Rabu, 15 Mei 2013

KH Agoes Ali Masyhuri: Penting Berpikir Positif dan Berprasangka Baik kepada Allah

Probolinggo, Pondok Pesantren Tegal. Tidak ada orang baik tanpa masa lalu dan tidak ada orang jahat tanpa masa depan. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk memperbaiki dirinya. Oleh karena itu, belajarlah untuk selalu berpikir positif dan selalu berprasangka yang baik kepada Allah SWT.

Hal tersebut disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo KH Agoes Ali Masyhuri ketika memberikan tausiyah dalam kegiatan halal bihalal yang digelar Pemkab Probolinggo antara Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo bersama ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) di auditorium Kantor Bupati Probolinggo, Senin (3/7) siang.

KH Agoes Ali Masyhuri: Penting Berpikir Positif dan Berprasangka Baik kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Agoes Ali Masyhuri: Penting Berpikir Positif dan Berprasangka Baik kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Agoes Ali Masyhuri: Penting Berpikir Positif dan Berprasangka Baik kepada Allah

“Usahakan bergaul dengan orang-orang terbaik dan pilihan. Sikap mental dan kepribadian seseorang dipengaruhi kuat oleh pergaulan. Jangan percaya ada orang sukses tanpa dukungan sahabat-sahabatnya. Link network orang-orang terbaik dan pilihan,” katanya.

Menurut Gus Ali, kisah orang-orang sukses pasti ada wanita hebat dibaliknya (siapa ibu yang melahirkan dan siapa istri yang mendampinginya). “Bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Di balik peristiwa pasti ada hikmah. Orang yang tidak mampu berpikir positif pasti ada sesuatu yang hilang dalam dirinya,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut Gus Ali mengajak ribuan ASN untuk membaca Surat Luqman yang artinya dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong. Sesungguhnya Allah tidak senang orang yang sombong.

Pondok Pesantren Tegal

“Ada juga tafsir Ibnu Katsir yang berbunyi, jangan palingkan wajahmu. Hargai lawan bicaramu. Ciptakan suasana akrab penuh kekeluargaan. Jangan percaya orang sukses jadi pemimpin kalau komunikasinya jelek,” terangnya.

Gus Ali menerangkan bahwa prinsip dakwah adalah merangkul bukan memukul, mengobati bukan menyakiti dan mencari kawan bukan mencari lawan. Untuk berpikir positif maka kita harus senantiasa berprasangka baik kepada Allah SWT.

“Mari berfikir positif, aku bisa, aku bahagia, aku sukses, aku cerdas dan aku kaya. Insya Allah menjadi kenyataan, modalnya berpikir positif dan berbaik sangka kepada Allah SWT. Mudah-mudahan kita semua bisa sukses dengan segala kelebihan masing-masing, melengkapi bukan menjatuhkan,” pungkasnya.

Sementara Bupati Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari menerangkan bahwa selama 10 hari lamanya para ASN menikmati libur cuti lebaran dan disibukkan dengan silaturahim dengan keluarga. Oleh karena itu, hendaknya disempatkan minimal setahun sekali untuk bersilaturahim.

Pondok Pesantren Tegal

“Bekerja dan berkoordinasi dengan teman kerja satu kantor, lintas kantor dan lintas instansi tentunya kita tidak akan pernah luput dari kesalahan dan kekurangan. Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin tali silaturahim dengan semua yang mendukung dan mensupport sehingga menjadi karyawan dan karyawati serta pelayaan rakyat yang lebih baik,” terangnya.

Tantri mengharapkan agar momentum ini menjadi cambukan semangat untuk menjadi yang jauh lebih baik dan amanah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Terlebih selama selama bulan suci Ramadhan kita ditempa akhlak sehingga menjadi pelayan rakyat yang lebih baik,” pungkasnya.

Kegiatan halal bihalal ini dihadiri oleh Wakil Bupati Probolinggo H Timbul Prihanjoko, Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin dan jajaran Forkopimda Kabupaten Probolinggo, tokoh agama dan tokoh masyarakat di Kabupaten Probolinggo. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal RMI NU Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 21 April 2013

Pusat Studi Pesantren Jatim Buka Sayembara Artikel Pesantren se-Jatim

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal - Pusat Studi Pesantren (PSP) Jawa Timur mengadakan sayembara penulisan artikel pesantren? se-Jawa Timur. Sayembara ini dibuka untuk seluruh Pesantren di Jawa Timur mulai 25 September-30 Oktober 2016. Orientasi utama dari sayembara ini adalah menyorot ciri khas dari masing-masing pesantren di seluruh Jawa Timur.

