Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2018

Bunyi Gamelan Penanda Sekaten Dimulai

Solo, Pondok Pesantren Tegal. Ditabuhnya gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari milik Keraton Kasunanan Surakarta, menandai dibukanya prosesi Sekaten 2014. Prosesi yang juga dikenal dengan Ungeling Gangsa Sekaten itu digelar di bangsal selatan dan utara kawasan Masjid Agung Surakarta, Selasa (7/1).

Bunyi Gamelan Penanda Sekaten Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Bunyi Gamelan Penanda Sekaten Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Bunyi Gamelan Penanda Sekaten Dimulai

Sebelumnya gamelan tersebut dikirab beserta gending-gending di halaman Masjid Agung Solo. Kirab yang menempuh rute Keraton hingga Masjid Agung Solo diakhiri dengan acara tabuhan gamelan, yang menandai dimulainya rangkaian perayaan Sekaten.

“Gamelan ini menandakan dimulainya peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw. dan yang dibunyikan itu Kyai Guntur Madu. Ini akan dibunyikan selama tujuh hari berturut-turut sampai puncaknya, Selasa mendatang,” terang KGPH Puger di sela-sela acara.

Pondok Pesantren Tegal

Menurutnya, gending yang ditabuh ialah Rambu dan Rangkung yang wajib ditabuh pada di awal. Rambu dan Rangkung itu berasal dari bahasa arab, robuna dan rakhuna yang artinya perbuatan baik dan tidak baik. “Gamelan ini ada sejak Sultan Agung atau zaman Paku Buwana (PB) IV,” jelasnya.

Wakil Pengageng Sasana Wilapa, KP Winarno Kusumo mengatakan gamelan akan dibunyikan selama tujuh hari dan hanya akan berhenti saat datang waktu salat.

Pondok Pesantren Tegal

“Dalam hajatan kali ini tidak semata sekadar gothak gathik gathuk saja, tapi setiap prosesi dilandasi dengan ajaran dan falsafah hidup mendalam dari para leluhur yang tidak bertentangan dengan ajaran agama yang ada,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ahlussunnah, Santri Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

UIM-IPNU Sulsel Gelar Uji Coba UN di Tiga Kota

Makassar, Pondok Pesantren Tegal. Dalam rangka menyambut Ujian Nasional tahun ini, Universitas Islam Makassar (UIM) bersama Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Sulawesi Selatan malaksanakan uji coba (try out) Ujian Nasional tingkat sekolah menengah atas (SMA) dan sederajat yang ada di Kota Makassar, Maros, dan Gowa.

Kegiatan yang dijadwalkan terlaksana pada 23 Maret 2014 ini tidak memungut biaya dari peserta alias gratis. Rencananya, uji coba UN akan berlangsung di kampus Universitas Islam Makassar.

UIM-IPNU Sulsel Gelar Uji Coba UN di Tiga Kota (Sumber Gambar : Nu Online)
UIM-IPNU Sulsel Gelar Uji Coba UN di Tiga Kota (Sumber Gambar : Nu Online)

UIM-IPNU Sulsel Gelar Uji Coba UN di Tiga Kota

Selasa (18/3), panitia dari IPNU telah mengadakan pertemuan dengan Rektor UIM Dr A Majdah  M Zain, Pembantu Rektor IV UIM Dr Nur Taufiq Sanusi, dan Humas UIM. Ketua Panitia Aswad didampingi Ketua IPNU Makassar Muh Nur, dan. Pertemuan tersebut membahas persiapan panitia dan teknis pelaksanaan acara.

Pondok Pesantren Tegal

“Sosoialisasi Try Out UN di beberapa sekolah di Makassar sudah dilaksanakan. Alhamdulillah banyak sekolah yang sudah konfirmasi untuk  mengutus siswanya hadir pada kegiatan tersebut”, ungkap Aswad. Kegiatan ini merupakan latihan menjawab soal bagi siswa mematangkan persiapan dalam menghadapi Ujian Nasional nanti.

Pondok Pesantren Tegal

Rencananya, kegitan tersebut akan dihadiri Rektor Universitas Islam Makassar, Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulsel, Ketua  Tanfidziah PWNU Sulsel, dan Ketua PW IPNU Sulsel. Peserta ujian juga akan dihibur oleh grup musik “Launun”, serta hiburan-hiburan lainnya. Kegiatan ini bekerja sama dengan Bimbingan belajar JILC dan Staedtler. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nasional, Santri, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Ulama Aswaja di Lombok Akhir Abad Ke-19

Ada tiga argumen dari konstruksi kolonial mengenai jaringan ulama. Pertama, menempatkan sentralnya jaringan ulama Jawa (Nusantara) akhir Abad-19 Masehi di Haramain (Mekkah) tanpa menghubungkannya dengan dinamika keislaman di Nusantara pada abad-abad sebelumnya.

Kedua, jaringan ini dianggap sebagai asal-muasal tumbuhnya benih keulamaan dan atau kesarjanaan Islam di Indonesia, karena sebelumnya belum ada. Ketiga, jaringan yang muncul menjelang abad ke-20 ini dianggap sebagai titik-berangkat dari “Islam yang benar”, yakni Islam yang mengoreksi jenis ‘Islam abu-abu” atau Islam-sinkretik.

Ketiga argumen dari konstruksi kolonial tentang jaringan ulama Jawa akhir abad-19 di Haramain memiliki cacat zahir. Misalnya, masifnya arus perjalanan dari Nusantara ke Tanah Suci pada awal abad-19 tidak semata dipicu oleh semangat menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama, tetapi lebih pada sebab menguatnya politik pengawasan kolonial terhadap jaringan ulama di Nusantara. Seperti dimaklumi, sejak abad-16 Masehi akhir, Kolonial Belanda telah mengawasi, mempersempit gerak, dan membasmi jaringan tarekat beserta ajaran tasawufnya untuk menekan militansi dan kuantitas perlawanan pribumi.

Keberadaan jaringan ulama Jawa akhir Abad-19 itu faktual, tetapi harus ditempatkan dalam konteks yang lebih jernih, tidak dalam konteks yang diinginkan oleh kaum kolonial. Bagaimanapun, ulama-ulama Jawa yang mukim di Tanah Suci pada masa itu tetap menjalin hubungan dengan jaringan mereka di tanah air. Produk jaringan ini melahirkan beragam kelompok Islam yang tumbuh di Indonesia sampai saat ini, terutama kelompok tradisional dan kelompok pembaruan (saya tidak memakai istilah modernis di sini).

Ulama Aswaja di Lombok Akhir Abad Ke-19 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Aswaja di Lombok Akhir Abad Ke-19 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Aswaja di Lombok Akhir Abad Ke-19

Banyak perbedaan antara kelompok tradisional dan pembaharuan, tetapi yang paling inti dan sederhana adalah perbedaan soal menerima tasawuf dan tarekat. Mereka yang tradisiona itu disebut juga “Aswaja Nahdliyah”, karena mempertahankan tradisi bersanad, baik fiqih, tauhid maupun tasawuf, serta memberi ruang bagi Islam yang didialogkan dengan kebutuhan tanah air dan budayanya. Sementara mereka yang pro pembaruan menolak tasawuf dan negoisasi dengan corak kultural, serta lebih berorientasi  pada politik transnasional.

Jaringan Keulamaan di Lombok

Pondok Pesantren Tegal

Pulau Lombok atau dulu disebut sebagai bagian dari Sunda Kecil memiliki senerai panjang jaringan keulamaan sebelum lahirnya organisasi (jamiaah) keislaman seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Satu buktinya, hampir seluruh tuan guru di Lombok hari ini mengaitkan kekerabatannya dengan trah kebangsawanan seperti Bayan, Selaparang dan Pejanggik.

Seperti dicatat Nancy Florida dalam Writing the Past, Inscribing the Future: History as Prophecy in Colonial Java  (Duke University Press, 1995), Belanda pada akhir abad-18 Masehi memisahkan pesantren-pesantren, para ulama,  dari berbagai hubungannya dengan kalangan Keraton Jawa. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan efektifitas kolonialnyanya.

Pondok Pesantren Tegal

Artinya, ketika para tuan guru dan kiai menghubungkan diri dengan trah bangasawan, hal itu menunjukkan bahwa di Lombok ada juga tradisi keulamaan yang sejalan dengan tradisi keulamaan di Jawa dan tempat lainnya. Para ulama adalah  keluarga bangsawan dan pesantren adalah tempat pendidikan bagi para  bangsawan.

Terkait tradisi keulamaan di pulau Lombok, perlu juga saya jelaskan sedikit di sini, bahwa nama Bayan di kaki Gunung Rinjani adalah nama trah atau pam keluarga bangaswan yang terhitung tua dari sejak awal zaman Majapahit, dan diperkirakan sudah memeluk Islam. Muasal trah Bayan ini dari desa Tingkir, di kabupaten Boyolali, Jawa Tengah hari ini. Keluarga Bayan ini sangat dihormati pada zaman Majapahit sehingga salah satu tokohnya,yakni Raden Sengara atau Pangeran Andayaningrat menikah dengan Ratu Pembayun binti Ratu Murdaningrum (istri dari Brawijaya V dan sepupun Sunan Ampel Denta).

Bayan adalah keluarga bangsawan cum ulama. Keluarga Bayan berjejaring secara kekerabatan dan keulamaan dengan  Arya Wiraraja (Lumajang),Syekh Siti Jenar, Sunan Kali Jaga, dan Sunan Ampel Denta sehingga ketika mereka menyebar sampai ke Lombok, trah Bayan lebih dituakan oleh dua trah bangsawan-ulama lainnya, yakni Selaparang dan Pejanggik.

