negara yang mempuyai seni pencak silat terbesar di dunia. Begitu banyak aliran pencak silat di negeri ini. Salah satunya adalah pencak silat yang sudah mentradisi di kalangan warga NU, yang akhirnya diberi wadah dengan nama Pagar Nusa. “Sebagai warga negara Indonesia, kita patut bangga karena cabang olah raga pencak silat ini sering kali menjuari kejuaraan dunia,” lanjutnya.

Peringatan Harlah Pagar Nusa Ke-31 dan Tasyakuran Sabuk Pagar Nusa yang mengusung tema “Pagar Nusa, Mengawal Kiai dan Membentengi NKRI” tersebut juga dihadiri oleh Katib Syuriyah MN. Harisuddin dan Sekretaris PCNU Jember Hamid Pujino dan sejumlah kiai serta tentu saja anggota Pagar Nusa dan masyarakat. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Daerah, Sholawat Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 23 November 2017

Umat Beragama Diajak Pahami Ajaran Agama Lain

Makassar, Pondok Pesantren Tegal. Seluruh pemeluk agama baik muslim dan non muslim diajak untuk saling memahami ajaran agama pemeluk lain dan menjalin hubungan komunikasi serta toleransi agar konflik antar agama dapat dihindari.

Pasalnya, kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa dalam Training of Trainer (ToT) Peran Agama Dalam Mewujudkan Persatuan dan Kesatuan Ditengah Keragaman Etnis dan Budaya yang digelar di Makassar, Minggu, komunikasi dan toleransi serta adanya pemahaman ajaran agama pemeluk agama lainnya dapat menciptakan sensitivisme agama.

Umat Beragama Diajak Pahami Ajaran Agama Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Beragama Diajak Pahami Ajaran Agama Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Umat Beragama Diajak Pahami Ajaran Agama Lain

Dia memberikan contoh, saat beredar informasi terkait adanya Al Quran yang diinjak-injak di Guantanamo, kamp militer Amerika Serikat di Kuba, seluruh umat muslim di dunia gempar dan mengecam tindakan tersebut tanpa dikomando karena menganggap bahwa hal itu merupakan bentuk pelecehan terhadap Alquran yang merupakan kitab suci kaum muslim.

Demikian pula halnya dengan karikatur Nabi Muhammad di Jerman yang dianggap telah melecehkan Islam dan nabi yang sangat dihormati kaum muslim.

Kofifah juga menceriterakan pengalamannya saat menghadiri pertemuan dengan sejumlah observer (pengamat) agama bersama KH Hasyim Muzadi di Jerman, dimana ia diberikan salib yang terbuat dari kayu.

Pondok Pesantren Tegal

Ukurannya sekitar 10 centimeter dan tertulis ’Palestine Wood’ yang berarti bahwa salib tersebut terbuat dari kayu yang berasal di perbatasan Palestina dan Jerussalem.

"Saya mengatakan bahwa saya bisa saja membakar salib ini bukan atas nama demokrasi seperti yang diagung-agungkan Jerman tetapi itu tidak saya lakukan karena saya menghargai bahwa salib ini merupakan simbol agama yang dihormati kaum nasrani," jelasnya.

Khofifah yakin, karikatur Nabi Muhammad yang dianggap sebagai bentuk pelecehan dan penistaan nabi kaum muslim seperti yang dimuat surat kabar Jerman, Jylland Posten, tidak akan terjadi bila yang bersangkutan memahami agama lain termasuk simbol-simbol agama pemeluk lain.

Selain itu, lanjut Khofifah, faktor miskomunikasi ini juga menjadi penyebab terjadinya kehidupan yang destruktif dimana ’ending’nya  bisa melahirkan separatisme seperti kasus Ambon.

Pondok Pesantren Tegal

Konflik yang terjadi di Ambon ini, lanjutnya, mengatasnamakan agama (perang agama antara Islam dan Kristen) padahal sesunguhnya, pemicu peristiwa tersebut adalah masalah sepele yang tidak ada kaitannya dengan agama tertentu.

Padahal bila terjalin dialog atau komunikasi dalam menangani masalah ini, tambah aktivis perempuan ini, konflik SARA di Ambon tidak akan terjadi.

