Senin, 04 April 2011

Kemana Arah Pergerakan Kita?

Oleh Iwan Adi Kusuma

Desa adalah awal mula sekaligus tujuan. Modal utama dalam membangun peradaban Indonesia. Desa mempunyai fungsi dan peranan yang sangat besar dan strategis bagi dasar pembangunan nasional Indonesia. Baik di bidang politik, ekonomi, sosial-budaya maupun di bidang pertahanan dan keamanan nasional. Dengan demikian, daerah perdesaan tidak hanya merupakan sumber kekuatan ekonomi terutama pangan dan energi, melainkan juga merupakan dasar bagi ketahanan nasional bangsa dan negara.

Kemana Arah Pergerakan Kita? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemana Arah Pergerakan Kita? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemana Arah Pergerakan Kita?

Di sinilah eksistensi pesantren lahir dan berkembang sebagai sebuah institusi pendidikan yang khas nusantara. Menjaga dan melestarikan nilai-nilai kemanusiaan, kebangsaan dan keislaman. Tanpa menafikan kearifan lokal, bahkan berjalan beriringan saling memperkokoh.

Oleh karenanya, menjadi kewajiban bagi Nahdlatul Ulama untuk tetap menjaga nilai-nilai tersebut. Kultur intelektualitas pesantren itulah yang menjadi modal dasar bagi kader-kader PMII. Menjadi nilai-nilai dasar pergerakan dengan metodologi yang dinamis. Yakni penjagaan terhadap nilai-nilai lama yang baik, pararel dengan penemuan nilai-nilai baru yang lebih baik.

Pondok Pesantren Tegal

Bagi PMII hal itu seharusnya dibaca menjadi, penjagaan atas tradisi humaniora yang telah diwariskan oleh pesantren di lokalitas masing-masing, serta kemutlakan mengambil tradisi sains dan teknologi yang kini berkembang pesat.

Pondok Pesantren Tegal

Ada ungkapan lama yang mengatakan, ‘deso mowo coro, negoro mowo toto.’ Maknanya negara memiliki tatanan atau peraturan dan desa memiliki adat atau aturan tak tertulis. Tatanan negara dan adat desa tidak boleh bertentangan, tetapi keduanya harus saling mendukung karena memiliki tujuan yang sama, yaitu tatanan kehidupan yang damai dan menyejahterakan semuanya. Ungkapan itu sejatinya menjadi dogma bagi “negara-negara” di nusantara. Sementara eksistensi Indonesia merupakan pelanjut belaka dari sejarah panjang nusantara itu sendiri.

Kelanjutan menarik dari apa yang penulis dapatkan dalam forum diskusi bulanan di PBNU adalah, sejak dahulu di nusantara tidak mengenal kosa kata ‘miskin’ atau kata-kata sepadan lainnya. Semisal fakir, melarat, ngemis, pengemis, dan sebagainya. Kesemuanya merupakan kata-kata serapan dari bahasa asing (Arab). Sementara istilah ‘pengemis’ dalam kamus bahasa Indonesia tidak dikenal kata dasarnya, karena memang tumbuh dari akar sebuah peristiwa.

Bermula dari Paku Buwono X (Surakarta Hadiningrat) yang dikenal sangat welas asih dan dermawan. Ia suka membagi-bagikan sedekah untuk kaum tak berpunya. Tiap hari Kamis sang raja itu keluar dari istana untuk melihat-lihat kondisi rakyatnya. Kebiasaanya, berjalan kaki dari gerbang istana menuju Masjid Agung melalui alun-alun lor (alun-alun utara). Saat berjalan kaki dengan diiringi para pengawal kerajaan, Paku Buwono X senantiasa dielu-elukan oleh rakyatnya yang berjejer rapi di tepi kanan-kiri sepanjang jalur perjalanan.