Nama-nama Ulama  Aswaja

Berikut ini adalah beberapa nama ulama Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah) menjelang akhir abad ke-19 di pulau Lombok:

Pertama, dari berbagai hagiografi dan catatan terkait dengan sosok Syekh Muhyi Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat, bahwa beliau lahir pada kisaran tahun 1650 Masehi di Mataram, Lombok dari seorang ayah bernama Lebe Werto-Kusuma yang keturunan Ratu Galuh, Jawa Barat. Sebutan “lebe” adalah sebutan umum di Lombok kepada seorang ulama sebelum ada istilah tuan guru seperti hari ini. Misalnya, masyarakat Sasak mengenal Lebe Walandana, seorang dipercaya sebagai sosok wali keramat yang meninggalkan jejak di sisi barat pantai Lombok Barat. Bahkan sampai tahun 1980-an, beberapa tuan guru masih disebut sebagai “menak-lebe” atau priyayi-ageng dalam bahasa Jawanya.

Syekh Muhyi yang dikenal sebagai penyebar ajaran martabat tujuh di Jawa menghabiskan waktu kecil dan remaja di Mataram, sebelum akhirnya ke Gresik, Jawa Timur, dan kemudian melanjutkan perjalanan keilmuwannya ke Aceh. Syekh Muhyi diinisiasi dalam sejumlah tarekat oleh gurunya, Syaikh Abdul Rauf bin Ali al-Jawi al-Singkili al-Fansuri (lahir 1615 Masehi),  seorang ulama sufi kedua setelah generasi Syekh Hamzah Fansuri di Sumatera, dan dikenal sebagai ulama yang sangat alim dan keramat. Setelah dari Aceh, Syekh Muhyi ke Cirebon dan kemudian menetap di Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat. Karena tingginya pencapaian keulamaannya, Syekh Muhyi dikenal sebagai Wali Kesepuluh di Jawa.

Kedua, dalam buku Ajaran Tarekat Naqsyabandiyah karangan H.M Nursiah, yang dicetak oleh percetakan Bintang Timor, Pancor, Lombok Timur,tahun 1995 disebutakan sosok bernama Raden Kurani dari trah Selaparang yang pernah belajar kepada Syekh Yusuf Al-Makassari di Banten. Maklum pada akhir 1600-an ulama keturunan bangsawan Makassar ini berkalaborasi dengan dengan Sultan Ageng Tirtayasa (1650-1695 M) dari kesultanan Banten melawaan VOC Belanda. Nama  “Kurani” adalah pemberian Syekh Yusuf, nama yang diambil dari nama guru Syekh Yusuf di Haramain, yakni Syekh Ibrahim Al-Kurani, seorang ulama Kurdi yang sangat berpengaruh di Tanah Suci pada akhir abad-17 Masehi.

Raden Kurani kembali ke tlatah Lombok saat memuncaknya perlawan sultan Banten terhadap VOC Belanda. Disebutkan, bahwa tokoh ini termasuk generasi awal yang membawa ajaran martabat tujuh dengan penjelasan yang merujuk kepada kitab Tuhfatul Mursalah karya Syekh Burhanapuri, yang nantinya diberikan penjelasan panjang (syarah) oleh Syekh Ibrahim al-Kurani dalam kitab  Ithafud Dzaaki, ke pulau Lombok. Bukan ajaran martabat tujuh versi loka ala Sunan Kali Jaga, walaupun keduanya memiliki banyak persamaan.

Dalam catatan lain, Raden Kurani ini merupakan salah satu dari empat putera Raden Kautan Mundur dari Selaparang, Lombok Timur. Urutan adik-kakaknya sebagai berikut: Wirabangse, Putra Sari, Kurani, dan Nanglung Baya. Dalam catatan itu disebutkan pula, bahwa kakek Raden Kurani bernama Kyai Aji  memiliki bersambung sanad keilmuwannya dengan Syekh Syamsuddin Sumatrani, seorang pelanjut ajaran Wujudiyah Syekh Hamzah Fansuri di Aceh. Syekh Syamsudin Sumatrani dikenal memiliki banyak karya, seperti Jauharul Haqaiq, Risalah Tubayyin Mulahdzhaatil Muwahiddin fi Dzikrillah, Syarah Rubai Hamzah Fansuri, dan lainnya.

Ketiga, berbeda dengan dua sosok sebelumnya, di Desa Sekarbela, Karang Pule, Mataram, terdapat sosok ulama yang sangat alim dan keramat bernama Tuan Guru Mustafa Kamal. Diperkirakan lahir pada pertengahan 1700-an, Tuan Guru Mustafa Kamal adalah tokoh yang berperan penting dalam membentuk Desa Sekarbela sebagai salah satu desa dengan tradisi kepesantrenan yang sangat kuat, dan menurunkan ulama Aswaja sampai hari ini. Sekarbela yang dikenal sebagai salah pusat kerajinan dan perdagangan perhiasan memiliki tradisi ilmu alat (nahwu-sharaf dan balaghah) dan fiqih yang sangat disegani di pulau Lombok sampai detik ini.

Tiga ulama ini yang bisa disebutkan sebagai generasi ulama Aswaja menjelang akhir abad ke-19 di pulau Lombok. Selain ketiganya terdapat beberapa ulama lainnya, tetapi tiga sosok ini dipilih karena lebih untuk membuktikan adanya jaringan keulamaan Nusantara sebelum akhir abad-19 Masehi. Wallahul ‘alam bishawab.

Hasan Basri Marwah, pengurus Lesbumi PBNU, penulis, serta pegiat dan pemerhati budaya. S2 Cultural Studies di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Berasal dari Mataram Nusa Tenggara Barat dan kini menetap di Yogyakarta. Tulisan ini dipublikasikan ulang dari alif.id. Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Santri Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Menggagas IPNU Sebagai Sistem Mutu

Oleh Ahmad Munir Chobirun

Dalam 1-2 dekade ke depan, Indonesia diprediksi maju pesat dalam arus permodalan terutama bidang industri, jasa dan perdagangan. Arus modal negara maju mulai bergerak ke wilayah-wilayah negara berkembang. Arus modal yang besar ini menuntut kesiapan generasi muda yang matang dan cerdas, agar dapat bersaing secara kompetitif, menggarap arus permodalan tanpa menghilangkan jati diri serta kemandirian sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.

30 – 40 juta warga negara yang menyandang identitas Nahdiyyin ini bukan garapan kecil. Ini merupakan warga mayoritas dengan taraf kehidupan menengah ke bawah. Garis taraf mesti dilentingkan, juga kita lenturkan agar dapat bergerak leluasa menuju kemandirian jamiyyah dan kemakmuran jamaah. Prasyarat menuju kemakmuran dan kemandirian yang kuat itu, terletak pada kekuatan sumber daya manusia dalam mengelola jamiyyah.

Menggagas IPNU Sebagai Sistem Mutu (Sumber Gambar : Nu Online)
Menggagas IPNU Sebagai Sistem Mutu (Sumber Gambar : Nu Online)

Menggagas IPNU Sebagai Sistem Mutu

Harapan menjadikan IPNU sebagai sistem kaderisasi matang guna menyiapkan Indonesia mendatang merupakan peran kita semua. Pada saat yang sama, IPNU perlu bekerja keras membangun kadernya. Guna menghadapi persoalan kemandirian di tubuh NU. Warga NU, umumnya petani kadang tidak berdaya di banyak sektor, sehingga kurang mampu menopang kemandirian jamaah. Disisi ini, NU jelas dihadapkan pada pilihan-pilihan pragmatis untuk bertahan pada kemandirian yang substansial.

Bertahan dan mengandalkan institusi formal dalam membangun dunia pendidikan kita, sama dengan berpangku tangan mengharap kesejahteraan dan kemakmuran. Tidak ada analogi lagi untuk menggambarkan betapa sistem yang dibangun tidak dapat diandalkan sama sekali untuk membangun kemandirian dunia pendidikan kita. Maka IPNU masih menjadi alternatif dan jembatan pembangunan yang paling penting bagi pelajar NU. IPNU tidak berpotensi mengambil bagian dalam kebijakan pendanaan anggaran pendidikan, tapi IPNU harus memastikan bahwa anggaran pendidikan sampai ke tangan yang berhak, agar jaminan mutu pendidikan di Indonesia dapat berlangsung tanpa ketimpangan yang berarti.

Oleh karena itu, satu hal terpenting untuk dijadikan pegangan dalam pengelolaan organisasi di setiap tingkatan adalah kemapanan “sistem”. Salah satunya sistem di IPNU sebagai organisasi kader. IPNU bukan tanpa peran dalam kontekk kemajuan ke depan. IPNU bisa menjadi pilar yang menjadi jembatan penting bagi kemajuan dan pembangunan.

Paradigma Sempit

Pondok Pesantren Tegal

Tidak sedikit dari pengurus maupun anggota organisasi kita yang terjebak pada paradigma sempit bahwa organisasi ini tercipta untuk melahirkan tokoh atau semacam pejabat politik. Seolah proses ini menjadi puncak keberhasilan dari proses kaderisasi yang mereka jalani. Pandangan sempit ini hendaknya mendapat kritik keras, mengingat konteks yang substansial tidak menghendaki IPNU menjadi organisasi yang demikian. Jika paradigma ini terus berkembang ke arah demikian, organisasi benar-benar tumpul dan tidak akan mampu memberikan sumbangan brilian bagi kemajuan bangsa.

Sebelum berikhtiar memperbaiki dan mencintai organisasi dalam wujud supporting system kepengurusan atau pelaksana program. Hendaknya perlu ditilik sejauh mana peran evaluator dalam memandang IPNU sebagai organisasi. Sudahkah evaluator memerankan peran sebagai pengkritik agar organisasi tidak terjebak dalam sistem lama di atas, atau bahkan memandang organisasi dari kacamata kuda yang sempit, linier dan parsial.

Hasilnya IPNU akan bergerak bagai kuda, yang tergantung nahkodanya. Apakah IPNU tetap dalam rel kaderisasi atau berkembang menjadi organisasi perahan yang tidak mampu menelorkan ide dan gagasan brilian untuk membangun wadah yang kuat bagi jamiyyah dan jamaah. Jawabannya tergantung kader dan anggota, ke mana IPNU harus bergerak?