"Simbol agama ini sering dieksploitasi sehingga tidak mengherankan bila konflik terkait SARA sangat cepat menyebar dan untuk meredam konflik itu, tokoh agama diminta untuk menyelesaikannya karena mereka dianggap paling memahami ajaran agama lain," jelasnya.

Menurut mantan Menneg Pemberdayaan Perempuan di era Gus Dur ini, umat muslim mengetahui bahwa ada yang disebut ekstrimisme (memahamai dan menerapkan nilai-nilai keagamaan sangat tinggi) dan liberalisme (terlalu kecil memahami nilai-nilai keagamaan) sebab itu, pihaknya meminta agar masyarakat perlu membedakan antara ’Islam as a teaching’ (Islam sebagai sebagai suatu ajaran) dan ’Islam as a movement’ (Islam sebagai pergerakan).

Dia memberikan contoh, masalah kerusuhan sosial di Thailand Selatan (Patani) yang mengarah pada SARA (suku, agama dan ras).

Menurut Khofifah, konflik yang terjadi di Patani merupakan kerusuhan yang diakibatkan pihak-pihak tertentu hanya untuk memenuhi keinginannya dimana dengan kekuasaannya tersebut, mereka melibatkan nilai-nilai keagamaan sehingga tejadinya konflik antar agama.

Khofifah yakin, bila masing-masing pemeluk agama memahami ajaran agama lain, kerusuhan sosial akan dapat dihindari dan keharmonisan antarpemeluk agama pun terwujud. (ant/nun)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal IMNU, Syariah, Daerah Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 21 November 2017

Adab dan Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban

Pringsewu, Pondok Pesantren Tegal. Anggota Komisi Fatwa MUI Provinsi Lampung Ahmad Rifai mengatakan bahwa dalam melakukan penyembelihan hewan hendaknya mengedepankan tata cara dan adab yang baik khususnya kepada hewan yang akan disembelih.?

Adab dan Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Adab dan Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Adab dan Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban

"Sebelum memotong perlakukan hewan dengan lembut, tidak menghardik dan robohkan dengan baik dan benar dalam artian tidak kasar dan menyakitkan hewan yang akan disembelih," katanya saat menjadi Pembicara Kegiatan yang dilaksanakan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Pringsewu, Kamis (8/9).

?

Dalam mengasah alat atau pisau yang akan digunakan juga hendaknya tidak terlihat oleh hewan yang akan disembelih. "Inilah sebagian adab penyembelihan dengan berbuat baik kepada hewan," katanya sembari menyebutkan dalil dasar berbuat baik pada Kitab Al-Quran Surat Al-Araf ayat 157.

Pondok Pesantren Tegal

?

Adab yang lain dalam menyembelih hewan lanjut pengurus PCNU Kabupaten Pringsewu ini adalah dengan membaringkan hewan disisi kiri dan meletakkan kaki disisi leher hewan. "Ucapkan Takbir dan hadapkan hewan kearah Qiblat dan lakukan penyembelihan," lanjutnya pada kegiatan yang dihadiri oleh para Pengurus Masjid dan Musholla yang akan melaksanakan Pemotongan hewan Qurban pada Idul Adha 1437 H di Kabupaten Pringsewu.

?

Berdasarkan Fatwa MUI pada 23 Oktober 1976, penyembelihan hewan qurban dilakukan maksimal tiga kali irisan dengan tidak boleh diangkat saat proses pengirisan. "Iris dibagian leher dengan memutuskan tiga saluran yaitu saluran nafas, saluran makanan dan saluran darah," jelasnya.

Pondok Pesantren Tegal

?

Dalam kesempatan tersebut, Alumni Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri ini juga ? menjelaskan dari sisi kajian fiqh tentang Syarat-Syarat Hewan Qurban. Ia menjelaskan bahwa hewan yang akan dijadikan sebagai qurban harus sehat secara fisik, tidak cacat berupa pincang, tanduk patah dan bermata juling. "Hewan Qurban juga harus cukup umur dan bagi hewan jantan memiliki testis yang lengkap," rincinya.

?

Untuk hewan qurban Sapi atau kerbau, lanjutnya, telah berumur 2 tahun dan untuk kambing atau domba telah berumur 1 tahun. " Kambingnya juga sudah mengalami pergantian gigi seri atau kalau bahasa jawanya poel," terangnya.

