Jumat, 13 Januari 2017

Nyekar

Tradisi ziarah atau kunjungan ke makam di kalangan masyarakat Muslim Jawa.

Berbeda dengan tradisi ziarah yang ditujukan kepada tokoh-tokoh ulama atau wali yang dianggap keramat, sebagai penghormatan dan upaya mengambil berkah, subjek ziarah dalam nyekar ini umumnya adalah makam leluhur keluarga: kakek-nenek, orang-tua, dan saudara.?

Nyekar (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyekar (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyekar

Nyekar berasal dari kata Jawa sekar yang berarti kembang atau bunga. Dalam praktiknya, memang ziarah ini melibatkan penaburan bunga di atas makam yang dikunjungi. Bahkan sebagian masyarakat ada yang menyertakan dupa dan kemenyan. Tetapi aspek ritual yang terakhir ini, belakangan ini sudah jarang dilakukan, meski tidak berarti hilang sama sekali.?

Pondok Pesantren Tegal

Di dalam nyakar, yang pasti dan umum terjadi, adalah (besik) pembersihan makam dan pembacaan himpunan doa atau bagian dari surat Al-Quran, yang pendek-panjangnya, bervariasi satu sama lain. Ini juga membuat waktu yang dibutuhkan dalam nyekar berbeda-beda: dari yang singkat sekitar belasan menit, hingga hitungan jam, bahkan ada yang seharian penuh.?

Pondok Pesantren Tegal

Jika mereka yang nyekar ini tidak ada yang bisa membaca doa sendiri --umumnya dalam bahasa Arab-- di pemakaman umum biasanya ada juru kunci atau guru agama yang bisa membantu memimpin dan memandu pembacaan ini.?

Nyekar bisa dilakukan kapan pun sepanjang tahun. Misal pada waktu tahun pertama dari anggota keluarga yang meninggal, di mana ikatan-ikatan emosional dengan orang yang telah mendahului itu masih sangat kuat. Nyekar juga biasa dilakukan seseorang menjelang pelaksanaan upacara lingkaran hidup seperti perkawinan, di mana ia menjadi semacam permohonan doa restu.?

Nyekar ke leluhur ini juga umum dilakukan oleh mereka yang ingin memohon doa restu dan kekuatan batin karena menghadapi suatu tugas dan tanggung jawab yang berat, akan bepergian jauh, atau karena ada hajat dan keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang besar sekali. ? ? ? ? ?

Tetapi yang sering, terpenting dan terutama, nyekar dilakukan sekitar seminggu sebelum bulan Ramadan tiba atau setelah lebaran, pada minggu pertama Syawal. Ini bisa dilakukan secara pribadi maupun bersama-sama dengan anggota keluarga lain, baik laki-laki maupun perempuan.?

Tradisi nyekar sebelum Ramadan ini muncul dari keinginan umat Islam untuk memasuki Bulan Suci dengan keadaan bersih dan penuh “kekuatan”. Mereka ingin segala kesalahan dan kekeliruan yang telah dilakukan, baik sengaja maupun tidak sengaja, dimaafkan oleh teman-teman, saudara-saudara, dan seluruh keluarga agar mereka bisa menjalani puasa dengan lancar, tenang, dan tulus.?

Permohonan maaf ini juga mereka tujukan pada anggota keluarga dan leluhur mereka yang sudah meninggal sekaligus untuk meringankan beban anggota-anggota keluarga yang sudah wafat itu.?

Nyekar akan mengingatkan diri mereka bahwa setiap manusia kelak juga akan mengalami kematian.?

Di beberapa tempat, kegiatan nyekar ini didahului dengan semacam slametan kecil yang diisi dengan pembacaan doa, dzikir-tahlil, atau bagian Quran lainnya dan diakhiri dengan makan bersama. Kenduri ini biasa digelar di rumah, langgar, masjid atau di tempat makam itu sendiri. Karena dilakukan pada bulan Sya’ban atau dalam Bahasa Jawa disebut Sadran, maka sebagian kalangan menyebut praktik ini sebagai nyadran. Ruwah juga dipakai oleh orang Jawa untuk menyebut Sya’ban.

