Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Pesantren dan Nahdliyin Punya Tugas Besar Majukan NU di Jawa Barat

Bandung, Pondok Pesantren Tegal. Seorang Kolumnis asal Jawa Barat, Asep Salahuddin menyatakan, Nahdlatul Ulama (NU) di Jawa Barat dewasa ini mengalami disorientasi kultural, baik dari sisi jam’iyah atau struktural maupun garis kebijakan.

Pesantren dan Nahdliyin Punya Tugas Besar Majukan NU di Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dan Nahdliyin Punya Tugas Besar Majukan NU di Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dan Nahdliyin Punya Tugas Besar Majukan NU di Jawa Barat

Selain itu menurut Asep, beberapa literatur keislaman Sunda justru banyak ditulis oleh orang di luar Sunda. Pesantren dan warga NU di Jawa Barat tidak ada yang berupaya menuliskannya secara mendalam dalam perspektif Sunda sendiri.

“Selanjutnya, ini tugas warga NU dan pesantren agar NU di Jawa Barat mewarnai dunia keislaman dan wacana keagamaan moderat sehingga Islam dengan karakteristik Sunda mampu diwujudkan,” ujar Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat ini, Sabtu (13/1) dalam pertemuan penulis NU se-Jawa Barat yang digagas Pondok Pesantren Tegal dan Rumah Kebangsaan.

Menurutnya pria yang aktif menulis di sejumlah media massa ini menilai, saat NU menggagas wacana Islam Nusantara, maka dalam perspektif Sunda, Islam Nusantara tidak lain adalah islam Sunda itu sendiri.

Sebab itu menurut Asep, semakin banyak tulisan-tulisan Islam Sunda, semakin dikenal juga Islam berbasis Sunda tersebut. Karena, sambungnya, wacana keagamaan saat ini jauh dari nilai-nilai tradisi dan budaya yang banyak diwariskan oleh para pendahulu.

Pondok Pesantren Tegal

“Bahkan kalau mau jujur, saat ini tidak sedikit orang Sunda yang memahami Islam secara hitam dan putih,” ucap pria kelahiran Garut ini.

Padahal menurut Asep, karakter orang Sunda dikenal sangat luwes seperti karakter orang NU pada umunya. Namun belakangan ini, tegasnya, orang Sunda mengalami disorientasi kultural. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Hadits, Berita, Syariah Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 18 Februari 2018

Kader Ansor Tulang Bawang Aktif Makmurkan Masjid

Tulang Bawang, Pondok Pesantren Tegal –

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Tulang Bawang, Lampung memiliki program kerja Ranting Sehat Berbasis Masjid. Tujuannya, ujar Ketua PC Ansor setempat, Hari Yanto, ranting yang kuat dan kader yang aktif bisa memakmurkan masjid.

“Sehingga kader di tingkatan ranting bisa melakukan perubahan berbasis masjid,” ujar Hari Yanto, di Tulang Bawang, Ahad (6/11).

Proses pendewasaan dan kaderisasi bagi anggota Ansor harus terus digenjot untuk menciptakan kader yang tangguh sehingga organisasi akan menjadi kuat.

Kader Ansor Tulang Bawang Aktif Makmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Tulang Bawang Aktif Makmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor Tulang Bawang Aktif Makmurkan Masjid

Hal itu dibuktikan PC Ansor Tulang Bawang dengan mengadakan Pelatihan Kepemimpinan Dasar Angkatan 2 Tahun 2016 dengan jumlah peserta 82 dari seluruh ranting atau kampung se-Kecamatan Gedung Aji.

Tempat pengkaderan tersebut berada di kompleks Masjid Baitur Rahman Kampung Kecubung Mulya Kecamatan Gedung Aji. Adapun materi yang diberikan antara lain Kamtibmas oleh Kapolsek Gedung Aji Iptu Nur Suwondo.

Pondok Pesantren Tegal

Selanjutnya Wawasan Kebangsaan oleh Kapten Puryanto, ke-Ansor-an oleh Hari Yanto, Organisasi dan Kepemimpinan oleh Ahmad Fauzan, Ahlussunnah wal-Jamaah oleh Aminudin, Sejarah Islam di Indonesia dan Ke-NU-an oleh Rudi Hartono.

Ketua Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gedung Aji, Nuril Anwar menambahkan, ? kegiatan PKD ? penting bagi seluruh pengurus ranting se-Kecamatan Gedung Aji, agar mereka paham visi, misi dan program organisasi Gerakan Pemuda Ansor, sekaligus paham bagaimana menjalankan organisasi.

Adapun Ketua Panitia Kegiatan tersebut, Makmur, menghaturkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pelatihan berlangsung 3 hingga 6 November 2016 hingga sukses. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Pendidikan, Hadits Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

Akhirnya, PMII Jabar Miliki Sekretariat Permanen

Bandung, Pondok Pesantren Tegal?

Setelah melewati penantian panjang, akhirnya Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Barat memiliki sekretariat permanen.

Hal itu dibuktikan dengan serah-terima sertifikat dari pemilik rumah yang berukuran 149 meter persegi yang terletak di Jalan AH. Nasution, Kampung Lio Utara, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, Kamis (8/12/2016).

Akhirnya, PMII Jabar Miliki Sekretariat Permanen (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhirnya, PMII Jabar Miliki Sekretariat Permanen (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhirnya, PMII Jabar Miliki Sekretariat Permanen

Ketua Panitia Pembelian Sekretariat PKC PMII Jawa Barat Ade Mahmudin mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga kepada semua pihak sehingga pembelian sekretariat tersebut bisa terlaksana.

"Terutama kepada Pak Bukhori, sebagai salah seorang tokoh alumni PMII di Jawa Barat yang juga sebagai Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat yang telah menghibahkan tempat ini. Terima kasih juga kepada seluruh senior dan alumni yang telah turut membantu," ujar Ade.

Pondok Pesantren Tegal

Sementara, Ketua Pengurus Koordinator Cabang PMII Jawa Barat Abdul Nasir merasa bangga karena selama 56 tahun PMII berkiprah di Jawa Barat, baru kali ini memiliki sekretariat secara permanen yang sebelumnya selalu berpindah dari kontrakan satu ke kontrakan yang lain.

"Jadi, untuk ke depannya para penerus PKC PMII Jawa Barat tidak pusing lagi mencari tempat untuk ngontrak. Mudah-mudahan apa yang menjadi dedikasi selama ini bisa dijadiakan motivasi untuk kader-kader PMII di Jawa Barat," pungkasnya.

Turut hadir dalam serah terima sertifikat tersebut, pemilik rumah diwakili Ryan Yudistira Dirgantara, perwakilan dari pemberi hibah, Yusuf dan disaksikan langsung Sekretaris Majelis Pembina Daerah (Mabinda) PKC PMII Jawa Barat, Dudang Ghozali. (Dhamiry Alghazaly/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Hadits, Kiai Pondok Pesantren Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Hadapi Tantangan dan Kontestasi, Islam Indonesia Didorong Teguhkan Identitas

Bangkalan, Pondok Pesantren Tegal. Setelah gelombang demonstrasi 4 November (411) dan 2 Desember (212) pada 2016, bagaimana kondisi Islam di negeri ini? Apakah ada perubahan pola keislaman dan dinamika sosial?