?

Selain menjelaskan qurban ditinjau dari kajian fiqh, Rifai juga menjelaskan tentang Hikmah berqurban yang bisa dirasakan bagi ummat Islam yang menjalankannya. Diantaranya menurut Dosen IAIN Raden Intan Bandarlampung ini adalah merupakan kecintaan kepada Allah melalui menegakkan Ibadah yang diperintahkanNya.?

"Qurban juga merupakan ungkapan syukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah dikaruniakan sekaligus menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Daerah Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 17 November 2017

Innalillah, KH Masduqi Mahfudz Wafat

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Achmad Masduqi Machfudz wafat pada Sabtu, 1 Maret 2014 sekitar pukul 17.27 WIB di Rumash Sakit Syaiful Anwar Malang. Informasi diteruskan dari staf syuriyah PBNU H Mahbub Muafi. 



Innalillah, KH Masduqi Mahfudz Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillah, KH Masduqi Mahfudz Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillah, KH Masduqi Mahfudz Wafat

Dikutip dari website pesantren yang diasuhnya, Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda, KH Masduqi Mahfudz dilahirkan di desa Saripan (Syarifan) Jepara Jawa Tengah pada 1 Juli 1935. 

Mantan Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur ini dikenal dengan gaya hidupnya yang sederhana. Ia memiliki prinsip hidup "Kalau kita sudah meraih berbagai macam ilmu terlebih ilmu agama, maka kebahagiaan yang akan kita capai tidak saja kebahagiaan akhirat, akan tetapi kebahagiaan dunia pun akan teraih."

Dari hasil pernikahannya dengan Nyai Chasinah putri dari KH Chamzawi Umar pada 7 Juli 1957 dalam usia 22 tahun, ia dikaruniai 9 orang anak. Sebelum memasuki dunia perkuliahan seluruh putra dan putrinya tanpa kecuali diharuskan mengenyam pendidikan di pesantren. Ini merupakan prinsip yang ditanamkan Kiai Masduqi para putra putrinya. Dari pengalaman mengaji di pesantren ini, meskipun lata belakang pendidikan putra putri beragam, mereka mampu menjalankan amanah dakwah di tengah-tengah masyarakat.

Pondok Pesantren Tegal

Terlahir di tengah-tengah keluarga religius yang taat, sejak kecil ia sudah dihiasi dengan tingkah laku, sikap dan pandangan hidup ala santri. Ia dikenal sangat mencintai dunia keilmuan. Sejak kecil, Kiai Masduqi menimba ilmu di pesantren dan sekolah umum dengan biaya sendiri dengan menyempatkan berkeliling menjual sabun dan kebutuhan yang lain tanpa sepengetahuan kiai atau orang tuanya sendiri.

Sambil menuntut ilmu di SGHA (Sekolah Guru dan Hakim Agama) di Yogyakarta, ia mengaji di Pesantren Krapyak asuhan Yogyakarta KH Ali Maksum. Sejak 1957 ia mengajar di berbagai sekolah di Kalimantan, seperti di Tenggarong, Samarinda, dan Tarakan. Pada 1964 ia melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel Malang, sekaligus sebagai dosen Tadribul Qiraah (bimbingan membaca kitab), bahasa Arab, akhlak, dan tasawuf. 

Pondok Pesantren Tegal

Pemahamannya terhadap kitab gundul sangat dalam, baik ketika dalam pembahasan masalah di forum majlisul bahtsi wal muhadlaratud diniyyah, kodifikasi hukum Islam, bahtsul masail, maupun tanya jawab hukum Islam pada majalah Aula

Pesantren Nurul Huda yang dirintisnya bermula hanya sebuah mushalla kecil yang berada di Mergosono gang 3B. Mushalla yang sebelumnya sepi oleh aktivitas ibadah mulai digalakkan semenjak ia berdomisili di situ ketika meneruskan pendidikannya di IAIN Sunan Ampel Cabang Malang. Karena keahliannya dalam bidang agama, banyak mahasiswa yang nyantri kepadanya dan kemudian terus ia semakin dikenal dan semakin banyak orang belajar agama sampai akhirnya musholla kecil tersebut menjadi pesantren yang sesungguhnya. (mukafi niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Daerah, Habib, Aswaja Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 15 November 2017

Lakpesdam NU Dorong Inklusi Sosial Melalui Revitalisasi Tradisi

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Jika diakumulasi, tak kurang dari 25 daerah memiliki aturan tentang pelarangan aliran, sekte, atau keyakinan tertentu. Akibatnya, terjadilah eksklusi sosial (social exclusion) terhadap suatu kelompok. Sebagian besar korbannya adalah kalangan minoritas agama, aliran, dan sekte tertentu.