Evaluasi Input

Pondok Pesantren Tegal

Sejauh ini, harapan dan capaian yang kita inginkan cukup besar, dalam berbagai ranah/bidang garapan. Tidak sedikit energi IPNU tersebar dalam berbagai ide kreatif, yang tidak membentuk satu sistem yang mapan. Pada proses input ini, IPNU tidak lagi relevan menjadi organisasi yang tidak open mind terhadap perkembangan di luar.

Jika ditilik faktanya saat ini, basis kemandirian IPNU di level ranting, anak cabang dan cabang hampir dipastikan tidak ada yang bergerak dengan arus modal. Semua instrument dikembangkan dengan ketulusan dan keikhlasan. Tidak berwujud dalam sebuah sistem yang mapan. Memang instrument mapan itu tidak perlu dikembangkan pada level ranting, cukup pada level cabang. Akan tetapi, kemandirian itu mutlak diperlukan, guna menjamin IPNU memiliki kader dengan kualitas mental dan kemandirian yang tinggi.

Warga Nahdiyin jelas akan mendukung setiap sistem yang dikembangkan. Dengan syarat, IPNU perlu inovatif mengumpulkan donasi untuk kepentingan kaderisasi dan pengembangan bakat siswa yang kurang berada. IPNU akan dilirik jika mampu memberikan beasiswa PANTAS pada setiap jenjang pendidikan. IPNU wajib memberikan dorongan pada siswa berprestasi dari sekolah ma’arif untuk melanjutkan studi.

Evaluasi Proses

Beberapa proses yang dijalani IPNU sebagai organisasi kolektif, ternyata melahirkan tokoh yang tidak kolektif. Pada proses zigoting leadership, kepemimpinan lebih lahir dari proses garis keturunan kyai dan keluarga pesantren yang lain. Padahal kepemimpinan kolektif hendaknya melahirkan kepemimpinan dari sebuah sistem, yang dibangun atas dasar kesepahaman dan kesepakatan kuat antar anggota.

Situasi semacam ini menunjukkan bahwa proses kaderisasi untuk melahirkan kepemimpinan didominasi oleh wacana dan gagasan lama. Maka karakter yang lemah justru terletak pada kemampuan organisasi sendiri melahirkan kepemimpinan kolektif, yang lahir dari sistem kaderisasi, agar kepemimpinan di level IPNU teruji untuk mengisi pos-pos strategis NU dan banom lainnya.

Evaluasi Output

Ukuran terakhir dari input  dan proses adalah output. Ini merupakan ukuran yang terlihat. Dengan kuantitas jamaah terbesar di Indonesia, maka NU membutuhkan jumlah doktor yang setara untuk memastikan SDM yang berkualitas tersedia, sebagai ukuran riil tentang kualitas SDM.

IPNU dalam konteks ini tidak bisa lepas, selain menyiapkan kadernya menuju pada jenjang pendidikan-pendidikan yang lebih tinggi. Baik formal maupun non-formal. Semuanya perlu dipersiapkan dengan instrument yang baik. Jika diperlukan IPNU mempersiapkan sistem sendiri dengan kemandirian total, agar gagasan dan ide-ide brilian dapat dikembangkan tanpa menunggu sentuhan dari pemerintah.

IPNU sebagai Sistem

Sebagai sebuah sistem, IPNU perlu membuat standar mutu kaderisasi. Standar mutu yang paling baik dapat terukur dan teridentifikasi keberhasilannya, serta mudah dievaluasi.

Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) pada jenjang kaderisasi formal, selain nilai-nilai universal yang sudah diterjemahkan dalam AD/ART, keberhasilan MAPABA juga diukur dari instrument keberhasilan di sekolah seperti: Prestasi mampu menjadi ketua OSIS, ketua Kerohanian sekolah, Pengurus Masjid Sekolah/Kampus, Peserta Lomba/Tingkat Kabupaten.

Demikian juga, output dari peserta latihan kader muda (Lakmud), kader Lakmud sudah mampu menjadi pembicara seminar tingkat kabupaten, pemimpin aksi pelajar sadar membaca, ketua dewan ambalan dan segudang peran lainnya.

Demikian juga kader Lakut, harus sudah menyiapkan diri memilih Universitas Unggulan pilihannya, juga sudah matang membina network dan jaringan untuk persiapan menuju dunia perguruan tinggi. Mampu mengorganisir dan membina jaringan kyai dan pesantren di tingkat lokal dan juga nasional. Puncaknya harus mempersiapkan diri menuju Universitas dan menjadi bagian dari pergerakan mahasiswa di Universitas.

Jika ketiga sistem di atas berhasil dikembangkan, tidak mustahil IPNU akan membawa perubahan besar bagi NU dan Indonesia. IPNU menjadi generasi paling depan, yang siap menyamput arus modal, dan juga industrialisasi di Indonesia 2030 mendatang. IPNU akan menjadi pemain di segala lini, tanpa gagap dan selalu memutuskan yang terbaik untuk jamiyyah dan warga NU sebagai landasan perjuangannya. IPNU akan menjadi sentrum kemajuan dan instrument pembangunan bangsa yang tangguh, yang mandiri dan bersikap moderat, yang keberadaannya benar-benar menjadi rahmat bagi alam semesta. Memastikan sistem input yang demikian adalah tanggungjawab IPNU.

Sebagai sebuah sistem IPNU harus bekerja “base on system” bukan skill individu, bukan pula trah garis keturunan. IPNU harus menjadi lahan garapan yang subur bagi tumbuhkembangnya kader, bukan justru menjadi penghambat kader dalam penggalian potensi. Hal ini bisa dimulai jika IPNU mampu mengidentifikasi kerusakan sistem yang bekerja pada dirinya saat ini. Selanjutnya menyusu instrument organisasi yang kuat agar menjadi sistem yang mempu menghasilkan kader yang berkualitas. Selamat berjuang menggarap kader menuju kemandirian.

 

Ahmad Munir Chobirun, Sekretaris Jaringan Sekolah Pimpinan Pusat IPNU

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kajian Islam, Santri, Internasional Pondok Pesantren Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Menag: Muslim yang Baik Jadi Warga Negara yang Baik

Tangerang Selatan, Pondok Pesantren Tegal. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menilai Muslim yang baik akan menjadi warga negara yang baik pula. Menurutnya, membela dan mempertahankan Tanah Air adalah bagian dari upaya menegakkan agama.

Hal ini disampaikan Menag saat menjadi pembicara kunci pada Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) di Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (21/11).

Menag: Muslim yang Baik Jadi Warga Negara yang Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Muslim yang Baik Jadi Warga Negara yang Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Muslim yang Baik Jadi Warga Negara yang Baik

Menurut Menag, Tanah Air adalah tempat warga bangsa menjalankan ajaran agama. Karenanya, relasi antara hubungan antara identitas keagamaan dan identitas kewarganegaraan tidak sepatutnya dipertentangkan.

“Membela Tanah Air dan menjaga keutuhannya merupakan kewajiban agama. Seorang Muslim yang baik pasti menjadi warga negara yang baik," tegas Lukman sebagaimana rilis yang diterima Pondok Pesantren Tegal.

Pondok Pesantren Tegal

Namun demikian, kontestasi politik, terutama dalam pemilihan umum, kata Menag, tidak jarang memunculkan masalah politik identitas primordial. Sebagian masyarakat menilai identitas primordial  seperti suku, agama, dan ras, masih memainkan peranan penting dalam politik. Dampaknya,  masyarakat terpecah dan kadang sampai muncul konflik-konflik sosial yang tidak perlu. 

"Perlu didiskusikan hubungan antara identitas keagamaan dengan identitas kewarganegaraan dalam konteks negara-bangsa," tutur Menag. 

Pondok Pesantren Tegal

Islam dalam sejarahnya memiliki pengalaman panjang dalam mengelola hubungan antara identitas keagamaan dan identitas kewarganegaraan. Kisah sukses itu bermula dari Piagam Madinah yang mengakui hak-hak kewarganegaraan bagi seluruh komponen masyarakat Madinah, terlepas dari perbedaan agama, suku dan ras.

Dengan tegas dinyatakan, “anna al-yahûd Ummah, wal muslimîn ummah” (orang Yahudi dan Muslim adalah umat dalam ikatan identitas agama masing-masing), tetapi pada saat yang sama, “annal muslimiina wal yahuuda ummah” (kaum Muslim dan Yahudi adalah satu ummah yang diikat oleh kesamaan sebagai warga negara). 

"Prinsipnya jelas, seperti kata Rasulullah, ‘lahum mâ lanâ wa `alayhim mâ `alayna’ (mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kita)," tegas Menag.

Konsep hampir serupa, kata Menag, dibuat para pendiri bangsa yang terdiri dari berbagai komponen masyarakat ini. Mereka bersepakat menetapkan Pancasila sebagai dasar dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan prinsip “Bhinneka Tunggal Ika”, dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

"Keragaman adalah keniscayaan dalam hidup, yang diciptakan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk disinergikan sehingga menghasilkan kekuatan dan kemajuan," tandasnya.

AICIS 2017 menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain: Syed Farid Alatas (National University of Singapore), Ronald A Lukens Bull (University of North Florida), Imtiyaz Yusuf (Mahidol University Thailand), Lisolette Abid (Vienna University, Austria), dan Livia Holden (Oxford University UK)

AICIS dihadiri pimpinan, guru besar, dosen dan peneliti di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Ada 25 narasumber utama (dalam dan luar negeri) dan 332 pemakalah yang akan mempresentasikan hasil kajian dan penelitiannya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kajian Sunnah, Santri Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Peluang Kerja Pengelasan Terbuka Luas di Dalam dan Luar Negeri

Bekasi, Pondok Pesantren Tegal

Kerjasama antara pemerintah dengan dunia industri dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil di dunia industri. Termasuk industri-indutri terkait teknis pengelasan yang masih membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar.