Hal inilah yang menjadi perbincangan hangat "Masa Depan Islam Nusantara" dalam rangka Milad Prodi Hukum Bisnis Syariah, Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Agenda ini, diselenggarakan di Auditorium UTM, Senin (19/12). Hadir pada forum ini, Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN PBNU dan editor buku Islam Nusantara terbitan Mizan.?

Dalam ulasannya, Munawir Aziz menyampaikan betapa Islam Indonesia menghadapi tantangan dan kontestasi. "Islam moderat di negeri ini, menghadapi goncangan dari berbagai sisi. Tantangan kita, bagaimana menampilkan wajah Islam yang ramah dan sesuai dengan karakter bangsa ini. Bukan wajah kekerasan dan teror," terang Munawir.?

Hadapi Tantangan dan Kontestasi, Islam Indonesia Didorong Teguhkan Identitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Tantangan dan Kontestasi, Islam Indonesia Didorong Teguhkan Identitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Tantangan dan Kontestasi, Islam Indonesia Didorong Teguhkan Identitas

Selanjutnya, Munawir mengungkapkan pentingnya mahasiswa dan generasi muslim bergerak di media digital dan media sosial. "Jangan sampai kita hanya diam, menjadi maful, sebagai obyek. Nah, kita perlu menyampaikan gagasan, pemikiran kita dalam tradisi keislaman, sebagai karakter Islam Nusantara," jelas Munawir.?

Dalam diskusi, Munawir Aziz menjelaskan penting para generasi muda muslim, mengaktualisasi kaidah al-muhafadzah ala al-qadimi as-shalih, wal akhdzu bil jadidi al-aslah.?

"Al-muhafadzah itu bisa kita maknai menjaga tradisi, keilmuan, menjaga ideologi. Lalu, al-akhdzu ini harus inovasi dalam bidang teknologi, pengembangan sumber daya," terang Munawir.?

Pondok Pesantren Tegal

Kaprodi Hukum Bisnis Syariah Universitas Trunojo, Ahmad Musif mengungkapkan pentingnya pemahaman keislaman yang damai dan toleran, sebagai bagian dari penjelasan Islam sebagai agama dan pengetahuan.?

"Kita perlu memahami, Islam tidak hanya agama, namun juga pengetahuan," terang Musif.

Kajian Islam Nusantara, menjadi pembahasan penting bagi generasi muda, untuk memahami bagaimana peta dan masa depan Islam di negeri ini. (Fauzan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Pesantren, Hadits Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

Inilah Perwira TNI Didikan Hizbullah

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Para kiai dan santri terlibat di lapangan dalam membela tanah air yang akan diserang kembali oleh Belanda para perang kemerdekaan. Setelah perang usai, sebagian besar kelompok santri kembali ke pesantren untuk mengajar agama, tetapi ada beberapa yang akhirnya tetap aktif dalam dunia militer.?

Berikut nama-nama perwira TNI yang merupakan hasil didikan Hizbullah, salah satu kelompok pasukan perlawanan yang berasal dari kelompok santri seperti disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PBNU H Slamet Effendy Yusuf.?

Inilah Perwira TNI Didikan Hizbullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Perwira TNI Didikan Hizbullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Perwira TNI Didikan Hizbullah

1. Mayor KH. Mustofa Kamil-Banten?

2. Mayor KH. Mawardi-Surakarta?

Pondok Pesantren Tegal

3. Mayor KH. Zarkasi- Ponorogo?

4. Mayor KH. Mursyid-Pacitan?

5. Mayor KH. Sahid-Kediri?

6. Mayor KH. Abdul Halim-Majalengka?

7. Mayor KH. Thohir Dasuki-Surakarta?

Pondok Pesantren Tegal

8. Mayor KH. Rajiun-Jakarta?

9. Mayor KH. Munasir Ali-Mojokerto?

10. Mayor KH. Wahib Wahab-Jombang?

11. Mayor KH. Hasyim Latif-Surabaya?

12. Mayor KH. Zainuddin-Besuki?

13. Mayor KH. Zein Thovib-Kediri?

Selain yang berasal dari Hizbullah, terdapat beberapa perwira TNI berlatar belakang santri ex-PETA. Berikut nama-namanya.?

1. Brigjen KH. Sulam Syamsun?

2. Brigjen KH. Zein Toyib?

3. Brigjen KH. M. Rowi?

4. Brigjen KH Abdul Manan Wijaya?

5. Brigjen KH Iskandar Sulaiman?

6. Brigjen KH. Abdullah Abbas?

Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Hadits, Pendidikan, Amalan Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah

Brebes, Pondok Pesantren Tegal. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti siap meluncurkan Peraturan Bupati (Perbup) tentang Madrasah Diniyah Takmiliyah (Madin) ? sebagai upaya meningkatkan ketakwaan masyarakat Brebes sejak dini. Terutama tentang regulasi poin masuk pendidikan SD, SMP maupun SMA/SMK dengan prasarat menempuh pendidikan madrasah. Juga untuk melegalisasi bantuan pendidikan madrasah dari Pemerintah Kabupaten Brebes sehingga keberadaan Madin makin mendapat perhatian di hati masyarakat.

Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah

Hal ini disampaikannya saat membuka Pekan Olahraga dan Seni Santri antar-Madrasah Diniyah (Porsadin) II tingkat Kabupaten Brebes, di Madin Al-Ghoniyah Desa Kalialang Kecamatan Jatibarang Brebes, Sabtu (16/5) lalu.

Bupati meminta kepada pengurus Madin untuk secepatnya membuat draf dan digodok bersama dengan bagian Hukum Setda Brebes. Ini dimungkinkan untuk selanjutnya menjadi bahan acuan diterbitkannya Peraturan Daerah (Perda).?

“Pendidikan madrasah itu mampu menjadi pondasi akhlak generasi muda sejak dini sehingga perlu mendapat perhatian khusus,” tutur Bupati.

Pondok Pesantren Tegal

Bupati turut perihatin dengan kondisi gedung Madin yang perlu mendapat perawatan. Juga ketersediaan sarana dan prasarana yang minim serta kesejahteraan ustadz-ustadzah yang perlu ditingkatkan. “Pendidikan formal saja belum cukup karena moral dan spiritual harus ditata sejak dini,” kata Bupati.?

Pondok Pesantren Tegal

Pendidikan itu, lanjutnya, adalah rahim untuk mencerdaskan jasmani maupun rohani anak-anak bangsa. Sehingga mutlak hukumnya untuk setiap warga Brebes mengenyam pendidikan formal maupun non formal secara seimbang.

Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Brebes H Ahmad Sururi SPdI menjelaskan, jumlah ustadz ustadzah yang terhimpun di FKDT ada 3945 orang yang tersebar di 808 Madin se-Kabupaten Brebes. Mereka mengabdi dengan ketulusan hati seraya mengharap ridlo dari Allah SWT. “Tidak ada gaji khusus seperti layaknya PNS tetapi hanya mengandalkan syahriah dari santri dan usaha dari pengurus yayasan,” terangnya.

Ketua FKDT Provinsi Jateng Asikin MSi menambahkan, baru tiga daerah yang telah memiliki peraturan daerah (Perda) tentang Madin yakni Kudus, Wonosobo, dan Jepara. “Kami berharap, Pemkab Brebes bersama DPRD setempat bisa secepatnya mengorbitkan Perda tentang Madin,” desaknya.

Ketua Panitia Forsadin Subkhi SE dalam laporannya menerangkan, Porsadin diikuti 799 santri utusan dari 17 Kecamatan se-Brebes. Mereka bakal berebut piala Bupati Brebes dalam 17 macam mata lomba. Lomba yang digelar meliputi Tanfidz Juz Amma, Cerdas Cermat Diniyah, Pidato Bahasa Arab, Pidato Bahasa Indonesi, Kaligrafi, Murotal wal Imla, Atletik lari 60 meter, puisi Islami, Qiro’atul Kitab, Hafalan Aqidatul Awam, MTQ, dan Khadroh.?

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Camat Jatibarang Darmadi SH, dan unsure Forkompinda Kecamatan, Ketua MWCNU Jatibarang Muhidin dan sejumlah undangan lainnya. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Hadits, Makam, Sejarah Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Lazisnu Jawa Barat Bagikan 2000 Kantung Daging Kurban

Bandung, Pondok Pesantren Tegal. Bertempat di Komplek PWNU Jawa Barat, Lazisnu Jawa Barat membagikan 2000 kantung daging kurban ke warga NU Kota Bandung (24/09/2015). Turut hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pengurus PWNU, Sekretaris Pergunu Jabar H. Saepuloh, M.Pd, Wakil Ketua IPNU Jawa Barat Iman Iyanfauni, Sekretaris ? Lesbumi Jabar Muhamad Sulaeman, dan Sekretaris Lapeksdam Jabar H. Dasuki.

Lazisnu Jawa Barat Bagikan 2000 Kantung Daging Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Lazisnu Jawa Barat Bagikan 2000 Kantung Daging Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Lazisnu Jawa Barat Bagikan 2000 Kantung Daging Kurban

Menurut Sekretaris Lazisnu Jawa Barat Ganjar Abdul Mujib, hewan kurban yang terkumpul sebantak 4 ekor sapi dan 8 ekor domba.

"Pada kesempatan ini, 1 ekor titipan dari Extrajoss, 1 ekor dari Pemprov Jabar, sisanya dari jamaah NU Jawa Barat," tutur Ganjar.

Pondok Pesantren Tegal

Selain itu, Menurut Sekretaris Lazisnu Jawa Barat Ganjar Abdul Mujib kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah.

Turut memeriahkan dalam kegiatan tersebut, sebelum prosesi penyembelihan Sekretaris PW Lesbumi Jawa Barat Muhammad Sulaeman membacakan puisi tentang kisah keluarga Nabi Ibrahim AS.

Pondok Pesantren Tegal

Menurut Sekretaris Lesbumi Jawa Barat Muhamad Sulaeman, kegiatan kurban tahun ini sangat mengesankan dan ini harus terus dijaga dan dilestarikan

"Kegiatan kurban tahun ini sungguh luar biasa, dan tahun depan lebih khidmat dan meriah," tutur Kang Sule. (Awis SaepulohMukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Hadits, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Tegal

Ketua Umum PB PMII Tak Sepakat PMII Jadi Banom NU

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Addin Jauharudin menyayangkan sikap dan peryataan para pemimpin NU yang menghendaki PMII kembali menjadi Badan Otonom (Banom) NU, namun tidak pernah ikut terlibat dan turun tangan dalam setiap kerja-kerja bersama PMII.

“PMII dan NU merupakan organisasi yang sejajar dan saling memperkuat satu sama lain. Bukan saling melemahkan dan menjadikan PMII sebagai underbow NU,” kata Addin di Jakarta, Jumat (30/5).

Ketua Umum PB PMII Tak Sepakat PMII Jadi Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Umum PB PMII Tak Sepakat PMII Jadi Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Umum PB PMII Tak Sepakat PMII Jadi Banom NU

Dia menegaskan, ada banyak pertimbangan PMII menyatakan independen dari NU pada tahun 1972. Salah satunya karena NU menjadi partai politik, sehingga PMII tidak leluasa dalam melakukan perjuangan sesuai dengan idealisme dan kreatifitas mahasiswa dan pemuda.

Pondok Pesantren Tegal

“PMII memang dilahirkan dari rahim NU, di saat NU menjadi partai politik,” ujarnya.

Namun, menurutnya, deklarasi independen tersebut sejatinya bukan berarti independen dalam arti sepenuhnya. Sebab, pada awal tahun 1990-an PMII kembali menegaskan bahwa independensi PMII hanya secara organisatoris.

Pondok Pesantren Tegal

“Selebihnya PMII-NU merupakan satu kesatuan dalam pengamalan dan perjuangan menegakkan Islam yang ramah dan toleran, Islam rahmatan lil alamin dan berhaluan Ahlusunnah wal Jamaah. Baik secara kultur, pendidikan, pandangan kebangsaan, kenegaraan dan sebagainya,” tandasnya.

Bahkan, sambung Addin, dalam proses kaderisasi bisa dikatakan PMII selangkah lebih maju daripada NU. “PMII lebih terbuka dan adaptatif bahkan senantiasa melakukan proses dialektika terhadap berbagai perkembangan budaya dan pemikiran yang ada,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyampaikan imbauan agar PMII kembali ke pangkuan NU dengan kembali menjadi Banom NU.

“Independensi (PMII) itu kan saat NU menjadi Partai Politik, sekarang kan NU bukan Parpol. Maka kembalilah,” kata Kiai Said di Jakarta, Kamis (29/5).

Imbauan itu disampaikan Kiai Said menjelang Kongres PMII XVIII, yang dibuka pada Jumat hari ini 30 Mei 2014 di Gedung Olahraga Kota Baru Jambi, dan bakal berlangsung hingga 7 Juni 2014 di Asrama Haji Jambi. (Abdul Hady/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Hadits, Fragmen Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Berdakwah dengan Percaya Diri

Belakangan para pendakwah di lingkungan NU sibuk melayani “kicauan” kelompok dakwah lain yang gencar menuding bid’ah terhadap aktifitas atau tradisi keagamaan yang dijalankan masyarakat muslim di Indonesia. Kicauan itu memang terdengar cukup nyaring akhir-akhir ini karena didukung oleh media informasi yang cukup aktif, dan pada titik tertentu sangat kelihatan difasilitasi oleh pihak-pihak berkepentingan.

