Kamis, 17 April 2014

PWNU Jatim Tak Akan Keluarkan Ikhbar Awal Syawal

Surabaya, Pondok Pesantren Tegal

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur tidak akan mengeluarkan Ikhbar (pemberitahuan awal bulan Syawal) kepada warga Nahdliyyin sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

“NU Jatim tidak akan mengeluarkan Ikhbar. Hanya Pengurus Besar (PBNU) saja yang melakukannya,” kata H Masyhudi Muchtar, Sekretaris PWNU Jatim kepada Pondok Pesantren Tegal di Surabaya, Ahad (7/10).

PWNU Jatim Tak Akan Keluarkan Ikhbar Awal Syawal (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jatim Tak Akan Keluarkan Ikhbar Awal Syawal (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jatim Tak Akan Keluarkan Ikhbar Awal Syawal

Padahal sejak bertahun-tahun yang lalu, NU Jatim telah melakukannya secara rutin. Malahan Ikhbar dari Jatim selalu dijadikan pedoman utama penetapan (itsbat) awal bulan di Jakarta, baik oleh PBNU maupun Sidang Isbat Departemen Agama.

Pondok Pesantren Tegal

Hal itu dimungkinkan, karena setiap menjelang tanggal 1 Ramadlan dan 1 Syawal, NU Jatim selalu melakukan rukyat di 11 tempat strategis. Sementara para pengambil keputusan (unsur Syuriah, Tanfidziyah dan Ketua Lajnah Falakiyah) selalu setia menunggu di Kantor PWNU. Setiap ada laporan masuk dari lokasi rukyat, keputusan resmi bisa cepat diambil.

Pondok Pesantren Tegal

Langkah tidak mengeluarkan Ikhbar ditempuh karena pada tahun yang lalu sikap itu menjadi sebab salah persepsi. Sampai akhirnya, NU Jatim dan PBNU lebaran berbeda hari. Mungkin baru kali itu PWNU dan PBNU lebaran berbeda sepanjang perjalanan sejarahnya.

Menurut Masyhudi, saat itu, sebagaimana biasanya, PWNU mengirim laporan hasil rukyatul hilal kepada PBNU dan Departemen Agama, namun laporan PWNU waktu itu tidak bisa diterima dengan alasan tertertu sebagaimana dalam disiplin ilmu falakiyah.

Sementara PWNU Jatim karena yakin rukyatul hilal yang berhasil dilaksanakan telah memenuhi persyaratan dan para perukyat sudah lebih dulu disumpah oleh hakim pengadilan agama setempat akhirnya berlebaran lebih awal.

Masyhudi meyakinkan sepenuhnya bahwa peristiwa tahun lalu itu murni kesalahpahaman. Tidak ada unsur politik di dalamnya. Apalagi merasa sederajat dengan PBNU. Sebab NU Jatim melakukan Ikhbar itu sudah rutin, sejak 15 tahun silam.

Untuk tahun ini, alumnus Pesantren Tebuireng itu sangat berharap agar tidak lagi ada perbedaan hari raya antara PWNU dan PBNU. Peristiwa tahun lalu adalah pelajaran yang sangat berharga dan harus terjadi hanya sekali karena menyangkut kepentingan banyak umat banyak.

Di sisi lain, ia sangat mengharapkan, agar para pengambil keputusan di PBNU berada di tempat dan bisa dihubungi pada saat-saat paling menentukan itu. “Terutama para ru’asak (pimpinan),” Masyhudi berharap.

Menurut Masyhudi, dalam menentukan keputusan hari raya yang berlaku di kalangan NU, tidak bisa hanya diserahkan pada falaki (ahli falak). Tapi juga harus didukung dengan fiqhi (hukum Islam) dan ijtima’i (kemasyarakatan). “Kalau mereka stand by di kantor, kan bisa cepat nantinya,” tuturnya.

Masyhudi berandai-andai, jika nantinya laporan dari PWNU tidak disambut dengan baik di PBNU, pihaknya tetap diam menunggu. Tidak melakukan Ikhbar sendiri. Namun kalau ada kiai NU yang merasa yakin dengan kesaksian melihat bulan, lalu berlebaran lebih dulu, pihaknya tidak melarang. Itu dinilai sebagai hak pribadi.(sbh)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Sunnah, PonPes, Amalan Pondok Pesantren Tegal

Amanat Rais Aam PBNU pada Pengurus Lembaga-lembaga

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin berharap kepada pengurus lembaga-lembaga di tingkat pusat untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebaik-baiknya. Baik tugas sebagai pimpinan, keumatan, serta kebangsaan.

Amanat Rais Aam PBNU pada Pengurus Lembaga-lembaga (Sumber Gambar : Nu Online)
Amanat Rais Aam PBNU pada Pengurus Lembaga-lembaga (Sumber Gambar : Nu Online)

Amanat Rais Aam PBNU pada Pengurus Lembaga-lembaga

“Kita berharap bahwa NU periode 2015 menjadi lebih baik daripada periode sebelumnya. Dan itu tanggung jawab kita,” katanya pada sambutan pelantikan pengurus lembaga-lembaga di PBNU yang berlangsung di halaman gedung PBNU, Jakarta, Rabu malam (16/9).

