Kamis, 28 Mei 2015

Sekolah Ma’arif NU se-Cirebon Siap Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU

Cirebon, Pondok Pesantren Tegal. Puluhan kepala sekolah Ma’arif NU dan sekolah yang dikelola warga NU se-kabupaten Cirebon menandatangani nota kesepahaman dengan cabang IPNU dan IPPNU Cirebon, di STAI Bunga Bangsa Cirebon jalan Widasari III Tuparev, Cirebon, Ahad (20/4). Mereka sepakat mendirikan komisariat di sekolah masing-masing dan memberlakukan pengenaan logo pelajar NU pada pakaian seragam siswa.

“Kehadiran komisariat IPPNU di sekolah sangat penting terutama di dalam membangun kader NU. Misalnya, ketika lulus dari sekolah, mereka tidak tergagap dan minder dalam mengamalkan amaliyah NU seperti tahlilan, barzanjian, sholawatan, dan lainnya,” kata Sekretaris PP IPPNU bidang Pembentukan Komisariat Wahyu Widiya dalam acara sosialisasi pendirian komisariat IPNU-IPPNU di Cirebon.

Sekolah Ma’arif NU se-Cirebon Siap Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekolah Ma’arif NU se-Cirebon Siap Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekolah Ma’arif NU se-Cirebon Siap Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU

Beda sekali dengan para pelajar sekolah meskipun dikelola oleh LP Maarif NU dan warga NU. Mereka cenderung lepas dari tradisi NU, tandas Widiya.

Pondok Pesantren Tegal

Kehadiran komisariat IPPNU di sekolah-sekolah, menurut Widiya, juga berfungsi mengembangkan potensi kepemimpinan para siswi mengingat OSIS kerap didominasi para siswa.

Pondok Pesantren Tegal

Sementara guru bidang Kesiswaan SMK Ma’arif NU Pangenan Muttaqin dalam forum itu meminta pengurus cabang untuk istiqomah membina komisariat-komisariat IPPNU di sekolah. Pasalnya, komisariat-komisariat itu pernah dibentuk di sekolahnya pada 2001 tetapi sebentar kemudian organisasi pelajar itu mati.

“Ini disebabkan lebih karena minimnya arahan, bimbingan, dan sapa dari pengurus cabang,” tegas Muttaqin.

Kemandekan dan tidak berkembangnya komisariat IPNU dan IPPNU di sekolah, kata Ketua PC IPPNU kabupaten Cirebon Putri Hidayani, lebih dikarenakan minusnya perhatian sekolah kepada komisariat.

“Pihak sekolah lebih mendukung kegiatan OSIS yang selanjutnya kurang fokus mendukung IPPNU di sekolah. Padahal jangkauan gerakan komisariat IPPNU lebih luas dan jauh ke depan. Karenanya, kita sepakat dengan Ma’arif NU untuk mengganti OSIS dengan komisariat di sekolah masing-masing,” terang Putri.

Padahal keberlangsungan komisariat IPNU dan IPPNU di sekolah, tegas Putri, bukan hanya tanggung jawab pembina maupun pengurus cabang tetapi juga sinergitas dari pihak sekolah. Sedangkan pengalaman yang sudah-sudah, pihak sekolah bersikap acuh terhadap kehadiran komisariat, imbuh Putri.

Ia menyebut proyek sukses kehadiran tunggal komisariat IPNU dan IPPNU tanpa OSIS pada sekolah-sekolah di bawah naungan YLPI Buntet Pesantren, SMPNU Gebang, serta MANU dan MtsNU Ambit Waled.

“Gerakan ini harus didukung terutama oleh pihak sekolah. Di sekolah kami Mts NU Putra I Buntet Pesantren, hanya ada komisariat IPNU. Kita hanya mengadakan komisariat IPNU di sekolah agar semua pelajar sadar bahwa mereka itu IPNU. Kalau ada OSIS dan komisariat IPNU, justru menjadi rancu. Karenanya, kita mendukung penghapusan OSIS,” kata guru pembina IPNU di MtsNU Buntet.

