Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Maret 2018

Gelar Manaqib Kubro, Jamiyah Thariqah Bahas 5 Hal

Brebes, Pondok Pesantren Tegal. Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyah (JATMAN) Jawa Tengah rencananya menggelar Manaqib Kurbo di Brebes pada 24 Mei mendatang. Panitia membagi 700 peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Jateng ke dalam lima komisi pembahasan.

Lima komisi mencakup pembahasan masalah keorganisasian, pengajian Manaqib Kubro, komisi Bahtsul Masail, komisi muslimat thoriqoh, dan mahasiswa thoriqoh. Ketua Panitia H Emastoni Ezam berharap, kegiatan ini bisa menguatkan syiar Islam sekaligus memantapkan tali silaturahmi keluarga besar JATMAN Idaroh Wusto di Jawa Tengah.

Gelar Manaqib Kubro, Jamiyah Thariqah Bahas 5 Hal (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Manaqib Kubro, Jamiyah Thariqah Bahas 5 Hal (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Manaqib Kubro, Jamiyah Thariqah Bahas 5 Hal

“Mudah-mudahan kegiatan ini bisa bermanfaat dan barokah untuk masyarakat Brebes,” kata Emaztoni yang juga Sekda Brebes.

Pondok Pesantren Tegal

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti menyambut baik kegiatan bernuansa keagamaan ini. Sebagai pemerintah daerah, ia sangat mendukung kegiatan tersebut terlebih warga Brebes yang menurutnya sangat agamis. Bukti dari dukungan itu, Pemkab Brebes telah menyiapkan alokasi dana dari APBD 2014 untuk kegiatan di atas.

“Mudah-mudahan dengan doa para ulama se-Jawa Tengah nantinya Brebes menjadi lebih baik dan kehidupan masyarakatnya bisa tercukupi dengan maksimal, damai dan sejahtera, ” harap Idza. (Wasdiun/Alhafiz K)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tokoh, Pahlawan, Ulama Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 27 Februari 2018

Pencak Silat Membentuk Mental dan Akhlak

Purworejo, Pondok Pesantren Tegal - Sebagai tradisi dan seni warisan nenek moyang Nusantara, pencak silat memiliki banyak manfaat bagi yang mempelajarinya. Di antaranya adalah membentuk mental yang kuat, akhlak dan kepribadian.

Demikian dikatakan Aji Amdani, pelatih sekaligus ketua pencak silat Pagar Nusa NU Purworejo, yang ditemui Pondok Pesantren Tegal usai menjadi juri silat Porsema Maarif, Sabtu petang (11/2).

Pencak Silat Membentuk Mental dan Akhlak (Sumber Gambar : Nu Online)
Pencak Silat Membentuk Mental dan Akhlak (Sumber Gambar : Nu Online)

Pencak Silat Membentuk Mental dan Akhlak

"Selain itu, silat juga melatih keberanian anak untuk selalu bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya," katanya. "Silat baik dikenalkan sejak usia dini, akan menyehatkan pertumbuhan," imbuhnya.

Pondok Pesantren Tegal

Aji menambahkan, bahwa senakal-nakalnya anak, jika sudah masuk dalam perguruan pencak silat, ia akan selalu patuh dan menghormati gurunya. "Ini merupakan pendidikan karakter," ungkapnya.

Aji berharap, semua sekolah dan madrasah - khususnya yang berada dibawah naungan Maarif NU - menjadikan kurikulum dalam pelajaran, tak sebatas ekstrakulikuler.

Pondok Pesantren Tegal

"Seperti di Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Maarif Prapagkidul, Pituruh, Purworejo, pencak silat masuk dalam kurikulum," pungkasnya. (Ahmad Naufa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Doa, Bahtsul Masail, Tokoh Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

STAI Al-Muhammad Kerja Sama dengan Tujuh Kampus di Tiga Negara

Blora, Pondok Pesantren Tegal

Sebagai kampus yang berbasis pesantren, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Muhammad Cepu, Blora, Jawa Tengah, terus berupaya meningkatkan kualitasnya. Salah satunya dengan menggandeng kampus di luar negeri. Sementara ini ada 7 kampus di tiga negara yang bekerja sama dengan STAI Al-Muhammad.

STAI Al-Muhammad Kerja Sama dengan Tujuh Kampus di Tiga Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
STAI Al-Muhammad Kerja Sama dengan Tujuh Kampus di Tiga Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

STAI Al-Muhammad Kerja Sama dengan Tujuh Kampus di Tiga Negara

Ketua STAI Al-Muhammad, Kadarismanto mengatakan, ketujuh kampus yang diajak kerja sama STAI Al-Muhammad berasal dari Singapura ada 2 perguruan tinggi, Malaysia ada 2 perguruan tinggi, dan Thailand ada tiga perguruan tinggi.

”Kami bekerja sama dengan kampus di tiga negara tersebut dalam bidang tri dharma perguruan tinggi,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Tegal

Dikatakan, tujuh perguruan tinggi yang bekerja sama dengan STAI Al-Muhammad seluruhnya berbasis Islam. Salah satunya adalah Universitas Islam Antar Bangsa Selangor Malaysia atau International Islamic University College Selangor. Dengan kampus ini, STAI Al-Muhammad akan melakukan kerja sama penelitian, mendukung pertukaran staf akademik dan penelitian, pertukaran mahasiswa, pertukaran informasi, dan berbagai kerja sama lain.

Pondok Pesantren Tegal

Menurutnya, kerja sama dengan International Islamic University College Selangor akan ditandatangani hari ini, Kamis (26/5) dengan Deputy Rector Corporate Management International Islamic College University Selangor, DR Zulkifli bin Abd Hamid, di Selangor. Sedangkan penandatanganan dengan enam kampus lainnya akan diselesaikan dalam pekan ini juga.

”Dalam pekan ini (24 hingga 29 Mei), saya melakukan perjalanan ke Singapura, Thailand dan Malaysia,” ujar Kadarismanto. (Sholihin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tokoh Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

PTIQ Helat Diskusi Islam Nusantara ala Gus Dur

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta menghelat diskusi ilmiah bertema “Islam Nusantara perspektif KH Abdurrahman Wahid”, Senin (6/4) pagi. Diskusi tersebut dihelat bebarengan dengan pemilihan ketua Forum Kajian Ushuluddin (Fokus) 2015.

Acara yang digelar di lantai 4 gedung Pascasarjana PTIQ ini diinisiasi oleh Fakultas Ushuluddin. Hadir selaku narasumber dosen Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Syaiful Arif dan dosen Tafsir dan Ulumul Quran yang juga Dekan Fakultas Ushuluddin PTIQ Dr A Khusnul Hakim.

PTIQ Helat Diskusi Islam Nusantara ala Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
PTIQ Helat Diskusi Islam Nusantara ala Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

PTIQ Helat Diskusi Islam Nusantara ala Gus Dur

Dalam sambutannya selaku dekan, Khusnul mengatakan, persoalan tafsir selalu berkembang sesuai zaman dan tempat. Penafsiran untuk konteks Indonesia tentu berbeda pendekatannya dengan di mancanegara, termasuk Timur Tengah khususnya Arab Saudi di mana Islam dilahirkan.