Ya, tema “bid’ah” itu mestinya sudah usang dan selesai beberapa tahun silam, namun memang tetap pas untuk membuat semacam gesekan-gesekan di tengah masyarakat. Sehingga target pertama dari aktifitas “dakwah” mereka tercapai, yakni didengarkan oleh khalayak ramai. Tudingan bid’ah apalagi jika dikaitkan dengan istilah “sesat” bagaimanapun juga memang sering menimbulkan keresahan di tengah masyarakat sehingga beberapa pengurus NU di berbagai daerah yang menjadi target dakwah pun merasa perlu memberikan respon untuk menenangkan warga.

Jika diamati, gerakan anti bid’ah sangat berbeda antara dulu dan sekarang. Gerakan ini biasanya diiringi dengan semboyan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Namun dulu, di dunia Islam dan di Indonesia tepatnya pada masa pergerakan kemerdekaan awal adab ke-20 M, semboyan itu berbarengan atau satu paket dengan satu gerakan yang dinamakan pembaharuan. Melalui semboyan itu, para pembaharu bermaksud mengajak masyarakat untuk mengacuhkan tradisi dan kejumudan lalu masuk ke wilayah modernitas yang mereka yakini bisa meningkatkan derajat umat Islam.

Berdakwah dengan Percaya Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Berdakwah dengan Percaya Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Berdakwah dengan Percaya Diri

Sementara para kelompok pembaharu sudah mulai menganggap penting identitas sebagai muslim Indonesia dan sudah nyaman mempraktekkan tradisi keagamaan yang dulu dibenci, gerakan anti bid’ah dan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sama sekali tidak membawa semangat pembaharuan seperti itu. Gerakan anti bid’ah itu sangat terlihat sekedar menunjukkan diri sebagai sebuah identitas yang mengacu pada identitas tertentu di dunia muslim; kelompok Wahabi.

Mereka yang gemar mengampanyekan semboyan anti bid’ah itu selalu mengusik tradisi keagamaan yang sudah berlangsung di tengah masyarakat semenjak lama. Mereka memang tidak pernah berkepentingan terhadap tradisi yang dijalankan oleh masyarakat di sekitarnya. Mereka selalu terasing dari masyarakat sekitarnya dan mengharapkan gambaran ideal seperti ada di luar sana.

Model dakwah dengan cara mengusik kelompok muslim seperti itu memang tidak pernah mempunyai target dakwah yang sebenarnya, yakni mengajak masyarakat untuk mengikuti apa yang mereka sampaikan, karena di sana-sini dakwah dimaksudkan untuk menyebar kebencian terhadap kelompok muslim yang lain. Mengejek, menghina dan membenci apalagi menuding sesat itu bukan dakwah yang efektif, bahkan hanya memicu permusuhan.

Pondok Pesantren Tegal

Menuding bid’ah terhadap tradisi kegamaan kelompok lain bahkan bisa dimaknai sebagai satu bentuk “tidak percaya diri” terhadap cara berislam yang mereka jalankan. Mereka berkepentingan agar orang lain meninggalkan tradisi lama dan meniru cara berislam yang mereka lakukan untuk meningkatkan rasa percaya diri terhadap apa yang mereka jalani.

Di sinilah pentingnya menawarkan kembali model dakwah yang diiringi sikap saling menghormati dan menghargai keyakinan dan praktik hidup orang lain, selama tidak mengganggu masyarakat yang lain, tidak menghalangi ibadah kelompok lain. Rasa saling menghargai kelompok lain dan tidak merasa paling benar sendiri itu ? tercermin dari pernyataan Imam Syafi’i yang cukup populer itu: “Pendapatku ini benar tapi mungkin mengandung kesalahan, dan pendapat orang lain salah tetapi mungkin juga ada benarnya.”

Saling menghormati dan menghargai itu diperlukan jika, sekali lagi, jika memang mereka bertujuan untuk berdakwah, dan bukan tujuan lain. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Hadits Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

NU Desak Pemerintah Sanksi Kelompok Anti-Pancasila

Semarang, Pondok Pesantren Tegal. Nahdlaltul Ulama mendesak Pemerintah Indonesia untuk menta’zir (sanksi) terhadap kelompok atau organisasi yang menolak menghormati simbol negara dan yang menyatakan Pancasila sebagai ideologi kufur. Sebab tindakan tersebut sama dengan memvonis seluruh bangsa Indoneisa adalah orang kafir.

NU Desak Pemerintah Sanksi Kelompok Anti-Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Desak Pemerintah Sanksi Kelompok Anti-Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Desak Pemerintah Sanksi Kelompok Anti-Pancasila

Demikian salah satu simpulan hasil sidang bahtsul masail (pembahasan masalah-masalah dalam perspektif hukum Islam) dalam Konferensi Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah ke-14 di komplek SMP/SMA Semesta, Gunungpati, Semarang, Ahad (23/6).

Alasan simpulan itu, menghormati simbol negara seperti upacara bendera dan berdiri saat menyanyikan lagi Indonesia Raya, hukumnya wajib bagi seluruh warga negara. Hal itu karena telah diwajibkan oleh undang-undang, dan menaati pemerintah hukumnya wajib.

Pondok Pesantren Tegal

Demikian pula, kelompok yang menyatakan Pancasila sebagai ideologi kufur atau thoghut, hukumnya haram. Hal itu termasuk penghinaan dan meremehkan hasil konsensus bangsa. Padahal konsensus itu telah dibuat pada saat mendirikan Republik Indonesia dan seluruh perwakilan elemen bangsa Indonesia telah menyepakati dasar negara.

Pondok Pesantren Tegal

Dalam sidang yang dipimpin KH A’wani dan Ubaidillah Shodaqoh ini, para ulama menyampaikan berbagai pandangannya untuk menjawab tiga pertanyaan umat. Yaitu bagaimana hukumnya menghormati simbol negara yang telah menjadi konsensus nasional, bagaimana hukum menyatakan Pancasila dan NKRI adalah ideologi dan sitem kufur atau thoghut, serta apa yang harus dilakukan pemerintah terhadap organisasi atau kelompok yang menolak Pancasila dengan anggapan kafir.

Disampaikan Kyai Ubaidillah, hukum asal menghormati simbol negara adalah mubah atau jaiz atau boleh. Namun karena sudah menjadi undang-undang, maka hukumnya menjadi wajib. Sesuai dengan keterangan dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin.

Lebih jelas disampaikan KH A’wani, penghormatan kepada bendera atau lambang negara, tidak ada unsur ibadah. Itu sebagai wujud cinta negara. Karena dalam UUD 1945 dijelaskan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia sebagai rahmat Allah Yang Maha Esa, maka menghormati bendera sebagai simbol tanah air sama dengan mensyukuri nikmat Allah Taala.

“Menganggap pancasila sebagai thoghut adalah pengakuan yang batil atau dakwah bathilah. Menganggap demokrasi sebagai sistem kuffur juga dakwah bathilah,” ujarnya mengutip salah satu jawaban dari delegasi PCNU.

