Sabtu, 29 Oktober 2011

Yenny Wahid: Indonesia “Surganya” Kaum Muslimin

Jepara, Pondok Pesantren Tegal. Yenny Wahid, putri kedua pasangan Abdurrahman Wahid dan Sinta Nuriyah ini mengaku sudah mengunjungi lebih dari 50 negara. Dari kunjungan ke berbagai negara itu, ia merasa lega tatkala sudah kembali ke tanah air.?

“Kalau saya sudah kembali ke Indonesia nikmatnya sungguh luar biasa,” akunya dalam Maulid dan Tausiyah di Pesantren At-Taqiy, Desa Kalipucang Kulon Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara, Selasa (17/5) malam.?

Di Indonesia, kata alumnus Universitas Harvard, Boston itu, warga bisa sekolah hingga ke jenjang tertinggi. Yenny merasa prihatin dengan apa yang terjadi di Nigeria. Di sana anak-anak kesulitan sekolah. Alih-alih mereka malah diculik oleh Bokoharam dan dijadikan budak seks.?

Yenny Wahid: Indonesia “Surganya” Kaum Muslimin (Sumber Gambar : Nu Online)
Yenny Wahid: Indonesia “Surganya” Kaum Muslimin (Sumber Gambar : Nu Online)

Yenny Wahid: Indonesia “Surganya” Kaum Muslimin

“Ironis pula yang terjadi di Afganistan. Anak-anak yang hendak sekolah harus berhadapan dengan tentara Taliban. Di China kondisinya juga demikian. Ingin sembahyang dilarang oleh Polisi negara tersebut,” kata perempuan bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid ini.?

Yenny menegaskan bahwa Indonesia merupakan "surga" bagi kaum muslimin. Selain bisa sekolah sampai S3, seorang ibu bisa leluasa pergi ke pasar naik motor sendiri tanpa harus ditemani seorang lelaki.?

“Di Saudi nyetir saja dilarang. Nyoblos juga tidak boleh. Sehingga hak-hak perempuan sangat didiskriminasi,” tegasnya pada hadirin yang memadati kompleks pesantren asuhan KH Nur Cholis.?

Pondok Pesantren Tegal

Yenny menambahkan kondisi yang sudah baik itu harus terus dijaga. “Mari kita perkuat iman dan Islam kita jangan sampai rapuh,” imbuhnya.?

Sementara itu, Sinta Nuriyah menekankan kepada hadirin akan pentingnya menuntut ilmu. Menurut istri almarhum Gus Dur ini, dengan ilmu pengetahuan seseorang akan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.?

Sebab itu, ia sangat mengagumi RA Kartini. Karena menurutnya perempuan asli Jepara ini berhasil mengangkat harkat dan derajat kaum wanita. (Syaiful Mustaqim/Zunus)?

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Quote, Daerah Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 20 Oktober 2011

Tidak Tepat, Tasawuf Diterjemahkan Mistisisme

Semarang, Pondok Pesantren Tegal. Tasawuf adalah adab atau moralitas yang mengatur kehidupan manusia dengan manusia, dengan alam dan dengan Tuhan. Jadi tidak tepat jika tasawuf diterjemahkan oleh para pengamat menjadi "mistisisme".

Tidak Tepat, Tasawuf Diterjemahkan Mistisisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Tidak Tepat, Tasawuf Diterjemahkan Mistisisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Tidak Tepat, Tasawuf Diterjemahkan Mistisisme

“Penerjemahan tasawuf sebagai mistisisme dalam kamus atau kajian-kajian tasawuf adalah kurang tepat,” kata Ketua Umum Mahasiswa Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) H Hamdani Mu’in dalam Café Sufi MATAN Komisariat IAIN Walisongo Semarang yang bertempat di Masjid Al-Fithroh Kampus II IAIN Walisongo Semarang pada Kamis (29/11) lalu. 

