Menurut Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Prof Dr H Muhammad Nuh, DEA, cara yang bisa dipakai untuk lebih mendekatakan perbedaan itu adalah dengan memanfaatkan teknologi untuk membantu dalam proses rukyatul hilal. Teknologi bukan menjadi penentu, namun hanya sebagai alat bantu.
| Menkominfo: Perlu Pemanfaatan Teknologi dalam Penentuan Hari Raya (Sumber Gambar : Nu Online) |
Menkominfo: Perlu Pemanfaatan Teknologi dalam Penentuan Hari Raya
“Yang penting masing-masing sudah punya kesepakatan, dan mau menaati kesepakatan itu,” kata Nuh, di sela acara buka puasa bersama PWNU Jawa Timur dan Pemprov Jatim serta PCNU se-Jawa Timur, di Kantor PWNU Jatim, Ahad (7/10).Mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu mengakui, proses melihat hilal tidaklah mudah. Sangat sulit. Sebab persoalannya bukan sekadar melihat tinggi dan rendahnya hilal, dalam menentukan lokasi hilal pun dibutuhkan keahlian tersendiri.
Pondok Pesantren Tegal
Ia sendiri mengaku baru pertama kali melihat proses pergantian hilal. Itupun setelah seluruh pantauan di lapangan disambungkan ke internet di meja kantornya. “Memang sangat sulit. Cepat dan kecil. Di samping banyak gangguan di kanan kirinya,” tuturnya.Pondok Pesantren Tegal
Soal perbedaan hari raya di Indonesia, katanya, hanyalah disebabkan oleh dua orang saja, yakni orang Surabaya (NU) dan Jogja (Muhammadiyah). “Yang lain itu ngikut saja,” kata Nuh disambut tawa para undangan.(sbh)Dari Nu Online: nu.or.id
Pondok Pesantren Tegal Tokoh, Pertandingan Pondok Pesantren Tegal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar