Tampilkan postingan dengan label Quote. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Quote. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2018

Ketua DPRD Sidoarjo Sampaikan Apresiasi untuk IPNU-IPPNU

Sidoarjo, Pondok Pesantren Tegal. Acara "Pondok Aswaja" yang diadakan oleh IPNU-IPPNU Sidoarjo, Sabtu hingga Ahad (4-5/7) kemarin di Pondok Pesantren Chusnaini desa Klopo Sepoloh Sukodono Sidoarjo Jawa Timur, mendapatkan apresiasi dan respon positif dari Ketua DPRD Sidoarjo H Sulamul Hadi Nurmawan.

Ketua DPRD Sidoarjo Sampaikan Apresiasi untuk IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua DPRD Sidoarjo Sampaikan Apresiasi untuk IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua DPRD Sidoarjo Sampaikan Apresiasi untuk IPNU-IPPNU

Gus Wawan sapaan akrabnya menyatakan bahwa acara itu sangat penting sekali buat perkembangan generasi bangsa. Karena, di dalam Pondok Aswaja para peserta diberikan wawasan atau dibekali khazanah keilmuan dan mendapatkan faham Aswaja. Dimana sekarang sedang tren dikatakan Islam Nusantara.

"Jadi tema yang diangkat oleh IPNU-IPPNU Sidoarjo yakni "Pengamalan Aswaja An-Nahdliyah untuk mewujudkan kesejahteraan di masyarakat" sangat tepat. Karena tema tersebut merujuk dari tema Islam Nusantra yang digagas dalam Muktamar ke-33 NU mendatang," katanya kepada Pondok Pesantren Tegal, Sabtu (4/7).

Pondok Pesantren Tegal

Saat ini, banyak paham-paham yang masuk ke Indonesia. Maka generasi penerus bangsa membutuhkan keimanan, membutuhkan pemahaman agama dan membutuhkan keyakinan yang jelas. Bagaimana menyikapi hidup, bagaimana menyikapi sebagai bangsa dan negara.

Disinggung terkait kepengurusan IPNU-IPPNU Sidoarjo yang menjadi soko guru dari Jawa Timur. Pria yang pernah menjadi Ketua PW IPNU Jawa Timur masa khidmah 2005-2007 itu mengaku bahwa sejarah PW IPNU dari masa kemasa tidak pernah lepas dari peran kader Sidoarjo.

Pondok Pesantren Tegal

Menurut dia, sebelum dirinya menjabat hingga sekarang, kepengurusan IPNU-IPPNU di Jatim tidak pernah lepas dari kader IPNU-IPPNU Sidoarjo. Baik Ketua, Wakil maupun Sekretaris nya berasal dari Sidoarjo.

"Menurut saya, Sidoarjo itu memang pola pendidikan dan kaderisasinya sangat bagus. Sehingga layak untuk menjadi penopang di kepengurusan PW Jatim," tegas Gus Wawan. (Moh Kholidun/Anam)

Foto: Gus Wawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Quote Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

India ke Myanmar: Akui Rohingya, Bangun Sosio-Ekonomi di Rakhine!

Dhaka, Pondok Pesantren Tegal. Menteri luar negeri India Sushma Swaraj mengatakan, India mendukung pelaksanaan rekomendasi yang menyarankan pengakuan kepada etnis Rohingya di wilayah Myanmar.

India ke Myanmar: Akui Rohingya, Bangun Sosio-Ekonomi di Rakhine! (Sumber Gambar : Nu Online)
India ke Myanmar: Akui Rohingya, Bangun Sosio-Ekonomi di Rakhine! (Sumber Gambar : Nu Online)

India ke Myanmar: Akui Rohingya, Bangun Sosio-Ekonomi di Rakhine!

Pihak India mendukung pemulangan ratusan ribu Muslim Rohingya yang kini memadati Bangladesh ke tempat asalnya di Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

Jumlah Muslim Rohingya yang lari dari Myanmar telah mencapai hampir 600 ribu orang sejak eskalasi kekerasan pada 25 Agustus lalu. Mereka berjalan kaki menerobos sungai, hutan, atau laut selama berhari-hari. 

Dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip AP, dia juga menekankan pentingnya penatan ekonomi di Negara Bagian Rakhine untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Pondok Pesantren Tegal

"Menurut pandangan kami, satu-satunya solusi jangka panjang untuk situasi di Negara Bagian Rakhine adalah pembangunan segera sosio-ekonomi dan infrastruktur yang akan memberi dampak positif bagi semua masyarakat yang tinggal di negara bagian ini," katanya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Bangladesh mendesak India untuk memainkan peran lebih besar dengan "memberikan tekanan terus-menerus" kepada Myanmar untuk menemukan solusi damai bagi krisis Rohingya.

Sikap India yang mulai andil dalam penyelesaian krisis Rohinga akan sangat berarti bagi kebijakan China sebagai pendukung Myanmar, yang mengatakan bahwa Muslim Rohingya adalah migran ilegal dari Bangladesh, bukan warganya. (Red: Mahbib)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Aswaja, RMI NU, Quote Pondok Pesantren Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Seruan yang Mendamaikan Umat dan Bangsa

Oleh Suwendi



Pada 28 April 2017 yang lalu, Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, mengeluarkan “Seruan Ceramah di Rumah Ibadah” yang terdiri atas 9 (sembilan) butir. Seruan Menteri Agama ini mengajak dan meminta kepada seluruh eleman bangsa bersama-sama mensyukuri dan merawat persatuan umat dan bangsa yang telah dibina selama ini. Persatuan hanya dapat direalisasikan pada saat kondisi kedamaian dan kerukunan umat beragama dan negara dapat berlangsung dengan baik. Tentu, seruan ini membuat kita menjadi tenteram dan damai.

Seruan Menteri Agama, dalam pandangan penulis, memiliki makna yang sangat strategis, terutama dalam beberapa hal berikut.

Seruan yang Mendamaikan Umat dan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Seruan yang Mendamaikan Umat dan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Seruan yang Mendamaikan Umat dan Bangsa

Pertama, secara konteks sosial dan politik, bangsa Indonesia dihadapkan dengan semakin menjamurnya pemahaman keagamaan radikal, bukan hanya pada Islam saja tetapi juga di sebagian agama lainnya, yang justru atas nama agamanya mengajarkan kebencian dan merendahkan harkat martabat kemanusiaan. Ujaran kebencian dan saling mengkafir-bid’ahkan antarsesama umat beragama jamak terdengar dan terlihat di mimbar-mimbar keagamaan, hatta khutbah Jumat yang sakral pun tak luput dari umpatan kebencian ini.

Kepentingan untuk meraih target politik-pun sering terlihat dalam mimbar agama itu, apapun agamanya. Alih-alih untuk mencerdaskan dan membimbing umat ke kondisi yang damai, jamaah seringkali digiring pada penanaman benih kebencian dan caci-maki antar lawan politik. Jika dalam koteks pilkada DKI Jakarta saja sudah sedemikian dahsyatnya energi bangsa ini dalam menetralisasi persoalan politisasi agama, maka tidak ayal jika kekuatan politisasi agama ini pun akan semakin kembali mencuat terutama menjelang pilpres 2019, yang sebentar lagi akan dimulai. Oleh karenanya, menurut hemat penulis, seruan ini mendapatkan momentumnya yang sangat pas agar umat beragama dapat menggunakan fasilitas keagamaannya itu secara dewasa dan cerdas.

Pondok Pesantren Tegal

Kedua, seruan Menteri Agama itu mengingatkan kembali kepada seluruh anak bangsa terhadap hakikat dirinya, baik sebagai orang yang beragama maupun sebagai warga negara-bangsa Indonesia. Agama dan kebangsaan keduanya tidak dapat dilepaskan dalam diri anak negeri ini. Sebagai seorang yang beragama, ia harus mampu menjaga nama baik agamanya yang mengajarkan agar menghormati kepada umat agama selainnya, yang sama-sama mempercayai akan kebaikan-kebaikan dalam keyakinan agamanya. Sebagai warga negara Indonesia, ia menyadari betul bahwa Indonesia ini adalah gugusan kesatuan yang terdiri atas aneka ragam budaya, bahasa, adat-istiadat, dan agama yang berbeda. Keanekaragaman itu menjadi ciri khas Indonesia. Indonesia adalah Indonesia, bukanlah negara di belahan dunia lainnya, Timur atau Barat. Semua keaneragaman itu menjadi kekuatan yang dirakit dalam satu ideologi kebangsaan, yakni Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Oleh karenanya, amatlah tepat bahwa ceramah agama harus mampu memberikan pencerahan tidak hanya spiritual, intelektual, dan emosional, tetapi juga multikultural.

Seruan Menteri Agama itu bukan hanya diserukan kepada salah satu agama saja, tetapi seluruh agama dan umatnya di Indonesia. Sebagai Menteri Agama, ia tidak hanya berkewajiban untuk mengelola salah satu agama tertentu saja, tetapi ia harus mampu menjalankan kewajibannya dalam memelihara agama-agama lainnya. Ia adalah menteri untuk semua agama. Dalam konteks itu, semua agama dalam ceramahnya diminta untuk tidak mempersoalkan atau menyajikan materi yang bertentangan dengan empat konsensus bangsa Indonesia, yaitu: Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Empat konsensus bangsa Indonesia ini merupakan harga mati bagi semua orang yang ingin hidup di negeri Nusantara ini. Siapapun yang menggugat kembali atas empat pilar bangsa itu artinya ia berhadapan dengan seluruh eleman bangsa ini. ?

