Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2018

Menyimak Perempuan Bercelak Tebal

Oleh Abdullah Zuma



Seumur-umur, saya tidak pernah menaiki gedung bertingkat, kata orang mencakar langit. Wasilah seorang teman, saya penah merasakannya. Hingga ke lantai 39 malah. Di lantai tersebut, saya masuk ke salah satu ruangan yang asri dan segar. Di situ terdapat sekelompok orang berkumpul.?

Dan saya kaget, mereka sedang berlatih menulis! Gila, menulis saja, harus di lantai 39, pikir saya.?

Menyimak Perempuan Bercelak Tebal (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyimak Perempuan Bercelak Tebal (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyimak Perempuan Bercelak Tebal

Lalu, saya duduk di kursi, di samping teman saya yang mengajak. Beberapa kursi kosong karena orang yang berlatih itu duduk lesehan. Di deretan kursi tersebut, sejajar dengan saya ada seorang perempuan berambut panjang bergelombang. Wajahnya bermake-up tebal. Kelopak matanya bercelak tebal hitam dengan alis lurus, sementara ujung ujungnya melengkung bukan ke bawah, tapi ke atas. Alis itu semacam tanduk saja.?

Ia berbaju putih dan bercelana jens hitam ketat. Tubuhnya sintal. Sesekali ia menyimak pembicaraan narasumber. Tapi lebih sering memainkan ponselnya. Entah main game, chating, atau hanya memainkan ponsel saja.?

Pondok Pesantren Tegal

Teman saya mendekatinya. Rupanya dia kenal. Keduanya bercakap akrab. Entah apa yang diobrolkan. Saya kemudian menyimpulkan perempuan itu bukan seorang peserta menulis. Mungkin salah seorang teman dari peserta, atau pembicara, panitia, atau entahlah.

Kemudian saya memerhatikan narasumber yang bercerita tulisan Watergate di Amerika. Membahas bagaimana menulis liputan panjang dan detail dan enak dibaca. Peserta berjumlah belasan orang itu tekun menyimak. Sekali dua, muncul pertanyaan. Si narasumber menjelaskan. Diam-diam saya menyimak.

Sewaktu istirahat, seluruh pesarta dan narasumber makan siang. Saya pun ikut. Sesekali ingin mencicipi makanan lantai 39. Ketika sedang menikmati makanan, sengaja saya duduk dekat perempuan bercelak tebal meski tak berani membuka obrolan.?

Pondok Pesantren Tegal

Ia kemudian dihampiri narasumber tadi. Mereka pun bercakap.?

Diam-diam saya menyimak perempuan bercelak tebal dan narasumber. Ternyata yang diobrolin adalah pasangan hidup. Dalam hal ini perempuan bercelak tebal sedang membeberkan ciri-ciri dambaan calon suaminya. Ternyata bukan harta, tahta, atau rupa yang diinginkan, melainkan ras atau warna kulit!

“Gue ingin cowok bule!” ungkapnya.

Narasumber terdiam sebentar. Tapi kemudian bertanya.

“Kenapa ingin bule? Pria lokal juga masih banyak, kayak gue...haha,” godanya.?

“Sama pria lokal, gue nggak nafsu.”

“Ama gue berarti lu nggak nafsu?” tanya narasumber sambil ketawa lagi.?

Perempuan itu tak menanggapinya. Ia malah memperhatikan ponselnya.

“Ya, ya, sudah melakukan upaya apa untuk dapat bule?”

“Ada sih yang udah mau, tapi di negaranya, dia berprofesi sebagai polisi. Gue takut sama polisi, takut disiksa. Males!" tegasnya sambil mengangkat bahu. "Padahal dia sudah mau ikut agama gue,” lanjutnya.

“Terus!”

“Terus ada orang New Zealand. Dia siap menikah, tapi sayang, tidak mau disunat. Dia tidak mau ikut agama gue. Gue nggak mau juga nikah beda agama. Ribet!”

“Hmmm... lesbi aja gimana, hahaha?”

“Wah, itu kan menyimpang dan dilarang sama agama.”

Sampai di situ saya menyimak perempuan bercelak tebal karena si narasumber mengajaknya mengisi perut. Kemudian keduanya makan duduk jauh dari saya. Jadi, tidak tahu cerita selanjutnya.?

Sepanjang perjalanan pulang masih terngiang percakapan perempuan bercelak tebal dengan narasumber. Saya sempat menanyakan asal daerah perempuan bercelak tebal itu kepada teman. Teman saya menyebut satu daerah di Sumatera. Saya mengangguk-angguk. ?

Kemudian, saya dan teman pun terpisah jalan. Tapi perempuan bercelak tebal masih terus bergelayut dalam ingatan. Ketika mendekati kontrakan saya, tak sadar kaki menendang botol air mineral. Saat itu, tiba-tiba ingat istilah “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”.





Penulis lahir di Sukabumi, pernah nyantri di Pondok Pesantren Assalafiyah Nurul Hikmah Parungkuda?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Amalan, Syariah Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

Pesantren dan Nahdliyin Punya Tugas Besar Majukan NU di Jawa Barat

Bandung, Pondok Pesantren Tegal. Seorang Kolumnis asal Jawa Barat, Asep Salahuddin menyatakan, Nahdlatul Ulama (NU) di Jawa Barat dewasa ini mengalami disorientasi kultural, baik dari sisi jam’iyah atau struktural maupun garis kebijakan.

Pesantren dan Nahdliyin Punya Tugas Besar Majukan NU di Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dan Nahdliyin Punya Tugas Besar Majukan NU di Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dan Nahdliyin Punya Tugas Besar Majukan NU di Jawa Barat

Selain itu menurut Asep, beberapa literatur keislaman Sunda justru banyak ditulis oleh orang di luar Sunda. Pesantren dan warga NU di Jawa Barat tidak ada yang berupaya menuliskannya secara mendalam dalam perspektif Sunda sendiri.

“Selanjutnya, ini tugas warga NU dan pesantren agar NU di Jawa Barat mewarnai dunia keislaman dan wacana keagamaan moderat sehingga Islam dengan karakteristik Sunda mampu diwujudkan,” ujar Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat ini, Sabtu (13/1) dalam pertemuan penulis NU se-Jawa Barat yang digagas Pondok Pesantren Tegal dan Rumah Kebangsaan.

Menurutnya pria yang aktif menulis di sejumlah media massa ini menilai, saat NU menggagas wacana Islam Nusantara, maka dalam perspektif Sunda, Islam Nusantara tidak lain adalah islam Sunda itu sendiri.

Sebab itu menurut Asep, semakin banyak tulisan-tulisan Islam Sunda, semakin dikenal juga Islam berbasis Sunda tersebut. Karena, sambungnya, wacana keagamaan saat ini jauh dari nilai-nilai tradisi dan budaya yang banyak diwariskan oleh para pendahulu.

Pondok Pesantren Tegal

“Bahkan kalau mau jujur, saat ini tidak sedikit orang Sunda yang memahami Islam secara hitam dan putih,” ucap pria kelahiran Garut ini.

Padahal menurut Asep, karakter orang Sunda dikenal sangat luwes seperti karakter orang NU pada umunya. Namun belakangan ini, tegasnya, orang Sunda mengalami disorientasi kultural. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Hadits, Berita, Syariah Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 22 Februari 2018

Luncurkan Miqat Kebinekaan, Sekjen PBNU Ingin Islam Damai

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal?



Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H. Helmy Faisal Zaini meluncurkan buku karangannya berjudul "Miqat Kebinekaan: Sebuah Renungan Meramu Pancasila, Nasionalisme, dan NU sebagai Titik Pijak Perjuangan" di lantai 8, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (9/6).

Luncurkan Miqat Kebinekaan, Sekjen PBNU Ingin Islam Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
Luncurkan Miqat Kebinekaan, Sekjen PBNU Ingin Islam Damai (Sumber Gambar : Nu Online)

Luncurkan Miqat Kebinekaan, Sekjen PBNU Ingin Islam Damai

Helmy dalam sambutannya menjelaskan, judul buku ini sengaja menggunakan kata miqat, berasal dari bahasa Arab yang mempunyai arti batas.?