Pada waktu itulah sang raja bersedekah dengan langsung memberikan uang kepada rakyatnya, tanpa ada satupun rakyat yang berjejer di sana terlewatkan. Rutinitas tersebut? terus berlangsung setiap hari Kamis (Kemis-bahasa Jawa). Sejak saat itu itulah dikenal istilah atau sebutan ‘ngemis’ bagi orang-orang yang ikut berkumpul di sepanjang jalan dari istana ke Masjid Agung, sambil mengharapkan barakah (sedekah) di hari Kamis. Dari istilah ‘ngemis’ ini selanjutnya dikenal pula istilah ‘pengemis’ bagi orang yang melakukan aktifitas ‘ngemis.’

Apa artinya? Bangsa-bangsa Nusantara, para pendahulu kita benar-benar merasa berkecukupan. Sadar dengan berlimpahnya kekayaan alam yang ada disekitarnya namun tidak pernah rakus mengeksploitasinya. Mereka selalu menjaga keseimbangan hubungan antarsesama dan juga terhadap alam. Bila keseimbangan itu timpang oleh keserakahan manusia maka alam akan marah. Dan muncullah berbagai malapetaka. Begitulah kepercayaan yang mereka yakini. Namun justru sistem kehidupan itulah yang membuat mereka selalu berkecukupan. Tidak pernah merasa kekurangan, yang bisa disebut dengan kata-kata ‘miskin’, ‘melarat’, ‘fakir’ dan sebagainya.

Kenyataan lain yang patut diperhatikan, para penentu kebijakan di dunia sangat sadar bahwa kini mereka tengah dihadapkan pada krisis energi dan pangan. Tidak terkecuali Indonesia yang sangat kaya sumber daya alamnya akibat keserakahan dan salah urus. Konfik yang terjadi di Irak, Iran, Libya, Kuwait, Mesir, Suriah, Yaman, Sudan dan Ukraina, semuanya sebagai negara penghasil energi. Kenyataan itu membawa pada kesimpulan konflik atau perang di dunia, mayoritas berlatar belakang energi.

Konflik di waktu mendatang dari aspek latar belakang dan lokasinya jelas akan mengalami perubahan. Hal ini dipicu karena energi fosil diprediksi pada 2043 akan habis. Dan hanya bisa digantikan dengan energi alternatif (energi baru terbarukan), yang bisa hidup sepanjang tahun hanya di wilayah Ekuator, yaitu Amerika Latin, Afrika Tengah dan Asia Tenggara termasuk di dalamnya Indonesia.

Energi adalah pijakan berbagai aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat. Ketersediaan energi juga salah satu tantangan besar bagi pengembangan tahapan-tahapan industrialisasi. Padahal krisis energi di Indonesia sudah mulai menunjukkan gejalanya. Kalau tidak ada penemuan cadangan baru, dengan kebutuhan energi yang terus meningkat, dan pasokan yang terus menurun, maka sekitar 11-12 tahun lagi selesailah, Indonesia akan kehabisan minyak dan gas, menjadi net importir.

Saat ini kondisi ketahanan energi nasional telah berada dalam kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Salah satu indikasinya adalah mengacu pada ketersediaan stok BBM nasional yang kini baru mencapai hingga kurun waktu 20-25 hari saja. Minimnya ketersediaan BBM di dalam negeri terjadi sebagai akibat dari ketergantungan impor minyak mentah maupun BBM yang tidak lagi sebanding dengan tingkat konsumsi nasional.

Hal itu mendorong pemerintah mulai berpikir ulang, jika sebelumnya ketahanan energi selalu erat kaitannya dengan SDA berbentuk minyak dan gas, belakangan terus berkembang ke seluruh sumber daya fosil lainnya seperti batubara. Bahkan, dalam satu dekade terakhir, geliat energi non fosil yang dikenal sebagai energi baru terbarukan (EBT) juga mendapat perhatian cukup serius. Seperti hidro power, panas bumi, hidrogen, biofuel, biodiesel, biomassa, matahari, uranium dan sebagainya. Kenyataannya berbagai bauran energi ini mayoritas sangat mudah di dapatkan di wilayah pinggiran.