“Dalam anggapan masyarakat umum mistisisme itu urusannya dengan dukun atau paranormal,” tambahnya. 

Pondok Pesantren Tegal

KH M. Masroni, Sekretaris Umum Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah, dalam Café Sufi yang kali ini bertema “Mereduksi Mistisisme Thariqah” kesempatan itu menjelaskan, thariqah yang merupakan praktik bertasawuf adalah sebuah jalan yang dilalui seseorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pondok Pesantren Tegal

Thariqah oleh sebagian orang juga disebut prakti mistis. Ini juga tidak benar. “Thariqah itu mengajarkan disiplin dalam berbagai hal, baik dengan sesama manusia maupun dengan Allah,” kata pengasuh Pondok Pesantren Sunan Gunung Djati, Ba’alawi Gunungpati, Semarang itu.

Tariqah juga tidak identik dengan kejumudan. “Bilamana ada orang yang mengatakan thariqah itu menyebabkan kejumudan, maka hal itu tidak benar dan ahistoris. Ini dapat dilihat bahwa para pejuang dan pahlawan bangsa dan negara adalah orang yang mengikuti thariqah dengan cara yang benar,” jelasnya.

Lebih lanjut, Masroni menjelaskan, thariqah itu sudah ada pada zaman Rasulullah. Ini dapat dibuktikan dengan jalan beliau mendekatkan diri pada Tuhan dengan cara menyepi di Gua Hira’, beristighfar ratusan kali setelah salat dan lain sebagainya. “Jadi itu bukan bid’ah, tapi sunnah nabi,” tambahnya.

Meskipun sederhana, diskusi ini berjalan aktif yang ditandai dengan banyaknya peserta yang bertanya kepada narasumber. Menurut Aufal Chima, salah satu panitia, acara tersebut memang didesain berupa diskusi agar peserta lebih aktif dan bisa bertanya langsung ke narasumber. Peserta diskusi terdiri dari mahasiswa berbagai fakultas di IAIN Walisongo Semarang, Unwahas, Udinus dan beberapa kampus yang berada di sekitar Semarang.

“Rencananya acara seperti ini akan kami gelar setiap sebulan sekali agar pemahaman teman-teman tentang tasawwuf tidak hanya dalam angan, tapi juga berpengaruh dalam tindakan,” tutur Abdul Ghofur, Ketua MATAN Komisariat IAIN Walisongo Semarang.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muhammad Akmaluddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Doa Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 07 Oktober 2011

Sarasehan Kaum Santri Untuk Kedigdayaan NKRI

Jember, Pondok Pesantren Tegal - Kendati Hari Santri Nasional? (HSN) sudah terlewati hampir, tapi masyarakat untuk memperingati momentum tersebut masih sangat besar. Hal ini misalnya bisa dilihat dari kegiatan yang dilakukan oleh Pengurus Cabang Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Kabupaten Jember. Dalam rangka menyemarakkan? HSN, organisasi yang menjadi wadah pesantren-pesantren NU tersebut menggelar Sarasehan Ilmiah Kaum Santri? di aula Universitas Islam Jember (UIJ), Ahad? (20/11). Sarasehan yang mengambil tema “Manifesto Santri Untuk Kedigdayaan NKRI” tersebut dipandu Ketua LTN NU Surabaya Rijal Mumazziq.

Dalam sambutannya, ketua panitia, Khoirus Sholihin mengatakan bahwa kaum santri telah menjadi salah satu komponen penting bagi bangsa Indonesia sejak pra-kemerdekaan hingga kini, sehingga keberadaan santri harus mampu menjawab dan mengatasi segala bentuk permasalahan di berbagai bidang, dengan pendekatan khas NU yang rahmatan lil-alamin dan mengedepankan kebersamaan.

“Peran santri sangat ditunggu bangsa ini. Yaitu peran yang tidak hanya sebatas gerakan dan seruan moral, tapi juga peran di bidang pemberdayaan ekonomi umat dan sebagainya. Terhadap persoalan yang ada, bagaimana santri bisa memberikan solusi dengan mengedepankan kepentingan bangsa, bukan ego pribadi atau ego sektoral,” ujarnya.