Menurutnya, Miqat Kebinekaan ini menggabungkan antara miqat zamani (waktu) dan miqat makani (ruang). "Dimensi ruang dan waktu yang bertemu menjadi kebersamaan itulah yang disebut Miqat Kebinekaan, "katanya.?

Ia menerangkan, kehadiran buku ini ? untuk menjawab kegelisahan terhadap munculnya aliran-aliran yang jauh dari nilai-nilai keislaman. "Ada upaya-upaya yang memaksakan kehendak baik itu melalui gerakan politik maupun berbagai macam gerakan-gerakan yang seolah-olah ini mengatasnamakan Islam, "katanya dengan mencontohkan ISIS.?

Menurutnya, keberadaan ISIS yang di Philipina, sudah menunjukkan warning bagi bangsa Indonesia. "Kita harus waspada untuk bersama-sama menghadapi Terorisme global," ujarnya.?

Pondok Pesantren Tegal

Ia menuturkan, buku dengan tebal 149 halaman ini, mengandung banyak pandangan keagamaan khususnya Islam. Dalam buku itu dijelaskan bahwa Nabi Muhammad dalam berdakwah selalu memakai cara-cara dengan bijaksana. "Jadi bukan dengan teror, bukan dengan bom, bukan dengan cacian, bukan dengan hinaan, bukan dengan menebar kebencian, bukan dengan pembunuhan, bukan dengan cara-cara yang tentu tidak diajarkan oleh agama."

Pondok Pesantren Tegal

Melalui buku ini juga, ia ingin terus mengedepankan Islam rahmatan lil alamin. Islam perdamaian, yaitu Islam yang ramah bukan Islam yang marah, Islam yang merangkul bukan yang memukul. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Syariah Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

Diskusi Publik, GP Ansor Astanajapura Bahas HTI Pasca-Perppu Ormas

Cirebon, Pondok Pesantren Tegal - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Astanajapura menggelar diskusi publik bertema Gerak HTI Pasca-Perppu di Annidzomiyah, Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jumat (6/10).

Kegiatan ini diisi oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor H Nuruzzaman, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat (PP) Lesbumi, dan Tenaga Ahli Kementerian Agama Muhammad Sofi Mubarok.

Diskusi Publik, GP Ansor Astanajapura Bahas HTI Pasca-Perppu Ormas (Sumber Gambar : Nu Online)
Diskusi Publik, GP Ansor Astanajapura Bahas HTI Pasca-Perppu Ormas (Sumber Gambar : Nu Online)

Diskusi Publik, GP Ansor Astanajapura Bahas HTI Pasca-Perppu Ormas

Penulis buku Kontroversi Dalil-dalil Khilafah Muhammad Sofi Mubarok memaparkan kesalahan penggunaan dalil-dalil yang diklaim oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebagai dalil tegaknya khilafah.

Salah satunya tentang tafsiran ulil amri pada Al-Quran Surat An-Nisa ayat 59. HTI mengklaim mutlaknya tafsiran tersebut sebagai kewajiban menegakkan khilafah.

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal

“Mereka tidak peduli apakah ulil amri itu tafsirannya banyak atau tidak, yang mereka pahami secara literal adalah kepala negara,” katanya.

Hal ini kemudian diperkuat dengan propaganda yang diutarakan oleh Abu Bakar Baasyir, bahwa kita (Abu Bakar Baasyir dan kelompoknya) membaca Al-Quran dan mengamalkannya dan menuduh kelompok lain hanya membaca dan menafsirkannya saja.

Sementara itu, Komandan Densus 99 Nuruzzaman menyampaikan, bahwa bagi HTI Indonesia wajib diganti menjadi khilafah karena bentuk negara selama ini dinilai negara kafir.

“Bagi HTI Indonesia adalah negara kafir sehingga wajib diganti dengan sistem Islam yang bernama khilafah,” katanya.

Penyebaran ideologi HTI tetap akan terus berlangsung meski secara organisasi sudah dibubarkan melalui Perppu nomor 2 Tahun 2017. Mereka sedang melakukan lobi-lobi di beberapa lembaga negara. Ia mengingatkan para peserta untuk mengajak diskusi orang-orang HTI, tidak malah mempersekusinya.

“Meskipun HTI dibubarkan, tapi penyebaran ideologi tetap ada dan akan berlangsung. Tugas kita adalah mendatangi dan mengajak diskusi bukan mempersekusi mereka,” lanjutnya.

Abdullah Wong, alumnus Pondok Pesantren Lebaksiu, Tegal, itu menyampaikan, bahwa di tengah orang-orang ramai memikirkan bagaimana pemimpin, tapi Nahdlatul Ulama memikirkan bagaimana umat. Hal ini menurutnya selaras dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah sesaat sebelum wafatnya, yakni memikirkan bagaimana umatnya.

Penulis novel Mata Penakluk: Manaqib Abdurrahman Wahid itu mengatakan, bangsa Indonesia mesti bersyukur masih ada Nahdlatul Ulama.

Kegiatan yang dimoderatori oleh Sahabat Agung Firmansyah ini dihadiri oleh Ketua MWCNU Astanajapura KH Ahmad Zuhri Adnan, perwakilan Polsek dan Danramil Astanajapura, perwakilan Fatayat Astanajapura, dan IPNU Kabupaten Cirebon, serta beberapa tokoh masyarakat, pemuda, dan pelajar Astanajapura. (Syakirnf/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Syariah Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Kiai Said Cuma Tersenyum dengar Fitnah di Twitter

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal 



Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mendapatkan laporan tentang fitnah yang disebarkan salah satu akun media sosial Twitter. Akun tersebut menyangkutkan Kiai Said dengan penolakan seorang ustadz berceramah. Fitnah itu begitu cepat menyebar kemana-mana.  

“Ini, Buya,” kata sekretaris pribadi Kiai Said, Muhammad Sofwan, sembari menunjukkan bukti fitnah dengan menunjukkan screenshot kicauan akun tersebut, di gedung PBNU, Jakarta, Rabu (27/12).  

Kiai Said Cuma Tersenyum dengar Fitnah di Twitter (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Cuma Tersenyum dengar Fitnah di Twitter (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Cuma Tersenyum dengar Fitnah di Twitter



Baca: Keji, NU Kembali Difitnah Tolak Ustadz Abdul Somad“Bacakan saja, bacakan,” pinta Kiai Said.

Pondok Pesantren Tegal

Sofwan pun membacakannya. 

Bukan malah marah, Kiai Said ternyata hanya tersenyum setelah mendengar kicauan tersebut. Bagianya, fitnah kepada KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) lebih hebat dari ini, tetapi Gus Dur dengan santai menanggapinya. Bahkan, orang setingkat Nabi Muhammad saja pernah merasakannya.  

“Alhamdulillah dengan fitnah ini dosa saya berkurang,” katanya.

Menurut Kiai Said, orang yang memfitnah akan mendapatkan akibatnya baik cepat atau lambat. Kalaupun tak mendapatkannya di dunia, ia akan mendapatkannya di akhirat kelak.

Pondok Pesantren Tegal

“Tapi saya memaafkannya karena Nabi Muhammad pun orang yang pemaaf,” katanya ketika ditanya apakah akun tersebut layak untuk dimaafkan?

 

Kepada para pengguna media sosial, Kiai Said mengajak untuk lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi informasi. Jika ada informasi yang dirasa janggal, jangan mudah percaya, tapi diteliti dulu, jangan langsung disebar, karena bisa berakibat fatal terhadap orang lain, bahkan bagi dirinya sendiri. 

“Jika ada isu miring terkait dengan NU dan tokoh-tokohnya, harus diteliti dulu. Tabayun, tanyakan dulu kepada pengurus NU setempat. Sekarang kan mudah bertanya, dari daerah bisa langsung ke pengurus pusat (melalui media sosial juga, red.)     

Secara khusus, ia meminta kepada seluruh warga NU untuk lebih arif dan bijaksana dalam mengkonsumsi informasi dengan mengedepankan klarifikasi atau tabayun.