Sementara pertambahan populasi penduduk dunia semakin cepat. Paska 2011 untuk menambah 1 milyar hanya butuh enam tahun. Padahal sebelumnya, diperlukan puluhan bahkan ratusan tahun. Kenyataan ini mengingatkan kita pada teori Maltus yang mengatakan pertambahan penduduk meningkat seperti deret ukur. Sedangkan ketersediaan pangan meningkat ibarat deret hitung. Apabila garis pertambahan penduduk dengan garis ketersediaan pangan bersinggungan di suatu titik, maka disitulah terjadinya titik kritis. Padahal populasi ideal penduduk dunia sekitar 3-4 milyar untuk dapat hidup dengan layak. Realitanya saat ini sekitar 15 juta bayi meninggal setiap tahunnya karena kemiskinan, kelaparan dan kesehatan buruk. Artinya penduduk dunia sudah sangat melebihi kapasitasnya. Maka bila populasi penduduk tidak bisa diimbangi dengan ketersediaan pangan, jelas akan memicu krisis. Apalagi pangan yang awalnya hanya untuk makan, ke depan akan dibagi dua, untuk makan dan energi.

Terlihat jelaslah bahwa wilayah perdesaan tetap menjadi tumpuan dan harapan bagi krisis yang akan dihadapi oleh negara ini. Dan menjadi jelas pula arah langkah pergerakan kita untuk mengantisipasi krisis di masa depan bukan?

Iwan Adi Kusuma, Mahasiswa Pasca Sarjana STAINU, Koordinator Forum Komunikasi PMII



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Berita Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 01 April 2011

Sambut Harlah, Ansor Pringsewu Gelar Lomba Futsal

Pringsewu, Pondok Pesantren Tegal

Menyambut Hari Lahir (harlah) ke-83 GP Ansor yang jatuh pada 24 April 2017 mendatang, Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pringsewu akan menggelar kegiatan lomba baris berbaris bagi anggota Banser dan Liga Futsal bagi anggota Ansor yang akan diselenggarakan pada hari Ahad,16 April 2017 di Lapangan Futsal Sukoharjo.



Sambut Harlah, Ansor Pringsewu Gelar Lomba Futsal (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Harlah, Ansor Pringsewu Gelar Lomba Futsal (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Harlah, Ansor Pringsewu Gelar Lomba Futsal



Selain menggelar lomba, beberapa agenda kegiatan juga akan digelar diantaranya; Apel Akbar Ansor-Banser pada 23 April 2017, Pembacaan shalawat serta pengajian sebagai puncak acara peringatan harlah ke-83 Ansor pada 24 April 2017 yang dipusatkan di Gedung PCNU Kabupaten Pringsewu.



Pondok Pesantren Tegal



Hal tersebut disampaikan M. Sofyan, ketua GP Ansor Kabupaten Pringsewu saat menghadiri kegiatan rutinan PAC Ansor Kecamatan Ambarawa di Mushola Darus Saadah desa Kresnomulyo, Jumat malam (14/04).



Pondok Pesantren Tegal



Di depan para kadernya, Sofyan meminta dan mengharapkan agar seluruh anggota Ansor dan Banser di tingkat Ranting dan Anak Cabang untuk bisa ikut ambil bagian serta mensukseskan kegiatan tersebut.





Selain itu, dirinya juga mengharapkan agar kegiatan-kegiatan rutinan Ansor dengan berbagai bentuk kegiatan terus dijalankan dalam rangka mensyiarkan akidah Ahlussunnah wal Jamaah an Nahdliyah dan menjaga eksistensi organisasi.





Terkait maraknya informasi-informasi palsu di media sosial dan munculnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal, Sofyan meminta kepada seluruh kadernya untuk tetap siaga satu komando dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang mereka gunakan memecah belah persatuan.





"Kalau ada informasi-informasi hoax yang mendiskreditkan NU dan masih bisa kita klarifikasi, ya kita klarifikasi. Tetapi kalau dengan klarifikasi tidak bisa, kita datangi dan kita ajak diskusi baik-baik sambil ngopi bareng. Namun kalau masih tidak bisa juga, maka apa boleh buat, kita lawan!", tegasnya. (Henudin/Mukafi Niam).