Sulit untuk melacak, kapan tradisi nyekar atau nyadran ini muncul. Diyakini bahwa tradisi ini diperkenalkan oleh para wali yang di satu sisi meneruskan tradisi penghormatan kepada roh leluhur di kalangan masyarakat Jawa yang masih menganut ajaran Hindu-Budha saat itu dan di sisi lain menyelaraskan dan membingkainya dengan ajaran Islam.?

Nyekar atau nyadran karena itu bisa dikatakan suatu bentuk dari pribumisasi Islam, akomodasi Islam pada tradisi lokal. Secara teologis, tradisi ini memang masih memiliki hubungan dengan akidah Islam tentang kematian ? bahwa setelah manusia meninggal, rohnya akan meninggalkan jasad dan akan berada di alam barzakh hingga nanti hari kebangkitan atau hari kiamat.?

Sedangkan ziarah kubur juga memiliki dasar-dasarnya di dalam Islam sebagaimana termaktub dalam hadits nabi yang diriwayatkan Muslim, Abu Dawud, dan at-Tarmizi: “Dahulu aku telah melarangmu berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah, karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan akhirat.” (Hairus Salim HS) ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ahlussunnah Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 08 Januari 2017

Tingkatkan Kualitas Kader, IPPNU Demak Gelar Lakut

Demak, Pondok Pesantren Tegal. Pengurus IPPNU Demak di akhir masa kepengurusannya terus menggalakkan kaderisasi serta memaksimalkan kualitas kadernya. Mereka melibatkan pengurus aktifnya yang ada di tingkat kecamatan pada Latihan Kader Utama di aula Masjid Besar Baitul Muttaqin Kauman Mranggen Demak, Jumat-Ahad (29-31/8).

Tingkatkan Kualitas Kader, IPPNU Demak Gelar Lakut (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Kualitas Kader, IPPNU Demak Gelar Lakut (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Kualitas Kader, IPPNU Demak Gelar Lakut

“Kegiatan Lakut ini bertujuan mempersiapkan kader pada kepengurusan mendatang. Dengan materi Lakut ini, mereka diharapkan bisa mandiri dan professional,” ujar Ketua IPPNU Demak Fitriyah di tengah kaderisasi tingkat lanjut ini.

Kaderisasi ini menghadirkan beberapa senior andal dan pengisi pelatihan yang professional. Program seperti ini, kata Fitriyah, merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan di semua tingkatan.

Pondok Pesantren Tegal

“Secara formal kaderisasi berbentuk pelatihan dan kegiatan lain sudah jalan. Hanya pada Lakut ini saya merasa lega karena sudah ada gambaran kader-kader penerus saat konferensi nanti,” jelas Fitriyah.

Dalam pelaksanaan Lakut ini, IPPNU Demak menggandeng antara lain lembaga pendidikan di Demak, Ma’arif NU Demak, dan 14 PAC IPNU-IPPNU sekabupaten Demak. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Ahlussunnah, Hikmah, Hadits Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 07 Januari 2017

Jelang Munas dan Konbes di NTB, NU Jatim Matangkan Konsep

Surabaya, Pondok Pesantren Tegal



Hajatan permusyawaratan tertinggi di bawah Muktamar NU adalah Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama. Bila tidak ada kendala, acara akan dilangsungkan di Nusa Tenggara Barat, November mendatang. PWNU Jatim telah menyiapkan tim khusus untuk membahas sajumlah persoalan yang akan disampaikan di forum tersebut.

Dan untuk mematangkan materi menjelang keberangkatan kontingen tersebut, PWNU Jatim akan mengawali dengan mengadakan Musyawarah Kerja Wilayah atau Muskerwil. ? "Untuk Munas dan Konbes, ketua timnya adalah KH Ali Maschan Moesa," kata KH Anwar Iskandar, Selasa (8/8). Sedangkan untuk materi Muskerwil akan dikawal oleh Akh Muzakki, lanjut Wakil Rais PWNU Jatim tersebut.

Jelang Munas dan Konbes di NTB, NU Jatim Matangkan Konsep (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Munas dan Konbes di NTB, NU Jatim Matangkan Konsep (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Munas dan Konbes di NTB, NU Jatim Matangkan Konsep

Dalam padangan Kiai Anwar Iskandar, sejumlah hal perlu dipersiapkan secara lebih saksama karena forum Munas dan Konbes NU akan membicarakan berbagai persoalan. Sejumlah masukan dan siapa saja yang akan menghadiri dua acara penting tersebut akan melalui seleksi yang cukup ketat.

