Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Maret 2018

Gelar Manaqib Kubro, Jamiyah Thariqah Bahas 5 Hal

Brebes, Pondok Pesantren Tegal. Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyah (JATMAN) Jawa Tengah rencananya menggelar Manaqib Kurbo di Brebes pada 24 Mei mendatang. Panitia membagi 700 peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Jateng ke dalam lima komisi pembahasan.

Lima komisi mencakup pembahasan masalah keorganisasian, pengajian Manaqib Kubro, komisi Bahtsul Masail, komisi muslimat thoriqoh, dan mahasiswa thoriqoh. Ketua Panitia H Emastoni Ezam berharap, kegiatan ini bisa menguatkan syiar Islam sekaligus memantapkan tali silaturahmi keluarga besar JATMAN Idaroh Wusto di Jawa Tengah.

Gelar Manaqib Kubro, Jamiyah Thariqah Bahas 5 Hal (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Manaqib Kubro, Jamiyah Thariqah Bahas 5 Hal (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Manaqib Kubro, Jamiyah Thariqah Bahas 5 Hal

“Mudah-mudahan kegiatan ini bisa bermanfaat dan barokah untuk masyarakat Brebes,” kata Emaztoni yang juga Sekda Brebes.

Pondok Pesantren Tegal

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti menyambut baik kegiatan bernuansa keagamaan ini. Sebagai pemerintah daerah, ia sangat mendukung kegiatan tersebut terlebih warga Brebes yang menurutnya sangat agamis. Bukti dari dukungan itu, Pemkab Brebes telah menyiapkan alokasi dana dari APBD 2014 untuk kegiatan di atas.

“Mudah-mudahan dengan doa para ulama se-Jawa Tengah nantinya Brebes menjadi lebih baik dan kehidupan masyarakatnya bisa tercukupi dengan maksimal, damai dan sejahtera, ” harap Idza. (Wasdiun/Alhafiz K)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tokoh, Pahlawan, Ulama Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 10 Maret 2018

Sebar Wawasan Keindonesiaan, IPNU Tasikmalaya Terbitkan Buletin Jumat

Tasikmalaya, Pondok Pesantren Tegal - Pimpinan Cabang  (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Tasikmlaya menerbitkan Buletin Jumat  Santri Nusantara,  Jumat (22/01).

Menurut Pimpinan Redaksi Buletin Santri Nusantara Husni Mubarok, buletin tersebut dibuat untuk mengembangkan kreativitas dan wawasan pelajar NU dan masyarakat umum. “Buletin ini juga bertujuan untuk lebih membumikan dan menjembatani  terciptanya pelajar NU dan masyarakat  yang berwawasan keislaman dan keindonesiaan,” ujarnya.

Sebar Wawasan Keindonesiaan, IPNU Tasikmalaya Terbitkan Buletin Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebar Wawasan Keindonesiaan, IPNU Tasikmalaya Terbitkan Buletin Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebar Wawasan Keindonesiaan, IPNU Tasikmalaya Terbitkan Buletin Jumat

Wakil Ketua IPNU Kabupaten Tasikmalaya ini menambahkan, upaya ini juga sebagai bentuk perlawanan atas beredarnya buletin yang diterbitkan suatu ormas tertentu yang selama ini menentang NKRI, Pancasila, dan UUD 1945.

Pondok Pesantren Tegal

“Materi dari buletin ini bertema tentang keislaman dan keindonesiaan dan kami menerima tulisan dari kader IPNU dan masyarakat secara umum dengan cara dikirim ke email pcipnukab.tasikmalaya@gmail.com,” imbuhnya.

Untuk distribusi, buletin ini akan disebarkan ke Pimpinan Anak Cabang dan Pimpinan Komisariat  IPNU di Kabupaten Tasikmalaya. Selain itu juga akan disebar ke masjid- masjid di Kabupaten Tasikmalaya terutama di Masjid Agung di Kawasan Kompleks Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya yang selama ini menjadi tempat beredarnya buletin yang kerap kampanye anti-NKRI, Pancasila dan UUD 1945.

Pondok Pesantren Tegal

“Buletin ini juga akan terus terbit setiap hari Jumat dan menunggu tulisan dari rekan-rekan semua,” pungkasnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Sejarah, Lomba, Ulama Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Terkait Identitas Karyawan, Sarbumusi: Holcim Jangan Ganggu Keberagaman Buruh

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (DPP K-Sarbumusi NU) meminta manajemen PT Holcim Indonesia menghormati keberagaman kepercayaan buruh sejalan dengan konstitusi yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Presiden DPP K-Sarbumusi NU, Syaiful Bahri Anshori, di Jakarta, Selasa (16/5) menegaskan, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan tegas menjamin keamanan dalam menjalankan kehidupan beragama dalam suatu negara yang bersifat non religus.

"Selain itu negara yang berlandaskan hukum tidak melarang dan mengatur-ngatur hubungan personal kepercayaan dan keberagamaan warga negaranya sendiri," kata dia lagi.?

Terkait Identitas Karyawan, Sarbumusi: Holcim Jangan Ganggu Keberagaman Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)
Terkait Identitas Karyawan, Sarbumusi: Holcim Jangan Ganggu Keberagaman Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)

Terkait Identitas Karyawan, Sarbumusi: Holcim Jangan Ganggu Keberagaman Buruh

Ia melanjutkan, Pasal 29 ayat 1 dan 2 menegaskan, negara berdasarkan atas ketuhanan yang Maha Esa dan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.

"Saudara Cornelius Arianto Wibisono yang mempunyai riwayat berganti agama atas kesadaran dan kehendak sendiri wajib dihormati oleh siapapun dan oleh apapun. Dengan agama dan kepercayaan yang sekarang, tidak boleh dilanggar oleh siapapun termasuk oleh manajemen PT Holcim Indonesia. Ia bebas untuk menjalankan dan melaksanakan kewajiban agamanya," tegas Syaiful didampingi Sekretaris Jenderal Eko Darwanto.

Pondok Pesantren Tegal

DPP K-Sarbumusi NU mengecam keras tindakan Direktur O & HR PT Holcim Indonesia memaksa Arianto untuk menikmati daging hewan yang menurut agama dan kepercayaannya sekarang haram hukumnya.

Hal itu, kata Syaiful menambahkan, menjadi bentuk pelanggaran serius dan pelanggaran HAM yang nyata atas Konstitusi Negara Republik Indonesia sebagai mana tercantum dalam Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

"Yang bersangkutan selaku unsur pimpinan seharusnya tidak melontarkan pernyataan yang menyinggung cara beragama buruh di PT Holcim Indonesia. ? Jangan membuat agama menjadi bagian isu dan persoalan dalam hubungan industrial. Secara keseluruhan, keberagamaan buruh tidak bisa di intervensi oleh manajemen atau pihak manapun," kata dia lagi.

Pondok Pesantren Tegal

Berkaitan dengan hal tersebut, DPP K-Sarbumusi NU menuntut Presiden Direktur PT Holcim Indonesia untuk membuat tim investigasi terhadap Direktur O & HR atas penghinaan dan penistaan yang dilakukan terhadap saudara Cornelius Arianto Wibisono, dan ? bila terbukti melanggar agar diberhentikan dari perusahaan.

"Kami meminta Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia untuk segera menurunkan pengawas terhadap manajemen PT Holcim Indonesia atas pelanggaran SARA dalam hubungan industrial," kata Syaiful lagi.

DPP K-Sarbumusi NU menuntut Presiden Direktur PT Holcim Indonesia agar mengembalikan nama baik dan posisi hubungan industrial saudara Cornelius Arianto Wibisono terkait pelanggaran hubungan industrial dengan dilakukan Pemutusan Hubungan Kerja tanpa Perjanjian Kerja Bersama PT Holcim Indonesia dan prosedur kontitusi peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

"Kami meminta Kepala Kepolisian Republik Indonesia untuk melakukan investigasi dan penyelidikan terkait isu SARA yang dilontarkan Direktur O & HR PT Holcim Indonesia, apa itu ketidaksengajaan atau merupakan kebijakan yang terstruktur," demikian kata Syaiful Bahri Anshori. (Gatot Arifianto/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Amalan, Ulama Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Pesantren Tremas Gelar Turnamen Bola Voli Tingkat Kabupaten

Pacitan,Pondok Pesantren Tegal. Menyemarakkan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menyambut peringatan haul ke-18 almagfurlah KH Habib Dimyathi, Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, menggelar turnamen bola voli tingkat kabupaten pada Sabtu-Ahad (2-3/1) di halaman pesantren tersebut.