Ta’zir dari pemerintah, menurutnya, agar bisa menciptakan efek jera. Tahapannya dimulai dari mengklarifikasi, menasehati, memberi peringatan keras, lalu mengambil tindakan hukum.

Namun bila kelompok tersebut sudah memiliki kekuatan yang bisa menggoyahkan sendi kenegaraan, maka pemerintah wajib memerangi atau menumpasnya. Karena sudah masuk kategori bughot (pemberontakan).

“Semua putusan bahsul masail ini dibuat agar bisa dimengerti masyarakat umum,” pungkas kiai asal Sarang Rembang ini.

Redaktur     : Abdullah Alawi

Kontributor : Ichwan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Hadits, Fragmen Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

Kenaikan 38,89 % Tarif PDAM Pamekasan Kecewakan Warga

Pamekasan, Pondok Pesantren Tegal. Kenaikan tarif air yang mencapai angka 38,89 % oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), tidak rasional. Kenaikan tarif tinggi di samping layanan yang tidak memuaskan membuat kecewa warga Pamekasan, Jawa Timur.

Kebijakan PDAM itu menuai kecaman sejumlah pihak. Salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Pamekasan ini dinilai mengabaikan hak rakyat. Pasalnya, dari waktu ke waktu layanan dan kebijakan manajemennya jauh dari membaik, kata aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan, Ribut Zubaidi Abdullah.

Kenaikan 38,89 % Tarif PDAM Pamekasan Kecewakan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenaikan 38,89 % Tarif PDAM Pamekasan Kecewakan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenaikan 38,89 % Tarif PDAM Pamekasan Kecewakan Warga

"Kenaikan tarif sebesar 38,89 % merupakan  bentuk pengkhianatan terhadap rakyat," tegas Abdullah yang juga memimpin Forum Riset dan Advokasi Masyarakat Marginal (FoRsAMM) Kabupaten Pamekasan, Selasa (29/10).

Pondok Pesantren Tegal

Pelan tapi pasti PDAM Pamekasan mencekik perekonomian rakyat. Di tengah pelayanan PDAM yang kurang maksimal, justru tarif PDAM dinaikkan. Di mana letak kepedulian para manajemen PDAM terhadap warga? Jelas Abdullah.

Sementara Direktur PDAM Agus Bachtiar berdalih, penaikan tarif tiada lain guna mengikuti penaikan tarif dasar listrik yang naik.

Pondok Pesantren Tegal

"Naiknya listrik sudah sejak Januari. Dari situ pengeluaran PDAM bertambah untuk membayar tagihan listrik bulanan. Padahal tanggungan PDAM juga banyak. Jadi, harus dinaikkan dan telah disetujui oleh DPRD Pamekasan," terang Bachtiar.

Menanggapi Bachtiar, Abdullah mengatakan, selain menyesalkan penaikan tarif, warga juga menyesalkan pelayanan PDAM yang hingga kini jauh dari memuaskan. Rendahnya pelayanan PDAM Pamekasan dapat dilihat dari kerap mampatnya aliran air ke pelanggan.

Maunya dilayani, padahal semestinya melayani, tegas Abdullah. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Hadits, Kiai Pondok Pesantren Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Belajar dari Kisah Nabi Nuh: Manfaat Istighfar

Ketika kaum Nabi Nuh alaihissalam tidak mau menaati ajakan beliau untuk beriman kepada Allah mereka diberi azab oleh Allah berupa kekeringan dan mandulnya kaum perempuan selama empat puluh tahun. Hal itu menjadikan hancurnya ternak dan tanaman mereka. Setelah keadaan ini berlangsung lama mereka mendatangi Nabi Nuh untuk meminta pertolongan.

Oleh Nabi Nuh mereka diminta untuk beristighfar, meminta ampun dari dosa kekufuran dan kemusyrikan, kepada Allah. Bila mereka mau beristighfar, Nabi Nuh menjanjikan bahwa Allah akan menurunkan hujan yang deras dari langit, memberi limpahan harta dan keturunan, serta menjadikan kebun-kebun dan sungai-sungai yang dpat menghidupi mereka.

Belajar dari Kisah Nabi Nuh: Manfaat Istighfar (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Kisah Nabi Nuh: Manfaat Istighfar (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Kisah Nabi Nuh: Manfaat Istighfar

Penjelasan di atas disampaikan oleh para ulama mufassir dalam berbagai kitab tafsir ketika mereka menafsirkan ayat 10–12 dari Surat Nuh.

? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Tegal

“Maka aku (Nabi Nuh) katakan, ‘minta ampunlah kalian kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Ia maha pengampun. Maka Dia akan menurunkan hujan yang deras dari langit kepada kalian. Dan Ia akan menganugerahkan kepada kalian harta dan anak-anak, serta menjadikan bagi kalian kebun-kebun dan sungai-sungai.”

Pondok Pesantren Tegal

Atas dasar ayat ini para ulama menyimpulkan bahwa istighfar merupakan sebab terbesar diturunkannya hujan dan diperolehnya berbagai macam rezeki serta bertambah dan berkembangnya keberkahan.

Suatu ketika ada orang yang mengadu kepada Imam Hasan al-Bashri perihal kegersangan yang melanda daerahnya. Orang yang lain mengadu perihal sedikitnya hasil bumi yang ia peroleh. Yang lain lagi mengadu perihal sulitnya mendapat keturunan. Dan yang lainnya mengadu perihal kefakirannya. Kepada semua orang ini Imam Hasan menganjurkan untuk memperbanyak beristighfar kepada Allah. Ia ditanya, “Orang-orang datang kepadamu dengan berbagai hajat, mengapa engkau perintahkan mereka semua untuk beristighfar?” Imam Hasan al-Bashri menjawabnya dengan membaca ayat di atas. (Yazid Muttaqin)

Sumber: Tafsir Al-Munir, Wahbah Az-Zuhaili dan kitab tafsir lainnya.



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Hadits, Halaqoh Pondok Pesantren Tegal

Senin, 11 Desember 2017

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Dua lembaga yang bergerak dalam bidang dakwah, Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dan Lembaga Pusat Informasi Dakwah (LPID) yang semuanya dikelola oleh warga NU menyelenggarakan halal bi halal di Gd. PBNU, Kamis malam (15/11).

Acara halal bi halal yang diselenggarakan mulai pukul 19.00 WIB ini dipenuhi oleh para pengurus dan jamaah yang menjadi binaan kedua organisasi ini. Hadir dalam acara tersebut Ketua LDNU KH Nuril Huda dan Ketua LPID KH Syukron Makmur. Sementara PBNU diwakili oleh KH Tolhah Hasan.

Sebelum memimpin LPID, KH Syukron Makmun sendiri merupakan mantan ketua LDNU selama tiga periode pada era Gus Dur sehingga pertemuan ini layaknya seperti kangen-kangenan dengan pengurus lama. Para pengurus LPID lainnya juga merupakan para kiai dan ulama dari kalangan nahdliyyin.

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal

Ketua Panitia H Baden Badruzzaman menjelaskan bahwa upaya untuk mempererat silaturrahmi melalui halal bi halal ini salah satunya juga untuk mengantisipasi maraknya aliran sesat yang kini kerap kali muncul dan meresahkan masyarakat.