"Baik yang masuk bidang organisasi, program, bahtsul masail serta rekomendasi," katanya kepada delegasi PCNU se-Jawa Timur yang hadir pada rapat koordinasi di Jalan Masjid al-Akbar Timur 9 Surabaya.

Dalam pandangan Pengasuh Pondok Pesantren al-Amin Ngasinan Kota Kediri tersebut, di antara yang akan disampaikan adalah konsep PWNU Jatim terkait model pemilihan yakni ahlul halli wal aqdi atau Ahwa. "Kita optimalisasikan agar pemilihan dengan model Ahwa tidak hanya untuk kepengurusan syuriah, tapi juga tanfidziyah," jelasnya. Hal tersebut sebagai implementasi amanat AD/ART NU yang menjelaskan bahwa pemegang otoritas tertinggi di jamiyah ini adalah ulama atau kiai, lanjutnya.

Pondok Pesantren Tegal

Untuk pelaksanaan Muskerwil sendiri masih menunggu tim survey. "Tempatnya masih akan diputuskan apakah di Surabaya atau Tuban," ungkapnya.

Agar lebih bisa mengoptimalkan kegiatan permusyawaratan ini, PWNU Jatim sangat berharap peran aktif PCNU se-Jatim untuk memberikan masukan, pikiran, pendapat dan aspirasi yang akan dibahas. "Usulan silakan disampaikan kepada Sekretaris PWNU Jatim, Prof Akh Muzakki selaku koordinator Muskerwil," tandasnya.

Pondok Pesantren Tegal

Rapat koordinasi ini menghadirkan utusan dari PCNU se-Jatim. Tampak hadir dari unsur syuriah PWNU Jatim yakni KH Anwar Manshur, KH Anwar Iskandar, Prof KH Ali Maschan Moesa, Prof KH Shonhaji Shaleh, juga KH Syafrudin Syarif selaku katib. Sedangkan dari tanfidziyah antara lain KH M Hasan Mutawakkil Alallah, KH Sholeh Hayat, juga Prof Akh Muzakki. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Amalan, Kajian, News Pondok Pesantren Tegal

Ada Materi Khilafah pada Soal Akhir Semester MA, Pergunu Jabar Minta Kanwil Kemenag Bubarkan MGMP Fikih

Bandung, Pondok Pesantren Tegal

Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Barat memprotes keras atas masuknya materi khilafah pada soal Penilaian Semester Madrasah Aliyah mata pelajaran Fikih kelas XII tahun pelajaran 2017/2018 di Kanwil Kemenag Jawa Barat.



Ada Materi Khilafah pada Soal Akhir Semester MA, Pergunu Jabar Minta Kanwil Kemenag Bubarkan MGMP Fikih (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Materi Khilafah pada Soal Akhir Semester MA, Pergunu Jabar Minta Kanwil Kemenag Bubarkan MGMP Fikih (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Materi Khilafah pada Soal Akhir Semester MA, Pergunu Jabar Minta Kanwil Kemenag Bubarkan MGMP Fikih



Hal tersebut disampaikan Sekretaris PW Pergunu Jawa Barat H Saepuloh di Kantor PWNU Jawa Barat Jl Terusan Galunggung Nomor 9 Bandung, Rabu, (6/12).



Pondok Pesantren Tegal



“Seharusnya Kanwil Kemenag Jawa Barat membuat tim koreksi, baik itu bahan ajar maupun soal. Tim tersebut harus betul-betul tidak terkontaminasi oleh paham gerakan Islam transnasional, apa itu HTI, Wahabi dan sebagainya,” tuturnya.





Lebih lanjut Saepuloh menjelaskan, materi khilafah sudah masuk di Silabus Pembelajaran mata pelajaran Fikih Kelas XII. Hal ini bisa menjadi masalah serius ketika guru yang mengampu mata pelajaran tersebut pro khilafah.

Pondok Pesantren Tegal





“Materi Khilafah bahkan masuk juga di bahan ajar berupa LKS. Ini bisa saja dijadikan pemupukan idiologi anti-Pancasila dan anti-NKRI oleh guru-guru yang pro khilafah,” lanjutnya.