Panitia penyelenggara, Nasrowi, menyatakan, turnamen dihelat untuk memperkenalkan pesantren pada masyarakat luas. "Ini sebagai salah satu wujud mengkampanyekan gerakan Ayo Mondok, bahwa image pesantren tidak hanya ngaji saja, tapi ada olahraganya juga, " tuturnya kepada Pondok Pesantren Tegal, Ahad (3/1).

Pesantren Tremas Gelar Turnamen Bola Voli Tingkat Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tremas Gelar Turnamen Bola Voli Tingkat Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tremas Gelar Turnamen Bola Voli Tingkat Kabupaten

Dikatakannya, melalui turnamen ini masyarakat bisa datang menyaksikan pertandingan bola voli sekaligus bisa mengenal lebih dekat dengan dunia pesantren.

Pondok Pesantren Tegal

Turnamen yang digelar setahun sekali ini diikuti 52 tim se-Kabupaten Pacitan. Panitia menyediakan hadiah sebesar Rp. 5.250.000 beserta tropi tetap PHBI CUP 2016.

Pondok Pesantren Tegal

Pada laga final yang digelar pada Ahad sore (3/1), tim Sumber Rejeki Ketepung, Kecamatan Kebonagung menjadi juara setelah menekuk tim Desa Mlati. Pertandingan yang disaksikan ribuan massa ini berlangsung sangat ketat, dengan skor akhir 3-1.

Sumber rejeki berhak menerima hadiah uang pembinaan dan piala tetap PHBI CUP 2016. Penyerahan piala secara simbolis akan dilakukan pada malam pengajian Haflah Maulid Nabi Muhammad SAW Rabu malam (6/1). (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Habib, Ulama Pondok Pesantren Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Pelajar NU Wanasari Didik Kader Antinarkoba

Brebes, Pondok Pesantren Tegal. Kegiatan Makesta (Masa Kesetiaan Anggota) yang dirangkai kegiatan sosialisasi bahaya narkoba dilaksanakan selama dua hari yaitu pad 24-25 September 2016 di Gedung MI Hidayatul Mubtadiin Jagalempeni Wanasari Brebes, Jawa Tengah yang diikuti oleh 120 peserta yang berasal dari utusan komisariat dan ranting se-Kecamatan Wanasari.

Pelajar NU Wanasari Didik Kader Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Wanasari Didik Kader Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Wanasari Didik Kader Antinarkoba

Edi Purwanto selaku ketua panitia dalam sambutan di acara pembukaan menyampaikan bahwa ini merupakan rangkaian dari program PAC IPNU-IPPNU Wanasari sebelum Konferensi Anak Cabang yang akan diagendakan bulan Desember termasuk Ziarah wisata. "Ini semata-mata untuk regenerasi di masa yang akan datang," terang Edi.

Ketua PAC IPNU Wanasari Wiharjo menambahkan bahwa kegiatan tersebut merupakan wahana untuk mencetak kader penerus bangsa yang berakhlakul karimah serta bertanggung jawab atas tegaknya aqidah Ahlussunah wal Jamaah dalam bingkai NKRI. Ketika berbicara kader penerus bangsa tentunya harus faham akan bahaya penyalahgunaan narkoba.?

"Kita berupaya menjadikan pelajar NU yang peka akan musuh bangsa kita salah satunya Narkoba," tutup Edi

Sementara Lukman Suyanto, Kasi Pencegahan BNK Brebes saat menyampaikan materi menjelaskan bahwa Narkoba hari ini merupakan sesuatu yang haru kita lawan. Ketika Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pernah berucap bahwa Indonesia Darurat Narkoba ini yang harus disikapi oleh seluruh elemen masyarakat seperti Pemerintah, TNI/Polri, BNN tanpa terkecuali organisasi pelajar seperti IPNU-IPPNU.?

Pondok Pesantren Tegal

"Kami berharap bahwa peserta sosialisasi bahaya narkoba bisa menjadi agen yang membawa informasi bahaya penyalahgunaan narkoba ke masyarakat," lanjut Lukman.

Materi lain yang disampaikan dalam kegiatan tersebut antara lain Ke-IPNU-IPPNU-an, ke-Aswaja-an, menangkal Radikalisme dan materi dasar kepemimpinan serta keorganisasian.

Turut hadir dalam acara tersebut Ketua PW IPNU Jawa Tengah Amir Mustofa Zuhdi, Ketua PC IPNU Brebes Ferial Farkhan,Ketua PC IPPNU Brebes Ade Melly Seftiana, Pengurus MWCNU Wanasari H. Ahmad Sururi, dan segenap pembina serta alumni. (Bayu/Fathoni)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ulama, Ahlussunnah Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Ratusan Warga di Boyolali Gelar Tradisi Nyadran

Boyolali, Pondok Pesantren Tegal. Menjelang bulan puasa Ramadhan, ratusan warga Dukuh Tompak, Tarubatang, Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah menggelar tradisi sadranan untuk mendoakan para leluhur, Selasa (9/6).

Sadranan di Desa Tompak termasuk yang paling awal dilakukan masyarakat di lereng Merapi-Merbabu tahun ini.

Ratusan Warga di Boyolali Gelar Tradisi Nyadran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Warga di Boyolali Gelar Tradisi Nyadran (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Warga di Boyolali Gelar Tradisi Nyadran

Sejak pagi, ratusan warga dari dukuh Desa Tompak serta warga dari daerah lain yang memiliki leluhur dimakamkan di pemakaman tersebut, berbondong-bondong ke pemakaman yang terletak di sisi timur lereng Gunung Merapi tersebut.

Pondok Pesantren Tegal

Bersama keluarga dan sanak saudaranya, warga berdatangan ke areal pemakaman dengan membawa tenong, yang berisi tumpeng nasi rasul dan aneka jajan seperti ketan, apem dan pisang.

Pondok Pesantren Tegal

Bagi warga setempat, tradisi nyadran ini selain menjadi agenda untuk mendoakan mereka yang sudah meninggal, juga sebagai ajang silaturrahim. “Kegiatan ini juga memiliki pesan moral, yakni ajaran untuk saling berbagi antara satu dengan lainnya,” kata Syahirul Alim, salah satu tokoh pemuda setempat.

Usai melakukan doa bersama yang diisi dengan pembacaan yasin, zikir dan tahlil di areal pemakaman, warga kemudian saling berbagi makanan yang mereka siapkan dari rumah.

“Meski praktiknya sudah agak berbeda, dengan zaman saya kecil dulu, tapi pesan utamanya tetap dipegang teguh masyarakat, yakni untuk berbagi apa yang kita punyai serta bersyukur atas nikmat dari Allah,” tutur Syahirul yang juga aktif di JQHNU Boyolali itu. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ulama, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Rakorwil, Pergunu Jabar Keluarkan 6 Rekomendasi

Bandung, Pondok Pesantren Tegal. Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Barat memutuskan enam rekomendasi setelah menggelar Rapat Koordiasi Wilayah di kator PWNU Jawa Barat, Bandung, akhir pekan lalu (31/5).

Rakorwil, Pergunu Jabar Keluarkan 6 Rekomendasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakorwil, Pergunu Jabar Keluarkan 6 Rekomendasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakorwil, Pergunu Jabar Keluarkan 6 Rekomendasi

Menurut Sekretaris Pergunu Jawa Barat H Saepuloh keenam poin rekomendasi tersebut antara lain, pertama, kualifikasi pendidikan guru diiniyyah, tsanawiyah, aliyah dan sederajat baik di bawah naungan Kementrian Agama atau Kementrian Pendidikan; dan kedua, peningkatan kesejahteraan bagi guru diniyyah takmiliyah.

Ketiga, bantuan sarana dan prasarana pendidikan; keempat, pengembangan dan srtategi peningkatan ekonomi guru-guru NU; kelima, penyempurnaan kurikulum yang terkait dengan keaswajaan; dan keenam, enerbitan kartu anggota Pergunu untuk dipercepat.

Pondok Pesantren Tegal

“Rekomendasi tersebut akan disampaikan secepatnya kepada PWNU Jawa Barat dan Pimpinan Pusat Pergunu agar dapat segera ditindaklanjuti,” ujarnya.

