Kamis, 27 Agustus 2009

Mendikbud Minta Akademisi Jadi Teladan Masyarakat

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh meminta kalangan akademisi untuk meningkatkan kualitas pendidikannya dan menjadi teladan bagi masyarakat luas dengan tidak melakukan korupsi.

Mendikbud Minta Akademisi Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendikbud Minta Akademisi Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendikbud Minta Akademisi Jadi Teladan Masyarakat

"Orang-orang terdidik mbok ya jangan korupsi. Wong sudah sekolah tinggi-tinggi, masak sih harus korupsi. Kan tidak pantas," kata Nuh usai mengikuti rapat koordinasi tentang pasokan gas di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian Jakarta, Rabu.

Menurut Nuh, saat ini korupsi sudah menjadi merasuki hampir semua kalangan, termasuk kalangan perguruan tinggi yang seharusnya menjadi teladan perilaku baik.

Pondok Pesantren Tegal

Menyusul pernyataan Ketua DPR Marzuki Alie yang menyebut banyak koruptor adalah alumni perguruan tinggi negeri, Nuh tidak sepenuhnya sependapat dengan pernyataan Ketua DPR tersebut.

Pondok Pesantren Tegal

"Memang ada yang menyebut bahwa alumni universitas A, universitas B, universitas C jagoan dalam hal korupsi. Tentu tidak sepenuhnya benar, dan tidak selamanya seperti itu," katanya.

Sebelumnya dalam diskusi bertajuk Masa Depan Pendidikan Tinggi di Indonesia di Universitas Indonesia, Depok, Senin (7/5), Ketua DPR RI Marzuki Alie mengatakan bahwa koruptor di Indonesia didominasi alumni Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Saat ini korupsi kan orang-orang pintar lulusan universitas dari UI, Gadjah Mada, ICMI, dan semuanya terlibatlah (korupsi). Ini fakta," ujarnya.

Kesemuanya itu, lanjut Marzuki Alie, disebabkan oleh pendidikan masa lalu. Karananya masalah itu harus segera diperbaiki. Pada kesempatan itu, Marzuki menyinggung rendahnya kualitas pendidikan perguruan tinggi Indonesia.

"Kebanyakan perguruan tinggi negeri ngurusin proyek saja," sindir Marzuki Alie.

Karena itu, Rancangan Undang-undang Perguruan Tinggi diharapkap dapat mengatasi minimnya fasilitas pendidikan dan kurang berprestasinya perguruan tinggi Indonesia di tingkat internasional.

"Pendidikan mahal! Salah kalau dibilang murah, makanya alokasi 20 persen jangan dialokasikan ke 19 kementerian yang kurang bermanfaat," usulnya.

"Perguruan tinggi harus tahu kebutuhan lingkungannya, makanya harus disiapkan agar mahasiswa bisa match dengan lingkungannya," tambah Marzuki.

Penulis : Sudarto Murtaufiq

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nusantara, RMI NU, Tokoh Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 12 Agustus 2009

Mengangkat tangan dan Mengusap Muka ketika Berdo’a

Pada dasarnya mengangkat tangan ketika berdo’a dan dan mengusap wajah sesudahnya bukanlah sekedar tradisi yang tanpa dasa. Keduanya merupakan sunnah Rasulullah saw. sebagaimana termaktub dalam salah satu haditsnya yang diceritakan oleh Ibn Abbas:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  ? (? ? ?)

Apabila engkau memohon kepada Allah, maka bermohonlah dengan bagian dalam kedua telapak tanganmu, dan jangan dengan bagian luarnya. Dan ketika kamu telah usai, maka usaplah mukamu dengan keduanya.