Oleh karena itu, PW Pergunu Jawa Barat meminta kepada Kanwil Kemenag Jawa Barat untuk memangil dan memberikan sanksi kepada KKM Madrasah Alilyah Jawa Barat; membubarkan MGMP Fikih serta mengaiinya dengan yang baru; memberikan sanksi kepada pembuat soal yang memuat materi khilafah.





Selain itu, PW Pergunu Jawa Barat juga meminta Kanwil Kemenag Jawa Barat merevisi Silabus Pembelajaran dan bahan Ajar yang terindikasi disusupi oleh paham gerakan Islam transnasional dan pahan anti-Pancasilan dan anti-NKRI; dan membentuk Tim Indenpenden untuk mengoreksi bahan ajar dan soal dilingkungan Kemenag Jawa Barat. (Awis Saepuloh/Kendi Setiawan)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nusantara, Sunnah, PonPes Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 03 Januari 2017

Kisah Santri Istighfar dan Dua Burung

Jepara, Pondok Pesantren Tegal. KH Dzikron Abdullah saat mengimbau supaya para santri tetap mendawamkan membaca istighfar. Dawam pada berbagai kondisi, baik dalam keadaan susah, senang, banyak maupun minim rezeki.

Menurut Pengasuh pesantren Addainuriyah Semarang ini kemudian menceritakan sesosok santri yang rajin membaca kalimat meminta ampunan kepada Tuhan tersebut.

Kisah Santri Istighfar dan Dua Burung (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Santri Istighfar dan Dua Burung (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Santri Istighfar dan Dua Burung

Kiai berusia 66 tahun itu menambahkan, santri yang sudah boyong ini sebut saja bernama si fulan. Usai boyong, ia nganggur sementara ia harus menafkahi istri dan tiga anaknya. Tapi ia masih tetap mendawamkan istighfar.

Pondok Pesantren Tegal

Suatu ketika, si fulan berinisiatif membeli burung beo seharga Rp.400.000. Singkat kisah seorang Tionghoa mendengar ocehan burung itu. “Chino kepet. Chino kepet (tidak mandi, red),” terangnya pada ceramah di Haul I KH Ahmad Cholil (Rais Syuriah PCNU Jepara) di desa Bakalan kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara, Jum’at (28/8) sore.

Sontak orang itu berkeinginan ingin membeli burung yang bisa ngoceh itu seharga RP 4.500.000. Maka, untunglah si fulan. Di lain hari, si fulan membeli burung derkuku atau tekukur atau dekukur.

Pondok Pesantren Tegal

Suatu hari, datanglah seorang bos ke musholla yang tak jauh dari kediaman si fulan. “Bos ini punya penyakit imsonia. Tidak bisa tidur. Sudah diobatkan hingga ke luar negeri namun tak kunjung sembuh,” terang Ketua Idaroh Wustho Jatman Provinsi Jawa Tengah menambahkan.

Tiba-tiba saat si bos menunaikan shalat Dluha di musholla, ia mendengar kicauan burung tersebut. “Cekuter kuk. Cekuter kuk.” begitu bunyi kicauan burung milik si fulan.

Anehnya, penyakit imsonia yang sudah diobatkan ke sana ke mari bisa ditaklukkan hanya dengan kicauan burung derkuku. “Setiap si bos mendengar burung manggung cekuter kuk. Cekuter kuk lelaki kaya ini langsung tidur,” tambahnya juga disambut tawa hadirin.

Padahal sebelum-sebelumnya dari jam 9 pagi hingga 9 pagi ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Alhasil, atas berkah kicauan burung seharga Rp.100.000 dibeli oleh si bos dengan Rp.5.000.000 plus si fulan diberangkatkan haji ke tanah suci.

Dengan misal itu Kiai Dzikron mengimbau seluruh hadirin untuk memperbanyak istighfar dalam kondisi apa pun.

Hadir dalam Haul KH Ahmad Bukhori pengasuh Pesantren Al Falah, KH Imam Abi Jamrah Ketua LBM NU Jawa Tengah, KH Kamil Ahmad Rais Syuriah PCNU Jepara, KH Asyhari Syamsuri Ketua PCNU Jepara dan H Ahmad Marzuqi Bupati Jepara. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nahdlatul Pondok Pesantren Tegal

10 Tahun Vakum, IPNU-IPPNU Mojokrapak Bangkit Kembali

Jombang, Pondok Pesantren Tegal. Pengurus Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Putra Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang Kabupaten Jombang? masa khidmat 2014-2015, Rabu (24/6), resmi dilantik.