Peluang Kerja Pengelasan Terbuka Luas di Dalam dan Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Peluang Kerja Pengelasan Terbuka Luas di Dalam dan Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Peluang Kerja Pengelasan Terbuka Luas di Dalam dan Luar Negeri



"Peluang kerja di bidang teknik pengelasan masih terbuka luas. Para tenaga kerja di bidang ini dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan di dalam dan luar negeri. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong ketersediaan tenaga kerja bidang pengelasan yang terampil dan kompeten yang siap memasuki dunia kerja," kata Kepala Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Bekasi, Helmiyati Basri di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (24/8).



Pondok Pesantren Tegal

Hal tersebut diungkapkan Helmiyati saat memberikan sambutan pada pembukaan Iwatani-API/IWS Welding Contest in Indonesia 2017 Perlombaan teknik pengelasan tingkat nasional ini diselenggarakan Asosiasi Pengelasan Indonesia (API) atau Indonesian Welding Society (IWS),  Iwatani Coorporation dan Iwatani Industrial Gas Indonesia (IIG) dengan peserta yang berasal dari para pekerja dari berbagai perusahaan Jepang dan perusahaan lainnya di area Jabodetabek.



Pondok Pesantren Tegal

Kegiatan ini merupakan ajang untuk menunjukkan kemampuan para tenaga kerja Indonesia di bidang pengelasan. Kontes yang diselenggarakan di BBPLK Bekasi ini adalah penyelenggaraan kedua kalinya, setelah sebelumnya diselenggarakan pada tahun 2016.



Helmiaty mengatakan sinergi antara program pelatihan kerja yang diselenggarakan pemerintah dengan dunia industri sangat penting. Hal ini dibutuhkan agar link and match antar keduanya dapat tercapai. Sehingga, kebutuhan akan tenaga kerja kompeten dapat tercapai dengan maksimal.



"Keterlibatan swasta dalam mendukung program pelatihan kerja yang diselenggarakan pemerintah sangat penting untuk mengurangi kesenjangan pekerja terampil yang dialami Indonesia dewasa ini,”



"Kita berharap para tenaga kerja di bidang teknik pengelasan ini kian mampu bersaing di perusahaan-perusahaan nasional dan internasional dengan kemampuan dan keahlian mumpuni yang tidak diragukan lagi kualitasnya," paparnya.



Ditambahkan Helmiaty dengan ditunjuknya BBPLK Bekasi sebagai tuan rumah kompetisi ini diharapkan kedepannya pihak Iwatani juga dapat mensinergikan dengan program BBPLK Bekasi yang lainnya. Saat ini, BBPLK Bekasi sendiri fokus pada 2 (dua) kejuruan, yaitu elektronika dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).



Helmiyati juga menambahkan, keterlibatan BBPLK Bekasi dalam penyelenggaraan Iwatani-API/IWS Welding Contest In Indonesia 2017 merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam mendorong peningkatan kompetensi anak bangsa.



"Indonesia saat ini kekurangan tenaga kerja terampil. Pada tahun 2030 Indonesia diprediksi akan menempati posisi ke-7 negara ekonomi terbesar di dunia dengan kebutuhan tenaga kerja terampil berkisar 113 juta. Sedangkan pada tahun 2016 Indonesia baru memiliki sekitar 57 juta tenaga kerja terampil. Hal ini berarti Indonesia harus menciptakan 4 juta tenaga kerja terampil setiap tahunnya." kata Helmiyati mengutip arahan Presiden Jokowi.



Untuk mempercepat peningkatan kompetensi pekerja, Kemnaker melakukan terobosan melalui program 3R BLK (Revitalisasi, Reorientasi, dan Rebranding) di  Balai Latihan Kerja. Saat ini terdapat 301 BLK di seluruh Indonesia dimana 17 diantaranya milik pemerintah pusat, dan sisanya milik pemerintah daerah tingkat provinsi, Kabupaten/Kota.



Ketiga Balai Latihan Kerja yaitu BBPLK Bekasi, BBPLK Serang, dan BBPLK Bandung Bekasi, dipilih sebagai pusat pengembangan program tahap pertama. BBPLK Bekasi akan dijadikan sebagai pusat pengembangan kejuruan elektronika dan teknologi informasi. BBPLK Serang ditunjuk sebagai pusat pengembangan kejuruan las dan listrik. Sementara BBPLK Bandung sebagai pusat pengembangan kejuruan manufaktur dan otomotif. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Anti Hoax, Santri Pondok Pesantren Tegal

Senin, 25 Desember 2017

MWCNU Compreng Segera Miliki Sekretariat Permanen

Subang, Pondok Pesantren Tegal

Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Compreng Kabupaten Subang akan segera memiliki sekretariat permanen.

MWCNU Compreng Segera Miliki Sekretariat Permanen (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Compreng Segera Miliki Sekretariat Permanen (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Compreng Segera Miliki Sekretariat Permanen

Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua MWC NU Compreng, Tata Casmita usai penyelenggaraan Halal Bihalal dan Shilaturahmi Ulama dan Umaro yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kecamatan Compreng bekerja sama dengan MWC NU Compreng di Pendopo Kecamatan, Sabtu (22/7).

"Alhamdulillah, peletakan batu pertama sudah kita lakukan sekitar bulan Mei kemarin. Dalam momentum halal bihalal ini, kita harapkan progresnya semakin meningkat," ujar Tata yang merupakan Ketua Penyelenggara Halal Bihalal tersebut.

Pondok Pesantren Tegal

Pihaknya berharap proses konstruksi pembangunan sekretariat tersebut bisa segera direalisasikan sehingga bisa selesai pada 2018 mendatang.

"Alhamdulillah pembangunan sekretariat ini mendapatkan support dari berbagai pihak, khususnya Pemerintah Daerah Kabupaten Subang sehingga pengerjaannya bisa cepat selesai," jelasnya.

Pondok Pesantren Tegal

Camat Compreng, Deni Setiawan mendorong dan mendukung cita-cita MWC NU Kecamatan Compreng tersebut sebagai pusat kegiatan dakwah Islam di wilayahnya.

"Nantinya ini akan dijadikan sebagai pusat kegiatan keagamaan dan menjadi benteng ajaran Islam Ahlussunnah wal-Jama’ah. Dengan keikutsertaan semua kepala desa, mudah-mudahan cita masyarakat Compreng sgera terlaksana," paparnya.

Sekretariat MWC NU Kecamatan Compreng tersebut rencananya akan dibangun di lahan seluas 28 X 19 persegi. Rencananya, sekretariat yang percis berada di depan Kantor Camat Compreng tersebut akan dibangun dua lantai. Selain itu, lokasinya juga berdampingan dengan Masjid Agung Kecamatan Compreng, As-Saad. (Ade Mahmudin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pemurnian Aqidah, Fragmen, Santri Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

GP Ansor Jatim Nilai Tepat Pemerintah Bubarkan HTI

Surabaya, Pondok Pesantren Tegal. Pemerintah memutuskan membubarkan dan melarang kegiatan yang dilakukan oleh organisasi kemasyarakatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan, kegiatan HTI terindikasi kuat bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, sebagaimana diatur dalam UU Ormas.

"Mencermati pertimbangan itu, maka pemerintah perlu ambil langkah tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat memberikan keterangan pers di Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Senin (8/5/2017).

GP Ansor Jatim Nilai Tepat Pemerintah Bubarkan HTI (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jatim Nilai Tepat Pemerintah Bubarkan HTI (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jatim Nilai Tepat Pemerintah Bubarkan HTI

Wiranto juga menyebut bahwa keberadaan HTI secara nyata menimbulkan benturan di masyarakat dan membahayakan keutuhan bangsa Indonesia.

Tindakan tegas Pemerintah yang membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), diapresiasi Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur.

Pondok Pesantren Tegal

"Keluarga besar GP Ansor Jatim mendukung Pemerintah Republik Indonesia untuk membubarkan HTI karena itu langkah yang tepat dan konstitusional," jelas Ketua PW GP Ansor Jatim H Rudi Tri Wahid melalui siaran pers.

Menurut dia, HTI ini jelas adalah organisasi makar yang tidak mengakui dan menolak Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 sebagai ideologi bangsa dan konstitusi RI.?

“Keberadaan HTI jelas mengancam keutuhan NKRI dan memecah belah generasi anak negeri," katanya usai menyimak pernyataan Pemerintah saat Rapat Pleno PW GP Ansor Jatim, Senin (08/5).

PW GP Ansor Jatim juga mengimbau kader Ansor dan Banser agar segera mengambil langkah-langkah inisiatif cepat untuk mengawal sikap resmi Pemerintah yang telah membubarkan HTI dan aktif membangun suatu gerakan penyadaran bagi keutuhan bangsa dan negara dengan jangkauan sosial yang luas melibatkan semua elemen masyarakat setelah perintah secara resmi membubarkan HTI.

GP Ansor, kata dia, harus mengembangkan makna kehadirannya lebih dari sekadar perwujudan aktivisme Islam, tapi juga aktivisme kebangsaan dan kemanusiaan, menuju harmoni peradaban. (Red: Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Tegal

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Santri, Kyai, Humor Islam Pondok Pesantren Tegal

Hilal Terlihat, Bulan Maulid telah Tiba

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Rukyatul Hilal atau pengamatan bulan sabit untuk penentuan awal Rabiul Awal atau bulan Maulid 1434 H, Sabtu (12/1) telah berhasil melihat hilal di sejumlah daerah, antara lain di Gresik Jawa Timur, dan Sukabumi Jawa Barat.

Di Gresik, rukyat dilakukan di Bukit Condrodipo. Laporan rukyat disampaikan oleh H M. Inwanuddin. Sementara di Sukabumi, rukyat dilakukan di Pelabuhan Ratu, antara lain KH Muhammad Anshori, KH Emoh, dan KH Masyhud.

