Jumat, 08 Agustus 2014

Menengok Toleransi Beragama di Masa Majapahit

Saling menghargai dan menghormati sesama warga merupakan ajaran yang sudah diberikan oleh nenek moyang kita sejak Indonesia belum bernama ‘Indonesia’. Hal itu bisa kita ketahui dari kerajaan besar yang pernah berdiri dan berkembang pesat di wilayah Nusantara seperti Majapahit pada sekitar abad ke-13 M.?

Apakah kerajaan Majapahit mengajarkan persatuan dan kesatuan? Hal itu bisa kita lihat dari novel yang ditulis Langit Kresna Hariadi dengan Judul Gajah Mada. Buku Gajah Muda merupakan cerita Kerajaan Majapahit dengan menyoroti kebesaran Mahapatihnya, Gajah Mada. Buku ini terdiri dari lima seri dengan judul besar yang sama, yaitu Gajah Mada.?

Dari kelima seri buku tersebut, buku Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa merupakan buku kelima yang mengisahkan tentang Gajah Mada yang mengundurkan diri dari jabatan Mahapatih. Pengunduran tersebut dikarenakan tragedi Perang Bubat yang menjadi tragedi berdarah antara kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Sunda Galuh. Tragedi tersebut menyeret Gajah Mada yang pada saat itu bertindak sebagai Mahapatih menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Sampai pada akhirnya, Gajah Mada meninggalkan jabatannya dan yang pada awalnya mengambil sumpah Hamukti Palapa untuk menyatukan Nusantara, kini memilih Hamukti Moksa di tempat yang selanjutnya dinamakan Madakaripura.?

Menengok Toleransi Beragama di Masa Majapahit (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Toleransi Beragama di Masa Majapahit (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Toleransi Beragama di Masa Majapahit

Madakaripura merupakan tanah perdikan milik mahapatih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit. Tanah perdikan tersebut saat ini lebih terkenal dengan air terjunnya yang terletak di Dusun Branggah, Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang,Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur.?

Dalam novel tersebut, terdapat cuplikan perisitiwa yang menunjukkan bagaimana kuatnya saling menghormati dan menghargai pada masa Majapahit. Pengarang menceritakan mahapatih Gajah Mada dalam perjalanannya saat menuju tanah perdikan mengalami berbagai peristiwa. Salah satunya yaitu ? peristiwa yang terjadi di ? Perkampungan Pamadan. Kampung Pamadan merupakan sebuah desa yang harus dilalui ketika akan menuju tempat Madakaripura tersebut.?

Saat itu, Gajah Mada mendapati perkampungan dalam keadaan sepi. Padahal ketika beberapa kali didatanginya merupakan tempat yang amat hidup dan penuh geliat. Gajah Mada bertanya-tanya dalam hati. Ke mana perginya mereka. Untuk memastikan penasarannya, ia memutuskan berbelok ke sebuah rumah. Namun, setelah mencoba masuk ke dalam rumah, ia tidak mendapati seorang pun di sana. Akhirnya, Gajah Mada memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.?

Pondok Pesantren Tegal

Setelah berpacu dengan kudanya beberapa saat, ia melihat ada hal yang berbeda. Sebuah rumah, merupakan satu-satunya rumah yang mengalami nasib berbeda, hangus terbakar dan dengan kasat mata terlihat adanya jejak-jejak perusakan. Berbekal pengalaman yang dimiliki sebagai mantan pasukan khusus Bhayangkara, ia mencoba menelusuri jejak hangusnya tersebut.?

Pada akhirnya, Gajah Mada terbelalak melihat pemandangan yang mendebarkan dari ketinggian tempatnya berada. Ia melihat sekelompok orang dalam sebuah barisan berhadapan dengan kelompok lain yang bersikap sama. Dua kelompok itu terlihat seperti sedang bersiap untuk berperang habis-habisan. Selanjutnya, mereka diketahui berasal dari orang-orang yang berasal dari desa Saleces dan desa Pamadan.?

