Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2018

Menyimak Perempuan Bercelak Tebal

Oleh Abdullah Zuma



Seumur-umur, saya tidak pernah menaiki gedung bertingkat, kata orang mencakar langit. Wasilah seorang teman, saya penah merasakannya. Hingga ke lantai 39 malah. Di lantai tersebut, saya masuk ke salah satu ruangan yang asri dan segar. Di situ terdapat sekelompok orang berkumpul.?

Dan saya kaget, mereka sedang berlatih menulis! Gila, menulis saja, harus di lantai 39, pikir saya.?

Menyimak Perempuan Bercelak Tebal (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyimak Perempuan Bercelak Tebal (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyimak Perempuan Bercelak Tebal

Lalu, saya duduk di kursi, di samping teman saya yang mengajak. Beberapa kursi kosong karena orang yang berlatih itu duduk lesehan. Di deretan kursi tersebut, sejajar dengan saya ada seorang perempuan berambut panjang bergelombang. Wajahnya bermake-up tebal. Kelopak matanya bercelak tebal hitam dengan alis lurus, sementara ujung ujungnya melengkung bukan ke bawah, tapi ke atas. Alis itu semacam tanduk saja.?

Ia berbaju putih dan bercelana jens hitam ketat. Tubuhnya sintal. Sesekali ia menyimak pembicaraan narasumber. Tapi lebih sering memainkan ponselnya. Entah main game, chating, atau hanya memainkan ponsel saja.?

Pondok Pesantren Tegal

Teman saya mendekatinya. Rupanya dia kenal. Keduanya bercakap akrab. Entah apa yang diobrolkan. Saya kemudian menyimpulkan perempuan itu bukan seorang peserta menulis. Mungkin salah seorang teman dari peserta, atau pembicara, panitia, atau entahlah.

Kemudian saya memerhatikan narasumber yang bercerita tulisan Watergate di Amerika. Membahas bagaimana menulis liputan panjang dan detail dan enak dibaca. Peserta berjumlah belasan orang itu tekun menyimak. Sekali dua, muncul pertanyaan. Si narasumber menjelaskan. Diam-diam saya menyimak.

Sewaktu istirahat, seluruh pesarta dan narasumber makan siang. Saya pun ikut. Sesekali ingin mencicipi makanan lantai 39. Ketika sedang menikmati makanan, sengaja saya duduk dekat perempuan bercelak tebal meski tak berani membuka obrolan.?

Pondok Pesantren Tegal

Ia kemudian dihampiri narasumber tadi. Mereka pun bercakap.?

Diam-diam saya menyimak perempuan bercelak tebal dan narasumber. Ternyata yang diobrolin adalah pasangan hidup. Dalam hal ini perempuan bercelak tebal sedang membeberkan ciri-ciri dambaan calon suaminya. Ternyata bukan harta, tahta, atau rupa yang diinginkan, melainkan ras atau warna kulit!

“Gue ingin cowok bule!” ungkapnya.

Narasumber terdiam sebentar. Tapi kemudian bertanya.

“Kenapa ingin bule? Pria lokal juga masih banyak, kayak gue...haha,” godanya.?

“Sama pria lokal, gue nggak nafsu.”

“Ama gue berarti lu nggak nafsu?” tanya narasumber sambil ketawa lagi.?

Perempuan itu tak menanggapinya. Ia malah memperhatikan ponselnya.

“Ya, ya, sudah melakukan upaya apa untuk dapat bule?”

“Ada sih yang udah mau, tapi di negaranya, dia berprofesi sebagai polisi. Gue takut sama polisi, takut disiksa. Males!" tegasnya sambil mengangkat bahu. "Padahal dia sudah mau ikut agama gue,” lanjutnya.

“Terus!”

“Terus ada orang New Zealand. Dia siap menikah, tapi sayang, tidak mau disunat. Dia tidak mau ikut agama gue. Gue nggak mau juga nikah beda agama. Ribet!”

“Hmmm... lesbi aja gimana, hahaha?”

“Wah, itu kan menyimpang dan dilarang sama agama.”

Sampai di situ saya menyimak perempuan bercelak tebal karena si narasumber mengajaknya mengisi perut. Kemudian keduanya makan duduk jauh dari saya. Jadi, tidak tahu cerita selanjutnya.?

Sepanjang perjalanan pulang masih terngiang percakapan perempuan bercelak tebal dengan narasumber. Saya sempat menanyakan asal daerah perempuan bercelak tebal itu kepada teman. Teman saya menyebut satu daerah di Sumatera. Saya mengangguk-angguk. ?

Kemudian, saya dan teman pun terpisah jalan. Tapi perempuan bercelak tebal masih terus bergelayut dalam ingatan. Ketika mendekati kontrakan saya, tak sadar kaki menendang botol air mineral. Saat itu, tiba-tiba ingat istilah “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”.





Penulis lahir di Sukabumi, pernah nyantri di Pondok Pesantren Assalafiyah Nurul Hikmah Parungkuda?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Amalan, Syariah Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Terkait Identitas Karyawan, Sarbumusi: Holcim Jangan Ganggu Keberagaman Buruh

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (DPP K-Sarbumusi NU) meminta manajemen PT Holcim Indonesia menghormati keberagaman kepercayaan buruh sejalan dengan konstitusi yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Presiden DPP K-Sarbumusi NU, Syaiful Bahri Anshori, di Jakarta, Selasa (16/5) menegaskan, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan tegas menjamin keamanan dalam menjalankan kehidupan beragama dalam suatu negara yang bersifat non religus.

"Selain itu negara yang berlandaskan hukum tidak melarang dan mengatur-ngatur hubungan personal kepercayaan dan keberagamaan warga negaranya sendiri," kata dia lagi.?

Terkait Identitas Karyawan, Sarbumusi: Holcim Jangan Ganggu Keberagaman Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)
Terkait Identitas Karyawan, Sarbumusi: Holcim Jangan Ganggu Keberagaman Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)

Terkait Identitas Karyawan, Sarbumusi: Holcim Jangan Ganggu Keberagaman Buruh

Ia melanjutkan, Pasal 29 ayat 1 dan 2 menegaskan, negara berdasarkan atas ketuhanan yang Maha Esa dan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.

"Saudara Cornelius Arianto Wibisono yang mempunyai riwayat berganti agama atas kesadaran dan kehendak sendiri wajib dihormati oleh siapapun dan oleh apapun. Dengan agama dan kepercayaan yang sekarang, tidak boleh dilanggar oleh siapapun termasuk oleh manajemen PT Holcim Indonesia. Ia bebas untuk menjalankan dan melaksanakan kewajiban agamanya," tegas Syaiful didampingi Sekretaris Jenderal Eko Darwanto.

Pondok Pesantren Tegal

DPP K-Sarbumusi NU mengecam keras tindakan Direktur O & HR PT Holcim Indonesia memaksa Arianto untuk menikmati daging hewan yang menurut agama dan kepercayaannya sekarang haram hukumnya.

Hal itu, kata Syaiful menambahkan, menjadi bentuk pelanggaran serius dan pelanggaran HAM yang nyata atas Konstitusi Negara Republik Indonesia sebagai mana tercantum dalam Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

"Yang bersangkutan selaku unsur pimpinan seharusnya tidak melontarkan pernyataan yang menyinggung cara beragama buruh di PT Holcim Indonesia. ? Jangan membuat agama menjadi bagian isu dan persoalan dalam hubungan industrial. Secara keseluruhan, keberagamaan buruh tidak bisa di intervensi oleh manajemen atau pihak manapun," kata dia lagi.

Pondok Pesantren Tegal

Berkaitan dengan hal tersebut, DPP K-Sarbumusi NU menuntut Presiden Direktur PT Holcim Indonesia untuk membuat tim investigasi terhadap Direktur O & HR atas penghinaan dan penistaan yang dilakukan terhadap saudara Cornelius Arianto Wibisono, dan ? bila terbukti melanggar agar diberhentikan dari perusahaan.

"Kami meminta Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia untuk segera menurunkan pengawas terhadap manajemen PT Holcim Indonesia atas pelanggaran SARA dalam hubungan industrial," kata Syaiful lagi.

DPP K-Sarbumusi NU menuntut Presiden Direktur PT Holcim Indonesia agar mengembalikan nama baik dan posisi hubungan industrial saudara Cornelius Arianto Wibisono terkait pelanggaran hubungan industrial dengan dilakukan Pemutusan Hubungan Kerja tanpa Perjanjian Kerja Bersama PT Holcim Indonesia dan prosedur kontitusi peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

"Kami meminta Kepala Kepolisian Republik Indonesia untuk melakukan investigasi dan penyelidikan terkait isu SARA yang dilontarkan Direktur O & HR PT Holcim Indonesia, apa itu ketidaksengajaan atau merupakan kebijakan yang terstruktur," demikian kata Syaiful Bahri Anshori. (Gatot Arifianto/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Amalan, Ulama Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 13 Februari 2018

Tingkatkan Minat Sastra, Pelajar NU Babat Adakan Lomba Menulis Cerpen

Babat, Pondok Pesantren Tegal

Kecintaan dan minat para pelajar Indonesia terhadap karya sastra masih harus di tingkatkan lagi, terlebih pada era globalisasi ini minat sebagian pelajar terhadap cerpen yang bernilai sastra masih kurang. Padahal cerpen mengandung nilai sastra yang berpeluang tinggi untuk diminati bila ketertarikan itu mulai ditumbuhkan.

Tingkatkan Minat Sastra, Pelajar NU Babat Adakan Lomba Menulis Cerpen (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Minat Sastra, Pelajar NU Babat Adakan Lomba Menulis Cerpen (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Minat Sastra, Pelajar NU Babat Adakan Lomba Menulis Cerpen

Maka, untuk mengembangkan minat kreativitas dan ketertarikan para pelajar terhadap karya sastra, Lembaga Pers Pelajar Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Babat, Jawa Timur menggelar lomba menulis cerpen untuk pelajar Indonesia Tingkat SMA/MA dan mahasiswa (umum).

