Jumat, 07 Maret 2014

‘Miqat Kebinekaan’ Lahir dari Jiwa Rindu Kebhinekaan dan Toleransi

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal



Direktur Penerbit Erlangga Raja Daud Manahara menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada penulis buku “Miqat Kebinekaan” karya Sekretaris Jenderal PBNU H. A. Helmy Faishal Zaini. Baginya, buku ini mudah dibaca karena menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.?

‘Miqat Kebinekaan’ Lahir dari Jiwa Rindu Kebhinekaan dan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
‘Miqat Kebinekaan’ Lahir dari Jiwa Rindu Kebhinekaan dan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

‘Miqat Kebinekaan’ Lahir dari Jiwa Rindu Kebhinekaan dan Toleransi

“Buku ini mudah dibaca. Setelah membaca buku ini, banggalah kita menjadi bangsa Indonesia,” kata Daud saat memberikan sambutan dalam acara Peluncuran Buku Miqat Kebinekaan: Sebuah Renungan Meramu Pancasila, Nasionalisme, dan NU sebagai Titik Pijak Perjuangan di Gedung PBNU, Jumat (9/6).

Menurut dia, buku ini lahir dari jiwa-jiwa yang rindu akan kebhinekaan dan toleransi. Ia menilai, buku ini sangat layak dibaca oleh siapa saja yang ingin tahu tentang peta permasalahan Indonesia yang beragama, terutama masalah ideologi negara dan Islam.

“Kalau dikasih nilai, sebelaslah nilainya dari skala sepuluh,” katanya. “Buku ini menjadi peta bagi kita bahwa persoalan Indonesia beragam,” lanjutnya.

Pondok Pesantren Tegal

Sementara itu, ? A Helmy Faishal Zaini menjelaskan, melalui buku ini ia berupaya untuk menyebarkan Islam yang ramah. Menurutnya, Islam seharusnya didakwahkan dengan cara-cara yang santun dan bijak, bukan dengan cacian, hinaan, teror, menebar kebencian, dan cara-cara lainnya yang tidak dibenarkan dalam Islam.

Ia menegaskan, NU melalui Muktamar Banjarmasin Tahun 1936 menegaskan bahwa Indonesia berbentuk negara bangsa (darussalam), bukan negara berdasarkan agama tertentu. Sepanjang negara ini memberikan perlindungan bagi setiap pemeluk agama untuk menjalankan ajaran agamanya masing-masing, maka negara ini adalah negara bersama dan setiap pemeluk agama harus mempertahankan keutuhannya.

“Hendaknya perbedaan itu menjadi kekuatan kita,” tukasnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Nahdlatul Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 23 Februari 2014

Teguhkan Tradisi NU, PMII Diba’an di Masjid Agung Jombang

Jombang, Pondok Pesantren Tegal. Untuk menjaga tradisi NU, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jombang menggelar shalawat dhiba’ di Masjid Agung Baitul Mu’minin Jombang, Ahad (28/9).

Masjid yang terletak di depan alun-alun kota santri ini menjadi pilihan karena dinilai sebagai pusat melakukan syi’ar keagamaan. Berada di sentral perkotaan dan berhadapan dengan pendapa bupati.

Teguhkan Tradisi NU, PMII Diba’an di Masjid Agung Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Teguhkan Tradisi NU, PMII Diba’an di Masjid Agung Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Teguhkan Tradisi NU, PMII Diba’an di Masjid Agung Jombang

Kegiatan ini akan dilaksanakan rutin setiap setengah bulan sekali berdasarkan kerja sama PMII dengan pengurus masjid. “Kami sudah mendapat kepercayaan untuk mengisi kegiatan di sini,” ungkap Mahmudi Ketua PMII Jombang.

Pondok Pesantren Tegal

Tentu, kata dia, hal ini menjadi kebanggaan bagi PMII. Selain kepercayaan, ini bisa menjadi ruang bagi kader untuk mengimplementasikan nilai-nilai yang sudah dipelajari. “Disamping belajar dan mengaktualiasasikan pengetahuan di kampus, PMII tidak akan melupakan masjid sebagai basis berdakwah,” ujar ketua yang akrab disapa Modiy ini.