Pondok Pesantren Tegal

Kegiatan Rakorwil itu dihadiri para pengurus PW Pergunu Jawa Barat dan Pimpinan Cabang Pergunu se-Jawa Barat. Turut hadir pula dalam kesempatan tersebut Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat Pergunu H Akhsan Ustadhi.

Dalam Rakorwil, setiap PC Pergunu menyampaikan laporan kegiatan yang telah dilaksanakan serta menyampaikan rekomendasi kepada PWNU Jawa Barat dan PP Pergunu berkaitan dengan peningkatan kualitas dan kompetensi guru-guru NU. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ulama Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Gus Dur: Pemberantasan Korupsi Masih ‘Habisi’ Orang Megawati

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kembali mengingatkan kepada pemerintah agar tidak tebang pilih dalam memberantas korupsi. Pasalnya, ia menilai hingga saat ini pemberantasan korupsi masih berupaya menghabisi orang-orang dekat mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, sedangkan yang lain dibiarkan bebas.

“Hanya orang-orang dekat Megawati saja yang kena (dihukum, Red), seperti Rokhmin Dahuri (mantan Menteri Kelautan dan Perikanan), Widjanarko Puspoyo (mantan Kepala Bulog), dan lain-lain. Koruptor lain dibiarkan bebas,” tegas Gus Dur dalam sambutannya pada pembukaan “Halaqoh Kebangsaan untuk Rakyat dan Temu Wicara Hukum Acara Mahkamah Konstitusi”, di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (6/4)

Meski mengaku sebagai orang yang ‘disakiti’ Megawati saat lengser dari kursi kepresidenan, Gus Dur menyatakan bahwa jelas sekali pemberantasan korupsi di negeri ini masih tebang pilih. Menurutnya, masih banyak koruptor yang sama sekali belum tersentuh oleh hukum.

Gus Dur: Pemberantasan Korupsi Masih ‘Habisi’ Orang Megawati (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: Pemberantasan Korupsi Masih ‘Habisi’ Orang Megawati (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: Pemberantasan Korupsi Masih ‘Habisi’ Orang Megawati

Di hadapan peserta halaqoh yang merupakan kiai dan ulama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu, Gus Dur menegaskan, salah satu sebab dari pemberantasan korupsi yang masih pandang bulu adalah tidak tegaknya kedaulatan hukum. Hukum di Indonesia sama sekali tidak dijalankan dengan benar. “Mutlak tidak jalan,” tegasnya.

“Kedaulatan hukum tidak tegak. Karena hukumnya tidak dilaksanakan. Dilaksanakan hanya pada orang-orang tertentu saja,” pungkas Gus Dur yang juga mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Pondok Pesantren Tegal

Padahal, menurutnya, kunci utama untuk memberantas penyakit bangsa itu adalah tegaknya kedaulatan hukum. Jika hokum tidak tegak, maka korupsi menjadi tidak terbendung dan sulit dikendalikan. Akibat lain adalah pemerintah kerap membuat kebijakan yang tidak berpihak dan merugikan rakyat.

Pada acara yang digelar Fraksi Kebangkitan Bangsa bekerja sama dengan MK itu, Gus Dur juga mengungkapkan betapa penegakan hukum di Indonesia masih jauh dari harapan. Hal itu, katanya, diperparah lagi dengan masih banyaknya undang-undang, peraturan-peraturan dan pruduk hukum lain yang bertentangan dengan Undang-undang Dasar.

Pondok Pesantren Tegal

“Ada 3.159 undang-undang dan peraturan-peraturan lainnya yang bertentangan dengan UUD. Kalau misal kita memperbaiki 100 UU saja setiap tahunnya, maka dibutuhkan waktu 30 tahun,” urai Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB itu.

Gus Dur mencontohkan maraknya peraturan daerah bernuansa syariat Islam di sejumlah daerah yang menurutnya sangat bertentangan dengan semangat UUD. “Perda Syariat di Tengerang, itu bertentangan dengan UUD. Padahal yang bikin, ya orang NU. Itu menunjukkan saking gobloknya dan tidak tahu hukum,” ujarnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Berita, Ulama Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

PMII Unila Galang Dana Peduli Bencana Banjir Lebak dan Pandeglang

Bandarlampung. Pondok Pesantren Tegal - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Lampung mengadakan bakti sosial solidaritas peduli bencana banjir Lebak dan Pandeglang Banten. Mereka melakukan penggalangan dana di lampu merah Tugu Adipura Bandarlampung, Rabu-Kamis (15-16/2).

Kegiatan yang diikuti? beberapa anggota dan pengurus PMII Ini bertujuan untuk melatih kader dan anggota PMII untuk peka dengan lingkungan sekitar.

PMII Unila Galang Dana Peduli Bencana Banjir Lebak dan Pandeglang (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Unila Galang Dana Peduli Bencana Banjir Lebak dan Pandeglang (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Unila Galang Dana Peduli Bencana Banjir Lebak dan Pandeglang

Ketua Satu Bidang Kaderisasi Riyan Agung menjelaskan, kegiatan ini merupakan implementasi dari hablum minan nas sebagai sesama saudara sebangsa Indonesia.

"Kegiatan ini untuk melatih kader dan anggota PMII agar peka terhadap lingkungan, dan tidak mementingkan diri sendiri. Sehingga kita bisa mengimplementasikan hablum minan nas di antara kita sesama warga Indonesia."

Pondok Pesantren Tegal

Ketua PMII Universitas Lampung Hendy Novrian berharap kegiatan ini bisa meringankan beban masyarakat yang terkena musibah.

Pondok Pesantren Tegal

"Saya harap dengan adanya kegiatan bakti sosial solidaritas ini dapat meringankan beban saudara kita yang terkena musibah. Selain itu kegiatan ini dapat menjadi pembelajaran untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan anak muda khususnya anggota PMII," tutupnya. (Rfz/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tokoh, Pahlawan, Ulama Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Inilah Bunyi Ikrar Kesetiaan Pagar Nusa kepada NKRI

Semarang, Pondok Pesantren Tegal. Sedikitnya 3000 pesilat mengikuti apel akbar Pagar Nusa di di lapangan Simpang Lima Semarang, Jawa Tengah, Ahad (29/3). Dalam acara itu, mereka mengucapkan ikrar kesetiaan kepada Negara Kesatuan Repuiblik Indonesia (NKRI).

Inilah Bunyi Ikrar Kesetiaan Pagar Nusa kepada NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Bunyi Ikrar Kesetiaan Pagar Nusa kepada NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Bunyi Ikrar Kesetiaan Pagar Nusa kepada NKRI

Diawali dengan takbir tiga kali, ikrar itu dibaca Wakil Ketua Umum PBNU H Asad Said Ali secara sepotong-potong, kemudian diikuti semua peserta apel. Berikut bunyi teks ikrar kesetiaan Pagar Nusa dengan disaksikan ratusan tamu undangan.

 

Bismillahirrahmanirrahim

Asyhadu alla ilaaha illa-Llah, wa asyhadu anna muhammadar rasululuLlah, radlitu billahi rabba.

Pondok Pesantren Tegal

Kami keluarga besar Pencak Silat Pagar Nusa seluruh Indonesia, berikrar:

Pertama, menjaga ukhuwah diniyyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah insaniyah, untuk keberlangsungan dakwah islamiyah ala Ahlussunnah wal Jamaah, demi keutuhan NKRI dan kedamaian umat manusia.

Dua, mengawal perjuangan NU, kiai dan pesantren dalam menjaga ideologi, amalan, dan tradisi Aswaja, dari gempuran atau ajaran radikalisme.

Pondok Pesantren Tegal

Tiga, senantiasa meningkatkan keimanan, memperkokoh kebangsaan, serta menjunjung tinggi akhlakul karimah.

Usai ikrar, H. Asad menyampaikan tausiyah kepada pesilat Pagar Nusa. Ia mengajak Pagar Nusa meneruskan perjuangan para wali dan ulama yang telah melahirkan Nahdlatul Ulama. Saat ini, katanya, NU telah menjadi tulang punggung bangsa Indonesia.

 

Asad juga menegaskan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan perwujudan ayat Al-Quran yang berbunyi wama arsalnaaka illa rahmatallil alamin. "Islam itu rahmat untuk semesta alam, bukam Islam berdarah-berdarah. Bukan pula Islam yang membunuh orang tanpa alasan tetapi Islam yang penuh kasih sayang," tandasnya.