Pondok Pesantren Tegal

Ketiga, seruan Menteri Agama ini memberikan evaluasi bagi seluruh umat beragama bahwa ceramah agama mau tidak mau, suka dan tidak suka, harus disampaikan oleh penceramah yang memiliki pengetahuan keagamaan yang memadai dan bersumber dari ajaran pokok agama. Jika diibaratkan, penceramah agama itu sama halnya dengan dokter. Dokter baru bisa memiliki izin praktek dan mampu memberikan resep dan dosis obat ? yang tepat jika ia telah memiliki pengetahuan dan pendidikan yang memadai. Jika ada dokter yang tidak berkompeten, niscaya akan berakibat fatal pada pasiennya. Demikian halnya dengan penceramah agama, tanpa pengetahuan yang memadai maka dapat dipastikan umat yang ceramahinya akan mendapatkan wawasan keagamaan yang kurang tepat. Bukannya kedamaian yang diperoleh, tetapi kegelisahan dan persengketaan sosial yang didapat.?

Sebagai penceramah yang memiliki pengetahuan keagamaan yang baik, tentu ia akan memiliki bahan bacaan yang matang dan bersumber dari literatur-literatur keagamaan valid. Bukanlah penceramah agama yang handal jika ia hanya hafal ? satu-dua ayat berdasarkan pada pemahaman sepintas dari terjemahan, apalagi searching di google, dengan tanpa memiliki seperangkat metodologi ilmu keagamaan yang baik. Oleh karenanya, perlu saatnya untuk melakukan otokritik dari lembaga agama dan keagamaan dan desain yang disepakati untuk membangun penceramah agama yang mumpuni.

Seruan ini agaknya juga memberikan koreksi kepada seluruh penyelenggara dan pemangku kebijakan pendidikan, bahwa guru dan dosen yang mengajarkan mata-mata pelajaran agama harus diberikan oleh guru dan dosen-dosen yang memiliki latar belakang pendidikan agama yang baik. Jika tidak demikian, niscaya yang terjadi adalah pendangkalan agama sehingga sangat mudah terbawa oleh pemikiran dan gerakan radikalisasi agama. ?

Keempat, sebagai Menteri yang bertanggung jawab di bidang agama, tentu ia tidak dapat melakukan peran-peran di luar batas kewenangannya. Sebagai Menteri Agama ia berkewajiban untuk menciptakan kondisi umat agama dan kerukunan umat beragama agar dapat berjalan dengan baik. Adapun persoalan hukum dan tindakan tegas yang berimplikasi secara hukum tentu itu menjadi domain dari lembaga penegak hukum, seperti kepolisian, kejaksaan, dan lembaga peradilan. Menteri Agama bukanlah menteri sapu jagat yang memiliki kekuatan super-power, apapun bisa dilakukannya. Namun demikian, Menteri Agama mendesak agar penceramah agama harus tunduk dan taat pada ketentuan hukum yang berlaku baik yang terkait dengan penyiaran keagamaan maupun penggunaan rumah ibadah, sebagaimana tercermin dalam seruan Menteri Agama itu. Sejumlah perangkat dan noram-norma hukum terkait dengan penceramah yang berlawanan secara hukum tentu dapat ditindaklanjuti dan diproses melalui mekanisme hukum yang berlaku. Dengan demikian, seruan ini memang tepat sesuai koridor dan batas kewenangan Menteri Agama.

‘Ala kulli hal, seruan Menteri Agama ini perlu untuk diamini dan dipedomani oleh semua pihak. Sebab, secara substantif, seruan ini mengajak kita semua untuk melakukan kedamaian melalui mimbar agama. ? Jadikanlah mimbar-mibar agama yang suci itu sesuai dengan tujuan utama diturunkannya agama, yakni melindungi harkat dan martabat kemanusiaan, serta menjaga kelangsungan hidup dan peradamaian umat manusia, jangan dikotori dengan umpatan dan caci makian yang justeru menghilangkan kesucian mimbar dan hakikat agama itu sendiri. Semoga.

Penulis adalah doktor pendidikan islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Doa, Quote Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Hasyim: Masyarakat Tak Percaya Pemerintah Bisa Jaga Keselamatan Nuklir

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menjelaskan penolakan para ulama di Jepara tentang rencana PLTN Muria sebenarnya berakar dari kekhawatiran karena mereka belum percaya pemerintah bisa memastikan keselamatan proyek tersebut.

“Wong gardu listrik saja njebluk (meledak.red), lalu bagaimana nantinya kalau ada kebocoran nuklir, ini yang dikhawatirkan oleh masyarakat Jepara,” tuturnya di PBNU, Senin (3/9).

Hasyim: Masyarakat Tak Percaya Pemerintah Bisa Jaga Keselamatan Nuklir (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim: Masyarakat Tak Percaya Pemerintah Bisa Jaga Keselamatan Nuklir (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim: Masyarakat Tak Percaya Pemerintah Bisa Jaga Keselamatan Nuklir

Dikatakannya bahwa nuklir sendiri sifatnya adalah netral, tidak bisa dihukumi halal atau haram, tergantung pada penggunaannya. Disinilah para ulama di Jepara dalam forum Bahtsul Masa’il pada tanggal 1-2 September 2007 memutuskan bahwa aspek mudharatnya lebih besar daripada manfaat yang akan diperoleh.

Penolakan masyarakat Jepara ini mendapat respon dari sejumlah LSM dan industri yang ada di Jepara dan sekitarnya yang mengkhawatirkan hal yang sama dan bergerak untuk melakukan perlawanan. “Lihat saja, gayanya demo kan bukan gaya NU, tetapi gaya LSM,” paparnya.

Meskipun demikian, Kiai Hasyim berpendapat bahwa energi nuklir tetap diperlukan di Indonesia sepanjang untuk tujuan damai dan sebagai energi alternatif. Sumber energi ini jauh lebih murah dibandingkan dengan energi lainnya.

Pondok Pesantren Tegal

“Kalau masyarakat Jepara menolak, jangan dipaksakan disitu, nanti terus diriwuki (diganggu.red)), cari saja tempat lain yang masyarakatnya mau menerima,” tandasnya. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Quote Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Kesadaran Masyarakat Akan Pendidikan Perlu Terus Didorong

Jember, Pondok Pesantren Tegal - Wakil Sekretaris PCNU Jember Moch. Eksan mengaku prihatin dengan rendahnya kesadaran masyarakat untuk menuntaskan pendidikan dasar 9 tahun. Sebab, hal tersebtu berkelit kelindan dengan rendahnya kualitas sumberdaya manusia (SDM) dan daya saing Indonesia di hadapan dunia internasional.

Penyataan tersebut diungkapkan Eksan saat menjadi narasumber seminar yang digelar mahasiswa peserta KKN (Kuliah Kerja Nyata) Posko 90 IAIN Jember di SDN Sumberpandan, Dusun Curah Kebo, Desa Sumberpandaan, Kecamatan Grujugan, Bondowoso, Rabu (24/8).

Kesadaran Masyarakat Akan Pendidikan Perlu Terus Didorong (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesadaran Masyarakat Akan Pendidikan Perlu Terus Didorong (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesadaran Masyarakat Akan Pendidikan Perlu Terus Didorong

Keprihatinan yang diungkapkan Eskan bukan tanpa alasan. Ia merujuk pada data yang dibeber United Nations Childrens Fund (UNICEF). Di situ disebutkan bahwa pada tahun 2016 lalu, jumlah putus sekolah di Indonesia mencapai 2,5 juta anak.

Pondok Pesantren Tegal

Jumlah tersebut terdiri dari anak SD 600 ribu, sementara anak SMP 1,9 juta. Anak-anak yang putus sekolah, disebabkan karena kekurangan biaya, bekerja membantu orang tua, melanjutkan pendidikan ke pesantren dan/atau keterampilan, dan lain sebagainya. Padahal, pemerintah telah menetapkan wajar (wajib belajar) 9 tahun gratis.

"Kondisi tersebut membuktikan bahwa semangat belajar anak rendah, dan kesadaran pentingnya pendidikan bagi masa depan dari orang tua juga sama-sama rendah. Karena itu, minat dan kesadaran masyarakat akan Wajar 9 tahun, perlu terus didorong," lanjutnya.

Pondok Pesantren Tegal

Ia menambahkan, Islam menaruh perhatian yang sangat besar terhadap betapa pentingnya pendidikan bagi manusia. Terbukti, begitu banyak rekomendasi dan dorongan agar manusia terus mencari ilmu.

"Tanpa ilmu, seorang mustahil menggapai kesuksesan. Sebab, dunia butuh ilmu, akhirat membutuhkan ilmu, dan kedua-keduanya juga membutuhkan ilmu," ucapnya.