Pondok Pesantren Tegal

Konflik itu tersulut oleh peristiwa yang bermula dari anak gadis Ki Buyut Saleces yang dibawa lari oleh Ki Pintasmerti. Hal itu sertamerta dilakukan akibat dari penolakan secara mentah-mentah dari Ki Buyut Saleces, pemimpin dari desa Saleces, yang anak gadisnya dipinang oleh Ki Pintasmerti, pemimpin dari desa Pamadan. Penolakan itu mempunyai dua alasan. Pertama, anak gadisnya telah dijodohkan dengan kerabat bangsawan Lumajang. Alasan kedua yaitu dari pihak Ki Buyut Saleces beragama Syiwa, sedangkan Ki Pintasmerti menganut Budha. Akhirnya, imbas dari perseteruan tersebut adalah bentrok dari kedua warga tersebut.

Sebelum terjadi perpecahan yang menimbulkan korban, akhirnya Gajah Mada menampakkan diri di tengah-tengah dua kelompok itu. Ia meminta keterangan lebih lanjut dari dua pihak yang berseteru. Sampai pada akhirnya, ia mengetahui bahwa sebenarnya kedua anak mereka saling mencintai. Namun, karena alasan yang sudah disebutkan di atas, mereka akhirnya melakukan tindakan tersebut. Selain itu, Gajah Mada juga terkejut dengan fenomena yang ada di warga Saleces, bahwa mereka semua menganut Syiwa. Setelah Gajah Mada bertanya kepada warga, ternyata Ki Buyut Saleces sebagai pemimpin melarang warganya menganut ajaran selain Syiwa. Jika ada yang menganut Budha, Ki Buyut mengancam mereka.?

Dari pengakuan tersebut, pada akhirnya Gajah Mada dengan suara lantang menjelaskan bahwa Majapahit memberikan pengakuan kepada agama Syiwa dan agama Budha serta meminta kepada semua penganutnya untuk hidup rukun dan berdampingan. Hal itu semuanya diatur dalam Tripaksa. Karena mereka udah melakukan kesalahan, mereka disuruh menghadap ke kotaraja Majapahit untuk menghadap Prabu dan meminta hukuman yang setimpal.

Pada akhirnya, dengan karisma yang dimiliki oleh Gajah Mada, mereka menghadap kepada Prabu serta meminta hukuman yang setimpal atas perbuatannya dalam melanggar aturan toleransi yang terkandung dalam Tripaksa tersebut.

Gambaran yang dilakukan oleh penulis buku ini membawa pembaca untuk menyelami kurun waktu abad ke-13 M. Pembaca dapat memahami Majapahit secara historis, geneologis, dan ideologis. Tokoh-tokoh yang terdapat dalam kerajaan Majapahit juga dapat pembaca temukan di dalam buku yang banyak menghadirkan rujukan buku sejarah dan kitab kuno yang ditulis oleh Empu Prapanca secara otoritatif ini.

Kajian buku yang mengupas habis sejarah kebesaran Majapahit pada masa mahapatih Gajah Mada ini, menggambarkan betapa besar dan luasnya pengaruh yang disebarkan oleh nenek moyang kita terdahulu. Bahkan, sebelum Pancasila lahir sebagai dasar negara, fenomena kehidupan yang ditampilkan dalam buku ini sudah menerapkan itu semua. Bahkan, sila ketiga menyebutkan bahwa negara kita menjadikan asas persatuan sebagai landasan bangsa, hal itu sudah diajarkan jauh sebelum Indonesia menjadi seperti sekarang. Persatuan itu tidak hanya kelompok-kelompok tertentu saja, entah kelompok suku maupun agama, tetapi persatuan yang dibingkai melalui keragaman budaya serta agama yang menjunjung tinggi toleransi.?

Review buku secara singkat ini tentu belum menghadirkan semua informasi dan gagasan penulis buku secara utuh sehingga pembaca dapat memahami lebih jauh lagi dengan membaca bukunya secara langsung. Selamat membaca!

Identitas buku:

Judul Buku ? ? : Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa

Penulis ? ? ? ? ? : Langit Kresna Hariadi

Tebal ? ? ? ? ? ? ? : 574 halaman

Cetakan ? ? ? ? ? : Keenam, Desember 2008

Penerbit ? ? ? ? ? : Tiga Serangkai Solo

ISBN ? ? ? ? ? ? ? ? : 979 33 0712 9

Peresensi ? ? ? : M. Ilhamul Qolbi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kiai Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 20 Juli 2014

Semangat NU Care Bantu Pesantren Tahfidh di Bogor

Bogor, Pondok Pesantren Tegal

Mendung yang menggantung di langit Pondok Pesantren Annur di Jalan Cibeureum Gang Menteng, Kampung Nyalindung, Desa Sukamantri Kecamata Tamansari, Bogor Jawa Barat sejak sebelum shalat Jumat (24/30) berubah jadi hujan. Selama dan beberapa saat setelah pelaksanaan shalat, hujan masih turun, hingga perlahan berubah gerimis.