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Aswaja, Pesantren Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 11 Maret 2011

Ini Cara Kreatif SMA Maarif 1 Pamekasan Asah Mental Siswa

Pamekasan, Pondok Pesantren Tegal - Pengasahan mental siswa menjadi salah satu karakter pendidikan SMA Maarif 1 Pamekasan, Desa Terrak, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan. Cara yang dipakai selalu kreatif sehingga membuat enjoy para siswa.

Terbaru, Pembina Pramuka SMA Maarif 1 Pamekasan Fadoli membawa anak-anak Pramuka SMA Maarif 1 Pamekasan ke? Bukit? Brukoh, Desa Bajang, Kecamatan Pakong, Pamekasan, Ahad (16/7).

Ini Cara Kreatif SMA Maarif 1 Pamekasan Asah Mental Siswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Kreatif SMA Maarif 1 Pamekasan Asah Mental Siswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Kreatif SMA Maarif 1 Pamekasan Asah Mental Siswa

"Selalu ada yang beda dengan anak Pramuka SMA Maarif 1 Pamekasan. Untuk melatih keberanian berbicara di hadapan orang banyak, Kakak Fadoli membawa anak-anak Pramuka SMA Maarif 1 Pamekasan ke Bukit Brukoh," kata Abusiri selaku guru senior SMA Maarif 1 Pamekasan.

Pondok Pesantren Tegal

Selanjutnya, siswa-siswi diminta berpidato di hadapan orang banyak. Padahal, mereka tidak mengenalnya.

Pondok Pesantren Tegal

"Selain dilatih keberanian berbicara di hadapan orang banyak, juga agar mereka bisa mengenal lingkungan daerah lain," kata Abusiri.

Dari kunjungan ke Bukit Brukoh yang kini menjadi salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Pamekasan, siswa-siswi SMA Maarif 1 Pamekasan diharapkan dapat memetik inspirasi, yaitu berhasrat menyulap lingkungan sekolah SMA Maarif 1 Pamekasan menjadi sekolah yang sejuk dan menyenangkan. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nahdlatul, Bahtsul Masail, Olahraga Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 01 Maret 2011

Agenda NU: Makmur Masjid, Makmur Bumi Allah

Pamekasan, Pondok Pesantren Tegal. Kehadiran Nahdlatul Ulama memiliki dua agenda yang sejati, yaitu memakmurkan masjid dan  memakmurkan bumi Allah.

Agenda NU: Makmur Masjid, Makmur Bumi Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Agenda NU: Makmur Masjid, Makmur Bumi Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Agenda NU: Makmur Masjid, Makmur Bumi Allah

Menurut Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas’udi, hal itu sesuai dengan penegasan Allah dalam Al-Quran. Hanya dua penegasan terkait memakmurkan. Pertama, perintah memakmurkan masjid.

“Bahwa sesungguhnya hanya orang-orang yang beriman yang mau memakmurkan masjid,” ungkapnya pada Rapimda PP LTMU di Pamekasan, Madura, Ahad, (27/01) lalu.

Pondok Pesantren Tegal

Kedua, ayat yang memerintah memakmurkan bumi. Dan bumi itu adalah lambang Nahdlatul Ulama. “Dua agenda kehadiran Nahdlatul Ulama adalah memakmurkan bumi bertolak dari memakmurkan masjid,” tambah Kiai kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 1954.

Pondok Pesantren Tegal

Lebih jauh, Kiai Masdar menjelaskan, masjid yang pertama (masjid secara fisik) disebut masjid mikro, yang kedua disebut masjid makro (bumi Allah). Pengelolaan masjid mikro adalah tolok ukur pengelolaan masjid makro.

“Masjid itu adalah potret dari kehidupan berbangsa, bernegara dan berbumi ini,” tambahnya.

Kiai penulis buku Syarah Konstitusi: UUD 1945 dalam Perspektif Islam ini menjelaskan, jika disiplin di masjid, misalnya datang tepat waktu shalat, rapi dalam barisan, akan disiplin dalam kehidupan di masyarakat. Jika mau membersihkan masjid, mau juga membersihkan bumi Allah.

“Kalau infaq di masjid itu berjalan dengan baik, berarti pendanaan keumatan juga akan berjalan dengan baik.”