Hilal Terlihat, Bulan Maulid telah Tiba (Sumber Gambar : Nu Online)
Hilal Terlihat, Bulan Maulid telah Tiba (Sumber Gambar : Nu Online)

Hilal Terlihat, Bulan Maulid telah Tiba

Berdasarkan data hisab dalam almanak NU, posisi hilal pada saat dilakukan rukyat, Sabtu petang memang sudah cukup tinggi, lebih 5 derajat di atas ufuk.

Pondok Pesantren Tegal

“Alhamdulillah almanak kita cocok. Kami ucapkan terimakasih kepada jajaran Lajnah Falakiyah NU di berbagai daerah yang telah menyelenggarakan rukyat,” kata KH A. Ghazalie Masroeri, dihubungi Pondok Pesantren Tegal.

Pondok Pesantren Tegal

Karena hilal telah terlihat maka tanggal 1 Rabiul Awal 1434 akan jatuh pada hari Ahad, bertepatan dengan 13 Januari 2013. Terhitung mulai Sabtu malam, umat Islam sudah berada di bulan maulid.

“Mari kita syiarkan Maulid Nabi Muhammad SAW untuk menggerakkan roda dakwah, seperti dulu dilakukan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi,” kata Kiai Ghazali.

Menurutnya, peringatan hari kelahiran baginda Nabi dan pembacaan shalawat tidak harus dilakukan pada tepat tanggal 12 Rabiul Awal, tetapi bisa dilakukan di sepanjang bulan ini.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pesantren, Makam, Santri Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 30 November 2017

Sahur Bersama Hj Sinta Nuriyah Disambut Antusias di Bojonegoro

Bojonegoro, Pondok Pesantren Tegal

Hj Sinta Nuriyah, istri mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengadakan sahur bersama di Pendopo Pemkab Bojonegoro, Kamis (30/6) dinihari. Kehadirannya mendapat sambutan antusias dari masyarakat setempat.

Sahur Bersama Hj Sinta Nuriyah Disambut Antusias di Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)
Sahur Bersama Hj Sinta Nuriyah Disambut Antusias di Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)

Sahur Bersama Hj Sinta Nuriyah Disambut Antusias di Bojonegoro

Peserta sahur bersama terdiri dari tukang becak, pemulung, petugas kebersihan, penghuni panti asuhan, santri, dan orang-orang dari lintas agama. Acara ini diselenggarakan Yayasan Puan Amal Hayati bersama Gusdurian, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Pemkab Bojonegoro, Gereja Kristen Indonesia, Gereja Katolik Santo Paulus, TITD Hok Swie Bio, PMII, KP-Lima, Pemuda Bamag, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, dan Satkorcab Banser.

"Jumlah peserta sahur bersama melebihi aspektasi yang direncanakan, dari 450 orang yang diundang hadir hingga 500 orang lebih, panitia akhirnya menyediakan makan sahur tambahan," jelas Hasan Bisri selaku ketua kegiatan.

Pondok Pesantren Tegal

Sahur bersama tersebut berlangsung khidmat dan meriah. Para peserta memenuhi ruang Pendopo Malowopati Pemkab Bojonegoro. Turut berpartisipasi tokoh lintas agama di antaranya Ketua FKUB Bojonegoro KH Alamul Huda, Pendeta Stefanus Semianta (Gereje Kristen Indonesia), Romo Antonius Yuni Wimarta (Gereja Katolik Santo Paulus), Pendeta Daiman Sinaga (Ketua Bamag), Pendeta Joko Waluyo (GPPS).

Sebelum acara sahur bersama dimulai, kegiatan diawali dengan sambutan tentang kerukunan yang disampaikan secara bergantian oleh Pendeta Stefanus Semianta dilanjutkan Romo Yuni dan diakhiri KH Alamul Huda.

Pondok Pesantren Tegal

Setibanya Ibu Shinta Nuriyah, langsung menuju ruang utama Pendopo Malowopati dan memimpin sahur bersama tersebut. "Sebagai warga negera yang baik kita harus menjaga hubungan lintas sosial, agama, ras dan golongan sebagai pilar pembangunan Indonesia dan saling menghormati antaragama," terang Bu Sinta. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Santri, Lomba, Ahlussunnah Pondok Pesantren Tegal

Senin, 20 November 2017

GP Ansor Brebes Bentuk Biro Umroh dan Haji

Brebes, Pondok Pesantren Tegal. Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Brebes membuat Biro Umroh dan Haji Ansor Banser NU (Sorbanu). Biro ini sebagai kepanjangan tangan Sorbanu Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor Jakarta. Langkah ini ditempuh mengingat banyak biro Umroh dan Haji yang abal-abal sehingga menyengsarakan umat.?

Keputusan tersebut disepakati pada rapat koordinasi (rakor) PC GP Ansor Brebes, di Gedung PC NU Brebes, Selasa (24/1/17) sore. “Alhamdulillah, kami telah membentuk biro umroh dan haji Sorbanu sekaligus pengurusnya,” ujar Ketua PC GP Ansor Brebes Ahmad Munsip, usai rakor.?

Beberapa waktu yang silam, kata Munsip, banyak sekali jamaah umroh yang terkena tipu biro abal-abal sehingga batal berangkat. Ansor memandang perlu membentuk Sorbanu untuk menolong Nahdliyin agar tidak salah arah.?

GP Ansor Brebes Bentuk Biro Umroh dan Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Brebes Bentuk Biro Umroh dan Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Brebes Bentuk Biro Umroh dan Haji

Selain itu, yang lebih penting adalah sebagai penguatan dan menjaga aqidah Ahlussunah wal-Jamaah. Sebab, banyak biro yang mencekoki jamaah sesampainya di Mekah dan Madinah dengan paham penerus Wahabi. “Sarbanu akan mengantar jamaah dari Indonesia hingga Mekah dan Madinah dengan muthowif NU,” tandasnya.

Ketua Biro, lanjut Munsip, dipercayakan kepada Kholidin yang juga Wakil Ketua PC Ansor dan Ketua PAC Ansor Songgom. Biro akan aktif mulai Februari 2017 setelah membentuk kepengurusan di 17 PAC se Kabupaten Brebes. PAC antara lain bergerak sebagai tim marketing Sorbanu. Jamaah Sorbanu, akan mendapat bimbingan langsung dari PP GP Ansor Jakarta Thowus Ainul Yakin yang biasa disapa Gus Thowus.

Ketua PC Rijalul Ansor Kabupaten Brebes Gus Faqih Maskumambang menambahkan, dalam rakor PC GP Ansor juga telah dibentuk kepanitiaan Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) yang akan di gelar pada Maret mendatang. Tiap PAC Ansor ditargetkan mengirimkan pesertanya minimal tiga personel.

Pondok Pesantren Tegal

Panitia PKL, lanjut Gus Faqih, sebagai Ketua Subhan, sekretaris Bayu Muhromin dan bendahara Misbahudin. “Dengan PKL, diharapkan kader Ansor terbentuk sifat dan sikap sebagai pemimpinan yang rahmatan lil alamin,” pungkasnya. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Kyai, Santri Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 14 November 2017

Unusia, Nanyang Foundation, dan Guangxi University Kerjasama Beasiswa

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Keinginan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk membangun sebuah universitas yang berkelas internasional disambut oleh jajaran pimpinan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) dengan melakukan penandatangannya nota kesepahaman dengan ASEAN Nanyang Foundation dan Guangxi University for Nationalities di kantor PBNU Jumat, 31 Maret 2017.

Unusia, Nanyang Foundation, dan  Guangxi University Kerjasama Beasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Unusia, Nanyang Foundation, dan Guangxi University Kerjasama Beasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Unusia, Nanyang Foundation, dan Guangxi University Kerjasama Beasiswa

Nota kesepahaman tersebut berisakan tentang pertukaran mahasiswa, dosen, dan pemberian beasiswa bagi dosen-dosen Unusia yang akan melanjutkan pendidikan level doktoral.?

ASEAN Nanyang Foundation dan Guangxi University mengajukan kerjasama dengan Unusia karena mereka tertarik dengan ajaran-ajaran Islam moderat yang diajarkan di kampus Unusia.

"Kami tertarik dengan ajaran toleransi oleh warga Nahdlatul Ulama (NU) yang kemudian juga diajarkan di kampus Unusia, untuk itu jika pihak Unusia berkenan kami akan adakan kerjasama dalam bidang pendidikan dengan Unusia" ucap Bambang Suryono, perwakilan ASEAN Nanyang Foundation di Indonesia.

Diskusi mengenai Islam moderat yang dilontarkan oleh perwakilan ASEAN Nanyang Foundation tersebut di tanggapi dengan serius oleh Muhammad Afifi, Dekan Fakultas Hukum UNUSIA.?

Pondok Pesantren Tegal

"NU secara umum dan Unusia secara khusus bukanlah organisasi yang eksklusis tetapi inklusif, artinya kita terbuka untuk semua asalkan untuk kedamaian dan tidak melanggar hukum atau konstitusi yang dianut oleh Indonesia, karena NU mempunyai tanggung jawab untuk menjaga Republik Indonesia dari perpecahan, sebab NU adalah salah satu organisasi yang ikut membangun negara Indonesia.”?

Guangxi University for Nationalities merupakan universitas di China yang didirikan pada tahun 1952 di Guangxi. Universitas ini memiliki jurusan seni, ekonomi, sampai teknik. Salah satu kelebihannya adalah adanya pusat riset etnis dan bangsa, khususnya bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Anti Hoax, Santri Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 11 November 2017

LTNNU Jatim Selenggarakan Ngaji Optimalisasi Website

Surabaya, Pondok Pesantren Tegal. Kesadaran para pimpinan pesantren dan santri untuk memanfaatkan dunia maya untuk media dakwah kian menggembirakan. Ribuan website pesantren dan madrasah serta laman yang yang menyediakan konten keislaman kian mudah ditemukan. Namun hanya sedikit yang bisa menjaga konsistensi. Kendala utama adalah soal biaya.