Dalam? acara sarasehan tersebut, secara spontanitas juga dibentuk Indonesian Santri Club (ISC). Menurut Ketua PC RMI Jember ? KH Ahmad Junaidi Ghazali, klub santri tersebut akan terus dihidupkan untuk menyikapi kondisi-kondisi bangsa terkini sebagai sumbangsih dalam mengatasi persoalan? yang terjadi.

Sarasehan Kaum Santri Untuk Kedigdayaan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarasehan Kaum Santri Untuk Kedigdayaan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarasehan Kaum Santri Untuk Kedigdayaan NKRI

“Indonesian Santri Club (ISC) ini akan menjadi agenda rutin sekaligus sebagai maskot PC RMINU Jember, guna merespon isu-isu aktual baik di lingkup lokal, nasional, hingga global, dengan mengundang tokoh dan pakar di bidangnya masing-masing,” jelasnya.

Sementara itu, Rijal berharap agar sarasehan tersebut dapat menggugah kemandirian santri di bidang pemikiran, ekonomi dan politik kebangsaan, sebagaimana tergambar dalam tiga pilar organisasi embrio NU, yakni Tashwirul Afkar, Nahdlatut Tujjar dan Nahdlatul Wathan.

“Karena dengan kemandirian tersebut, saya yakin bangsa ini akan menjadi bangsa yang kuat, berdaulat, berkeadilan, makmur, digdaya dan bebas dari segala bentuk penjajahan,” cetusnya.

Pondok Pesantren Tegal

Sarasehan tersebut dihadiri oleh perwakilan pondok pesantren, Assosiaisi Para Lora dan Gus (Asparagus)? dan beberapa organisasi kemahasiswaan. ? (aryudi a. razaq/abdullah alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Daerah Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 08 September 2011

Dua Tim SMA Pesantren Nuris Raih Juara Olimpiade Ekonomi

Jember, Pondok Pesantren Tegal - Dua tim SMA Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember, Jawa Timur berhasil meraih juara dalam Olimpiade Ekonomi se-Jawa Timur dan Bali, akhir pekan lalu. Olimpiade Ekonomi tersebut dihelat di lima rayon,? yaitu rayon Jember, Madiun, Malang, Surabaya, dan Bali dengan melibatkan 108 tim.

Tim 1 SMA Nuris? beranggotakan? Zulfa Maulida dan Nanang Khoirul Anam. Sementara tim 2 SMA Nuris digawangi Ulfatun Nikmah dan Rizqi Amalya S. Di babak penyisihan, dua tim SMA yang bernaung di bawah Pondok Pesantren Nuris, Antirogo, Jember itu menang, hingga melaju ke babak semi final bersama 15 tim lainnya dari seluruh rayon.

Dua Tim SMA Pesantren Nuris Raih Juara Olimpiade Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Tim SMA Pesantren Nuris Raih Juara Olimpiade Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Tim SMA Pesantren Nuris Raih Juara Olimpiade Ekonomi

“Di babak semifinal persaingan sangat ketat. Seluruh tim harus melewati satu tahapan yang disebut runthink, yang mengharuskan kami berpikir cepat dalam menjawab seluruh pertanyaan,” ujar Nanang Khoirul Anam kepada Pondok Pesantren Tegal di Nuris, Rabu (5/10).

Pondok Pesantren Tegal

Dari? babak? ini, diambil lima besar untuk menuju grand final tahap satu dengan sesi? presentasi. Di babak ini,? dua tim SMA Nuris tersebut berhasil melewatinya dengan baik hingga masuk tiga besar untuk berlaga di grand final tahap dua dengan? sesi cerdas cermat.

