Senin, 14 September 2015

Akhir Desember, Fatayat NU Jombang Gelar Pelatihan Dakwah

Jombang, Pondok Pesantren Tegal. Seperti bulan-bulan sebelumnya di setiap hari Jum’at akhir bulan, Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama Jombang, Jawa Timur, melalui ketua-ketua bidang mengadakan kajian dengan mendatangkan Pimpinan Anak Cabang (PAC) sebagai peserta.

Untuk bulan Desember ini, bertepatan dengan waktunya bidang dakwah menyelenggarakan pelatihan dakwah sekaligus kajian fiqih perempuan dan Aswaja di kantor PC Muslimat NU Jombang. Pada pelatihan dakwah sekaligus kajian fiqih perempuan dan Aswaja nanti akan menghadirkan Ny Mahsunah Faruq sebagai pemateri.

Akhir Desember, Fatayat NU Jombang Gelar Pelatihan Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhir Desember, Fatayat NU Jombang Gelar Pelatihan Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhir Desember, Fatayat NU Jombang Gelar Pelatihan Dakwah

“Kami berharap melalui program yang sudah dipasrahkan kepada setiap bidang ini, selain bermanfaat untuk peserta secara pribadi. juga akan disebarkan kepada pengurus lainnya di setiap kecataman,” kata Ema Umiyyatul Chusnah, ketua PC Fatayat NU Jombang.

Pondok Pesantren Tegal

Putri Wakil Bupati Jombang yang lazim dipanggil ning Ema itu juga mengatakan bahwa program bulanan yang sudah berjalan selama tiga bulan merupakan inovasi yang dilakukan PC Fatayat NU Jombang berdasarkan pengalaman periode sebelumnya.

Pondok Pesantren Tegal

“Ini masuk bulan ketiga, bulan pertama sudah dilaksanakan oleh bidang pendidikan dengan kajian tentang pola asuh anak,” kata orang nomor satu di Fatayat NU Jombang ini kepada Pondok Pesantren Tegal.

Sementara bulan kedua, mereka mengundang narasumber dari dinas kesehatan Kabupaten Jombang untuk mengisi materi tentang kosmetik yang halal dan alamiah. “Selain itu, peserta juga diberi pengetahuan tentang makanan yang sehat. Karena sebagai ibu rumah tangga harus pandai memilih dan menyajikan menu makanan yang sehat kepada anak dan keluarganya. Walaupun makanan sederhana, tapi mempunyai nilai gizi yang baik,” lanjut cucu KH Wahab Chasbullah itu.

Kegiatan rutin Fatayat Jombang yang tidak melupakan tahlilan, yasinan dan istighosah ini diikuti utusan dari seluruh kecamatan atau perwakilan PAC se-Kabupaten Jombang. “Setiap PAC haru mendelegasikan dua orang pengurus harian, dan satu orang ketua bidang sesuai materi yang dibahas pada bulan itu. Jadi jumlah keseluruhan peserta dari 21 PAC adalah 63 orang. Nanti ditambah 20an pengurus cabang,” tambah ketua fraksi PPP DPRD Jombang ini. (Romza/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Santri Pondok Pesantren Tegal

Senin, 07 September 2015

Alumni PMII NTB Usulkan KMNU jadi Banom Mahasiswa NU

Mataram, Pondok Pesantren Tegal. Terkait rencana kembalinya PMII menjadi badan otonom NU, Lalu Aksar Anshori, SP salah satu mantan Ketua Umum PC PMII kota Mataram (1993-1994) yang kini duduk menjadi ketua KPU NTB angkat bicara.

Alumni PMII NTB Usulkan KMNU jadi Banom Mahasiswa NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni PMII NTB Usulkan KMNU jadi Banom Mahasiswa NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni PMII NTB Usulkan KMNU jadi Banom Mahasiswa NU

"Sebaiknya PMII tidak menjadi banom NU, sebaiknya tetap independen, Nahdlatul Ulama sendiri belum tentu memahami karakteristik dan tipelogi gerakan mahasiswa pada setiap perguruan tinggi yang ada di seluruh Indonesia," kata Bang Aksar sapan akrabnya kepada Pondok Pesantren Tegal, Jumat pagi (03/07)

Apabila NU mau membuat banom baru di tingkat kemahasiswaan, menurutnya, maka lebih tepat NU itu mengesahkan KMNU sebagai banom NU, dan KMNU itu sendiri dinilai efektif bergerak di seluruh kampus guna menyebarkan faham ke-NU-an, yakinnya.

Pondok Pesantren Tegal

"NU sebenarnya tinggal memberikan legitimasi (mengesahkan) Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) untuk dijadikan banom yang bergerak di setiap kampus yang ada," sarannya

Dia pun mencontohkan kembali, KMNU yang saat ini ada di Perguruan Tinggi Luar Negeri, seperti yang ada di Mesir, London, Amerika, Maroko dst. Sementara PMII sendiri yang selama ini sudah berkembang dan tidak punya masalah dengan NU sebaiknya dibiarkan saja tidak menjadi banom, sebutnya.