LTNNU Jatim Selenggarakan Ngaji Optimalisasi Website (Sumber Gambar : Nu Online)
LTNNU Jatim Selenggarakan Ngaji Optimalisasi Website (Sumber Gambar : Nu Online)

LTNNU Jatim Selenggarakan Ngaji Optimalisasi Website

"Ini juga yang menjadi catatan kami atas kian berkembangnya website berbasis agama," kata Ketua PW Lembaga Talif wan Nasyr NU Jatim, Ahmad Najib AR, Kamis (23/6) malam. Sehingga dengan tampilnya para penulis santri yang di dunia maya, maka akan semakin memberikan alternatif bacaan dan kajian terkait Islam di tanah air, lanjutnya.

Kian menjamurnya website agama tersebut ternyata tidak diimbangi dengan kemampuan untuk menjaga konsistensi. "Baik dari keajegan menjaga isi atau konten, maupun kemampuan dalam mengelola website secara baik," kata Gus Najib, sapaan akrabnya.

Karena itu, dengan menghadirkan narasumber Kiai Maruf Khozin dan Dodik Ariyanto, PW Lebaga Talif wan Nasyr NU Jatim mengajak para pegiat website dan sosial media untuk belajar mengoptimalkan peluang dan tantangan tersebut. Kegiatan ini bertemakan Tips dan Trik Mengelola Media Dakwah Online yang Populer dan Provitable.

"Bukan tidak mungkin, dengan mendengarkan dan berbagi pengalaman dari sejumlah praktisi dunia maya ini, maka pengetahuan kita terhadap internet semakin komprehensif," kata alumnus pascasarjana UIN Sunan Ampel ini.

Pondok Pesantren Tegal

Kiai Maruf Khozin dikenal sebagai tokoh muda yang mampu berdakwah di media sosial dan memanfaatkan aplikasi untuk menjembatani kelas menengah kota yang ingin mendalami agama. "Sehingga umat semakin terpandu untuk memperoleh kajian keislaman yang dapat dipertanggungjawabkan," ungkapnya.

Pada acara yang akan berlangsung Jumat sore (24/6) di ruangan Salsabila PWNU Jatim tersebut, panitia juga menghadirkan Dodik Ariyanto.. "Mas Dodik diharapkan bisa berbicara banyak terkait optimalisasi website untuk mendapatkan income bagi kesejahteraan pengelola," ungkap salah seorang pengajar di Pondok Pesantren Bayt al-Hikmah Pasuruan ini.

Gus Najib tidak dapat memungkiri bahwa banyak website islami yang hidupnya kembang kempis lantaran tidak mampu menyejahterakan pengelola. "Hal ini berakibat pada updating konten yang tidak konsisten lantaran terkendala dengan pembiayaan," katanya.

"Diharapkan lewat kegiatan ini, para peserta menemukan ? formula bagi upaya mengoptimalkan keberadaan website dan media sosial untuk kegiatan dakwah. "Sekaligus memperoleh tambahan income bagi kesejahteraan pengelolanya," tandasnya.

Pondok Pesantren Tegal

Bagi peminat dapat bergabung usai Shalat Ashar di PWNU Jatim, jalan Masjid Al-Akbar Timur, Surabaya. Kegiatan juga sebagai launching website www.halaqoh.net yang dikelola PW LTN NU Jatim dan dipungkasi buka bersama. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Quote, RMI NU, Santri Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 10 November 2017

Muslimat NU Menjaga Negara dengan Menebar Aswaja

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Nahdlatul Ulama selain dikenal dengan organisasi keagamaan, juga menjunjung tinggi nasionalisme dan kebangsaan. Oleh karenanya, bagi NU, membela negara bagian dari iman.

Muslimat NU Menjaga Negara dengan Menebar Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Menjaga Negara dengan Menebar Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Menjaga Negara dengan Menebar Aswaja

Demikian dikatakan Ketua VIII PP Muslimat NU Hj Ariza Agustina usai menutup acara Pelatihan Kader Penggerak Aswaja yang Berwawasan Kebangsaan di Hotel Bintang, Jakarta Pusat (15/8).

Menurutnya, pentingnya kegiatan seperti ini, karena merebaknya paham radikalisme, dan organisasi yang ingin mendirikan khilafah. Hal seperti itu, menurutnya, tidak sesuai dengan paham NU yang kebangsaan.

“Untuk menyebarluaskan semangat Aswaja ke seluruh masyarakat, untuk menjaga stabilitas agar kehidupan negara aman. Itu tugas NU dan Banom muslimat (juga),” kata wanita berumur 52 tahun ini.

Pondok Pesantren Tegal

Oleh karena itu, ia meminta kepada Muslimat NU DKI agar bekerja sama dengan banom-banom lain dalam mencegah paham radikalisme, khususnya mencegah radikalisme kepada remaja atau pemuda yang dikenal dengan usia mencari jati diri.

“Mulai membentengi supaya anak-anak kita cukup mempunya pemahaman (bahaya radikalsime),” katanya.

Pondok Pesantren Tegal

Selain bahaya radikalisme, ia juga berharap, melalui Muslimat NU, para ibu rumah tangga membudayakan toleransi di rumah masing-masing dan di majelsi taklim sebagai basis berkumpulnya ibu-ibu.

“Jadi membentengi rumah tangga-tangga jamaah itu membudayakan toleransi di lingkungan, dengan membudayakan toleransi, dengan sendirinya radikalsime tidak bisa masuk,” terangnya.

Menurut sekretaris PW Muslimat NU DKI Jakarta Yayah Ruchiyati, pelatihan Kader Penggerak Aswaja ini diikuti sedikitnya 150 orang.

?

Mereka terdiri dari perwakilan PP Muslimat NU, PW Muslimat NU DKI Jakarta, PC Muslimat NU se-DKI Jakarta, PW Muslimat NU Lampung, PWNU DKI Jakarta, IPNU-IPPNU DKI Jakarta, Fatayat DKI Jakarta, dan GP Ansor DKI Jakarta. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Santri, IMNU Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 07 November 2017

Ketua LD PBNU: Keterbelakangan Sosial di Jawa Barat Memprihatinkan

Bandung, Pondok Pesantren Tegal. Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU), KH Maman Imanulhaq berpandangan, saat ini urusan publik di Jawa Barat harus serius mengurusi persoalan kemanusiaan. Sebab menurutnya, pembangunan infrastruktur tidak secara otomatis berdampak pada masyarakat lapisan bawah yang dalam kategori sosial bermasalah.

 

Ketua LD PBNU: Keterbelakangan Sosial di Jawa Barat Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua LD PBNU: Keterbelakangan Sosial di Jawa Barat Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua LD PBNU: Keterbelakangan Sosial di Jawa Barat Memprihatinkan

"Politisi lebih bicara soal infrastruktur, kalangan jurnalis lebih suka mengangkat isu-isu sensasional, dan aktivis mahasiswa juga kurang sungguh-sungguh menggali problem sosial yang paling mendasar," kata Kang Maman seusai mengisi acara Halaqah Dai Cyber NU di Hotel Grand Asrilia Bandung, Sabtu (9/9).

 

Menurut kiai yang akrab dipanggil Kang Maman ini, data Badan Pusat Statitik (BPS) Jawa Barat terbaru, mengungkapkan bahwa saat ini di Jawa Barat masih terdapat 135.787 anak terlantar, 211.940 anak jalanan. Terdapat  2.592 anak nakal. Lalu terdapat 5.935 korban Narkotika. 

Pondok Pesantren Tegal

Gelandangan dan pengemis mencapai 12.252. Pengindap HIV/AIDS masih cukup tinggi karena mencapai angka 18.106. Dan mengenaskan, terdapat balita terlantar 6.587.

 

Pondok Pesantren Tegal

Kang Maman juga prihatin karena selama terdapat 4.852.520 wanita yang mengalami kerawanan sosial ekonomi. Dan lebih memprihatinkan lagi, terdapat 4.852.520 keluarga fakir miskin yang dari tahun ke tahun tak pernah menyusut.

 

"Angka-angka tersebut dari tahun ke tahun tidak berubah signifikan. Artinya negara kurang tajam dalam mengurusi persoalan-persoalan mendasar. Wajar saja kalau IPM Jawa Barat rendah karena ada masalah krusial dalam bidang sosial seperti itu. Ini belum kita bicara soal kesehatan yang rendah, partisipasi sekolah yang sangat rendah dan juga urusan Mandi, Cuci, Kakus (MCK) dan Rutilahu yang tak teratasi secara konkret," terang Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka ini.

 

Sebagai pimpinan yang menahkoadi ribuan mubalig di seluruh Indonesia, Kang Maman akan berusaha membawa spirit Islam Nusantara dalam perjuangan terhadap warga marginal. Menurutnya, masalah-masalah mendasar warga lapisan bawah itu harus menjadi agenda prioritas setiap pemerintah baik pemerintah Pusat, Wilayah maupun Pemerintah Daerah.

 

"Keterbelakangan sosial di Jawa Barat itu memprihatinkan. Islam Nusantara adalah Islam yang mengedepankan solidaritas. Karena itu urusan keberpihakan terhadap kelompok yang tidak mendapatkan keadilan harus diutamakan. Negara harus dikontrol terus agar tidak lalai mengurusi kaum fakir-miskin. Dan media massa, termasuk media sosial harus mengampanyekan problem seperti ini. Itu akan lebih produktif ketimbang mengusung berita bohong (hoaks)," terangnya. (Yusuf/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Santri, Amalan, Daerah Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 08 Oktober 2017

Santri Pacitan Pamerkan Produk Unggulnya di Hari Santri

Pacitan, Pondok Pesantren Tegal. Tidak kurang dari 20 stand milik pesantren, madrasah, kampus, dan  badan otonom Nahdlatul Ulama, dan masyarakat umum ikut meramaikan Pameran Kreatif Santri yang digelar dalam rangka merayakan Hari Santri Nasional 22 Oktober di alun-alun Pacitan. Stand ini menampilkan berbagai macam produk unggulan milik para santri dan warga NU.