Di sesi puncak ini, tim 2 SMA Nuris berhasil keluar sebagai juara pertama. Sedangkan tim 1 SMA Nuris membuntuti di belakangnya,? sebagai juara kedua. Dengan demikian, kedua tim tersebut berhak meraih Piala Gubernur dan Piala Rektor. “Alhamdulillah, kami bisa. Dan kami bangga,” tutur Nanang Khoirul Anam, siswa? kelas XI (IPS) SMA Nuris tersebut.

Pondok Pesantren Tegal

Rasa bangga juga terekam dari mimik pengasuh Pondok Pesantren Nuris, Ra Robith Qashidi. Menurutnya, keberhasilan santri mengukir prestasi di event-event umum dengan tema-tema umum pula di tengah kepungan siswa-siswa hebat dari sekolah umum, sungguh membanggakan.

“Kami berkomitmen untuk mencetak santri-santri yang mumpuni, baik di sisi pendidikan umum maupun agama dengan back ground Aswaja,” ujarnya. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nahdlatul, Kajian Sunnah, Pendidikan Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 04 September 2011

Awal November, Peringatan Pengukuhan Wayang sebagai Pusaka Dunia Dimulai

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Yayasan Pesantren Kaliopak, Yogyakarta, akan menggelar peringatan 11 tahun pengukuhan wayang sebagai Adikarya Pusaka Kemanusiaan Dunia oleh Lembaga Kebudayaan PBB (UNESCO). Kegiatan digelar selama sebulan, 1 November – 6 Desember 2014, dipusatkan di Kompleks Pesantren Kaliopak, Piyungan, Yogyakarta.

Rangkaian acara peringatan dilaksanakan oleh Komunitas Rumah Budaya Nusantara Pesantren Kaliopak Piyungan Yogyakarta, atas bantuan dana dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan dukungan-dukungan lain dari berbagai lembaga, individu dan komunitas budaya yang peduli.

Awal November, Peringatan Pengukuhan Wayang sebagai Pusaka Dunia Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Awal November, Peringatan Pengukuhan Wayang sebagai Pusaka Dunia Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Awal November, Peringatan Pengukuhan Wayang sebagai Pusaka Dunia Dimulai

Awal November, Sabtu-Ahad (1-2/11) kegiatan dimulai dengan acara peluncuran di gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, bersamaan dengan pelaksanaan Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU.

Pondok Pesantren Tegal

Selanjutnya, peringatan Pengukuhan Wayang sebagai Pusaka Dunia akan dipusatkan di Pesantren Kaliopak Yogyakarta, dimulai dengan Diskusi Pendahuluan “Epos Mahabharata, Lakon-Lakon Wayang Jawa dan Cultural Studies” pada 10 November bersama Ki Herman Sinung Janutama (Spiritualis Jawa di Yogyakarta), Dr. St. Sunardi (Dosen IRB, Univ Sanata Dharma Yogyakarta), dan Dr. Holland C. Taylor (Spiritualis dan Ahli Sastra Jerman dari Harvard University USA).

Kegiatan dilanjutkan dengan Seminar Nasional “Wayang dan Krisis Manusia Nusantara, Prof. Dr. Sri Heddy Ahimsa Putra (UGM), Dr. Sindhunata SJ. (Majalah Basis), M. Jadul Maula (Pesantren Kaliopak) pada 17 November. Rais Aam PBNU KH Musthofa Bisri dijadwalkan menyampaikan pidato iftitah dalam seminar ini.

Pondok Pesantren Tegal

Rangkaian kegiatan dilanjutkan hingga 6 Desember berturut-turut mulain Belajar Bersama “Pesantren, Wayang, dan Jatidiri Bangsa”, Pameran Bentuk-bentuk dan Komik Wayang, Lomba Mewarnai dan Dongeng Wayang, Wayang Edukatif, Pentas Seni Tradisi dan Modern, dan Pagelaran Wayang Kulit.