Lakpesdam NU Dorong Inklusi Sosial Melalui Revitalisasi Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Dorong Inklusi Sosial Melalui Revitalisasi Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Dorong Inklusi Sosial Melalui Revitalisasi Tradisi

Demikian disampaikan oleh Ketua PP Lakpesdam NU, Dr H Rumadi dalam rilisnya terkait dengan diskusi publik bertajuk ‘Revitalisasi Tradisi dan Inklusi Sosial’, Rabu (7/10) di lantai 5 Gedung PBNU Jakarta.

Rumadi mengatakan, eksklusi sosial terhadap kelompok-kelompok tertentu bukan hanya dalam hal mempraktikkan tuntutan agama dan keyakinan, tetapi juga berimplikasi pada masalah ekonomi, hak-hak politik, dan penunaian hsk-hsk sebagai warga negara.

Pondok Pesantren Tegal

“Karena itu, upaya inklusi sosial adalah sebuah keniscayaan yang harus diusahakan,” ujar Rumadi.

Pondok Pesantren Tegal

Anggota Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP) ini melanjutkan, upaya inklusi sosial ini merupakan tindakan mengembalikan kelompok-kelompok yang tersisih alias tereksklusi agar mereka memperoleh kedudukan atau posisi sama dengan kelompok mayoritas. Hal ini berimplikasi pada penerimaan secara tuntas (recognize) sebagai anggota masyarakat dan warga negara.

“Salah satunya dapat ditempuh dengan melakukan revitalisasi tradisi,” ujar Dosen Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta ini.

Maksudnya adalah, lanjut Rumadi, kembali mengarusutamakan gerakan bersumber dari tradisi untuk merespon kasus-kasus eksklusi yang terjadi di masyarakat. Respon ini tidak semata-mata sebagai resistensi atau penolakan terhadap hal baru, tambahnya, tapi berupa dialektika, akomodasi, dan akulturasi secara selektif dalam menghidupkan kembali tradisi.

Diskusi publik ini dihadiri oleh Ketua PBNU, Drs H Imam Aziz dan Prof Dr H Maksoem Mahfoedz, aktivis Gerakan Muda Nahdlatul Ulama (GMNU), Amsar A Dulmanan, MSi, penulis buku ‘Intelektualisme Pesantren’, Dr H Mastuki Hs, dan segenap Pengurus Pusat Lakpesdam NU. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kajian, Daerah Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 09 November 2017

Meriah, Festival Shalawat di Gianyar Bali

Gianyar, Pondok Pesantren Tegal. Menjelang bulan Ramadhan 1436 H festival shalawat digelar di Masjid Agung Al Ala Gianyar Bali yang diikuti oleh PCNU beserta badan-otonom NU se Provinsi Bali.

Meriah, Festival Shalawat di Gianyar Bali (Sumber Gambar : Nu Online)
Meriah, Festival Shalawat di Gianyar Bali (Sumber Gambar : Nu Online)

Meriah, Festival Shalawat di Gianyar Bali

Kegiatan ini dimeriahkan oleh Group Gambus Kolaborasi Almanar Assololey dari Pasdalem Gianyar Bali, Juara 3 Nasional kolaborasi LASQI th 2012 di NTB, Ahad (31/5) lalu.

Festival Sholawat yang dibuka oleh Ketua PWNU Provinsi Bali KH Abdul Azis ini berlangsung sangat meriah. Para peserta begitu bersemangat mengikuti even ini hingga acara selesai.

Pondok Pesantren Tegal

"Kegiatan ini merupakan ajang syiar dan dakwah yang sangat bagus, salut buat PCNU Gianyar. Dan kegiatan ini akan diagendakan menjadi even tahunan," ujar KH Azis setelah membuka acara.