Untuk memancing minat pelajar, Program semester dua pada periode pertama PC IPNU-IPPNU Babat ini diadakan secara gratis tanpa dipungut biaya yang dimulai pada tanggal 1 Mei sampai dengan 15 Oktober 2016.

Pada umumnya, minat para pelajar di karya tulis menyangkut kehidupan sehari-hari mereka, maka kegiatan dengan tema "Cita, Cinta dan Karya untuk Indonesia" yang dilaksanakan ini diharapkan mampu mempengaruhi dan meningkatkan kemampuan pelajar dalam hal menulis.

Pondok Pesantren Tegal

“Kita berharap dengan adanya lomba menulis cerpen ini, pelajar Indonesia dapat mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka melalui karya sastra,” ucap Putri, Wakil Ketua IPPNU Bidang L-Pers PC IPPNU Babat.

Koordinator Lembaga Pers PC IPNU Babat Hendrik Wahyudin menambahkan, dengan adanya program ini, niscaya pelajar Indonesia dapat menggali potensi serta dapat mempertahankan sastra Indonesia.

Program yang dilaksanakan jangka panjang ini juga melibatkan 189 sekolah dan madrasah tingkat SLTA di bawah naungan PC Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama Babat. (Anisah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Amalan, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

LSPT Sediakan Layanan Kesehatan Gratis Peziarah Makam Gus Dur

Jombang, Pondok Pesantren Tegal. Pesantren Tebuireng menyediakan layanan kesehatan gratis bagi para peziarah wisata religi makam Gus Dur. Layanan kesehatan itu disediakan Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) bagi mereka yang mengalami gangguan kesehatan saat berkunjung.

LSPT Sediakan Layanan Kesehatan Gratis Peziarah Makam Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
LSPT Sediakan Layanan Kesehatan Gratis Peziarah Makam Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

LSPT Sediakan Layanan Kesehatan Gratis Peziarah Makam Gus Dur

Pusat layanan kesehatan gratis bagi peziarah ini berada tidak jauh dari areal makam Gus Dur, berjarak sekitar 50 meter, yakni berada di lorong pintu masuk menuju makam.? Dilengkapi dua petugas medis kamar berukuran 2,5 meter x 4 meter itu juga dilengkapi tabung oksigen dan tempat tidur. "Dua petugas berjaga sejak pukul 08.00 hingga pukul 15. 00 WIB. Layanan ini paling tidak bisa membantu mereka yang kelelahan saat perjalan," ujar Ani Iswandari, salah satu petugas medis, ditemui usai memeriksa pasien, Kamis (25/12) siang.

Dikatakannya, dalam sehari tidak kurang 30 hingga 40 peziarah yang memanfaatkan layanan kesehatan gratis tersebut. Bahkan dalam tiga hari terakhir layanan kesehatan menerima pasien peziarah hingga 60 orang. "Ada yang sempat pingsan dan ada juga yang hanya cek up karena lemas disebabkan makanan yang dikonsumsi saat perjalanan," bebernya.

Pondok Pesantren Tegal

Disamping melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan peziarah, LSPT juga memberikan obat gratis dan juga air mineral untuk mengembalikan stamina. "Jika kondisinya cukup parah, kita juga menyiapkan ambulan untuk mengantarkan peziarah dirujuk ke rumah sakit terdekat," imbuh perempuan berjilbab ini.

Pondok Pesantren Tegal

Sekadar diketahui, saat liburan sekolah makam mantan Ketua PBNU, Gus Dur semakin dipadati peziarah. Mereka datang dari berbagai daerah di Pulau Jawa bahkan juga Lombok NTB. "Ada yang rombongan 10 bus, ada yang 5 dan juga ada yang hanya sekeluarga," terang Hasan salah satu penjaga kawasan makam Gus Dur mengungkapkan. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ahlussunnah, Amalan, Pesantren Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

Inilah Perwira TNI Didikan Hizbullah

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Para kiai dan santri terlibat di lapangan dalam membela tanah air yang akan diserang kembali oleh Belanda para perang kemerdekaan. Setelah perang usai, sebagian besar kelompok santri kembali ke pesantren untuk mengajar agama, tetapi ada beberapa yang akhirnya tetap aktif dalam dunia militer.?

Berikut nama-nama perwira TNI yang merupakan hasil didikan Hizbullah, salah satu kelompok pasukan perlawanan yang berasal dari kelompok santri seperti disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PBNU H Slamet Effendy Yusuf.?

Inilah Perwira TNI Didikan Hizbullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Perwira TNI Didikan Hizbullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Perwira TNI Didikan Hizbullah

1. Mayor KH. Mustofa Kamil-Banten?

2. Mayor KH. Mawardi-Surakarta?

Pondok Pesantren Tegal

3. Mayor KH. Zarkasi- Ponorogo?

4. Mayor KH. Mursyid-Pacitan?

5. Mayor KH. Sahid-Kediri?

6. Mayor KH. Abdul Halim-Majalengka?

7. Mayor KH. Thohir Dasuki-Surakarta?

Pondok Pesantren Tegal

8. Mayor KH. Rajiun-Jakarta?

9. Mayor KH. Munasir Ali-Mojokerto?

10. Mayor KH. Wahib Wahab-Jombang?

11. Mayor KH. Hasyim Latif-Surabaya?

12. Mayor KH. Zainuddin-Besuki?

13. Mayor KH. Zein Thovib-Kediri?

Selain yang berasal dari Hizbullah, terdapat beberapa perwira TNI berlatar belakang santri ex-PETA. Berikut nama-namanya.?

1. Brigjen KH. Sulam Syamsun?

2. Brigjen KH. Zein Toyib?

3. Brigjen KH. M. Rowi?

4. Brigjen KH Abdul Manan Wijaya?

5. Brigjen KH Iskandar Sulaiman?

6. Brigjen KH. Abdullah Abbas?

Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Hadits, Pendidikan, Amalan Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Putri Kiai Wahab Chasbullah Berharap Santri Terus Jaga NKRI

Jombang, Pondok Pesantren Tegal?

Jelang perhelatan Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober, banyak harapan besar ditujukan kepada santri datang dari berbagai kalangan.

Putri Kiai Wahab Chasbullah Berharap Santri Terus Jaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Putri Kiai Wahab Chasbullah Berharap Santri Terus Jaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Putri Kiai Wahab Chasbullah Berharap Santri Terus Jaga NKRI

Salah satunya, seperti yang diutarakan Wakil Bupati Jombang, Hj Mundjidah Wahab. Ia berharap segenap santri di tanah air tetap dapat menjadi bagian penting dalam menjaga keutuhan Negara Republik Indonesia (NKRI).?

Sebagaimana sejarah mencatat, paparnya, pembentukan Negara Indonesia tidak lepas dari kontribusi santri.

"Pesantren dan santri harus menjadi inspirator dalam menjaga keutuhan NKRI ini," katanya pekan lalu.

Pondok Pesantren Tegal

Perempuan yang juga Ketua PC Muslimat NU Jombang ini menyatakan, gerakan radikal menjadi ancaman nyata bagi keutuhan NKRI. Pada kondisi ini, imbuh Bu Mun, sapaan akrabnya, kontribusi santri sangat diperlukan.

"Pesantren dan santri harus mampu mempelopori gerakan anti radikalisme," imbuh putri almaghfurlah KH Wahab Chasbullah, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini.

Tak hanya itu, santri menurutnya juga harus menjadi garda terdepan dalam melahirkan gernerasi masa depan yang profesional dan berakhlakul karimah. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Amalan, Cerita Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Liga Santri Nusantara Diminta Jadi Ajang Silaturrahmi Pesantren

Pacitan, Pondok Pesantren Tegal. Sebagai bukti kesungguhan dan kesiapan untuk menghelat gelaran Liga Santri Nusantara (LSN) tahun 2016, Panitia LSN region Jawa Timur 1 yang meliputi Madiun, Magetan, Ngawi, Ponorogo, Pacitan, dan Trenggalek melakukan silaturrahmi dengan penasehat Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyah (Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama) KH Luqman Harits Dimyathi di kediamanya Pesantren Tremas Pacitan Jawa Timur, Ahad (22/5).

“Silaturrahmi ini dalam rangka meminta arahan dan dukungan dari penasehat PP RMI agar liga santri nusantara nanti dapat berjalan dengan sukses,” ungkap Gus Mustofa, Koordinator LSN Region Jatim 1 didampigi Ketua Pelaksana Gus Anam kepada Pondok Pesantren Tegal.?

Liga Santri Nusantara Diminta Jadi Ajang Silaturrahmi Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Liga Santri Nusantara Diminta Jadi Ajang Silaturrahmi Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Liga Santri Nusantara Diminta Jadi Ajang Silaturrahmi Pesantren

Usai Silaturrahmi, Gus Mustofa menjelaskan bahwa maksud kedatangan mereka untuk meminta arahan dan dukungan terkait pelaksanaan Liga Santri Nusantara (LSN). Kiai Luqman mendukung penuh perhelatan Liga santri nusantara sebagai ajang silaturrahmi para santri pondok pesantren. Melalui LSN, tiap pesantren didorong untuk terus memaksimalkan bakat dan kualitas para santrinya dalam bidang sepak bola sehingga mampu bersaing dengan tim-tim sepakbola lainya.

Gus Mustofa menambahkan, Liga Santri Nusantara usia-18 region Jatim 1 akan diikuti 32 Team dari Pondok Pesantren se Karesidenan Madiun. Pendaftaran peserta LSN resmi dibuka mulai Selasa, 24 Mei 2016. Pesantren yang hendak mengikuti LSN terlebih dahulu harus mendapatkan rekomendasi dari Pengurus Cabang (PC) RMI NU di tiap kabupaten.?