“Kemenag dan Kemendiknas kabupaten Cirebon sangat mendukung gerakan penggantian OSIS menjadi komisariat IPNU dan IPPNU terutama di sekolah Maarif NU dan sekolah yang dikelola warga NU,” tandas Putri di mana sepekan sebelumnya mengadakan pertemuan dengan Kasi Bidang Madrasah Sofiyuddin. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Meme Islam Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 22 Mei 2015

Bersihkan Kotoran Jiwa dengan Taubat dan Ikhlas

Boyolali, Pondok Pesantren Tegal. Manusia diperintahkan oleh Allah SWT untuk bersuci. Bersuci atau yang juga dikenal dengan istilah thaharah, juga disayaratkan sebagai salah satu syarat ibadah shalat. Bersuci tak hanya cukup lahirnya saja, batin pun mesti kita sucikan.

"Ada dua macam bersuci. Yang pertama yakni menyucikan jiwa kita. Kedua membersihkan badan kita dari kotoran dan najis," terang Rais Syuriah MWCNU Banyudono, KH Asikin, pada pertemuan rutin yang diadakan di Masjid An-Nur Puluhan Bendan Banyudono Boyolali, Selasa (17/1) malam.

Bersihkan Kotoran Jiwa dengan Taubat dan Ikhlas (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersihkan Kotoran Jiwa dengan Taubat dan Ikhlas (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersihkan Kotoran Jiwa dengan Taubat dan Ikhlas

Dipaparkan Kiai Asikin, cara membersihkan jiwa yang kotor yakni dengan bertaubat. "Istighfar dan tidak akan mengulangi lagi perbuatan maksiat tersebut," tutur dia.

Adapun hati yang kotor, lanjut dia, disebabkan karena melakukan berbagai akhlak jelek, seperti sirik, sombong, iri, dengki dan lain sebagainya. "Hal-hal tersebut bisa membuat kotor hati. Cara menghilangkannya bagaimana? dengan ikhlas, yakni tidak sakit hati ketika direndahkan, dan tidak besar hati ketika dipuji," kata dia.

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal

Sedangkan kotoran yang menempel pada badan, yang bersifat lahir, dapat dibersihkan dengan cara wudhu, mandi wajib dan sebagainya. (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pondok Pesantren, Daerah, Aswaja Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 05 Mei 2015

LPBI NU Lakukan Aksi Kemanusiaan Korban Banjir Manado

Manado, Pondok Pesantren Tegal. Pengurus Pusat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (PP LPBI NU) memberikan bantuan untuk korban banjir bandang di Kota Manado berupa paket sembako, air mineral dan selimut kepada 350 KK di 5 (lima) kecamatan: Wenang, Tikala, Singkil, Paal Dua, dan Wanea, Kamis (23/1).?

LPBI NU Lakukan Aksi Kemanusiaan Korban Banjir Manado (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI NU Lakukan Aksi Kemanusiaan Korban Banjir Manado (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI NU Lakukan Aksi Kemanusiaan Korban Banjir Manado

Pemberian bantuan ini dilakukan berdasarkan hasil assessment yang dilakukan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Utara.?

Ketua PWNU Sulawesi Utara H Sya’ban Mauludin mengatakan akibat banjir bandang yang terjadi beberapa waktu yang lalu, masyarakat terdampak di Kota Manado kehilangan tempat tinggal dan aset yang dimiliki. Selain itu, beberapa infrastruktur juga mengalami kerusakan. Dan saat ini mereka sangat membutuhkan bantuan berupa sembako, peralatan masak, obat-obatan serta perlengkapan tidur (bantal dan selimut).?

Pondok Pesantren Tegal

Avianto Muhtadi Munir, Ketua PP LPBI NU, mengatakan bahwa bantuan kemanusiaan yang diberikan oleh LPBI NU sebagai bentuk kepedulian Nahdlatul Ulama kepada para korban terdampak banjir bandang di Kota Manado. Bantuan kemanusiaan ini didistribusikan oleh PWNU Sulawesi Utara.?

Pondok Pesantren Tegal

Lebih lanjut Avianto berharap kepada pemerintah, masyarakat dan sektor swasta agar kejadian saat ini dapat menjadi bahan introspeksi dan selanjutnya merumuskan langkah bersama dalam pemeliharaan lingkungan dan upaya pengurangan risiko bencana agar kejadian tersebut tidak terulang di masa yang akan datang.

Suwarno Tuiyo, sekretaris PWNU Sulawesi Utara mengatakan, bantuan yang diberikan oleh PP LPBI NU ini sangat membantu masyarakat yang terdampak banjir bandang di Kota Manado. PWNU Sulawesi Utara juga mengucapkan terima kasih kepada PP LPBI NU atas bantuan yang diberikan dan akan mendistribusikannya ke masyarakat terdampak.