Kegiatan festival sholawat ini ditutup dengan ceramah agama yang disampaikan oleh KH Asyari Mahfudz dari Pasuruan Jawa Timur. (Idris Maulana/Anam)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Daerah, Cerita, Ahlussunnah Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 07 November 2017

Ketua LD PBNU: Keterbelakangan Sosial di Jawa Barat Memprihatinkan

Bandung, Pondok Pesantren Tegal. Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU), KH Maman Imanulhaq berpandangan, saat ini urusan publik di Jawa Barat harus serius mengurusi persoalan kemanusiaan. Sebab menurutnya, pembangunan infrastruktur tidak secara otomatis berdampak pada masyarakat lapisan bawah yang dalam kategori sosial bermasalah.

 

Ketua LD PBNU: Keterbelakangan Sosial di Jawa Barat Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua LD PBNU: Keterbelakangan Sosial di Jawa Barat Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua LD PBNU: Keterbelakangan Sosial di Jawa Barat Memprihatinkan

"Politisi lebih bicara soal infrastruktur, kalangan jurnalis lebih suka mengangkat isu-isu sensasional, dan aktivis mahasiswa juga kurang sungguh-sungguh menggali problem sosial yang paling mendasar," kata Kang Maman seusai mengisi acara Halaqah Dai Cyber NU di Hotel Grand Asrilia Bandung, Sabtu (9/9).

 

Menurut kiai yang akrab dipanggil Kang Maman ini, data Badan Pusat Statitik (BPS) Jawa Barat terbaru, mengungkapkan bahwa saat ini di Jawa Barat masih terdapat 135.787 anak terlantar, 211.940 anak jalanan. Terdapat  2.592 anak nakal. Lalu terdapat 5.935 korban Narkotika. 

Pondok Pesantren Tegal

Gelandangan dan pengemis mencapai 12.252. Pengindap HIV/AIDS masih cukup tinggi karena mencapai angka 18.106. Dan mengenaskan, terdapat balita terlantar 6.587.

 

Pondok Pesantren Tegal

Kang Maman juga prihatin karena selama terdapat 4.852.520 wanita yang mengalami kerawanan sosial ekonomi. Dan lebih memprihatinkan lagi, terdapat 4.852.520 keluarga fakir miskin yang dari tahun ke tahun tak pernah menyusut.

 

"Angka-angka tersebut dari tahun ke tahun tidak berubah signifikan. Artinya negara kurang tajam dalam mengurusi persoalan-persoalan mendasar. Wajar saja kalau IPM Jawa Barat rendah karena ada masalah krusial dalam bidang sosial seperti itu. Ini belum kita bicara soal kesehatan yang rendah, partisipasi sekolah yang sangat rendah dan juga urusan Mandi, Cuci, Kakus (MCK) dan Rutilahu yang tak teratasi secara konkret," terang Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka ini.

 

Sebagai pimpinan yang menahkoadi ribuan mubalig di seluruh Indonesia, Kang Maman akan berusaha membawa spirit Islam Nusantara dalam perjuangan terhadap warga marginal. Menurutnya, masalah-masalah mendasar warga lapisan bawah itu harus menjadi agenda prioritas setiap pemerintah baik pemerintah Pusat, Wilayah maupun Pemerintah Daerah.

 

"Keterbelakangan sosial di Jawa Barat itu memprihatinkan. Islam Nusantara adalah Islam yang mengedepankan solidaritas. Karena itu urusan keberpihakan terhadap kelompok yang tidak mendapatkan keadilan harus diutamakan. Negara harus dikontrol terus agar tidak lalai mengurusi kaum fakir-miskin. Dan media massa, termasuk media sosial harus mengampanyekan problem seperti ini. Itu akan lebih produktif ketimbang mengusung berita bohong (hoaks)," terangnya. (Yusuf/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Santri, Amalan, Daerah Pondok Pesantren Tegal

Senin, 25 September 2017

Keotentikan Karya Kiai Hasyim Asyari

Tak lama ini ada beberapa tuduhan bahwa kitab Adab al-Alim wa al-Muta’allim yang selama ini diketahui sebagai karya Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari diklaim bukan karya asli pendiri NU itu. Beberapa dosen, mahasiswa dan kalangan akademisi pun juga ikut meragukan. Spontan penulis merasa ganjal dan tertarik untuk mengulasnya melalui tulisan ini.