Pondok Pesantren Tegal

Sementara menurut Rizki Puji Astutik koordinator kegiatan, sebagai generasi yang mempertahankan nilai-nilai Aswaja, selayaknyalah meneguhkan dan menjaga tradisi yang ada di NU. “Kami berharap kader PMII selalu mengingat Rasulullah dengan membiasakan bershalawat seperti ini, sehingga juga mau dan mampu meneladani beliau,” jelas sekretaris bidang keputrian ini.

Antusiasme peserta cukup tinggi mengikuti kegiatan ini. Bahkan dalam permulaan saja, sudah hampir seratus mahasiswa yang hadir.  “Sebenarnya masih banyak yang mau mengikuti kegiatan ini, tapi tidak dapat izin dari pondoknya,” pungkas Rizki. “Selain itu, banyak yang konfirmasi bertepatan dengan jadwal kuliah,” lanjutnya.

Kegiatan ini diikuti anggota dan kader PMII baik putra maupun putri dari enam komisariat yang ada di kampus se-Kabupaten Jombang. Mulai dari Komisariat Darul Ulum-Undar, Hasyim Asy’ari-Unhasy, Wahab Hasbullah-Unwaha, Umar Tamim-Unipdu, Ya’qub Husein-STIT-UW dan Pattimura-STKIP-STIE PGRI Jombang. (Romza/Abdullah Alawi)

    

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Olahraga Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 12 Februari 2014

Pemkab Jombang Cairkan Anggaran 4,3 Miliar untuk Guru Ngaji

Jombang,Pondok Pesantren Tegal. Pemerintah kabupaten Jombang mencairkan anggaran sebesar Rp 4,3 miliar untuk guru ngaji. Anggaran itu diperuntukkan bagi 8610 guru yang mengajar di 1722 Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) yang tersebar di 21 kecamatan.

Pemkab Jombang Cairkan Anggaran 4,3 Miliar untuk Guru Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Jombang Cairkan Anggaran 4,3 Miliar untuk Guru Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Jombang Cairkan Anggaran 4,3 Miliar untuk Guru Ngaji

Kabag Kesra pemkab Jombang, Muhamad Bisri mengatakan, setiap tahun pemerintah mengalokasikan anggaran untuk guru TPQ. Untuk tahun ini dikatakannya, sebanyak 1.722 lembaga yang mendapatkan bantuan.

"Setiap lembaga mendapatkan alokasi sebesar Rp 2.500.000 untuk 5 guru ngaji. Jadi masing masing guru mendapatkan bantuan sebesar Rp 500 ribu setiap tahunnya," bebernya ketika ditemui di kantornya, Kamis( 4/12).

Pondok Pesantren Tegal

Pencairan bantuan untuk guru TPQ ini, dikatakan Bisri, langsung dikirim ke rekening masing masing lembaga. "Dari total TPQ yang terdaftar sebanyak 1.722 lembaga, sampai hari ini yang belum tanda tangan untuk pencairan tinggal 37 lembaga," tandasnya mengatakan.

Pondok Pesantren Tegal

Di samping pemberian intensif bagi guru TPQ, pemkab juga mengucurkan anggaran untuk para penghafal Alquran atau hafidz. Total anggaran untuk hufadz ini sebesar Rp 967 juta. "Hufadz yang mendapatkan sebanyak 320 orang. Setiap desa satu orang, ditambah koordinator sebanyak 14 orang," imbuhnya.

Diakuinya, pemerintah belum bisa memberikan keseluruhan penghafal Al Quran, karena jumlahnya yang cukup banyak.  Dan untuk mendapatkan bantuan itu, para hufadz diwajibkan mengikuti seleksi karena nantinya mereka mendapat tugas membantu imam masjid dan musholla di masing masing desa.

"Masing masing hufadz mendapatkan semacam honor sebesar Rp 3 juta setiap tahun sedangkan coordinator yang membawahi dua kecamatan mendapatkan Rp 3,5 juta," bebernya.

Masih menurut Bisri, tugas hafidz di masing-masing desa diantaranya, membina guru TPQ dan imam masjid dan musala serta ikut meramaikan masjid dengan acara semaan Al Quran. "Semoga dana insentif itu semakin menambah semangat para hafidz dalam membumikan Al Quran di masing-masing desa, dan meramaikan kegiatan di masjid dan musholla," pungkasnya. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Doa Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 11 Januari 2014

Menyantap Ikan Bakar Pemakan Tinja

Ikan dalam keadaan hidup-hidup maupun bangkainya, dihukumkan halal. Bagi yang hobi, ikan bisa diolah dengan pelbagai macam cara dan aneka bumbu. Ikan bisa dibakar, digoreng, dipepes, atau diolah dengan lain cara. Status hukumnya bisa sedikit bergeser bagi ikan pemakan kotoran di sebuah empang.