Pondok Pesantren Tegal

"Penafsiran Quran di Indonesia selama ini melulu menggunakan pendekatan Arab atau Timur Tengah. Mestinya, kita juga tak melupakan pendekatan ala Nusantara agar lebih kontekstual,” kata khusnul.

Menurut khusnul, mahasiswa PTIQ memiliki tugas penting terkait dua realitas pendekatan Al-Quran: tekstual dan kontekstual. Untuk tugas menjaga realitas teks dari Al-Quran, bisa dilakukan melalui hapalan. Selain itu, ada juga realitas konteks. Harus sesuai dengan kaidah shalih likulli zaman wa makan.

Pondok Pesantren Tegal

“Nah, ketika masuk term ‘di mana saja’, ini jadi tidak pas jika pendekatan kita Timur Tengah atau Arab minded, sementara kita tinggal di Indonesia. Oleh karena itu, pemikiran Gus Dur yang akan dipaparkan saudara Syaiful Arif ini kita harapkan bisa membuka wacana Tafsir baru untuk merespons ayat tersebut,” tegasnya.

Senada dengan Khusnul Hakim, Syaiful Arif dalam presentasinya menyatakan sangat senang bisa bersilaturrahim sembari berdiskusi dengan sivitas akademika PTIQ Jakarta. Sebab, dirinya sejak lama telah bermimpi bahwa kebangkitan peradaban Islam lahir dari PTIQ.

“Sejak dahulu saya memimpikan kebangkitan peradaban Islam itu di sini (PTIQ-red), bukan di tempat lain. Jadi, teman-teman ketika datang dari kampung ke kampus PTIQ di Jalan Batan Pasar Jumat ini mau nggak mau mendaulat diri sebagai pengusung kebangkitan Islam Indonesia,” ujar Arif mengawali diskusi yang langsung disambut aplaus panjang hadirin.

Arif beralasan, banyak sekali kesalahpahaman terhadap Islam, salah satunya tak paham Ulumul Qur’an. Kalau sekedar mengetahui ayat lalu ditafsirkan semaunya sendiri, itu berarti sudah tidak memakai ilmu lagi. Hal terpenting, bagi dia, PTIQ merupakan mesin penggali dan pembangkit peradaban Islam Indonesia.

“Nah, PTIQ di sini sebagai mesin penggali sekaligus pembangkit peradaban Islam Indonesia yang kemudian kita sebut sebagai Islam Nusantara itu, akarnya ya di PTIQ, yang merupakan institusionalisasi modern dalam rangka tradisi akademik dari komunitas sekaligus lembaga pendidikan pesantren,” urai pria lulusan Pesantren Ciganjur Jakarta ini.

Ketika kita membicarakan Islam Nusantara perspektif Gus Dur, lanjut Arif, maka akan ditemukan sebuah pandangan bahwa pesantrenlah yang menjadi bentuk paripurna dari Islam Indonesia.?

“Akan tetapi, pesantren bukan hanya sebatas lembaga pendidikan semata, karena sekarang ini banyak pesantren yang tidak memiliki cukup persyaratan kultural, ideologis, dan metodologis dari pesantren yang sesungguhnya,” tandasnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Lomba, Tokoh, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Kiai Said Cuma Tersenyum dengar Fitnah di Twitter

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal 



Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mendapatkan laporan tentang fitnah yang disebarkan salah satu akun media sosial Twitter. Akun tersebut menyangkutkan Kiai Said dengan penolakan seorang ustadz berceramah. Fitnah itu begitu cepat menyebar kemana-mana.  

“Ini, Buya,” kata sekretaris pribadi Kiai Said, Muhammad Sofwan, sembari menunjukkan bukti fitnah dengan menunjukkan screenshot kicauan akun tersebut, di gedung PBNU, Jakarta, Rabu (27/12).  

Kiai Said Cuma Tersenyum dengar Fitnah di Twitter (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Cuma Tersenyum dengar Fitnah di Twitter (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Cuma Tersenyum dengar Fitnah di Twitter



Baca: Keji, NU Kembali Difitnah Tolak Ustadz Abdul Somad“Bacakan saja, bacakan,” pinta Kiai Said.

Pondok Pesantren Tegal

Sofwan pun membacakannya. 

Bukan malah marah, Kiai Said ternyata hanya tersenyum setelah mendengar kicauan tersebut. Bagianya, fitnah kepada KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) lebih hebat dari ini, tetapi Gus Dur dengan santai menanggapinya. Bahkan, orang setingkat Nabi Muhammad saja pernah merasakannya.  

“Alhamdulillah dengan fitnah ini dosa saya berkurang,” katanya.

Menurut Kiai Said, orang yang memfitnah akan mendapatkan akibatnya baik cepat atau lambat. Kalaupun tak mendapatkannya di dunia, ia akan mendapatkannya di akhirat kelak.

Pondok Pesantren Tegal

“Tapi saya memaafkannya karena Nabi Muhammad pun orang yang pemaaf,” katanya ketika ditanya apakah akun tersebut layak untuk dimaafkan?

 

Kepada para pengguna media sosial, Kiai Said mengajak untuk lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi informasi. Jika ada informasi yang dirasa janggal, jangan mudah percaya, tapi diteliti dulu, jangan langsung disebar, karena bisa berakibat fatal terhadap orang lain, bahkan bagi dirinya sendiri. 

“Jika ada isu miring terkait dengan NU dan tokoh-tokohnya, harus diteliti dulu. Tabayun, tanyakan dulu kepada pengurus NU setempat. Sekarang kan mudah bertanya, dari daerah bisa langsung ke pengurus pusat (melalui media sosial juga, red.)     

Secara khusus, ia meminta kepada seluruh warga NU untuk lebih arif dan bijaksana dalam mengkonsumsi informasi dengan mengedepankan klarifikasi atau tabayun.

“Warga NU harus menjadi contoh bagi kalangan lain. Jangan mudah terkena fitnah dan jangan reaksioner karena itu yang diinginkan si tukang fitnah,” tegasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tokoh, Syariah Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Muslimat NU Akan Peringati Hari Anak Sekaligus Halal Bihalal

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal?

Pimpinan Pusat Muslimat NU akan memperingati Hari Anak Nasional 2017 di gedung Konvensi Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta pada Ahad 16 Juli. Kegiatan tersebut akan dipandu Seto Mulyadi.?

Muslimat NU Akan Peringati Hari Anak Sekaligus Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Akan Peringati Hari Anak Sekaligus Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Akan Peringati Hari Anak Sekaligus Halal Bihalal

Menurut Ketua Muslimat NU Hj. Sri Mulyati, kegiatan tersebut juga akan dilanjutkan dengan halal bihalal dengan mengundang Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.?

Pada kesempatan tersebut, menurut dosen tasawuf Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut, rencananya akan dihadiri beberapa pengurus Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang sekitar Jabodetabek. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Tokoh, Makam Pondok Pesantren Tegal

Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film

Bondowoso, Pondok Pesantren Tegal - Jaringan Gusdurian Kabupaten Bondowoso dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional mengadakan acara Nonton Bareng Film “Cahaya dari Timur” bersama pemuda lintas agama yang ada di Bondowoso, Jawa Timur.