“Panitia LSN ? akan melakukan screaning ketat terkait pemain sesuai regulasi yang diatur oleh penyelenggara LSN,” imbuh pengasuh Pesantren Poncol, Magetan Jawa Timur itu.

Pondok Pesantren Tegal

Panitia berkomitmen akan menyelenggarakan pertandingan sepak bola dengan baik. Sehingga kedepan, akan muncul pesepakbola profesional dari kalangan pesantren yang dapat bersaing di tingkat nasional.

“Kami berharap di region Jatim 1 nanti akan muncul team yang kuat secara kualitas agar mampu menjuarai LSN 2016 serta menjadi pemasok pemain bagi Timnas U 19 Indonesia,” pungkasnya

Sementara usai bersilaturrahmi ke Pesantren Tremas Pacitan, Panitia LSN juga melakukan silaturrahmi dengan ketua PC RMI Kabupaten Madiun, KH Ahmad Mizan Basyari ? di Pesantren Subulul Huda Kembangsawit Madiun.

Seperti diketahui Liga Santri Nusantara tahun ini dioperatori oleh PP RMI NU sebagai pelaksana tugas dari PBNU. LSN akan diikuti oleh 1024 team dari pesantren seluruh Indonesia. Kompetisi ini akan dibagi dalam beberapa zona yang meliputi Aceh, Medan-Riau, Kepri-Jambi, Bengkulu-Sumatra Barat, Lampung-Sumsel-Palembang, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalsel-Kalteng-Kalbar, Bali-Lombok-NTT, Sulsel-Sulbar, Gorontalo-Sulteng, Maluku dan Papua. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Amalan, Ubudiyah, Pertandingan Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Ketika Imam Ahmad bin Hanbal Menolak Jawab Pertanyaan

Dalam kitab Shifat al-Shafwah, Imam Abu al-Farj Ibnu Jauzi (510-597 H) mengisahkan penolakan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahu Allah untuk menjawab pertanyaan seputar wara’. Diceritakan:

Ketika Imam Ahmad bin Hanbal Menolak Jawab Pertanyaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Imam Ahmad bin Hanbal Menolak Jawab Pertanyaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Imam Ahmad bin Hanbal Menolak Jawab Pertanyaan

? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ?! ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ?, ? ? ? ? ?.

Pondok Pesantren Tegal

Diriwayatkan dari Ahmad bin Abdullah bin Khalid, dia berkata: “Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang masalah wara’.”

Pondok Pesantren Tegal

Ia menjawab: “Aku memohon ampun kepada Allah. Tidak halal bagiku untuk berbicara tentang masalah wara’, karena aku memakan hasil bumi Baghdad. Tapi, jika kau hendak mengetahuinya, Bisyr bin Harits adalah orang yang pantas menjawab pertanyaanmu. Dia tidak memakan hasil bumi Baghdad dan tidak memakan makanan yang tidak jelas. Dia pantas untuk berbicara tentang masalah wara’.” (Jamaluddin Abu al-Farj bin Jauzi, Shifat al-Shafwah, Beirut: Darul Kutub al-‘Arabi, 2012,hlm 429).

****

Ulama-ulama kita di zaman dulu sangat berhati-hati dalam menjawab pertanyaan. Mereka tidak akan menjawab pertanyaan dengan sembarangan. Apalagi jika pertanyaannya seputar praktik ibadah seperti zuhud, wara, tawakkal dan lain sebagainya. Imam Ahman bin Hanbal, dalam kisah di atas, merasa tidak memiliki kualifikasi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dengan alasan, ia masih memakan hasil panen Baghdad, yang cara pengolahan, pendistribusian dan penjualannya tidak diketahui secara jelas:  apakah dalam salah satu prosesnya terdapat perbuatan yang dilarang atau tidak.

Satu-satunya orang yang ia yakini kewaraannya adalah Bisyri bin Harits al-Hafi (767-850 M). Disebut al-Hafi karena Imam Bisyri tidak pernah mengenakan sandal, selalu bertelanjang kaki kemana pun ia pergi.Imam Ahmad bin Hanbal tidak pernah melihat Imam Bisyri memakan makanan yang tidak jelas asal-usulnya. Hidupnya dipasrahkan semuanya kepada Allah dan melayani orang-orang di sekitarnya.Ia hanya makan untuk memenuhi hak tubuh atas dirinya. Sekali waktu Imam Bisyri pernah mengatakan:

? ? ? ? ? ? ?

“Sesungguhnya lapar itu dapat menjernihkan hati dan mendatangkan pengetahuan yang halus.” (Jamaluddin Abu al-Farj ibnu Jauzi, 2012, hlm 429).

(Baca juga: Bisyr al-Hafi, Waliyullah Berjiwa Sosial yang Mantan Berandal)

Untuk memahami perkataan Imam Bisyri di atas, kita harus menggunakan sudut pandang pengetahuan. Lapar akan dimaknai secara berbeda oleh orang yang berbeda. Tapi, yang paling berpengaruh dalam pemaknaannya adalah latar belakang pengetahuannya. Orang yang berilmu dapat menjadikan lapar sebagai motivasi untuk sukses. Orang yang tidak berilmukurang mampu mendapatkan manfaat dari kelaparannya, bahkan tidak sedikit yang memilih mencuri untuk mengatasi kelaparannya.

Lain lagi dengan orang berilmu yang terus-menerus melatih hatinya agar bersih dari cela, seperti Imam Bisyri al-Hafi. Setiap kali lapar, ia mendapatkan pengetahuan baru. Bagi Imam Bisyri, kelaparan adalah guru. Darinya, ia belajar bersabar, bertawakkal, bersyukur dan lain sebagainya. Gambarannya seperti ini,tanpa lapar, mampukah kita merasakan kenikmatan kenyang; tanpa lapar, akankah kesabaran kita terlatih secara alami, dan seterusnya. Orang yang mampu bertafakkur di saat lapar, dan mengambil hikmah darinya, tentulah bukan orang sembarangan.

Imam Ahmad bin Hanbal tahu betul akan kewaraan Imam Bisyri. Karena itu,Ia berpendapatorang yang pantas berbicara tentang wara’ adalah Bisyri al-Hafi, bukan dirinya. Hal ini yang telah hilang dalam kultur beragama kita. Sekarang ini, semua orang berusaha menjawab pertanyaan, tanpa memandang kelayakan diri. Akibatnya, banyak fatwa keagamaan yang tidak sesuai dengan hukum aslinya.Hal ini diperparah oleh penggunaan fatwa-fatwa itu untuk mengadili pendapat lainnya, yang bisa jadi pendapat lain itu lebih benar. Melihat fenomena ini, kita harus kembali pada jalan yang dilalui ulama-ulama kita di masa lalu, “falyaqul khairan aw li yasmut—ucapankanlah kebaikan, jika tidak lebih baik diam.”

Tindakan menarik juga pernah dilakukan Imam Hasan al-Bashri (642-728 M). Suatu ketika sekelompok budak di Kufah menghampirinya dan meminta Imam Hasan al-Bashri untuk memberi khutbah tentang keutamaan membebaskan budak.Imam Hasan al-Bashri mengiyakan dan berjanji akan menyampaikannya di depan jamaah. Di Jum’at pertama, para budak menunggu di masjid untuk mendengarkan khutbah Imam Hasan al-Bashri, tapi dia tidak mengucapkan sedikit pun tentang keutamaan membebaskan budak.

“Mungkin Imam Hasan lupa,” kata budak itu satu sama lainnya.

Di Jum’at kedua, Imam Hasan al-Bashri tetap tidak mengungkit tentang keutamaan membebaskan budak. Begitu seterusnya hingga Jum’at keempat. Para budak sangat kecewa dengan Hasan al-Bashri. Mereka memandang Imam Hasan sebagai pembohong dan orang yang tidak menepati janji. Di Jum’at kelima, Imam Hasan al-Bashri mengatakan bahwa salah satu misi Islam adalah membebaskan perbudakan, baik yang berasal dari tawanan perang maupun dari hasil jual beli. Orang-orang yang mendengar khutbahnya, ketika selesai shalat Jum’at, mereka berlomba-lomba membebaskan budaknya. Hari itu bisa dikatakan sebagai pembebasan budak masal di Kufah.

Para budak yang telah kecewa, terkejut dengan khutbah Imam Hasan al-Bashri. Mereka berduyun-duyun mendatangi Imam Hasan al-Bashri dan bertanya,“kenapa baru sekarang, tidak dari awal saja?” Imam Hasan al-Bashri menjawab:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Ketika kalian mengatakannya padaku (aku telah setuju), tapi aku tidak memiliki budak. Aku tidak ingin memerintahkan kebaikan pada masyarakatatas sesuatu yang belum aku lakukan. Karena aku miskin, aku harus mengumpulkan harta untuk membeli budak. Lalu kubiarkan dia melayaniku beberapa hari untuk merasakan sejauh mana kebutuhanku padanya (memiliki budak). Ketika aku yakin dalam hatiku betapa besar aku membutuhkannya, aku membebaskannya dan menyampaikan khutbah ini.” (Ahmad Muhammad ‘Athiyat, al-Iqna’, ‘Amman: Amwaj, 2012, hlm 22).

Fatwa atau nasihat agama tentu akan diterima dengan berbeda oleh pendengarnya jika yang memberi fatwa dan nasihat benar-benar telah melakukannya, seperti kasus Imam Hasan al-Bashri di atas. Setelah mendengar ceramahnya, orang-orang berlomba-lomba untuk membebaskan budak.Itulah cara ulama kita di masa lalu. Mereka sangat berhati-hati dalam mengeluarkan fatwa keagamaan, meskipun pengetahuan agama mereka sangat tinggi dan diakui oleh banyak ulama yang semasa atau setelahnya. 