Namun demikian Rasulullah SAW seperti dalam riwayat Turmudzi mengajarkan umatnya untuk menunda selama beberapa hari jika mau mengonsumsi hewan pemakan kotoran. Dari sana ulama menetapkan kemakruhan memakan hewan demikian.

Menyantap Ikan Bakar Pemakan Tinja (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyantap Ikan Bakar Pemakan Tinja (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyantap Ikan Bakar Pemakan Tinja

Syekh Abu Zakaria dalam Syarah Tahrir mengatakan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal

Makruh hukumnya mengonsumsi hewan pemakan kotoran baik itu hewan ternak, ayam, atau hewan selain keduanya. Maksudnya, kemakruhan itu meliputi anggota tubuh hewan pemakan kotoran itu seperti susu, telur, daging, bulu, atau mengendarainya tanpa alas.

Ungkapan saya “anggota tubuh” lebih umum dibanding ungkapan “dagingnya”. Makruh ini dikarenakan ada perubahan pada dagingnya yang mencakup rasa, bau, dan warnanya. Menyantap daging hewan seperti ini akan tetap makruh hingga hewan ini dibiarkan hidup beberapa waktu agar ia memakan barang-barang yang suci. Tujuannya tidak lain agar tubuhnya kembali bersih dengan sendirinya tanpa bantuan sesuatu (seperti mencucinya hingga bersih).

Sementara Syekh Syarqawi dalam Hasyiyah-nya menyebutkan.

? ? ? ? ? ? ? ?

Yang dimaksud dengan “hewan pemakan kotoran” di sini ialah segala hewan yang memakan najis mutlaq (najis apapun itu) seperti tinja.

Uraian ini cukup terang menjelaskan kedudukan ikan pemakan tinja di sebuah empang, sapi yang berkeliaran mencari makan di tempat pembuangan sampah, ayam yang mengais-kais gundukan sampah, atau hewan lain yang memakan barang-barang kotor. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Fragmen, Bahtsul Masail, Ahlussunnah Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 09 Januari 2014

Ketika Hukum Syariat Islam Bicara Cinta Tanah Air

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Pondok Pesantren Tegal yang saya hormati, beberapa waktu ada seorang teman lama datang ke rumah. Kami mengobrol ke sana-ke sini. Di tengah obrolan teman saya membicarakan soal Indonesia sebagai tanah air kita bersama.

Ia menyatakan bahwa cinta tanah air Indonesia tidak disyariatkan. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa ‘hubbul wathan minal iman’ (cinta tanah air sebagian dari iman) bukanlah hadits sehingga mencintai Indonesia sebagai tanah air itu bukan sesuatu yang masyru` atau disyariatkan karena tidak ada dalilnya.

Ketika Hukum Syariat Islam Bicara Cinta Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Hukum Syariat Islam Bicara Cinta Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Hukum Syariat Islam Bicara Cinta Tanah Air

Yang ingin saya tanyakan adalah apakah mencintai Indonesia yang merupakan tanah air kita dan dihuni oleh mayoritas umat Islam adalah memang tidak disyariatkan? Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Agung/Brebes)

Pondok Pesantren Tegal

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Tanah air sebagaimana yang kita ketahui bersama adalah negeri tempat kelahiran. Al-Jurjani mendefiniskan hal ini dengan istilah al-wathan al-ashli yaitu tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya.

Pondok Pesantren Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Al-wathan al-ashli adalah tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya,” (Lihat Ali bin Muhammad bin Ali Al-Jurjani, At-Ta`rifat, Beirut, Darul Kitab Al-‘Arabi, cet ke-1, 1405 H, halaman 327).

Dari definisi ini maka dapat dipahami bahwa tanah air bukan sekadar tempat kelahiran tetapi juga termasuk di dalamnya adalah tempat di mana kita menetap. Dapat dipahami pula bahwa mencintai tanah air adalah berarti mencintai tanah kelahiran dan tempat di mana kita tinggal.

Pada dasarnya setiap manusia itu memiliki kecintaan kepada tanah airnya sehingga ia merasa nyaman menetap di dalamnya, selalu merindukannya ketika jauh darinya, mempertahankannya ketika diserang dan akan marah ketika tanah airnya dicela. Dengan demikian mencintai tanah air adalah sudah menjadi tabiat dasar manusia.