Pagelaran Wayang Kulit diselenggarakan pada 6 Desember sebagai puncak acara, sekaligus penutup kegiatan pameran dan rangkaian event publik lainnya, akan digelar wayang kulit semalam suntuk, dengan lakon “Ilange Pusaka Jamus Kalimasadha”, dalang Ki Gondo Suharno. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Habib Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 26 Agustus 2011

Perpisahan SMA NU, Alumni Dihimbau Berpegang Teguh Paham Aswaja

Sumenep, Pondok Pesantren Tegal 

Siswa akhir SMA Nahdatul Ulama Sumenep menggelar perpisahan di Gedung Pendidikan dan Kebudayaan Ki Hajar Dewantara Kolor Sumenep, Sabtu (19/5) pagi.

Perpisahan SMA NU, Alumni Dihimbau Berpegang Teguh Paham Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Perpisahan SMA NU, Alumni Dihimbau Berpegang Teguh Paham Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Perpisahan SMA NU, Alumni Dihimbau Berpegang Teguh Paham Aswaja

Sebanyak 46 siswa kelas XII, yang terdiri dari 29 siswa putra dan 17 siswa putri menangis haru saat menyanyikan lagu perpisahan. Sebagai ucapan terima kasih kepada semua guru yang telah membina dan membimbing hingga lulus, para siswa memberibunga kepada para guru sebagai simbol ucapan terima kasih.

Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 200 undangan yang terdiri dari wali murid, Pengelola dan guru SMA NU, perwakilan dari UPT Pendidikan Sumenep, tampak juga hadir mantan Bupati Sumenep sekaligus Wakil Rais Syuriyah PCNU Sumenep KH Moh. Ramdlan Siraj.

Pondok Pesantren Tegal

Kepala Sekolah dalam sambutannya menghimbau agar siswa Nahdiyyin tetap berpegang teguh kepada ajaran Ahlussunnah wal jamaah. Pendidikan keaswajaan sangat penting ditanamkan sejak dini kepada para peserta didik agar watak Aswaja yang mencerminkan pluralitas dan menjunjung tinggi syariat beragama mampu diserap dengan baik, sehingga akan terbentuk karakter manusia yang benar-benar tawaddu dan tasammuh.

Pondok Pesantren Tegal

“Sebagai warga dan siswa Nahdiyyin harus mencerminkan sifat dan watak ke-Aswaja-an kita. Momentum perpisahan ini sebagai refleksi dan ajang evaluasi kita agar para peserta didik tidak bertindak preman dan foya-foya dalam mengekspresikan kegembiraan menyambut pelulusan tanggal 26 Mei mendatang,” ungkap Gofur.

Ia juga tidak mengijinkan siswanya corat-coret baju dan mengadakan konvoi. Hal itu, menurutnya, pekerjaan yang tidak mencerminkan watak Nahdiyin. “Ekspresikan rasa kegembiraan itu dengan memperbanyak syukur kepada Allah,” katanya. 

 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor: Hendriyanto, M Kamil Akhyari

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ulama Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 20 Agustus 2011

Gus Mus: Beragama Harusnya Enak, Kok Malah Dipersulit?

Malang, Pondok Pesantren Tegal - Islam di Indonesia saat ini lebih banyak memperlihatkan wajah marah daripada ramah. Mengapa begitu? Hal ini karena esensi dakwah telah menghilang dan luput dari karakter pendakwah Muslim di negeri ini.

Demikian pesan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam Silaturahmi dan Tausyiah di Masjid Universitas Negeri Malang, Malang, Jawa Timur, Selasa (23/8/2016).

Gus Mus: Beragama Harusnya Enak, Kok Malah Dipersulit? (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Beragama Harusnya Enak, Kok Malah Dipersulit? (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Beragama Harusnya Enak, Kok Malah Dipersulit?

Dalam agenda ini, mustasyar PBNU ini didampingi Rektor Universitas Negeri Malang (UM) Ah. Rofiuddin dan segenap jajaran pimpinan kampus UM, serta guru besar, dosen dan pengurus NU Kota Malang dan Kabupaten Malang.