Dikatakannya, ilmu adalah satu-satunya cara untuk merubah nasib dan meningkatkan derajat sosial ekonomi bangsa. Allah bahkan menggaransi bahwa kaum yang beriman dan berilmu, derajatnya akan dinaikan.

"Pengertian derajat sangat luas, ya derajat kemuliaan, derajat ekonomi, derajat sosial dan sebagainya," lanjutnya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Quote, Kyai, Meme Islam Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Batasan Haid Perempuan Pengguna KB

Assalamu alaikum. Redaksi Pondok Pesantren Tegal yang terhormat. Saya mau bertanya perihal haid pengguna KB dengan alat kontrasepsi hormonal suntik. Setelah mengikut program itu, haid saya jadi tidak teratur. Saya kadang haid lebih dari lima belas hari. Itu pun hanya keluar flek. Apakah darah flek itu darah haid? Kalau bisa disebut haid, apakah flek yang keluar lebih dari 15 hari masih bisa disebut darah haid atau istihadloh? Mohon penjelasannya karena ini menyangkut dengan ibadah. Terima kasih. Wassalamualaikum wr.wr. (Putri Hidayani)

 

Jawaban

Assalamu’alaikum wr. wb.

Batasan Haid Perempuan Pengguna KB (Sumber Gambar : Nu Online)
Batasan Haid Perempuan Pengguna KB (Sumber Gambar : Nu Online)

Batasan Haid Perempuan Pengguna KB

Mbak Putri yang dirahmati Allah. sebagaimana dimaklumi bahwa haid itu menurut madzhab syafi’I paling sedikit selama siang dan malam. Paling lama 15 hari. Namun lazimnya 6 atau 7 hari. Sementara mazdhab Hanafi, haid paling lama 10 hari.

Kendati demikian, di kalangan syafi’iyah sendiri terdapat perbedaan pendapat. Untuk itu baiklah disimak keterangan Imam Nawawi dalam karyanya Raudhotut Tholibin.

? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?

Pondok Pesantren Tegal

Haid paling sebentar hanya sehari semalam menurut ini Madzhab. Atas dasar pendapat ini persoalan bisa bercabang. Paling lama 15 hari. Lazimnya 6-7 hari. Masa suci antara satu dan haid lainnya, 15 hari. Biasanya masa suci sebulan penuh. Paling banyak, tiada batas. Kalau kita dapati seorang perempuan mengalami haid secara teratur kurang dari sehari semalam atau lebih dari 15 hari; atau perempuan yang suci kurang dari 15 hari, maka sekurangnya ada 3 pendapat berbeda di kalangan ulama. Pendapat pertama, tidak ada model pada kasus ini. Kedua, ia harus mengikuti pola siklus demikian. Ketiga, kalau pola ini sesuai dengan temuan sebagian madzhab ulama salaf, kita ikuti pola demikian. Kalau tidak sesuai, kita tidak terima pola demikian.

Iklim dingin dan panas juga memengaruhi siklus haid perempuan. Ini pula yang membuat penetapan bilangan hari-hari haid menjadi berbeda di kalangan ulama. Demikian diterangkan Imam Nawawi dalam Raudhohnya.

Imam Nawawi dalam Al-Majemuk, Syarah Muhadzdzab menyebutkan sejumlah pendapat ulama yang menyatakan bahwa haid perempuan paling lama 15. Ada lagi yang mengatakan, 17 hari. Ada lagi yang menyatakan, 20 hari.

Pondok Pesantren Tegal

Ibrahim Al-Baijuri dalam hasyiyatul Baijuri ala Fathil Qarib menyebutkan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pendapat muktamad pada kasus haid ini harus dadasarkan pada metode istiqra, induktif dengan menarik prinsip umum dari banyak kasus. Artinya prinsip yang bisa dijadikan pedoman dalam menetapkan batas minimal, maksimal, hingga standar kelaziman haid.

Demikian disebutkan Abdurahman Zaidi dalam karyanya Al-Ijtihad bi Tahqiqil Manath wa Sulthonihi fil Fiqhil Islami, Kairo, Darul Hadits, Halaman 429.

? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ?. ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Para ahli fiqih berbeda pendapat di dalam bilangan lamanya haid. Imam Malik dan imam Syafi’I menyebutkan 15 hari sebagai batasan maksimal. Sementara Imam Hanafi, 10 hari. Sementara tidak ada nash jelas yang menyebutkan ketentuan haid ini. yang jelas, sebab itu tidak bisa dipulangkan pada perbedaan dalil, tetapi pada perbedaan kebiasaan masing-masing perempuan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bersandar pada kaidah ini, bantuan keterangan ahli medis untuk mengetahui kebiasaan haid perempuan sangat dimungkinkan. Demikian halnya pada kasus haid, begitu juga pada kasus nifas.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bila masalah ini tidak bisa dirujuk pada nash secara hakiki-yang mana sebagian dari para ulama merasa nyaman pada sebagian nash-maka dimungkinkan bisa dibantu dengan ketetapan para dokter perihal batasan jenis darah apakah itu memang darah haid, istihadloh, atau nifas. Dengan ini, kesulitan dan kebimbangan perempuan pada isu ini selesai.

Menurut hemat kami, yang lebih pas penetapan jenis darah haid berikut penghitungannya mesti didasarkan pada riset kalangan medis. Mengingat tidak ada nash perihal ini, maka keterangan dokter yang bisa dipercaya akan sangat membantu kita dalam menetapkan apakah darah yang bersangkutan betul darah haid atau bukan.

Jadi, kalau kita memakai patokan sederhana Imam Syafi’i, haid paling lama 15 hari. Lebih dari itu dihukumi sebagai darah istikhadzoh atau darah haid yang tidak lazim dan yang bersangkutan wajib melakukan shalat kembali seperti biasa.

Namun penjelasan dari dokter atau bidan yang mengerti soal ini penting juga sebagai acuan. Pasalnya, makanan, cuaca, macam-macam bahan kimia sudah masuk ke dalam manusia sekarang ini. Itu semua tentu akan memengaruhi darah haid berikut siklus regulernya. Sekali lagi, untuk soal haid, keterangan dokter atau bidan KB sangat membantu untuk menjawab pertanyaan saudari penanya yang terhormat. Wallahu a’lam

Wallahul Muwaffiq ila Aqwami Thoriq.

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Alhafiz K.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Warta, Fragmen, Quote Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Guruku Orang-orang dari Pesantren

Judul di atas merupakan otobiografi KH Saifuddin Zuhri. Buku setebal 383 halaman ini kali pertama diterbitkan oleh Penerbit Al-Ma’arif Bandung, pada tahun 1974. Lalu diterbitkan kembali oleh LKiS Jogjakarta pada 2001.?

Guruku Orang-orang dari Pesantren menceritakan perjalanan hidup KH. Saifuddin Zuhri, mulai periode awal pendidikannya di sekitar akhir dekade 1920-an, sampai sekitar tahun 1955, ketika ia telah menjadi salah satu tokoh NU.?

Guruku Orang-orang dari Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Guruku Orang-orang dari Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Guruku Orang-orang dari Pesantren

Buku ini dibagi menjadi 10 bab, yakni: “Di Ambang Pintu Pesantren”, “Madrasahku cuma Langgar”, “Tokoh-tokoh Pengabdi tanpa Pamrih”, Apresiasi terhadap Rasa Seni”, “Memasuki Persiapan Pengabdian”, Masih Belajar Lagi sebelum Terjun ke Medan Pengabdian”, “Menjadi Guru”, “Tamatnya Zaman Penjajahan”, Di Bawah Penjajahan Seumur Jagung”, dan “Merdeka Berarti 1000 Perjuangan”.

Menurut Kiai Saifuddin, ide penulisan Guruku Orang-orang dari Pesantren bermula ketika Asrul Sani memberi saran untuk menulis novel tentang kehidupan pesantren. Lantaran merasa tak punya kemampuan menulis novel, KH. Saifuddin Zuhri memutuskan menulis kisah-kisah para guru yang melatarbelakangi perjalanan hidupnya.?

Pondok Pesantren Tegal

Kenyataannya, otobiografi ini berkisah dengan lancar seperti sebuah novel.Buku ini diawali dengan gambaran khas kehidupan pedesaan, dengan segala tradisi dan nuansa kental keagamaan.?

Sejak kecil Kiai Saifuddin berkesempatan mencecap dua dunia pendidikan berbeda. Yang pertama sekolah ongko loro yang merupakan sekolah umum, serta madrasah yang berkonsentrasi pada ilmu agama. Ia juga terlibat dalam organisasi pemuda NU, Ansor.?

Jelang proses kemerdekaan Indonesia, menteri agama era Bung Karno ini kian terlibat dalam aktivitas perjuangan, jurnalisme, dan tugas-tugas keorganisasian di tingkat nasional.?

Pondok Pesantren Tegal

Dalam buku ini banyak diuraikan nilai-nilai moral yang dipelajari KH Saifuddin Zuhri selama berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang dianggap gurunya.?