Semoga kita bisa melestarikan tradisi mereka dan terlepas dari berbagai fitnah zaman. Allahumma sallimna min fitnah hadzihiz zaman. Amin.

Muhammad Afiq Zahara, pernah nyantri di Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Amalan Pondok Pesantren Tegal

Panduan Lengkap Qunut Nazilah

Di antara kesunahan shalat shubuh ialah membaca doa qunut pada raka’at terakhir. Mayoritas ulama mengatakan, qunut tidak hanya disunahkan pada shalat subuh, tetapi juga dianjurkan membacanya saat shalat witir di separuh akhir Ramadhan. Tidak hanya itu, qunut juga disunahkan ketika ditimpa musibah, meskipun kita tidak berada langsung di lokasi kejadian.

Dalam Taqriratus Sadidah fi Masa‘il Mufidah dijelaskan:

Panduan Lengkap Qunut Nazilah (Sumber Gambar : Nu Online)
Panduan Lengkap Qunut Nazilah (Sumber Gambar : Nu Online)

Panduan Lengkap Qunut Nazilah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Tegal

Artinya, “Qunut nazilah disunahkan di seluruh shalat fardhu ketika umat Islam ditimpa musibah di manapun berada dan tidak disyaratkan mesti berada di lokasi kejadian.”

Tidak seperti qunut shubuh, qunut nazilah dibolehkan melafalkannya di seluruh shalat fardhu. Qunut nazilah biasanya dibaca pada raka’at terakhir setelah ruku’. Kebolehan qunut nazilah pada shalat lima waktu ini ditegaskan oleh Imam An-Nawawi dalam Syarah Al-Muhadzdzab.

Pondok Pesantren Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Nabi SAW membaca qunut selain shalat shubuh ketika ditimpa musibah, yaitu terbunuhnya para sahabat al-qurra.’”

Pendapat Imam Nawawi ini diperkuat oleh hadits riwayat Bukhari-Muslim bahwa Rasulullah membaca qunut selama satu bulan ketika beberapa orang sahabat dibunuh. Terkait bacaan yang dibaca saat qunut nazilah, Syekh Nawawi Al-Bantani berpendapat tidak ada redaksi spesifik qunut nazilah. Setiap lafal yang mengandung doa boleh dibaca pada saat qunut nazilah dan doanya disesuaikan dengan konteks musibah yang dialami.

Syekh Nawawi dalam Kasyifatus Saja mengatakan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?........... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Qunut adalah zikir tertentu yang mengandung doa dan pujian. Qunut dibolehkan dengan membaca lafal apapun selama mengandung doa dan pujian... Para ulama juga tidak menentukan lafal qunut nazilah yang spesifik. Ini menunjukan bahwa lafal qunut nazilah bahwa ia seperti halnya qunut subuh. Tetapi, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa doa qunut yang dibaca disesuaikan dengan musibah yang terjadi. Ini lebih baik sebagaimana dikatakan Al-Bajuri.”

Kebanyakan masyarakat Indonesia membaca qunut nazilah seperti halnya doa qunut shubuh, tetapi setelah itu ditambahkan dengan doa lain yang berkaitan dengan musibah yang ditimpa oleh umat Islam. Tentunya doa itu dilafalkan dalam bahasa Arab.

Pada saat qunut nazilah, kita disunahkan juga mengangkat kedua tangan, sebagaimana dijelaskan Imam Nawawi dalam Al-Majmu. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Internasional, Amalan Pondok Pesantren Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Sebutan Haji itu Pengingat, Bukan Gelar Kebanggaan

Brebes, Pondok Pesantren Tegal. Sepulang menunaikan ibadah haji seseorang mestinya mendapatkan lebih dari sekadar panggilan “Pak Haji” atau Bu Hajjah. Yang lebih utama, proses perjalanan tersebut harus menjadi madrasah atau pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari sepulang dari Tanah Suci.

Sebutan Haji itu Pengingat, Bukan Gelar Kebanggaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebutan Haji itu Pengingat, Bukan Gelar Kebanggaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebutan Haji itu Pengingat, Bukan Gelar Kebanggaan

Hal tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikmah 1 Benda, Sirampog Brebes KH Labib Sodik Suhemi saat mengisi Silaturahmi Jamaah Haji Kabupaten Brebes, di Pendopo Bupati Brebes, Rabu (4/11).

Menurutnya, keindahan yang sudah terbangun di Mekah maupun Madinah dalam menjalankan aktivitas beribadah, hendaknya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga kemabruran haji.

Pondok Pesantren Tegal

“Ketika kita beribadah di Tanah Suci, kita saling tolong-menolong, saling memberi bahkan barang bukan miliknya tidak berani untuk mengambilnya,” ungkap Kiai Labib.

Gelar haji yang diletakan di depan muka nama, sambungnya, sebetulnya adalah pengingat bahwa sang penyandang gelar seorang haji, sehingga bisa mengerem melakukan perbuatan maksiat. “Waduh, aku sudah haji. Masa mau mencuri? Aku sudah haji masa mau korupsi? Demikian mengiang terus dalam kondisi apapun dan di manapun selalu dikoreksi perbuatan yang menyimpang,” kata Kiai Labib.

Pondok Pesantren Tegal

Menyandang gelar Haji atau Hajjah bukan bermaksud untuk membanggakan diri, tetapi bisa menjadi pengendali dari segala macam perbuatan maksiat di muka bumi. Dan ibadah haji juga merupakan suatu mukjizat bagi rakyat Indonesia, karena amat sangat sulit dalam meraihnya dan itu semua karena kehendak Allah SWT dan di luar batas kemampuan manusia itu sendiri. “Jagalah gelar haji dalam artian yang luas, bila ingin menjadi haji yang mabrur dan mabrurah,” pungkasnya.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE dalam kesempatan tersebut meminta kepada jamaah haji Kabupaten Brebes yang belum genap 40 hari pulang dari Tanah Suci, untuk mendoakan Kabupaten Brebes. Sehingga Brebes tetap dalam keadaan kondusif, tentram, damai dan maju. Idza yakin, lewat doa para jamaah haji doanya bisa terkabulkan apalagi belum genap 40 hari. “Termasuk belum meratanya curah hujan di Brebes. Saya minta kepada para jamaah haji agar mendoakan pula supaya Brebes diguyur hujan yang membawa rahmat dan nikmat,” pintanya.

Acara silaturahmi digelar untuk menyatukan kembali semangat kebersamaan dengan seluruh jamaah haji tahun 2014. Dan kepada seluruh jamaah untuk bergabung dalam Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kabupaten Brebes guna melestarikan nilai-nilai kemabruran haji.

Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah Kantor Kementerian Agama Kab Brebes H Syauqi Wijaya menjelaskan, merasa berterima kasih kepada Pemkab Brebes karena telah memberikan bantuan biaya tanggungan calon jamaah haji Brebes di luar komponen biaya penyelenggaraan ibadah haji. Bantuan tersebut sangat membantu meringankan para jamaah dalam menunaikan perjalanan haji.

Jamaah haji Kabupaten Brebes tahun 2015, lanjutnya, berjumlah 983 orang. Secara umum jamaah haji Kabupaten Brebes tidak mengalami kendala yang berarti dan terhindar dari musibah mina dan crane. Makanya patut bersyukur dank arena telah terjalin kerja sama yang apik seluruh pihak termasuk kepatuhan para jamaah.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Ketua IPHI Kab Brebes H Athoillah SE MSi, Imam Besar Masjid Agung Brebes KH Rosyidi, Para Kepala SKPD, dan undangan lainnya. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Amalan, Doa Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan

Oleh Fathoni Ahmad

Selama ini RA Kartini dikenal sebagai seorang bangsawan Jawa sekaligus priyayi, cara mudah bagi orang yang pertama kali medengar namanya cukup dengan membaca gelarnya, Raden Adjeng (RA). Raden Adjeng Kartini adalah putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kiai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.

Secara spesifik, tulisan ini tidak bermaksud membahas geneologi atau silsilah Kartini, tetapi bagaimana pemikiran revolusionernya tumbuh di tengah tradisi paternalisitik yang kental di lingkungan keluarganya. Tidak bisa dipungkiri, kuatnya paternalisitk inilah yang membuat Kartini selalu mencari jawaban dari anomali yang terjadi. Mengapa peran perempuan seolah hanya menjadi pelengkap kehidupan laki-laki? Tentang jawaban pertanyaan ini, Kartini sudah membuktikan diri dan memberi inspirasi bagi para perempuan untuk berperan sesuai dengan kemampuannya di tengah masyarakat dengan tidak menanggalkan perannya sebagai ibu di rumah tangga dan sebagai perempuan sesuai fitrahnya.

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan

Masuk ke topik inti bahwa selain bangsawan Jawa, Kartini ? juga seorang santri. Dia nyantri dan belajar agama kepada Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang, Jawa Tengah ? yang juga dikenal dengan Mbah Sholeh Darat. Sebelum melakukan perjuangan kemerdekaan peran perempuan, pola pikir Kartini terbentuk ketika belajar ngaji kepada Kiai Sholeh Darat. Sebelumnya, kegelisahan demi kegelisahannya muncul ketika fakta yang ada masyarakat hanya bisa membaca Al-Qur’an tetapi tidak diperbolehkan memahami artinya pada zaman itu.

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis:

Pondok Pesantren Tegal

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?





Pondok Pesantren Tegal

Al-Qur’an terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al-Qur’an tapi tidak memahami apa yang dibaca.





Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.





Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

RA Kartini melanjutkan kegelisahannya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim kepada Ny Abendanon.