Pondok Pesantren Tegal

Menurutnya, antara mahasiswa yang berada di perguruan tinggi ? agama dan umum, yang ada di wilayah Jawa dan luar pulau Jawa, masing-masing mereka tentu memiliki tipologi dan karakteristik yang berbeda, dan NU sendiri belum tentu memahami kondisi tersebut, kata Mantan Ketua PW Ansor ini memperkuat alasannya agar PMII tidak menjadi banom lagi

Aksar sendiri menilai sikap demikian bisa berakibat mengerdilkan kader-kader PMII yang ada di setiap perguruan tinggi, terutama perguruan tinggi kampus umum, katanya.

Dia pun mencontohkan bahwa ormas besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah selama ini belum mampu membangun gerakan banom kemahasiswaan pada setiap kampus yang ada.?

"Belum ada ormas besar di Indonesia yang mampu membangun gerakan banom kemahasiswaannya di sejumlah kampus yang ada, IMM sebagai banom kemahasiswaan milik Muhammadiyah tidak berkembang di kampus-kampus. Bahkan sekalipun di kampus milik Muhammadiyah itu sendiri," paparnya.?

"Saya cinta terhadap PMII, saya pernah dibesarkan PMII, saya pernah menjadi Ketua Umum PC PMII Mataram pada Tahun 1993-1994 lalu. Bahkan bukan saja pernah Menjadi Ketua Umum di PMII, saya juga pernah menjadi Ketua IPNU NTB dan Ketua PW GP Ansor NTB," jelasnya. ?

Kendati demikian, Aksar menyerahkan kepada kader PMII "Keputusan terakhir ada di sahabat pengurus dan PB PMII," tandasnya.

Tapi ia pun menegaskan kembali bahwa PB PMII pun tidak bisa mewakili aspirasi di bawah kecuali keputusannya (masuk atau tidak jadi banom) diambil melalu Kongres.?

Begitupun IKA PMII yang wacananya lebih cendrung PMII menjadi banom. Ia menegaskan IKA PMII juga tidak bisa menjadi acuan final karena IKA sendiri belum memiliki aturan tentang penetapan mekanisme ke mana arah PMII pada muktmar mendatang. (Hadi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ubudiyah, News Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 05 September 2015

Menakar Kesadaran Profetik Gerakan Kepemudaan

Oleh Ananta Damarjati

Tidak bisa dipungkiri, perdebatan antara agama dan sains merupakan perdebatan abadi. Kedua entitas tersebut cenderung sulit dipersatukan. Agama memaksa sains agar terikat oleh nilai, sebaliknya, sains menuntut seseorang untuk menelanjangi dirinya dari segala macam bentuk dogma sebelum memasuki gerbang “kebenaran” objektif yang diidentikan dengannya. Dalam arti lain, sains harus bebas nilai.

Menakar Kesadaran Profetik Gerakan Kepemudaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menakar Kesadaran Profetik Gerakan Kepemudaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menakar Kesadaran Profetik Gerakan Kepemudaan

Premis-premis yang diajukan filsafat barat (filsafat kritis) juga selalu meletakkan dirinya sebagai oposisi biner dari gagasan tentang wahyu agama. Sehubungan dengan itu, Kuntowijoyo dalam bukunya mengutip pendapat Roger Garaudy, bahwa filsafat barat (filsafat kritis) “tidak memuaskan, sebab terombang-ambing antara dua kubu idealis dan materialis, tanpa kesudahan. Filsafat barat (filsafat kritis) itu lahir dari pernyataan: Bagaimana pengetahuan dimungkinkan. Dia (Garaudy) menyarankan untuk mengubah pertanyaan itu menjadi: Bagaimana wahyu itu dimungkinkan.” (2006:97). Garaudy berpendapat bahwa “Filsafat barat sudah ‘membunuh’ Tuhan dan manusia”. Oleh karena itu dia menyarankan “supaya umat manusia memakai filsafat kenabian dari Islam (Garaudy, 1982:139-168) dengan mengakui wahyu” (2006:98).

Di sini dapat dipahami bahwa filsafat barat menitikberatkan epistemologi pengetahuannya melalui akal. Dan Garaudy seolah menegaskan, bahwa ada sebuah kebenaran hakiki melalui wahyu yang lebih tinggi di atas kebenaran yang diperoleh lewat akal.

Pondok Pesantren Tegal



Wahyu dalam paradigma profetik


Pondok Pesantren Tegal

Hal wahyu menjadi menarik jika diurai dalam konteks sosio-historis peradaban manusia. Di tanah Nusantarakuno (baca; Dipantara) sebelum secara simbolis identik dengan Majapahit, nenek moyang kita sudahmelakukan berbagai kegiatan sembahyang terstruktur dan metodis, atau pola asketis lain.

Bahkan, -menyitir gagasan Emha Ainun Najib- Resi atau ahli pertapaan zaman itu telah mencapai maqam tertinggi sebelum akhirnya selangkah lagi dapat mempertemukan dirinya dengan Tuhan.

Sayangnya, pertemuan itu tidak pernah terjadi jika tanpa informasi (wahyu) langsung dari Tuhan sendiri tentang siapa diri-Nya.Maka diturunkanlah oleh Tuhan secara langsung, informasi-informasi mengenai diri-Nya melalui Nabi dan Rosul-Nya, kemudian wahyu tersebut termanifestasi secara sakral menjadi teks kitab suci.