“Warga NU harus menjadi contoh bagi kalangan lain. Jangan mudah terkena fitnah dan jangan reaksioner karena itu yang diinginkan si tukang fitnah,” tegasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tokoh, Syariah Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

Tiga Pilar Pembangun Islam

Jember, Pondok Pesantren Tegal. Dalam Islam, kepemimpinan adalah hal substansial. Sebab, ia menyangkut eksistensi agama Islam itu sendiri. Karena itu, regenerasi kepemimpinan adalah suatu keharusan. Hal ini ditegaskan Wakil Sekretaris PCNU Jember, Mochammad Eksan saat menjadi narasumber dalam acara Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) IPNU-IPPNU di Balai Desa Balung Kidul, Kecamatan Balung, Jember, Jawa Timur, Ahad (7/8).

Menurut Eksan, Islam dibangun di atas tiga unsur, yaitu jamaah, imarah dan thaah. Tanpa tiga tersebut, maka Islam tidak akan tegak berdiri. Keberlangsungan Islam hingga hari ini adalah karena proses regenerasi jamaah dan kepemimpinan berjalan dengan baik. "Walau jujur harus diakui, kualitas dan ? kuantitasnya tidak sama dan naik turun dalam setiap episode sejarah yang satu dengan episode sejarah yang lain," tukasnya.

Tiga Pilar Pembangun Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Pilar Pembangun Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Pilar Pembangun Islam

Dia lalu menceritakan keberhasilan Khalifah Umar bin Abdu Azis sebagai seorang pemimpin. Dikatakannya, kepemimpinan sosok yang masih keturunan Umar bin Khattab tersebut cukup masyhur dan cukup berpengaruh dalam sejarah kepemimpinan umat Islam. ? Kendati cukup singkat ia menjadi pemimpin (kurang dari dua tahun) sebelum akhirnya mati diracun, namun kepemimpinannya sangat fenomenal lantaran kebijaksanaan dan keadilannya dalam menyelenggarakan pemerintahan.?

"Kita bisa memetik pelajaran dari situ bahwa pemimpin yang hebat bukan diukur dari lamanya menjabat, tapi diukur dari kesunggguhannya dalam melayani umat, keadilannya dalam memerintah dan kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan," ungkapnya sambil berharap agar kader-kader NU harus menyiapkan diri untuk menjadi pemimpin.

Makesta tersebut diikuti oleh hampir seratus kader NU, dan berlangsung selama dua hari. Bagi anak-anak IPNU-IPPNU, Eksan bukan sosok yang asing di kalangan mereka. Sebab, selama menjadi pelajar, Eksan menghabiskan waktu ektrakurikulernya untuk berkegiatan di PC IPPNU Jember sekian tahun yang lalu. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Syariah Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

PCNU Probolinggo Dirikan Business NU Center

Probolinggo, Pondok Pesantren Tegal - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Probolinggo membangun Business NU Center dalam rangka mewujudkan kemandirian organisasi. Business Center NU ini berlokasi terpadu dengan Kantor PCNU Kota Probolinggo di Jalan Bengawan Solo 1 Kota Probolinggo.

Awal April lalu, Business NU Center sebanyak dua unit berukuran 4x9 meter ini diresmikan oleh Rais Syuriyah PCNU Kota Probolinggo KH Abdul Aziz Fadhol melalui penandatanganan prasasti didampingi mantan aktivis IPNU H Muzamiil Syafi’i dan pengurus harian PCNU Kota Probolinggo.

PCNU Probolinggo Dirikan Business NU Center (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Probolinggo Dirikan Business NU Center (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Probolinggo Dirikan Business NU Center

“Business NU Centre ini didirikan sebagai upaya organisasi dalam rangka pemberdayaan ekonomi nahdliyin. Di samping juga untuk kemandirian organisasi sebagai goal-nya,” kata Wakil Ketua PCNU Kota Probolinggo H Ahmad Hudri, Senin (10/4).

Menurut Hudri, dengan berdirinya Business NU Center maka nantinya diharapkan akan mampu mewujudkan aktivitas perekonomian bagi warga NU. Kemandirian organisasi juga bisa terwujud di masa yang akan datang sehingga organisasi tidak lagi bergantung kepada pihak-pihak lain dalam hal pendanaan.

Pondok Pesantren Tegal

“Dengan kata lain, Business NU Center ini nantinya bisa menjadi pusat pemberdayaan perekonomian warga NU. Sehingga warga NU bisa mandiri dalam mengangkat potensi ekonomi yang ada di wilayahnya masing-masing demi meningkatkan kesejahteraan mengangkat dan kemandirian warga NU itu sendiri,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Sejarah, Syariah Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Usai Ngaji, 83 Pelajar di Malang Belajar Sinematografi

Malang, Pondok Pesantren Tegal. Setiap pekan PC IPNU-IPPNU kabupaten Malang, Jawa Timur menyambung majelis taklim dengan kegaiatan positif bagi pelajar. Usai mengaji, sedikitnya 83 pelajar di Malang belajar membuat film di aula MWCNU Poncokusumo, Sabtu-Ahad (11-12/1).

Usai Ngaji, 83 Pelajar di Malang Belajar Sinematografi (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Ngaji, 83 Pelajar di Malang Belajar Sinematografi (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Ngaji, 83 Pelajar di Malang Belajar Sinematografi

“Hampir setiap pekan ada saja kegiatan yang tergelar,” ujar Ketua panitia belajar film M Bagus Mukmin, Ahad (12/1).

Peserta terdiri dari perwakilan sekolah dan pengurus pimpinan anak cabang IPNU-IPPNU di kabupaten Malang. Mereka dibekali pengetahuan terkait dunia pertelevisian selain praktik pembuatan film pariwisata yang dilaksanakan di Coban Pelangi.

Pondok Pesantren Tegal

Untuk memandu belajar pembuatan film, PC IPNU-IPPNU melibatkan Balai Pengembangan Media Televisi (BPMTV). Kegiatan ini didukung narasumber berkompeten mantan rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) M Hartanto dan pengajar multimedia di SMK Cendika Bangsa Kepanjen, Erik.

Pondok Pesantren Tegal

“Semoga pelatihan ini menerjunkan banyak pelajar NU dalam dunia perfilman ke depan,” harap M Bagus. (Ika Rosaria Fathony/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Hikmah, Syariah, PonPes Pondok Pesantren Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Jejak Peninggalan Syekh Nahrawi Banyumas

Tangerang Selatan, Pondok Pesantren Tegal - Banyak ulama Nusantara yang belum terekam jejak peninggalannya sehingga banyak dilupakan oleh kalangan intelektual Muslim saat ini. Salah satu tokoh ulama Nusantara yang mempunyai pengaruh besar dalam sanad keilmuan ulama-ulama di Nusantara adalah Syekh Ahmad Nahrawi Banyumas.

Direktur Islam Nusantara Center A Ginanjar Sya’ban membahas jejak peninggalan Syekh Nahrawi dalam diskusi rutin Sabtu, (30/9) di Ciputat, Tangerang Selatan.

Jejak Peninggalan Syekh Nahrawi Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)
Jejak Peninggalan Syekh Nahrawi Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)

Jejak Peninggalan Syekh Nahrawi Banyumas

Kiai Nahrawi lahir di Purbalingga pada tahun 1276 H (1860 M). Nama aslinya adalah Kiai Mukhtarom. Kemudian tafa’ulan kepada gurunya sehingga namanya menjadi Nahrawi.

“Nama lengkap beliau adalah Ahmad Nahrawi Mukhtarom bin Imam Raja Al-Banyumasi Al-Jawi. Biografinya terdapat di kitab A’lamul Makiyyin yang ditulis oleh Syekh Abdullah Muallimi. Ada di entri nomor 1431 halaman 964,” ujar penulis buku Mahakarya Islam Nusantara itu.

Pondok Pesantren Tegal

Kitab tersebut menurutnya menceritakan tentang Syekh Nahrawi yang dilahirkan di Banyumas dan datang ke Mekkah pada usia 10 tahun. Dalam kitab itu juga dituliskan bahwa ia sangat tekun belajar kepada ulama-ulama Masjidil Haram sampai akhirnya mendapatkan surat izin untuk mengajar di Masjidil Haram. Dalam kitab tersebut juga menurutnya diceritakan bahwa dari tangan Syekh Nahrawi keluar murid-murid yang menjadi ulama besar.