Banjir bandang yang menerjang pada 15 Januari 2014 di Kota Manado, Sulawesi Utara mengakibatkan 11 kecamatan terendam, di antaranya Wanea, Singkil, Tikala, Sario, Wenang, Paal Dua, Tuminting, Paal Empat, dan Bunaken.?

Menurut data BNPB, dampak banjir bandang di Kota Manado berdampak pada 85.831 jiwa atau 23.204 KK (Kepala Keluarga). Saat ini sebanyak 15.000 jiwa mengungsi di posko-posko dan tempat yang aman.?

Sampai hari ini, tercatat sudah 19 korban jiwa meninggal baik akibat langsung maupun tidak langsung dari banjir bandang. ? Sementara dari sisi infrastruktur, kerusakan terjadi di 19 ruas jalan dengan panjang 31,6 kilometer. Beberapa jembatan ambruk dan putus. Saluran air bersih rusak serta jaringan listrik di beberapa wilayah padam. Banjir bandang juga menyebabkan lebih dari 500 warga kehilangan tempat tinggal.?

Pemerintah Kota Manado mencatat terdapat 3.609 rumah yang rusak berat, 1.966 rumah yang rusak dengan skala sedang, serta 4.789 rumah rusak ringan. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kiai Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 03 Mei 2015

Hj Khofifah: Negeri Ini Harus Belajar Banyak Nilai dari Pesantren

Jombang, Pondok Pesantren Tegal - Menteri Sosial RI Hj Khofifah Indar Parawansa mengimbau pejabat dan aparat negara untuk sejenak melihat kiprah pesantren. Menurutnya, pesantren menyimpan banyak pelajaran yang patut dijadikan pelajaran.

Demikian disampaikan Hj Khofifah pada peringatan satu abad Pesantren Bahrul Ulum di Gedung Serba Guna Hasbullah Said Tambakberas, Jombang, Ahad (15/5).

Hj Khofifah: Negeri Ini Harus Belajar Banyak Nilai dari Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Hj Khofifah: Negeri Ini Harus Belajar Banyak Nilai dari Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Hj Khofifah: Negeri Ini Harus Belajar Banyak Nilai dari Pesantren

"Negeri ini harus belajar banyak dari pesantren," katanya.

Pesantren telah banyak melahirkan tokoh berkharisma dan sangat berpengaruh terhadap tatanan kebangsaan. Hal ini disebabkan kontribusi pesantren tak diragukan dalam mendidik generasi bangsa.

Pondok Pesantren Tegal

"Negeri ini harus banyak belajar tentang nasionalisme, belajar tentang mencintai bangsanya. Dari pesantren lahirlah Presiden RI yang bijaksana, lahirlah Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), pahlawan nasional dan para pejabat lainnya," kata Khofifah.

Para santri di pesantren tentu telah diajarkan bagaimana mencintai negerinya dengan baik. Terlebih pendidikan cinta tanah air (hubbul wathan) merupakan salah satu cara kiai untuk menanamkan keyakinan santri dalam berbangsa dan bernegara.

Pondok Pesantren Tegal

Seperti yang sering diungkapkan oleh Pendiri Pesantren Bahrul Ulum KH Abdul Wahab Hasbullah semasa hidupnya. "Hubbul wathon minal iman (mencintai negara adalah sebagian dari iman) itu sering sekali disampaikan oleh Mbah Wahab bahkan seakan-akan sudah diangap seperti hadits," ujarnya.

Dalam kesempatan itu ia juga menyampaikan budaya pesantren harus terus dilestarikan misalnya kajian sejumlah disiplin ilmu hendaknya terus menjadi keharusan tersendiri bagi santri agar menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas. Tak kalah penting penguasaan santri terhadap bahasa asing.

Sebelumnya, Khofifah menyerahkan santunan kepada anak yatim dengan total santunan Rp. 60. 000. 000,- berupa uang tunai dan peralatan sekolah bersama Ketua Yayasan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

Kedatangannya disambut antusias baik dari pihak yayasan pesantren terkait, santri, pelajar, mahasiswa hingga jamaah Muslimat dan Fatayat NU dengan jumlah kurang lebih 1.000 peserta. Hampir seluruh ruangan penuh dengan peserta acara tersebut. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ahlussunnah, Syariah Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 17 April 2015

Lintas Ormas di Surabaya Gelar Istighotsah untuk Salim Kancil

Surabaya, Pondok Pesantren Tegal. Aktivitas solidaritas untuk aktivis anti-tambang Salim Kancil dan Tosan terus bergulir, Jumat (2/10) lalu, sedikitnya 100 massa dari berbagai ormas yang ada di Surabaya mengadakan doa bersama dan istighotsah di Taman Apsari, tepat di depan gedung Grahadi Surabaya Jawa Timur.

