Senin, 10 September 2012

Pesan-pesan Mesristek Dikti untuk Para Santri

Jember, Pondok Pesantren Tegal



Mesristek Dikti RI, Muhammad Nasir memompa semangat para santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember agar terus belajar dengan rajin.?

Pesan-pesan Mesristek Dikti untuk Para Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan-pesan Mesristek Dikti untuk Para Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan-pesan Mesristek Dikti untuk Para Santri

Sebab, dengan belajar yang rajin, kelak akan menjadi orang yang bermanfaat. Bermanfaat yang sebesar-besarnya untuk umat dan kemanusiaan adalah capaian yang paling mulia dan besar.?

"Jadi, intinya adalah bermanfaat dalam posisi apa pun dan di tempat mana pun," ucapnya di hadapan ribuan santri di Masjid Baitunnur, Kompleks Nuris, Rabu (27/9) malam.

Menurut Nasir, soal pekerjaan adalah soal nomor sekian. Namun yang pasti, belajar yang rajin adalah suatu keharusan, bukan hanya karena menginginkan satu pekerjaan, tapi juga karena belajar adalah kewajiban bagi umat Islam.?

Pondok Pesantren Tegal

"Saya dulu tak pernah membayangkan akan jadi menteri, tapi karena saya belajar, akhirnya saya ditunjuk oleh Presiden Jokowi untuk jadi menteri," ungkapnya.

Ia mengaku bersyukur bisa berada di tengah-tengah santri. Dikatakannya bahwa dunia santri bagi diirinya tak asing lagi. Bahkan pertemuannya dengan santri Nuris tersebut, diakuinya telah mengingatkan memorinya sekitar 40 tahun yang lalu saat dirinya menimba ilmu di sebuah pesantren.?

"Saya dulu juga santri seperti kalian," ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Nasir juga mengetes ingatan para santri tentang bait-bait kitab Alfiyah. Ia lalu bertanya bunyi awal dan akhir bait kitab Alfiyah. Namun semua santri pada terdiam. Hingga Nasirlah yang yang melafalkan beberapa bait di awal kitab Alfiyah.?

Pondok Pesantren Tegal

"Waktu saya nyantri, saya disuruh menghafalkan kitab Imrithy dan Alfiyah," jelasnya. (aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Berita, Hikmah, Budaya Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 15 Juli 2012

NU Bali: Nahdliyin Konsisten Hormati Nyepi

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Bali menegaskan sikap warga NU yang selalu mengormati peringatan hari raya Nyepi umat Hindu di Bali.

NU Bali: Nahdliyin Konsisten Hormati Nyepi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bali: Nahdliyin Konsisten Hormati Nyepi (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Bali: Nahdliyin Konsisten Hormati Nyepi

"Kita terus konsisten bertoleransi. Tapi peringatan Nyepi kali ini, tentu tak seheboh tahun lalu," kata Ketua PWNU Bali Mulyono Setiawan saat dihubungi Pondok Pesantren Tegal, Senin (11/3) petang.

Menurut dia, peringatan Nyepi tahun baru Saka 1935 pada 2012 lalu cukup membuat sibuk tokoh agama karena jatuh pada hari Jumat. Pemerintah dan ormas Islam, termasuk NU, harus bekerja maksimal untuk mencegah kemungkinan konflik antaragama.

Pondok Pesantren Tegal

"Karena dulu berbarengan dengan shalat Jumat umat Islam, maka kita mengimbau agar tidak mengganggu perayaan Nyepi, seperti tidak menggunakan pengeras suara. Tapi sekarang tidak terlalu mengkhawatirkan" tambah pria yang akrab disapa Pak Wawan ini.

Warga NU di Pulau Dewata, sambung Setiawan, selama ini sanggup berhubungan secara haromis dengan penganut Hindu. Kerja sama antara keduanya dalam sejumlah kegiatan juga sempat dilakukan.