Mengangkat tangan dan Mengusap Muka ketika Berdo’a (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengangkat tangan dan Mengusap Muka ketika Berdo’a (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengangkat tangan dan Mengusap Muka ketika Berdo’a

Demikian pula keterangan para ulama dari beberapa kitab. Bahkan mereka menganjurkan ketika semakin penting permintaan agar semakin tinggi pula mengangkat tangan. Adapun ukuran mengangkat tangan adalah setinggi kedua belah bahu. Dalam I’anatut Thaibin Juz Dua diterangkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dan diwaktu berdoa disunnahkan mengangkat kedua tangannya yang suci setinggi kedua bahu, dan disunnahkan pula menyapu muka dengan keduanya setelah berdo’a.

Pondok Pesantren Tegal

Keterangan ini ditambahi oleh keterangan Syaikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdy dalam Al-Hawasyil Madaniyyah  dengan sangat singkat.

? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Tegal

Batas maksimal mengangkat tangan adalah setinggi kedua bahu, kecuali apabila keadaan sudah amat kritis, maka ketika itu bolehlah melewati tinggi kedua bahu.

 Akan tetapi, di masa sekarang ini banyak kelompok yang meragukan dan menyangsikan sunnah Rasulullah saw ini. mereka meanyakan kembali tentang keabsahannya. Sungguh hal ini bukanlah sesuatu yang baru karena dulu telah disinggung oleh pengarang kitab al-Futuhatur rabbaniyyah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Sang pengarang telah berkata bahwa “telah ada hadits-hadits yang tak terbatas banyaknya mengenai mengangkat tangan ke langit ketika berdo’a, barang siapa menganggap itu tidak ada, maka ia telah keliru.

Red. Ulil H.  

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal AlaSantri, Ulama Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 08 Agustus 2009

32.379 Desa Masuk Kategori Tertinggal

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Sebanyak 32.379 dari 70.611 desa yang tersebar di Indonesia diidentifikasi masuk dalam kategori desa tertinggal, sembilan di antaranya adalah kelurahan yang ada di wilayah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta.

"Ini baru hasil identifikasi kami, belum diverifikasi," kata Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertingal Safullah Yusuf di sela-sela seminar tentang strategi pembangunan desa yang digelar kementeriannya di Jakata, Selasa (12/5).

Dari sembilan kelurahan di DKI yang teridentifikasi tertinggal, enam di antaranya berada di Kabupaten Kepulauan Seribu dan dua lainnya adalah Kelurahan Manggarai dan Manggarai Selatan di Kodya Jakarta Selatan, serta Kelurahan  Cipayung di Kodya Jakarta Timur.

32.379 Desa Masuk Kategori Tertinggal (Sumber Gambar : Nu Online)
32.379 Desa Masuk Kategori Tertinggal (Sumber Gambar : Nu Online)

32.379 Desa Masuk Kategori Tertinggal

Dikatakan, data tersebut bisa saja berubah setelah dilakukan verifikasi. Saat ini baru desa-desa  di Kalteng, Sumut, Sumsel, Bengkulu, Kepri, DIY, Sulsel, Sultra, Gorontalo, Sulbar yang telah selesai diverifikasi, katanya.

Kementerian PDT kini mengubah sasaran pendataan kawasan tertinggal dari sebelumnya mengambil ukuran setingkat kabupaten menjadi tingkat desa karena faktanya ada juga desa atau kelurahan tertinggal di kabupaten atau kotamadya yang relatif maju.

Pada pendataan kabupaten tertinggal, dari 400-an kabupaten/kota, tercatat 199 kabupaten di antaranya masuk kategori tertinggal, sedangkan kawasan kota dianggap sebagai daerah yang relatif maju karena, untuk memperoleh status kota, suatu daerah harus memenuhi persyaraan tertentu.

Pondok Pesantren Tegal

Untuk menentukan suatu desa dikategorikan tertinggal atau relatif maju, Kementerian PDT menggunakan sejumlah variabel, seperti kondisi jalan utama desa, lapangan usaha mayoritas penduduk, fasilitas pendidikan, kesehatan, tenaga kesehatan, sarana komunikasi, kepadatan penduduk perkilometer persegi, sumber air minum/masak penduduk, sumber bahan bakar penduduk, persentasi rumah tangga pengguna listrik dan persentase rumah tangga pertanian.