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Qur’an, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.





Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini terlalu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.

Sampai akhirnya Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh Darat untuk belajar ngaji dan menanyakan berbagai hal yang menjadi kegelisahannya selama ini terkait dengan tidak diperbolehkannya masyarakat memahami isi dan makna Al-Qur’an. Fakta sejarah yang ada, ternyata kebijakan ini datang dari para penjajah dengan asumsi jika masyarakat memahami Al-Qur’an, maka jiwa merdeka akan tumbuh. Tentu hal ini akan mengancam eksistensi kolonial itu sendiri. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa tidak banyak ulama saat itu yang menerjemahkan Al-Qur’an, bukan tidak mau dan tidak mampu, tetapi harus berhati-hati dengan kebijakan Belanda itu.

Fakta sejarah pertemuan antara RA Kartini dengan Kiai Sholeh Darat memang tidak diceritakan Kartini di setiap catatan surat-suratnya. Hal ini tidak lebih karena Kartini sendiri mengkhawatirkan keselamatan Mbah Sholeh Darat karena tidak tertutup kemungkinan kaum kolonial akan mengetahuinya.

Mbah Sholeh Darat sendiri dalam pengajian yang diberikannya kepada Kartini menjelaskan tentang tafsir surat Al-Fatihah. Hal ini seperti yang diceritakan oleh cucu Mbah Sholeh Darat, Nyai Hj Fadhilah Sholeh. Dalam ceritanya, Nyai Fadhilah mengisahkan:

Takdir mempertemukan Kartini dengan Kiai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.





Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat.





Kiai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kiai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang kiai.





Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.





Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kiai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kiai Sholeh.





“Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.





Kiai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Adjeng bertanya demikian?” Kiai Sholeh balik bertanya.





“Kiai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al-Fatihah, surat pertama dan induk Al-Qur’an. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.





Kiai Sholeh kembali tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan, “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al-Qur’an adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Nyai Fadhila menulis Kiai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali berucap “Subhanallah”. Kartini telah menggugah kesadaran Kiai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa.

Dari riwayat di atas, Kartini menemukan cahaya yang menerangi berbagai kegelapan pengetahuan dan ilmu yang selama ini melingkupinya dengan ngaji kepada Mbah Sholeh Darat. Inspirasi inilah yang membuat Kartini memberi judul buku yang berisi surat-suratnya dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Secara historis, dalam pertemuan itu RA Kartini meminta agar Al-Qur’an diterjemahkan. Karena menurutnya, tidak ada gunanya membaca kitab suci tapi tidak memahami artinya. Namun pada saat itu pula penjajah Belanda secara resmi melarang penerjemahan Al-Qur’an. Mbah Sholeh Darat tetap melakukan penerjemahan, Beliau menerjemahkan Al-Qur’an dengan ditulis dalam huruf “Arab gundul” (pegon) sehingga tidak dicurigai dan dipahami penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada RA Kartini pada saat dia menikah dengan RM Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang. ? Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ? ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kiai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa ? yang saya pahami.”

(Inilah dasar dari buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang ditulis RA Kartini, bukan dari sekumpulan surat-menyurat beliau. Dalam hal ini, substansi sejarah Kartini konon telah disimpangkan secara siginifikan). Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu:

“Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257).

Dalam sejumlah suratnya kepada Abendanon, Kartini banyak mengulang kata “dari gelap menuju cahaya” yang ditulisnya dalam bahasa Belanda, Door Duisternis Toot Licht. Oleh Armijn Pane, ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya.?

Surat yang diterjemahkan Kiai Sholeh adalah Al-Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidhur-Rohman ini tidak selesai karena Mbah Kiai Sholeh Darat keburu wafat.

Dari perjumpaannya dengan Mbah Sholeh Darat itu, Kartini juga banyak memahami kehidupan masyarakat yang selama ini terkungkung penjajahan sehingga banyak memunculkan sikap inferioritas terutama di kalangan perempuan. Keterbukaan pandangan dan pemikiran Kartini dari hasil kawruh (belajar) kepada Mbah Sholeh Darat inilah yang membuat langkahnya semakin mantap untuk mengubah tatanan sosial kaum perempuan dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Selamat Hari Kartini!

Penulis adalah Redaktur Pondok Pesantren Tegal.

*) Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Sunnah, Amalan Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

Puluhan Ribu Jamaah Dzikir di Masjid Agung Solo

Solo, Pondok Pesantren Tegal 

Puluhan ribu jamaah memenuhi Masjid Agung Solo. Mereka mengikuti dzikir dan tablig akbar bertajuk "20 ribu yasin untuk hajat Anda menuju Solo Kota Santri" bersama Habib Noval bin Muhammad Alaydrus pada Ahad (13/10).

Puluhan Ribu Jamaah Dzikir di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Ribu Jamaah Dzikir di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Ribu Jamaah Dzikir di Masjid Agung Solo

Berdasarkan pengamatan Pondok Pesantren Tegal, mayoritas jamaah yang hadir berpakian putih. Selebihnya berjaket dengan nama majelis di punggungnya, seperti Majelis Rosululloh, Majelisul Maulid Wat Talim Riyadlul Jannah (Malang), dan Ahbabul Musthofa. 

Sambil menanti acara dimulai, para jamaah asyik mendengarkan lantunan solawat yang dilantunkan oleh kelompok hadroh Jamuri Solo dan Fatahilah.

Pondok Pesantren Tegal

"Sebelum dimulai, yuk berdoa kepada Allah agar dikirimkan mendung atau angin yang semilir," ungkap Habib Noval mengawali majelis. 

Ucapan tersebut keluar setelah melihat ada sebagian jamaah diluar masjid yang kepanasan, meski panitia telah menutup halaman masjid dengan tenda. Lima menit kemudian, jamaah membaca Alfatihah dipimpinnya. Mendung dan hawa dingin pun mulai datang. 

Pondok Pesantren Tegal

Usai beberapa sambutan, Habib Noval bin Muhammad Alaydrus mengajak hadirin untuk membaca surat Fatihah dan Yasin. Selanjutnya, Habib Noval mengajak hadirin menzikirkan lafad "La ilaha Illalloh". 

Usai menzikirkan lafadz tersebut puluhan kali, habib Noval pun memimpin doa. Banyak hadirin yang menangis ketika mengamini doa sang habib. betapa tidak, sebagian besar doa yang dipanjatkan pimpinan majelis Ar-Raudhah berkaitan dengan permohonan ampun atas tiap dosa kepada orang tua.

"Ya Rabb, ampuni kata-kata kasar kami kepada orang tua kami" demikian di antara doa Habib Noval. 

Selain itu, ia juga memohonkan ampun untuk setiap kaum muslimin, serta beberapa doa lain yang diaminkan oleh ribuan jamaah. Bahkan, sang Habib mendoakan keselamatan untuk siapapun yang membenci hadirin, lahir batin. 

Setelah doa, Habib Noval menanyakan kesediaan jamaah untuk menyelenggaraan acara serupa tiap dua bulan sekali. Tentu saja ajakan tersebut diamini oleh ribuan jamaah yang hadir.

Selanjutnya, acara diisi dengan ceramah singkat dari KH Abdurrohim. Kiai yang akrab disapa Gus Rohim ini dari Majelisul Maulid Wat Talim Riyadlul Jannah ini mengutarakan bahwa wasilah doa kepada Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu ajaran yang disampaikan oleh Habib Anis bin Ali Alabsyi. Habib Anis merupakan guru dan mertua Habib Noval yang diakuinya sebagai salah satu guru dari Majelisul Maulid Wat Talim Riyadlul Jannah.

Sementara itu, Habib Muhammad mengawali urainnya dengan "Anda tahu tentang surga?" Cucu Habib Anis tersebut menguraikan tentang itu, serta keyakinannya bahwa jamaah yang hadir di Masjid Agung Solo sebagai calon penghuni surga.

Sebagai penutup acara, Habib Noval bin Muhammad Alaydrus mengumumkan akan diadakannya Pameran Buku Aswaja se-Solo di bulan Muharam nanti. Selain itu, Habib Noval menyampaikan tentang diselengarakanya pembaacaan Maulid Simthudduror di Majlis Ar-Raudhah setiap Jumat Pon. (Pekik Sasongko/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Amalan, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Pangeran Saudi Dieksekusi karena Pembunuhan

Dubai, Pondok Pesantren Tegal



Pangeran Arab Saudi, Turki Saud al-Kabir, telah menjalani eksekusi pada Selasa setelah pengadilan menyatakan ia bersalah menembak hingga mati seorang warga Saudi, kata laporan media resmi.?

Laporan tidak menyebutkan dengan cara apa eksekusi terhadap Pangeran Turki itu dilakukan. Namun, sebagian besar orang yang dihukum mati di kerajaan Arab Saudi menjalani hukuman dengan cara kepala mereka dipenggal dengan pedang.?

Pangeran Saudi Dieksekusi karena Pembunuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pangeran Saudi Dieksekusi karena Pembunuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pangeran Saudi Dieksekusi karena Pembunuhan

Pangeran Turki sebelumnya telah menyatakan bersalah menembak hingga tewas Adel al-Mohaimeed setelah perkelahian, kata kementerian dalam negeri dalam pernyataan yang dimuat oleh kantor berita SPA.?

Para anggota keluarga kerajaan Arab Saudi yang sedang berkuasa jarang terkena eksekusi. Salah satu kasus paling mengemuka di kalangan kerajaan adalah ketika Faisal bin Musaid al Saud, yang membunuh pamannya Raja Faisal, menjalani eksekusi pada 1975.?

Pondok Pesantren Tegal

Keluarga kerajaan diperkirakan beranggotakan beberapa ribu orang.?

Mereka menerima tunjangan bulanan dan sebagian besar pangeran senior memiliki kekayaan dalam jumlah besar serta kekuasaan politik.?