Santri Pacitan Pamerkan Produk Unggulnya di Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Pacitan Pamerkan Produk Unggulnya di Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Pacitan Pamerkan Produk Unggulnya di Hari Santri

Beberapa produk unggulan dipamerkan dalam stand yang masing-masing berukuran 3×3 M itu, diantaranya baju muslim- muslimah, seragam NU, kain batik, berbagai buku bacaan, kaligrafi, aksesoris NU, poto pendiri NU dan kiai pesantren, serta aneka produk makanan.

Sejak dibuka pada Kamis sore (20/10) oleh Wakil Bupati Pacitan H Yudhi Sumbogo, stand ini ramai didatangi para pengunjung. Mereka datang dari berbagai latar belakang. 

Pengunjung juga dihibur dengan berbagai jenis penampilan santri yang berada di panggung utama acara. Selain itu, pengunjung dimanjakan pula dengan aneka jenis hidangan yang tersedia di kedai-kedai yang berdiri disisi lokasi pameran.

Stand pameran yang digelar hingga Ahad 22 Oktober besok ini, dibuka tiap hari mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WIB. 

Pondok Pesantren Tegal

Sekretaris panitia hari santri Pacitan, Gus Zaki Alwan mengatakan, pameran kreatifitas santri ini digelar sebagai sarana mempromosikan produk yang dihasilkan oleh para santri dan warga Nahdliyin Pacitan.

"Pameran ini sebagai sarana memperkuat ekonomi santri, " terangnya kepada Pondok Pesantren Tegal.

Wakil Bupati H Yudhi Sumbogo yang didaulat membuka pameran mengapresiasi pameran kreatifitas santri ini. "Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan sangat mengapresiasi pameran ini. Kami akan mendukung dan mensupport kegiatan hari santri pada tahun-tahun yang akan datang," kata Wabub.

Pondok Pesantren Tegal

Tampak hadir dalam acara pembukaan, Rais Syuriyah KH Abdullah Sadjad, Ketua PCNU KH Mahmud, Kepala Kankemenag H Nurul Huda, para kiai seperti KH Burhanuddin HB, KH Imam Faqih Sudjak, sejumlah pengurus Banom NU dan tamu undangan lainnya.

Selain pameran kreatifitas santri, pada Rabu (18/10) kemarin panitia bekerjasama dengan Forum Komunikasi Diniyah Taklimiyah (FKDT) telah menggelar Lomba Santri Madin. Dengan mempertandingkan lomba baca puisi islami, lomba pidato dan lomba kaligrafi. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Santri, Pertandingan, Tokoh Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 16 September 2017

Ini Daftar 27 Jemaah Haji Indonesia yang Wafat di Arab Saudi

Jeddah, Pondok Pesantren Tegal - Memasuki pekan ketiga kedatangan di Kota Suci Makkah dan Madinah, jemaah haji asal Indonesia yang wafat mencapai 27 orang.

Menurut data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), sebagaimana dirilis Ditjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag hingga hari Rabu (16/8/2017), jumlah jemaah wafat di Madinah sebanyak 21 orang, dan di Makkah 6 orang.

Ini Daftar 27 Jemaah Haji Indonesia yang Wafat di Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Daftar 27 Jemaah Haji Indonesia yang Wafat di Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Daftar 27 Jemaah Haji Indonesia yang Wafat di Arab Saudi

Mayoritas jemaah meninggal karena terkena serangan jantung dan gangguan pernapasan. Terakhir dilaporkan jemaah wafat sebanyak dua orang.

Pondok Pesantren Tegal

Kabar terkini, Ida Rosika P binti Maradaman HSB (78), berasal dari kloter 007 embarkasi Medan, meninggal dunia di pemondokan Makkah karena serangan jantung. Selanjutnya Razali Haka bin Abdul Karim (82), berasal dari 016 Batam, wafat di Masjid Makkah karena serangan jantung.

Sementara itu, menurut data Klinik Kesehatan Haji Indoensia (KKHI) Makkah jumah jemaah calon haji yang menjalani rawat inap di KKHI Makkah mencapai 62 orang, yang dirujuk ke Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) berjumlah 23 jemaah. Sedangkan jemaah haji yang menjalani rawat inap di KKHI Madinah 35 orang dan RSAS MAdinah 69 orang.

Pondok Pesantren Tegal

Berikut data jemaah wafat sebelumnya:

1. Diah Rialati Kasbullah Tjasuri (SOC 05), wafat 7 Agustus 2017 di RS Al Ansaar, Madinah, karena sakit pada saluran pernapasan.

2. Samidi Ciro Sentono (BTH 06), wafat 7 Agustus 2017 di RS King Fahd karena serangan jantung.

3. Mudjiono Sukibat bin Somodimedjo (SUB 08), wafat 5 Agustus 2017 pukul 10.43 WAS di hotel karena mengalami serangan jantung.

4. Supono Suseno Satari bin Suseno (SUB 07), wafat 5 Agustus 2017 jelang Salat Subuh di halaman Masjid Nabawi karena mengalami serangan jantung.

5. Amnah Hasri Husin binti Husin (MES 02), wafat 4 Agustus 2017 pukul 03.00 WAS di hotel karena serangan jantung.

6. Sarnata Sarun (JKG 05), wafat 3 Agustus 2017 pukul 20.00 di hotel karena serangan jantung.

7. Ilebbi binti Jinatta Lepu (UPG 08), wafat 3 Agustus 2017 jam 16.16 WAS di pelataran Masjid Nabawi karena serangan jantung.

8. Hadiarjo Singarejo Singaleksana Kasenet bin Singarejo Kasenet (SOC 01), wafat 3 Agustus 2017 jam 13.00 WAS di hotel karena serangan jantung.

9. Sukamto bin Sudarman Muryadi (JKS 16), wafat 3 Agustus 2017 di RS Al Anshoor, karena serangan jantung.

10. Indriyani Wahadi Wiyono (SOC 02), wafat 2 Agustus 2017 di RS Al Anshoor, karena penyakit jantung.

11. Agus Salim Mulia Siregar (MES 02), wafat 1 Agustus 2017, karena trauma pada tulang leher disebabkan terjatuh.

12. Umi Nadiroh Yunus Husen (SUB 05), wafat 31 Juli 2017 di RS Al Anshoor, karena mengalami serangan jantung.

13. Marfuah merupakan jemaah dari kloter 17 embarkasi Surabaya (SUB 17), wafat di Al Dar Hospital Madinah karena mengalami serangan jantung.

14. Engkos Kostiman bin Darya dari embarkasi JKS 6, asal Parung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, wafat di Makkah karena serangan jantung.

15. Slamet Tarni Achad (62), calon haji asal Ploso Kandang, Tulungagung, Jawa Timur, mengembuskan napas terakhir di Makkah karena gangguan saluran pencernaan.

16. Risda Yarni Muhammad Rasyid (47) dari embarkasi Batam kloter 6. Meninggal di pemondokan, Madinah.

17. Siti Aminah Janip Sain (53) jemaah haji dari kloter 11 Jakarta-Bekasi, meninggal di pemondokan, Makkah, akibat serangan jantung.

18. Imas Yuhana Misbah dari Embarkasi Jakarta-Bekasi atau JKS 3 berumur 61 tahun, wafat di Makkah karena terkena serangan jantung.

19. Ilyas Muhammad Jasa dari embarkasi Batam atau BTH 8, wafat di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) Madinah. Ilyas meninggal dunia dalam umur 64 tahun.

20. Ramlah Abdul Jalil Silalahi asal embarkasi Medan atau MES 8. Ia meninggal di pemondokan saat mengikuti rangkaian ibadah Arbain di Madinah. Ramlah meninggal di usia 69 tahun.

21. Dahlia Hanum Nasution (60), berasal dari Embarkasih Medan kloter 5 (MES 5), meninggal pada 12 Agustus 2017 di Rumah Sakit Arab Saudi akibat serangan jantung.

22. Jembar Untung Semo (61), berasal dari Embarkasih Surabaya kloter 18 (SUB 18), meninggal pada 14 Agustus 2017 di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) akibat gangguan pernafasan.

23. Suyahtri Kasmi Tohjoyo berusia 51 tahun, berasal dari Embarkasih Surabaya Kloter 7 (SUB 7). Meninggal di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) karena serangan jantung.

24. Dadang Iskandar Empan, berusia 65 tahun dan jemaah dari Jakarta kloter 35 (JKS 35). Meninggal di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) akibat serangan jantung.

25. Nasiman Mochamad Sahlan (65), dari kloter 46 Solo (SOC 46). Meninggal di pemondokan karena ada pendarahan dalam tubuhnya.

Unified Operations Center (UOC) Arab Saudi berkomitmen selalu siap menghadapi berbagai kondisi darurat. Seperti dilaporkan Arab News, Direktur Jenderal UOC di wilayah Makkah Ali Al-Ghamdi mengatakan, pihaknya beroperasi dalam lima shift untuk mengakomodasi lebih banyak panggilan dan perkiraan kenaikan dalam laporan darurat selama musim haji.

“Sistem ini berhasil selama musim haji tahun lalu,” tambahnya.

Kepala Humas di UOC, Mayor Abdullah Baghdadi, mengatakan, UOC memiliki peran kunci dalam menyatukan dan mengoordinasikan upaya sejumlah badan keamanan.

UOC biasanya menerima 45.000 panggilan setiap hari, namun angka ini meningkat menjadi 67.000 pada musim haji terakhir, tambahnya. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Aswaja, Santri, Ubudiyah Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 22 Agustus 2017

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal



Guru Besar Universitas Chuo, Profesor Hisanori Kato, menyebut Indonesia bisa dijadikan teladan sekaligus rujukan dalam memahami kebinnekaan. Sebagai negara multikultur dan multiagama, NKRI patut dicontoh Jepang.