Ia berharap semua pengurus NU lebih memperhatikan masjid. Tidak semua pengurus NU di semua level ada bidang keta’miran masjid. Padahal di situlah umat bertemu dan berkumpul.

“Karena itulah manfaat dari ilmu yang mengalir dari mata air pesantren tidak “sumerambah” tidak menyebar sebagaimana mestinya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Meme Islam Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 30 Januari 2011

Teladan Kita Bukan Maradona, Tapi...

Jepara, Pondok Pesantren Tegal. Pelawak sekaligus dai HM Syakirun turut menyemarakkan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dan khitanan massal yang diselenggarakan pengurus masjid MI Hasyim Asyari Bangsri Jepara, Jawa Tengah, Jumat (17/1) malam.

Dalam pengajian yang berlangsung di Jalan Raya depan Terminal Bangsri Kirun, panggilan akrabnya mengajak jamaah untuk meneladani Nabi Muhammad SAW. “Teladan kita bukanlah Maradona, Rhoma Irama, Jokowi, Sule dan Tukul Arwana melainkan Muhammad SAW,” tegasnya kepada ribuan jamaah yang hadir.   

Teladan Kita Bukan Maradona, Tapi... (Sumber Gambar : Nu Online)
Teladan Kita Bukan Maradona, Tapi... (Sumber Gambar : Nu Online)

Teladan Kita Bukan Maradona, Tapi...

Meneladani Nabi kata lelaki asal Madiun Jawa Timur itu dengan mengikuti empat sifat wajibNya; sidiq, amanah, tabligh dan fathanah. “Dengan kejujuran para santri yang kini sedang menuntut ilmu kelak yang akan memimpin bangsa kita Indonesia,” katanya.

Pondok Pesantren Tegal

Kirun pun menyontohkan tokoh semacam Gus Ipul Wagub Jatim, Ki Entus Susmono Bupati Tegal bisa mewarnai bangsa, sebutnya dengan modal sidiq, kejujuran.

Pondok Pesantren Tegal

Dalam ceramahnya ia juga menceritakan tentang dirinya yang kini banyak mengaji. Hal itu dilakukannya dalam rangka gandul sarung kiai. Golek selamet dunia dan akhirat. “Saya nyedak Ulama agar tidak katut pelawak yang nyedot sabu-sabu,” tambahnya.

Disamping itu, imbuhnya untuk menggapai berkah. “Pedagang untung karena dagangannya laku. Petani panen hasil tandurannya. Bupati lan polisi digaji karena bekerja untuk negara. Lha aku dibayar goro-goro lambeku,” guraunya sembari disambut tawa jamaah.

Agar lambe, (mulutnya, red) berkah itulah ia semakin dekat dengan kiai. “Dengan ilmu hidup menjadi berkah, dengan agama akan terarah dan dengan budaya hidup menjadi indah,” pungkasnya. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nahdlatul Ulama, AlaSantri Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 29 Desember 2010

Dikelola Tidak Produktif, Wakaf Kehilangan Potensi Berkembang

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Wakaf merupakan salah satu ajaran Islam yang dapat berfungsi sebagai alat penciptaan keadilan sosial. Berbeda dengan zakat dan infak yang bisa dimanfaatkan secara langsung dan dihabiskan, wakaf diharapkan dikelola sebagai harta abadi yang hasilnya dimanfaatkan secara terus menerus.

Dikelola Tidak Produktif, Wakaf Kehilangan Potensi Berkembang (Sumber Gambar : Nu Online)
Dikelola Tidak Produktif, Wakaf Kehilangan Potensi Berkembang (Sumber Gambar : Nu Online)