Yang dijadikan argumentasi ialah bahwa kitab Kiai Hasyim serupa dengan kitab karya Ibnu Jama’ah (w.733) berjudul Tadzkirah al-Sâmi’ wa al-Mutakallim fi Adab al-Alim wa al-Muta’allim. Kabarnya kitab itu hanya dimiliki tiga orang se-Jawa Timur. Padahal, ketika penulis menelusuri di internet ternyata banyak dan bisa diunduh secara lengkap dalam format pdf sesuai cetakan, penerbit Maktabah Ibni Abbas, Mesir, 2005 dan tersedia pula makhthuthah atau masnuskrip aslinya.

Penulis meyakini, kitab Adab al-Alim wa al-Muta’allim yang telah ditahqiq almarhum Gus Ishom dan diterbitkan Maktabah Tsurats Pesantren Tebuireng sejak tahun 1995 itu benar-benar karya Kiai Hasyim. Banyak alasan kuat yang dapat dijadikan pegangan.

Pertama, kitab ini telah ditelaah dan mendapat taqridz atau endorsement dari ulama-ulama Timur Tengah, sebagaimana yang terlampir pada halaman 102-108. Mereka takjub atas kepandaian Kiai Hasyim dalam menyusun kitab tersebut. Bahkan oleh mereka, Kiai Hasyim dijuluki dengan berbagai macam gelar keilmuan seperti al- Alim (pintar) al-‘allâmah (cendekiawan ulung), al-fahhâmah (sangat memahami agama), mursyid al-sâlikîn ilâ aqwam tharîq (penuntun para murid kepada jalan yang benar).

Keotentikan Karya Kiai Hasyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)
Keotentikan Karya Kiai Hasyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)

Keotentikan Karya Kiai Hasyim Asyari

Ulama tersebut diantaranya Sa’id bin Muhammad al-Yamani, guru di Masjidil Haram dan Imam bermadzhab Syafii, Abdul Hamid Sanbal Hadidi guru di Masjidil Haram dan Imam bermadzhab Hanafi, Hasan bin Sa’id al-Yamani, dan Muhammad Ali bin al-Sa’id al-Yamani. Ulama-ulama ini tentunya tidak main-main berkenan memberikan kata pengantar untuk kitab Kiai Hasyim.

Kedua, tentang keserupaan bab yang ada di kitab Adab al-Alim dengan Tadzkirah al-Sâmi’ sebenarnya adalah hal wajar. Jika kita pernah menkaji kitab fiqh Syafiiyah, maka kitab berjudul apapun sistematika bab yang diulas satu alur. Dimulai dengan khutbah al-kitab (opening), lalu bab thaharah, disusul dengan bab shalat, zakat, puasa dan haji. Dilanjut dengan bab jual beli dan interaksi sosial (al-buyû’ wa al-muâmalah), kemudian munâkahah, jinâyat, hudûd, jihâd dan diakhiri dengan al-itq, budak.

Kiai Hasyim dalam kitabnya Adab al-Alim menulis delapan bab yang terdiri dari (1) bab keutamaan ilmu dan ahli ilmu, (2) bab adab murid kepada dirinya sendiri, (3) bab adab murid kepada gurunya, (4) bab adab murid kepada pelajarannya, (5) bab adab guru kepada dirinya, (6) baba dab guru kepada pelajarannya, (7) baba dab guru bersama murid, dan diakhiri dengan (8) bab adab kita kepada buku.

Pondok Pesantren Tegal

Sedangkan dalam Tadzkirah al-Sâmi’ Ibnu Jama’ah hanya menulis lima bab, yaitu (1) bab keutamaan ilmu dan ulama, (2) adab guru kepda dirinya, muridnya dan pelajarannya, (3) adab murid kepada dirinya, gurunya dan pelajarannya, (4) adab kepada buku, (5) idealitas sebuah lemabaga pendidikan. Dengan begitu jelas, kedua kitab serupa namun berbeda. Kalau plagiat, tentunya daftar isi keduanya tidak jauh berbeda.