Pondok Pesantren Tegal

Dalam keterangannya, ada juga kitab lain yang memuat biografi Syekh Nahrawi yaitu Al-Mudarrisun fil Masjidil Haram. Kitab yang ditulis oleh Mansyur An-Naqib itu menurutnya berisi pengajar yang ada di Masjidil Haram dari abad pertama zaman sahabat sampai kitab itu ditulis.

“Biografi Syekh Nahrawi terdapat dalam juz 1 halaman 287,” tambahnya.

Ia menyampaikan peran Syekh Nahrawi Banyumas dalam jejaring keilmuan ulama Nusantara sangat besar. Hal itu menurutnya ditandai dengan beberapa karangan dan taqridz atas kitab-kitab ulama Nusantara. Bahkan, penulis buku Masterpiece Islam Nusantara Zainul Milal Bizawie yang menjadi moderator dalam diskusi tersebut juga menyampaikan Syekh Nahrawi merupakan gurunya ulama-ulama Nusantara.

“Habib Luthfi pernah mengatakan bahwa tidak ada karangan ulama-ulama Nusantara di Mekkah yang diterbitkan tanpa ada tanshih atau rekomendasi dari Syekh Nahrawi Banyumas. Guru utama Habib Luthfi bin Yahya yaitu KH Abdul Malik Purwokerto merupakan murid beliau (Syekh Nahrawi),” tambah penulis buku Laskar Ulama Santri dan Resoulusi Jihad itu.

Keterangan tersebut didukung oleh beberapa karangan dan taqridz Syekh Nahrawi yang disampaikan oleh intelektual Islam Nusantara A Ginanjar Sya’ban di antaranya, kitab Nadzom Risalatul Manasiq atau dikenal dengan Qurotul Uyun Linnasiq Al Muti’ bil Funun. Selain itu, menurutnya Syekh Nahrawi juga mempunyai kitab yang berisi ulasan atau ta’liq terhadap Risalah Kiai Ahmad Zaini Dahlan. Kitab yang berisi tentang ilmu Ballaghah itu menurutnya dicetak oleh Al-Maktabat Taroki Al-Majidiyah di Mekkah pada tahun 1911 M.

“Saat ini, manuskripnya tertulis milik KH Abdullah Umar Faqih Cemoro Banyuwangi,” tambahnya.

Selain itu, ia menambahkan bahwa ada juga manuskrip tentang fatwa Syekh Nahrawi yang berjudul Risalah fi Hukmin Naqus. Kitab yang sampai saat ini tersimpan di Pesantren Langitan, Tuban itu berisi tentang risalah hukum memukul kentongan yang menjadi tradisi Islam di Nusantara.

Dalam risalah tersebut, ia menceritakan ada seseorang yang menanyakan pendapat Syekh Nahrawi tentang ulama Nusantara baik di barat maupun di timur yang memukul kentongan yang terbuat dari sebilah kayu atau bambu dengan bertujuan untuk memberitahukan waktu masuknya shalat wajib. Tetapi setelah memukul kentongan, adzan, pupujian, dan iqamah pun dilakukan. Selain itu, mereka juga tidak menyukai agama para penjajah. Jadi orang tersebut menanyakan apakah hukum kentongan ini disamakan dengan hukum lonceng yang ada di gereja atau tidak.

Dari pertanyaan itu, jawaban dari Syekh Nahrawi menurutnya sangat moderat.

“Beliau menjawab bahwa ada banyak pendapat dari ulama. Ada yang mengharamkan, ada yang memakruhkan, dan ada yang membolehkan,” tambahnya.

Selain itu, yang tidak kalah penting dari jejak peninggalan Syekh Nahrawi menurutnya yaitu Syekh Nahrawi sering memberikan taqrizh atau endorsmen pada kitab-kitab ulama besar waktu itu.

Beberapa kitab yang ditaqrizh yang disebutkannya yaitu Fathul Majid Syarh Jauharatut Tauhid karya Syekh Husain bin Umar Palembang dan fatwa Al-Ajwibatul Makkiyah ‘alal As’ilatil Jawiyyah yang ditulis oleh Syekh Abdullah bin Abdurrahman Siraj pada tahun 1922 M. Kitab yang kedua itu menurutnya berisi jawaban mufti Mekkah terhadap persoalan yang ada di Nusantara. Persoalan tersebut seperti tradisi Nusantara muludan, tahlilan, ziarah kubur.

“Empat tahun sebelum Nahdlatul Ulama didirikan secara resmi, ulama Mekkah itu sudah buat fatwa kalau masalah-masalah tradisi Islam yang ada di Nusantara itu sah dan ada dalilnya,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa kitab tersebut merupakan dalil yang tak terbantahkan untuk kalangan Aswaja sekaligus menjadi dalil yang mematahkan argumen pihak-pihak yang mana mereka mengaku sebagai pihak-pihak ahlu ijtihad wal istinbat yang langsung mengambil hukum dari Al-Quran dan juga hadits.

“Dalam taqrizhnya, Syekh Nahrawi menulis bahwa mereka ingin mengambil langsung ke Al-Quran dan Hadits seperti Mujtahid tetapi mereka tidak mempunyai syarat-syarat ijtihad itu sendiri. Tetapi karena ideologi yang rusak dan sudah tertancap dan hatinya yang keras itu, mereka tidak mau mendengarkan dalil-dalil yang dituliskan oleh para ulama-ulama yang ahli keutamaan,” tambahnya.

Selain memberikan taqrizh, Syekh Nahrawi juga menulis sebuah catatan atau taqrirat penting atas kitab Fiqih Minhajul Qawwim yang ditulis oleh Syekh Nahrawi Banyumas pada tahun 1908.

“Kitabnya berjudul Taqrirat Qayyimah ‘ala Syarh Minhaj al-Qawwim fi al-Fiqh al-Syafi’i,” pungkasnya. (M Ilhamul Qolbi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Syariah Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Sejumlah Tokoh Agama Hadiri Konfercab NU Sudan

Khartoum, Pondok Pesantren Tegal. Sejumlah pemuka agama di Sudan turut menyaksikan konferensi cabang PCINU Sudan di Gedung Konferensi Percetakan Al-Quran Afrika. Kecuali mereka, perwakilan persatuan pelajar dari pelbagai negara seperti Thailand, Malaysia, Somalia, Philipina, dan dubes RI untuk sudan tampak hadir dalam forum itu.

Mereka yang terlihat hadir pada Sabtu (12/4) lalu Duta Besar RI untuk Sudan Burhanudin, Ketua Majlis Dakwah Kementerian Irsyad Sudan Sulaiman Muhammad, Mustasyar Presiden Sudan Fatih Ali Hasanaen, Ketua Persahabatan Indonesia-Sudan Syekh Jabir Al-Anshori, Ketua Organisasi Perlindungan Warga Asing di Sudan Syekh Abdullah Makki Sodiq, Ketua Riset Universitas Intenasional Afrika Abdurrahman Usman, dan Ketua Organisasi Pelatihan Dakwah Sudan Syekh Kamal Rizik.

Sejumlah Tokoh Agama Hadiri Konfercab NU Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Tokoh Agama Hadiri Konfercab NU Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Tokoh Agama Hadiri Konfercab NU Sudan

Ketua panitia Wildan menyampaikan rasa senang dan kagum, “Konfercab NU Sudan selama dua hari berjalan dengan baik dan tokoh ulama Sudan antusias banyak hadir. Ini menandakan hubungan antara NU Sudan dan pemuka agama Sudan baik.”

Pondok Pesantren Tegal

Rais Syuriyah NU Sudan Auzai Mahfudz berharap, “Para tokoh ulama Sudan dan Mustasyar NU Sudan dapat memberikan wawasan keilmuan dan membimbing warga NU Sudan agar pelajar NU di Sudan menjadi ilmuan bertaraf internasional.”

Pondok Pesantren Tegal

Burhanudin meminta pelajar dan organisasi NU di Sudan untuk terus menyambung silaturahmi dengan kedutaan dan para pemuka agama di Sudan. Ia menekankan kader NU di Sudan untuk menguasai berbagai bahasa asing.