Namun, hanya sebagian kecil dari keluarga kerajaan yang memiliki jabatan-jabatan penting pada pemerintahan.?

Pondok Pesantren Tegal

"Pemerintah... bertekad untuk menjaga ketertiban, menstabilkan keamanan serta menjunjung tinggi keadilan dengan menerapkan aturan-aturan yang ditentukan oleh Allah (Tuhan, red)...," kata pernyataan kementerian itu, demikian dilansir Reuters. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kiai, Lomba, Amalan Pondok Pesantren Tegal

Senin, 27 November 2017

Pengamat: Peningkatan Suara PKB karena “Efek NU”

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Direktur Ekskutif Indo Barometer Muhammad Qodari menilai peningkatan perolehan suara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang hampir 100 persen pada pemilu legislatif 2014 merupakan efek dari dukungan Nahdlatul Ulama.

Pengamat: Peningkatan Suara PKB karena “Efek NU” (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengamat: Peningkatan Suara PKB karena “Efek NU” (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengamat: Peningkatan Suara PKB karena “Efek NU”

"Peningkatan suara PKB, bukan karena efek Rhoma Irama, tapi efek dukungan NU. Karena, hasil survei, elektabilitas Rhoma itu rendah," kata Muhammad Qodari ketika dihubungi melalui telepon selulernya, Kamis.

Menurut Qodari, peningkatan suara PKB dari sekitar lima persen pada pemilu legislatif 2009 menjadi 9,5 persen berdasarkan hasil hitung cepat pada pemilu legislatif 2014, menunjukkan berkumpulnya kembali kaum nahdliyin ke partai yang dipimpin Muhaimin Iskandar tersebut.

Pondok Pesantren Tegal

Qodari menegaskan, NU berperan penting penting pada PKB, karena NU yang melahirkan PKB, pada era kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid.

Pondok Pesantren Tegal

"NU adalah organisasi keagamaan sangat besar. Karena, sekitar 30 persen penduduk muslim Indonesia adalah warga NU," katanya.

Qodari menilai, berkumpulnya aspirasi politik warga NU di PKB hingga perolehan suaranya meningkat hampir 100 persen, berkat orkestrasi Muhaimin yang mampu mengoptimalkan berbagai potensi yang ada.

Menurut dia, Muhaimin mau mengalah dan memberi tempat besar pada sosok seperti Rhoma Irama dan Ahmad Dani pada kampanye-kampanye, memberikan tempat kepada pemilik sebuah maskapai penerbangan Rusdi Kirana dengan dukungan sumber dayanya, serta ketokohan Mahfud MD dan Jusuf Kalla yang banyak menjadi sumber pemberitaan.

"PKB juga memanfaatkan potensi ketokohan Said Aqil Siroj (Ketua PBNU) yang ditampilkan dalam iklan-iklan resmi PKB," katanya.

Merujuk dari hasil analisa perolehan suara partai politik dari Exit Poll Kompas, faktor Nahdhiyin memang begitu dominan dalam kontribusi peningkatan perolehan suara PKB. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Amalan Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 21 November 2017

Kisah Pilu Nabi Muhammad dan Yatim Terlantar di Hari Raya Idul Fitri

Di suatu hari raya Rasulullah SAW keluar rumah untuk melaksanakan shalat Idul Fitri. Sementara anak-anak kecil tengah bermain riang gembira di jalanan. Tetapi tampak seorang anak kecil duduk menjauh berseberangan dengan mereka. Dengan pakaian sangat sederhana dan tampak murung, ia menangis tersedu.

Melihat fenomena ini Rasulullah SAW segera menghampiri anak tersebut. “Nak, mengapa kau menangis? Kau tidak bermain bersama mereka?” Rasulullah membuka percakapan.

Kisah Pilu Nabi Muhammad dan Yatim Terlantar di Hari Raya Idul Fitri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Pilu Nabi Muhammad dan Yatim Terlantar di Hari Raya Idul Fitri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Pilu Nabi Muhammad dan Yatim Terlantar di Hari Raya Idul Fitri

Anak kecil yang tidak mengenali bahwa orang dewasa di hadapannya adalah Rasulullah SAW menjawab, “Paman, ayahku telah wafat. Ia mengikuti Rasulullah SAW dalam menghadapi musuh di sebuah pertempuran. Tetapi ia gugur dalam medan perang tersebut.”

Pondok Pesantren Tegal

Rasulullah SAW terus mengikuti cerita anak yang murung tersebut. Sambil meraba ke mana ujung cerita, Rasulullah SAW mendengarkan dengan seksama rangkaian peristiwa dan nasib malang yang menimpa anak tersebut.

Pondok Pesantren Tegal

“Ibuku menikah lagi. Ia memakan warisanku, peninggalan ayah. Sedangkan suaminya mengusirku dari rumahku sendiri. Kini aku tak memiliki apapun. Makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Aku bukan siapa-siapa. Tetapi hari ini, aku melihat teman-teman sebayaku merayakan hari raya bersama ayah mereka. Dan perasaanku dikuasai oleh nasib kehampaan tanpa ayah. Untuk itulah aku menangis.”

Mendengar penuturan ini, batin Rasulullah SAW runtuh. Ternyata ada anak-anak yatim dari sahabat yang gugur membela agama dan Rasulnya di medan perang mengalami nasib malang begini.

Rasulullah SAW segera menguasai diri. Rasul yang duduk berhadapan dengan anak ini segera menggenggam lengannya.

Nak, dengarkan baik-baik. Apakah kau sudi bila aku menjadi ayah, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai paman, Hasan dan Husein sebagai saudara, dan Fatimah sebagai saudarimu?” tanya Rasulullah.

Mendengar tawaran itu, anak ini mengerti seketika bahwa orang dewasa di hadapannya tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW.

“Kenapa tak sudi ya Rasulullah?” jawab anak ini dengan senyum terbuka.

Rasulullah SAW kemudian membawa anak angkatnya pulang ke rumah. Di sana anak ini diberikan pakaian terbaik. Ia dipersilakan makan hingga kenyang. Penampilannya diperhatikan lalu diberikan wangi-wangian.

Setelah beres semuanya, ia pun keluar dari rumah Rasulullah dengan senyum dan wajah bahagia. Melihat perubahan drastis pada anak ini, para sahabatnya bertanya. “Sebelum ini kau menangis. Tetapi kini kau tampak sangat gembira?”

“Benar sahabatku. Tadinya aku lapar, tetapi lihatlah, sekarang tidak lagi. Aku sudah kenyang. Dulunya aku memang tidak berpakaian, tetapi kini lihatlah. Sekarang aku mengenakan pakaian bagus. Dulu memang aku ini yatim, tetapi sekarang aku memiliki keluarga yang sangat perhatian. Rasulullah SAW ayahku, Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudaraku, Ali pamanku, dan Fatimah adalah saudariku. Apakah aku tidak bahagia?”

Mendengar sahabatnya, mereka tampak menginginkan nasib serupa. “Aduh, cobalah ayah kita juga gugur pada peperangan itu sehingga kita juga diangkat sebagai anak oleh Rasulullah SAW.”

***

Waktu terus berjalan. Usia semakin bertambah. Kebahagiaan anak ini pun lenyap ketika selang beberapa tahun setelah itu Rasulullah SAW meninggal dunia. Meratapi kepergian ayah angkat paling mulia ini, ia keluar rumah seraya menaburkan debu di atas kepalanya.

“Celaka, sungguh celaka. Kini aku kembali terasing. Aku bukan siapa-siapa lagi. Aku kini menjadi yatim. Sepi,” katanya terisak.

Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq yang menyaksikan anak ini segera memeluknya. Sayyidina Abu Bakar kemudian mengambil alih pengasuhannya… Wallahu a‘lam.

***

Kisah ini dikutip dari Durratun Nashihin karya Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir Al-Khubawi, tanpa tahun, Surabaya, Syirkah Ahmad bin Saad bin Nabhan wa Auladuh, halaman 264-265. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Amalan, Humor Islam, Internasional Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 18 November 2017

Pembaharuan Pesantren

Penulis      : Dr. Abd Ala

Penerbit    : Pustaka Pesantren Yogyakarta

Cetakan    : Pertama, 2006

Pembaharuan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembaharuan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembaharuan Pesantren

Tebal        : xvi + 214 halaman

Perensensi    : Ach Syaiful Ala*

Pondok Pesantren Tegal

Istilah yang sering diperbincangkan sejak beberapa tahun terakhir ini, sebenarnya selalu identik dengan memperjuangkan kebenaran, keadilan, egalitarianisme,  dan demokrasi. Artinya, perjuangan yang semacam ini secara faktual mengandung nilai-nilai universal – terlepas dari motivasi dan aktor-aktor – memang diproyeksikan untuk memberdayakan masyarakat, terutama yang hidup di strata terbawah yang sering menjadi "korban" dalam proses pembangunan bangsa.

Pondok Pesantren Tegal

Dari perspektif diatas, jelas bahwa setiap aktivitas (perjuangan) yang berorentasi pada peningkatan kualitas kehidupan orang lain (banyak orang), dapat dikategorikan sebagai "pemberdayaan masyarakat". hanya saja, yang kemungkinan besar berbeda adalah cara dan pendekatannya, sesuai dengan background kehidupan aktornya (pelakunya). Tetapi, perbedaan yang seperti ini tidak menjadi masalah, yang terpenting aktivitas yang dilakukan benar-benar diupayakan untuk mengangkat nasib masyarakat (kaum tertindas).