Syahdan, sejarah dan pergulatan panjang peradaban manusia tidak lantas menjadikan wahyu yang tertuang dalam Al-Qur’an kita sekarang, lapuk termakan jaman dan usang.Hal tersebut karena, paradigma profetik para Nabi dan Rosul dalam menyampaikan ajaran tauhid sampai saat ini masihdan terus ditularkan oleh para cendekiawan (pelajar, mahasiswa, pemuda)bahkan sejak wafatnya Rosul terakhir di muka bumi, Muhammad SAW 14 abad yang lalu, tidak melunturkan semangat itu.

Berkat semangat profetik yangditeruskan para cendekiawan yang bersentuhan langsung dengan Al-Qur’an dalam tataran keilmuan itu pula lah, manusia abad ini tetap memiliki kesadaran tentang adanya kesatuan esensial secara asasi antara subjek-objek, yaitu manusia-Tuhan (Ha’iri, 1994:20), dan kemudian menjadi tradisi besar spiritualitas manusia.

Berkat semangat kenabian dalam menyebar informasi yang terkandung dalam kitab suci pula, manusia secara epistemologis dapat memahami eksistensi Tuhan melalui refleksi pancaran cahaya-Nya terhadap seni, politik, agama dan jagad raya secara keseluruhan.



Aplikasi Kesadaran Profetik dalam Organisasi


Jika menilik lagi konsep ilmu sosial profetik Kuntowijoyo dan mengkontekstualisasikannya dengan peran cendekiawan sebagai suksesor dakwah Islam sejak Rasulullah SAW wafat, maka terlihat peran mereka begitu kental dalam menjaga gawang struktur transendental Al-Qur’an, baik yang berkenaan dengan muamalah ataupun ibadah mahdlah.

Dengan menjaga teksnya, menerapkan ajaran yang terkandung di dalamnya, serta mengukur relevansinya dengan realita, ritme dan progresivitas sosial masa kini tanpa mengubah strukturnya, seorang cendekiawan telah memenuhi dimensi etika profetik, karena ada tanggungjawab sosial dan kerja transformatif dalam praksisnya.

Seorang cendekiawan muda, Lafran Panepada tahun 1947 yang membuka kesadaran lebih luas tentang paradigma ini, ketika dia mengikutsertakan sejumlah orang untuk ikut bertanggungjawab atas kesadaran profetik dan mengkonsepsinya dalam bentuk organisasi. Mereka menyengajakan diri untuk terlibat dalam sejarah kemanusiaan dengan mengambil porsi besar tanggungjawab sosial dari masyarakat di Indonesia.

Pembentukan organisasi ini agaknya merupakan titik tengah, atau bahkan perkawinan gejala sosial masyarakat (modernitas, sains, sosial-budaya.dll) dengan nilai kebenaran agama. Dalam perpektif sosial profetik Kuntowijoyo, hal ini merupakan metodologi integralistik untuk mencapai peradaban kemanusiaan yang maju, serta upaya memecahkan masalah relasi antara Islam dan dunia modern yang menimbulkan ketegangan baik dengansosial, kebudayaan dan politik.

Gagasan ini bertitik tolak dari ajaran dan nilai-nilai keagamaan yang bersifat subjektif dalam arti lain menyangkut keyakinan orang per orang. Namun menurut Dawam Rahardjo, ajaran keagamaan itu khususnya di Indonesia, tidak bisa ditolak. Atau harus sedemikian rupa diakomodasi sebagaimana dilakukan oleh penguasa zaman lalu (Contoh; Sultan Agung, Sunan Kalijaga, dsb).

Pendekatan akomodasi dan objektifikasi di atas sangat penting untuk menghindari konflik-konflik yang timbul seperti yang terlihat dalam masyarakat Indonesia sekarang, serta dalam rangka mengharmoniskan hubungan agama dengan politik, seni, filsafat, sosial dan budaya.

Beruntunglah Indonesia memiliki beberapa organisasi kepemudaan yang secara tidak langsung berani mendeklarasikan dirinya sebagaiorganisasi “berkesadaran kenabian”, lalu ikut andil menyadarkan masyarakatluas, Negara, serta Pemerintah tentang berbagai isu sensitif? yang bersentuhan langsung dengan agama.

Namun, jika melihat pergerakan organisasi“profetik” kepemudaan sekarang ini, perlukah mempertanyakan lagi perihal konsistensi etika dan kesadaran profetik serta manifestasi kesadaran kenabian dalam menyoal relevansinya terhadap hal-hal yang menjadi objek kajian mereka?



Refleksi Profetisitas Gerakan Kepemudaan



Bagi Kuntowijoyo, menjalankan misi profetik harus mampu menerjemahkan tiga peran, yaitu tentang pentingnya melakukan amar ma’ruf (humanisasi), nahi munkar (liberasi) dan tu’minu billah (transendensi). Di sinilah menurut saya, gerakan kepemudaan menjadi mode komunikasi yang bertemu dengan misi dakwah –peran kenabian-, yang melahirkan organisasi dengan nilai-nilai profetik.

Secara garis besar, Kuntowijoyo berusaha menjelaskan, bahwa dengan humanisasi, manusia akan mampu menjadi manusia sejati yang menyeru pada kebaikan. Menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai individu, masyarakat dan hamba Tuhan. Sementara liberasi bertujuan memerdekaan manusia dari segala bentuk ketidakadilan yang bertentangan dengan perikemanusiaan dan akal budi manusia.