Hadir dalam kegiatan ini Ketua Pimpinan Cabang (PC) IPNU Jombang Abdul Rosyid, Ketua PC IPPNU Jombang Aliyah, serta Ketua Majelis Wakil Cabang NU Tembelang KH Nur Kholis dan Ketua Pengurus Ranting NU Mojokrapak Abah Sulhadi .

10 Tahun Vakum, IPNU-IPPNU Mojokrapak Bangkit Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)
10 Tahun Vakum, IPNU-IPPNU Mojokrapak Bangkit Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)

10 Tahun Vakum, IPNU-IPPNU Mojokrapak Bangkit Kembali

Abdul Rosyid mengapresiasi kepada IPNU-IPPNU Desa Mojokrapak yang baru berdiri ini, sekitar 10 tahun vakum, ia berharap pengurus yang baru dilantik mampu mengemban amanah sebaik-baiknya dan menjadikan IPNU-IPPNU sebagai wadah berkumpulnya para pelajar NU untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya.

Pondok Pesantren Tegal

"Maju dan tidaknya IPNU-IPPNU ke depan tergantung dari komitmen para pengurus yang baru dilantik. Oleh karena itu, marilah bersama-sama bertekad menjalankan roda organisasi ini dengan ikhlas semata-mata untuk memajukan IPNU-IPPNU, khususnya di Desa Mojokrapak? Kecamatan Tembelang,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Rosyid? meminta agar pengurus IPNU-IPPNU yang baru dilantik menjalin kerja sama yang baik dengan semua lembaga pendidikan. Hal ini untuk mendukung program dari PC IPNU-IPPNU Kabupaten Jombang yang bertekad akan mengembangkan sayap organisasi hingga tingkat komisariat.

Pondok Pesantren Tegal

“Jadikan amanah ini sebagai sebuah kesempatan untuk turut serta memajukan IPNU-IPPNU sehingga mampu bekerja secara maksimal. Koordinasikan dengan cepat tatkala ada kendala dalam menjalankan tugas di organisasi pelajar NU ini,” jelasnya pria yang akrab disapa Gus Rosyid.

Acara pengukuhan tersebut berlangsung meriah dengan penampilan seni hadrah Al Banjari Al Inayah bersama warga setempat. Sebelum pelantikan, ratusan pemuda? tampak khidmat mengikuti lantunan shalawat Nabi Muhammad SAW kitab maulid diba’ dengan iringan hadrah al banjari. (Anwar Muhammad/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tegal, Aswaja Pondok Pesantren Tegal

Senin, 02 Januari 2017

Ramadhan, Bulan Keberkahan, Bulan Muhasabah

Alhamdulillah, Ramadhan, bulan suci yang penuh keberkahan kini telah tiba. Hari-hari yang sebelumnya disibukkan dengan urusan duniawi, kini bisa rehat sejenak. Umat Islam, selama bulan puasa ini menjadi lebih religius dengan memperbanyak ibadah, baik ibadah kepada Allah atau yang berhubungan secara sosial, seperti menolong mereka yang membutuhkan atau meningkatkan silaturrahim.

Tuntutan dan tekanan hidup pada zaman modern ini semakin lama semakin berat. Kompetisi yang semakin ketat menyebabkan tiada masa untuk mengambil jeda. Jika kita lengah, maka pesaing akan mengalahkan. Begitulah hukum yang berlaku saat ini. Manusia sebagai pengelola perusahaan atau institusi, mendapat tekanan yang sangat berat, sekadar untuk bisa bertahan pada posisinya. Ramadhan menjadi kesepakatan bersama untuk menurunkan intensitas kompetisi tersebut guna mengisi ulang ranah batin yang mengalami kekeringan.