“Karena itu mereka berpikir bahwa Indonesia adalah salah satu model bagi Jepang juga untuk menerima seseorang atau sesuatu yang berbeda,” ujar Kato kepada Pondok Pesantren Tegal usai berdiskusi tentang agama bersama sejumlah pejabat teras Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Senin (14/8).

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang

Menurut  Kato, Indonesia sudah sejak lama terbiasa menerima orang yang berbeda-beda. “Sikap orang Bali, orang Padang, orang Jawa, orang Sunda (yang bisa menerima orang lain) itu sangat penting bagi kami,” tandasnya. 

Ditanya tentang perbedaan perspektif dalam memandang agama, Kato membenarkan hal tersebut sekaligus menyayangkannya. Pada saat ini, di Jepang, agama Islam tidak begitu dihargai dan dipahami dengan baik. Karena ada banyak stereotipe dan salah paham terhadap Islam.

Pondok Pesantren Tegal

“Karena itu, saya kira anak muda seperti mereka ingin belajar banyak dan berminat belajar secara langsung ke sini, berkomunikasi dengan bapak-ibu di sini. Mereka juga akan home stay juga dengan mahasiswa di UNAS. Saya kira mereka nanti akan memiliki pengalaman luar biasa untuk memahami Indonesia dan agama Islam secara lebih mendalam,” harapnya.

Dalam diskusi, Prof Kato mengatakan pihaknya kembali membawa para mahasiswa program studi Kebijakan Publik untuk studi banding tentang kebijakan terhadap agama di lembaga riset plat merah ini. Sebagian di antara mereka ikut serta dalam kunjungan pertama setahun silam.

“Selain itu, kami ingin lebih mengenal Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia. Bagi kami, negara ini menjadi teladan dan rujukan dalam membangun peradaban dan menghargai perbedaan,” ujar Kato.

Pondok Pesantren Tegal

Selain belajar mengenai mengenai kebijakan, ia bersama 23 mahasiswanya hendak berkunjung ke SMA, ke sejumlah yayasan yang aktivitasnya mengenai agama seperti ICRP dan sejumlah perusahaan juga dan di beberapa tempatnya. “Kami akan belajar tentang Pancasila,” ujarnya.

Rombongan mahasiswa dari Universitas Chuo Jepang ini disambut langsung oleh Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Mas’ud. Turut mendampingi, Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Muharram Marzuki, Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Amsal Bachtiar dan sejumlah peneliti. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Santri, Daerah Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 14 Juli 2017

Nadzoman Urutan Juz ala Mbah Djablawi

Klaten, Pondok Pesantren Tegal. KH Ahmad Djablawi dari Pesantren Al-Manshur Popongan Tagalgondo Klaten Jawa tengah dikenal sebagai salah satu ulama Al-Quran di daerah Solo Raya. Kepergiannya menyisakan duka bagi para santri dan warga Nahdliyin daerah tersebut.

Nadzoman Urutan Juz ala Mbah Djablawi (Sumber Gambar : Nu Online)
Nadzoman Urutan Juz ala Mbah Djablawi (Sumber Gambar : Nu Online)

Nadzoman Urutan Juz ala Mbah Djablawi

Semasa hidupnya, selain mengajar mengajar para santri di pondok, Mbah Djablawi begitu sapaan para santri kepadanya, juga piawai membuat syair dalam bahasa Arab. Salah satunya syair yang berisi urutan juz-juz di dalam Al-Quran.

"Selain nadzoman urutan juz, Mbah Djablawi juga pernah membuat nadzoman urutan nama-nama surah," jelas Darmaji, santri senior Pesantren Popongan, Senin (9/2).

Pondok Pesantren Tegal

Syair nadzom juz yang terdiri dari 11 Bait tersebut, dapat dibaca di buku "Doa dan Dzikir"? cetakan Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan: Solo, 1419 H). Berikut isi nadzomannya:

Pondok Pesantren Tegal

? ? ? ? # ? ? ? ?

Hai pencari urutan juz-juz, simaklah nadzamku ini dengan irama kidung

? ? ? # ? ? ? ?

(1) Fatihah-nya al-Quran, (2) Sayaqulu, lalu (3) Tilka, setelahnya (4) Lan Tanalu

? ? ? ? # ? ? ? ?

(5) Walmuhshonatu lalu (6) La Yuhibbu, (7) Idza Sami’u, itulah urutannya

? ? ? ? ? # ? ? ? ?

Yang ke delapan (8) Law Annana, (9) Qola al Mala, (10) Wa’lamu, (11)Ya’tadziruuna, susunannya

? ? ? ? ? # ? ? ? ?

(12) Wa Ma Min Dabbatin, (13) Ubarri-u Nafsii, (14) Rubama, (15) Subhana,Mahasuci Engkau Tuhan manusia

? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?

(16) Qola Alam Aqul Laka, (17) Iqtaroba, (18) Qod Aflakha, (19) Qola Alladziina

? ? ? ? ? # ? ? ? ?

(20) Fama Kana Jawaba Qoumihi, (21) Wala Tujaadiluu, (22) Wa Man Yaqnut,saling berurut

? ? ? ? ? ? # ? ? ? ?

(23) Wama Liya La A’budul Ladzi, (24) Faman Adzlamu Ilaihi Yuroddu, (25)Fa’laman

? ? ? ? ? ? # ? ? ? ?

Lalu (26) Kha Mim, (27) Qola Fama, (28) Qod Sami’a, (29) Tabaroka, (30)‘Amma Annaba’, maka dengarlah

? ? ? ? # ? ? ? ?

Duhai Tuhan kami, dengan kedudukan Al-Quran, catatlah kami dalam golongan pemelihara Al-Quran

? ? ? ? ? # ? ? ? ?

Mudahkanlah bagi kami mudarosah kami, dan jagalah amal kami serta kuatkanlah hapalan kami

(Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Santri Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 20 Mei 2017

PBNU akan Fasilitasi Islah PPP

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil mengatakan akan memfasilitasi islah PPP jika kedua kubu antara PPP versi Djan Faridz dan PPP versi Muhammad Romahurmuzi berkeinginan untuk berdamai.

PBNU akan Fasilitasi Islah PPP (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU akan Fasilitasi Islah PPP (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU akan Fasilitasi Islah PPP

"Saya hanya ingin memfasilitasi kedua kubu, tapi keputusan tetap ada pada internal PPP," kata Said Aqil di Kantor PBNU, Jakarta, Rabu malam.

Menurutnya, islah merupakan cara terbaik untuk menyatukan partai berlambang Kabah jika memang memiliki visi dan misi yang sama demi memajukan bangsa.

Pondok Pesantren Tegal

Said Aqil mengatakan berkeinginan memfasilitasi karena berpengalaman dalam mendamaikan dua kubu yang sedang berpolemik.

"Saya dulu pernah menyatukan atau mendamaikan beberapa perseturuan di Timur Tengah dan beberapa konflik internal di Universitas Indonesia, maka dari itu saya ingin memfasilitasi PPP," katanya.

Pondok Pesantren Tegal

Ia optimis PPP bisa sampai kepada tahap islah karena partai ini memiliki amanah memajukan bangsa seperti partai-partai lainnya.

"Sudah saatnya PPP kembali bersatu dan rukun, karena kalau sudah niat damai pasti akan ada jalan," ujarnya.

Said akan secepatnya memanggil kedua kubu untuk membicarakan ke arah islah, supaya tidak terjadi masalah yang lebih besar.

Kembali kepada moral merupakan saran dari Said kepada kubu Romi dan Djan agar dipermudah menuju persatuan.

Sebelumnya kedua kubu sudah sering mengatakan akan membuka peluang untuk islah, namun hingga saat ini belum ada pembicaraan serius antar kedua pihak.

Said berharap masalah ini bisa selesai secepatnya dengan cara kekeluargaan, tanpa harus melalui jalur hukum untuk menyatukan PPP. 

Sebelumnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah menawari akan memediasi PPP kubu Djan Faridz dan kubu Romi untuk islah, namun belum ada tanggapan dari PPP Muktamar Surabaya.

"Hingga saat ini belum ada komunikasi antara saya dengan Romi, yang jelas kami menginginkan damai saja, tanpa masalah yang lain," kata Djan.

Ia berharap segera ada kepastian dalam beberapa waktu ke depan, supaya langkah menuju islah ini benar-benar bisa diwujudkan antar kedua kubu. 

"Saya sangat membuka diri dan bersedia untuk bisa menjadi penengah konflik ini, baik dari kubu Romi dan kubu Djan Faridz, apalagi telah dibentuk timnya," kata Said Aqil. 

Tim islah PPP ini telah mendapatkan Surat Keputusan dari Ketua Umum kubu Djan Faridz.

Anggota tim islah tersebut adalah Wakil Ketua Umum PPP Fernita Darwis, Nu’man Hakim (mantan wagub Jabar),Taher Saimima, Habib Muchsin Ahmad Alatas (Ketua Laskar Islam-Ketua DPP PPP), Djafar Alkatiri (Ketua DPP PPP) dan Wafi Maemoen Zubair. 

Selain itu, Said mengajak semua kubu yang diajak islah, sama-sama berniat untuk kemaslahatan umat, tanpa mengedepankan kepentingan pribadi ataupun kepentingan sesaat.

Sementara itu, Ketua Majelis Syariah Maemoen Zubair mengatakan, terjadinya islah PPP bukan hanya menjadi harapan dan keinginan pengurus-pengurus partai di seluruh tingkat, namun juga para ulama dan seluruh warga partai.

Pada pertemuan yang belangsung hingga malam hari tersebut, Maemoen Zubair berharap semoga langkah saat ini tidak hanya statemen atau pernyataan di media tapi dapat terwujud. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Santri, RMI NU Pondok Pesantren Tegal