Sedangkan melalui kesadaran transendental, yaitu kesadaran lillah, billah, lirrasul, birrasul, secara langsung berdampak pada meningkatnya iman. Sehingga manusia akan mampu melakukan tugas humanisasi dan liberasi secara utuh.

Langkah Lafran Pane menginstitusionalisasi kesadaran profetiknya (yang kemudian diikuti sebagian besar organisasi lain), secara manifestasi adalah mengikutsertakan sejumlah orang untuk ikut bertanggung jawab atas “pengkonstruksian dunia”nya, karena merekalah yang berkesadaran turut membentuk dunia tersebut. Mereka sebagai bagian dari anggota masyarakat mencoba memahami dunia yang sebenarnya mereka bentuk sendiri.

Faktanya, organisasi kepemudaan yang mengusung napas agama telah mampu menjadi mesin yang mengonstruksi dunia sosial di sekitarnya. Atau memang telah didesain secara struktural untuk menyediakan calon pemimpin berkelas secara individu. Yang jelas, konstruksi sosial, kebudayaan sampai politik tidak pernah lepas dari pergerakan organisasi kepemudaan sejak awal keberadaannya di Indonesia.

Namun seiring dengan semakin tingginya posisi tawar, eksistensi dan aktualisasi diripada organisasi kepemudaan terhadap segala sendi sosial, politik dan kebudayaan kemasyarakatan kita, tidak bisa tidak, akan selalu ada potensi-potensi penyimpangan seperti korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Di satu sisi saya percaya, bahwa oganisasi kepemudaan dimanapun tidak pernah ditatar untuk melakukan KKN, baik personal, institusional maupun struktural.Tapi disisi lain, jika dilihat dari gejala sosialnya secara historis, memang nyatanya banyak anak kandung “organisasi profetik”itu yang tersandung kasus KKN.Tidak etis jika hal ini dipungkiri, karena hal itu adalah salah satu naluri personal dan institusional.

Atau boleh dikatakan, sayap kecenderungan secara politik-kebudayaan (KKN) tersebut serta merta muncul bersamaan ketika mereka sedang memperjuangkan humanisasi dan liberasi, dan dalam waktu yang bersamaan melupakan wacana transendensi.

Namun yang tak kalah penting, tidak sedikit pula anak kandung “organisasi profetik” yang mampu menerjemahkan misi transendental ketika mengidentifikasi dirinya dengan batasan-batasan, arah serta tujuan yang telah secara tegas ditatar oleh organisasinya. Anak kandung yang tidak lupa untuk senantiasa lillah, billah, lirrasul, birrasul, dalam hal apa pun.

Termasuk ketika sedang melakukan transaksi politis dengan manusia lain yang sarat kepentingan, bahkan murni seratuspersen kepentingan. Tak jarang kepentingan tersebut menyamar sebagai ideologi, eksplisit maupun implisit. Yang tak jarang pula dalam transaksi tersebut memaksa pelakunya untuk berlaku kejam.

Sejauh ini yang saya pahami dari konsep-konsep Kuntowijoyo, bahwa praksis transendental tidak hanya mampu menyerap dan mengekspresikan secara dialektis sebuah realita, tapi juga memberi arah bagi realita tersebut, serta melakukan penilaian dan kritik sosial budaya secara beradab. Sekaligus menjadi petunjuk ke arah humanisasi dan liberasi.

“Organisasi profetik” kepemudaan yang sudah menentukan bahwa batasan, arah dan tujuannya adalah sesuai dengan Al-Qur’an, seharusnya –menurut Kuntowijoyo- menjadikan Al-Qur’an pula sebagai cara berfikir. “Ia akan memberikan kerangka bagi pertumbuhan ilmupengetahuan empiris dan ilmu pengetahuan rasional yang orisinal dalam arti sesuaidengan kebutuhan pragmatis masyarakat Islam, yaitu mengaktualisasikan misinya menjadi khalifah di bumi”.

Maka sangat urgen, bagi setiap organisasi yang “berkesadaran kenabian” untuk mempertanyakan ulang misi transendensinya. Jangan sampai, dapur organisasi yang memasak dengan serius kader-kadernya, menjadi tidak berarti ketika terpajang di etalase kepemimpinan, karena telah tercemar polusi kepentingan, serta dipencloki laler kekuasaan. Sehingga lupa arah, batasan, dan tujuan dunianya, serta menjadikan pribadinya untuk cenderung bebas nilai.

Ketika hal tersebut terjadi, kita patut bertanya: Quo Vadis profetisitas organisasi kepemudaan? Quo Vadis cendekia muda, pelajar, mahasiswa, Nabi kolektif bagi masyarakat?

Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri; anggota aktif Lingkar Studi “Matakuhati” Semarang.


Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal AlaSantri, PonPes, Kyai Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 01 September 2015

Menciptakan Penulis Santri Melalui Pelatihan Jurnalistik

Yogyakarta, Pondok Pesantren Tegal. “Minimnya berita tentang NU di media massa cukup membuat kami resah. Ada apa ini? Bagaimana ini? Inilah kemudian yang menjadi salah satu alasan bagi Majalah Bangkit PWNU DIY dan media-media yang ada di pesantren Krapyak mengadakan acara Diklat Jurnalistik.”