Ramadhan, Bulan Keberkahan, Bulan Muhasabah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, Bulan Keberkahan, Bulan Muhasabah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, Bulan Keberkahan, Bulan Muhasabah

Hidup sesungguhnya adalah untuk mencapai tujuan keilahian, untuk mencapai kebahagiaan. Sayangnya, tekanan-tekanan material tersebut menyebabkan esensi yang ingin dicapai terkalahkan oleh sesuatu yang sebenarnya bersifat profan. Puasa, merupakan upaya untuk mengingatkan? kembali akan makna keberadaan kita di dunia yang hanya sebentar saja, tetapi kini disibukkan dengan hal-hal yang sesungguhnya tidak penting.

Berbagai kemudahan hidup akibat perkembangan teknologi ternyata tidak menyebabkan kita semakin mendekatkan diri kepada yang menciptakan semesta. Mari kita melakukan muhasabah, dalam sehari, berapa jam waktu yang kita gunakan untuk bermain-main dengan gawai. Media sosial membuat kita semakin terhubung dengan sesama. Tetapi sesungguhnya kita semakin asing, semakin egois. Dalam berbagai kesempatan, silaturrahmi tatap muka semakin kurang maknanya ketika masing-masing individu sibuk dengan perangkat elektroniknya. Entah untuk sekadar berbincang dengan teman di media sosial atau untuk sekadar mencari hiburan. Manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan sesamanya, sedang menuju era baru dengan pertemanan di dunia maya. Seolah nyata, akrab, tapi sesungguhnya minim komitmen.

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal

Hal yang mengemuka dengan perkembangan media sosial adalah maraknya berita hoaks. Kita tanpa sadar dengan entengnya membagi berita yang belum terverifikasi kebenarannya kepada orang lain. Berita palsu beredar dari grup ke grup lainnya secepat kilat dan menimbulkan kegaduhan masyarakat.? Caci maki dengan entengnya diucapkan kepada siapa saja. Etika sosial sudah menurun jauh dalam dunia baru ini. Seolah-olah kita bisa menumpahkan seluruh kejengkelan tanpa perlu merasa khawatir melanggar norma-norma masyarakat karena belum adanya panduan berperiaku yang baik di dunia maya di mana, mereka yang melanggarnya akan menerima hukuman sosial.

Kita sedang mengalami revolusi dalam cara kita berinteraksi dan berkomunikasi dengan adanya media sosial ini. Di antara sekian banyak manfaat yang kita peroleh, ada banyak tantangan yang harus diselesaikan. Dan banyak di antara kita yang terjebak dalam ruang yang liar itu.

Agama dan nilai-nilai moral dapat memberikan panduan kita dalam berperilaku di mana saja, dengan cara apa saja. Agama mengajarkan kepada kita untuk bersikap santun kepada siapa saja, kapan saja, di mana saja. Di dunia nyata atau di dunia maya. Ramadhan ini, bisa menjadi wahana untuk mengevaluasi diri kita bagaimana perilaku kita, apakah ikut arus hiruk-pikuk ini atau mampu memanfaatkan dengan baik teknologi baru ini untuk kemaslahatan bersama.

Atau, jangan-jangan media sosial semakin menenggelamkan kita dalam jurang informasi yang sebagian besar remeh-temeh. Kita berusaha melupakan lapar dan dahaga dengan menyibukkan diri di depan gawai. Tradisi mengaji, atau berbagai ritual yang dulu marak semakin tergerus oleh teknologi yang menyilaukan ini. Berkat peningkatan keahlian dan teknologi, semuanya kini ditampilkan dengan lebih indah, seolah-oleh tampak lebih religius, tetapi sesungguhnya hanya wujud permukaan saja karena motif sebenarnya bukan untuk mengajak kita mendekatkan kepada yang Maha Esa, tapi sekadar untuk berjualan barang dan jasa atau sekadar untuk pamer.

Ramadhan bulan untuk bermuhasabah, jika dulu tantangannya adalah kesulitan-kesulitan fisik berupa beratnya menahan lapar karena berbagai keterbatasan pangan dan kesederhanaan teknologi. Kini, tantangannya adalah keberlimpahan dan kemudahan-kemudahan tetapi melenakan. Beratnya hidup bisa semakin mendekatkan kita kepada Allah, kemudahan hidup, tanpa kita sadari dapat menjauhkan kita kepada yang Maha Kuasa. Semoga kita dapat melampaui berbagai bentuk ujian itu dengan baik. (Mukafi Niam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Habib, Hikmah, Berita Pondok Pesantren Tegal