“Dengan itu, upaya untuk mencetak ulama bertaraf internasional menjadi lebih ringan,” kata Burhan.

Acara ini dibawakan Hambali dan Hanik dengan pengantar pelbagai bahasa asing seperti Inggris, Arab, Jerman, dan Mandarin. Pertemuan ini ditutup dengan penampilan grup sholawat NU Sudan dengan lagu “Ya Saykhona”. (Abdul Aziz/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Syariah, Pahlawan Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

TGH Khudri dan H Imran Fauzi Kembali Pimpin PCNU Lotim

Lombok Timur, Pondok Pesantren Tegal. Untuk kedua kalinya TGH Khudri Abdullah dipercaya sebagai Rais Syuriyah ? PCNU Lombok Timur dan H Imran Fauzi Haetami sebagai Ketua PCNU Lotim. Keduanya dipilih dalam konfrensi cabang di pesantren Riyadul Falah, Aik Prapa kecamatan Aikmel Lombok Timur, Sabtu (8/2).

TGH Khudri dan H Imran Fauzi Kembali Pimpin PCNU Lotim (Sumber Gambar : Nu Online)
TGH Khudri dan H Imran Fauzi Kembali Pimpin PCNU Lotim (Sumber Gambar : Nu Online)

TGH Khudri dan H Imran Fauzi Kembali Pimpin PCNU Lotim

H Imran Fauzi Haetami mendapat dukungan dari 14 MWCNU dan dukungan dari lembaga dan badan otonom NU.

Dalam proses pemilihan, sebanyak enam utusan MWC tidak hadir. Sementara Menteri PDT Helmi Faishal Zaini urung hadir dalam konfercab karena mengunjungi sebuah perguruan tinggi swasta di desa Gapuk kecamatan Suralaga. Ketidakhadirannya mengecewakan ribuan warga NU di Lotim.

Pondok Pesantren Tegal

Konfrensi ini kemudian membentuk formatur yang diserahi amanah untuk menyempurnakan kepengurusan PCNU Lotim periode 2014-2019. Hasilnya akan dilaporkan kepada PWNU NTB dan PBNU di Jakarta untuk segera disahkan. (M Darma Santosa/Alhafiz K)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Syariah, IMNU Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Santri Jombang Gelar Solidaritas untuk Yuyun

Jombang, Pondok Pesantren Tegal

Puluhan aktifis, mahasiswa dan santri menggelar aksi solidaritas untuk Yuyun, korban pembunuhan dan perkosaan. Sambil menyalakan lilin, mereka berkumpul di Forum Sabtuan Santreeso Jombang, Sabtu (7/5).

Santri Jombang Gelar Solidaritas untuk Yuyun (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Jombang Gelar Solidaritas untuk Yuyun (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Jombang Gelar Solidaritas untuk Yuyun

Dalam orasinya mereka mengecam aksi kekerasan seksual yang menimpa siswi siswi SMP 5 Satu Atap Padang Ulak Tanding, Rejang Lebong, Bengkulu.

Aan Anshori dari jaringan GUSDURian Jombang yang juga inisiator acara ini menyebut  kasus Yuyun merupakan kejahatan serius yang menyerang sendi kemanusiaan Indonesia. 

"Hanya bangsa hina yang menjadikan perempuan sebagai obyek penindasan," tuturnya.

Pondok Pesantren Tegal

Senior PMII Jombang ini selanjutnya memapar tingginya angka kekerasan yang dirilis Komnas Perempuan pada 2016. Terdapat 11.207 kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan oleh orang terdekat korban. Sebanyak 4.304 kasus (38%) merupakan kekerasan fisik dan 3.325 (30%) adalah kekerasan seksual.

"Praktek keji atas Yuyun ini merupakan alarm serius betapa perempuan di Indonesia masih terus dibayangi oleh ketidakamanan," tutur Laili Anisah, aktifis Jejer Wadon yang ikut acara. Menurut mahasiswa pascasarjana fakultas Hukum UGM ini pemerintah perlu segera mempercepat pembahasan RUU Penghapusan Kejahatan Seksual.

Rizki Amalia, aktifis perempuan PMII Jombang, juga mengkritik para pihak yang kerap menyalahkan Korban dalam kasus kekerasan seksual. "Misalnya, sungguh tidak fair menyalahkan cara berpakaian perempuan. Sumber utamanya justru pada banalitas cara pandang pelaku atas tubuh perempuan," tandas mahasiswa Unipdu Peterongan ini.

Acara ini diakhiri dengan doa lintas agama sembari peserta bergandengan tangan. "Kita sangat berharap agamawan tidak diam dalam masalah ini," tutur Pendeta GKI Jombang Andreas Kristianto. (Romza M Gawat/Mukafi Niam)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Syariah, PonPes Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Soal Rohingya, PBB Nilai Myanmar Lakukan Pembersihan Etnis

Geneva, Pondok Pesantren Tegal - Dewan Hak Asasi Manusia PBB, Senin (11/9), mengeluarkan kecaman terhadap "serangan sistematis" Myanmar terhadap minoritas Rohingya di Myanmar. PBB menangkap kesan bahwa praktik pembersihan etnis kini sedang berlangsung di sana.

"Karena Myanmar telah menutup akses masuk penyelidik hak asasi manusia, situasi saat ini belum dapat diperiksa sepenuhnya," kata Zeid Raad Al Hussein, komisioner tinggi Hak Asasi Manusia PBB, seperti dikutip AFP.

Soal Rohingya, PBB Nilai Myanmar Lakukan Pembersihan Etnis (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Rohingya, PBB Nilai Myanmar Lakukan Pembersihan Etnis (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Rohingya, PBB Nilai Myanmar Lakukan Pembersihan Etnis

Kondisi minoritas Muslim Rohingya memburuk sejak 25 Agustus lalu menyusul praktik pembakaran ribuan rumah tinggal, penembakan, dan aksi kekerasan lainnya oleh militer Myanmar yang berdalih sedang memburu "teroris Bengali", sebutan untuk militan Rohingya yang melakukan serangan terhadap mereka.

PBB melaporkan, hingga kini total orang Rohingya yang telah melarikan diri ke Bangladesh sejak 25 Agustus mencapai 313.000 jiwa. Mereka melakukan eksodus dari tempat tinggalnya di Provinsi Rakhine, Myanmar, menuju negara tetangga, Bangladesh.

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal

Ahad kemarin, PBB menyampaikan bahwa sekitar 294.000 Rohingya telah tiba di Bangladesh, hanya naik 4.000 orang dari hari sebelumnya. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Olahraga, Syariah, Ubudiyah Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Seputar Amalan dan Keutamaan Bulan Sya‘ban

Bulan Sya‘ban merupakan bulan yang di dalamnya terdapat berbagai peristiwa bersejarah, yakni peristiwa pengalihan arah kiblat dari Masjidil Aqsha di Palestina ke Ka‘bah di Arab Saudi dengan penurunan Surat Al-Baqarah ayat 144, Surat Al-Ahzab ayat 56 yang menganjurkan pembacaan shalawat, diangkatnya amal-amal manusia menuju ke hadirat Allah SWT, dan berbagai peristiwa lainnya.

Menilisik dari segi linguistik, Al-Imam ‘Abdurra?m?n As-Shafury dalam literatur kitab momumentalnya Nuzhatul Majâlis wa Muntakhabun Nafâ’is mengatakan bahwa kata Sya’b?n (?) merupakan singkatan dari huruf sh?n yang berarti kemuliaan (?). Huruf ‘ain yang berarti derajat dan kedudukan yang tinggi yang terhormat (?). Huruf ba’ yang berarti kebaikan (?). Huruf alif yang berarti kasih sayang (?). Huruf nun yang berarti cahaya (?).

Seputar Amalan dan Keutamaan Bulan Sya‘ban (Sumber Gambar : Nu Online)
Seputar Amalan dan Keutamaan Bulan Sya‘ban (Sumber Gambar : Nu Online)

Seputar Amalan dan Keutamaan Bulan Sya‘ban

Bila ditinjau dari segi amaliyah, termaktub beberapa hal yang lazim dilaksanakan pada malam Nisfu Sya’b?n, yaitu membaca Surat Yasin sebanyak 3 kali yang dilanjutkan dengan berdoa. Tradisi demikian selain sudah berkembang di Nusantara ini juga menjadi amaliyah tahunan yang dilaksanakan secara rutin terutama oleh masyarakat NU. Rasulullah SAW menyatakan dalam sebuah hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Dailami, Imam ‘Asakir, dan Al-Baihaqy berikut.