Ketua panitia sayembara Fathul H Panatapraja mengatakan, acara ini sangat penting sebagai langkah publikasi menyebarluaskan gagasan inovasi dari setiap pesantren yang dibahas dalam artikel tersebut sehingga dapat menjadi inspirasi bagi pesantren-pesantren lain.

Pusat Studi Pesantren Jatim Buka Sayembara Artikel Pesantren se-Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Pusat Studi Pesantren Jatim Buka Sayembara Artikel Pesantren se-Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Pusat Studi Pesantren Jatim Buka Sayembara Artikel Pesantren se-Jatim

Pihak panitia akan memilih 20 artikel terbaik dan membukukannya serta menyebarkannya ke pesantren-pesantren di Jawa Timur. Fathul menambahkan bahwa informasi bisa dilihat melalui www.suarapesantren.net atau di email: pspjawatimur@gmail.com.

Direktur PSP Jawa Timur Ahsani Fatchur Rahman menyatakan bahwa PSP Jawa Timur merasa perlu mengadakan sayembara ini adalah semata-mata untuk turut serta memperjuangkan eksistensi dan masa depan pesantren.

Pondok Pesantren Tegal

Sementara Achmad Ubaidillah selaku Direktur Pusat Studi Pesantren sangat mendukung agenda sayembara penulisan artikel pesantren yang diselenggarakan oleh PSP Jawa Timur. “Saya sangat bangga dan mensupport agenda PSP Jawa Timur sebagai bentuk manifestasi gerakan kembali ke pesantren, pesantren harus terus kita sorot dan kita kembangkan,” ujar cicit KH Tubagus Falak Pagentongan.

Pondok Pesantren Tegal

Langkah yang sedang dilakukan PSP Jawa Timur ini akan menjadi usaha riil dari para pemuda dan santri nahdliyin yang sedang berjuang dalam wadah Pusat Studi Pesantren. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Internasional, Santri Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 20 Februari 2013

PMII Miris Situasi Nasional

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia merasa miris dengan situasi nasional dewasa ini. Terutama perilaku pemimpin negeri ini mulai eksekutif, legislatif hingga yudikatif; masih jauh dari harapan masyarakat.

PMII Miris Situasi Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Miris Situasi Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Miris Situasi Nasional

Menurut Ketua Umum Pengurus Besar PMII, Addin Jauharudin hal itu disebabkan banyak pengelola negeri ini yang tidak memiliki kapasitas, integritas, dan bahkan moralitas.

Hal itu, sambung Addin, menyebabkan masyarakat acuh terhadap partai politik, acuh terhadap hukum, “Menyebabkan konflik sosial masyarakat dan rebutan sumber daya alam.”

Pondok Pesantren Tegal

Hal itu dikatakan Addin pada pidato peringatan Hari Lahir ke-53 PMII bertema "Harmoni untuk Keutuhan NKRI" bertempat di Graha Mahbub Djunaidi Jl. Salemba Tengah No 57 A, Jakarta Pusat, pada Rabu, (17/4).

Pondok Pesantren Tegal

Addin kemudian mengimbau supaya PMII dari Sabang sampai Merauke harus merespon situasi masyarakat setempat. Harus bergerak, berkontribusi untuk bangsa Indonesia.

Ia juga mengingatkan supaya organisasi yang didirikan 17 April 1960 tersebut, jangan mengabaikan dunia akademik. Anggota PMII harus bisa menyelesaikan jenjang S1, S2, dan S3. Mengedepankan kembali kekuatan pemikiran. Dan jangan meninggalkan dunia tulis-menulis.

“Kita harus kembali ke kampus,” katanya.

Kemudian, sambung Addin, PMII harus menyumbangkan ide-ide pemikiran untuk mempertahankan keutuhan Republik Indenesia.

?

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kyai Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 20 Desember 2012

Kartanu di Jombang Kota Sukses Besar

Jombang, Pondok Pesantren Tegal. Pelaksanaan Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) di Jombang cukup menggembirakan. Bahkan untuk wilayah kota, optimis bisa melampaui target yang ditetapkan.

Kartanu di Jombang Kota Sukses Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kartanu di Jombang Kota Sukses Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kartanu di Jombang Kota Sukses Besar

Hal ini seperti hasil dari rapat evaluasi Kartanu PCNU dengan MWC NU se-Jombang, Kamis (28/3), di Aula Kantor PCNU Jombang. Bahkan strategi dan kiat khusus dari MWC NU Jombang dalam menjalankan program ini menginspirasi semua MWC NU untuk mencontoh agar bisa sukses .