Dalam ceramahnya, Gus Mus menyampaikan pentingnya ruhuddakwah (semangat mengajak), yang harus dimiliki oleh ustadz, pendakwah, dan segenap umat Muslim negeri ini. "Di antara krisis umat Islam adalah krisis ruhud-dakwah," terangnya. Menurut Gus Mus, hilangnya ruh dakwah akan menjadikan pesan Islam menjadi melenceng dari apa yang diperintahkan Allah.

Pondok Pesantren Tegal

Gus Mus juga mengecam para pendakwah yang bersikap keras dan cenderung main hakim sendiri, tanpa ada ajakan dengan kedamaian dan rahmat. "Semua sedang berjalan menuju Allah. Ada yang mampir, ada yang bergeser. Tapi semua belum sampai ke tujuan. Jika masih di jalan, tapi belum sampai kok disikat," ujar Gus Mus, di hadapan ribuan mahasiswa dan dosen.

Pondok Pesantren Tegal

Lebih lanjut, Gus Mus menjelaskan bahwa Rasulullah Muhammad diutus untuk berdakwah dan mengajarkan cinta, bukan melaknat manusia. "Buitstu daaiyan, saya diutus untuk berdakwah bukan melaknat. Itulah ungkapan Nabi Muhammad," kisah Gus Mus.

Dalam esensi dakwah dengan cinta, Nabi Muhammad senantiasa bersabar dan terus mengajak kepada kebaikan, meski dibalas musuhnya dengan kejam. Namun, kesabaran Nabi Muhammad membuahkan hasil dengan Islam yang berkembang pesat.

"Kalian tahu siapa Khalid bin Walid? Khalid bin Walid itu anaknya Walid al-Mughirah, yang merupakan tokoh yang memusuhi Nabi Muhammad. Kalian mengenal Hindun? Perempuan bernama Hindun, istrinya Abu Sufyan, yang dahulu pernah memakan jantungnya Sayyidina Hamzah, di perang Uhud. Setelah masuknya Islam, Hindun sangat mencintai Nabi Muhammad, sebagai pujaan dan panutan," terang Gus Mus.

Gus Mus mengimbau kepada umat Muslim, khususnya pendakwah agar memahami bab tobat. Ia mengatakan bahwa tobat itu sampai pada akhir hayat, sebelum nyawa dicabut, setiap manusia bisa bertobat.

"Sunan Kalijaga ketika masih menjadi Brandal Lokajaya, itu merupakan begal. Kalau pada masa itu Sunan Bonang bersikap keras, maka ya tidak ada Sunan Kalijaga," kisah Gus Mus.

Dalam taushiyahnya, Gus Mus mengimbau agar umat Muslim mengedepankan akhlak dan memudahkan kesulitan.

"Yuriidu bikumul yusra walaa yuriidu bikumul usra. Allah menghendaki kalian gampang, dan tidak menghendaki kalian sulit. Allah itu tidak ingin kita itu sulit, kok kita malah mempersulit," terang Gus Mus.

Gus Mus menambahkan bahwa beragama itu seharusnya menjadi kenikmatan. "Beragama itu harusnya enak, tapi kok sekarang malah dipersulit? Islam itu harusnya rahmatan lil alamin (kasih sayang bagi seluruh alam), tapi kayaknya malah jadi lanatan lil alamiin (laknat bagi seluruh alam)," jelas Gus Mus.

Dalam agenda ini, Gus Mus berpesan kepada mahasiswa dan akademisi untuk teguh mengaji, tekun belajar, dan memberi kontribusi pada NKRI. Ia juga berharap agar kampus UM menjadi universitas yang memberi manfaat pada kehidupan, dan turut berkontribusi pada kebaikan Indonesia. (Munawir Aziz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ubudiyah, Kajian Pondok Pesantren Tegal