Dikelola Tidak Produktif, Wakaf Kehilangan Potensi Berkembang

Temuan Badan Wakaf Indonesia (BWI) menunjukkan adanya 4.142 juta km persegi tanah wakaf di Indonesia. Sayangnya lebih dari 90 persen pemanfaatannya untuk pemakaman, masjid, dan pesantren atau sekolah Islam. JE Robbyantono dari divisi pengelolaan dan pemberdayaan BWI mengungkapkan wakaf seharusnya dikelola secara produktif sehingga menghasikan keuntungan bukan menimbulkan biaya tambahan untuk pengelolaannya. Hal ini dijelaskan dalam pertemuan antara BWI, para wartawan, dan pemangku kepentingan BWI di Jakarta, Rabu (29/6). Akibatnya, biaya-biaya tersebut harus ditanggung oleh masyarakat berupa mahalnya biaya dan penjualan tanah kuburan, sekolah yang mahal, dan kotak infak masjid. Jika dikelola secara produktif, harta wakaf bahkan bisa dimanfaatkan untuk operasional dan pembangunan masjid, pendidikan gratis, kesehatan gratis, lembaga kajian strategis, dan lainnya.?

Salah satu yang sedang digagas oleh BWI adalah membangun properti berupa gedung perkantoran Global Wakaf Tower yang berlokasi di daerah Kuningan Jakarta bekerja sama dengan Islamic Development Bank (IDB) sebagai sarana untuk meningkatkan produktifitas tanah wakaf di lokasi-lokasi strategis. Ia menjelaskan, tanah yang dikelola oleh Yayasan Raudhatul Mutaallimin ini setiap tahun hanya mendapatkan dana sebesar 200 juta. Pengembangan tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan sampai dengan 1.6 Miliar per tahun. Setelah masa kerjasama tersebut, potensi pendapatannya menjadi 6 miliar per bulan atau 72 miliar per tahun. Sebuah peningkatan yang luar biasa dengan perubahan tata kelola.

Wakaf produktif memang belum populer di Indonesia karena ? pemahaman yang masih lemah, baik masyarakat, wakif, nazhir, dan pemerintah sebagai regulator. Di sisi lain, terdapat permasalahan seperti terjadinya ruislagh tanah-tanah strategis di kota-kota besar yang tidak setara nilai ekonominya. Padahal untuk bisa menghasilkan keuntungan maksimal, maka lokasi-lokasi tanah wakaf yang akan dibangun harus berada di lokasi yang strategis. Menurutnya, lembaga keuangan saat ini juga belum memberikan dukungan untuk pengembangan aset wakaf menjadi produktif. Kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga wakaf juga menjadi persoalan.

Beberapa negara telah berhasil menjadikan aset wakafnya produktif seperti Singapura dengan Waqaf Real Estate Service (Warees). IDB sendiri memiliki program pendanaan untuk pengembangan aset wakaf melalui Awqaf Properties Investment Fund (APIF) yang telah mendanai sejumlah proyek di berbagai negara.

Pondok Pesantren Tegal

Satu hal yang perlu mendapat perhatian adalah adanya keyakinan bahwa aset wakaf tidak boleh berkurang. Hal ini harus dilakukan pengkajian ulang.?

Pondok Pesantren Tegal

"Padahal namanya bisnis pasti ada risiko kerugian," jelasnya. Tanah di lokasi tertentu yang jalannya terkena proyek flyover harganya pun menjadi turun, katanya memberi contoh.

Bahrul Hayat dari Kementerian Agama dalam sesi yang sama melihat peranan ? wakaf dalam mengembangkan pendidikan. Ia berpendapat, wakaf harus diserahkan pada penyediaan layanan pendidikan yang bermutu dengan menyeimbangkan aset penguatan lembaga dan aset produktif untuk pengembangan program.?

Mengacu pada dana-dana endowment di Barat untuk pendidikan, sebagian besar diarahkan untuk pengembangan sarana dan prasarana pendidikan, pengembangan riset dan ilmu pengetahuan, chaired professorship, beasiswa, dan riset di bidang kemanusiaan. Dengan dukungan dana endowment yang besar, universitas terbaik di dunia bisa terus berkembang seperti Harvard yang memiliki dana abadi sebesar 35.8 miliar USD AS atau sekitar 483 triliun rupiah. Stanford University memiliki dana abadi 21.446 miliar USD, Massachusetts Institute of Technology memiliki dana abadi senilai 12.425 miliar USD. Universitas terbaik di Indonesia, seperti ITB, UI, dan UGM masih menggantungkan sebagian besar pendanaannya dari pemerintah dan kemampuan pendanaannya masih jauh dibandingan dengan universitas top kelas dunia. Universitas di negeri Muslim yang sudah memiliki dana wakaf adalah ? Al Azhar, dan yang terbaru adalah King Saud University dengan dana 2.7 miliar dolar Amerika Serikat. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ulama, Fragmen Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 01 Desember 2010