Sementara untuk desa atau kelurahan yang ada di perkotaan,  varibel-variabl, seperti sanitasi dan pembuangan sampah juga dimasukkan. "Variabel-variabel itu diberi skor. Yang tidak mencapai skor minimum masuk kategori tertinggal," kata Saifullah Yusuf yang biasa dipanggil Gus Ipul.

Untuk menangani desa-desa tertinggal tersebut, Kementerian PDT memperkirakan kebutuhan dana sebesar Rp20 triliun per tahun. Namun dikatakan, anggaran yang dimiliki pemerintah sangat terbatas sehingga realisasinya belum tentu angkanya mencapai jumlah tersebut.

"Karena itu perlu disusun prioritas dan pemaduan program antara pemerintah pusat, propinsi, dan kabupaten/kota sehingga dana pemerintah yang terbatas itu bisa tepat sasaran," Gus Ipul.  (nam/ant)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Sunnah, Kajian Islam, Pesantren Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 06 Agustus 2009

Himpunan Pengusaha Muda Berbagi Tips Wirausaha dengan Komunitas Mata Air Jepara

Jepara, Pondok Pesantren Tegal - Sekretaris Himpunan Pengusaha Muda (Hipmu) Kabupaten Jepara Abdul Kholik menyampaikan pemahaman serta tips berwirausaha kepada anggota Mata Air Jepara. Kegiatan yang dilaksanakan, Ahad (10/4) ini diikuti oleh pengurus dan anggota Mata Air perwakilan dari angkatan pertama 2011 hingga terakhir 2015.

Pengusaha sukses sekaligus pemilik Caffe De Java ini mengatakan bahwa untuk menjadi wirausaha muda perlu mengerti berbagai cara. “Kita tidak boleh berpikiran lurus. Jika sekarang berkuliah di prodi pendidikan, belum tentu kita nanti menjadi guru. Perlu cara kreatif untuk survive di masa sekarang,” katanya.

Himpunan Pengusaha Muda Berbagi Tips Wirausaha dengan Komunitas Mata Air Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
Himpunan Pengusaha Muda Berbagi Tips Wirausaha dengan Komunitas Mata Air Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

Himpunan Pengusaha Muda Berbagi Tips Wirausaha dengan Komunitas Mata Air Jepara

Selain itu, restu dari orang tua juga sangat menentukan keberhasilan setiap usaha yang kita bangun. “Sebelum berusaha kita harus dahulukan untuk meminta restu kepada orang tua, dan fokus pada pekerjaan yang ada saat ini,” jelas alumni Sospol UGM ini.

Untuk memperluas usaha juga mesti sejalan dengan ikhtiar kita dalam menjalin sebuah jaringan. “Memperluas pertemanan itu sangat penting untuk menguatkan usaha kita, yang tidak kalah penting adalah bersedekah,” tambahnya.

Pondok Pesantren Tegal

Pembina Mata Air Kabupaten Jepara Adib Khoiruzzaman menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pembinaan Mata Air kepada alumninya agar memiliki keterampilan yang mumpuni.

“Kita tidak hanya mengantarkan mereka ke perguruan tinggi negeri favorit, namun juga membekali mereka untuk dapat menjadi manusia mandiri yang membawa manfaat untuk lingkungan masyarakat,” pungkasnya. (Rif’ul Mazid Maulana/Alhafiz K)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Tegal

Senin, 20 Juli 2009

PMII Keluarkan Petisi Politik Untuk Caleg Terpilih

Purworejo, Pondok Pesantren Tegal. Ratusan kader dari region PMII Danyang Sumbing yang meliputi cabang Purworejo, Wonosobo, Temanggung, dan Magelang menggelar aksi damai di depan kantor DPRD Purworejo, Kamis (17/4) malam. Mereka mengajukan empat poin petisi yang ditujukan untuk para caleg terpilih dalam pileg beberapa pekan lalu.