Rasulullah SAW sendiri pernah mengekspresikan kecintaanya kepada Mekah sebagai tempat kelahirannya. Hal ini bisa kita lihat dalam penuturan Ibnu Abbas RA yang diriwayatkan dari Ibnu Hibban berikut ini:

? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Alangkah baiknya engkau sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu,” (HR Ibnu Hibban).

Di samping Mekah, Madinah adalah juga merupakan tanah air Rasulullah SAW. Di situlah beliau menetap serta mengembangkan dakwah Islamnya setelah terusir dari Mekah. Di Madinah Rasulullah SAW berhasil dengan baik membentuk komunitas Madinah dengan ditandai lahirnya watsiqah madinah atau yang biasa disebut oleh kita dengan nama Piagam Madinah.

Kecintaan Rasulullah SAW terhadap Madinah juga tak terelakkan. Karenanya, ketika pulang dari bepergian, Beliau memandangi dinding Madinah kemudian memacu kendarannya dengan cepat. Hal ini dilakukan karena kecintaannya kepada Madinah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dari Anas RA bahwa Nabi SAW apabila kembali dari berpergian, beliau melihat dinding kota Madinah, maka lantas mempercepat ontanya. Jika di atas atas kendaraan lain (seperti bagal atau kuda, pen) maka beliau menggerak-gerakannya karena kecintaanya kepada Madinah,” (HR Bukhari).

Apa yang dilakukan Rasulullah SAW ketika kembali dari bepergian, yaitu memandangi dinding Madinah dan memacu kendaraannya agar cepat sampai di Madinah sebagaimana dituturkan dalam riwayat Anas RA di atas, menurut keterangan dalam kitab Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani menunjukkan atas keutamaan Madinah disyariatkannya cinta tanah air.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Hadits tersebut menunjukan keutamaan Madinah dan disyariatkannya mencitai tanah air serta merindukannya” (Lihat, Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari, Beirut, Darul Ma’rifah, 1379 H, juz III, halaman 621).

Dari penjelasan singkat ini maka setidaknya kita dapat menarik kesimpulan bahwa mencintai tanah air merupakan tabiat dasar manusia, di samping itu juga dianjurkan oleh syara` (agama) sebagaimana penjelasan dalam kitab karya Ibnu Hajar Al-Asqalani yang dikemukakan di atas.

Kesimpulannya adalah bahwa mencintai tanah air bukan hanya karena tabiat, tetapi juga lahir dari bentuk dari keimanan kita. Karenanya, jika kita mendaku diri sebagai orang yang beriman, maka mencintai Indonesia sebagai tanah air yang jelas-jelas penduduknya mayoritas Muslim merupakan keniscayaan. Inilah makna penting pernyataan hubbul wathan minal iman (Cinta tanah air sebagian dari iman).

Konsekuensi, jika ada upaya dari pihak-pihak tertentu yang berupaya merongrong keutuhan NKRI, maka kita wajib untuk menentangnya sebagai bentuk keimanan kita. Tentunya dalam hal ini harus dengan cara-cara yang dibenarkan menurut aturan yang ada karena kita hidup dalam sebuah negara yang terikat dengan aturan yang dibuat oleh negara.

Saran kami, cintailah negeri kita dengan terus merawat dan menjaganya dari setiap upaya yang dapat menghancurkannya.

Demikian jawaban kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.


(Mahbub Maafi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Syariah, Pemurnian Aqidah, Pendidikan Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 05 Januari 2014

Pesantren Al Huda Bentuk “MK”

Sumenep, Pondok Pesantren Tegal  

Majelis Kitab Al-Huda (MKA) Gapura Sumenep, Jumat (11/1), dilaunching di Aula MTs Al-Huda. Proses pembentukan MKA sudah dimulai sejak awal Desember 2012 lalu.

Pesantren Al Huda Bentuk “MK” (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al Huda Bentuk “MK” (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al Huda Bentuk “MK”

Hadir pada kesempatan tersebut perwakilan dari Yayasan Al-Huda, Penasehat Forum Komunikasi Alumni Al-Huda (Fokada), Pembina Sekolah, Kepala Sekolah satuan pendidikan Al-Huda dan peserta MKA.