Di akhir tausiyahnya, Asad mempertegas komitmen Pagar Nusa bahwa NKRI harga Mati. "Kalau saya tanya siapa kita, jawab NU. Siapa kita, Pagar Nusa. NKRI harga mati, Pancasila Jaya," katanya penuh semangat. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ulama, Ubudiyah Pondok Pesantren Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Lajnah Falakiyah Selenggarakan Rukyatul Hilal, Sabtu Sore

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama akan melaksanakan rukyatul hilal untuk penentuan awal Syawal 1433 H di sedikitnya 70 titik rukyat seluruh Indonesia. Rukyat dilaksanakan pada Sabtu 18 Agustus 2012, bertepatan dengan 29 Ramadhan 1433 H, pada sore hari.

"Rukyat akan dilaksanakan di tempat-tempat strategis seperti menara, gedung pencakar langit, bukit, lepas pantai dan lain-lain," kata kata Ketua lajnah Falakiyah PBNU Kiai Ghazalie saat memberikan pengajian di radio.nu.or.id dari ruang redaksi Pondok Pesantren Tegal, Jakarta, Jum’at (10/8) sore lalu.

Lajnah Falakiyah Selenggarakan Rukyatul Hilal, Sabtu Sore (Sumber Gambar : Nu Online)
Lajnah Falakiyah Selenggarakan Rukyatul Hilal, Sabtu Sore (Sumber Gambar : Nu Online)

Lajnah Falakiyah Selenggarakan Rukyatul Hilal, Sabtu Sore

Rukyatul hilal atau observasi bulan sabit juga didukung oleh sedikitnya 90 perukyat bersertifikat nasional, dan para ahli hisab-rukyat setempat.

Pondok Pesantren Tegal

Menurut Kiai Ghazalie Masroeri, pada Jum’at 17 Agustus 2012 sekitar pukul 22:55:37 terjadi terjadi ijtima awal bulan atau konjungsi. Sementara ketinggian hilal pada Jum’at hampir 5 derajat di bawah ufuk.

Namun pada keesokan harinya Sabtu, pada saat dilakukan rukyatul hilal, posisi hilal sudah berada pada ketinggian 6 derajat 44 menit 9 detik atau hampir tujuh derajat di atas ufuk.

Pondok Pesantren Tegal

Berdasarkan kriteria yang telah disepakati para ahli astronomi hilal sangat mungkin untuk dirukyat atau dilihat. Dengan demikian diprediksi awal Syawal 1433 H atau hari raya Idul Fitri akan jatuh pada Ahad, 19 Agustus 2012 M.

Namun Lajnah Falakiyah mengimbau umat Islam untuk tetap menunggu hasil rukyatul hilal yang diikuti pelaksanaan sidang itsbat di kantor Kementerian Agama Jakarta. "Nahnu nurid wallahu a’lamu ma yurid. (Kita punya keinginan namun Allah Yang Maha Berkehendak: red). Kita tunggu hasil rukyat dan sidang itsbat,” kata Kiai Ghazalie. 

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ulama, Berita, Syariah Pondok Pesantren Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Rampak Gendang Meriahkan Konferwil GP Ansor Jawa Barat

Sumedang, Pondok Pesantren Tegal. Rampak Gendang dari Paguyuban Pasundan ikut memeriahkan kegiatan pembukaan Konferwil GP Ansor Jawa Barat, Selasa (14/5). Para muktamirin yang hadir di Aula Islamic Centre Kabupaten Sumedang nampak antusias menyaksikan penampilan kesenian tradisional Jawa Barat tersebut.

Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Barat Hendrik Kurniawan mengatakan, penampilan rampak gendang merupakan bentuk aplikasi dari tema yang diusung dalam Konferwil GP Ansor, Teguh pada Tradisi, Berbakti pada Negeri.

Rampak Gendang Meriahkan Konferwil GP Ansor Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rampak Gendang Meriahkan Konferwil GP Ansor Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rampak Gendang Meriahkan Konferwil GP Ansor Jawa Barat

Tradisi dalam sebuah bangsa atau negeri ibarat satu sisi mata uang dan sudah menjadi sejarah yang tidak bisa dipisahkan. Rampak gendang mewakili kesenian tradisi yang ada di Jawa Barat. Dalam tradisi itu ada kekompakan, gotong royong, kasih sayang, dan kecintaan. Dari tradisi itulah maka akan muncul semangat untuk membangun negeri. Teguh pada tradisi disini bukan menyoal budaya kedaerahan saja, tapi termasuk juga tentang tradisi keagamaan. Khususnya tradisi ubudiah yang suka dilakukan oleh warga NU.

“Berbakti kepada negeri bagi GP Ansor bukan hanya isapan jempol belaka. Menurut sejarah GP Ansor ikut dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI. Kemerdekaan NKRI ini bagi GP Ansor bukan dikasih, tapi direbut dari para penjajah. Oleh karena itu bagi GP Ansor, NKRI harga mati,” lanjut Hendrik.

GP Ansor Jawa Barat selama ini mempunyai tiga buah komitmen. Pertama komitmen terhadap Islam Ahlusunnah wal Jamaah, kedua komitmen terhadap Jamiyyah NU, dan ketiga komitmen terhadap NKRI.

Pondok Pesantren Tegal

“Di tanah air NKRI ini kita bersujud, makan, dan minum. Siapa saja yang akan mengganggu tanah air ini maka GP Ansor siap melawan. Semoga dengan semangat menjaga tradisi, Negeri Indonesia akan semakin kuat. Dan GP Ansor akan terus mengawal dan mengisi keduanya,” tutup Hendrik. (Ayi Abdul Kohar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ulama, Kajian Islam Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Pesantren Nuris, Ladang Subur Persemaian Bibit Aswaja (1)

Jember, Pondok Pesantren Tegal. Jika berbicara soal Aswaja, kurang lengkap rasanya kalau tidak memperbincangkan ? Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) Antirogo, Jember, Jawa Timur. Pasalnya, pesantren yang terletak di 5 kilometer ke arah utara Kota Jember ini mengusung komitmen yang kuat untuk menyemai ? bibit-bibit Aswaja.?

Pesantren Nuris, Ladang Subur Persemaian Bibit Aswaja (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nuris, Ladang Subur Persemaian Bibit Aswaja (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nuris, Ladang Subur Persemaian Bibit Aswaja (1)

Berawal dari sebuah kerisauan yang merajam jiwa KH. Muhyiddin Abdusshomad, pengasuh Pesanten Nuris. Sebagai tokoh NU, ia merasa gundah karena posisi Aswaja (NU) yang moderat semakin lama semakin terjepit oleh dua aliran yang berseberangan. Yang satu adalah aliran liberal.?

Dan satunya lagi aliran radikal. Yang disebut terakhir ini, gerakannya cukup massif, dan gampang meraih simpati ? masyarakat. Tidak hanya itu, mereka juga berani terang-terangan mencaci-maki, mencap amaliah NU sebagai amalan bidah, khurarat, bahkan kafir.

Sebagian orang, menilai hal tersebut sebagai persoalan yang remeh-temeh. Namun bagi Kiai Muhyiddin, menjamurnya aliran radikal di Indonesia, termasuk Jember ? merupakan awal petaka. Sebab, mereka mempunyai kemampuan menyusup dan berbaur di tengah-tengah masyarakat.?

Dengan semangat "dakwah" yang militan, didukung oleh finansial yang memadai, sungguh mereka bisa menjadi ancaman serius bagi NU, bahkan bangsa Indonesia. Betul, Islam mungkin tak akan hilang dari bumi Indonesia. Tapi bukan mustahil, ? NU kelak hanya tinggal papan nama ? jika agresifitas kelompok radikal dibiarkan leluasa bergerak menebar propaganda palsu.?

Pondok Pesantren Tegal

"Mesir asalnya sunni. Begitu juga ? Turki, Irak dan masih banyak lagi. Tapi akhirnya aliran sunni di situ jadi minoritas bahkan habis sama sekali," tukas putra Kiai Muhyiddin, Ra Robith Qashidi kepada Pondok Pesantren Tegal.

Pondok Pesantren Tegal

Itulah sebabnya, Kiai Muhyiddin mengadakan perlawanan dengan menerbitkan sejumlah buku yang berisi dalil atau argumentasi tentang amaliah warga NU. Sebab, mereka menyerang ajaran atau amaliah NU. Berarti benteng dalilnya harus diperkuat. Diantara bukunya adalah "Fiqih Tradisionalis: Jawaban Pelbagai Persoalan Keagamaan Sehari-hari", "Tahlil Dalam Perspektif Alquran dan As-sunnah (kajian Kitab Kuning)",? dan sebagainya.?