Sementara itu, H. Ahmad Jauhari yang mewakili LDNU mengungkapkan bahwa tantangan dakwah dimasa depan menjadi semakin berat. Jika saat ini umat Islam dengan gampang bisa sholat, tahlil dan sholawat dengan gampang, apakah hal yang sama bisa terjadi pada 50 tahun ke depan. Dibeberapa daerah yang umat Islamnya minoritas, seperti di Bali, NTT dan Manado, mereka kesulitan untuk menjalankan ibadah.

“Karena itu, rahmat Allah berupa penduduk beragama Islam yang mayoritas ini harus disyukuri dengan saling bekerjasama, mendukung dan mendorong pengembangan dakwah,” katanya.

Pondok Pesantren Tegal

Sementara itu KH Syukron Makmun yang merupakan dai kawakan ini menjelaskan berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam seperti liberalisasi, sekulerisasi sampai dengan penanaman cara berfikir Barat pada umat Islam.

Liberalisasi yang dilakukan dalam rangka memperlemah iman umat Islam ini disebarkan dengan kedok modernisasi, padahal tujuannya adalah untuk membunuh umat Islam. Menurutnya, kini sudah banyak umat Islam yang mengaku memiliki pemikiran baru, padahal sebenarnya mereka hanya mentransfer dari Barat.

Pondok Pesantren Tegal

“Kini seorang ustadz tidak boleh menegur perempuan yang membuka auratnya karena ini melanggar HAM,” katanya.

Untuk melawan ini, kini LPID telah menyiapkan penerbitan sejumlah buku seperti Apakah Bid’ah Itu, Pluralisme Menuju Pemurtadan, Sekularisme Membunuh Syariat Islam, Liberalisme dan Yahudi, dan lainnya.

Acara ini diakhiri dengan musafahah atau ramah tamah diantara hadirin. Undangan juga disuguhi musik gambus ala padang pasir untuk menghibur mereka dengan lagu-lagu Islami. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pahlawan, AlaNu, Hadits Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

GP Ansor NTT Kecam Keras Pelaku Pemboman Gereja Oikomene HKBP Samarinda

Kupang, Pondok Pesantren Tegal - Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda Ansor Nusa Tenggara Tenggara Timur (NTT), mengutuk keras pelaku pemboman gereja? pada Ahad tanggal 13 Nopember 2016 sekitar pukul 10.00 wita bertempat di Gereja? Oikumene HKBP Jalan Cipto Mangun Kusumo Kelurahan Sengkotek Kecamatan Loa Janan Ilir Samarinda Kaltim.

"Kami minta kutuk keras pelaku dan bila perlu penjara seumur hidup. Sebab tindakan itu tidak berkemanusiaan, tidak berkeadalian serta benar-benar hilang dari rasa persaudaraan sesama bangsa," kata Ketua GP Ansor NTT Abdul Muis, Ahad (13/11).

GP Ansor NTT Kecam Keras Pelaku Pemboman Gereja Oikomene HKBP Samarinda (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor NTT Kecam Keras Pelaku Pemboman Gereja Oikomene HKBP Samarinda (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor NTT Kecam Keras Pelaku Pemboman Gereja Oikomene HKBP Samarinda

Menurut Muis, jika pelaku sudah ditangkap pihak berwajib, harus segera diproses secara hokum. Aparat hukum harus mampu membongkar semua sistem atau kelompok yang dianggap radikal yang memiliki strategis untuk menghancurkan kerukunan di Indonesia.

Tindakan yang dilakukan pelaku itu, kata Muis, benar-benar mencederai persendian kerukunan yang sudah dibangun sekian lama sejak Indonesia merdeka.

Pondok Pesantren Tegal

GP Ansor NTT minta penegak hukum memproses pelaku seberat-beratnya agar bisa memberikan efek jera kepada kelompok-kelompok yang berkeinginan mengganggu kebinekaan kita.

Pondok Pesantren Tegal

“Kami minta kepada Bapak Presiden Jokowi mendorong penegak hukum dan Kapolri semoga bisa menelusuri motif pemboman.”

Sementara Sekretaris GP Ansor NTT Ajhar Jowe menduga kasus pemboman di gereja Oikamene bermotif anti agama lain. “Dengan adanya aksi-aksi seperti itu perlu kita waspada. Jika ditemukan orang yang diduga, segera kita laporkan ke pihak yang berwajib.” (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Hadits, Nahdlatul Ulama, Quote Pondok Pesantren Tegal

Ali Masykur: Kepemimpinan Sekarang Cenderung Cari Untung

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Ketua Umum PP ISNU Ali Masykur Musa yang lazim disapa Cak Ali mengatakan, kepemimpinan oleh sebagian orang sekarang dijadikan alat mencari keuntungan. Suatu kepemimpinan tidak tertutup kemungkinan disalahgunakan demi kepentingan para pemodal.

Ali Masykur: Kepemimpinan Sekarang Cenderung Cari Untung (Sumber Gambar : Nu Online)
Ali Masykur: Kepemimpinan Sekarang Cenderung Cari Untung (Sumber Gambar : Nu Online)

Ali Masykur: Kepemimpinan Sekarang Cenderung Cari Untung

Pemimpin kita siapa? tanya Cak Ali kepada peserta Konbes IPPNU 2014 di Gedung PP PON Kemenpora Jakarta Timur, Jumat (28/2) petang.

“Tetapi siapa pemimpin kita kalau tidak memiliki idealisme maka ia akan melelang akses kekuasaannya,” kata Cak Ali. Ia mengajak peserta Konbes IPPNU 2014 untuk mencermati betapa besar ekplorasi minyak dan aneka tambang yang dikuasai kekuatan modal asing maupun pribadi.

Pondok Pesantren Tegal

Dari situ, pemimpinan selanjutnya menjadi rapuh. Pemimpin yang seharusnya mengajak musyawarah, justru menekan rakyat, “Seperti kepemimpinan yang pernah ada pada era sebelum reformasi,” tegas Cak Ali.

Kepemimpinan mencari untung, sambungnya Cak Ali, melahirkan sedikitnya 3 tindakan tidak terpuji. Ketiganya berupa praktik menyuap, praktik menjilat, dan “menjual diri”.

Pondok Pesantren Tegal

Sedangkan untuk menghindari itu, ia menilai seorang pemimpin besar harus diisi dengan kepemimpinan, profesionalisme, dan integritas. Dengan ketiganya, “Kontrol dan evaluasi terhadap jalannya kepemimpinan dapat dilakukan,” tandas Cak Ali sebagai narasumber seminar bertajuk “Pengaruh Proses Pendidikan dalam Membangun Karakter Kepemimpinan”. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kyai, Hadits Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Sunah Menyembelih

Segala bentuk ibadah perlu persiapan untuk kesempurnaan. Ini penting agar ibadah itu tidak dibiarkan polos tanpa aksesori dan kemasan. Padahal aksesori dan kemasan sangat diperlukan terutama sekali perihal ibadah termasuk ibadah menyembelih.