Pondok Pesantren Tegal

Ketiga, sejauh penelusuran penulis selaian Kitab karya Kiai Hasyim ini, ada empat kitab yang berjudul Adab al-Alim wa al-Muta’allim yaitu, Adab al-Alim wa al-Muta’allim wa al-Mufti wa al-Mustafti karya Imam Nawawi, Adab al-Alim wa al-Muta’allim inda al-Mufakkirin al-Muslimin min Muntashaf al-Qarn al-Tsânî al-Hijrî karya Yahya Hasan Murod, Adab al-Muallim wa al-Mutaallim karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir Ali Sadi, dan Adab al-Muallim wa al-Mutaallim yang ditulis oleh Majid bin Su’ud Ali Usyan.? ?

Belum lagi, kitab-kitab yang bertemakan adabiyah menuntut ilmu. Setidaknya ada Ta’lîm al-Muta’allim ilâ Tharîq al-Ta’allum karya Syaikh Zain al-Arab bin Ismail al-Zarnuji (996 H) yang diberi anotasi (syarah) oleh Syaikh Abdullah bin M Yablaqi (1107 H). Juga Hilyah Thâlib al-Ilmi karya Syaikh Bakr Abu Zaid, Uddah al-Tuhllâb Syaikh Sufyan al-Hakami dan al-Nashîhah al-Wâfiyah li Thullâb al-Ulum al-Syarîah ditulis oleh Muhammad Abdul Hakim Aal-Qadhi

Sedangkan di Indonesia kita kenal ada kitab Tanbîh al-Muta’allim karangan almarhum Kiai Ahmad Maisur Sindi, bahkan menurut pengasuh Pondok Ringinagung Pare ini, kitab ini disusun berdasarkan nasehat Kiai Hasyim kala ia nyantri di Pesantren Tebuireng. Juga Mir’ât Afkâr al-Rijâl karya Kiai Ahmad Zaini Solo, serta Jawâhir al-Adab karangan Kiai Ahmad Nawawi bin Abdul Hamid Bulumanis, Pati.? ? ?

Keempat, melihat kealiman Gus Ishom tidak mungkin beliau sembrono mencantumkan karya itu sebagai buah pena Kiai Hasyim. Gus Ishom telah men-tahqiq belasan kitab sang kakek sejak 1994 hingga wafat tahun 2003. Beliau tidak menambahi atau mengurangi tanpa ada konfirmasi sebelumnya. Seperti kitab al-Nûr al-Mubîn. Kitab asli Kiai Hasyim ini semula berjumlah 61 halaman ketika diterbitkan ulang menjadi 85 halaman dengan menyebutkan keterangan bahwa lafadz yang berada di dalam kurung merupakan tambahan dari Gus Ishom sendiri.

Di perpustakaan pribadi Kiai Hasyim tidak dijumpai naskah asli kitab Adab al-Alim wa al-Muta’allim. Penulis menduga berada di kediaman Gus Ishom sebagaimana naskah-naskah lainnya.

Dari tulisan sederhana ini, setidaknya bisa menjadi pegangan kukuh bahwa kitab Adab al-Alim wa al-Muta’allim benar-benar karya Pendiri NU. Kalaupun ada yang masih meragukan, dipersilahkan menyampaikan titik-titik keraguannya itu secara ilmiah. Wallahu A’lam.

?

* Fathurrahman Karyadi

Mahasiswa Ma’had Aly Pesantren Tebuireng dan peminat filologi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Daerah, Syariah, Ulama Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 16 September 2017

Kiai Manarul: Penting Hidup Dekat dengan Ulama

Demak, Pondok Pesantren Tegal

Para santri yang telah merampungkan (khotmil) Al-Quran 30 juz diharapkan mampu menangkal berkembangnya aliran dan paham agama yang menyesatkan di masyarakat melalui pemahamaman makna kandungam Al-Quran yang benar dan komprehensif.

Demikian disampaikan oleh Ketua Pengurus Lembaga Dakwah PBNU KH Manarul Hidayat dalam kegiatan Haflah Tasyakkur Khotmil Qur’an Ke-40, Selasa (15/3) di halaman Pondok Pesantren Al-Badriyyah Mranggen Demak, Jawa Tengah.?