Di luar itu, salah satu nilai terpenting Guruku Orang-orang dari Pesantren adalah catatan tentang peran besar komunitas pesantren dan nahdliyin dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, serta periode sesudahnya. Catatan ini sulit ditemui dalam buku-buku teks sejarah versi Orde Baru.?

Ketika proses tumbuhnya nasionalisme Indonesia pasca Sumpah Pemuda 1928, misalnya, penulis menceritakan bagaimana KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah menyebar pesan ke dunia pesantren untuk ikut serta dalam gelombang ini.?

Demikian pula ketika masa Revolusi Fisik terjadi. Para pemuda kalangan pesantren mengorganisasi diri dalam laskar-laskar seperti Hizbullah dan Sabilillah untuk terlibat langsung dalam pertempuran melawan penjajah. Bahkan kala itu pesantren menjadi tempat penyebaran paham nasionalisme dan antipenjajahan, serta wadah pelatihan militer bagi para pemuda.?

Selain itu, KH Syaifuddin Zuhri juga mendokumentasi banyak nama tokoh NU yang terlibat dalam perjuangan fisik. (Ahmad Makki)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Quote, Hikmah Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

Lika-liku Perjuangan Penghafal Al-Qur’an

Harus diakui, menghafal Al-Qur’an memang tidak semudah membalik tangan. Bagi yang belum terbiasa, aktivitas ini bisa jadi sangat membosankan bahkan jenuh, namun bagi orang-orang yang sudah mampu merasakan nikmatnya menghafal, hal ini terasa sangat menyenangkan laiknya seorang pujangga yang mendendangkan puisi-pusi untuk kekasih tercintanya.?

Salah satu kemukjizatan Al-Qur’an yang bisa dirasakan oleh umat Muslim hingga hari ini adalah bahwa Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang masih terpelihara otentisitasnya dan bisa dihafalkan oleh semua orang, termasuk orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren sekalipun. Mengapa demikian? Jawabannya, karena Al-Qur’an adalah firman Allah yang terkandung bermilyar-milyar ilmu pengetahuan. Bahkan, Allah sendiri pun menjanjikan bagi siapa saja yang mengambil pelajaran (menghafalkan) teksnya akan diberi kemudahan. (QS. Al-Qamar: 17).

Salah satu orang yang sudah membuktikan hal tersebut adalah Ammar Machmud, penulis buku ini. Dalam buku ini, dikisahkan secara panjang-lebar perjuangan Ammar dalam menghafal Al-Qur’an. Dia bertutur bahwa keinginannya untuk menjadi hafidz sungguh sangat besar bahkan ia pun rela memulai perjuangan menghafalnya itu dari nol pascalulus kuliah sarjana. Dia memilih tidak tinggal di pesantren karena keterbatasan biaya dan memiliki tanggung jawab aktivitas lain di luar rumah. Sehingga kegiatan menyetorkan hafalannya itu dilakukan sehabis Subuh untuk kemudian di-muroja’ah-kan (diulang-ulangi hafalannya) di rumah.?

Lika-liku Perjuangan Penghafal Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Lika-liku Perjuangan Penghafal Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Lika-liku Perjuangan Penghafal Al-Qur’an

Ammar pun mengakui sendiri bahwa menghafal Al-Qur’an itu tidak harus menjadi santri tetap di salah satu pesantren tertentu dan tidak pula untuk usia tertentu. Prinsipnya, asalkan seseorang itu sudah pasang niat kuat dan nekat menghafal Al-Qur’an dengan siap menerima apapun kondisi yang akan dihadapinya, pasti Allah akan turunkan pertolongan pada hamba-hamba-Nya yang serius berikhtiar. Baginya, proses menghafal Al-Qur’an itu bukan persoalan cepat atau lambat waktunya tapi seberapa kuat seseorang itu mampu menikmati proses menghafalkan Al-Qur’an serta hafalan tidak lupa hingga akhir hayat (hal: 116).

Dalam proses ‘mendaras’ kalam Ilahi, Ammar bukan tanpa cobaan dan rintangan. Banyak cobaan atau rintangan yang pernah dialaminya. Sebut saja, saat dia diuji Allah dengan sakit tipus. Pernah pula ia diremehkan temannya dan sering kali juga dia kehabisan biaya saat dia membutuhkan. Namun apa yang terjadi? Meski cobaan datang bertubi-tubi, toh akhirnya dia mampu menyelesaikan hafalan Al-Qur’annya.?

Pondok Pesantren Tegal

Dalam kata pengantar buku ini, dia sendiri mengakui, apakah dengan dia selesai hafalan Al-Qur’annya lantas selesai pula tugasnya? Tidak, justru tugas yang ‘lebih berat’ selanjutnya adalah bagaimana agar dia mampu snantiasa menjaga hafalannya hingga akhir hayatnya (hal: xxii).

Sungguh buku ini sangat mengena dan memberikan motivasi yang sangat bagus bagi siapa saja umat Muslim yang ingin, akan, sedang, ataupun telah purna menghafal ? Al-Qur’an. Sebab di dalamnya tidak hanya memuat kisah pribadi perjuangan penulisnya saja, tetapi juga dilengkapi dengan beberapa kisah dan nasehat dari para masyayikh Al-Qur’an (guru-guru Al-Qur’an). ?

Meski begitu, buku ini bukan tanpa kelemahan. Ada beberapa alasan yang belum diungkapkan penulis, semisal masalah asmara dan kisah perjuangan beberapa ulama Al-Qur’an. Namun, saya kira buku ini sudah mewakili sebagai gebrakan karya seorang santri yang mampu menuturkan hasil jerih-payahnya dalam melakukan perubahan hidup. Ibarat makanan, buku ini tak hanya sedap aromanya tapi juga lezat untuk disantap.?

Data buku

Judul Buku : Kisah Penghafal Al-Qur’an, Disertai Resep Menghafal dari para Pakar ?

Pondok Pesantren Tegal

Penulis : Ammar Machmud?

Penerbit : Quanta, Jakarta?

Cetakan : I, 2015

Tebal : 146 halaman

Peresensi : Iin Alawiyah, ibu rumah tangga, alumnus UIN Walisongo Semarang?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tokoh, Ubudiyah, Quote Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Drama “Posong” Al-Mizan Pentas di HUT Majalengka

Majalengka, Pondok Pesantren Tegal. Drama Posong dari SMA Islam Al Mizan diundang pentas di acara Hari Ulang Tahun (HUT) Majalengka ke-524 pada di kecamatan Jatiwangi, Majalengka Rabu, (4/6). Drama tersebut, sebelumnya, dinobatkan juara ketiga pada festival drama di kabupaten tersebut.

Wakil Kepala Bidang Kesiswaan Al-Mizan, Siti Maryam, bangga atas undangan tersebut karena dari sekian HUT Majalengka balu kali ini ada kesempatan.

Drama “Posong” Al-Mizan Pentas di HUT Majalengka (Sumber Gambar : Nu Online)
Drama “Posong” Al-Mizan Pentas di HUT Majalengka (Sumber Gambar : Nu Online)

Drama “Posong” Al-Mizan Pentas di HUT Majalengka

“Kami segenap tim drama dalam kesempatan ini akan mementaskan Posong karya Oom Samara De Uci. Kami akan all out dan menyukseskan acara tersebut. Dan kami akan bekerja maksimal agar penonton tidak kecewa,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Tegal

Lanjut Maryam, Posong menceritakan sebuah alat mendapatkan ikan yang sudah ditinggalkan. Para penangkap ikan sudah banyak menngunakan zat kimia, pukat harimau.

Pondok Pesantren Tegal

Para pemain drama terdiri dari Irene, Handini, Sri Nadia, Ulfa, Ali danUdin. “Meraka semuanya kelasXI,” katanya.

Sementaraitu, Kepala Sekolah SMA Islam Al Mizan, Zaenal Muhyidin, juga mengapresiasi diundangnya SMA menjadi salah satu mengisi acara.

“Kami belum bisa memberikan apa-apa ke Majalengka, kami baru bisa memberikan hasil kerja anak-anak pentas. Perhatian panitia HUT Majalengka menjadi motivasi buat adik-adik kelas yang lainnya,” tandasnya. (Tata Irawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Quote, Nasional Pondok Pesantren Tegal

Senin, 18 Desember 2017

PMII Makassar Hadirkan Pakar Bahas Pemilukada

Makassar, Pondok Pesantren Tegal - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia tak hentinya melakukan kajian-kajian persoalan bangsa ini. Pemilihan kepala daerah secara serentak yang akan dilaksanakan 2017 mendatang menjadi topik diskusi PMII Makassar Rabu (5/10).

Diskusi mingguan ini yang digelar di sekretariat PMII Makassar Jl. Recing Center tersebut menghadirkan pakar hukum tata negara dari Universitas Negeri Lampung Iwan Setiawan.

PMII Makassar Hadirkan Pakar Bahas Pemilukada (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Makassar Hadirkan Pakar Bahas Pemilukada (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Makassar Hadirkan Pakar Bahas Pemilukada

Alumni PMII Lampung tersbeut menjelaskan, kader PMII harus mengambil peran dalam proses pemilukada yang akan dilaksanakan 2017 mendatang dengan mengawal guna menghasilkan pemimpin yang berkarakter dan terbebas dari kecurangan.