Kegiatan yang dikemas dengan sederhana ini dilaksanakan di halaman Kampus Akedemi Komunitas Negeri Bondowoso (Akom) Kabupaten Bondowoso, Rabu (16/11) malam.

Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film (Sumber Gambar : Nu Online)
Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film (Sumber Gambar : Nu Online)

Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film

Koordinator Jaringan Gusdurian Bondowoso Daris Wibisono Setiawan mengatakan hari toleransi mulai diperingati oleh dunia pada tahun 1995. Menurutnya, malam itu adalah momentum untuk merajut kerukunan di tengah perbedaan.

Pondok Pesantren Tegal

“Gus Dur pernah bilang Keberagaman adalah bahasa keindahan Tuhan. Menolak keberagaman, memaksakan segala perbedaan, berarti tidak pernah mengakui eksistensi Tuhan,” tuturnya.

Pondok Pesantren Tegal

Kepala sekolah SMK NU Tenggarang ini berpendapat bahwa agama adalah wilayah pribadinya dengan Tuhan. Sementara hubungan sosial adalah hal lain. “Ketika saya keluar dari tempat ibadah, berarti kita duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, itulah ke indahan keberagaman," ucapnya di hadapan peserta yang sekaligus mewakili pihak Islam dalam pertemuan itu.

Sementara perwakilan Buddha, Hermawan, mengaku bersyukur Gusdurian mengajaknya berkumpul bersama komunitas lintas agama. Ini merupakan pertemuan pertama yang ia ikuti bersama Gusdurian.

"Saya harap kegiatan ini bisa di laksanakan setiap tahun mungkin kita bisa lebih kompak, lebih maju mudah-mudahan Gusdurian lebih jaya, lebih kompak , banyak teman-temannya untuk kepadulian," harapnya.

Sambutan juga datang dari agama lain secara bergiliran. Acara tersebut dihadiri para pemuda lintas komunitas dan agama, antara lain Kristen, Buddha, Mahasiswa Akademi Komunitas Negeri Bondowoso, OSIS SMA NU Bondowoso, serta organisasi kepemudaan lainnya. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tokoh Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Gusdurian Gelar Nobar dan Diskusi Film “Samin Vs Semen”

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Koordinator Sekretariat Nasional (Seknas) Gusdurian Alissa Wahid bersama komunitas GusDurian se-Jakarta Raya menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film “Samin Vs Semen”, Jumat (5/6) malam. Film tersebut bercerita tentang perjuangan ibu-ibu petani Rembang melawan ketidakadilan.

Gusdurian Gelar Nobar dan Diskusi Film “Samin Vs Semen” (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian Gelar Nobar dan Diskusi Film “Samin Vs Semen” (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian Gelar Nobar dan Diskusi Film “Samin Vs Semen”

Bedah film menghadirkan dua narasumber aktivis HAM yang juga artis Melanie Subono dan peneliti Yayasan Desantara Mohammad Sobirin. Acara ini, kata Alissa, merupakan agenda bulanan “Forum Jumat” yang digelar di Aula The Wahid Institute (TWI) Jl Taman Amir Hamzah Matraman, Jakarta.

Menurut putri sulung Gus Dur ini, pemutaran film Samin Vs Semen ini terkait rencana pendirian pabrik semen di beberapa daerah, khususnya Rembang. Rencana tersebut menjadi isu penting di tengah pro-kontra rakyat setempat.

Pondok Pesantren Tegal

Bahkan, para tokoh masyarakat Rembang juga menolak rencana itu, termasuk Rais Aam Syuriah PBNU KH A Musthofa Bisri yang notabene Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang.

Pondok Pesantren Tegal

“Oleh karena itu, untuk mengetahui lebih lanjut isu tersebut, malam ini kita mau belajar bagaimana advokasi yang telah dilakukan Mbak Melanie dan Mas Sobirin kepada kaum Samin," ujar pemilik nama lengkap Alissa Qothrunnada Munawwaroh ini.

Dalam presentasinya, Melanie Subono mengaku sangat mencintai Indonesia kendati kondisi negeri ini memprihatinkan. "Saya tidak hanya fokus Rembang. Sebelumnya, saya juga ke beberapa daerah lainnya untuk mengadvokasi mereka," ujarnya mengawali diskusi.

Sementara itu, Mohammad Sobirin dalam paparannya menegaskan, ia sepakat dengan yang dikatakan Alissa terkait persoalan semen di beberapa kabupaten di Jawa Tengah. “Yang dikatakan Mbak Lisa tadi benar. Bahwa masyarakat samin yang berada di pegunungan Kendeng menolak pabrik semen,” ujarnya.

Sobirin mempresentasikan makalahnya bertajuk ‘Mereka yang berebut batu’. “Tapi bukan batu akik lho. Ini batu beneran. Jadi, di bawah tanah itu banyak sekali jenis batu yang dijadikan bahan baku semen yang kini diperebutkan,” tuturnya disambut tawa hadirin.

Di Jawa Tengah, kata Sobirin, terdapat beberapa pabrik semen yang tersebar di beberapa kabupaten. Antara lain Wonogiri, Pati, Rembang, Grobogan, Blora, Gombong. Sobirin menemukan data, bahwa Tiongkok merupakan negara penghasil semen tersebar di dunia. Negeri Tirai Bambu ini memiliki banyak sekali pabrik semen.

“Namun, 672 pabrik kini dibongkar. Pasalnya, besar sekali polutan yang dihasilkannya. Ini sangat berbahaya bagi alam sekitar. Nah, Indonesia ingin merebut pasar semen ini,” tandasnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

?

Foto: Peneliti Desantara M Sobirin memaparkan presentasinya pada Nobar dan Diskusi Film "Samin Vs Semen" di The Wahid Institute.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nusantara, Tokoh Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

PCNU Jepara: Setelah Dilantik Lalu Berbuat Apa?

Jepara, Pondok Pesantren Tegal - Ketua PCNU Jepara KH Hayatun Abdullah Hadziq menyanyakan kepada pengurus Muslimat. “Setelah dilantik lalu berbuat apa?” pertanyaan itu disampaikannya dalam Pengajian dan Pelantikan PAC Muslimat NU Kecamatan Tahunan masa khidmah 2016-2021 yang berlangsung di Gedung Haji MWCNU Tahunan, Kompleks Unisnu Jepara, Senin (11/4).

Jawabannya tidak lain tentu berbuat sesuatu untuk masyarakat. Sebelum itu kiai yang kerap disapa Mbah Yatun ini menekankan agar mereka merapatkan barisan kepengurusan organisasi.

PCNU Jepara: Setelah Dilantik Lalu Berbuat Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Jepara: Setelah Dilantik Lalu Berbuat Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Jepara: Setelah Dilantik Lalu Berbuat Apa?

“Jangan sampai ingin ikut Muslimat hanya ingin dilantik. Terus selesai. Ikut Muslimat terus jadi tim sukses. Itu naif,” tegasnya.