Pondok Pesantren Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Tegal

Artinya, “Ada 5 malam di mana doa tidak tertolak pada malam-malam tersebut, yaitu malam pertama bulan Rajab, malam Nisfu Sya‘ban, malam Jumat, malam Idul Fitri, dan malam Idul Adha.”

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Siapa saja yang menghidupkan dua malam hari raya dan malam Nisfu Sya‘ban, niscaya tidaklah akan mati hatinya pada hari di mana pada hari itu semua hati menjadi mati.”

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .

Artinya, “Sungguh telah dikumpulkan doa ma’ts?r yang terkait khusus dengan malam Nisfu Sya‘ban. Doa ini dibaca oleh para muslimin pada malam penuh anugerah secara sendiri-sendiri dan berjamaah. Seorang dari mereka menalqin doa tersebut dan jamaah mengikutinya atau ada juga salah seorang yang berdoa dan jamaahnya mengaminkan saja sebagaimana dimaklum. Caranya, pertama membaca Surat Yas?n 3 kali setalah shalat Maghrib yang diakhiri dengan berdoa.

Informasi tersebut tentu bisa mengindikasikan bahwa melaksanakan ibadah pada malam Nisfu Sya‘ban merupakan suatu anjuran dari syariat Rasulullah SAW. Oleh karena itu, siapapun yang tidak sepakat dengan amaliyah untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’b?n, tentu tidak sepatutnya memberikan kecaman yang tidak berdasar karena sikap demikian selain dapat menganggu kerukunan antarmasyarakat juga dapat mengganggu pelaksanaan ibadah bagi orang yang bersedia mengerjakannya.

Upaya menata stabilitas hati dan pikiran merupakan sikap yang sangat bijak untuk dapat diimplementasikan. Kita dianjurkan untuk memelihara persaudaraan sesama Muslim. Di sisi lain penting untuk diperhatikan juga bahwa amaliah menghidupkan malam Nisfu Sya‘ban merupakan persoalan fur?’iyyah yang tetap membuka ruang perbedaan tapi tetap dalam semangat yang saling toleran. Pelaksanaaan amaliyah ini berfungsi untuk mempertebal keimanan hamba terhadap Tuhannya.

Oleh karena itu, tidak sepatutnya untuk diarahkan pada dimensi sakralitas hukum. Sakralitas hukum terhadap persoalan keimanan juga bisa berimplikasi pada munculnya gesekan-gesekan. Selama semua amaliyah memiliki dasar dan pijakan ilmu pengetahuan tentu tidak perlu untuk dipertentangkan. Perbedaan merupakan suatu keniscayaan (sunnatullâh), tapi menyikapi perselisihan dengan hal yang tidak bijak tentu semakin menjauhkan umat Islam dari nilai-nilai luhur keislamannya.

Islam adalah agama yang fleksibel terkait perkara prinsip dasar (ushuliyyah) bergerak secara eksklusif, sedangkan terkait perkara cabang (furu’iyyah) bergerak secara inklusif. Urusan-urusan yang termasuk unity of diversity (al-ijtim?’ fil ikhtil?f) merupakan bentuk keluasan dari ajaran Islam itu sendiri. Wallahu alam. (Faruq Hamdi, Sekretaris LBM PWNU DKI Jakarta)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Syariah, Cerita, Halaqoh Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Sejumlah Kalangan Siap Jadi Tutor BPUN Waykanan

Waykanan,Pondok Pesantren Tegal? . Sejumlah kalangan berkompeten di bidang pendidikan hingga keagamaan di Kabupaten Waykanan Lampung menyatakan siap turun tangan menjadi tutor Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN).? Di antara mereka adalah Ketua Umum Forum Guru Independen Indonesia (FGII) yang juga Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Gino Vanollie.

Sejumlah Kalangan Siap Jadi Tutor BPUN Waykanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Kalangan Siap Jadi Tutor BPUN Waykanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Kalangan Siap Jadi Tutor BPUN Waykanan

"Meski tidak penuh, mantan Sekretaris Forum Martabat Guru Independen Lampung yang juga guru bidang studi biologi tersebut siap berpartisipasi aktif dalam BPUN," ujar Manajer BPUN Waykanan Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Rabu (18/3).

BPUN merupakan program utama Yayasan Mata Air yang bekerja sama dengan GP Ansor. Program tersebut, ujar Gatot, memiliki tujuan yaitu mengantarkan sebanyak-banyaknya pelajar untuk melanjutkan kuliah di PTN dengan program studi beragam, seperti Kedokteran, Teknik, Ekonomi, Psikologi, Hubungan Internasional, Pertanian, dan lain-lain.

Pondok Pesantren Tegal

Di Waykanan yang dicanangkan sebagai "Bumi Petani" oleh Bupati Bustami Zainudin, BPUN akan digelar di Pondok Pesantren Assidiqiyah 11, Kampung Labuhan Jaya, Kecamatan Gunung Labuhan mulai Mei hingga 7 Juni 2015.

"Kami mengundang seluruh pelajar di Waykanan yang ingin melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri atau PTN untuk mengikuti BPUN. Kami akan menyeleksi 60 pelajar, terdiri dari 30 putra dan 30 putri yang terbaik di Waykanan untuk ikut BPUN," ujar yang juga Koordinator Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) atau masyarakat jurnalis lingkungan hidup di Lampung itu menambahkan.

Pondok Pesantren Tegal

Dukungan untuk penyelenggaraan BPUN di Waykanan juga diberikan Dr Farida Aryani, akademisi dari Universita Negeri Lampung (Unila) yang juga Ketua Dharma Wanita Persatuan Waykanan.

"Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia atau PGRI Waykanan Sugiharto Pandu juga menyatakan siap menurunkan guru-guru tergabung dalam organisasi tersebut untuk menjadi tutor. Sekretaris Dewan Pembina GP Ansor Supri Iswan juga siap turun tangan. Adapun Pengasuh Pondok Pesantren Assidiqiyah 11 KH Syarfudin juga menyatakan siap menangani langsung perihal kerohanian peserta BPUN," kata Gatot pula.

Penggiat ALiansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung itu menambahkan, secara garis besar, BPUN berbicara tentang tiga hal, yakni: pendidikan, kepemimpinan dan keberagamaan yang ramah.

Model pembelajaran BPUN terdiri dari, mengkombinasikan model belajar tutorial, belajar mandiri, diskusi kelompok, belajar in class dan Outdoor, memadukan dengan Leadership Training, memberikan materi lain nonmata pelajaran seperti leadership, enterpreneurship, life skill, keberagamaan yang toleran dan moderat, dan adanya asrama (camp) bagi peserta BPUN selama pelaksanaan program.

"BPUN sudah berlangsung sejak 2007 dan menghasilkan individu-individu berkompeten. Syukur Alhamdulillah program tersebut bisa masuk ke Waykanan, karenanya sangat sayang jika diabaikan oleh generasi muda calon pemimpin bangsa menginta BPUN memberi harapan kepada pelajar kurang mampu untuk melanjutkan studi ke PTN," ujar pemilik gelar adat Lampung Ratu Ulangan itu lagi.

Program BPUN yang memberikan pendampingan dibidang akademik, penguatan soft skill dan beasiswa studi di PTN di tahun 2015 digelar di 40 kabupaten/kota dari 420 kabupaten dan 94 kota yang ada di Indonesia.

Di Lampung sendiri, BPUN digelar di Waykanan, daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur Provinsi SUmatera Selatan. Pendaftaran online bisa dilakukan melalui http://mataair.or.id/pendaftaran-bpun-2015/. (Dian Firasta/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Syariah, Nusantara, Meme Islam Pondok Pesantren Tegal

Senin, 18 Desember 2017

PBNU: Maarif Harus Perkuat Madrasah dan Sekolah Unggulan

Semarang, Pondok Pesantren Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta Lembaga Pendidikan Maarif NU terus melakukan konsolidasi dalam rangka mengembangkan madrasah dan sekolah menjadi lebih baik dan bermutu. Dengan demikian, Maarif NU? akan mampu mendorong anak didik menjadi pribadi berkarakter.