Ketua PMII Makassar Basri mengatakan, kaum pergerakan harus turut andil mengambil bagian dalam perhelatan pemilukada 2017 mendatang. Peran ini merupakan wujud keseriusan PMII dalam berkonstribusi dalam kemajuan NKRI

Pondok Pesantren Tegal

Dikusi tersebut dihadiri sejumlah pengurus PMII Makassar dan puluhan kader PMII Komisariat Universitas Muslim Indonesia. Kegiatan tersebut berlangsung alot karena antusias peserta sangat tinggi,sehingga terjadi dialog cukup panjang. (Muhammad Aras Prabowo/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Quote, Pertandingan, Fragmen Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Atasi Problem Lahan Transmigrasi, Mendes Marwan Tekan MoU dengan Dua Menteri

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Permasalahan tanah, hutan desa dan kawasan transmigrasi sering kali menjadi polemik dari masa ke masa. Salah satunya adalah permasalahan di bidang legalitas tanah seperti sengketa tanah yang selalu menjadi polemik yang belum dapat diselesaikan dengan tuntas.?

Atasi Problem Lahan Transmigrasi, Mendes Marwan Tekan MoU dengan Dua Menteri (Sumber Gambar : Nu Online)
Atasi Problem Lahan Transmigrasi, Mendes Marwan Tekan MoU dengan Dua Menteri (Sumber Gambar : Nu Online)

Atasi Problem Lahan Transmigrasi, Mendes Marwan Tekan MoU dengan Dua Menteri

Untuk mengatasi masalah tersebut, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Marwan Jafar membangun nota kesepakatan bersama dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya dan Menteri Agraria dan Tata Ruang, Ferry Mursyidan Baldan.

"MoU ini diharapkan bisa menyelesaikan permasalahan sengketa tanah, penyelesaian persetujuan prinsip pelepasan kawasan hutan pada 354 lokasi di 24 provinsi, tumpang tindih peruntukkan pada 40 lokasi di 31 Kabupaten, penyelesaian hak pengelolaan transmigrasi di 260.982,88 Ha serta masih adanya tunggakan penyelesaian penerbitan sertifikat hak milik 340.940 bidang," ujar Menteri Marwan dalam sambutannya sebelum penandatangan MoU tiga Kementerian di Kantor Transmigrasi, Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (7/5).

Pondok Pesantren Tegal

Program penyediaan lahan sembilan juta hektar yang ditargetkan Presiden, menurut Menteri Marwan diharapkan bisa diprioritaskan untuk masyarakat marginal khususnya para petani.?

"Program ini menjadi harapan besar bagi penduduk di daerah padat yang selama ini tidak mendapatkan akses untuk memanfaatkan, mengelola dan atau memiliki lahan," ujar Menteri Marwan.

Pondok Pesantren Tegal

Distribusi lahan yang berkeadilan, imbuh Menteri Marwan, harus diikuti upaya pengelolaan dan pemanfaatan secara optimal untuk tercapainya produktifitas guna mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas.

"Program penempatan transmigrasi yang telah lebih dari enam puluh tahun diselenggarakan pemerintah dan telah berkontribusi membentuk 2 provinsi, 104 Kabupaten/Kota, 385 Kecamatan dan 1.183 Desa, dapat menjadi salah satu solusi untuk terlaksananya distribusi lahan yang berkeadilan sekaligus mendukung ketersediaan pangan nasional," tandasnya.

Dengan adanya reforma agraria 9 Juta Hektar di bidang redistribusi lahan dan legalisasi aset, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi akan membangun dan mengembangkan kawasan transmigrasi dengan model Satuan Permukiman Baru, Satuan Permukiman Tempatan dan Satuan Permukiman Pugar di daerah tertinggal, perbatasan dan pulau-pulau terluar.

"Kawasan transmigrasi bisa menjadi kawasan yang strategis dan cepat tumbuh dengan berbagai pola usaha yang dikembangan seperti pangan, perkebunan, perikanan dan jasa industri. Untuk itu diperlukan dukungan pelepasan kawasan hutan disamping percepatan penerbitan beban sertifikat hak milik," tandasnya.

Dengan adanya kesepakatan bersama dengan tiga kementerian, Menteri Marwan berharap semua permasalahan terkait dengan kawasan hutan, distribusi lahan, dan sinkronisasi tata ruang bisa cepat selesai.

"Saya berharap semua permasalahan dan beban tugas terkait dengan pencadangan dan perubahan peruntukan kawasan hutan, sinkronisasi tata ruang, distribusi lahan, serta sertifikasi tanah dapat lebih cepat diselesaikan dalam rangka mendukung percepatan pembangunan desa, daerah tertinggal dan transmigrasi," tutupnya. Red: mukafi niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Quote, Lomba, Pesantren Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

GP Ansor NTT Kecam Keras Pelaku Pemboman Gereja Oikomene HKBP Samarinda

Kupang, Pondok Pesantren Tegal - Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda Ansor Nusa Tenggara Tenggara Timur (NTT), mengutuk keras pelaku pemboman gereja? pada Ahad tanggal 13 Nopember 2016 sekitar pukul 10.00 wita bertempat di Gereja? Oikumene HKBP Jalan Cipto Mangun Kusumo Kelurahan Sengkotek Kecamatan Loa Janan Ilir Samarinda Kaltim.

"Kami minta kutuk keras pelaku dan bila perlu penjara seumur hidup. Sebab tindakan itu tidak berkemanusiaan, tidak berkeadalian serta benar-benar hilang dari rasa persaudaraan sesama bangsa," kata Ketua GP Ansor NTT Abdul Muis, Ahad (13/11).

GP Ansor NTT Kecam Keras Pelaku Pemboman Gereja Oikomene HKBP Samarinda (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor NTT Kecam Keras Pelaku Pemboman Gereja Oikomene HKBP Samarinda (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor NTT Kecam Keras Pelaku Pemboman Gereja Oikomene HKBP Samarinda

Menurut Muis, jika pelaku sudah ditangkap pihak berwajib, harus segera diproses secara hokum. Aparat hukum harus mampu membongkar semua sistem atau kelompok yang dianggap radikal yang memiliki strategis untuk menghancurkan kerukunan di Indonesia.

Tindakan yang dilakukan pelaku itu, kata Muis, benar-benar mencederai persendian kerukunan yang sudah dibangun sekian lama sejak Indonesia merdeka.

Pondok Pesantren Tegal

GP Ansor NTT minta penegak hukum memproses pelaku seberat-beratnya agar bisa memberikan efek jera kepada kelompok-kelompok yang berkeinginan mengganggu kebinekaan kita.

Pondok Pesantren Tegal

“Kami minta kepada Bapak Presiden Jokowi mendorong penegak hukum dan Kapolri semoga bisa menelusuri motif pemboman.”

Sementara Sekretaris GP Ansor NTT Ajhar Jowe menduga kasus pemboman di gereja Oikamene bermotif anti agama lain. “Dengan adanya aksi-aksi seperti itu perlu kita waspada. Jika ditemukan orang yang diduga, segera kita laporkan ke pihak yang berwajib.” (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Hadits, Nahdlatul Ulama, Quote Pondok Pesantren Tegal

Qunut Nazilah untuk Palestina

Ada satu persepsi yang aneh, yakni NU tidak dinilai bela negara Palestina. Persepsi ini dimunculkan agar ada citra bahwa hanya sekelompok orang yang turun ke jalan atau membentangkan bendera hitam, putih, hijau dan merah, yang dinilai bela Palestina.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menilai persepsi itu dengan bijaksana. "Mereka yang bilang kita tidak membela Palestina itu tidak pernah baca sejarah. Tidak perlu ditanggapi," kata Kang Said belum lama ini.?

Qunut Nazilah untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Qunut Nazilah untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Qunut Nazilah untuk Palestina

Sementara Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi menanggapinya dengan seloroh, "Isreal itu sudah terkutuk dari sononya. Jadi tidak perlu dikutuk."

Pondok Pesantren Tegal

Benar kata Kang Said mereka yang menilai NU tidak aktif mendukung Palestina tidak tahu sejarah, setidaknya sejarah yang dicatat KH Zaifuddin Zuhri dalam "Guruku Orang-orang dari Pesantren".

Dalam buku itu, Kiai Haji Saifuddin Zuhri menulis bahwa ulama NU meminta umat Islam Indonesi untuk melaksanakan qunut Nazilah. Qunut Nazilah dilaksanakan ketika sebuah negeri atau wilayah menghadapi kegentingan dan bencana, juga sebagai protes atas diresmikannya Israel sebagai negara (1947) oleh PBB, yang didalangi Amerika Serika dan Soviet.?

Pondok Pesantren Tegal

NU juga minta Bung Karno agar pemerintahannya mendesak PBB agar meninjau ulang keputusannya itu.

Sembilan tahun sebelum itu, tepatnya pada tanggal 12 Nopember 1938, PBNU meminta pada seluruh partai dan organisasi Islam di Indonesia serta pada Pucuk Pimpinan Warmusi (Wartawan Muslimin Indonesia) di Medan, agar memberikan sokongan moral dan meteriil pada para pejuang Palestina dalam membela tanahair mereka.?