Kelemahan-kelemahan organisasi di masa sebelumnya harus dijadikan muhasabah. Di samping itu, ketua organisasi dituntut untuk tegas. Jika tidak organisasi yang diikuti akan memble (lemah, red).

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal

Apalagi NU Jepara mempunyai tanggung jawab yang berat. Ia meyakini bahwa organisasi mayoritas saja melempem apalagi dengan organisasi yang minoritas.

Tak hanya menata pengurus, program kerja yang akan dijalankan juga perlu ditata dengan solid. Jangan sampai hanya diurus oleh beberapa gelintir orang. Sebab baginya aktivis organisasi ialah contoh untuk masyarakat secara luas.

Ketua Muslimat NU Jepara Hj Noor Aini menambahkan pihaknya mengajak seluruh elemen Muslimat yang ada untuk saling bersinergi dengan keberadaan NU.

Ke depan pihaknya mengagendakan pelaporan kegiatan rutin. Ranting melaporkan kepada anak cabang. Anak cabang melaporkan kegiatan kepada cabang dan seterusnya. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tegal, Tokoh, Khutbah Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Hujamkan 9 Gol Binsa FC Dapat Tiket Perempat Final

Kendal, Online. Binsa FC Semarang menghujamkan 9 gol ke gawang Tim Afdlu FC, dalam babak penyisihan Liga Santri Nusantara Region 1 Jateng, di Lapangan Srogo Kendal, Jumat (8/9).

Kondisi Alfadlu sebagai tuan rumah yang didukung ratusan suporter tak mempengaruhi permainan Binsa FC yang tahun lalu di ajang yang sama lolos di semifinal.

Hujamkan 9 Gol Binsa FC Dapat Tiket Perempat Final (Sumber Gambar : Nu Online)
Hujamkan 9 Gol Binsa FC Dapat Tiket Perempat Final (Sumber Gambar : Nu Online)

Hujamkan 9 Gol Binsa FC Dapat Tiket Perempat Final

Di babak perempat final Binsa FC ditantang Manhik United Kendal yang sebelumnya juga menang 8-0 atas Apik FC.

Pondok Pesantren Tegal

Cahaya Gunung Plantungan CGP FC juga mendapatkan tiket per empat final setelah menang atas al Mistakul huda FC, 3-0. CGP akan menghadapi Al Falah Salatiga di babak perempat final. Al Falah sebelumnya menang atas al Musyafak 2-0. (Sholahuddin al-Ahmadi/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Ubudiyah, Kajian Sunnah, Tokoh Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Sedang Sakit Ingin Tetap Puasa, Ini Tipsnya

Sidoarjo,Pondok Pesantren Tegal. Puasa merupakan kewajiban bagi umat Muslim di seluruh dunia. Namun, bagi orang yang sedang sakit dan ingin menunaikan ibadah puasa, seringkali merasa takut jika sakitnya tak kunjung sembuh. Hal ini kemudian menjadi masalah serius ketika sang pasien ingin menjalankan ibadah puasa saat terkena sakit.

Sedang Sakit Ingin Tetap Puasa, Ini Tipsnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Sedang Sakit Ingin Tetap Puasa, Ini Tipsnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Sedang Sakit Ingin Tetap Puasa, Ini Tipsnya

Dokter umum Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo, dr. Vanisia Hayu Firdayanti menjelaskan, bagi orang sakit yang ingin menjalankan puasa, jangan sekali-kali telat makan sahur dan segera berbuka karena akan menambah energi saat berpuasa. Selain itu, segera berkonsultasi dengan dokter bila ada obat yang harus diminum pada saat sahur dan berbuka puasa tiba.

"Ketakutan tersebut bisa diatasi dengan beberapa langkah agar sang pasien tetap menjalankan puasa, pertama pasien dianjurkan memeriksakan kesehatannya secara teratur kepada dokter yang menangani dan berkonsultasi terkait penyakit yang dideritanya pada saat menjalankan ibadah puasa," kata dr. Firda, Jumat (24/6).

Pondok Pesantren Tegal

Ia menambahkan, pasien dianjurkan beristrihat yang cukup dan mengukur kemampuan diri bila tidak kuat berat jangan dipaksakan diri. Pasien juga dianjurkan untuk mengkonsumsi makan makanan yang bergizi tinggi terutama yang mengenadung protein tinggi karena bisa akan meningkatkan pertumbuhan dan mengembelikan energi.

"Yang lebih penting bagi pasien yang sedang melaksanakan ibadah puasa hendaknya jangan menunda ketika akan berbuka puasa. Apabila hal ini dilanggar akan bisa menimbulkan penyakit bersarang kepada sang pasien dan tidak bisa menjalankan ibadah puasa dengan lancar," ucapnya. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Khutbah, Tokoh Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Cak Nun: Warga Sidoarjo Bosan dengan Janji

Semarang, Pondok Pesantren Tegal. Budayawan Emha Ainun Najib mengatakan, saat ini warga korban semburan lumpur Sidoarjo sudah bosan dengan berbagai janji pencairan bantuan persoalan ganti rugi rumah dan tanah milik warga yang terendam luapan lumpur sejak 29 Mei 2006.

"Warga menaruh harapan terakhir pada kedatangan Presiden SBY. Beliau diharapkan dapat menunjukkan kepemimpinannya untuk memperhatikan kesusahan warga yang rumah dan tanahnya terendam lumpur," kata dia seusai melakukan malam renungan "Mata Air Ma’iyah Menuju Indonesia Emas" di Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Selasa.

Cak Nun: Warga Sidoarjo Bosan dengan Janji (Sumber Gambar : Nu Online)
Cak Nun: Warga Sidoarjo Bosan dengan Janji (Sumber Gambar : Nu Online)

Cak Nun: Warga Sidoarjo Bosan dengan Janji

Banyak warga yang juga menceritakan kondisi pengungsian yang sudah tidak layak lagi, kata pria kelahiran Jombang, 27 Mei 1953 itu.

Karena daya tampung tenda yang disediakan terbatas, katanya, tenda yang rata-rata berukuran 3x4 meter itu harus dihuni hingga tiga keluarga. "Berdasarkan pertemuan terakhir dengan warga korban lumput, warga sudah memberi peringatan terakhir," kata pria yang akrab dipanggil Cak Nun itu.

Mengenai isinya, kata Cak Nun, jika pada kedatangan Presiden SBY kali ini tidak juga memberi titik terang kejelasan nasib mereka, sekitar 40.000 warga telah siap untuk membentuk massa dengan segala benda tajam.

Pondok Pesantren Tegal

"Mereka mengancam akan membuat "chaos" dengan melakukan blokade pada seluruh akses jalan dan jembatan," kata dia.                                                                               

Pertemuan dengan Presiden  

Menurut dia, pertemuan bersama warga korban lumpur dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Puri Cikeas Minggu sore (24/6) tidak lebih merupakan tanggungjawab sosial saya karena telah diserahkan amanat oleh warga korban.    

Ia mengatakan, sebelum bersedia memfasilitasi pertemuan tersebut, ia mendapatkan surat mandat yang ditandatangani langsung oleh sekitar 46.000 warga atau 14.300 KK korban lumpur yang berisi permohonan penunjukan dirinya untuk ikut turun tangan membela persoalan warga korban lumpur.