Tetapi tanpa persiapan pun hewan sembelihan halal dimakan kecuali hewan yang disembelih oleh kalangan majusi atau pemeluk agama bumi seperti Hindu dan Budha. Hewan yang disembelih oleh ahli kitab juga halal. Semua hewan sembelihan halal dimakan kecuali sembelihan yang dimaksudkan untuk selain Allah atau karena nazar.

Sunah Menyembelih (Sumber Gambar : Nu Online)
Sunah Menyembelih (Sumber Gambar : Nu Online)

Sunah Menyembelih

Persiapan itu mencakup sejumlah sunah seperti disebutkan di dalam kitab-kitab fiqih. Ulama menyebutkan sedikitnya lima hal yang dianjurkan untuk dilakukan pada penyembelihan. Syekh Abu Syuja‘ dalam Ghoyatut Taqrib mengatakan

ÙˆÙ? ستحب عÙ? د اÙ„ذبØ­ خÙ…سØ© أشÙ? اØ¡ اÙ„تسÙ…Ù? Ø© واÙ„صلاØ© على اÙ„Ù? بÙ? صلى اÙ„له عÙ„Ù? Ù‡ وسلم واستÙ‚باÙ„ اÙ„قبلة واÙ„تكبÙ? ر واÙ„دعاØ¡ باÙ„قبول

Pondok Pesantren Tegal

Ketika menyembelih, disunahkan melakukan 5 hal. Pertama, menyebut nama Allah. Kedua, mengucapkan selawat bagi Rasulullah SAW. ketiga, mengarah qiblat. Keempat, membaca takbir. Kelima, mengucap doa agar amal korbannya diterima Allah.

Sedangkan doa yang dibaca sesaat sebelum menyembelih disebut di bawah ini.

Pondok Pesantren Tegal

اÙ„لهÙ… هذÙ‡ Ù…Ù? Ùƒ وإÙ„Ù? Ùƒ فتÙ‚بÙ„

Lima sunah ini berlaku untuk penyembelihan hewan kapanpun kecuali membaca takbir dan doa. Karena keduanya merupakan kesunahan khusus bagi penyembelihan hewan qorban Idul Adlha seperti dikatakan Syekh Nawawi Banten dalam syarh Fathul Qarib, Tausyih Ibni Qasim.

Dalam Tausyih Ibni Qasim, Syekh Nawawi Banten mengatakan sunah menyembelih itu sebenarnya sembilan termasuk lima yang disebutkan di atas.

Keenam, mempertajam golok potong tidak di hadapan hewan sembelihan. Ketujuh, menjalankan dan menekan golok potong di saat memaju-mundurkan golok pada leher hewan sembelihan. Kedelelapan, membaringkan kambing pada sisi kiri tubuhnya dengan mengikat tiga kakinya kecuali kaki kanan bagian belakang. Cara ini juga berlaku bagi unta (termasuk sapi atau kerbau). Hanya saja kaki unta yang tidak diikat ialah kaki kiri bagian depan. Kesembilan, menyediakan air untuk kemungkinan minum hewan qorban yang akan disembelih. Wallahu A‘lam.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pesantren, Hadits, Syariah Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

Pentingnya Regenerasi Ulama

Klaten, Pondok Pesantren Tegal. Di antara tanda-tanda terjadinya hari kiamat, salah satunya diterangkan Nabi Muhammad SAW dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim r.a, yaitu diangkatnya ilmu dan kebodohan merajalela.

“Bukankah Allah tidak akan mengambil ilmu-ilmu dari dada-dada dan otak manusia, melainkan dengan cara mewafatkan para ulama. Dengan demikianlah Allah mengambil ilmu,” tutur Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, saat hadir di acara Forum Silaturahmi dan Dialog yang diadakan PCNU Klaten, Jawa Tengah, Kamis (15/12).

Pentingnya Regenerasi Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Pentingnya Regenerasi Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Pentingnya Regenerasi Ulama

Untuk itulah, lanjut dia, perlu adanya upaya untuk tetap menjaga agar ilmu tersebut tetap senantiasa ada, diturunkan maupun menyebar dari satu ulama ke ulama lainnya. “Maka proses regenerasi ulama menjadi sangat penting dalam tubuh NU,” lanjutnya.

Pondok Pesantren Tegal

Dalam kesempatan itu, Kiai Ma’ruf juga berpesan kepada warga Nahdliyin untuk senantiasa ikut menjaga kerukunan bangsa. Menurut Ketua Umum MUI Pusat tersebut, NU dapat menjadi kunci sebagai salah satu elemen penjaga kerukunan bangsa.

Pondok Pesantren Tegal

“NU memiliki 4 kerukunan yaitu nahdliyah, islamiyah, wathaniyah dan insaniyah. Keempat hal ini tidak bisa dipisahkan dan merupakan satu-kesatuan ataupun berat sebelah,” kata dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Hadits, Anti Hoax Pondok Pesantren Tegal

Mantan Rektor IIQ: Lanjutkan Rintisan Kiai Ali Mustafa Ya’qub

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal

Berpulangnya pakar Hadis Indonesia KH Ali Musthofa Ya’qub, Kamis (28/4) pagi, terus memantik kesedihan berbagai tokoh masyarakat dan ulama. Salah satunya pakar Tafsir yang juga Rektor Institut Ilmu Al-Quran masa bakti 2010-2014, Dr KH Ahsin Sakho Muhammad Asyrofuddin.

Mantan Rektor IIQ: Lanjutkan Rintisan Kiai Ali Mustafa Ya’qub (Sumber Gambar : Nu Online)
Mantan Rektor IIQ: Lanjutkan Rintisan Kiai Ali Mustafa Ya’qub (Sumber Gambar : Nu Online)

Mantan Rektor IIQ: Lanjutkan Rintisan Kiai Ali Mustafa Ya’qub

Menurut Kiai Ahsin, Kiai Ali Musthofa merupakan sosok yang gigih sekali dalam mencerdaskan di masyarakat melalui pembahasan hadis-hadis yang dhaif (lemah). Ini merupakan suatu usaha yang masih jarang dilakukan di Indonesia.

“Beliau selalu mengingatkan kepada masyarakat bahwa apa yang selama ini diyakini terkait amal ibadah ternyata berdasar kepada hadis palsu. Perlu kita lanjutkan apa yang dirintis beliau,” ujar Kiai Ahsin kepada Pondok Pesantren Tegal usai menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Al-Ikhlas Kementerian Agama Jln MH Thamrin Jakarta, Jumat (29/4) siang.

Rintisan Kiai Ali, lanjutnya, baik kajian hadis dari berbagai sisinya maupun pesantren Darussunnah. Kiai Ali sangat konsen di bidang ilmu hadis, sebuah rintisan yang patut diapresiasi.

Pondok Pesantren Tegal

“Beliau mengkritisi masyarakat yang cenderung lebih menekankan kepada persoalan spiritualitas pribadi tanpa melihat kepada lingkungan sekitar. Kiai Ali sedih melihat mereka yang selalu haji berkali-kali, mbok ya sebagian dananya itu untuk kepentingan fuqara’ wal masakin. Seandainya umat Islam sadar tentang itu, tentu ini patut diacungi jempol,” tuturnya.

Menurut Kiai Ahsin, upaya Kiai Ali Musthofa Ya’qub dalam mencoba mendinginkan kaum muslimin Indonesia yang mayoritas warga NU dengan kaum Wahabi juga patut diapresiasi. “Saya melihat upaya beliau ingin hubungan kedua kelompok ini menjadi cair,” ujar adik KH Husein Muhammad ini.

Bagi Kiai Ali, lanjutnya, ajaran NU dan Wahabi tidak ada perbedaan secara ushuliyyah, tapi hanya furuiyyah saja. Kiai Ali berharap hubungan warga NU dan Wahabi tidak retak hanya gegara persoalan sepele.

Pondok Pesantren Tegal

“Hal tersebut beliau lakukan dengan mengundang para tokoh, semisal Kiai Syukron Ma’mun, untuk berbicara di forum tentang bagaimana sebenarnya pandangan Wahabi dan keterkaitannya dengan para tokoh NU di sini,” ungkap doktor jebolan Universitas Ummul Quro Mekah ini.

Ditanya tentang pendapat tersebut, Kiai Ahsin mengaku sepakat dengan ijtihad Kiai Ali Musthofa ini. Pakar tafsir dan pakar hadis ini sering terlibat dalam kerja tim, misalnya saat merevisi tafsir yang diterbitkan Kementerian Agama.

“Saya dalam banyak hal sependapat dengan pemikiran beliau. Pada waktu saya ditunjuk sebagai ketua tim revisi tafsir Kemenag, beliau jadi wakil. Jadi, dalam lima tahun setiap bulannya kami kumpul di Wisma Tugu Kemenag, satu kamar dengan beliau. Tidak hanya tafsir, tapi kami juga membincang berbagai hal, mulai pesantren, kehidupan masyarakat, hingga isu-isu lainnya,” kenang Kiai Ahsin. (Musthofa Asrori/Fathoni)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kyai, Habib, Hadits Pondok Pesantren Tegal

Senin, 27 November 2017

Generasi Muda NU Harus Perkuat Diri dengan Aswaja

Lumajang, Pondok Pesantren Tegal. Generasi muda NU tidak boleh larut dalam arus globaliasi yang berpotensi menggerus budaya bangsa. Sebagai ujung tombak NU di masa depan, mereka harus mempunya jati diri dan terus memperkokoh diri dengan nilai-nilai ke-Aswajaan.

Demikian disampaikan Alissa Wahid dalam sarasehan bertajuk "Meneguhkan Aswaja dalam Bingkai Kebhinekaan" di gedung NU, Lumajang, Rabu (12/11).

Generasi Muda NU Harus Perkuat Diri dengan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Generasi Muda NU Harus Perkuat Diri dengan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Generasi Muda NU Harus Perkuat Diri dengan Aswaja

Menurut Alissa, saat ini arus globalisasi terutama di bidang informasi ? menancapkan pengaruhnya di kalangan generasi muda. "Karena itu, yang penting wajib membentengi diri dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Di situ sudah jelas bagaimana kita harus menyikapi arus globalisasi dan serangan budaya yang begitu kencang," jelasnya.

Pondok Pesantren Tegal

Ia sempat menyebut “Islam Kos-Kosan” yang dipahami sebagai umat Islam yang menjadikan agama hanya sebagai pengisi kebutuhan. Ketika butuh, diambil. Ketika tidak butuh, dibiarkan. Sama dengan orang ngekos.

Pondok Pesantren Tegal

"Karena mereka bukan pemilik rumah, cuma ngekos, maka mereka pun tidak peduli dengan kerusakan rumah yang mereka tempati. Karena sebenatar-sebentar mereka pergi dan kembali saat butuh. Orang NU jangan berperilaku agama seperti itu," ungkapnya.

Sementara itu, pembicara lain KH Asat Malik mengatakan, saat ini ajaran Aswaja diabaikan warga. Buktinya, tidak sedikit warga yang karena persoalan tertentu, saling menghujat.

"Itu bukan perilaku orang NU," tutur Kiai As’at. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Hikmah, Hadits, Kiai Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 24 November 2017

NU: Partai Politik Harus Rekrut Legislator yang Berakhlak

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, menilai beredarnya video porno yang diduga diperankan oleh anggota DPR RI, tak lepas dari kesalahan dalam proses rekrutmen legislator oleh partai politik. Di waktu mendatang aspek moral diminta disertakan dalam proses yang sama.

"Dulu rekrutmen legislator oleh partai hanya berdasarkan kemampuan menarik konstituen, entah pakai program atau pakai uang. Dulu aspek moral mungkin tidak dipertimbangkan, tapi yang akan datang ini harus menjadi pelajaran berarti. Partai politik harus bisa mencari legislator yang benar-benar berakhlak," kata Kiai Said di Jakarta, Selasa (24/4). 

NU: Partai Politik Harus Rekrut Legislator yang Berakhlak (Sumber Gambar : Nu Online)
NU: Partai Politik Harus Rekrut Legislator yang Berakhlak (Sumber Gambar : Nu Online)

NU: Partai Politik Harus Rekrut Legislator yang Berakhlak

Permintaan itu disampaikan Kiai Said untuk menjaga nama baik parlemen, yang belakangan banyak mendapatkan penilaian miring di mata masyarakat. "Ini untuk nama baik parlemen kita juga," tambahnya tegas.

Pondok Pesantren Tegal

Meski demikian Kiai Said meminta agar pembuktian atas video porno yang diduga diperankan oleh anggota DPR RI tersebut dilakukan secara berhati-hati. Masyarakat diminta tidak mudah terprovokasi dan memberikan penilaian negatif terlebih dahulu. 

Pondok Pesantren Tegal

"Kalau betul itu anggota DPR kami jelas sangat menyayangkan, yang mana negara kita sedang mengalami kemerosotan moral yang luar biasa. Tapi itu harus dicek benar-benar dulu, harus tabayyun, harus diperiksa dengan teliti apakah itu benar anggota DPR yang kabarnya sangat terkenal," urai Kiai Said. 

Mengaca pada kasus video porno yang sebelumnya juga beredar dengan pemeran anggota DPR RI, dimana pada prosesnya dilakukan  pemecatan terhadap pelakunya, langkah yang sama diminta dilakukan terhadap kasus terbaru ini. 

"Sekali lagi kalau memang itu benar ya harus dipecat. Ini untuk menjaga nama baik parlemen dan memberikan contoh ke masyarakat, bahwa tindakan-tindakan semacam itu tidak baik dan tidak dibenarkan," pungkas Kiai Said. 

Penulis: Emha Nabil Haroen

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal News, Khutbah, Hadits Pondok Pesantren Tegal