Peresmian MKA dikemas dengan dialog mengangkat tema ”Posisi Fiqih dalam Islam” dengan menghadirkan K. Muhsi Mas’ud, Pengasuh Pondok Pesantren Al-In’am, Gapura.

Pondok Pesantren Tegal

Dalam pemaparannya, ia banyak banyak menjelaskan pentingnya melakukan ijtihad secara terus menerus. Dengan demikian, pintu ijtihad tidak pernah tertutup.

“Karena fiqih hasil ijtihad, maka fiqih bukan harga mati yang tidak bisa ditawar. Fiqih bukan seperti metrai ketika ditandatangani tidak bisa diganggu gugat,” katanya dihadapan peserta MKA.

Pondok Pesantren Tegal

Ke depan, MKA akan melakukan bahtsul masail setiab bulan dengan teman-tema sosial-keagamaan.

“Juga akan melakukan pembinaan kepada peserta melalui praktik baca kitab kuning menggunakan Jurmi’ah (untuk pemula) dan Safinatun Najah (untuk pengembangan),” kata Ketua Fokada, Fithratul Qayyimah.

Peserta MKA ada 30 orang mulai tingkat MI, MTS, dan MA. 15 kelas dasar, 15 kelas pengembangan. “Peserta memang dibatasi, karena target awal hanya 20 orang,” lanjutnya.

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: M Kamil Akhyari

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Hikmah Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 13 Desember 2013

ICIS Banyak Bantu Diplomasi Luar Negeri RI

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Keberadaan International Conference of Islamic Scholars (ICIS) yang merupakan tempat berkumpulnya para ulama dunia yang dikoordinasikan oleh NU telah banyak membantu diplomasi luar negeri pemerintah Indonesia.

Ketua Umum PBNU yang sekaligus sekjen ICIS KH Hasyim Muzadi baru-baru ini menuturkan bahwa selama ini, pemerintah mengalami kesulitan untuk menghubungi para ulama berpengaruh di berbagai negera.

“Para dubes kesulitan untuk melakukan kontak dengan para ulama secara langsung yang menjadi key person, paling-paling hanya dalam acara seremonial,” tuturnya baru-baru ini.

ICIS Banyak Bantu Diplomasi Luar Negeri RI (Sumber Gambar : Nu Online)
ICIS Banyak Bantu Diplomasi Luar Negeri RI (Sumber Gambar : Nu Online)

ICIS Banyak Bantu Diplomasi Luar Negeri RI

Disinilah peran ulama menjadi penting. Jaringan para ulama ini memudahkan para diplomat karena mereka bisa menjadi mediator untuk mendiskusikan berbagai permasalahan yang menyangkut ummat.

Keberadaan ICIS juga penting menyangkut hubungan dengan dunia Barat. Kiai Hasyim menjelaskan selama ini Indonesia merupakan negera dengan penduduk mayoritas muslim sehingga dipersepsikan para diplomatnya faham tentang Islam, padahal tidak semuanya demikian.

“Di Barat, para dubes tak selalu bisa menjelaskan tentang Islam, sementara negera Barat menganggap mereka sebagai wakil Islam. Disinilah peran ulama untuk mendampinginya,” tandasnya.

Pondok Pesantren Tegal

Ditambahkannya keberadaan ICIS juga mengisi kekosongan upaya diplomasi peope to people atau second track diplomacy. Selama ini keberadaan Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam pengambilan keputusannya lebih banyak diwarnai kepentingan politik masing-masing negera yang mungkin berbeda-beda sementara para ulama tak ada yang lain kecuali untuk ummat.

“Barat hanya bisa menguasai negara sebagai institusi. Para ulama sebagai pemimpin ummat tidak bisa dipengaruhi,” paparnya.

Pondok Pesantren Tegal

Dengan peran strategis yang saat ini belum bisa digantikan oleh fihak lain, Kiai Hasyim mengungkapkan kini banyak fihak yang memberikan apresiasi terhadap keberadaan ICIS dan mencoba mengajak bekerjasama dalam berbagai bidang.

Kiai Hasyim yang juga salah satu presiden World Conference on Religions for Peace (WCRP) menjelaskan ICIS akan menyelenggarakan konferensi internasional yang ke III pada tahun 2008 dengan tema Agama sebagai Resolusi Konflik. Setelah itu, diharapkan kegiatan terus berkembang diberbagai negera dengan bidang-bidang yang digarapnya. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ahlussunnah Pondok Pesantren Tegal