Pondok Pesantren Tegal

"Lalu, tak lama stelah itu tepatnya tiga menit kurang 10 detik, pihak kepresidenan menelpon dirinya untuk memfasilitasi pertemuan membahas persoalan Lapindo," katanya.

Dalam pertemuan diwakili 94 persen dari 11 ribu KK yang menjadi korban lumpur Lapindo, warga menyampaikan lambannya persoalan proses pembayaran ganti rugi oleh PT Lapindo.

"Hingga saat ini baru sekitar 300 kavling berupa sawah atau pekarangan kosong bersertifikat yang diberikan ganti rugi oleh PT Lapindo," katanya.

Ia mengatakan, sebagian besar warga yang rumah dan tanahnya terendam lumpur belum diberi ganti rugi meskipun sudah memenuhi persyaratan administrasi yang diminta oleh PT Lapindo Brantas.           

"Bahkan, dokumen yang disyaratkan menyertakan tandatangan Bupati Sidoarjo Wim Hendrarso, dibuat sampai rangkap lima," kata dia yang masih aktif tur bersama grup musik dakwah Gamelan Kyai Kanjeng itu. (ant/kut)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Jadwal Kajian, Budaya, Tokoh Pondok Pesantren Tegal

Senin, 15 Januari 2018

PBNU: Interpelasi Lapindo Harus Jalan Terus

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengatakan, interpelasi kasus luapan lumpur panas Lapindo di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, harus jalan terus.

Ia menegaskan, Sidang Paripurna yang sedang digagas sebagian anggota DPR RI itu perlu didorong untuk mengetahui secara rinci semua penyebab telantarnya para korban Lapindo hingga saat ini. Demikian dikatakan Hasyim kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Ahad (17/6).

PBNU: Interpelasi Lapindo Harus Jalan Terus (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Interpelasi Lapindo Harus Jalan Terus (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Interpelasi Lapindo Harus Jalan Terus

Hasyim mengaku kerap menerima keluhan dari para korban Lapindo. Menurutnya, 30 persen para korban, kini mengidap penyakit jiwa, baik ringan, sedang maupun berat. “Kondisi para korban saat ini telah masuk pada tahap darurat.” Belum lagi kerusakan moral para korban serta terganggunya perekonomian Jatim.

Kini, katanya, harapan korban Lapindo, hanya tertuju kepada pemerintah. Meski mereka telah bertemu langsung dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, para korban hingga kini masih terlantar.

“Presiden dan Wakil Presiden telah menerima mereka, toh tidak selesai. Sekarang dicoba melalui interpelasi DPR RI, kalau tidak selesai juga, berarti pupuslah harapan rakyat terhadap perlindungan negara,” jelas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jatim, itu.

Pondok Pesantren Tegal

Hasyim menambahkan, anggota DPR, kini sedang diuji dengan interpelasi Lapindo yang diharapkan dapat menekan pemerintah untuk lebih maksimal dalam menangani luapan lumpur panas tersebut berikut para korbannya. Interpelasi itu, lanjutnya, akan menjadi ukuran besarnya perhatian anggota DPR terhadap nasib rakyat.

“Dengan interpelasi, sekaligus bisa diketahui mana anggota DPR yang peduli dan mana yang menganggap kepedihan rakyat kurang penting karena tidak menyentuh kepentingan mereka,” tutur Mantan Ketua Pengurus Wilayah NU Jatim itu.

Namun demikian, ia mengingatkan kepada anggota parlemen agar interpelasi tersebut dilakukan secara tulus dan ikhlas, bukan untuk tujuan menjatuhkan Presiden. ”Bukan pula sekedar politik pencitraan yang hanya menghasilkan pemimpin yang seolah-olah pemimpin,” katanya.

Upaya membendung luapan lumpur dengan teknologi canggih yang kini sedang dilakukan, katanya, sulit membuahkan hasil. Karena, bercampurnya kesalahan manusia dengan nuansa kezaliman yang mengundang murka Tuhan. Karena itu, ia meminta agar nasib para korban Lapindo diutamakan untuk menghindari dampak sosial yang lebih besar lagi.

Pondok Pesantren Tegal

 “Kalau seluruh korban telah tertolong dengan baik dan kembali hidup normal, baru bisa diupayakan doa dan ikhtiyar teknologi untuk menyumbat semburan lumpur semoga dikabulkan Tuhan,” pungkasnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tokoh, Cerita, Humor Islam Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Masjid Sabilillah Malang Menjadi Contoh Bagaimana Wakaf Dikelola Secara Produktif

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal

Masjid Sabilillah, Malang, Jawa Timur, menjadi salah satu dari 23 masjid di Indonesia yang mendapatkan penghargaan dari Kementerian Agama sebagai masjid percontohan tingkat nasional. Sesepuh NU, KH Muhammad Tolchah Hasan (81) yang juga Ketua Dewan Pembina Masjid Sabilillah menjelaskan bagaimana aset wakaf berupa masjid ini bisa dikelola secara produktif untuk kesejahteraan umat, bukan hanya menjadi tempat ibadah mahdhoh. 

“Sejak awal kita ingin Masjid Sabilillah tidak hanya menjadi pusat ibadah, tapi juga pusat peradaban Islam,” kata Kiai Tolchah di Jakarta Selasa (8/8) yang secara khusus diminta oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) untuk menyampaikan testimoni terkait pengelolaan wakaf secara produktif. 

Masjid Sabilillah Malang Menjadi Contoh Bagaimana Wakaf Dikelola Secara Produktif (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Sabilillah Malang Menjadi Contoh Bagaimana Wakaf Dikelola Secara Produktif (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Sabilillah Malang Menjadi Contoh Bagaimana Wakaf Dikelola Secara Produktif

Menurut Kiai Tolchah, Yayasan Sabilillah di masjid ini juga mengelola sekolah, ambulans, dan koperasi. Terakhir, masjid ini juga melakukan kegiatan bedah rumah, yakni renovasi rumah-rumah para jamaah yang kurang layak huni yang berada di sekitar masjid. “Sekarang sedikitnya sudah ada 20 rumah yang dibedah,” katanya.

Bidang usaha, antara lain, dikelola dalam bentuk koperasi dengan beragam usaha. Sejak berdiri pada 1999, koperasi ini sudah memiliki ratusan anggota anggota. Jenis usaha yang dilakukan, di antaranya unit pertokoan, BMT, dan pujasera. Melalui koperasi ini, Masjid Sabilillah tidak memiliki ketergantungan terhadap sumbangan dana. "Kita usahakan masjid tidak hanya berharap sumbangan tapi justru memberikan kredit-kredit kepada pedagang-pedagang kurang mampu ," katanya. 

Di bidang pendidikan, Masjid Sabilillah mempunyai Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Sabilillah yang menyelenggarakan pendidikan mulai dari jenjang TK hingga SMA, bahkan memberikan beasiswa kepada anak-anak yatim atau tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan.