Menciptakan Penulis Santri Melalui Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Menciptakan Penulis Santri Melalui Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Menciptakan Penulis Santri Melalui Pelatihan Jurnalistik

Demikian disampaikan oleh Muhammadun As selaku Pimred Majalah Bangkit PWNU DIY dalam acara Diklat Jurnalistik di Gedung PWNU DIY, Ahad Pagi (2/6). 

Muhammadun juga mengungkapkan bahwa pelatihan seperti ini merupakan langkah awal untuk menciptakan generasi-generasi penulis baru dari kalangan pesantren.

Pondok Pesantren Tegal

“Pelatihan ini merupakan langkah awal untuk menciptakan generasi baru dari kalangan pesantren. Ke depannya, pelatihan-pelatihan jurnalistik seperti ini akan diadakan sebulan sekali,” ungkap Muhammadun.

Sementara itu, sebagai narasumber, Jayadi Kasto Kastari, salah satu redaktur SKH Kedaulatan Rakyat, berhasil membuat peserta tidak mengantuk dengan gaya penyampaian materi yang disisipi dengan guyonan-guyonan segarnya.  

Pondok Pesantren Tegal

Salah satu point materi yang disampaikan Jayadi dalam acara tersebut ialah tentang kekurangan-kekurangan para penulis pemula di media massa.

“Sedikitnya ada empat faktor yang terkadang menjadi kekurangan bagi para penulis pemula di media massa. Pertama, masih lemah dalam tata bahasa (sistematika, gramatikal, keterbacaan, komunikatif). Kedua, kurang tepat dalam memilih diksi (pilihan kata). Ketiga, kurang dalam hal ejaan. Keempat, masih minim sekali pengetahuan tentang tanda baca,” terang Jayadi panjang lebar.

Acara yang dimulai pukul 09.00 dan selesai pukul 12.00 tersebut, dihadiri oleh sekitar 20 puluhan peserta. Mereka merupakan perwakilan dari pesantren-pesantren yang ada di Krapyak.



Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Rokhim, Nisa, Sholihin 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Bahtsul Masail Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 23 Agustus 2015

Memahami Bahasa Dakwah Persuasif

Oleh Muhamad Hizbullah

Dakwah adalah kegiatan mengomunikasikan pesan-pesan kepada mad’u (objek dakwah) disertai upaya memengaruhi dan meyakinkan mitra dakwah bahwa apa yang disampaikan adalah benar. Karena dakwah adalah termasuk dalam kegiatan komunikasi maka ia membutuhkan metode-metode untuk menunjang efektivitas kegiatan komunikasi tersebut.

Di dalam al-Qur’an setidaknya ditemukan lima macam bahasa dakwah yang efektif untuk menjadikan dakwah lebih bersahabat dan ramah dengan mitra dakwah. Bahasa dakwah tersebut adalah qaulan baligha (perkataan yang membekas pada jiwa ), qaulan layyina (perkataan yang sejuk dan lembut), qaulan maysûra (perkataan yang ringan), qaulan karîma (perkataan yang mulia), qaulan sadîda (perkataan yang benar). Bahasa-bahasa dakwah tersebut akan saya persempit pada pembahasan qaulan layyina (perkataan yang sejuk dan lembut). 

Memahami Bahasa Dakwah Persuasif (Sumber Gambar : Nu Online)
Memahami Bahasa Dakwah Persuasif (Sumber Gambar : Nu Online)

Memahami Bahasa Dakwah Persuasif

Tipologi mitra dakwah dalam memahami bahasa dakwah cukup bervariasi. Ada yang tertarik dengan dakwah yang bersuara keras dan lantang. Dalam hal ini biasanya diwakili oleh kalangan anak muda yang masih membara semangatnya, meskipun begitu tidak sedikit pula dewasa ini pemuda sudah mulai tidak tertarik dengan bahasa dakwah semacam itu karena ia sudah tidak terpengaruhi dengan dakwah yang hanya menekankan keindahan retorika semata.

Ada pula yang tertarik dengan bahasa dakwah yang suaranya lembut dan pelan tanpa harus sorak-sorak dan suara lantang. Kelompok ini biasanya diwakili oleh golongan bapak-bapak yang sudah lanjut usia. Mereka tidak lagi mengharapkan suara-suara yang lantang, keras, dan tegas.Tetapi lebih kepada bahasa yang menyentuh dihatinya dan biasanya dengan bahasa dakwah yang lembut, mulia, dan argumentatif.Karena itu melihat kondisi mad’u yang mengalami kemajuan dalam memahami bahasa dakwah, maka dakwah yang dituntut dewasa ini adalah dakwah persuasif yang di dalamnya tercakup bahasa-bahasa dakwah yang lembut, membekas, mulia, mudah, dan benar. Di samping itu pelaku dakwah dituntut memiliki kecakapan pengetahuan yang luas khususnya dalam masalah-masalah keagamaan, sosial kemasyarakatan,dan juga memiliki kepribadian yang baik serta kesalehan di tengah masyarakat. 