Aliansi ini terdiri dari para pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kota Surabaya, PCNU, Walhi Jawa Timur, Pusat Hak Asasi Manusia, Gusdurian, Ecoton, CRIS Foundation, CMARS, LPBP Waduk Depat, Kolektif Mata Rantai, dan LBH Kota Surabaya.

Lintas Ormas di Surabaya Gelar Istighotsah untuk Salim Kancil (Sumber Gambar : Nu Online)
Lintas Ormas di Surabaya Gelar Istighotsah untuk Salim Kancil (Sumber Gambar : Nu Online)

Lintas Ormas di Surabaya Gelar Istighotsah untuk Salim Kancil

KH Saiful Halim yang memimpin acara tersebut menyatakan, acara ini digelar guna mendoakan almarhum Salim Kancil agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan yang Maha Esa dan kebenaran yang telah diperjuangkannya tidak sia-sia. “Kami juga berdoa untuk masyarakat yang berada di sepanjang pantai pesisir selatan agar tidak ada yang menjadi ‘Salim’ berikutnya, sebagai korban konflik sosial,” harap Kiai Saiful.

Pondok Pesantren Tegal

Menurut dia, pembukaan penambangan pasir besi di sepanjang pesisir selatan dari Banyuwangi hingga Lumajang menuai protes dari masyarakat, sehingga pemerintah kabupaten setempat harus tegas menolak penambangan yang menjadi pemicu konflik horisontal antarmasyarakat.

Ketua PC IPNU Surabaya, Agus Setiawan mengatakan, tragedi berdarah di Desa Selok Awar-awar Lumajang bisa saja terjadi di wilayah-wilayah lain, apabila tidak ada langkah preventif sejak dini. “Karena masyarakat sudah tegas menolak penambangan pasir di sana,” tegasnya.

Pondok Pesantren Tegal

Sementara itu Direktur CMARS, Inoeng, dalam orasinya menyatakan, kasus terbunuhnya aktivis anti-tambang Salim Kancil harus menjadi pelajaran semua pihak dan agar pemerintah tidak gegabah untuk menerbitkan izin penambangan yang sudah jelas ditolak oleh masyarakat setempat, harus ada upaya evaluasi dalam pembangunan daerah.

"Kami mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus pembunuhan dan penganiayaan terhadap Salim Kancil dan Tosan yang menjadi korban kekerasan para penguasa desa setempat. Tangkap dan adili aktor intelektual dibalik terbunuhnya Salim Kancil," tegasnya.

Sebelumnya, aksi serupa juga telah banyak diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia, termasuk melalui penandatangan petisi di situs elektronik change.org. Petisi yang menuntut pengusutan tuntas kasus Salim Kencil tersebut ditujukan kepada Kapolri, Pemkab Lumajang, LPSK, Komnas HAM, dan KPAI. (Najih/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Budaya Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 29 Maret 2015

Jurus Debat Kiai Wahab Chasbullah

Dalam sejarah Nahdlatul Ulama, Kiai Wahab Chasbullah (1888-1971) merupakan tokoh debat dan diplomat yang piawai memainkan jurus politiknya. Kiai Wahab merupakan rujukan, bagaimana memainkan jurus politik dalam banyak laga, dengan memperhitungkan langkah taktis lawan sembari menyusun strategi. Langkah-langkah strategis Kiai Wahab dalam sejarah panjang perjuangan pesantren dan pendirian Nahdlatul Ulama, merupakan sejarah abadi bagaimana santri-kiai mengaktualisasi fiqh as-siyasah (fikih politik).