PMII Keluarkan Petisi Politik Untuk Caleg Terpilih (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Keluarkan Petisi Politik Untuk Caleg Terpilih (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Keluarkan Petisi Politik Untuk Caleg Terpilih

Koordinator aksi Muhammad Arifin mengatakan, aksi damai di depan gedung DPRD ini dilandasi atas keprihatinan mahasiswa terhadap maraknya politik uang yang terjadi pada pileg beberapa waktu lalu.

“Hampir seluruh caleg kemarin menggunakan uang untuk membeli suara agar menang,” kata Arifin yang memandu ratusan kader PMII berkumpul di trotoar jalan protokol depan gedung DPRD.

Pondok Pesantren Tegal

Keadaan itu, menurutnya, sangat memprihatinkan. Karena, politik transaksional rawan membuka keran kejahatan korupsi. Jika keadaan ini dibiarkan tanpa pengawalan aktifis mahasiswa, kami khawatir rakyat akan semakin sengsara.

Pondok Pesantren Tegal

Empat poin petisi berisi tuntutan DPRD untuk bekerja maksimal bagi masyarakat, tuntutan agar produk-produk DPRD harus prorakyat, menentang segala bentuk kejahatan korupsi, kolusi, dan nepotisme, dan komitmen PMII untuk mengawal anggota dewan lima tahun ke depan,  terus Arifin.

Petisi yang telah ditandatangani empat ketua pimpinan cabang PMII itu akan diserahkan kepada anggota dewan periode 2014-2019 usai mereka dilantik.

Tepat di depan plang DPRD, mereka membentuk barisan melingkar di mana di tengah barisan dinyalakan 54 buah lilin dan tumpeng sebagai penanda 54 tahun PMII.

Sementara itu, Ketua PC PMII Wonosobo Saman dalam orasinya mengatakan, komitmen PMII untuk mengawal birokrasi tersebut merupakan roh perjuangan dan komitmen pergerakan sebagai wujud kesetiaan terhadap rakyat.

“Refleksi 54 perjalanan PMII yang harus selalu dibenamkan dalam benak kader pergerakan adalah semangat menemani rakyat tertindas karena kesewenang-wenangan para penguasa. Semangat itu yang harus senantiasa membara dalam benak kita,” tandas Saman.

Aksi damai ini ditutup dengan doa untuk anggota dewan yang baru terpilih. (Lukman Hakim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Makam, Pondok Pesantren Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 10 Juni 2009

Ketika Romo Katolik Mencium Tangan Gus Mus

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal

Pada Agustus 2015 beredar di dunia maya foto Romo Aloysius Budi Purnomo tengah memeluk dan mencium tangan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus). Foto tersebut sempat membuat heboh. Sebagian orang mengapresiasi, sebagian lain berprasangka miring.

Romo Budi Purnomo yang merupakan Ketua Hubungan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang menceritakan, peristiwa itu terjadi saat ia dan Gus Mus sama-sama diundang menjadi narasumber tentang kebangsaan di Auditorium RRI Semarang. Ia mengaku perilakunya tersebut adalah hal yang positif.

Ketika Romo Katolik Mencium Tangan Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Romo Katolik Mencium Tangan Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Romo Katolik Mencium Tangan Gus Mus

“Gus Mus itu sudah seperti simbah saya. Bukan hanya sahabat, beliau juga idola saya waktu saya masih SMA. Karya-karya puisinya, karya-karya sastranya menginspirasi saya bersama karya-karya Romo Mangunwijaya,” katanya dalam acara Mata Najwa yang disiarkan Metro TV, Rabu (14/4) malam.

Pondok Pesantren Tegal

Romo Budi Purnomo diminta menceritakan kembali aksi cium tangan itu dan kehebohan yang ditimbulkannya. Menurutnya, tak semestinya hal tersebut dipersepsi negatif karena justru itu merupakan simbol kerukunan dan persahabatan sejati. Dan, mencium tangan Gus Mus pun tidak ia lakukan hanya sekali. Sang romo melakukan hal serupa saat bertemu dengan tokoh NU itu di Rembang tahun 2004.