Qaulan Layyina (Perkataan yang Lembut) 

Pondok Pesantren Tegal





Dalam studi ilmu komunikasi Islam dikenal istilah "qaulan layyina" sebagai sebuah pendekatan metode dakwah yang efektif. Dakwah yang disampaikan oleh juru dakwah harus lebih menekankan kepada "layyina" kata layyina dalam kamus al-Munawir adalah bentuk masdar dari kata lâna, yang mempunyai arti lunak, lemas, lemah lembut, halus akhlaknya. Syekh As-Suyuti dan Al-Mahalli, Hasyiyah as-Sawi ‘ala Tafsir Jalalain mengartikannya dengan sahlan lathîfa, yaitu mudah, lemah lembut. Jadi qaulan layyina adalah sebuah metode dakwah atau berkomunikasi dengan cara lemah lembut yang mengedepankan akhlak dan tata cara yang sopan tanpa merendahkan objek dakwah (madu). Dalam Quran Surat Thaha:43-44 dikatakan, “Pergilah kamu berdua kepada Firaun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas; Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".

Ibnu Asyur menjelaskan ayat ini dengan kisah Nabi Musa beserta saudaranya Harun ketika akan menghadapi atau menemui Firaun disuruh utk berbicara dengan bahasa yang lembut, merendah, dan tidak kasar. Lalu ada sebagian ahli mengatakan model dakwah seperti ini adalah ditujukan kepada pemimpin atau pemuka masyarakat yngg belum tersentuh pesan-pesan dakwah. Jadi disuruh menyampaikan pesan dakwah kepadanya dengan lembut tanpa kasar dan merendahkannya, sembari dengan memberikan hujjah logika yang rasional.

Pondok Pesantren Tegal

Pertanyaannya adalah kenapa dalam ayat tersebut Allah menyuruh Musa dan saudaranya berbicara dengan "qaulan layyina" kepada Firaun sementara ia sudah jelas-jelas kasar, diktator, dan tidak berperikemanusiaan? Syekh Al-Razi memberikan argumen setidaknya karena dua hal, pertama, Musa sempat tinggal bersama Firaun dan membesarkannya. Kedua, biasanya seorang penguasa yang zalim cenderung tidak menghargai dan menghormati pesan yang disampaikan dengan cara yang kasar dan keras. Jadi menurut teori ini dakwah harus mengedepankan sisi-sisi kelembutan, kemanusiaan, etika, dan akhlak sembari memperhatikan hujjah dan prinsip prinsip dasar Islam.

Rasulullah sebagai figur komunikator ulung dalam dakwahnya selalu mengedepankan sisi kelembutan sehingga banyak yang simpati kepadanya. Dakwah yang disampaikan secara keras, sorak sorak bukan pada tempatnya diibaratkan seperti suara keledai.Berbicara sampai terpingkal-pingkal menghardik dan menghujat cenderung menghilangkan substansi dakwah itu sendiri.Iswadi Arsyad Laweung dalam salah satu artikelnya mengutip Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka dengan mengutip Mujahid mengatakan bahwa suara keledai sangatlah jelek.Oleh karena itu. Orang-orang yang bersuara keras, menghardik-hardik, sampai seperti akan pecah kerongkongannya, suaranya jadi terbalik-balik, menyerupai suara keledai, tidak enak didengar. Dan dia pun tidak disukai oleh Allah Swt. 

Seorang dai hendaknya dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah harus lebih mengedepankan sisi-sisi psikologis mad’u yakni lebih menekankan kepada aspek jiwanya sehingga pesan-pesan yang disampaikan dengan mudah dicerna dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Jikalau menyampaikan pesan-pesan dakwah tersebut dengan kasar tentu orang-orang disekelilingnya tidak simpati kepada dakwah. (QS.3: 159). 

sini seorang dai di tuntut untuk memahami ilmu psikologi dakwah supaya mengetahui batasan-batasan dan takaran mana yang perlu disampaikan dan tidak perlu disampaikan.Pada suatu kesempatan di sebuah masjid di daerah Jakarta Selatan saya mendengarkan keluhan ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang mengeluhkan salah seorang ustadz yang berceramah di Masjidnya. Ia merasa kecolongan untuk menghadirkan sang ustadz tersebut. Ia mengeluhkan ceramah sang ustadz yang terlalu keras yakni seolah-olah menyalahkan jamaah yang menghadiri pengajian tersebut. Sang DKM mempertanyakan apakah sebuah dakwah harus disampaikan dengan begitu lantang dan keras seraya menyindir dan menyalahkan pihak lain?

Dalam kasus yang sama, di daerah Cirendeu saya juga menyaksikan seorang khatib Jum’at yang sangat menggebu-gebu dengan suara lantang dan keras memaki-maki dan menyindir salah seorang ulama yang mengeluarkan pernyataan kontroversialnya tentang “Rasulullah tidak dijamin masuk surga”. Saya tidak mengetahui apakah sang khatib tersebut sudah menyaksikan secara utuh atau mengklrafikasi pernyataan sang ulama tersebut sehingga dengan entengnya dalam khutbahnya mengatakan “ulama sû’ sesat dsb). Saya sendiri yang mengikuti dan menyaksikan secara full video pernyataan tokoh tersebut, memang benar sang ulama tersebut menyatakan “rasulullah tidak dijamin masuk surga” tetapi, ia melanjutkan “hanya yang masuk surga karena Rahmatnya” Hadits tersebut terdapat dalam riwayat Muslim nomor Hadits 2817 yang berbunyi, “Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku (Muhammad), kecuali dengan rahmat dari Allah” sampai di sini besar dugaan saya sang khatib tidak melihat dan menyaksikan secara full pernyataan sang ulama tersebut atau mungkin hanya sekadar mengikuti dari pernyataan-pernyataan orang tanpa ingin berusaha mencari kebenaran pernyataan tersebut. Yang membuat semakin parah adalah pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah forum yang sangat mulia yaitu mimbar khotbah yang menyulitkan jamaah intruksi atau menanyakan kebenaran informasi tersebut.