Pondok Pesantren Tegal

"Termasuk hubungan baik dengan pemerintah daerah, dari tingkat kabupaten hingga provinsi," papartnya.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Berita, Cerita Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 06 Juli 2012

Khofifah: Jangan Biarkan Anak Sibuk dengan Gadgetnya

Makassar, Pondok Pesantren Tegal

Ketua Umum Pimpinan Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa meminta perempuan untuk selalu menjaga dan memperhatikan anak-anaknya di era perkembangan teknologi. Para ibu dilarang membiarkan anak-anak sibuk dengan gadgetnya tetapi lupa dengan ibadah, lupa akan pentingnya belajar dan lain sebagainya.

Internet dinilai sesak dengan konten negatif, seperti penyebarluasan kebencian. Ia juga mendorong para ibu untuk mendidik secara benar tanpa meninggalkan doa. "Seorang ibu jangan melupakan kekuatan doa, didiklah dengan kasih sayang dan jangan lupa doakan anak-anakmu," ujarnya.

Khofifah: Jangan Biarkan Anak Sibuk dengan Gadgetnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Jangan Biarkan Anak Sibuk dengan Gadgetnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Jangan Biarkan Anak Sibuk dengan Gadgetnya

Hal itu disampaikan Khofifah dalam acara deklarasi Gerakan Sayang Ibu Tercinta (Gesit) yang dirangkaian Peringatan Hari Ibu 2016, Sabtu (24/12), di Balai Prajurit Manunggal Makassar.

Pondok Pesantren Tegal

Tak lupa Khofifah yang juga Menteri Sosial mengajak ibu-ibu di Makassar untuk melakukan gerakan One Day One Care atau sehari berbagi satu. “Gerakan ini muncul untuk peduli satu sama lain, utamanya untuk mengatasi persoalan sosial yang terjadi di masyakat,” tambahnya.

Di hadapan 3000 ibu-ibu dari berbagai organisasi juga mengungkapkan tentang peran perempuan mengatasi penyakit masyarakat, di antaranya perempuan harus menjadi garda terdepan memberantas narkoba.

Pondok Pesantren Tegal

Deklarasi Gesit diselenggarakan Pimpinan Wilayah Muslimat Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan bersama Universitas Islam Makassar, Badan Kerja Sama Organisasi Wanita, Forum Kajian Cinta Al-Quran, Badan Koordinasi Pendidikan Al-Quran dan Keluarga Sakinah serta Yayasan Jantung Sehat.

Wakil Gubernur Sulawesi Selata, Agus Arifin Numang yang didaulat sebagai Ketua Dewan Pembina Gesit Sulsel dalam sambutannya mengungkapkan, peringatan hari ibu merupakan bukti perjuangan kaum perempuan Indonesia dari masa ke masa.

Menurutnya, perempuan adalah bagian dari sejarah terbentuknya bangsa Indonesia. Saat ini tentu perempuan memiliki tantangan yang tak kalah jauh besar, misalnya dengan maraknya kekerasan anak, serta penyebaran narkoba, HIV AIDS, dan kriminalitas lainnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Ketua Yayasan Lansia Sayang Bunda Nurhayati Yasin Limpo, Ketua PW Muslimat NU Sulsel Majdah Agus Arifin Numang, dan Ketua Gerakan Ibu Tercinta Neno Warisman. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Cerita, Ubudiyah, Tokoh Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 30 Juni 2012

Said Agil Munawwar: Santri Harus Matang Ilmu Ushul Fiqh

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Pemahaman agama secara instan adalah sebuah malapetaka. Doktrin agama yang begitu filosofis tidak bisa hanya dipahami secara tekstual, hanya sekedar melongok teks di al-Qur’an ataupun hadits. Jika hanya mengandalkan teks semata, maka yang diperoleh adalah pemahaman agama secara sempit, kaku, dan tidak kontektual.