PBNU: Maarif Harus Perkuat Madrasah dan Sekolah Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Maarif Harus Perkuat Madrasah dan Sekolah Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Maarif Harus Perkuat Madrasah dan Sekolah Unggulan

Ketua PBNU H Hanief Saha Ghofur menyampaikan hal itu dalam acara pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Satuan Komunitas (Sako) Pramuka dan Raker Pimpinan Pusat LP Maarif NU di Pondok Pesantren al-Ittihad Poncol, Kecamatan Beringin, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (31/10).

Hanief mengatakan, tugas LP Maarif NU adalah mengembangkan madrasah dan sekolah supaya menjadi pilar pendidikan NU yang paling kuat. Ke depan, imbuhnya, lembaga pendidikan NU harus lebih kuat dan lebih baik

Pondok Pesantren Tegal

"PBNU telah merencanakan dan mendesain road map madrasah unggulan dan bermutu seperti amanat Muktamar NU di Jombang kemarin. Namun, semua ini keberhasilannya bergantung pada Maarif, bagaimana supaya kelembagaan, madrasah dan sekolah NU menjadi kuat," tandasnya.

Pondok Pesantren Tegal

Di depan ratusan peserta dan tamu undangan, Hanief mengutarakan, untuk memperkuat madrasah harus dilakukan upaya peningkatan mutu, penguatan kelembagaan, sumber daya manusia, dan daya dukung kapasitas pendidikan.

?

"Menjadi madrasah bermutu harus didukung sistem dan manajemen yang baik dan tertib serta siap berkompetisi atau bersaing dengan yang lain," ujarnya.

?

Ia menambahkan, PBNU akan terus mengawal dengan meningkatkan mutu warganya melalui pendidikan. Karena salah satu indikator keberhasilan program PBNU adalah tercapaianya peningkatan mutu madrasah/sekolah ungulan baik yang bertaraf nasional maupun internasional.

"Kita patut berbangga, orang lain orang lain mengakui madrasah-sekolah kita bermutu. Dan,? itulah puncak dari seluruh keberhasilan pendidikan NU," tandas Hanief.

Kegiatan PP LP Maarif yang berlangsung selama dua hari Sabtu-Ahad (31/10-1/11) ini memiliki dua agenda yakni Rapat kerja lembaga Maarif dan Rakernas Satuan Komunitas Pramuka Maarif. Hadir dalam pembukaan, Rais PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh, Ketua PP LP Maarif HZ Arifin Junaidi, dan peserta rakernas Sako Pramuka serta ratusan tamu undangan lainnya. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Syariah Pondok Pesantren Tegal

Lajnah Falakiyah Selenggarakan Rukyatul Hilal, Sabtu Sore

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama akan melaksanakan rukyatul hilal untuk penentuan awal Syawal 1433 H di sedikitnya 70 titik rukyat seluruh Indonesia. Rukyat dilaksanakan pada Sabtu 18 Agustus 2012, bertepatan dengan 29 Ramadhan 1433 H, pada sore hari.

"Rukyat akan dilaksanakan di tempat-tempat strategis seperti menara, gedung pencakar langit, bukit, lepas pantai dan lain-lain," kata kata Ketua lajnah Falakiyah PBNU Kiai Ghazalie saat memberikan pengajian di radio.nu.or.id dari ruang redaksi Pondok Pesantren Tegal, Jakarta, Jum’at (10/8) sore lalu.

Lajnah Falakiyah Selenggarakan Rukyatul Hilal, Sabtu Sore (Sumber Gambar : Nu Online)
Lajnah Falakiyah Selenggarakan Rukyatul Hilal, Sabtu Sore (Sumber Gambar : Nu Online)

Lajnah Falakiyah Selenggarakan Rukyatul Hilal, Sabtu Sore

Rukyatul hilal atau observasi bulan sabit juga didukung oleh sedikitnya 90 perukyat bersertifikat nasional, dan para ahli hisab-rukyat setempat.

Pondok Pesantren Tegal

Menurut Kiai Ghazalie Masroeri, pada Jum’at 17 Agustus 2012 sekitar pukul 22:55:37 terjadi terjadi ijtima awal bulan atau konjungsi. Sementara ketinggian hilal pada Jum’at hampir 5 derajat di bawah ufuk.

Namun pada keesokan harinya Sabtu, pada saat dilakukan rukyatul hilal, posisi hilal sudah berada pada ketinggian 6 derajat 44 menit 9 detik atau hampir tujuh derajat di atas ufuk.

Pondok Pesantren Tegal

Berdasarkan kriteria yang telah disepakati para ahli astronomi hilal sangat mungkin untuk dirukyat atau dilihat. Dengan demikian diprediksi awal Syawal 1433 H atau hari raya Idul Fitri akan jatuh pada Ahad, 19 Agustus 2012 M.

Namun Lajnah Falakiyah mengimbau umat Islam untuk tetap menunggu hasil rukyatul hilal yang diikuti pelaksanaan sidang itsbat di kantor Kementerian Agama Jakarta. "Nahnu nurid wallahu a’lamu ma yurid. (Kita punya keinginan namun Allah Yang Maha Berkehendak: red). Kita tunggu hasil rukyat dan sidang itsbat,” kata Kiai Ghazalie. 

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ulama, Berita, Syariah Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Bacalah Buku, Tanda Zaman, dan Alam Sekitar

Brebes, Pondok Pesantren Tegal. Buku adalah adalah gerbang jendela dunia, kunci pembukanya adalah membaca. Siapa pun yang inngin sukses harus rajin membaca buku sesuai dengan disiplin ilmu yang digelutinya. Tanpa itu, tak akan mampu mengikuti perkembangan peradaban masa lalu, kini, dan yang akan datang.

Bacalah Buku, Tanda Zaman, dan Alam Sekitar (Sumber Gambar : Nu Online)
Bacalah Buku, Tanda Zaman, dan Alam Sekitar (Sumber Gambar : Nu Online)

Bacalah Buku, Tanda Zaman, dan Alam Sekitar

Demikian disampaikan Hj Idza Priyanti SE saat pencanangan “gerakan gemar membaca dan infaq 1000 judul buku” yang digelar MTs Negeri Model Brebes, di halaman sekolah setempat, Kamis (28/5).

Menurut Idza, kegemaran membaca harus dilatih sejak dini dengan berbagai langkah strategis dan dukungan orang tua, lingkungan, sekolah, pemangku kebijakan, masyarakat dan stakeholder lainnya.

Pondok Pesantren Tegal

Langkah yang ditempuh MTs N Model Brebes dengan pencanangan gemar membaca dan infaq 1000 judul buku menjadi momentum menarik untuk pengembangan budaya minat baca di Kabupaten Brebes. “Membaca, memerlukan dorongan baik dari dalam diri sendiri, llingkungan maupun guru dan orang tua sebagai tokoh panutan terdekat dari anak-anak kita,” tutur Idza.

Hal serupa disampaikan artis tahun 80-an Yessi Gusman bahwa kegemaran membaca mengalami perkembangan yang cukup signifikan, meskipun belum merata. Hal tersebut ditandai dengan masih belum majunya perpustakaan terutama perpustakaan sekolah. Untuk itu, diperlukan juga peran pemerintah dan masyarakat dalam pengembangan budaya minat baca.

Pondok Pesantren Tegal

Termasuk kehadiran taman bacaan masyarakat harus lebih digiatkan lagi agar budaya minat baca makin merata. “Kami lihat di Brebes sudah bagus minat bacanya, terbukti dengan lahirnya penulis-penulis berbakat dan prestasi siswa yang tinggi sebagai wujud aktifnya membaca,” kata Yessi.

Launching ditandai dengan penandatangan prasasti dan penyerahan infaq. Infaq antara lain diberikan dari Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE, Yessi Gusman, Anggota Komisi Yudisial Taufiqurrahman Sahuri, para guru, orang tua siswa dan lain-lain.