Pondok Pesantren Tegal

Di bidang kesehatan, Masjid Sabilillah mendirikan lembaga layanan kesehatan bekerja sama dengan RS Islam yang ada di sekitar Malang. Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah (LAZIS) Masjid Sabilillah juga yang secara rutin memberikan santunan dan beasiswa kepada anak anak yatim dan dzuafa, insentif guru TPQ, santunan untuk lansia pejuang agama, dan modal bergulir kepada puluhan paguyuban.

Kiai Tolchah yang tahun 2017 in imemasuki usia 82 tahun memang menjadi salah seorang tokoh senior yang dinilai berhasil mengelola wakaf secara produktif. Di Malang, bersama para nadzir lainnya ia mengelola aset wakaf menjadi perguruan tinggi, seperti Universitas Islam Malang (Unisma), Universitas Raden Rahmat, dan Institut Agama Islam Al-Qolam. 

Ada juga aset wakaf di Malang yang diwujudkan dalam bentuk Rumah Sakit Islam yang dipercaya oleh pemerintah untuk membina rumah sakit-rumah sakit di kawasan Idonesia Timur.

Potensi Besar

Dalam kegiatan "Media Gathering dan Launching Pedoman Akuntansi Wakaf" yang diselenggarakan oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) di Jakarta, Selasa (8/8), dipaparkan besarnya aset wakaf di Indonesia. Robbyantono, divisi pemberdayaan wakaf BWI mengungkapkan, potensi wakaf di Indonesia yang berupa tanah seluas 4.359 kilometer persegi, atau hampir 10 kali lipat dari luas wilayah DKI Jakarta atau negara Singapura. Sementara potensi wakaf yang sangat besar dan terus berkembang adalah wakaf uang.

Pondok Pesantren Tegal

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Muhammadiyah mengatakan, sebagian besar masyarakat masih mengira wakaf itu urusanya hanya sekolah, masjid dan kuburan. “Padahal aset wakaf ini besar sekali dan bisa dikelola secara produktif," katanya. 

Untuk memaksimalkan produktifitas wakaf, menurut Muhammdiyah Amin, para nadzir atau pengelola wakaf harus mempunyai wawasan interpreneur. " Di sini ada KH Tolchah Hasan yang punya pengetahuan menjadikan wakaf produktif," katanya.

Ia memaklumi bahwa selama ini sosialisasi mengenai wakaf masih kurang. Khotbah dengan tema wakaf hampir tidak ada. "Kalau tentang zakat kadang masih ada meskipun jarang sekali. Nah yang tentang wakaf ini tidak ada," katanya.

Kiai Tolchah mengatakan, khotbah-khotbah dan ceramah agama harus lebih memberdayakan masyarakat. “Selama ini khotbah lebih banyak berbicara jalan dari kuburan ke neraka. Bukan dari wakaf menuju surga,” katanya.

Menurut Kiai Tolchah, budaya wakaf di Indonesia masih perlu dibangun lagi. “Di Kuwait, ibu-ibu sehabis belanja sudah biasa membayar wakaf uang lewat hp. Sudah banyak anjungan wakaf di sana. Di Sudan sudah banyak bank wakaf. Di Mesir, Al-Azhar sudah mempunyai pabrik-pabrik dari wakaf,” ujarnya. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tokoh, Internasional Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Menkominfo: Perlu Pemanfaatan Teknologi dalam Penentuan Hari Raya

Surabaya, Pondok Pesantren Tegal. Hari Raya Idul Fitri di Indonesia tahun ini masih sangat mungkin berbeda, terutama karena organisasi Muhammadiyah telah mengumumkan berlebaran tanggal 12 Oktober, sedangkan pemerintah, NU dan ormas Islam lainnya masih menunggu kepastian hasil rukyatul hilal yang akan dilakukan pada Kamis (11/10) petang dan akan dikukuhkan dalam sidang itsbat bersama Depag dan seluruh ormas Islam.

Menurut Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Prof Dr H Muhammad Nuh, DEA, cara yang bisa dipakai untuk lebih mendekatakan perbedaan itu adalah dengan memanfaatkan teknologi untuk membantu dalam proses rukyatul hilal. Teknologi bukan menjadi penentu, namun hanya sebagai alat bantu.

Menkominfo: Perlu Pemanfaatan Teknologi dalam Penentuan Hari Raya (Sumber Gambar : Nu Online)
Menkominfo: Perlu Pemanfaatan Teknologi dalam Penentuan Hari Raya (Sumber Gambar : Nu Online)

Menkominfo: Perlu Pemanfaatan Teknologi dalam Penentuan Hari Raya

“Yang penting masing-masing sudah punya kesepakatan, dan mau menaati kesepakatan itu,” kata Nuh, di sela acara buka puasa bersama PWNU Jawa Timur dan Pemprov Jatim serta PCNU se-Jawa Timur, di Kantor PWNU Jatim, Ahad (7/10).

Mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu mengakui, proses melihat hilal tidaklah mudah. Sangat sulit. Sebab persoalannya bukan sekadar melihat tinggi dan rendahnya hilal, dalam menentukan lokasi hilal pun dibutuhkan keahlian tersendiri.

Pondok Pesantren Tegal

Ia sendiri mengaku baru pertama kali melihat proses pergantian hilal. Itupun setelah seluruh pantauan di lapangan disambungkan ke internet di meja kantornya. “Memang sangat sulit. Cepat dan kecil. Di samping banyak gangguan di kanan kirinya,” tuturnya.

Pondok Pesantren Tegal

Soal perbedaan hari raya di Indonesia, katanya, hanyalah disebabkan oleh dua orang saja, yakni orang Surabaya (NU) dan Jogja (Muhammadiyah). “Yang lain itu ngikut saja,” kata Nuh disambut tawa para undangan.(sbh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tokoh, Pertandingan Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

Lika-liku Perjuangan Penghafal Al-Qur’an

Harus diakui, menghafal Al-Qur’an memang tidak semudah membalik tangan. Bagi yang belum terbiasa, aktivitas ini bisa jadi sangat membosankan bahkan jenuh, namun bagi orang-orang yang sudah mampu merasakan nikmatnya menghafal, hal ini terasa sangat menyenangkan laiknya seorang pujangga yang mendendangkan puisi-pusi untuk kekasih tercintanya.?

Salah satu kemukjizatan Al-Qur’an yang bisa dirasakan oleh umat Muslim hingga hari ini adalah bahwa Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang masih terpelihara otentisitasnya dan bisa dihafalkan oleh semua orang, termasuk orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren sekalipun. Mengapa demikian? Jawabannya, karena Al-Qur’an adalah firman Allah yang terkandung bermilyar-milyar ilmu pengetahuan. Bahkan, Allah sendiri pun menjanjikan bagi siapa saja yang mengambil pelajaran (menghafalkan) teksnya akan diberi kemudahan. (QS. Al-Qamar: 17).

Salah satu orang yang sudah membuktikan hal tersebut adalah Ammar Machmud, penulis buku ini. Dalam buku ini, dikisahkan secara panjang-lebar perjuangan Ammar dalam menghafal Al-Qur’an. Dia bertutur bahwa keinginannya untuk menjadi hafidz sungguh sangat besar bahkan ia pun rela memulai perjuangan menghafalnya itu dari nol pascalulus kuliah sarjana. Dia memilih tidak tinggal di pesantren karena keterbatasan biaya dan memiliki tanggung jawab aktivitas lain di luar rumah. Sehingga kegiatan menyetorkan hafalannya itu dilakukan sehabis Subuh untuk kemudian di-muroja’ah-kan (diulang-ulangi hafalannya) di rumah.?