Sepanjang tahun, umat Islam melakukan qunut Nazilah tiap sembayang wajib, lima kali sehari.

Seruan PBNU itu bikin Belanda marah. KH Machfuzh Shiddqi, salah satu ketua PBNU yang waktu itu ada di Surabaya, pada tanggal 27 Januari 1939 dipanggil ke Jakarta oleh Hoofdparket (kepala jaksa) Belanda. Kepala Jaksa bilang kepada Kiai Machfuzh bahwa Belanda melarang qunut Nazilah untuk Palestina. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Aswaja, RMI NU, Quote Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

Di Malang, PMII Gelar Aksi Damai dan Istighotsah

Malang, Pondok Pesantren Tegal 

Aksi demonstrasi yang dilakukan lebih dari 200 Keder Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Rabu (17/4) berlangsung unik. Tidak seperti aksi pada umunya, aksi kali ini diwarnai potong tumpeng dan istighotsah di Balai Kota.

Tidak ada bentrok fisik yang terjadi antara Mahasiswa dan polisi seperti yang terjadi belakangan. Gabungan Mahasiswa Malang ini berjalan beriringan bersama polres Malang dari alun-alun kota menuju balai kota, JL Tugu no 1, Malang.

Di Malang, PMII Gelar Aksi Damai dan Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Malang, PMII Gelar Aksi Damai dan Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Malang, PMII Gelar Aksi Damai dan Istighotsah

Beberapa gabungan Mahasiswa Malang ini berdemo di depan Balai kota untuk memperingati hari lahir PMII yang ke 53.

Pondok Pesantren Tegal

“Kami di sini melakukan aksi damai, dan menunjukkan konsistensi kita untuk terus mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegas Fauzan, Mahasiswa UIN Maliki Malang dalam orasinya. “NKRI harga mati !!!!” serunya ditimpali lagu kebangsaan bersama.

Dwi Fitri Wiyono, ketua PC PMII Kota Malang, mengungkapkan bahwa PMII ke depannya akan terus melakukan manuver-manuver cantik untuk menyiapkan bibit unggul Generasi Nusantara, “Kami akan terus mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat,” tandasnya.

Pondok Pesantren Tegal

Dalam aksi damai itu, terlihat polisi dan mahasiswa saling bahu-membahu. Pasalnya, setelah melakukan orasi secara bergilir, polisi membantu awak demonstran mengangkat tumpeng sebagai sajian harlah PMII yang ke 53. 

Bahkan, potongan tumpeng pertama diberikan pada perwakilan polres Malang oleh Dwi sapa akrab Dwi Fitri Wiyono. Sebelumnya, para demonstran melakukan Istighosah bersama dan sholawat untuk para leluluhur dan Founding Fathers PMII.

Para aktivis pergerakan itu bubar secara tertib pukul 12.30, dengen tetap mengibarkan bendera kuning biru itu, mereka melakukan konvoi hingga JL Ijen, untuk selanjutnya pulang secara beraturan ke tempat kos masing-masing Mahasiswa.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Diana Manzila

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nasional, Quote, Budaya Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 30 November 2017

Ribuan Jamaah Hadrah Peringati Harlah NU

Surabaya, Pondok Pesantren Tegal. Jalur utama di depan kantor PWNU Jawa Timur harus ditutup, Ahad (18/5) malam, karena di tempat tersebut sedang dilangsungkan Gebyar Ikatan Seni Hadrah Indonesia  (Ishari) dalam rangka hari lahir Nahdlatul Ulama yang ke-91.

Ribuan Jamaah Hadrah Peringati Harlah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Hadrah Peringati Harlah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Jamaah Hadrah Peringati Harlah NU

Kegiatan yang diselenggarakan PT AULA Media NU ini dihadiri ribuan jamaah Ishari dari sejumlah kelompok hadrah di beberapa kota di Jawa Timur. Dalam daftar hadir tampak telah bergabung kontingen dari Bangil, Sampang, Malang, Mojokerto, Jombang dan Pasuruan.

“Mereka adalah utusan dari sejumlah cabang yang sangat antusias dengan kegiatan ini,” kata Ir H Yusuf Arif, Ketua PW Ishari Jatim.

Pondok Pesantren Tegal

Masing-masing datang dengan jumlah anggota yang beragam. Namun dari data yang diterima panitia, ada 1200 peserta. “Ini belum termasuk para kontingen yang masih dalam perjalanan,” kata Ketua Panitia, M Saiful Anwar.

Rangkaian gebyar Ishari diawali dengan ibtida’ bis syahri atau pembacaan shalawat pembuka. Selanjutnya kegiatan diisi dengan beberapa sambutan.

Pondok Pesantren Tegal

H Abdul Wahid Asa yang mewakili Majalah AULA menandaskan bahwa hal ini merupakan kegiatan pertama dalam sejarah NU di Jawa Timur. “Ini adalah peristiwa istimewa lantaran baru pertama kalinya seni hadrah yang terhimpun dalam Ishari diundang pada acara resmi NU,” kata Dewan Pakar Majalah AULA ini.

Sedangkan Drs KH Nuruddin A Rahman SH yang mewakili PWNU Jatim memberikan semangat kepada para hadirian akan keberadaan dan manfaat hadrah dalam perjalanan dakwah Islam. “Percayalah bahwa seni hadrah adalah warisan dari Nabi Muhammad SAW,” katanya yang disambut antusias peserta. Dengan demikian, Wakil Rais PWNU Jatim ini memastikan bahwa dengan melestarikan seni hadrah, berarti juga turut dalam menjaga tradisi dan warisan nabi.

Pada kegiatan ini tampil sejumlah kelompok hadrah Ishari dari berbagai kota di Jawa Timur. Tidak semata melantunkan shalawat, mereka juga akan mendapatkan hadiah paket umrah yang disediakan sponsor.

Ir H Yusuf Arif, Ketua PW Ishari Jatim, mengaku sangat bangga dan tersanjung dengan undangan ini serta berharap agar kegiatan serupa dapat diselenggarakan secara ajeg. “Pada saat yang sama kami berharap atas dukungan dan bimbingan para kiai dan ulama demi terjaganya tradisi Islami ini,” tandasnya.

Apalagi ternyata kelahiran ISHARI hampir berbarengan dengan hari lahir NU. "Kalau Ishari lahir dan didirikan tanggal 15 Rajab, sedangkan NU adalah 16 Rajab meskipun tahunnya berbeda," katanya. Dengan demikian, saat memperingati kelahiran grup hadrah ini, bersamaan dengan harlah jamiyah Nahdlatul Ulama, lanjutnya. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kyai, Nahdlatul Ulama, Quote Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 29 November 2017

Fatayat NU DKI Gelar Sosialisasi Pilkada Damai

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal

Pimpinan Wilayah Fatayat NU DKI Jakarta menggelar Sosialisasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Damai di gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Ahad (12/2). Kegiatan yang bekerja sama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta ini dihadiri sekitar seratus perempuan Fatayat NU setempat.

Fatayat NU DKI Gelar Sosialisasi Pilkada Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU DKI Gelar Sosialisasi Pilkada Damai (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU DKI Gelar Sosialisasi Pilkada Damai

Ketua PW Fatayat NU DKI Jakarta Rahayu mengatakan, perempuan mempunyai peran penting dalam suksesi kepemimpinan daerah ini. Ia berharap kader Fatayat NU aktif berpartisipasi pada pemungutan suara 15 Februari 2017 nanti.

Menurutnya, meski berbeda pilihan, warga harus tetap saling menghormati dan tetap bergembira dalam pesta demokrasi kali ini. “Situasi tegang beberapa hari lalu yang sempat tercipta di masyarakat merupakan serba serbi proses demokrasi,” kata Rahayu.

Pondok Pesantren Tegal

Peserta sosialisasi ini datang dari enam cabang Fatayat NU yang ada di DKI Jakarta, antara lain dari PC Fatayat NU Jakarta Barat, PC Fatayat NU Jakarta Timur, PC Fatayat NU Jakarta Utara, PC Fatayat NU Jakarta Selatan, PC Fatayat NU Jakarta Pusat, dan juga PC Fatayat NU Kepulauan Seribu.

Pondok Pesantren Tegal

Sementara itu Komisioner KPU DKI Jakarta Dahlia Umar berharap pertemuan hari ini dapat memberikan pemahaman untuk pilkada yang lebih baik dan gubernur yang terbaik. “Perempuan memiliki nilai yang tinggi dalam menentukan PILKADA Damai dan berkualitas,” katanya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Quote Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 24 November 2017

Cucu Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Hadir di Kraksaan

Probolinggo, Pondok Pesantren Tegal. Dalam rangka menyemarakkan Tahun Baru Islam 1437 hijriyah bersamaan dengan peringatan Hari Santri Nasional (HSN), Majelis Dakwatun Nahdliyin Pengurus Cabang Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kota Kraksaan bekerja sama dengan Majelis Dzikir Jamrah Kabupaten Probolinggo menggelar Muhaarram Berdzikir dam khaul ahli kubur, Senin (2/11).