Panitia Kartanu sempat dibuat khawatir terhadap upaya sebagian pihak yang ingin menggagalkan program ini. Afandi, sekretaris Panitia tidak habis mengerti dengan beredarnya informasi tersebut di salah satu harian di Jombang. “Ini harus diklarifikasi,” katanya kepada Pondok Pesantren Tegal.

Pondok Pesantren Tegal

Dalam perjalanan Kartanu yang sudah memasuki empat MWC, memang untuk Jombang kota ada peningkatan yang membanggakan.?

Pondok Pesantren Tegal

“Beberapa kali pemotretan diselenggarakan di banyak tempat,” katanya. Dan pesertanya juga lumayan besar.?

Bagi Afandi, hal ini tidak lain lantaran para pimpinan MWC NU Jombang cukup antusias. Ia mencatat, hampir di semua lokasi pemotretan, Ketua MWC NU dan sekretaris melakukan pemantauan.?

“Mereka selalu datang di lokasi pembuatan Kartanu,” kata alumnus Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum ini. Hal ini sangat berbeda dengan MWC NU yang lain.?

Karena itu, seperti dinyatakan sebelumnya bahwa kunci sukses Kartanu adalah pada antusias para pengurus untuk meyakinkan warga.?

“Apalagi khusus di Jombang, ada sejumlah rumah sakit yang bekerjasama untuk memberikan keringanan biaya kepada mereka yang memiliki kartu identitas ini,” terangnya.?

Hingga kini, jumlah warga yang memiliki Kartanu di MWC NU Jombang mencapai sebelas ribu. Dan sosialisasi untuk suksesnya kegiatan masih terus berlangsung.?

Tak heran kalau Ketua PCNU Jombang, KH Isrofil Amar memberikan perhatian khusus dan meminta kepada semua MWC NU se-Jombang yang sudah dan belum untuk mengikuti cara yang sama dari MWC NU Jombang. Kiai Isrofil mengingatkan bahwa PCNU Jombang berkewajiban mensukseskan program ini. Karena NU didirikan para masyayikh dari Jombang.?

“Maka, Kartanu di Jombang harus menjadi contoh bagi Jawa Timur,” katanya. “Dan target kita adalah mencapai angkan 400 hingga 500 ribu,” lanjutnya.

Bagi Afandi, angka tersebut memang cukup besar. “Tapi kalau pengurus bisa bergerak dan meyakinkan warga, kita sebagai panitia optimis angka lima ratus ribu dapat terlampaui,” katanya. Keberadaan panitia hanya menfasilitasi kegiatan Kartanu.?

“Yang menjadi ujung tombak adalah para pengurus, khususnya pimpinan ranting,” pungkasnya.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Humor Islam Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 02 November 2012

Kang Said: Umat Islam harus Menyatukan Dua Ukhuwah

Jakarta, NU Onlilne. Umat Islam Indonesia harus menyatukan dua ukhwah, yaitu ukhwah Islamiyah dan ukhwah wathoniyah. Ukhwah Islamiyah artinya sebuah ikatan persaudaraan yang berdasarkan iman dan akidah Islam.

Hal itu ditegaskan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada sambutan Pengukuhan Pengurus Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), sebuah lembaga gabungan 13 ormas Islam, pada Jumat, (1/6) di gedung PBNU, Jakarta.

Kang Said: Umat Islam harus Menyatukan Dua Ukhuwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Umat Islam harus Menyatukan Dua Ukhuwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Umat Islam harus Menyatukan Dua Ukhuwah

“Semua umat Islam hendaknya punya spirit persaudaraan. Apa pun madzhabnya, ormasnya, atau tempat kelahirannya,” jelas Kiai Said yang juga Ketua Umum LPOI yang baru dikukuhkan tersebut. 

Pondok Pesantren Tegal

Ukhwah Islamiyah, sambung kiai yang akrab disapa Kang Said ini, akan kokoh, ikhlas, jika tidak dibarengi kepentingan politik dan kekuasaan. Ukhwah yang betul-betul ingin membangun semangat persaudaraan sesama umat Islam. 

“Dan tidak berhenti di situ. Ukhwah Islamiyah tidak cukup. Kalau berhenti, akan eksklusif. Akan tertutup dan jumud. Malah dikhawatirkan radikal. Malah bisa-bisa ekstrem. Malah naudzubillah, jadi teroris,” tambah kiai asal Cirebon ini. 

Pondok Pesantren Tegal

Oleh karena itu, sambung Kang Said, ukhuwah Islamiyah harus paralel dengan ukhwah wathoniyah, yaitu persaudaraan sebangsa setanah air, yang berangkat dari budaya, peradaban, tradisi manusia Nusantara ini. 