Semangat NU Care Bantu Pesantren Tahfidh di Bogor (Sumber Gambar : Nu Online)
Semangat NU Care Bantu Pesantren Tahfidh di Bogor (Sumber Gambar : Nu Online)

Semangat NU Care Bantu Pesantren Tahfidh di Bogor

Suasana basah dan dingin mengantar jamaah shalat Jumat terutama penduduk sekitar meninggalkan masjid di kompleks pesantren. Keadaan menjadi hangat saat beberapa santri menabuh rebana, membawakan musik hadrah. Sementara para santri lainnya mendendangkan shalawat.

Setelah sajian musik hadrah dan shalawat, Ustadz Fathurrohman, salah satu pengajar di pesantren tersebut, mengumumkan bahwa siang itu Pondok Pesantren Annur kedatangan tamu.

Pondok Pesantren Tegal

Kepada para tamu, Ustadz Fathurrohman menjelaskan Pondok Pesantren Annur merupakan pesantren tahfidh Al-Qur’an. Dirintis pada tahun 2007, semula pesantren itu hanya memiliki delapan santri. Berdiri di atas lahan seluas 1, 8 hektar, Pesantren Annur dibangun atas cita-cita H Amran yang ingin mewadahi para yatim dan dhuafa untuk menghafal Al-Quran.

Pondok Pesantren Tegal

“Perkembangan berikutnya, dilihat dari hasil yang cukup memuaskan terbukti dengan hafalan yang baik, masyarakat mulai tertarik untuk menitipkan anak mereka menghafal Al-Quran di sini,” kata Ustadz Fathurrohman.

Saat ini ada 125 santri di Pesantren Annur. Para santri yang berada pada rentang usia SMP-SMA, berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka belajar secara gratis di pesantren tersebut, baik untuk makan, tempat tinggal, maupun biaya pendidikan. Sementara alumninya banyak yang meneruskan belajar maupun mengabdikan diri di berbagai tempat termasuk luar negeri seperti Qatar dan Turki. ?

Para tamu yakni tim NU Care LAZISNU siang itu datang ke pondok pesantren Annur untuk menyerahkan bantuan berupa beras seberat 1,5 ton.

“Setelah saya bertemu dengan dan berbicara dengan para pengasuh dan ustadz di Pesantren Annur, saya dipenuhi pikiran apa yang bisa kami (NU Care) lakukan. Adalah? tanggung jawab kita untuk saling berbagi. Kalau ada sedikit yang kami salurkan sekarang, ini adalah apresiasi dan penghormatan kepada para santri di sini,” kata Samsul.

Menurutnya, suasana menyenangkan dan melegakan di pondok pesantren sebagai tempat belajar harus selalu diciptakan. Karenanya ia berharap akan ada banyak hal yang bisa dilakukan dalam waktu ke depan untuk pesantren tersebut.

“Apa yang kurang di sini dan bisa kita tambahkan untuk perbaikan, akan kita diskusikan. Semuanya untuk meningkatkan semangat dan konsentrasi para santri di sini,” harapnya. (Kendi Setiawan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ulama, News, Kyai Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 04 Juli 2014

Amal Perbuatan Perspektif Kitab Al-Hikam

"Jika Tuhan hendak menampakkan Karunia-Nya kepadamu, maka Dia ciptakan amal dan kemudian dinisbatkannya kepadamu.” (Al-Hikam - Ibn Athaillah)

Seringkali kita terpesona dengan cara Allah menuntun kita membuka jalan menuju ladang amal kebaikan. Dibentangkannya kesempatan untuk kita menunaikan janji, mengabdi dan mengamalkan apa yang telah Tuhan ajarkan sebelumnya kepada kita.

Amal Perbuatan Perspektif Kitab Al-Hikam (Sumber Gambar : Nu Online)
Amal Perbuatan Perspektif Kitab Al-Hikam (Sumber Gambar : Nu Online)

Amal Perbuatan Perspektif Kitab Al-Hikam

Tuhan bekerja dengan cara-Nya, lantas semua kesuksesan itu dinisbatkan kepada kita. Seolah-olah itu semua hasil kerja keras dan perjuangan kita. Sebenarnya itu hanyalah Karunia-Nya kepada kita karena Dia-lah yang menciptakan amal untuk kemudian kita turut mengerjakannya.