Akar Nasionalisme dari Pesantren

Semarang, Pondok Pesantren Tegal. Nasionalisme atau jiwa kebangsaan Indonesia, bukanlah kesadaran yang datang belakangan. Jiwa mencintai tanah air ini sudah mengakar jauh sebelum ada Indonesia. Dan akar itu ada di pesantren, di kalangan para ulama Nusantara.

Demikian disampaikan Katib Syuriyah PBNU KH Yahya Staquf salam sambutan pembukaan Konferensi Wilayah NU Jateng ke-14 di komplek sekolah Semesta Gunungpati, Semarang, Ahad (23/6).

Akar Nasionalisme dari Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Akar Nasionalisme dari Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Akar Nasionalisme dari Pesantren

Para kiai, sambung KH Yahya, sejak masa penjajahan sudah menyadari, mencintai dan membela tanah air adalah sebagian dari iman. Karena itu, nasionalisme adalah pengamalan syariat Islam. Jadi, semakin orang beriman, semakin cinta pada tanah airnya, dan semakin cinta pada bangsanya. Hal itu pula yang dijiwai oleh Hadlrotus Syaikh KH Hasyim Asy’ari ketika mendirikan NU di tahun 1926 masehi.

Pondok Pesantren Tegal

Kiai muda yang biasa dipanggil Gus Yahya ini mengungkapkan, para ulama Aceh pada tahun 1886, dalam dokumen yang ditemukan oleh peneliti NU Jadul Maula pernah berfatwa, jika suatu masa ada kerajaan berdiri setelah merdeka dari jajahan Belanda, umat Islam di Aceh wajib menaati kerajaan tersebut.

Pondok Pesantren Tegal

“Fatwa Ulama Aceh itu terbukti dengan pengakuan rakyat Aceh terhadap Proklamasi Kemerdekaan RI oleh Bung Karno, dan Aceh menjadi penyumbang sangat besar bagi berdirinya republik ini,” tuturnya.

NU, kata dia, ikut mendirikan republik ini. KH Abdul Wahid Hasyim yang menjadi anggota tim 9 (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia-PPKI), ikut menyusun piagam Jakarta dan menyetujui Pancasila dan UUD 1945. Jadi NU sejak dulu dan sampai kapanpun akan menjadi penjaga  NKRI.

Puncaknya, lanjut dia, pada Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo, Rais Am Syuriyah waktu itu, KH Ahmad Siddiq menegaskan, NKRI yang berdasar Pancasila dan UUD 1945 adalah bentuk final perjuangan umat Islam menjalankan syariat agama.

“Semua sikap NU dalam mendirikan dan mengawal republik ini, itu berdasar syariat. Ketika pada Oktober 1945 Rais Akbar NU KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad untuk membela tanah air, itu juga demi menjalankan syariat,” tuturnya.

Ia tegaskan, sikap NU yang seperti itu harus dikabarkan. Agar orang-orang tahu bahwa Islam itu bukan yang memusuhi NKRI, menuding Pancasila sebagai thoghut dan menganggap Indonesia negara kafir. Agar khalayak mengerti bahwa  yang bersikap seperti itu tidak mewakili umat Islam.

Pembukaan Konferwil dihadiri sejumlah tokoh nasional, sesepuh NU pejabat pemerintah, politisi, pengamat dari luar negeri maupun tokoh ormas lain. Diantaranya mantan gubernur Jateng Ali Mufiz, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, mantan Wakil Gubernur H Ahmad, Dubes RI untuk Aljazair Ahmad Niam Salim.

Redaktur      : Abdullah Alawi

Kontributor : Muhammad Ichwan

     

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal AlaNu, Tokoh Pondok Pesantren Tegal