Sampai di sini dari dua kasus tersebut dan masih banyak lagi kasus-kasus yang lain yang tidak saya paparkan melalui tulisan ini sungguh berbahaya kalau seorang dai tidak memiliki kecakapan, wawasan, dan sikap kehati-hatian terutama dalam masalah-masalah yang di luar wewenang dan pengetahuannya. Dai tersebut tidak hanya akan merusak citra dai tetapi juga substansi dan pesan-pesan dakwah yang dibawanya. 





Fenomena dan Problematika Dai 

Dakwah yang persuasif tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berkomunikasi tetapi juga ditentukan oleh pribadi, citra, dan karakter sang dai. kefektifan dakwah tersebut sangat ditentukan oleh etos sang dai. Sikap, perbuatan, dan tingkah lakunya menjadi role model bagi masyarakatnya.Karena itu dai selalu dituntut konsisten (istiqomah) terutama dalam hal-hal kebaikan. Sebab bagaimana bisa efektif sebuah pesan yang dibawanya kalau sang dainya selalu melanggar dan gemar melakukan kemaksiatan. Minimal bagi sang dai apa yang diucapkannya harus di terapkan terlebih dahulu dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sang dai kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat. Pertama, ucapannya harus sesuai dengan perbuatan.Kedua, pakaian yang dikenakannya harus sesuai dengan cara pandang masyarakat sekitarnya. Ketiga, menjadi problem solving di tengah masyarakatnya.Ketiga, kemampuan membaca seluk beluk karakter komunikannya sehingga bisa mengatur strategi yang tepat dengan kondisi masyarakatnya.

Seorang komunikator atau dai yang memperhatikan point-point tersebut diharapkan terjadi interaksi sosial yang lebih kongkret baik dari segi kognitif, afektif, dan psikomotorik bagi komunikan (mad’u) dalam kehidupan real di tengah masyarakat.ketika seorang komunikator berniat menyampaikan pesan kepada komunikan, maka dalam dirinya terjadi suatu proses. Pesan komunikasi ini terdiri dari dua aspek, yakni isi pesan dan lambang.Isi pesan umumnya adalah pikiran, sedangkan lambang umumnya adalah bahasa. (Onong : 2003).

Antara isi pesan dan lambang harus menjadi titik point perhatian komunikator.Meskipun begitu kedua hal tersebut masing-masing memiliki titik tekan yang berbeda-beda.Isi pesan misalnya bisa dilihat dari keluasan wawasan seorang komunikator yang menyampaikan pesan secara verbal kepada komunikan.Seorang komunikan bisa dengan cermat menerka dan menangkap pesan dari seorang komunikator selama disampaikan komunikator dengan tegas, lugas, dan rasional.Dalam hal ini isi pesan lebih mencakup kepada sisi-sisi luar dan masih abstrak bagi seorang komunikator.Lain halnya dengan lambang (bahasa).Ia mampu menyentuh dua sisi sekaligus yakni pesan dan juga perasaan terutama untuk membangun kesamaan-kesamaan dalam proses komunikasi. Lambang (bahasa) baik yang bersifat abstrak maupun kongkret dengan mudah seorang komunikan membahasakan menjadi bahasa verbal dalam kehidupan. Misalnya, seorang komunikator ketika menyampaikan pesan dengan terbata-bata atau simbol mata yang tidak fokus maka akan tampak kedalaman pengetahuan dan wawasan komunikator. Atau seorang komunikator yang berafiliasi kepada suatu golongan/kepentingan tertentu, maka komunikan dengan mudah mengetahi alur, jalan pikiran, dan keberpihakan sang komunikator melaui bahasa atau simbol yang dikenakannya. 

Ahmad Atabik dalam artikelnya tentang “konsep komunikasi dakwah persuasif” mengatakan, Bahasa dapat menjembatani dua atau lebih pikiran dan perasaan terutama untuk membangun kesamaan-kesamaan yang diperlukan dalam proses komunikasi. Jembatan penghubung inilah kemudian diekspresikan secara verbal melalui bahasa. Dalam banyak hal, bahasa dapat mempermudah menemukan kesamaan rujukan sejauh simbol-simbol (kosakata) yang digunakannya dapat dimaknai secara sama pula.

Dua pesan komunikasi di atas menjadi sebahagian kendala sang dai sehingga tidak sedikit masyarakat banyak yang mengeluh susahnya terjadi perubahan di tengah masyarakat padahal para muballigh, ustadz, dai, dan penyeru kebaikan sudah cukup banyak di lingkungannya.