Maka pada setiap amal pekerjaan kita, niatkanlah sebagai bentuk pengabdian kita untuk-Nya. Mengapa demikian? Amal itu bermula dari-Nya dan kita kembalikan hanya kepada-Nya. Dia-lah yang Awal dan Dia pula yang Akhir. Inilah teologi amal.

Ibn Athaillah: "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan.”

Pondok Pesantren Tegal

Cara kita menyambungkan niat kita dengan Allah sebelum melakukan aktivitas menentukan nilai keberhasilan. Segala amal perbuatan tergantung niat. Begitu pesan Nabi dalam Hadits shahih.?

Begitu niat sudah kita pasang efeknya dahsyat karena semua gerak panca indera mengikuti niat tersebut. Hati dan pikiran menjadi fokus. Begitu hebatnya nilai sebuah niat, langsung tercatat sebagai sebuah kebajikan meskipun kelak tak jadi dilaksanakan

Pondok Pesantren Tegal

Ibn Athaillah: "Janganlah cita-citamu tertuju pada selain Allah. Harapan seseorang tak akan dapat melampaui yang Maha Pemurah".?

Pasang niat yang baik di awal, dan tujukan semua akhir kepada-Nya. Karena Dia-lah yang Maha Pemurah. Seberapa pun besar harapan yang kita tujukan padanya, semua akan berada dalam jangkauan rahmat-Nya. Rahmat-Nya meliputi semuanya. Maka janganlah berputus asa baik di awal perbuatan, di tengah maupun di akhir karena sudah kita letakkan harapan di Tangan-Nya

"Siapa yang tidak mensyukuri nikmat, berarti menginginkan hilangnya. Dan siapa yang mensyukurinya, berarti telah secara kuat mengikatnya." Ibn Athaillah kembali mengajarkan kita bahwa sebaiknya kita ikat nikmat pemberian Allah itu dengan rasa syukur.

Pemberian Allah yang kita ikat dengan rasa syukur, akan semakin kuat nilainya, dan terus bertambah. Sebaliknya, kufur nikmat akan menghapusnya. Komplit sudah amalan kita jika niat sudah mantap di awal, tujuan amal hanya kepada Allah dan syukur mengikat nikmat di akhir.

Nadirsyah Hosen, Pengasuh Pondok Pesantren Mahad Aly Raudhatul Muhibbin, Caringin Bogor Pimpinan KH M. Luqman Hakim.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ahlussunnah, Humor Islam Pondok Pesantren Tegal

Senin, 30 Juni 2014

Ulama Ikut Peduli Promosi Kesehatan

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal

“Allah tidak akan menciptakan sebuah penyakit, kecuali ada obatnya.” Demikianlah kutipan hadist yang seringkali disampaikan oleh para dai ketika menyampaikan materi soal kesehatan. 

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan, persoalan kesehatan mendapat perhatian besar dalam Islam, banyak ayat Qur’an dan Hadist yang berbicara soal kesehatan dan menjadi bagian dari tugas para ulama untuk mendorong masyarakat agar berperilaku hidup sehat.

Ulama Ikut Peduli Promosi Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Ikut Peduli Promosi Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Ikut Peduli Promosi Kesehatan

Pernyataan ini disampaikan dalam acara pertemuan nasional Peran Tokoh Agama dalam Promosi Kesehatan yang digagas oleh Lembaga Kesehatan NU, Pusat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI dan Statistical, Economic and Social Research and Training Centre for Islamic Countries (SESRIC)

Pondok Pesantren Tegal

Ia menegaskan, dalam kemampuan agama, orang NU sudah cukup mumpuni, tetapi dalam bidang lainnya, masih perlu ditingkatkan seperti dalam bidang pendidikan, kebudayaan, ekonomi, termasuk kesehatan. Hal tersebut penting untuk mencapai kesejahteraan dalam hidup.

Pondok Pesantren Tegal

Dalam membina kesehatan ini, tidak dibatasi oleh ajaran agama. Ia mengisahkan sejumlah khalifah yang memiliki dokter pribadi non Muslim, karena terbukti mereka memiliki kemampuan yang dapat diandalkan. 