Kiai Wahab setidaknya menjadi maestro debat dalam tradisi pesantren. Beliau menguasai ragam ilmu fiqh, ushul fiqh, manthiq, tata bahasa Arab hingga dengan cerdik melakukan gerak politik yang dilandasi etika. Kiai Wahab selalu tampil pede dalam beragam laga tandang dengan lawan politiknya, juga selalu siap beradu argumentasi dengan para kiai sepuh. Kisah-kisah yang penulis temukan dari kiai-kiai sepuh maupun Gawagis penikmat humor, Kiai Wahab kalau berdebat sangat konsisten mempertahankan prinsip dan argumentasinya. Bahkan, sampai menggebrak meja menggunakan kaki.

Sebuah kisah yang disampaikan Gus Yahya Staquf, Kiai Wahab dan Kiai Bisri Syansuri berdebat tentang hukum drum band. Dalam perdebatan ini, Kiai Bisri menggebrak meja untuk mempertahankan prinsipnya. Kiai Wahab tidak mau kalah, beliau menggebrak meja menggunakan kaki! Peserta bahtsul masail tercengang, dan khawatir jika NU menjadi bubar hanya karena drum band. Namun, ketika jamuan makan, beliau berdua berebut untuk saling melayani. Sungguh etika debat yang luar biasa. Di luar panggung perhelatan, para pesilat akan saling menghormati. Di luar ruangan bahtsul masail, para kiai akan saling melayani dan melempar tawa.

Jurus Debat Kiai Wahab Chasbullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jurus Debat Kiai Wahab Chasbullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jurus Debat Kiai Wahab Chasbullah

Kiai Wahab Chasbullah merupakan tulang punggung pergerakan Nahdlatul Ulama. Bersama Hadratus Syaikh Hasyim Asyari dan Kiai Bisri Syansuri, Kiai Wahab menggerakkan roda organisasi dengan silaturahmi ke ribuan kiai dan pesantren di seluruh kawasan Nusantara. Selama berminggu-minggu, Kiai Wahab melakukan perjalanan untuk konsolidasi jaringan pesantren. Mengaktifkan kembali para kiai agar mau bergabung dalam jamiyyah (organisasi), tidak sekedar terikat dalam jamaah (komunitas). ? ?

Indonesianis Greg Fealy menggambarkan peran penting Kiai Wahab Chasbullah, dalam jurnal Tashwirul Afkar, mengungkapkan betapa Kiai Wahab merupakan ahli dekat yang dihormati. "Wahab dicirikan secara menonjol dalam hal-hal sebagai berikut. Seorang ahli debat yang giat dan semangat, mahir memadukan diskusi serius mengenai prinsip hukum dengan anekdot jenaka atau kisah yang tepat dari kitab dan sejarah Islam. Meski mendukung usaha-usaha kalangan modernis dalam pembaruan bidang pendidikan dan sosial, dia menolak serangan mereka atas ortodoksi Sunni dan keutamaan Ulama" (1996: 10).

Kisah interaksi Kiai Wahab dengan kelompok Islam modernis, patut dicermati. Pada awalnya, Kiai Wahab berkawan baik dengan Mas Mansur, yang dianggap sebagai sahabatnya. Pada 1924, Mas Mansur bertemu dengan Kiai Wahab Chasbullah. Pertemuan keduanya, terjadi dalam forum sesama anggota Indonesische Studie Club, sebuah kelompok studi yang didirikan oleh dr. Soetomo di Surabaya pada Juli 1924. Kagum akan kekompakan yang ada dalam kelompok ini, kedua kiai muda ini pernah berselisih pendapat, bersepakat untuk mengadakan sebuah pertemuan yang bertujuan menggalang persatuan.

Pondok Pesantren Tegal

Namun, selanjutnya cita-cita keduanya untuk membentuk satu organisasi bersama, harus tenggelam karena perbedaan prinsip. Mas Mansur membentuk Mardi Santosa, sedangkan Kiai Wahab Chasbullah mendirikan Syubbanul Wathan. Pada periode selanjutnya, Syubbanul Wathan bermetamorfosis menjadi Angkatan Nahdlatul Oelama (ANO), yang kemudian menjadi Gerakan Pemuda Ansor.