Said Agil Munawwar: Santri Harus Matang Ilmu Ushul Fiqh (Sumber Gambar : Nu Online)
Said Agil Munawwar: Santri Harus Matang Ilmu Ushul Fiqh (Sumber Gambar : Nu Online)

Said Agil Munawwar: Santri Harus Matang Ilmu Ushul Fiqh

Seharusnya, tidaklah begitu. Tapi, ada logika berfikir dan analisis yang mendalam, serta proses memadupadankan antar-teks dan konteks dalam kerangka metode pengambilan hukum. Demikian diungkapkan KH Said Agil Husein al-Munawwar, Mantan Menteri Agama RI, saat memberikan ceramah di hadapan peserta Program Pengembangan Wawasan Keualamaan (PPWK), yang diselenggarakan PP Lakpesdam NU, 17-20 April di Jakarta. ?

Menurutnya, kemampuan untuk memahami pesan-pesan dalam teks agama secara utuh itu dapat diperoleh dengan bekal ilmu ushul fiqh. Berarti, ilmu ushul fiqh merupakan pra syarat penting dalam pengambilan keputusan hukum. “Apabila ushul fiqh dapat dikuasai dengan baik, maka ilmu-ilmu keislaman ikut di dalamnya,” tandasnya. ? ? ? ?

Pondok Pesantren Tegal

Belajar ushul fiqh berarti mempelajari ulumul quran, ulumul hadits, ilmu kalam, dan mantiq. Tapi sayang, ia mengamati melakangan ini, santri-santri di pesantren tidak banyak yang menekuni secara serius dan mendalam ilmu ushul fiqh ini. Kebanyakan, mereka hanya mendalami kitab-kitab fikih, itu pun juga tidak tuntas. ?

Pondok Pesantren Tegal

Supaya khazanah keilmuan keislaman ini dipahami dengan baik, ia menggalakkan kepada para santri untuk kembali menekuni secara serius dan mendalami? kajian ilmu ushul fiqh di pesantren. “Yang paham betul ushul fiqh itu ya hanya kiai-kiai NU, jadi kalau bukan kita-kita yang mempelajari, lalu siapa lagi yang mewarisi ilmu ini?,” pungkasnya. (Abdullah Ubaid/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ahlussunnah, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 26 Juni 2012

MTA Laporkan Kiai NU ke Bareskrim Polri

Jombang, Pondok Pesantren Tegal. Kabar mengejutkan datang dari Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas Jombang. Salah satu pengasuhnya, KH Irfan Soleh (Gus Irfan), dikabarkan diperiksa Bareskrim Mabes Polri terkait laporan dari kelompok ? yang menamakan diri MTA yang berpusat di Solo.

Saat ditemui di kantor yayasan kemarin, Pengasuh ribath Al-Hamidiyah Bahrul Ulum yang juga ketua yayasan PPBU ini membenarkan kabar tersebut. ’’Iya, saya memang dimintai keterangan Bareskrim Polri,’’ ucapnya. Namun itu sudah berlangsung sebulan lalu. “Saya dimintai keterangan pada Selasa 23 April 2013,” bebernya.

MTA Laporkan Kiai NU ke Bareskrim Polri (Sumber Gambar : Nu Online)
MTA Laporkan Kiai NU ke Bareskrim Polri (Sumber Gambar : Nu Online)

MTA Laporkan Kiai NU ke Bareskrim Polri

Ia mengaku diperiksa selama hampir sembilan jam. “Saya masuk pukul 08.00 pagi dan baru keluar pukul 16.30,’ jelasnya.

Pondok Pesantren Tegal

Seingatnya, ada 27 pertanyaan yang diajukan penyidik kala itu. “Saya juga diminta menandatangani BAP (berita acara pemeriksaan),” ungkapnya. Namun dari 27 pertanyaan yang diajukan, yang dia tandatangani di BAP hanya belasan. “Di BAP sekitar 12 pertanyaan saja, karena sepertinya diringkas,” jelasnya.

Pondok Pesantren Tegal

Begitu datang, ia ditanya terkait perasaannya mendapat panggilan Bareskrim Polri. “Ya kaget, karena belum pernah,” ucapnya mengulangi jawabannya.