Lika-liku Perjuangan Penghafal Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Lika-liku Perjuangan Penghafal Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Lika-liku Perjuangan Penghafal Al-Qur’an

Ammar pun mengakui sendiri bahwa menghafal Al-Qur’an itu tidak harus menjadi santri tetap di salah satu pesantren tertentu dan tidak pula untuk usia tertentu. Prinsipnya, asalkan seseorang itu sudah pasang niat kuat dan nekat menghafal Al-Qur’an dengan siap menerima apapun kondisi yang akan dihadapinya, pasti Allah akan turunkan pertolongan pada hamba-hamba-Nya yang serius berikhtiar. Baginya, proses menghafal Al-Qur’an itu bukan persoalan cepat atau lambat waktunya tapi seberapa kuat seseorang itu mampu menikmati proses menghafalkan Al-Qur’an serta hafalan tidak lupa hingga akhir hayat (hal: 116).

Dalam proses ‘mendaras’ kalam Ilahi, Ammar bukan tanpa cobaan dan rintangan. Banyak cobaan atau rintangan yang pernah dialaminya. Sebut saja, saat dia diuji Allah dengan sakit tipus. Pernah pula ia diremehkan temannya dan sering kali juga dia kehabisan biaya saat dia membutuhkan. Namun apa yang terjadi? Meski cobaan datang bertubi-tubi, toh akhirnya dia mampu menyelesaikan hafalan Al-Qur’annya.?

Pondok Pesantren Tegal

Dalam kata pengantar buku ini, dia sendiri mengakui, apakah dengan dia selesai hafalan Al-Qur’annya lantas selesai pula tugasnya? Tidak, justru tugas yang ‘lebih berat’ selanjutnya adalah bagaimana agar dia mampu snantiasa menjaga hafalannya hingga akhir hayatnya (hal: xxii).

Sungguh buku ini sangat mengena dan memberikan motivasi yang sangat bagus bagi siapa saja umat Muslim yang ingin, akan, sedang, ataupun telah purna menghafal ? Al-Qur’an. Sebab di dalamnya tidak hanya memuat kisah pribadi perjuangan penulisnya saja, tetapi juga dilengkapi dengan beberapa kisah dan nasehat dari para masyayikh Al-Qur’an (guru-guru Al-Qur’an). ?

Meski begitu, buku ini bukan tanpa kelemahan. Ada beberapa alasan yang belum diungkapkan penulis, semisal masalah asmara dan kisah perjuangan beberapa ulama Al-Qur’an. Namun, saya kira buku ini sudah mewakili sebagai gebrakan karya seorang santri yang mampu menuturkan hasil jerih-payahnya dalam melakukan perubahan hidup. Ibarat makanan, buku ini tak hanya sedap aromanya tapi juga lezat untuk disantap.?

Data buku

Judul Buku : Kisah Penghafal Al-Qur’an, Disertai Resep Menghafal dari para Pakar ?

Pondok Pesantren Tegal

Penulis : Ammar Machmud?

Penerbit : Quanta, Jakarta?

Cetakan : I, 2015

Tebal : 146 halaman

Peresensi : Iin Alawiyah, ibu rumah tangga, alumnus UIN Walisongo Semarang?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tokoh, Ubudiyah, Quote Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Kang Said Sebut Catatan Akhir Tahun 2015 Indonesia

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengadakan jumpa pers dalam rangka muhasabah menjelang akhir tahun 2015 di Jakarta, Rabu (23/12) sore. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (Kang Said) menyampaikan beberapa hal penting terkait kepemipinan nasional, instabilitas politik, toleransi, dan kerenggangan ikatan sosial.

Kang Said Sebut Catatan Akhir Tahun 2015 Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Sebut Catatan Akhir Tahun 2015 Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Sebut Catatan Akhir Tahun 2015 Indonesia

Menurut Kang Said, instabilitas politik merupakan cermin krisis kepemimpinan yang terjadi di dunia politik di Indonesia. Sementara keributan antarelit anggota dewan perwakilan rakyat menjadi tontonan tidak elok di tengah masyarakat.

“Mereka gaduh sendiri. Krisis kepemimpinan ini menandai kegagalan parpol dalam melakukan kaderisasi internal,” ujar Kang Said di auditorium Gedung PBNU lantai delapan, Jakarta Pusat.

Pondok Pesantren Tegal

Kang Said juga memberikan catatan perihal kehidupan beragama di Indonesia pada 2015. Ia menyebut kasus intoleransi di Aceh Singkil dan Tolikara. “Sangat disayangkan dua kasus ini terjadi,” ujar Kang Said.

Ia juga mengajak insan media untuk memberitakan kehidupan toleransi beragama. Menurutnya, kehidupan masyarakat beragama yang damai perlu diberitakan.

Pondok Pesantren Tegal

“Jangan hanya kasus kekerasan dan gesekan antarumat beragama saja yang dimuat. Warga NU kalau istighotsah atau sholawatan itu bisa berjumlah 2000 orang. Bubar dari sana, tidak ada satu pot pun pecah,” kata Kang Said.

Pasalnya, NU dan pesantren tidak pernah berhenti mengajarkan akhlak beragama dan etika dakwah sehingga tidak menyinggung perasaan agama lain atau tradisi suku-suku tertentu di Indonesia, tandas Kang Said.

Pertemuan ini ditutup dengan dialog antara beberapa insan pers dan Kang Said. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tokoh, Pendidikan Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

PMII Unila Galang Dana Peduli Bencana Banjir Lebak dan Pandeglang

Bandarlampung. Pondok Pesantren Tegal - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Lampung mengadakan bakti sosial solidaritas peduli bencana banjir Lebak dan Pandeglang Banten. Mereka melakukan penggalangan dana di lampu merah Tugu Adipura Bandarlampung, Rabu-Kamis (15-16/2).

Kegiatan yang diikuti? beberapa anggota dan pengurus PMII Ini bertujuan untuk melatih kader dan anggota PMII untuk peka dengan lingkungan sekitar.

PMII Unila Galang Dana Peduli Bencana Banjir Lebak dan Pandeglang (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Unila Galang Dana Peduli Bencana Banjir Lebak dan Pandeglang (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Unila Galang Dana Peduli Bencana Banjir Lebak dan Pandeglang

Ketua Satu Bidang Kaderisasi Riyan Agung menjelaskan, kegiatan ini merupakan implementasi dari hablum minan nas sebagai sesama saudara sebangsa Indonesia.

"Kegiatan ini untuk melatih kader dan anggota PMII agar peka terhadap lingkungan, dan tidak mementingkan diri sendiri. Sehingga kita bisa mengimplementasikan hablum minan nas di antara kita sesama warga Indonesia."