Pondok Pesantren Tegal

Hubungan antara kelompok Islam modernis yang dimotori Mas Mansur dan kelompok Islam tradisionalis yang dikomando jaringan pesantren Kiai Wahab, mengalami dinamika ketegangan. Keretakan hubungan ini, di antaranya karena ketidakpuasan para ulama tradisional yang aspirasinya tidak terwakili. Ketika itu, utusan ulama yang berangkat ke Makkah adalah Mas Mansur (1896-1946) dan Tjokroaminoto (1882-1934). Keduanya mewakili delegasi MAHIS (Mutamar al-Alamul Islami farul Hindish Syarqiyyah), Kongres Islam Sedunia Cabang Hindia Timur (semula bernama Kongres al-Islam), untuk menghadiri Kongres Khilafah yang diprakarsai Raja Ibn Saud di Makkah pada 1 Juni 1926. Kisah ini, terdokumentasi dalam Kiai Haji Mas Mansur 1896-1946: Perjuangan dan Pemikiran (2005: 57). ?

Padahal, Kiai Wahab juga terpilih sebagai salah satu dari tiga utusan umat Islam yang berangkat ke Makkah, tapi urung dikirim sebagai delegasi. Pada kongres al-Islam ke-4 dan ke-5, nama Kiai Wahab dimunculkan sebagai utusan resmi mewakili umat Islam Hindia Belanda. Akan tetapi, Kiai Wahab tidak lantas memusuhi tokoh-tokoh muslim dari kelompok modernis. Mereka tetap bergerak untuk melayani ummat, dengan membangun komunitas yang sesuai dengan visi masing-masing.

Kisah lain, Kiai Wahab juga berani berdebat dengan Charles Olke Van Der Plas (1891-1977). Sebagai utusan Hindia Belanda, Van Der Plas memiliki kedudukan sangat penting, dalam mengatur politik dan ekonomi Belanda di negeri jajahan. Van Der Plas juga pernah menjadi Gubernur Jawa Timur (1936-1941), serta pernah menjadi konsul Belanda di Jeddah. Perdebatan antara Kiai Wahab dan Van Der Plas, dalam bidang teologi yang merujuk pada keimanan terhadap Nabi Isa dan Muhammad. Singkat kisahnya, perdebatan ini dimenangi Kiai Wahab, dengan jurus diplomasi yang bersendi ilmu manthiq.

Dalam ilmu debat dan jurus diplomasi di komunitas santri, Kiai Wahab adalah Koentji. (Munawir Aziz)





Penulis adalah Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, buku terbarunya bertema "Gus Dur & Jaringan Tionghoa Nusantara", dalam proses terbit. (Komunikasi via email: moena.aziz@gmail.com).?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Internasional, Cerita, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Tegal

Senin, 16 Maret 2015

Kang Said: Demokrat Harus Berikan Sanksi pada Bhatoegana

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Pernyataan politisi Demokrat Sutan Bhatoegana yang menyebut Presiden RI ke-4 KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur lengser karena terlibat kasus korupsi terus mendapatkan reaksi keras. 

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj dengan tegas meminta DPP Partai Demokrat memberikan sanksi kepada kadernya tersebut. 

Kang Said: Demokrat Harus Berikan Sanksi pada Bhatoegana (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Demokrat Harus Berikan Sanksi pada Bhatoegana (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Demokrat Harus Berikan Sanksi pada Bhatoegana

"Bhatoegana harus dikenai sanksi," ungkap Kiai Said di kantor PBNU Jakarta, Selasa (27/11). 

Pondok Pesantren Tegal

Ditanya jenis sanksi untuk Bhatoegana, apakah sampai pada tingkat pemecatan, Kiai Said menyerahkan sepenuhnya kepada pimpinan Partai Demokrat. 

Pondok Pesantren Tegal

"Itu terserah pimpinan Demokrat. Yang jelas Bhatoegana harus dikenai sanksi, karena apa yang disampaikannya sudah menyakiti orang-orang yang mencintai Gus Dur, khususnya warga NU," tambahnya. 

Diberitakan sebelumnya, dalam talk show di sebuah televisi bersama mantan Juru Bicara Gus Dur, Adhie Masardi, Sutan menyebutkan, Gus Dur semasa menjadi presiden pernah tersandung masalah hukum, yakni Buloggate dan Brunaigate sehingga lengser. Pernytaan tersebut tidak sekedar melecehkan Gus Dur, melainkan juga memaksa Gus Dur untuk menutupi kekeruhan yang terjadi di rezim pemerintahan saat ini. 

Pernyataan Bhatoegana tersebut memantik reaksi keras keluarga besar NU, salah satunya Ketua Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) PBNU Andi Najmi Fuaidi, yang berencana melayangkan somasi kepada Bhatoegana dan Partai Demokrat. 

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Samsul Hadi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pertandingan, AlaSantri Pondok Pesantren Tegal