Satu lagi kitab "perlawanan" Kiai Muhyiddin berbahasa Arab, yaitu "Al-Hujjaj ? al-Qathiyyah lil-Aqaaid wal Amaliyyah an-Nahdliyyah". Kitab ini bahkan menjadi materi kajian dan dihatamkan ? di sejumlah pesantren besar seperti Matholiul Falah asuhan Kiai Sahal Mahfudz, Pesantren Ngunut, Tulungagung, pesantren Mojogeneng, Mojokerto, pesantren Langitan, Tuban, Pesantren Ilmu Al-Quran pimpinan Kiai Bashori Alwi, Malang dan Sekolah Tinggi Agama Islam, Tambak Beras Jombang.?

"Masih banyak pesantren besar lain yang bahkan menjadikan buku dan kitab abah sebagai materi pelajaran wajib bagi santrinya," lanjut Ra Robith.

Gerakan Kiai Muhyiddin ternyata merangsang timbulnya ghirah di kalangan tokoh NU dan pengasuh ? pesantren. Antusiasme sejumlah pesantren di atas dalam mengkaji kitab dan buku ? karya Kiai Muhyiddin ? menjadi petunjuk sahih betapa langkah dan gerakannya dapat menginspirasi "perlawanan" pesantren terhadap aliran kontra NU, dengan cara memperkuat benteng dalil amaliyah NU.

Dalam perkembangan yang sama, Kiai Muhyiddin juga mendorong pendirian Aswaja Center ? dan memaksimalkan kiprah Lembaga Bahtsul Masail PCNU Jember. Munculnya nama-nama seperti Ustdaz Idrus Ramli, Mahmulul Huda, Abdul Haris, Gus Wahab ? dan lain-lain tak lepas dari besutan tangan dingin Kiai Muhyiddin.?

Mereka siap "tempur" untuk mendebat aliran radikal dan liberal dalam kondisi dan situasi apapun. Kiai Muhyiddin sendiri saat itu juga keliling Nusantara memenuhi undangan pelatihan Aswaja.

Pesantren Nuris, tentu saja menjadi ladang subur untuk menyemaikan bibit Aswaja. Karena itu, Kiai Muhyidin lalu mencanangkan tekad bahwa pesantren yang dipimpinnya ? merupakan kawah candradimuka bagi lahirnya kader-kader Aswaja yang mumpuni. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ulama, Jadwal Kajian, Halaqoh Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Luka Menuju Makkah

“Ahlan wasahlan, ya ukhti!”

Sayyidah Khumairah menyapaku ketika pak Rosyad mengenalkanku kepadanya. Binar matanya menyuguhkan keramahan dan kehangatan yang meluap ke dalam kalbuku. Kegugupan yang sedari awal mencengkramku perlahan surut. Seolah Aku bukan orang asing yang baru saja menjejakkan kaki di rumahnya. Kutatap suaminya Sayyid Kamil. Tak ada beda. Mereka sama-sama hangat penuh kerendahhatian.

Luka Menuju Makkah (Sumber Gambar : Nu Online)
Luka Menuju Makkah (Sumber Gambar : Nu Online)

Luka Menuju Makkah

“Semoga nak Sarifa nyaman bekerja di sini,” ucap Sayyid Kamil.

Aku hanya tersenyum tanpa berucap sepatah kata pun dalam ta’aruf ini. Lalu Sayyidah Khumairah menjelaskan tugas-tugasku bekerja di rumahnya. Terhitung ringan karena mereka tidak mempunyai anak. Ia juga berulang kali mengucapkan terima kasih pada pak Rosyad yang telah mengantarkan pembantu baru di rumahnya.

Pondok Pesantren Tegal

Ya, Aku bekerja hanya sebagai pembantu rumah tangga biasa di negeri para nabi ini. Tak peduli, apapun pekerjaanku asalkan halal dan bisa membantu biaya pendidikan Naya, adikku nun di tanah air sana, serta menyampaikanku pada angan yang tak henti membara. Kuliah di Makkah adalah mimpi yang sekian tahun terjaga lekuk hidup. Tekad dan ketawakalanlah yang menyanggaku menata hidup baru, bersama kesendirian, dekapan rindu kepada keluarga dan kerabat-kerabatku di tanah air. Semoga mesir jalan awalku menggamit mimpi di kota ka’bah ini.

Cairan hangat menapaki kedua pipiku tatkala pak Rosyad pamit pulang dan tak menemaniku lagi. Ia masih banyak urusan terkait profesinya sebagai agen visa dan pengkoordinir TKW dari indonesia. Meski kami baru mengenal dalam beberapa hari, namun sungguh saat ini hanya dia orang yang setanah air denganku.

Pondok Pesantren Tegal

“Jaga dirimu baik baik, sepertinya Sayyidah Khumairah menyukaimu hingga ia begitu hangat, dan jaga pula kepercayaannya,” pesan pak Rosyad.

Aku mematung dijalari kegugupan. Oh tuhan..., bukan main saat ini aku benar-benar sendiri di negeri orang. Sering kudengar kisah kisah tragis tentang nasib para pengembara dari tanah air terutama pekerja rumah tangga sepertiku. Sebagian dari mereka didera permasalahan serius, majikan yang tak memberi gaji, pekerjaan rumah yang sangat berat, siksaan majikan perempuan yang dipicu kecemburuan kepada suaminya karena menggoda atau terlibat hubungan istimewa dengan khodimahnya.

Lalu seperti apakah nasibku ke depan? Akankah tak ada beda dengan nasib kawan kawanku yang berujung duka? Ataukah didera rindu pada tanah air yang tiada henti menjamah lorong kalbuku?

***

Goresan waktu menyadarkanku bahwa tak ada satu pun sikap yang menggundahkan jiwaku dari Sayyidah Khumairah atau Sayyid Kamil. Semakin hari rasa sayang mereka benar-benar menenangkanku. Mereka tak pernah memberi pekerjaan yang berat untukku, sewajarnya saja. Bahkan tiap pekan kami berlibur ke tempat tempat bersejarah di Mesir. Ah, andai saja Sayyidah Khumairah mengajakku singgah di Makkah, kota pemangku mimpiku, pastilah rindu dan ketidaksabaran ini sedikitnya terobati meski tidak dengan tujuan kuliah.

Makkah, kau semakin meliuk-liuk di dasar hatiku menawarkan sejuta kenyamanan kalbu kala gema adzan membahana. Nikmatnya shalat berjama’ah di Masjidil Haram, tiap langkah tertata rahmat dari-Nya. Apalagi sambil menimba ilmu. Sungguh, Makkah tunggullah aku meraup ilmu-ilmu di tempat nabi kita mendakwahkan syi’ar-syi’ar agung agama islam.

“Sarifa, tolong kamu jaga Abi! Dia sakit. Aku harus menghadiri acara yang sangat penting,” perintah Sayyidah Khumairah. Ia tampak tergesa gesa keluar rumah.

Pengembaraanku pada Makkah seketika buyar. Aku tercenung mencerna ucapannya. Sayyid Kamil sakit, hanya Aku yang merawatnya hingga malam nanti. Terus terang hatiku enggan menjaganya. Bukan karena aku tak ingin merawatnya, tapi hatiku berfirasat lain. Mungkin karena gugup berhadapan dengan Sayyid Kamil, apalagi sampai menunggui di kamarnya. Bayangan teh Narti, tetanggaku di Indonesia, berkelebat. Nasib tragis menimpanya ketika ia berdua di rumah majikannya.Hanya berdua dengan majikan laki laki. Si majikan bersikeras menjamah tubuh teh Narti hingga tubuhnya dipenuhi luka pukulan dan kembali ke tanah air tanpa mengantongi uang serupiah pun. Aku bergidik ngeri mengingat nasibnya berakhir luka.

Perlahan kuseret kakiku ke tempat tidur Sayyid Kamil ia nampak terkulai dalam balutan selimut tebal. Aku hanya mematung di pintu kamar tak berani menanyakan sakit yang ia derita atau sekedar menawarkan air hangat.

“Sarifa, kemarilah!” ujarnya seraya melambaikan tangan. Seketika tenggorokanku tercekat . Tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulutku untuk mengiyakan atau segera menyeret langkahku ke arahnya.