Sementara itu, Kepala Pusat Promosi Kesehatan Kemenkes Bambang menuturkan, baru sekitar 50 persen penduduk Indonesia berperilaku hidup bersih dan sehat, dengan menggunakan 10 indikator. 

“Jika indikator jumlah indikator tersebut ditingkatkan menjadi 20, maka persentasenya akan semakin kecil,” katanya.

Para ulama dan tokoh masyarakat, katanya, memiliki peran penting dalam membantu mendorong masyarakat berperilaku hidup sehat.

Sementara itu, Prof. Savas Alpay, direktur jenderal  Statistical, Economic and Social Research and Training Centre for Islamic Countries (SESRIC) menekankan pentingnya melindungi generasi muda dari bahaya merokok, selain menghabiskan uang, juga memiliki potensi terkena sejumlah penyakit. Sejumlah industri rokok skala global melakukan ekspansi ke negara-negara berkembang karena di negara mereka, regulasinya sudah sangat ketat.

Terdapat sejumlah kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan tersebut, diantaranya meminta tokoh agama mengajak orang tua dan remaja berperilaku hidup sehat, di sekolah dan di lingkungan keluarga, edukasi publik akan potensi bahaya kebiasaan merokok dengan metode yang tepat sasaran serta pentingnya mengaturkan area merokok dalam upaya menghargai kesehatan, baik diri sendiri maupun orang lain.

Tokoh agama diminta mendorong para remaja agar mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri, pilihannya, serta mampu bernegosiasi dengan dinamika hidup di lingkungan sekitarnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ulama Pondok Pesantren Tegal

Mewaspadai Aliran Salafi, Wahabi, Dan Hizbut Tahrir

Judul: Benteng Ahlussunnah Wal Jama’ah (Menolak Faham Salafi, Wahabi, MTA, Hizbut Tahrir Dan LDII)

Penulis : Nur Hidayat Muhammad 

Pengantar: Shofiyullah Mukhlas Lc., M.A.

Penerbit: Nasyrul Ilmi, Kediri

Mewaspadai Aliran Salafi, Wahabi, Dan Hizbut Tahrir (Sumber Gambar : Nu Online)
Mewaspadai Aliran Salafi, Wahabi, Dan Hizbut Tahrir (Sumber Gambar : Nu Online)

Mewaspadai Aliran Salafi, Wahabi, Dan Hizbut Tahrir

Cetakan: I, April 2012

Tebal: xvi + 288 hlm.

Peresensi: Ach. Tirmidzi Munahwan

Pondok Pesantren Tegal

Akhir-akhir ini yang menjadi tantangan bagi warga NU adalah maraknya aliran-aliran baru yang menyimpang dari ajaran ahlussunnah wal jama’ah. Aliran-aliran tersebut seperti, Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA), Syi’ah, Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Salafi Wahabi, dan Hizbut Tahrir (HTI). Dari beberapa kelompak dan aliran ini, ajaran amaliahnya jauh berbeda dengan apa yang selama ini menjadi tradisi di kalangan warga nahdliyin. Bahkan mereka memvonis akidah amaliah warga NU seperti, tahlilan, yasinan, shalawatan, adalah perbuatan bid’ah, dan diharamkan melakukannya.

Pondok Pesantren Tegal

Melalui buku “Benteng Ahlusunnah Wal Jama’ah”, Menolak Faham Salafi, Wahabi, MTA, LDII, dan Hizbut Tahrir yang ditulis oleh Nur Hidayat Muhammad ini, kita bisa mengenali seperti apa kondisi aliran tersebut yang saat ini telah berkembang besar di Indonesia, baik dari segi proses kelahirannya maupun sikap mereka terhadap para ulama. Kita tahu gerakan-gerakan mereka hanya berbekal dalil sekenanya saja, mereka mengklaim telah memahami ajaran Rasulullah dengan semurni-murninya, padahal dalilnya adalah palsu dan tidak rasional. Mereka sebenarnya tidak memahami isi al-Qur’an dan hadits, apalagi hingga menafsirkannya. 

Munculnya beberapa aliran seperti, Salafi Wahabi dan Hizbut Tahrir di Indonesia bukanlah mendamaikan umat Islam justru perpecahan yang terjadi dikalangan umat Islam. Islam melarang melakukan perbuatan kekerasan dan perpecahan, Islam adalah agama yang ramah, santun, yang menjunjung perdamaian, persaudaraan antar sesama. Salafi Wahabi adalah kelompok yang mengusung misi modernisasi agama dan perintisnya adalah Muhammad bin Abdil Wahhab di Nejd. Beliau adalah pengikut madzhab Imam Ahmad, akan tetapi dalam berakidah beliau mengikuti Ibnu Taimiyah.