“Tidak pandang agamanya apa. Kita satukan dalam bangsa Indonesia,” ujarnya.

Sebaliknya, kalau ukhwah wathoniyah saja, juga tidak cukup. Dampaknya adalah menjadi Islam abangan atau sekuler. Kedua-duanya, yaitu ukhwah Islamiyah dan wathoniyah harus bersatu dan integral. 

Redaktur: Mukafi NIam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Meme Islam, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Tegal

Senin, 10 September 2012

Pesan-pesan Mesristek Dikti untuk Para Santri

Jember, Pondok Pesantren Tegal



Mesristek Dikti RI, Muhammad Nasir memompa semangat para santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember agar terus belajar dengan rajin.?

Pesan-pesan Mesristek Dikti untuk Para Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan-pesan Mesristek Dikti untuk Para Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan-pesan Mesristek Dikti untuk Para Santri

Sebab, dengan belajar yang rajin, kelak akan menjadi orang yang bermanfaat. Bermanfaat yang sebesar-besarnya untuk umat dan kemanusiaan adalah capaian yang paling mulia dan besar.?

"Jadi, intinya adalah bermanfaat dalam posisi apa pun dan di tempat mana pun," ucapnya di hadapan ribuan santri di Masjid Baitunnur, Kompleks Nuris, Rabu (27/9) malam.

Menurut Nasir, soal pekerjaan adalah soal nomor sekian. Namun yang pasti, belajar yang rajin adalah suatu keharusan, bukan hanya karena menginginkan satu pekerjaan, tapi juga karena belajar adalah kewajiban bagi umat Islam.?

Pondok Pesantren Tegal

"Saya dulu tak pernah membayangkan akan jadi menteri, tapi karena saya belajar, akhirnya saya ditunjuk oleh Presiden Jokowi untuk jadi menteri," ungkapnya.

Ia mengaku bersyukur bisa berada di tengah-tengah santri. Dikatakannya bahwa dunia santri bagi diirinya tak asing lagi. Bahkan pertemuannya dengan santri Nuris tersebut, diakuinya telah mengingatkan memorinya sekitar 40 tahun yang lalu saat dirinya menimba ilmu di sebuah pesantren.?

"Saya dulu juga santri seperti kalian," ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Nasir juga mengetes ingatan para santri tentang bait-bait kitab Alfiyah. Ia lalu bertanya bunyi awal dan akhir bait kitab Alfiyah. Namun semua santri pada terdiam. Hingga Nasirlah yang yang melafalkan beberapa bait di awal kitab Alfiyah.?

Pondok Pesantren Tegal

"Waktu saya nyantri, saya disuruh menghafalkan kitab Imrithy dan Alfiyah," jelasnya. (aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Berita, Hikmah, Budaya Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 15 Juli 2012

NU Bali: Nahdliyin Konsisten Hormati Nyepi

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Bali menegaskan sikap warga NU yang selalu mengormati peringatan hari raya Nyepi umat Hindu di Bali.

NU Bali: Nahdliyin Konsisten Hormati Nyepi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bali: Nahdliyin Konsisten Hormati Nyepi (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Bali: Nahdliyin Konsisten Hormati Nyepi

"Kita terus konsisten bertoleransi. Tapi peringatan Nyepi kali ini, tentu tak seheboh tahun lalu," kata Ketua PWNU Bali Mulyono Setiawan saat dihubungi Pondok Pesantren Tegal, Senin (11/3) petang.

Menurut dia, peringatan Nyepi tahun baru Saka 1935 pada 2012 lalu cukup membuat sibuk tokoh agama karena jatuh pada hari Jumat. Pemerintah dan ormas Islam, termasuk NU, harus bekerja maksimal untuk mencegah kemungkinan konflik antaragama.

Pondok Pesantren Tegal

"Karena dulu berbarengan dengan shalat Jumat umat Islam, maka kita mengimbau agar tidak mengganggu perayaan Nyepi, seperti tidak menggunakan pengeras suara. Tapi sekarang tidak terlalu mengkhawatirkan" tambah pria yang akrab disapa Pak Wawan ini.

Warga NU di Pulau Dewata, sambung Setiawan, selama ini sanggup berhubungan secara haromis dengan penganut Hindu. Kerja sama antara keduanya dalam sejumlah kegiatan juga sempat dilakukan.

Pondok Pesantren Tegal

"Termasuk hubungan baik dengan pemerintah daerah, dari tingkat kabupaten hingga provinsi," papartnya.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Berita, Cerita Pondok Pesantren Tegal