Dalam kesempatan tersebut juga diisi dengan ceramah peringatan Isra Miraj oleh KH Subekhan Makmun. Dalam ceramahnya, dia menghendaki pentingnya budaya baca dikalangan generasi muda. Bahkan perintah pertama yang diturunkan Al Quran adalah perintah membaca.

“Kita semua tahu, kalau membaca adalah perintah pertama diturunkannya Al Quran, yang artinya untuk mengetahui kehidupan dunia dan akherat diawali dengan membaca,” terang Kiai.

Membaca menurut kiai, adalah membaca secara dalam artian membaca buku dan juga membaca tanda-tanda zaman, membaca alam sekitarnya. Semua itu menjadi pembelajaran dan untuk dihindari atau dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Al Quran, sunah Rasul, ijma dan qiyas. “Dengan membaca maka ilmu akan terus melekat di dalam hati dan pikiran,” tandas kiai yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Brebes.

Kepala MTs N Model Brebes Drs H Muh Muntoyo MPd menjelaskan, gerakan gemar membaca dan infaq 1000 judul buku dikandung maksud untuk meningkatkan minat baca siswa. Gelaran ini sekaligus upacara pelepasan siswa Kelas IX MTs N Model Brebes, akhirusanah santri Boarding School MTs N Model Brebes, peringatan Isro Mikroj, Hari kebangkitan Nasional 2015.

Sebanyak 496 siswa kelas IX berhasil melaksanakan Ujian Nasional tahun pelajaran 2014/2015. Diharapkan lulus 100 persen sebagaimana tahun-tahun sebelumnya yang akan diumumkan pada 10 Juni mendatang. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Syariah Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Sunah Menyembelih

Segala bentuk ibadah perlu persiapan untuk kesempurnaan. Ini penting agar ibadah itu tidak dibiarkan polos tanpa aksesori dan kemasan. Padahal aksesori dan kemasan sangat diperlukan terutama sekali perihal ibadah termasuk ibadah menyembelih.

Tetapi tanpa persiapan pun hewan sembelihan halal dimakan kecuali hewan yang disembelih oleh kalangan majusi atau pemeluk agama bumi seperti Hindu dan Budha. Hewan yang disembelih oleh ahli kitab juga halal. Semua hewan sembelihan halal dimakan kecuali sembelihan yang dimaksudkan untuk selain Allah atau karena nazar.

Sunah Menyembelih (Sumber Gambar : Nu Online)
Sunah Menyembelih (Sumber Gambar : Nu Online)

Sunah Menyembelih

Persiapan itu mencakup sejumlah sunah seperti disebutkan di dalam kitab-kitab fiqih. Ulama menyebutkan sedikitnya lima hal yang dianjurkan untuk dilakukan pada penyembelihan. Syekh Abu Syuja‘ dalam Ghoyatut Taqrib mengatakan

ÙˆÙ? ستحب عÙ? د الذبح خمسة أشÙ? اء التسمÙ? Ø© والصلاة على الÙ? بÙ? صلى الله علÙ? Ù‡ وسلم واستقبال القبلة والتكبÙ? ر والدعاء بالقبول

Pondok Pesantren Tegal

Ketika menyembelih, disunahkan melakukan 5 hal. Pertama, menyebut nama Allah. Kedua, mengucapkan selawat bagi Rasulullah SAW. ketiga, mengarah qiblat. Keempat, membaca takbir. Kelima, mengucap doa agar amal korbannya diterima Allah.

Sedangkan doa yang dibaca sesaat sebelum menyembelih disebut di bawah ini.

Pondok Pesantren Tegal

اللهم هذه Ù…Ù? Ùƒ وإلÙ? Ùƒ فتقبل

Lima sunah ini berlaku untuk penyembelihan hewan kapanpun kecuali membaca takbir dan doa. Karena keduanya merupakan kesunahan khusus bagi penyembelihan hewan qorban Idul Adlha seperti dikatakan Syekh Nawawi Banten dalam syarh Fathul Qarib, Tausyih Ibni Qasim.

Dalam Tausyih Ibni Qasim, Syekh Nawawi Banten mengatakan sunah menyembelih itu sebenarnya sembilan termasuk lima yang disebutkan di atas.

Keenam, mempertajam golok potong tidak di hadapan hewan sembelihan. Ketujuh, menjalankan dan menekan golok potong di saat memaju-mundurkan golok pada leher hewan sembelihan. Kedelelapan, membaringkan kambing pada sisi kiri tubuhnya dengan mengikat tiga kakinya kecuali kaki kanan bagian belakang. Cara ini juga berlaku bagi unta (termasuk sapi atau kerbau). Hanya saja kaki unta yang tidak diikat ialah kaki kiri bagian depan. Kesembilan, menyediakan air untuk kemungkinan minum hewan qorban yang akan disembelih. Wallahu A‘lam.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pesantren, Hadits, Syariah Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

Chavez Usir Penginjil AS

Venezuela, Pondok Pesantren Tegal
Presiden Venezuela  Hugo Chavez, Rabu memerintahkan misi pengabar injil Suku Baru AS  yang bekerja dengan kelompok-kelompok  pribumi untuk meninggalkan negara itu setelah menuduh mereka sebagai "penyusupan imperialis" dan mata-mata.

Chavez, mantan anggota pasukan payung, yang mengatakan revolusi sosialisnya melawan pengaruh AS, menangguhkan izin misionari asing  Agustus setelah pengabar injil AS Pat Robertson mengimbau Washington untuk membunuh pemimpin sayap kiri itu. Robertson kemudian meminta maaf.

"Saya telah memberikan perintah itu, Suku-Suku Baru, apa yang disebut Suku-Suku Baru, harus meninggalkan Venezuela. Ini adalah benar-benar penyusupan imperialis, yang membuat saya malu," kata Chavez yang mengenakan seragam militer dan baret merah.

"Ini adalah penyusupan imperialis, CIA , mereka mengumpulkan informasi penting dan strategis,  disamping itu mereka juga  mengeksploitir  penduduk pribumi kita," katanya. "Kita tidak ingin memperlakukan mereka dengan kasar, tapi hanya  memberikan mereka  waktu untuk berkemas-kemas dan pulang."

Ia tidak mengatakan kapan misi itu akan meninggalkan Venezuela  dan tidak mengungkapkan bukti tuduhan-tuduhannya. Chavez, yang  dipuji oleh para pendukungnya karena memperjuangkan kaum miskin, mengemukakan hal itu dalam satu acara  di Negara bagian Apure untuk menyerahkan tanah, traktor dan kredit untuk membantu kelompok pribumi.

Misi Suku Baru yang berpusat di Florida, sebuah kelompok pengabar injil  yang melatih dan mengkoordinasi misi-misi untuk mengajar di daerah-daerah terpencil, memiliki 160 pengabar injil di Venezuela  yang bekerja dengan 12 kelompok pribumi, kata Situsnya.

Pengumuman itu dikeluarkan beberapa hari setelah Robertson, seorang pemimpin konservatif Kristen  yang mendukung Presiden AS George W.Bush yang mengecam Chavez, menuduh dia mendanai Osama bin Laden dan berusaha memperoleh bahan atom dari Iran. "Para pejabat Venezuela menolak tuduhan-tuduhan baru itu sebagai " tak masuk akal."

Chavez sering menuduh Washington berusaha menggulingkan atau membunuhnya. Para pejabat AS membantah tuduhan itu sebagai sembarangan, retorika untuk mencari kepopuleran, tapi mengatakan pemimpin Venezuela itu bekerjasama dengan Presiden Kuba Fidel Castro untuk merusak demokrasi rejional.

Kendatipun hubungan politik yang tegang dan saling kecam tidak membuat Venezuela, ekporter nomor lima minyak dunia, menghentikan penjualan sebagian besar minyaknya ke AS.
(atr/cih)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kiai, Nahdlatul, Syariah Pondok Pesantren Tegal

Chavez Usir Penginjil AS (Sumber Gambar : Nu Online)
Chavez Usir Penginjil AS (Sumber Gambar : Nu Online)

Chavez Usir Penginjil AS