Ajaran Salafi Wahabi adalah, mengkafirkan sufi Ibnu Arabi, Abu Yazid al-Bustani. Mudah mengkafirkan muslim lain. Memvonis sesat kitab “Aqidatul Awam, dan Qashidah Burdah. Mengkafirkan dan menganggap sesat pengikut Mazdhab Asy’ari dan Maturidiyyah. Merubah beberapa bab kitab-kitab ulama klasik, seperti kitab al-Adzkar an-Nawawi. Mereka menolak perayaan Maulid Nabi Muhammad karena menganggap acara tersebut sebagai acara bid’ah, dan perbuatan bid’ah menurut mereka adalah sesat semuanya. mereka menilai acara yasinan tahlilan adalah ritual bi’ah, padahal kedua amalan tersebut tidak bisa dikatakan melanggar syari’at, karena secara umum bacaan dalam susunan tahlil ada dalil-dalilnya baik dari al-Qur’an dan al-Hadits seperti yang sudah disampaikan oleh para ulama-ulama terdahulu. Dan mereka menolak kitab “Ihya’ Ulumuddin” karya Imam al-Ghazali (hal.24-25).

Aliran dan gerakan yang akhir-akhir ini berkembang di Indonesia, adalah Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir sebetulnya adalah nama gerakan atau harakah Islamiyyah di Palestina dan bukan sebuah aliran, atau lembaga strudi ilmiyah, atau lembaga sosial. Mereka hanyalah organisasi politik yang berideologi Islam dan berjuang untuk membangkitkan kembali umat Islam dari kemerosotan, membebaskan umat dari ide-ide dan undang-undang kufur, membebaskan mereka dari cengkeraman-cengkeraman dominasi negara-negara kafir dan mendirikan kembali sistem khilafah dan menegakkan hukum Allah dalam realita kehidupan.

Gerakan yang muncul pertama kali di Quds Palestina ini, selain mengusung konsep khilafah kubra, juga menolak sistem pemerintahan demokrasi yang dianut sebagian besar negara di dunia. Tujuan besar mereka adalah memulai kehidupan Islami dengan cara menancapkan tonggak-tonggak Islam di bumi Arab baru kemudian merambah khilafah Islamiyah (hal.33).

Adapun konsep mazdhab Hizbut Tahrir adalah, ingkar akan kebenaran dan adzab kubur. Membolehkan mencium wanita bukan istri baik dengan syahwat atau tidak. Tidak percaya akan munculnya Dajjal diakhir zaman. Hadits ahad tidak boleh dijadikan dalil dalam akidah. Dan membolehkan negara Islam menyerahkan pajak kepada negara kafir.

Dengan membaca buku ini anda akan diajak untuk mengenali beberapa aliran yang ada di Indonesia serta aspek-aspek kesesatannya yang telah menyimpang dari ajaran ahlussunnah wal jama’ah. Buku ini terdiri dari tiga bab pertama, menjelaskan aliran-aliran yang berkembang di Indonesia seperti, Ahmadiyah, LDII, MTA, Ingkar Sunnah, Salafi Wahabi, Syi’ah, HTI, Muhammadiyyah, dan Ahlusunnah Wajjama’ah. Kedua, membantah tuduhan wahabi dan MTA. Ketiga, tanya jawab seputar tarekat sufi, sebagai penegas amaliah tarekat sufi yang tidak bertentangan dengan syari’at. Buku ini diharapkan sebagai benteng warga NU dari serangan aliran-aliran dan faham yang saat ini marak dan berbeda dengan mayoritas umat Islam pada umumnya.

* Dosen Sekolah Tinggi Islam Blambangan (STIB) Banyuwangi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tokoh Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 15 Juni 2014

Peserta Bahtsul Masail Buntet Pesantren Doakan Buya Ja’far

Cirebon, Pondok Pesantren Tegal. Bahtsul masail, salah satu rangkaian menyambut Peringatan Haul Al-Marhumin Sesepuh dan Warga Buntet Pesantren Cirebon diawali doa bersama untuk almarhum Buya KH Ja’far Aqil Siroj, pengasuh Pesantren Kempek Cirebon yang wafat hari Selasa (1/4). Doa bersama berlangsung khidmat di Masjid Agung Pondok Buntet Pesantren Cirebon, Kamis (3/4) malam.