Ada dua potensi dalam diri komunikan yang dapat dijadikan acuan oleh komunikator dakwah dalam menyampaikan pesannya, yaitu 1) kemampuan berfikir, mengarah kepada sejauh mana komunikan senang berfikir mendalam, dan 2) kemampuan merasa (perasaan), mengarah kepada apakah komunikan lebih senang imbauan emosional pesan-pesan yang menggembirakan atau pesan yang sedih. (Maarif : 2010, 41-42)





Penulis adalah pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jakarta dan Dosen IIQ Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kajian Islam, Pondok Pesantren, Kyai Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 21 Agustus 2015

PMII Purworejo Kecam Peneror Wartawan

Purworejo, Pondok Pesantren Tegal. Puluhan anggota Forum Jurnalist Purworejo (FJP) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Purworejo turun ke jalan melakukan aksi solidaritas, Kamis (27/2). Aksi ini digelar menyusul teror bom molotov yang menimpa wartawan Radar Jogja Jawa Pos Group, Frietqi Suryawan.

Aksi dimulai dengan menggelar mimbar bebas di tepi jalan protokol depan masjid Agung Daarul Muttaqin Purworejo. Satu per satu mahasiswa dan awak media menyampaikan orasi di depan demonstran yang memadati hingga separuh bahu jalan protokol tersebut.

PMII Purworejo Kecam Peneror Wartawan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Purworejo Kecam Peneror Wartawan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Purworejo Kecam Peneror Wartawan

Berbagai poster bertuliskan kecaman dan tuntutan usut tuntas kasus yang menimpa rumah wartawan yang bertugas di wilayah Magelang dibentangkan para demonstran. Pelbagai poster ini menarik menarik  perhatian masyarakat.

Pondok Pesantren Tegal

Mereka yang juga dikawal ketat kepolisian, membagikan selebaran kepada masyarakat berupa data tindak kekerasan kepada jurnalis yang tiap tahun mengalami peningkatan dan tidak pernah ditangani secara serius oleh pihak berwajib.

"Wartawan adalah profesi yang mulia sebagai elemen terpenting bangsa ini, tak kalah posisinya dengan eksekutif atau legislative. Mereka adalah media kontrol sosial dan penjuang bagi keadilan rakyat," teriak Ketua PMII Komisariat An-Nawawi Ahmad Syarif.

Pondok Pesantren Tegal

Salah seorang wartawan senior Purworejo Gunarwan menambahkan, kekerasan bukanlah cara terpuji untuk membungkam para wartawan.

"Ada regulasi dan mekanisme ketika ada pemberitaan yang dinilai kurang pas. Undang-undang Pers menyediakan hak jawab. Jadi jelas tindak kekerasan dan premanisme kepada wartawan harus terus kita lawan," katanya.

Sementara itu, Wakapolres Purworejo Kompol Elvian Rudi Harmoko mewakili Kapolres AKBP Roma Hutajulu SIK saat menerima petisi dari demonstran, menyampaikan keprihatinannya yang mendalam terkait kasus tindak kekerasan terhadap jurnalis di Magelang.

"Petisi dari para jurnalis dan mahasiswa ini kami terima dan akan kami segera kirimkan kepada Kapolresta Magelang sebagai bentuk dukungan dari rekan-rekan jurnalis dan mahasiswa Purworejo," ujarnya. (Lukman Hakim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Khutbah Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 07 Agustus 2015

Kang Said: “Islam Nusantara” = Islam yang Paripurna

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Urgensi Kajian Islam Nusantara” dalam acara peluncuran Pascasarjana Program Magister studi Islam Nusantara, STAINU Jakarta, Rabu (3/7) tadi malam di aula PBNU, Jakarta Pusat.

Kang Said: “Islam Nusantara” = Islam yang Paripurna (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: “Islam Nusantara” = Islam yang Paripurna (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: “Islam Nusantara” = Islam yang Paripurna

Menurut Kang Said, saat ini Nusantara memang menjadi kajian penting yang diminati banyak kalangan, sejalan dengan semakin strategisnya kawasan in idalam percaturan geopolitik internasional.

“Di tengah dinamika itu, sangat tepat kalau saat ini STAINU Jakarta membuka program studi kajian Islam Nusantara. Langkah ini penting untuk memahami bahwa Islam telah lahir dan bergumul serta berakar pada perpektif Nusantara sendiri, bukan persektif Barat atau Arab,” kata Kang Said yang baru merayakan ulang tahunnya yang ke-60.

Pondok Pesantren Tegal

"Islam Nusantara adalah Islam yang sudah paripurna, karena terbentuk dari dialog antarbudaya di berbagai peradaban besar dunia seperti Persia, Turki, India, Cina Siam dan sebagainya,” tambahnya.

Pondok Pesantren Tegal

Walaupun Islam yang masuk ke Nusantara telah berdialog dan bergumul dengan berbagai budaya besar di dunia, tetapi otentisitas kemurniannya tetap terjaga. Apalagi dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah yang berkembang di Nusantara, yang menekankan pentingnya sanad atau ketersambungan mata rantai keilmuan sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

Ditambahkan, “Nusantara” yang menjadi satu kajian penting bukan sekedar konsep geografis melainkan sebuah konsep filosofis dan menjadi perspektif, pola pikir tata nilai, dan cara pandang dalam menghadapi berbagai budaya yang datang.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ahlussunnah, Aswaja, Doa Pondok Pesantren Tegal