Dalam konteks itulah, lalu bagaimana kepedulian pesantren sekarang ini dalam memberdayakan masyarakat, sebagai "institusi" keagamaan yang tumbuh sejak beberapa tahun yang silam? Apakah pesantren telah menunjukkan intensitasnya dalam persoalan ini, yang sesungguhnya dapat dijadikan medium untuk semakin memantapkan ketaqwaan kepada Allah SWT? Jika memang demikian, apakah bukti-bukti kongkritnya yang dapat meyakinkan kita tentang adanya pemberdayaan masyarakat di kalangan pesantren?

Secara jujur harus diakui, bahwa pesantren selama ini masih tetap eksis di tengah-tengah masyarakat. Dari abad keabad, pesantren masih memperlihatkan kemampuannya untuk membendung gempuran modernisasi yang telah terbukti menjungkirbalikkan spiritualitas manusia, baik secara individual maupun komunal. Kenyataan ini, tentu saja tidak dilepaskan dari sportifitas (kesalehan) dan karisma kiai sebagai top leader pesantren, serta sekaligus juga perjuangan yang mengendalikan teologi dan moral. Sehingga, pesantren sangat mudah untuk berintegrasi dengan masyarakat, yang dari dimensi sosio-ekonimi-politik telah mengalami kekalahan dan ketertindasan.

Karena itu, sangat beralasan jika kahadiran pesantren dimanapun saja berada, benar-benar mendapat respons yang positif dari masyarakat. Respon ini dapat dijadikan suatu indikasi, bahwa pesantren – sejak awal berdirinya – sebenarnya telah banyak terlibat secara aktif konstruktif dalam proses pemberdayaan masyarakat, sesuai dengan kemampuan dan versi pesantren itu sendiri.

Buku yang ditulis oleh pembantu Direktur I Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya ini, banyak mengulas peran pesantren misalnya dibidang spiritual, sampai sekarang ternyata masih belum bisa digantikan oleh lembaga-lembaga pendidikan lain. Dengan bermodal keikhlasan dan keteladanan, kiai (pesantren) telah menunjukkan keberhasilannya dalam mentransfer nilai-nilai relegius kepada santrinya, dan juga bahkan kepada masyarakat.

Melalui cara ini kemudian lahirlah santri yang bermoral, tegar dan mampu menghindarkan diri dari "cengkraman" status formal – semisal pegawai negeri, legeslatif dan eksekutif – yang telah menjadi impian mayoritas kaum terpelajar di bumi pertiwi ini.

Dengan kata lain, pengembangan spiritual versi persantren, telah menghasilkan alumni-alumi yang berakhlak mulia, tingkat bertahan hidup yang teruji dan lainnya. Dari fakta ini saja, kita udah mendapatkan gambaran yang jelas tentang keterlibatan pesantren dalam proses pemberdayaan masyarakat, yang disadari atau tidak, telah membaca dampak yang positif bagi pembangunan nasional.

Contoh lain yang perlu dikemukakan disini, adalah kepedualian pesantren terhadap masalah pendidikan degan mengembangkan sistem pendidikan (berbasis) kerakyatan, pesantren ternyata mampu menampung kaum muda yang secara kuantitatif patut dibanggakan. Sebab, melalui sistem pendidikan kerakyatan ini siapapun dapat memasuki pendidikan di pesantren tanpa ada pembatasan atau kualifikasi tertentu. Semua calon santri, terlepas dari asal-usul kehidupan, keluarga dan ekonominya, diperlakukan sama sebagai manusia di hadapan Allah yang harus dihormati.

Sistem pendidikan kerakyatan tersebut, diakui atau tidak, dapat menumbuhkan solidaritas, kolektivisme dan egalitarianisme, sebagai bagian dari yang integral dari ajaran-ajaran agama yang memang harus diaktualisasikan dalam kehidupan kongkrit sehari-hari, sehingga, sistem pendidikan  yang semacam itu – meminjam istilah Gus Dur – merupakan potensi demokratis pesantren, yang pengembangannya perlu ditangani secara intensif.

Dari itu terlihat dengan jelas tentang kepedulian pesantren dalam pemberdayaan masyarakat. Hal ini sekaligus membuktikan, bahwa pesantren mempunyai kontribusi yang besar dalam proses pembangunan agama, nusa dan bangsa.

Terlepas dari semua itu, pesantren tetap dituntut untuk berjuangan lebih serius lagi, agar peran strategisnya sebagai "pembela" masyarakat bawah (kaum tertindas) dapat dipicu secara maksimal. Apalagi dalam kenyataan, pesantren masih terkesan lamban dalam mengantisipasi arus perubahan sosial, yang membawa pergeseran nilai-nilai kehidupan. Karena itu, pesantren perlu membudayakan gerakan intelektual yang represenatif, tradisi kepenulisan dan kerja-kerja yang profesional.

Sayang buku ini hanya sebuah kumpulan tulisan Dr Abd Ala yang sudah pernah disajikan pada berbagai forum kegiatan diskusi, halaqah, seminar, diklat kepesantrenan. bagi saya, Hal ini merupakan penyebab utama dari pemaparan sebuah buku bisa dikatan kurang sistematis.

* Penulis, Ketua Ikatan Alumni Santri Timur Daya PP Nasyatul Mutaallimin Sumenep (IKNAS), Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Amalan Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 08 November 2017

Sains dalam Islam, Antara Logis dan Rasional

Oleh Ananta Damarjati



Istilah logis dan rasional sangat tidak asing. Dua kata tersebut setidaknya dalam satu hari punya porsi sendiri untuk masuk ke telinga atau mata baca kita. Terkesan memang tidak ada perbedaan, sama persis barangkali. Versi kamusnya, kalau kita mencari kata logis; benar menurut penalaran, sedangkan rasional; cocok dengan akal. Tipis sekali.

Sains dalam Islam, Antara Logis dan Rasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Sains dalam Islam, Antara Logis dan Rasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Sains dalam Islam, Antara Logis dan Rasional

Namun saya rasa penting untuk membuat kapling tersendiri dalam membahas perbedaan kata ini. Paling tidak kita dapat mengetahui posisi sains menurut sudut pandang Islam serta keseimbangan porsinya dalam hidup di dunia. Penjelasan tentang perbedaan kata ini dapat kita temukan secara lebih rinci dalam buku Prof. Dr. Ahmad Tafsir (Filsafat ilmu; 2004).

Kurang lebihnya pembedaan tersebut diawali dengan teori Kant, yang menyatakan bahwa rasional itu adalah kebenaran akal yang diukur dengan hukum alam. Atau dengan kata lain, rasional adalah pemikiran yang baru disebut masuk akal, jika tolak ukurnya hukum alam.

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal

Salah satu penjelasannya akan kita dapati dari cerita Nabi Ibrahim yang tidak hangus dibakar api. Menurut hukum alam hal tersebut tidak rasional karena Nabi Ibrahim termasuk materi yang hangus jika dibakar. Di lain sisi, kita dapati fakta tentang pesawat terbang yang tetap bisa menjulang tinggi ke langit walaupun beratnya ratusan ton. Ya, karena telah dirancang sesuai dengan hukum alam, dan itu rasional.

Dapat ditegaskan lagi, bahwa akal pastinya diukur dengan hukum alam, dan kebenaran rasional tersebut sangat terikat dengan hukum alam.

Sementara itu tentang logis, kebenarannya dibagi menjadi dua. Yang pertama logis-rasional seperti telah diuraikan tadi, yang kedua logis-supra-rasional. Untuk yang kedua ini titik tolaknya bukan pada hukum alam, tetapj pada argumen. Bila argumennya masuk akal, maka dapat diterima. Dengan kata lain, ukuran kebenaran logis-supra-rasional adalah logika dalam susunan argumen yang bersifat abstrak, meskipun melawan hukum alam, yang karena logis tetap sah dan autentik untuk diterima.

Kasus Nabi Ibrahim jelas tidak rasional. Tetapi apakah otomatis bakar-bakaran itu juga termasuk tidak logis, dalam arti supra-rasional?Sedikit mengurai mata rantai objeknya dalam kejadian ini. Sebagaimana kita tahu, api terdiri dari dua substansi, yaitu wujud apinya dan sifat panasnya. Api tersebut dibuat Tuhan, Allah SWT.Sifat panasnya juga dibuat oleh Tuhan. Jikalau bukan Tuhan, harus ada uraian yang sangat kuat untuk menjelaskannya.

Dengan argumen tersebut, maka sah saja bagi Tuhanmengubah sifat api dari panas menjadi dingin, untuk menyelamatkan utusan-Nya. Dalam hal ini, berlaku kebenaran logis-supra-rasional, karena logika untuk menyusun argumennya sangat jelas, bahkan mungkin tidak bisa dibantah.

Jadi, sejauh ini kita dapati bahwa (1) Yang logis adalah masuk akal, (2) Yang logis itu mencakup rasional dan supra-rasional, (3) Yang rasional adalah masuk akal sesuai dengan hukum alam, (4) Yang supra-rasional adalah masuk akal, sekalipun tidak sesuai dengan hukum alam.

Dari gambar besar ini kiranya kita dapat menyimpulkan, bahwa sains dan objek penelitiannya sangat terbatas pada rasionalitas dan hukum alam. Dan di luar itu bukanlah menjadi wilayah sains. Maka harus digarisbawahi, kurang tepat jika disebut sains itu logis, karena hal logis sendiri memiliki cakupan lebih lebar.

Atau jika ditarik akumulasi titik tengahnya, sains tidak dapat menangkap kebenaran logis di luar penggunaan pancaindera.Bagi sebagian, pernyataan ini ditepis oleh mereka yang menganggap akal dan metodologi mencari kebenaran dalam sains adalah segalanya.Yang paling ekstrim, mereka tidak percaya dengan ide-ide penciptaan, agama dan Tuhan.