Selanjutnya, ia ditanya langkah yang dilakukan pasca menerima panggilan tersebut. “Saya jawab setelah terima panggilan saya ke Polres Jombang untuk konsultasi, hasilnya, saya diminta memenuhi panggilan itu. Makanya saya datang,” bebernya.

Pertanyaan penyidik selanjutnya mulai masuk dalam materi pemeriksaan. Mula-mula, dia diminta menyaksikan rekaman video. “Video itu berisi ceramah KH Marzuki Mustamar (Ketua PCNU Kota Malang) pada acara haflah akhirussanah dan Harlah Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas ke 186 pada 2011 silam,” terangnya.

Ia lantas dikonfirmasi terkait poin ceramah Kiai Marzuki yang menerangkan tentang Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) yang berpusat di Solo. Pada ceramahnya, Kiai Marzuki mengulas beberapa pandangan MTA yang tak sesuai dengan NU.

Misalnya pandangan MTA bahwa anjing tidak najis karena tak ada teks Al-Qur’an yang menyebutkannya. Kemudian tentang tahlilan dan ziarah kubur yang diharam-haramkan MTA dalam setiap pengajiannya. Sampai-sampai ada statemen bahwa zina lebih baik dibanding tahlilan.?

“Poin-poin ceramah Kiai Marzuki yang seperti itu dianggap mencemarkan nama baik MTA. Makanya mereka lantas melapor ke Bareskrim Polri,” bebernya.

Kiai Marzuki dilaporkan dengan tudingan berlapis yakni penyebar fitnah, pencemaran nama baik, institusi dan pribadi. Lalu menyebabkan perasaan tidak nyaman. Juga pelanggaran undang undang IT dengan ancaman 6 tahun penjara.

“Pelapornya atas nama Drs Medi selaku sekretaris MTA,” kata Gus Irfan. Ia sendiri mengaku tak kenal dengan Medi.

Ia pun sempat ditanya penyidik apakah setuju dengan isi ceramah Kiai Marzuki. “Saya jawab, untuk penguatan jamiyah NU, saya setuju. Karena memang ceramahnya di Tambakberas yang merupakan tempat pendiri NU. Hadirin yang mendengarkan juga dari para santri, alumni dan undangan yang seluruhnya NU,” tegasnya.

Ia lantas dicecar terkait perannya dalam materi ceramah itu. “Saya ditanya apakah menyiapkan teks ceramahnya dan mengarahkan isi ceramah Kiai Marzuki itu. Tentu saya jawab tidak. Tidak ada kultur seperti itu di pesantren. Ilmu kiai justru mampet kalau bicaranya diarahkan dan dibatasi. Saya tegaskan bahwa kiai yang diundang ceramah di Tambakberas itu pilihan. Dan kita mengakui keilmuan Kiai Marzuki. Kita yakin beliau tak akan bicara tanpa pijakan,” paparnya.

Ia juga mengaku diminta menjelaskan perannya memfasilitasi pidato Kiai Marzuki. “Saya tegaskan kita ini memang yang mengundang. Namun untuk isinya, itu kita serahkan sepenuhnya pada beliau,” tutur kiai 52 tahun yang dikaruniai empat orang anak ini.

Gus Irfan mengaku tidak gentar dengan pemeriksaan itu. Termasuk seandainya ikut dijerat dengan tuduhan memfasilitasi pidato yang dianggap merugikan pihak lain tersebut. “Kalau saya ikut dituduh, ya nanti kita hadapi secara hukum. Yang jelas jangan sampai kejadian semacam ini memupus semangat warga NU untuk menggelar pengajian-pengajian. Karena ruhnya NU ya ada dalam pengajian-pengajian itu,” tegasnya. ?

Foto: Gus Irfan ketika berada di kediamannya.