“Setiap kali berjumpa dengan Gus Mus, sebagai yang lebih muda, saya selalu mencium tangan beliau, tapi beliau selalu tidak kerso (bersedia), ditarik (tanganya). Entah mengapa. Tapi begitulah kebiasaan saya berjumpa dengan yang saya hromati. Saya tidak hanya mencium pipi kanan pipi kiri tapi juga cium tangan beliau,” kisahnya.

Pondok Pesantren Tegal

Bagi rohaniawan Katolik ini, ada dua kehebohan saat peristiwa peluk-cium antara romo dan kiai. Yang pertama heboh positif dan yang kedua heboh negatif. Lantas bagaimana bila ada sebagian orang yang mengambil sikap yang kedua?

“Lho, apa masalahnya? Mengapa harus heboh negatif? Lebih baik heboh positif karena itu menjadi berkat banyak orang,” tuturnya.

Dalam acara Mata Najwa bertajuk “Panggung Gus Mus” itu, Romo Budi Purnomo dan Gus Mus berduet dalam musikalisasi puisi berjudul “Sajak Atas Nama”. Malam itu Gus Mus juga membacakan puisi berjudul “Bila Kutitipkan” dan “Puisi Islam”. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Olahraga Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 26 Mei 2009

Muslim Korea Butuh Dukungan Dakwah dari NU

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Korea Muslim Federation (KMF) berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Selasa (25/11) siang. Organisasi yang menjadi wadah umat Islam di Korea ini meminta bantuan PBNU terkait pengembangan dakwah di sana.

Ketua KMF Cabang Busan Zubair Lee Dongha mengatakan, jumlah muslim di Korea sangat sedikit dan tidak sampai 1 persen dari jumlah penduduk di sana. Ia mengaku kekurangan tenaga dai untuk memaksimalkan syiar Islam di negeri gingseng tersebut.

Muslim Korea Butuh Dukungan Dakwah dari NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslim Korea Butuh Dukungan Dakwah dari NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslim Korea Butuh Dukungan Dakwah dari NU

“Saya minta dukungan NU karena saya lebih tertarik Islam di Indonesia daripada Islam di Timur Tengah,” tuturnya saat bersilaturahim bersama rombongan ke ruang redaksi Pondok Pesantren Tegal.

Pondok Pesantren Tegal

Zubair hadir ditemani Mustasyar Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Korea Eko Wijianto; pengurus Lembaga Advokasi Buruh Migran PP GP Ansor, Imam Nahrawi; dan aktivis pemberdayaan perempuan TKI, Indiyah Citra.

Eko menambahkan, saat ini muslim Korea berharap ada tenaga pengajar di sekitar 35 mushala. Selama ini mereka berjalan dengan tenaga seadanya dan melakukannya secara mandiri karena pemerintah negara ini memang tak memiliki perhatian sama sekali terhadap agama.

Pondok Pesantren Tegal

“Muslim Korea yang berjumlah sekitar 35.000 jiwa juga membutuhkan rujukan, misalnya soal penentuan Ramadhan,” tutur Eko.

Rombongan disambut Sekretaris Lajnah Ta’lif wan Nasyr PBNU Ulil Abshar Hadrawi, Pimpinan Umum Radio NU Mustiko Dwipoyono, dan beberapa awal redaksi Pondok Pesantren Tegal. Pertemuan diisi dengan dialog dan tukar informasi tentang kebudayaan dan kehidupan Islam di Korea dan Indonesia.

Selain ke kantor Pondok Pesantren Tegal, KMF juga bertemu dengan pengurus Lembaga Ta’mir Masjid NU (LTMNU) di sekretariat Lantai 4, gedung PBNU, Jakarta. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kiai, Hadits, Meme Islam Pondok Pesantren Tegal