Kiai Manarul: Penting Hidup Dekat dengan Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Manarul: Penting Hidup Dekat dengan Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Manarul: Penting Hidup Dekat dengan Ulama

Tidak kurang dari 2000-an jamaah memadati halaman pesantren Al-Badriyyah, baik para wali santri, alumni, dan masyarakat sekitar.

Lebih lanjut Kiai Manarul menjelaskan tentang peranan ulama. Menurutnya, dalam kehidupan sehari-hari seseorang tidak boleh ? jauh dari peran atau sosok para ulama dan jauh dari lingkungan perakaran atau pengkajian Islam. Sehingga masyarakat tidak ? begitu mudah terpengaruh dengan budaya-budaya yang jauh dari nilai-nilai Qur’ani.

Pondok Pesantren Tegal

“Maka dari itu imbauan kepada masyarakat khusususnya remaja dan generasi muda sangat penting hidup dekat dengan seoarang ulama. Kalau kita menemukan ajaran yang membinggungkan kita bisa langsung menanyakan kepada ulama,” jelasnya.

Peranan pendidikan pesantren juga sangat penting. Ia menjelaskan pendidikan menurut Unesco meliputi empat pilar, yaitu; Learning to know (belajar mengetahui), Learning to do (belajar melakukan sesuatu), Learning to be (belajar menjadi sesuatu), Learning to live together (belajar hidup bersama). Keempat hal itu telah diajarkan dalam kehidupan pesantren sehari-hari.

Pondok Pesantren Tegal

“Maka kepada orang tua, jangan ragu memondokkan putra-putrinya di pesantren. Karena hal itu juga merupakan investasi masa depan orang tua. Karena setelah orang tua meninggal dunia, putra-putrinya akan fasih mengirim doa dan bacaan tahlil kepada orang tuanya,” tuturnya. (Ben Zabidy/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Makam, Pertandingan, Daerah Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 29 Agustus 2017

Menteri Pendidikan Tinggi Afganistan Kunjungi PBNU

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Menteri Pendidikan Tinggi Afganistan Obaidullah Obaid didampingi Dubes Afganistan untuk Indonesia Ghulam Sakhi Ghairat melakukan kunjungan ke PBNU dan ditemui oleh Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali, Jum’at (17/1).

Pertemuan tersebut banyak membahas perkembangan mahasiswi Afganistan yang mendapat beasiswa PBNU yang sekarang sedang belajar di Universitas Wahid Hasyim, Semarang.

Menteri Pendidikan Tinggi Afganistan Kunjungi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Pendidikan Tinggi Afganistan Kunjungi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Pendidikan Tinggi Afganistan Kunjungi PBNU

Perwakilan dari Universitas Wahid Hasyim yang hadir dalam pertemuan tersebut menyampaikan perkembangan yang menggembirakan dari para calon mahasiswa, yang sekarang sedang memperdalam bahasa Indonesia. “Hanya dua bulan, mereka sudah bisa berbahasa Indonesia dengan lancar,” kata perwakilan tersebut.

Pondok Pesantren Tegal

Dalam tahap pertama, mereka juga diperkenalkan dengan adat istiadat Indonesia, serta belajar agama di pesantren, seperti membaca kitab kuning atau memperbaiki bacaan Qur’annya.

Pondok Pesantren Tegal

Bukan berarti semuanya berjalan lancar, masalah perbedaan budaya antara Afganistan dan Indonesia juga menjadi kendala yang membutuhkan waktu untuk penyesuaiannya.

H As’ad Said Ali menjelaskan, jika program pertama sebanyak 23 orang ini sukses, PBNU akan menambah penerima beasiswa dalam jumlah yang lebih besar. 

Dalam hal ini prioritas PBNU adalah penerima beasiswa untuk bidang sains dan teknologi. “Kita tidak memberi mereka beasiswa dalam bidang agama. Disini belajar sains dan teknologi sekaligus sambil belajar agama di pesantren,” katanya.

Obaidullah Obaid mengapresiasi peran PBNU dalam membantu peningkatan SDM bagi anak muda Afganistan untuk belajar di Indonesia. Ia berharap kerjasama ini bisa berjalan dengan lebih baik. 

Selain dari Afganistan, PBNU juga memberikan beasiswa ke pelajar Muslim di Thailand Selatan. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Daerah, AlaSantri, Quote Pondok Pesantren Tegal