Cucu Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Hadir di Kraksaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Cucu Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Hadir di Kraksaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Cucu Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Hadir di Kraksaan

Kegiatan yang dipusatkan di halaman Pondok Pesantren Nurul Qodhim di Desa Kalikajar Kulon, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur ini diikuti sebanyak 11.561 jamaah terdiri dari para pengurus MWCNU se-PCNU Kota Kraksaan. Hadir pula para majelis dzikir dari Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang, Jember, Lumajang dan Bondowoso.

Muharram Berdzikir yang menghadirkan Prof. Dr. Syekh Fadhil Al-Jailani, keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dari Istambul Turki ini dihadiri oleh Rais Syuriyah PCNU Kota Kraksaan KH Munir Kholili, Wakil Rais Syuriyah PCNU Kota Kraksaan KH Amin Fathullah, Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Kraksaan KH Nasrullah Ahmad Suja’i serta sejumlah ulama dan habaib se PCNU Kota Kraksaan.

Pondok Pesantren Tegal

Kegiatan ini diawali dengan shalat Isya berjamaah yang dilanjutkan dengan shalat taubat dan hajat berjamaah. Kemudian dilakukan pembacaan dzikir dan istighotsah kubro, manaqib Syekh Abdul Qodir Al Jailani, tahlil kubro dan sholawat Nabi Muhammad SAW.

Ketua PC LDNU Kota Kraksaan KH Masrur Robitullah mengatakan kegiatan ini bertujuan agar Tahun Baru Islam 1437 H bisa dijadikan momentum untuk melakukan introspeksi diri untuk melakukan perubahan dari keadaan yang kurang baik menjadi lebih baik.

Pondok Pesantren Tegal

“Di samping sebagai revitalisasi hijrah dalam meningkatkan spiritualitas dan kesadaran keagaaman menjadi keniscayaan umat Islam. Terutama saat bangsa Indonesia dihadapkan kepada masalah berbagai musibah mulai dari bencana, kabut asap dan darurat narkoba. Hendaknya semua ini dijadikan moementum untuk menguji keimanan dan keberislamannya supaya bisa direnungi untuk diambil hikmahnya,” ujarnya.

Melalui kegiatan tersebut Kiai Masrur mengharapkan semoga dengan Muharram Berdzikir ini, semua umat Islam khususnya warga NU bisa lebih memahami ahli sejarah hijrah dan kearifan hijrah menuju ke arah yang lebih baik.

“Setiap muslim, khususnya warga NU diharapkan bisa menjadi insan yang beradab dalam setiap lini kehidupan dengan membuka lembaran baru yang lebih baik di hari-hari mendatang,” harapnya.

Sementara Rais Syuriyah PCNU Kota Kraksaan KH Munir Kholili mengharapkan agar dengan adanya LDNU ini, PCNU Kota Kraksaan bisa mewarnai dan membangun karakter masyarakat Kota Kraksaan yang berakhlak mulia.

Dalam kesempatan tersebut Prof. Dr. Syekh Fadhil Al-Jailani mengajak umat Islam untuk senantiasa bertaubat dan beristighfar. Selanjutnya Syekh Fadhil Al-Jailani meminta hadirin mengangkat tangan kanan kemudian dilangsungkan sebuah pelafalan ijab dan qabul. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Quote Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 23 November 2017

Antisipasi Gerakan Radikal, IAIN Jember Larang Mahasiswi Bercadar

Jember, Pondok Pesantren Tegal - Semakin massifnya gerakan radikalisme menyusup di kampus-kampus, mendorong IAIN Jember untuk melakukan antisipasi dini. Pihak kampus melarang mahasiswi bercadar. Larangan tersebut tertuang dalam surat edaran yang ditandatangani Rektor IAIN Jember Babun Suharto beberapa hari lalu.

Surat edaran ini terkait dengan pencegahan paham anti-NKRI dan Pancasila di lingkungan kampus IAIN Jember. Salah satu itemnya adalah pengaturan tatacara berbusana, yang di antaranya menyangkut larangan mahasiswi mengenakan cadar saat mengkuti perkuliahan.

Antisipasi Gerakan Radikal, IAIN Jember Larang Mahasiswi Bercadar (Sumber Gambar : Nu Online)
Antisipasi Gerakan Radikal, IAIN Jember Larang Mahasiswi Bercadar (Sumber Gambar : Nu Online)

Antisipasi Gerakan Radikal, IAIN Jember Larang Mahasiswi Bercadar

Menurut Wakil Rektor IAIN Jember Nur Solikin, larangan penggunaan cadar perlu diberlakukan untuk menghalau tumbuhnya paham radikal di kampus tersebut. Paham ini dinilai sangat berbahaya karena tidak mengakui NKRI dan Pancasila sebagai ideologi negara.

Pondok Pesantren Tegal

"Memang belum tentu mahasiswi yang menggunakan cadar secara otomatis mengikuti aliran radikal. Karena itu, kami akan melakukan pendekatan lebih dulu, sebelum menjatuhkan sanksi dikeluarkan dari kampus," katanya kepada Pondok Pesantren Tegal di Jember, Senin (10/4).

Pondok Pesantren Tegal

Ia menegaskan, larangan tersebut tidak akan membelenggu kebebasan berekspresi dan berpikir. Sebab, sejak awal IAIN Jember memang berkomitmen untuk memberikan ruang yang luas bagi kebebasan berpikir mahasiswa selama itu terkait dengan ide-ide dan kritisisme. Namun jika sudah mengarah kepada isu-isu penolakan NKRI dan Pancasila, maka IAIN Jember menutup rapat-rapat.

"Silakan berekspresi, mengembangkan pemikiran-pemikirannya, tapi tetap harus ada rambu-rambu, yaitu jangan sampai melawan negara. Ajaran Islam menyebutkan wa ulil amri minkum, patuh kepada pemerintah negeri ini, termasuk negara," jelasnya.

Selain itu, tambah Nur Solikin, IAIN Jember sudah memantapkan diri sebagai kampus pengembangan Islam Nusantara sehingga harus ada turunan kebijakan peraturan, termasuk kurikulum yang diterapkan. Salah satunya adalah kurikulum pemikiran pendidikan Islam Nusantara.

"Kami membuat kode etik berpakaian yang sesuai dengan Islam Nusantara. Karena itu, yang tidak sesuai (dengan budaya Islam Nusantara) dilarang," urainya.

Menurutnya, larangan itu juga berlaku bagi dekan dan civitas kampus. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Quote Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 15 November 2017

Muhammad Fudoli, dari Pesantren ke Cerpen

Muhammad Fudoli (1942-2007) : Salah seorang cerpenis terkemuka yang berasal dari kalangan santri. Lahir di Sumenep, 8 Juli 1942 dan meninggal di Surabaya pada 2007 dalam usia 65 tahun. Awalnya ia menggunakan nama M. Fudhaly atau M. Fudoli Zaini, tetapi kemudian ia lebih sering menggunakan nama ‘Muhammad Fudoli’ saja.

Fudoli menerima pendidikan keagamaan dari keluarganya yang merupakan keluarga pesantren. Seusai SMA ia sempat mengecap bangku Universitas Gadjah Mada Yogjakarta, tapi kemudian lebih memilih IAIN Sunan Ampel Surabaya. Pada 1968, ia melanjutkan studi di Universitas Al Azhar, Kairo, atas beasiswa pemerintah Mesir.

Awalnya ia belajar syariah, lalu berganti meminati sejarah di Institute of Islamic Studies di kota yang sama, lantas belajar Sastra Arab Modern di Institute of Arabic Studies. Tetapi kemudian ia kembali belajar filsafat,? khususnya Filsafat Tasawuf, di Universitas Al Azhar sampai meraih gelar MA dan PhD dalam bidang tersebut.

Muhammad Fudoli, dari Pesantren ke Cerpen (Sumber Gambar : Nu Online)
Muhammad Fudoli, dari Pesantren ke Cerpen (Sumber Gambar : Nu Online)

Muhammad Fudoli, dari Pesantren ke Cerpen

Ia mulai aktif menulis awal tahun 1960an. Cerpen-cerpennya waktu itu disiarkan di majalah Sastra dan kemudian pada pertengahan 1960an di majalah Horison. Tak heran kalau H. B. Jassin memasukkannya dalam barisan Angkatan 66, seperti dengan simbolik disertakannya “Si Kakek dan Burung Dara”, salah satu cerpennya, dalam buku Angkatan ’66: Prosa dan Puisi (Jakarta: Gunung Agung, 1976). Selain pada karya H. B. Jassin di atas, beberapa karyanya juga telah masuk ke sejumlah antologi cerpen bergengsi, di antaranya cerpen “Sabir dan Sepeda” yang masuk dalam Laut Biru Langit Biru (Jakarta: Pustaka Jaya, 1977) yang diredaksi oleh Ajip Rosidi. Sedangkan Satyagraha Hoerip memuat pula cerpennya yang berjudul “Potret Manusia” dalam Cerita Pendek Indonesia III (Jakarta: Gramedia, 1986).