Pondok Pesantren Tegal

Ketua PMII Universitas Lampung Hendy Novrian berharap kegiatan ini bisa meringankan beban masyarakat yang terkena musibah.

Pondok Pesantren Tegal

"Saya harap dengan adanya kegiatan bakti sosial solidaritas ini dapat meringankan beban saudara kita yang terkena musibah. Selain itu kegiatan ini dapat menjadi pembelajaran untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan anak muda khususnya anggota PMII," tutupnya. (Rfz/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tokoh, Pahlawan, Ulama Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Banser se-Sumsel Apel Harlah ke-83

Palembang, Pondok Pesantren Tegal



Pada hari Rabu, bertempat di Griya Agung, kantor Gubernur Sulsel, 1500 personil Banser se-Sumatera Selatan menggelar apel sebagai rangkaian harlah ke-83 GP Ansor yang sekaligus sebagai ajang konsolidasi internal.

Sebelum apel, diadakan long march dari halaman gedung DPRD provinsi Sumsel dengan membawa panji dan bendera merah putih serta bender NU, Ansor, dan Banser.

Banser se-Sumsel Apel Harlah ke-83 (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser se-Sumsel Apel Harlah ke-83 (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser se-Sumsel Apel Harlah ke-83





Long march dilepas oleh Menpora Imam Nachrowi, sedangkan sebagai inspektur upacara adalah Gubernur Sumatera Selatan.

Pondok Pesantren Tegal

Apel kali ini disamping sebagai rangkaian harlah dan konsolidasi internal juga dibacakan kebulatan tekad Ansor-Banser dalam mensukseskan Asean Games 2018 yang menunjuk Palembang sebagai tuan rumah bersama DKI Jakarta.

"Kami Banser sebagai bagian dari masyarakat Sumsel bertekad berperan aktif demi kesuksesan ajang olahraga Asia tersebut karena termasuk salah satu tugas yang membawa nama negara," ungkap Nurul Mubarok, sekretaris PW GP Ansor, sekaligus panitia.

Malamnya di tempat yang sama diadakan pelantikan PW GP Ansor Sumsel masa khidmat 2017-2021 oleh Pimpinan Pusat yang dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Abdur Rohman, dan wakil ketua umum Aam Khoirul Amri.

Kasatkornas Banser Alfa Isnaeni dalam arahannya menyampaikan pentingnya meluruskan niat dalam ber-Banser "Luruskan niat untuk mendakwahkan, mengembangkan dan menjaga Aswaja an-Nahdhiyah serta niatan untuk ibadah dan berjuang, karena menjadi Banser itu banyak barokahnya."

Pondok Pesantren Tegal

Penasehat Ansor Sumsel, Hernoe Riesprijadi menambahkan "Tantangan ke depan semakin komplek dan beragam dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga perlu koordinasi dan komunikasi efektif dengan pasukan di setiap lini bersama dengan elemen lain yang masih peduli terhadap NKRI."

"Kami Ansor-Banser akan selalu siap untuk menjalankan tugas, pokok, fungsi, dan tanggung jawab di lapangan."

Sebagai rangkaian kegiatan pelantikan juga diadakan penandatanganan MoU antara BNN Sumatera Selatan dengan Baanar PW GP Ansor. (Herry BH/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tokoh Pondok Pesantren Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Mengintip Hilal Muda dari Yogyakarta

Rabu (20/6) sore kemarin beberapa orang berkumpul di Pantai Parang Kusumo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta untuk melaksanakan observasi Hilal bulan Sya’ban 1433 H. Mereka terdiri dari beberapa elemen masyarakat, di antaranya Lajnah Falakiyah PWNU DIY, Rukyatul Hilal Indonesia (RHI), Kemenag Provinsi DIY, Mahasiswa Fakultas Agama Islam UII Yogyakarta, dan Jogja Astronomy Club (JAC).

Persiapan observasi Hilal dimulai sejak pukul 16:45 WIB dengan menggunakan alat-alat pendukung seperti teleskop, teodolit, gawang lokasi, laptop ber-software Starrynight Pro Plus 6, kamera DSLR, dan lain-lain. 

Mengintip Hilal Muda dari Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengintip Hilal Muda dari Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengintip Hilal Muda dari Yogyakarta

Data hisab pada Rabu (20/6/2012), 29 Rajab 1433 H, dengan lokasi Parangkusumo Yogyakarta, menunjukkan Matahari terbenam pada pukul 17:31 WIB dengan azimuth Matahari 293d 33m dan Hilal terletak di azimuth 291d 58m dengan ketinggian 7d 42m, dan Hilal akan terbenam pada pukul 18:09 WIB. 

Meskipun selama 30 menit lebih dilakukan pengamatan, tetapi para peru’yah (observers Hilal) tidak ada yang berhasil melihat Hilal. Hal ini disebabkan oleh mendung tebal yang menyelimuti ufuk Barat, bahkan akibat mendung ini Matahari terbenam pun tidak dapat dilihat. 

Pondok Pesantren Tegal

Kegiatan observasi Hilal ini sendiri memang sangat bergantung pada kondisi atmosfer lokal, dalam artian cuaca setempat cukup mempengaruhi berhasil atau tidaknya Hilal untuk dapat diru’yah. Jika di ufuk barat langitnya cerah dan bebas dari gumpalan awan (syafaq) maka akan mendukung keberhasilan pengamatan, namun jika yang terjadi adalah sebaliknya maka akan mengganggu pengamatan. 

Pondok Pesantren Tegal

Hasil dari pengamatan Hilal ini jika dilaksanakan terus menerus dalam jangka waktu yang lama, maka akan sangat membantu dalam pengumpulan database visibilitas Hilal. Dengan demikian, perkembangan ilmu hisab pun dengan sendirinya akan turut berkembang, karena pada prinsipnya formulasi-formulasi di dalam ilmu hisab itu dibangun dari data hasil pengamatan dalam jangka waktu ratusan tahun yang kemudian diolah secara saintifik (ilmiah). Oleh karena itu, ru’yah harus tetap dilaksanakan dalam segala macam cuaca dan keadaan.

Setelah tidak berhasil melihat Hilal, teleskop pun kemudian diarahkan ke arah benda langit yang tampak pada saat itu, yaitu planet Saturnus. Hal ini dilakukan untuk memberi pembelajaran kepada peserta ru’yah bahwa kegiatan ru’yah itu juga memiliki dimensi pembelajaran sains.

Jika gagal dalam melihat Hilal, bukan berarti kemudian sia-sia dan tidak mendapatkan apa-apa, namun ada aspek lain yang bisa diperoleh, misalnya bisa digunakan untuk mencocokkan akurasi hasil hisab (perhitungan) terbenamnya Matahari dengan fakta di lapangan, melihat fenomena alam lain selain Bulan dan Matahari seperti planet-planet atau bintang-bintang, dan masih banyak lagi.

Kegiatan observasi diakhiri pada pukul 18:20 WIB dengan terlebih dahulu melakukan doa bersama atas wafatnya salah seorang ahli falak terkemuka Indonesia, yaitu KH. Noor Ahmad, SS dari Jepara.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis    : Haryono

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Bahtsul Masail, Tokoh Pondok Pesantren Tegal