“Kemarilah!” pintanya kembali ketika aku masih bergeming. Dengan segala ketawakalan, perlahan kakiku melangkah dan kini berada di sampingnya.

“Duduk!” perintahnya seraya menunjuk ke sampingnya.

Dadaku bergemuruh, bertalu-talu seakan satu kata yang ia lontarkan bagai dentuman keras yang menanggalkan kekuatanku. Mau tak mau aku pun terduduk di sampingnya. Ia beringsut dan mensejajari posisi dudukku.

Huuhhh.... dadaku semakin tak karuan. Lalu, kurasakan sesuatu tengah menggerayang di punggungku. Kontan aku bangkit dengan perasaan amat mencekam.

“Diam atau kau mati!” kecamnya begitu buas.

Langkahku tersekat menuju kamarku. Seketika tangisku memecah. Lututku terasa berat melemah dan akhirnya ambruk.

“Ya Allah........tolong Aku!” pekik hatiku.

Ia beranjak mendekatiku, ia tersenyum penuh kegetiran. Tubuhku bergetar hebat, keringatku bercampur air mata yang kini jadi isakan yang sejadinya.

Sayyid Kamil yang begitu ramah kini menjelma hewan buas.

“Diam! Jangan menangis! Aku tidak akan mengapa-apakanmu. Kalau kamu bisa memenuhi keinginanku,” bentaknya. Bengis. Tepat di telingaku.

“Sayyid kalau mau makan atau air hangat saya akan bawakan sekarang,” tawarku tetap dengan tangis membuncah dan suara yang nyaris lenyap.

“Aku tak butuh itu. Lagi pula aku tidak sakit. Bagaimana kamu bersedia menemaniku menikmati surga duniawi?”

Aku menyeret kakiku kuat-kuat. Sial! Mengapa begitu kaku dan berat. Sedangkan dia terus mendekatiku. Tak mau menyerah.

“Tap...!” ia mencengkram kedua bahuku.

Aku meronta, memukulnya sekuat mungkin. Ia semakin tertantang malah. Jilbab dan penutup wajahku dengan kasar dijambak hingga tak sehelai kain pun yang menutupi kepalaku.

Lagi-lagi ia tersenyum penuh kemenangan. Tubuhku diseret dan diempaskan begitu saja ke atas ranjang.

Ia mendekati tubuhku. Sementara aku tak henti menepisnya, meski tubuhku semakin melemah.

“ Ya Allah, tak ada yang mampu menolongku selain Kau!” batinku menjerit menunggu pertolongan-Nya .

“Abii!” seketika bentakan keras menghentakkan Sayyid Kamil yang tengah membabi-buta. Ia menoleh ke belakang.

Tampak Sayyidah Khumairah berdiri menahan lonjakan amarah. Ia berlalu tanpa melontarkan satu kata pun. Sayyid Kamil berlari memburunya. Dan entahlah yang mereka lakukan. Sejurus kemudian terdengar suara pecahan beling bersahutan.

Aku selamat! Terimakasih, ya Allah! Tangisku meledak sambil memeluk kedua lututku. Sebutir cairan menjatuhi tanganku, memerah. Kuusap, darah bersimbah dari sudut bibirku. Ah, aku terisak sejadi-jadinya.

***

Tiga hari berlalu dari kejadian itu, selama itu Sayyidah Khumairah tampak jengah di depanku. Hingga aku tak tahan. Akhirnya aku memutuskan mengemasi barang-barangku.

Malam tadi sudah kuceritakan semua kejadian kepada Pak Rosyad. Ia sangat kaget dan menyuruhku untuk segera pergi dari rumah ini. Ia juga akan menjemputku beberapa saat lagi. Terakhir kutatap gambar ka’bah yang menggantung di dinding kamarku. Aku terisak sambil beranjak berniat menata langkah baru di luar sana.

“ Tunggu perempuan penggoda!”

“Plakk...” tamparan keras mendarat di wajahku. Tubuhku seketika terpelanting.

Aku terbangun gelagapan. Tampak di depanku Sayyidah Khumairah dengan wajah bengis. Matanya membulat. Kudengar deru nafas memburu di dadanya.

“Sayyidah, sungguh saya tidak pernah menggoda Sayyid Kamil,” ujarku merajuk bercucuran air mata.

Ia tak menggubris. Malah menyungkurkanku ke lantai.

Aku meringis.

Ketika aku bangkit, sebuah benturan keras mengambrukkan tubuhku. Seketika butir-butir cahaya hitam menyergap retinaku. Bumi terasa berputar mengelilingiku. Cairan hangat membasahi kepala. Ah, tubuhku ringan melayang-layang.

Sunyi menyungkupi tubuhku.

Hai! Apa itu? Ka’bah tampak terbang seolah akan menjemputku yang tengah melayang. Lalu itu! Riuh mahasiswi Makkah memasuki sebuah gedung. Namun, mengapa ada seorang perempuan yang tersenyum kepadaku. Dan herannya, perempuan itu adalah aku! ?

Dan cahaya Makkah begitu jelas menyemburat. Gema adzan menyusuri relung-relung hatiku. Namun, tiba-tiba senyap. Ka’bah seketika hilang tak adalagi suara suara yang menangkupi telingaku.

Kemana?

Senyap!

Kombongan, 3 Maret 2013

SITI ROHMAH adalah santriwati Pondok Pesantren Nuruh Huda, Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Ia masih tercatat sebagai siswi Madrasah Aliyah Nurul Huda.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ulama, Kyai, AlaSantri Pondok Pesantren Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Pertama Kali PKD Ansor Diikuti Perempuan

Tasikmalaya, Pondok Pesantren Tegal - Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) Ansor Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya begitu istimewa. Pasalnya, pertama kali dalam sejarah Ansor di Tasikmalaya diikuti peserta perempuan. Sebanyak 15 perempuan berusia 17 - 20 tahun itu begitu antusias mengikuti seluruh materi pengkaderan hingga akhir termasuk sampai pembaiatan.

Ketua GP Ansor Kota Tasikmalaya Ricky Assegaf tampak kebingungan karena Ansor organisasi pemuda di bawah naungan Nahdlatu Ulama (NU).

Pertama Kali PKD Ansor Diikuti Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertama Kali PKD Ansor Diikuti Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pertama Kali PKD Ansor Diikuti Perempuan

Meski demikian, bagi salah satu peserta, Ai (19), keikutsertaan mereka pada PKD dilatarbelakangi keingintahuan terhadap Ansor secara mendalam. Pasalnya banyak sekali informasi yang selalu memojokkan Ansor.

Pondok Pesantren Tegal

"Ingin tahu saja Ansor itu bagaimana. Ternyata Ansor hebat. Bentengnya ulama, bentengnya NU, Indonesia dan Aswaja," katanya.

Pondok Pesantren Tegal

PKD yang digelar di Pesantren KH Ahmad Tajudin Fauzan Kelurahan Tuguraja Kecamatan Cihideung sejak Sabtu-Ahad (26-27/11) ini diikuti 41 peserta pria dan 15 perempuan.

Ketua GP Ansor Cihideung Erus Rustandi tak menyangka santriwati di pesantren tersebut ingin ikut PKD. Setelah dikonsultasikan, Ketua GP Ansor Kota Tasikmalaya mengizinkan mereka.

"Meski sudah ada Fatayat, tak ada salahnya jadi agenda ke depan kalau ada Banserwati," kata Erus. (Nurjani/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ulama Pondok Pesantren Tegal

Repshol Pringsewu Dua Jam Shalawat untuk Indonesia dan Hadratussyekh

Pringsewu,Pondok Pesantren Tegal

Remaja Pecinta Shalawat (Repshol) Kabupaten Pringsewu menggelar kegiatan Dua Jam Shalawat untuk Indonesia dan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari di Desa Fajar Agung Kecamatan Pagelaran Utara Sabtu (3/6/17). Kegiatan dirangkai dalam rangka peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni.

Repshol Pringsewu Dua Jam Shalawat untuk Indonesia dan Hadratussyekh (Sumber Gambar : Nu Online)
Repshol Pringsewu Dua Jam Shalawat untuk Indonesia dan Hadratussyekh (Sumber Gambar : Nu Online)

Repshol Pringsewu Dua Jam Shalawat untuk Indonesia dan Hadratussyekh

Menurut Komandan Jamiyyah Repshol yang merupakan perkumpulan beberapa Group Shalawat Para Remaja di Kabupaten Pringsewu, Muhammad Subhan, kegiatan tersebut merupakan satu bentuk dukungan dan kecintaan mereka kepada NU dan NKRI.

"Bagi kami, hambatan, ancaman dan gangguan adalah salam cinta kebangkitan sebuah perjuangan. Di mana pun, kapan pun dan bagaimanapun, kami akan terus mensupport kecintaan kami kepada NU dan NKRI. Kami akan terus membuat ukiran sejarah yang damai, kokoh dan beradab," ujarnya di sela-sela kegiatan.

Pondok Pesantren Tegal

Gus Subhan, begitu ia biasa disapa menegaskan bahwa jamiyyah dan jamaah yang dinakhodainya tersebut akan terus konsisten melanjutkan perjuangan para syuhada yang telah gugur membela kedaulatan Indonesia.

"Kami akan terus melanjutkan perjuangan para kiai NU sebagai pejuang sejati negeri ini dengan wujud nyata dan tidak dengan banyak alasan ini itu. Kami adalah santri yang siap mati mengawal para kiai," tegas kiai muda nyentrik ini.

Pondok Pesantren Tegal

Gus Subhan menambahkan bahwa lokasi Markaz Repshol yang jauh dari keramaian, tepatnya di perbukitan di Kecamatan Pagelaran Utara, tidak akan menyurutkan mereka untuk menyuarakan kecintaan kepada NKRI dan NU.

"Kami adalah masyarakat yang jauh dari jangkauan teknologi. Kami dari pedalaman Kabupaten Pringsewu berkomitmen dan akan terus berkhidmat sesuai kemampuan kami. Kami tidak akan pernah menyerah untuk berjuang mengisi kemerdekaan NKRI. Dengan kedamain dan selalu menanamkan nilai-nilai tradisi dan akhlak, kami akan terus menyuarakan kecintaan kami kepada NKRI dan NU," katanya optimis.

Kegiatan tersebut, lanjut Gus Subhan, juga sebagai bentuk penghargaan kepada KH Hasyim Asyari yang merupakan pendiri jamiyyah Nahdlatul Ulama yang memiliki kontribusi besar terhadap terwujudnya NKRI.

"Kami akan terus melantunkan shalawat dan memanjatkan doa untuk negeri tercinta Indonesia dan sebagai ungkapan rasa cinta dan terima kasih kami atas betapa besarnya perjuangan Hadhratussyekh Mbah KH Hasyim Asyari memperjuangkan kemerdekaan NKRI," ungkapnya.

Ia berharap agar Jamiyyah Repshol akan senantiasa mendapat curahan rahmat dan kekuatan dari Allah SWT untuk mengemban segala amanah.

"Semoga kita semua selalu hidup damai dengan ketetapan iman, islam dan ikhsan, salam damai pedalaman sumatra rimba," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ulama, Nasional, Kiai Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 28 November 2017

LTMNU Tandatangani Kerja Sama dengan Jepang

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU), Selasa (28/4), mendapat kunjungan dari Shiogama Power Generation co, Ltd. Keduanya sepakat menjalin kemitraan di bidang kebudayaan dan sumber daya manusia.

LTMNU Tandatangani Kerja Sama dengan Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Tandatangani Kerja Sama dengan Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU Tandatangani Kerja Sama dengan Jepang

Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dilakukan Ketua Pengurus Pusat LTMNU KH Abdul Manan A Ghani dan Ryujiro Otsuki dari Shiogama Power Generation co, Ltd. Turut menyaksikan Sekretaris PP LTMNU H Ibnu Hazen dan Kepala Devisi Luar Negeri LTMNU Syamsuddin Sa’um.

Shiogama Power Generation co, Ltd merupakan perseroan terbatas yang berkantor di Shiogama, Jepang. Ia bergerak di bidang manajemen rumah sakit kota di Jepang. Otsuki menjelaskan, di antara kerja sama yang akan dilakukan adalah pertukaran kunjungan budaya dan pendidikan antara kota/kabupaten di Indonesia dan Jepang.

Pondok Pesantren Tegal

Ia menambahkan, pihaknya juga berencana memberikan bantuan peralatan medis untuk rumah sakit-rumah sakit di kota/kabupaten di Indonesia. “Tapi lampiran MoU redaksinya dibuat general agar kerja sama bisa lebih luas,” kata Otsuki melalui penerjemah.

Pondok Pesantren Tegal

Ibnu Hazen menambahkan, kerja sama ini menghubungkan kota/kabupaten antarkedua negara. LTMNU melalui devisi luar negeri menyanggupi kemitraan ini karena sudah memiliki jaringan di hampir seluruh kota/kabupaten di Indonesia.

Abdul Manan mengapresiasi kunjungan Otsuki. Pihaknya bahkan secara resmi mengundangnya hadir di forum Muktamar ke-33 NU di Jombang Agustus mendatang.

Senin (27/4) kemarin, LTMNU juga menerima kunjungan dari sebuah perusahaan elektronik di Jepang dalam rangka membahas potensi kerja sama penyediaan tenaga magang bagi para remaja masjid. Hanya saja, pertemuan masih dalam proses penjajakan dan belum menghasilkan keputusan berupa nota kesepahaman resmi. (Mahbib Khoiron)

Selasa, 21 November 2017

Dikritik, Tiap Konfercab yang Diributkan Masih Berkutat soal Pemilihan

Jombang, Pondok Pesantren Tegal. Seakan sudah menjadi kebiasaan setiap gelaran konferensi cabang (Konfercab) NU, tak sedikit orang membincangkan terkait siapa ketua dan rais yang layak menakhkodai pucuk pimpinan NU selanjutnya. Bahasan yang berkutat soal pemilihan ini sebetulnya sudah menghilangkan makna Konfercab NU yang semestinya.

Dikritik, Tiap Konfercab yang Diributkan Masih Berkutat soal Pemilihan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dikritik, Tiap Konfercab yang Diributkan Masih Berkutat soal Pemilihan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dikritik, Tiap Konfercab yang Diributkan Masih Berkutat soal Pemilihan

Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang H Muslimin Abdilla mengungkapkan, dengan merujuk pada ART NU, bahwa Konfercab adalah assembly (forum permusyawaratan) tertinggi di tingkat cabang. Sebagaimana dalam ART pasal 79 Konferensi Cabang membicarakan dan menetapkan lima hal penting.?

"Pertama soal laporan pertanggungjawaban PCNU, kedua pokok-pokok program tahunan, ketiga hukum dan masalah keagamaan dan kemasyarakatan, keempat rekomendasi organisasi, dan selanjutnya memilih rais melalui Ahwa dan memilih ketua," katanya, Sabtu (22/4).

Ia tak menampik, isu yang sedang gencar di permukaan menjelang gelaran Konfercab NU di Kota Santri ini adalah soal pemilihan yang sebenarnya hanya menjadi salah satu bahasan Konfercab dari poin penting lainnya.?

Pondok Pesantren Tegal

"Pemilihan rais dan ketua, sampai saat ini masih menjadi pembicaraan yang paling menonjol, padahal pemilihan hanyalah salah satu dari lima pembahasan dalam Konfercab," tambah pria berkacamata ini.

Dari bahasan tunggal itu, tambah dia, sampai saat ini, peserta Konfercab belum menjadikan materi pokok-pokok program, rekomendasi dan pembahasan hukum dan masalah keagamaan, sebagai bahasan yang lebih penting daripada bahasan tentang pemilihan ketua atau rais," tuturnya.

Pada kondisi yang setagnan ini, lanjutnya, menandakan bahwa organisasi NU masih tergantung kepada individu yang dipilih sebagai rais atau ketua, belum menjadi organisasi yang tergantung dengan program.

"Kalau begini terus, maka program akan tergantung dengan siapa yang menjadi ketua atau rais, bukan ketua atau rais yang harus tergantung dengan program yang diputuskan dalam Konfercab. Sehingga tidak banyak memperhatikan keputusan Konfercab tentang program," paparnya.

Semestinya menurut pria yang kerab disapa Cak Muslimin ini siapapun ketua atau rais harus menjalankan program yang diputuskan dalam Konfercab. Tidak boleh sama sekali keluar dari program yang diputuskan dalam Konfercab.?

Pondok Pesantren Tegal

"Karena itu, menjadi ketua atau rais adalah beban yang berat, karena harus menjalankan program yang dimanahkan oleh Konfercab," tutupnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ulama, Olahraga, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Tegal

Senin, 20 November 2017

Sambut Dies Natalis, Pimpinan UIN Ziarah Makam Walisongo

Semarang, Pondok Pesantren Tegal. Salah satu agenda dies natalis ke-46 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo mengadakan kegiatan ziarah ke makam sembilan wali. Ziarah ini diikuti Rektor, Wakil Rektor, Kepala Lembaga, Kepala Biro, Kepala Bagian, Kepala Subbagian dan Pusat Kajian Islam dan Budaya Jawa (PPIJ). "Ada yang khusus ? dan tentu saja baru dalam kegiatan menyambut dies natalis kali ini, yakni ziarah ke makam para wali yang jumlahnya sembilan yang dikenal dengan Walisongo" kata Prof Dr H Muhibbin MAg di sela-sela ziarah di Makam Sunan Muria, Kudus, Jawa Tengah (29/3).?

?

Sambut Dies Natalis, Pimpinan UIN Ziarah Makam Walisongo (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Dies Natalis, Pimpinan UIN Ziarah Makam Walisongo (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Dies Natalis, Pimpinan UIN Ziarah Makam Walisongo

"Tentu tradisi ziarah tersebut perlu kita lestarikan di masa mendatang untuk sekedar mengenang sepak terjang mereka, sehingga kita ? akan mampu ? mewarisi kehebatan mereka," kata Muhibbin.

Sebagaimana diketahui, para wali yang menyiarkan agama di tanah Jawa begitu terkenal, sehingga gaungnya pun tidak cuma berada di sekitar tanah air, melainkan sampai dikenal oleh dunia. Para peneliti dan tokoh Barat sangat heran dengan kiprah para wali tersebut, yang dianggap ? spektakuler dalam menyiarkan Islam di Jawa.

?

"Ziarah mempunyai maksud mengingat kematian, hal itu yang dikatakan oleh Nabi. Akan tetapi kalau ziarahnya khusus seperti ke Walisongo, tentu mempunyai maksud untuk mengingat jasa, sikap dan warisan mereka yang sangat mulia," imbuh Guru Besar Ilmu Hadits ini.?

Pondok Pesantren Tegal

Kesantunan dan kasih sayang Walisongo kepada siapapun, termasuk yang berbeda keyakinan, lanjut Muhibbin, menjadi hal sangat penting ditiru. Mereka tidak pernah menyinggung pihak lain, apalagi menyakitinya. "Nah itu yang ingin kita warisi dari mereka dengan aktifitas ziarah ini. Kita ingin keluarga besar UIN Walisongo dapat mengamalkan nilai-nilai yang diwariskan oleh para wali tersebut," katanya.

Justru menurut Muhibbin yang terpenting ialah bagaimana warga UIN Walisongo dapat memberikan kontribusi nyata ? dalam memajukan lembaga serta mengisinya dengan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat. Dan itu sudah rutin dijalankan dalam tugas tridharma, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

"UIN Walisongo dibangun juga dengan kekuatan doa. ? Prestasi yang sampai saat ini sudah diraih, tentu bukan semata-mata usaha jasmani semata, melainkan juga didorong oleh doa yang dimohonkan oleh seluruh warga, terutama para pimpinannya. ? Bahkan ? kita sangat yakin jika bukan karena ? kekuatan doa dan keputusan Allah, UIN Walsiongo masih dalam angan-angan semata” ujarnya.

Pondok Pesantren Tegal

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, Dr H Sholihan menyatakan bahwa agenda ziarah Walisongo semacam ini perlu diagendakan secara rutin menjelang dies natalis. "Kami berharap tahun depan sudah bisa menjadi agenda rutin dan semua civitas akademika bisa bersama-sama ziarah ke makam wali yang namanya dijadikan identitas kampus kita" tegas Sholihan.?

?

UIN Walisongo telah menjalin kerjasama dengan pimpinan makam para wali yang tergabung dalam Paguyuban Pemangku Makam Auliya (PPMA) se-Jawa. Ketua PPMA KH Nadjib Hassan yang turut serta menerima rombongan ziarah menyambut baik pihak UIN yang membuat agenda ziarah sebagai program rutin dies natalis.

Rangkaian dies natalis nantinya juga diisi dzikir bersama sekaligus penandatanganan MoU dengan ? Majelis Dzikir Al-Khidmah. Pada puncak peringatan akan diadakan rapat senat dengan agenda penyampaikan laporan tahunan Rektor dan orasi ilmiah. (Rikza/Zunus)

? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Makam, Ulama Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 27 Oktober 2017

Berawal dari Kota Bengawan

Menjelang peringatan Harlah ke-58 Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), yang bertepatan pada hari Sabtu (2/3) lalu, Pondok Pesantren Tegal menelusuri jejak perjalanan awal organisasi pelajar putri NU ini.

Tempat yang menjadi napak tilas kami yakni kota Surakarta. Kota yang juga dikenal dengan nama Solo ini, tak bisa dilepaskan dari sejarah awal berdirinya IPPNU.

Berawal dari Kota Bengawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Berawal dari Kota Bengawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Berawal dari Kota Bengawan

Ada dua tempat yang menjadi titik sasaran kami, yakni MAN 2 Surakarta yang dulunya merupakan bangunan Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Surakarta.

Kedua, yakni Masjid Sunniyah yang terletak di Jl Ronggowarsito Keprabon Solo. Pada nama tempat yang kedua ini, menurut berbagai sumber, dari sinilah sejarah IPPNU dimulai.

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal

Sekitar tahun 1954, di kediaman Nyai Masyhud (ibu dari Ny. Mahmudah Mawardi, ketua umum PP Muslimat NU 1952-1979, dan nenek dari Farida Mawardi, ketua umum PP IPPNU periode 1963-1966) yang terletak di bilangan Keprabon Surakarta.

Berawal dari perbincangan ringan oleh beberapa remaja putri yang sedang menuntut ilmu di PGA Surakarta. Mereka mencoba merespon keputusan Muktamar NU ke-20 di Surabaya tentang perlunya organisasi pelajar di kalangan nahdliyyat.

Diskusi-diskusi ringan dilakukan oleh Umroh Machfudzoh, Atikah Murtadlo, Lathifah Hasyim, Romlah, dan Basyiroh Saimuri. Dengan panduan ketua Fatayat cabang Surakarta, Nihayah, mereka berbicara tentang absennya pelajar putri dalam tubuh organisasi NU.

Lebih-lebih setelah kelahiran Muslimat NU (29 Maret 1946) yang beranggotakan wanita-wanita paruh baya, dan Fatayat NU (24 April 1950) yang anggota-anggotanya banyak didominasi oleh ibu-ibu muda.

Pembicaraan itu kemudian berkembang dengan argumentasi Nihayah (yang di kemudian hari menjadi istri Rais ‘Aam NU, K.H. Ahmad Siddiq) tentang pentingnya didirikan satu wadah khusus bagi para pelajar putri NU.

Apalagi keputusan muktamar ke-20 NU tahun 1954 menyatakan, bahwa IPNU adalah satu-satunya organisasi pelajar yang secara resmi bernaung di bawah NU dan hanya untuk laki-laki, sedangkan pelajar putri sebaiknya diwadahi secara terpisah.

Nihayah juga berdalih bahwa banyak pelajar-pelajar putri dari kalangan NU yang dimanfaatkan oleh ormas-ormas yang kebanyakan berafiliasi kepada partai politik tertentu di luar NU. Nihayah bahkan menjabat sebagai Ketua Departemen Keputrian Pelajar Islam Indonesia (PII) yang berafiliasi kepada Partai Masyumi, padahal menjelang pemilu 1955 NU sudah berpisah menjadi partai sendiri.

Obrolan ringan yang biasanya dilakukan seputar waktu senggang setelah sekolah itu akhirnya berkembang menjadi sebuah gagasan kemungkinan pengiriman pelajar putri NU mendampingi pelajar-pelajar putra yang memang pada awal tahun 1955 sedang mempersiapkan muktamar I IPNU yang akan diadakan di Malang, Jawa Timur. (Ajie Najmuddin/Red:Anam)?

Sumber: Wawancara terpisah dengan Umroh M., Nihayah Ahmad Siddiq, dan Mahmudah Nachrowi/ KMNU Mesir. (Foto: Hj. Umroh Machfudzoh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pesantren, Ulama Pondok Pesantren Tegal