Peserta Bahtsul Masail Buntet Pesantren Doakan Buya Ja’far (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Bahtsul Masail Buntet Pesantren Doakan Buya Ja’far (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Bahtsul Masail Buntet Pesantren Doakan Buya Ja’far

Sebelum membuka acara, KH Amirudin Abkari yang didaulat untuk memberikan sambutan atas nama dewan sesepuh Buntet Pesantren mengatakan, Buya Ja’far merupakan sosok yang banyak berjasa bagi masyarakat pesantren dan warga Cirebon secara umum.

“Selain sebagai salah tokoh pesantren di Cirebon, almarhum merupakan orang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap warga Cirebon secara keseluruhan. Beliau juga memaksimalkan peran selama hidup sebagai Ketua MUI Kabupaten Cirebon secara tulus,” ungkap Kiai Amir.

Pondok Pesantren Tegal

Kiai Amir juga menyebutkan bahwa Buya Ja’far merupakan sosok yang dengan penuh semangat mendorong kemajuan pesantren. Hal ini, menurut Kiai Amir, yang membuat Buya Ja’far akan selalu dikenang banyak orang.

Pondok Pesantren Tegal

“Mari kita mengirimkan Fatihah secara khusus untuk Buya KH Ja’far Aqil Siroj, sosok yang patut dikenang dan diteladani,” pungkasnya.

Setelah mengirimkan doa dan berbela sungkawa atas meninggalnya Buya Ja’far, ratusan peserta bahtsul masail yang terdiri dari para tokoh sepuh dan kiai muda se-Wilayah III Cirebon ini mulai membahas dan memecahkan masalah kontemporer melalui pandangan fiqih, di antaranya ialah pembahasan soal hukum pemburuan macan Sumatra dan hukum eksploitasi Gunung Ciremai oleh pihak Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang mengundang kontroversi belakangan ini. (Sobih Adnan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal RMI NU Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 06 Juni 2014

Khittah NU Harus Terus Digelorakan

Situbondo, Pondok Pesantren Tegal - Perjalanan panjang Khittah NU menghadapi berbagai tantangan baik sejak awal didirikan hingga saat ini yang demikian panjang. Karenanya diperlukan refleksi ulang agar Khittah NU tetap menjadi roh bagi perjalanan jamiyah tersebut.

Demikian antara lain yang menjadi perhatian para pembicara pada pembukaan Seminar Nasional Refleksi 33 Tahun Khittah NU. Kegiatan diselanggarakan di aula Mahad Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo, Rabu (11/1).

Khittah NU Harus Terus Digelorakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Khittah NU Harus Terus Digelorakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Khittah NU Harus Terus Digelorakan

Dalam pandangan KH Hariri Abdul Adhim, kegiatan ini merupakan upaya melakukan pembacaan ulang sejarah awal pendirian NU. "Bagaimana kita memiliki pemahaman dan pengertian saat Mbah Hasyim mendapatkan restu dari Mbah Cholil Bangkalan ketika hendak mendirikan NU," katanya.

Pondok Pesantren Tegal

Periode berikutnya adalah bagaimana perjalanan NU yang awalnya berorientasi sebagai jamiyah diniyah ijtima‘iyah akhirnya diuji dengan politik praktis. "Karena saat terlibat dalam politik praktis, ternyata menimbulkan gejolak di internal NU," kata Mudir Mahad Aly pesantren setempat tersebut.

Mewakili PWNU Jatim, KH Sadid Jauhari juga mengingatkan bahwa keinginan kembali ke Khittah NU sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 1971. "Akhirnya, pada Musyawarah Nasional atau Munas NU tahun 1983 di pesantren inilah gagasan tersebut dapat diterima," katanya.

Pondok Pesantren Tegal

KH Muhammad Firjaun Barlawan yang juga putra almagfurlah KH Ahmad Shiddiq mengingatkan bahwa kegiatan membincang khittah sebagai sumbangsih bagi khidmat NU. "Diharapkan upaya ini dapat menjadi sumbangsih kita kepada NU," kata Gus Firjaun, sapaan akrabnya.

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama pesantren setempat dengan PW LTN NU Jatim dan TV9 Nusantara. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Khutbah Pondok Pesantren Tegal