?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslimin Abdilla

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nusantara, Budaya, IMNU Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 07 Juni 2012

Tiga Falsafah dari Kata Telur

Solo,  Pondok Pesantren Tegal. Keraton Surakarta membagikan seribu telur asin sebagai rangkaian acara Gerebeg Mulud 2014, belum lama ini (8/1). Pembagian telur tersebut dilakukan di depan bunderan Gladag. Para penggguna jalan pun banyak yang antusias

Tiga Falsafah dari Kata Telur (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Falsafah dari Kata Telur (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Falsafah dari Kata Telur

“Dulu biasanya kita nyebar udik-udik atau uang receh. Sekarang kita ganti dengan telur asin yang bermanfaat, menyesuaikan perkembangan zaman,” kata Wakil Pengageng Pariwisata, Satryo Hadinagoro.

Sementara itu, Wakil Pengageng Sasana Wilapa, KP Winarno Kusumo mengatakan pembagian tersebut memiliki arti agar manusia mengikhlaskan amal perbuatannya untuk mencapai kebahagiaan hakiki.

Pondok Pesantren Tegal

“Orang kalau sudah ngamal berarti dia sudah bersih dari segala kepentingan duniawi. Semua ditujukan untuk mendapat kebahagiaan di akhirat,” tutur Winarno.

Tigan (telur) sendiri berasal dari kata tiga. Artinya selama hidup kita melalui tiga tahap, yaitu lahir, lakon (hidup), layon (mati). Kehidupan kita harus kita manfaatkan untuk bekal sebelum mati,” imbuhnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kyai, Bahtsul Masail, Pahlawan Pondok Pesantren Tegal

Senin, 28 Mei 2012

Soal Awal Puasa, Tarekat Naqsyabandiyah Gersempal: Ikuti NU dan Pemerintah!

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah atau dikenal dengan Naqsyabandiyah Gersempal, melalui organisasinya Silaturahim Ikhwan Akhawat dan Simpatisan Thariqat An-Naqsyabandiyah (Sitqon) mengimbau kepada umat Islam Indonesia, khususnya jamaah tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah, untuk menentukan 1 Ramadhan 1436 H sesuai dengan hasil keputusan pemerintah dan NU.

Soal Awal Puasa, Tarekat Naqsyabandiyah Gersempal: Ikuti NU dan Pemerintah! (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Awal Puasa, Tarekat Naqsyabandiyah Gersempal: Ikuti NU dan Pemerintah! (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Awal Puasa, Tarekat Naqsyabandiyah Gersempal: Ikuti NU dan Pemerintah!

Dedi Haryono yang mengatasnamakan Pengurus Sitqon Pusat mengatakan bahwa pihaknya menyerukan jamaah tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah untuk mengawali dan mengakhiri puasa Ramadhan berdasarkan ruyatul hilal. Imbauan ini Dedi kutip dari Humas Sitqon H M Sahibudin, sebagaimana siaran pers yang diterima Pondok Pesantren Tegal, Selasa (16/6).

Sementara Wakil Ketua II Sitqon KH Abd. Ghafur Mughist mengatakan, dari hasil perhitungan tim hisabnya, Selasa hari ini, hilal atau bulan sabit tidak tampak karena ijtima terjadi pukul 21.00 WIB.

Pondok Pesantren Tegal

“Adapun pada hari Rabu waktu maghrib, hilal kira-kira 10 derajat. Alhasil, kemungkinan hari Rabu malam Kamis bulan Syaban sudah genap 30 hari sehingga awal puasa kemungkinan jatuh pada hari Kamis tanggal 18 Juni 2015. Tetapi keputusan akhir diimbau tetap mengikuti hasil keputusan pemerintah dan NU,” ujarnya.

Pondok Pesantren Tegal

Dalam situs resminya, www.naqsyabandiyah-gersempal.org, tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah juga memuat pernyataan lengkap Sitqon tentang penetapan permulaan Ramadhan itu.

Dalam situs tersebut,? disampaikan, “Mengimbau kepada seluruh ikhwan akhawat di seluruh Indonesia untuk mengikuti keputusan pemerintah dan Nahdatul Ulama.” (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Tegal