Bagi mereka, itu pilihan paling tepat, objektif dan faktual. Tapi bagi keseimbangan logika serta bleberannya, jelas tidak sehat. Karena kalau kita berpretensi lebih terhadap asumsi-asumsi sains, maka kita harus pula selalu mempertanyakan siapa pencipta sesuatu yang lain itu secara terus-menerus (adinfinitum), dan menurut logika, ini tidak dimungkinkan.

Maka dari itu penting mengimbangi rasionalitas-empiris dengan logikasupra-rasional. Tujuannyauntuk mengetahui hasil yang prosesnya tidak dipahami oleh sains, penyebab yang paling asal, Yang Maha Esa. Hal tersebut dapat dipahami dengan rasa, Kant menyebutnya akal praktis. Sedang Ibn Sina menyebutnya qalb, dzawq, kadang-kadang sirr, dengan metode riyadlah.

Bukan berarti mendiskreditkan posisi sains, dan menjadikannya pilihan nomor sekian, dalam memutuskan sesuatu misalnya. Harus ada keseimbangan antara wahyu dengan sains, rasional dengan supra-rasional, akal dengan hati.Dalam arti lain, posisi sains harus proporsional dipahami bahkan dalam kegiatan paling subtil sekalipun.

Dalam Al-Quran jelas bahwa biologi, kimia, fisika, dengan matematika sebagai ilmu alatnya adalah kunci penting mempelajari ayat-ayat kauniyah, nonliterer. Bersamaan dengan ituharus juga disertakan pemahaman terhadap ayat-ayat qauliyah, karena tidak semua hal dapat dijelaskan dengan sains.

Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri; anggota aktif Lingkar Studi “Matakuhati” Semarang



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Amalan, RMI NU, Budaya Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 07 November 2017

Ketua LD PBNU: Keterbelakangan Sosial di Jawa Barat Memprihatinkan

Bandung, Pondok Pesantren Tegal. Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU), KH Maman Imanulhaq berpandangan, saat ini urusan publik di Jawa Barat harus serius mengurusi persoalan kemanusiaan. Sebab menurutnya, pembangunan infrastruktur tidak secara otomatis berdampak pada masyarakat lapisan bawah yang dalam kategori sosial bermasalah.

 

Ketua LD PBNU: Keterbelakangan Sosial di Jawa Barat Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua LD PBNU: Keterbelakangan Sosial di Jawa Barat Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua LD PBNU: Keterbelakangan Sosial di Jawa Barat Memprihatinkan

"Politisi lebih bicara soal infrastruktur, kalangan jurnalis lebih suka mengangkat isu-isu sensasional, dan aktivis mahasiswa juga kurang sungguh-sungguh menggali problem sosial yang paling mendasar," kata Kang Maman seusai mengisi acara Halaqah Dai Cyber NU di Hotel Grand Asrilia Bandung, Sabtu (9/9).

 

Menurut kiai yang akrab dipanggil Kang Maman ini, data Badan Pusat Statitik (BPS) Jawa Barat terbaru, mengungkapkan bahwa saat ini di Jawa Barat masih terdapat 135.787 anak terlantar, 211.940 anak jalanan. Terdapat  2.592 anak nakal. Lalu terdapat 5.935 korban Narkotika. 

Pondok Pesantren Tegal

Gelandangan dan pengemis mencapai 12.252. Pengindap HIV/AIDS masih cukup tinggi karena mencapai angka 18.106. Dan mengenaskan, terdapat balita terlantar 6.587.

 

Pondok Pesantren Tegal

Kang Maman juga prihatin karena selama terdapat 4.852.520 wanita yang mengalami kerawanan sosial ekonomi. Dan lebih memprihatinkan lagi, terdapat 4.852.520 keluarga fakir miskin yang dari tahun ke tahun tak pernah menyusut.

 

"Angka-angka tersebut dari tahun ke tahun tidak berubah signifikan. Artinya negara kurang tajam dalam mengurusi persoalan-persoalan mendasar. Wajar saja kalau IPM Jawa Barat rendah karena ada masalah krusial dalam bidang sosial seperti itu. Ini belum kita bicara soal kesehatan yang rendah, partisipasi sekolah yang sangat rendah dan juga urusan Mandi, Cuci, Kakus (MCK) dan Rutilahu yang tak teratasi secara konkret," terang Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka ini.

 

Sebagai pimpinan yang menahkoadi ribuan mubalig di seluruh Indonesia, Kang Maman akan berusaha membawa spirit Islam Nusantara dalam perjuangan terhadap warga marginal. Menurutnya, masalah-masalah mendasar warga lapisan bawah itu harus menjadi agenda prioritas setiap pemerintah baik pemerintah Pusat, Wilayah maupun Pemerintah Daerah.

 

"Keterbelakangan sosial di Jawa Barat itu memprihatinkan. Islam Nusantara adalah Islam yang mengedepankan solidaritas. Karena itu urusan keberpihakan terhadap kelompok yang tidak mendapatkan keadilan harus diutamakan. Negara harus dikontrol terus agar tidak lalai mengurusi kaum fakir-miskin. Dan media massa, termasuk media sosial harus mengampanyekan problem seperti ini. Itu akan lebih produktif ketimbang mengusung berita bohong (hoaks)," terangnya. (Yusuf/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Santri, Amalan, Daerah Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 04 November 2017

Pemutaran Video Sejarah PCINU Maroko Awali Konferensi

Rabat, Pondok Pesantren Tegal. Penampilan santri berprestasi yang tengah mengikuti program kelas internasional di Universitas Ibnu Thofail kota Kenitra, membuka konferensi cabang ke-2 PCINU Maroko dengan menyanyikan himne Pelajar NU dan sholawatan di auditorim Institut Dar El-Hadith Al-Hasaniyah, Rabat, Maroko. Usai itu mereka menyaksikan pemutaran film dokumenter perihal sejarah berdirinya PCINU Maroko.

Anggota Majelis Ilmi Kota Kenitra Maroko, Ahmad ‘Aid Bahdah, berkesempatan membuka secara resmi forum bergengsi ini, Ahad (10/8).

Pemutaran Video Sejarah PCINU Maroko Awali Konferensi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemutaran Video Sejarah PCINU Maroko Awali Konferensi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemutaran Video Sejarah PCINU Maroko Awali Konferensi

Tampak hadir dalam pembukaan konferensi ini antara lain Dubes RI untuk Kerajaan Maroko H Tosari Widjaja, utusan direktur Institut Dar El-hadith Al-Hasaniyah, staf KBRI Rabat, Mustasyar PCINU Maroko H Husnul Amal, Prabowo Wiratmoko Jati, warga NU di Maroko, anggota Persatuan Pelajar Indonesia Maroko beserta, dan sejumlah tamu undangan.

Pondok Pesantren Tegal

Ketua panitia konferensi ini Fairuz Ainun berharap agar PCINU ke depan dapat menciptakan sistem organisasi yang baik dan ke luar meningkatkan hubungan keagamaan dengan ulama Maroko.

Pondok Pesantren Tegal

Sementara H Tosari Widjaja mengimbau anggota PCINU Maroko untuk menangkap isyarat kelahiran PCINU bukan hanya sebagai wadah untuk kongko atau berdiskusi semata tanpa makna apapun.

“Kelahiran PCINU Maroko berpijak dari sebuah amanah dari PBNU agar PCINU dapat menjadi duta-duta Islam Aswaja Indonesia untuk berbagai negara khususnya di Maroko,” kata H Tosari.

Forum konferensi ini akhirnya memberikan amanah kepada Alvian Zahasvan sebagai Rais Syuriyah dan Kusnadi El-Ghezwa sebagai Ketua PCINU Maroko untuk masa bakti 2014-2016.

Kusnadi dalam menyatakan visinya ke depan, menginginkan PCINU Maroko yang familiar, bermartabat dan bermuatan intelektual. Ia pun mengajak kepada semua pengurus dan anggota PCINU Maroko untuk bekerja sama sehingga program Go Internasional NU dapat terwujud. (Red. Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Amalan, Pesantren Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 07 Oktober 2017

LPNU Minta Pemerintah Usut Mafia Importasi Garam

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Pengurus Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) mendukung sepenuhnya Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti untuk mengusut mafia kebijakan importasi garam nasional. Mereka menilai hadirnya sejumlah pihak di balik kebijakan importasi garam di tengah tingginya angka produksi garam lokal.

LPNU Minta Pemerintah Usut Mafia Importasi Garam (Sumber Gambar : Nu Online)
LPNU Minta Pemerintah Usut Mafia Importasi Garam (Sumber Gambar : Nu Online)

LPNU Minta Pemerintah Usut Mafia Importasi Garam

“Bagaimanapun, Indonesia merupakan pasar besar. Importasi garam inilah yang menyebabkan rusaknya sendi-sendi berbangsa dan bernegara,” kata Ketua LPNU H Mustholihin Madjid di Gedung PBNU, Sabtu (1/11).

Menurut Mustholihin, pemerintah memang semestinya mendorong iklim yang sehat dalam berusaha. Ini yang dikehendaki banyak orang. “Tentu saja, pemerintah harus memiliki keberpihakan terhadap rakyat. ”

Pondok Pesantren Tegal

Pada Kongres Garam Rakyat di Madura 2012 lalu, para petani garam sepakat mewujudkan swasembada garam mengingat besarnya potensi kelautan di Indonesia. Mereka, kata Mustholihin, menghendaki hadirnya kemandirian dan kedaulatan ekonomi di tangan rakyat. Pasalnya, tanpa impor saja petani sudah banyak menghadapai problem.

Pondok Pesantren Tegal

Karanya, “kita mengampanyekan perang terhadap importasi garam baik garam konsumsi maupun garam industri. Importasi garam jelas-jelas menghancurkan kehidupan masyarakat pesisir. Mafia-mafia itu terlibat di dalamnya,” tegas Mustholihin. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Amalan Pondok Pesantren Tegal