Menurut Satyagraha Hoerip, “...Fudoli terhitung seorang di antara lima sastrawan Indonesia yang paling produktif, istimewa di bidang cerita pendek.”

Kumpulan cerpen dan bukunya yang telah diterbitkan adalah Lagu dari Jalanan (Balai Pustaka, Jakarta, 1982), Potret Manusia (Balai Pustaka, Jakarta, 1983), Arafah (Pustaka, Bandung, 1985), Kota Kelahiran (Balai Pustaka, Jakarta, 1985), Batu-batu Setan (Pustaka Firdaus, Jakarta 1994), Sepintas Sastra Sufi (kumpulan esai, Risalah Gusti, 2000), dan Rindu Ladang Padang Ilalang (Bentang Budaya, Yogyakarta, 2002). Beberapa karyanya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan Belanda.

Pondok Pesantren Tegal

Sebagai pengarang, ia telah beroleh banyak penghargaan. Cerpennya “Kemarau” masuk sebagai pemenang Hadiah Hiburan Sayembara Kincir Emas Radio Wereldomroep, Belanda pada tahun 1975. Bersama 14 cerpen lain, cerpen itu kemudian dihimpun dan diterbitkan dalam buku Dari Jodoh sampai Supiyah (Jakarta: Djambatan, 1976).

Cerpennya yang lain, “Sisifus” meraih Hadiah Hiburan dalam Sayembara Cerpen Horison 1977/1978. Sedangkan antologi cerpennya Kota Kelahiran mendapat hadiah dari Yayasan Buku Utama sebagai karya fiksi terbaik tahun 1985 dan cerpen “Suminten” mendapat penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta, 1999.

Fudoli memang tidak menawarkan bentuk baru dalam penulisan cerpen. Cerpennya sederhana, kurang memiliki tanjakan dramatik, dan terasa datar. Tetapi, yang penting dicatat, ia adalah satu dari sedikit pengarang yang mengetengahkan kehidupan orang-orang dengan latar belakang budaya santri di dalam cerpen-cerpennya.

Ia tentu tidak mengalihkan dengan verbal begitu saja latar belakang kehidupan keagamaan santri itu tetapi dengan intens mengolah problematikanya, terutama dari segi kemanusiaannya. Dengan ini pula ia menjadi penangkis tuduhan banyak pengamat bahwa pengarang Indonesia jarang menghadirkan orang-orang kecil dalam karya-karya mereka.

Tokoh-tokoh Fudoli adalah orang-orang kecil yang tidak memiliki daya di hadapan mesin-mesin raksasa politik, ekonomi, dan kebudayaan, meski ada kritik juga, ia kurang menggarap secara mendalam karakter tokoh-tokohnya. Statusnya sebagai santri tak menghalanginya untuk menggarap orang-orang kecil yang dari segi keagamaan formal selama ini disisihkan dan dihukum kotor seperti para perempuan malam atau orang yang bunuh diri.

Pondok Pesantren Tegal

Selain itu, Fudoli juga merupakan salah seorang cerpenis Indonesia yang mengangkat latar belakang luar negeri ke dalam cerpen-cerpennya. Hal ini tergambar dalam sejumlah cerpen dalam kumpulannya, Potret Manusia, yang semuanya berlatarkan kota Kairo. Dengan teliti dan cermat, serta dengan perspektif kemanusiaannya, ia mengamati kehidupan orang-orang di sekitarnya, mulai tukang cukur, penjual buah, mahasiswa asing, nyonya kaya, polisi, dan lain-lain. Kepedulian dan perhatiannya terhadap lingkungan sekitar sangat jelas, meskipun ia tengah berada di negeri orang.

Akhirnya, penting pula dicatat karakter cerpen-cerpennya yang bersifat religius. Religius di sini, bukanlah suatu penghadiran narasi yang bersifat didaktis dan mengubah karya seni (cerpen) menjadi media penyampaian khotbah agama.

Dengan taktis dan cerdas, ia menggunakan berbagai metafora dan personifikasi, seperti yang cukup dikenal di dalam wacana sufi, untuk memasukkan inspirasi dan aspirasi keagamaan itu secara halus. Ini juga alasan, mengapa penyair dan pengamat sastra Abdul Hadi WM, memuji sejumlah cerpennya sebagai cerpen yang menghadirkan kisah sufistik yang unik dan segar.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa cerpen-cerpennya mengandung sepuluh pandangan sufistik: yaitu jamal-kamal, fana’-baqa’, ru’yah (pandangan terhadap Tuhan), ketidakkekalan dunia, tidak ada kesia-siaan dalam hidup, taubat, wara’, zuhud, tawakkal, dan ridho. Tak heran karena itu, Abdul Hadi WM bahkan menempatkannya sebagai pionir sastrawan yang mengangkat tema-tema sufistik pada tahun 1970an.

?

Sepulang dari Kairo tahun 1986, ia mencurahkan waktunya mengajar filsafat dan sejarah kebudayaan Islam dan di program Pasca Sarjana di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Selain itu, ia juga mengelola pesantren di kota kelahirannya, Sumenep, Madura. Muhammad Fudoli, dalam banyak hal, bisa disebut sebagai inspirator dari maraknya kehadiran para penulis santri belakangan ini. (Hairus Salim HS)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Sholawat, Makam, Quote Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 14 November 2017

Meriahkan Halaqah Ulama ASEAN, Sejumlah Pesantren Buka Stan Pameran

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Gelaran halaqah ulama ASEAN terlihat meriah. Hal itu berkat kontribusi sejumlah pesantren yang memiliki ciri khas dan keunggulan di bidang ekonomi. Perwakilan berbagai pesantren tersebut memamerkan produk-produknya melalui stan yang berjejer rapi di depan arena halaqah yang dihelat di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta.

Meriahkan Halaqah Ulama ASEAN, Sejumlah Pesantren Buka Stan Pameran (Sumber Gambar : Nu Online)
Meriahkan Halaqah Ulama ASEAN, Sejumlah Pesantren Buka Stan Pameran (Sumber Gambar : Nu Online)

Meriahkan Halaqah Ulama ASEAN, Sejumlah Pesantren Buka Stan Pameran

Pesantren tersebut antara lain, Al-Ashriyyah Nurul Iman Bogor Jawa Barat, Al-Amin Tasikmalaya, Ath-Thohariyyah Pandeglang Banten, dan Ar-Risalah Mlangi Yogyakarta. Selain itu, ada juga stan Perpustakaan Sekretariat Balitbang Diklat, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), PT Dafa Teknoagro Mandiri, dan PT Gema Insani Press.

Delegasi pesantren tersebut memamerkan berbagai produk ekonomi pesantren. Misalnya air kemasan, konfeksi, kain batik, sabun mandi, detergent dan aneka macam kebutuhan santri. “Semuanya ini kami produksi sendiri. Dari santri, oleh santri dan untuk santri,” kata Nyai Hj Umi Waheeda.

Pengasuh Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman Bogor ini menambahkan, keterampilan yang dimiliki para santri sengaja ia fasilitasi. Sebab, tidak semua santri nanti bakal jadi ulama. “Dengan berbekal keterampilan, mereka nanti bakal jadi orang sukses,” tandas istri Almaghfurlah Habib Sagaf bin Mahdi ini.

Pondok Pesantren Tegal

Stan Pesantren Al-Ashriyah Nurul Iman dan stan Perpustakaan Sekretariat Balitbang Diklat paling ramai dikunjungi peserta mengingat posisi strategisnya, yakni di depan pintu utama. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin usai membuka halaqah meninjau dua stan tersebut.

“Selain itu, karena kami membagikan buku, majalah, dan jurnal kepada pengunjung. Semuanya gratis,” kata Hariyah, salah satu petugas pameran dari Perpustakaan Balitbang Diklat Kemenag.

Pondok Pesantren Tegal

Di antara pesantren tersebut telah diriset para peneliti Puslitbang Penda beberapa waktu lalu. Menurut Husen Hasan Basri, salah seorang peneliti, pesantren yg diteliti Puslitbang Penda antara lain Sidogiri Pasuruan Jawa Timur, Maslakul Huda Pati Jawa Tengah, Al-Ittifaq Bandung Jawa Barat, Nurul Mursyidah Pandeglang Banten.

“Selain empat pesantren tersebut, kami juga menyusun Buku Top 10 Ekosantri, Pionir Kemandirian Pesantren. Antara lain Darul I’tisham Jeneponto Sulsel, Riyadhul Jannah Mojokerto Jawa Timur, Mahadul Ulum Asy-Syariyyah (MUS) Rembang Jawa Tengah, Al-Ishlah Cirebon Jawa Barat. Sisanya, nanti bisa dicek di buku itu,” kata Husen.

Selain peserta halaqah, peserta dalam acara pembukaan diikuti oleh 200 peserta yang berasal dari lembaga pendidikan Islam, pimpinan pesantren, ustadz, dosen, guru, media massa, dan pemerhati pendidikan Islam. Gelaran halaqah yang diikuti peserta dari 12 negara tersebut dijadwalkan selama tiga hari, Selasa-Kamis, 17-19 Oktober 2017. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Quote Pondok Pesantren Tegal