Menurut kiai trah Syekh Nawawi Al-Bantani tersebut, saat ini banyak tugas yang harus dipikul pengurus NU yang telah dirumuskan pada Muktamar 33.

Pondok Pesantren Tegal

Tugas itu, lanjut dia, adalah menjaga melindungi menjaga umat dari paham-paham yang cara berpikirnya menyimpang. “Kita menjaga umat kita dari cara berpikir radikal yang menimbulkam masalah baik nasional maupun internasional. Radikal dalam agama maupun radikal sekuler,” jelasnnya.

Kiai yang Ketua Umum MUI ini meminta untuk tetap menjalankan NU sesuai misi-misi yang telah ditentukan dengan cara-cara yang santun, tidak keras, tapi juga tidak halus.

Pondok Pesantren Tegal

Ia memperjelas lagi, menjalankan NU, pengurus-pengurus harus dengan kesukarelaan, kebersediaan, dan mengajak umat pun bukan dengan cara memaksa atau intimidasi.

Kemudian, harus menerima perbedaan dan pandangan-pandangan kalangan lain, tidak bersikap egois dan fanatik yang menganggap diri hanya kita yang benar.

“Saling mencintai dan menyayangi dengan orang berbeda agama, tidak saling membenci dan bermusuhan. Inilah prinsip Islam Nusantara,” tegasnya.

Kedua, kata dia, tugas pengurus NU adalah menjaga umat agar tidak? berpikir tekstual yang hanya mengandalkan nash. Kita mengakomodasi kreativitas berpikir sepanjang dalam koridor ajaran agama. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Doa, Kajian, Internasional Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 07 Maret 2014

‘Miqat Kebinekaan’ Lahir dari Jiwa Rindu Kebhinekaan dan Toleransi

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal



Direktur Penerbit Erlangga Raja Daud Manahara menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada penulis buku “Miqat Kebinekaan” karya Sekretaris Jenderal PBNU H. A. Helmy Faishal Zaini. Baginya, buku ini mudah dibaca karena menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.?

‘Miqat Kebinekaan’ Lahir dari Jiwa Rindu Kebhinekaan dan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
‘Miqat Kebinekaan’ Lahir dari Jiwa Rindu Kebhinekaan dan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

‘Miqat Kebinekaan’ Lahir dari Jiwa Rindu Kebhinekaan dan Toleransi

“Buku ini mudah dibaca. Setelah membaca buku ini, banggalah kita menjadi bangsa Indonesia,” kata Daud saat memberikan sambutan dalam acara Peluncuran Buku Miqat Kebinekaan: Sebuah Renungan Meramu Pancasila, Nasionalisme, dan NU sebagai Titik Pijak Perjuangan di Gedung PBNU, Jumat (9/6).

Menurut dia, buku ini lahir dari jiwa-jiwa yang rindu akan kebhinekaan dan toleransi. Ia menilai, buku ini sangat layak dibaca oleh siapa saja yang ingin tahu tentang peta permasalahan Indonesia yang beragama, terutama masalah ideologi negara dan Islam.

“Kalau dikasih nilai, sebelaslah nilainya dari skala sepuluh,” katanya. “Buku ini menjadi peta bagi kita bahwa persoalan Indonesia beragam,” lanjutnya.

Pondok Pesantren Tegal

Sementara itu, ? A Helmy Faishal Zaini menjelaskan, melalui buku ini ia berupaya untuk menyebarkan Islam yang ramah. Menurutnya, Islam seharusnya didakwahkan dengan cara-cara yang santun dan bijak, bukan dengan cacian, hinaan, teror, menebar kebencian, dan cara-cara lainnya yang tidak dibenarkan dalam Islam.

Ia menegaskan, NU melalui Muktamar Banjarmasin Tahun 1936 menegaskan bahwa Indonesia berbentuk negara bangsa (darussalam), bukan negara berdasarkan agama tertentu. Sepanjang negara ini memberikan perlindungan bagi setiap pemeluk agama untuk menjalankan ajaran agamanya masing-masing, maka negara ini adalah negara bersama dan setiap pemeluk agama harus mempertahankan keutuhannya.

“Hendaknya perbedaan itu menjadi kekuatan kita,” tukasnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Nahdlatul Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 23 Februari 2014

Teguhkan Tradisi NU, PMII Diba’an di Masjid Agung Jombang

Jombang, Pondok Pesantren Tegal. Untuk menjaga tradisi NU, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jombang menggelar shalawat dhiba’ di Masjid Agung Baitul Mu’minin Jombang, Ahad (28/9).

Masjid yang terletak di depan alun-alun kota santri ini menjadi pilihan karena dinilai sebagai pusat melakukan syi’ar keagamaan. Berada di sentral perkotaan dan berhadapan dengan pendapa bupati.

Teguhkan Tradisi NU, PMII Diba’an di Masjid Agung Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Teguhkan Tradisi NU, PMII Diba’an di Masjid Agung Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Teguhkan Tradisi NU, PMII Diba’an di Masjid Agung Jombang

Kegiatan ini akan dilaksanakan rutin setiap setengah bulan sekali berdasarkan kerja sama PMII dengan pengurus masjid. “Kami sudah mendapat kepercayaan untuk mengisi kegiatan di sini,” ungkap Mahmudi Ketua PMII Jombang.

Pondok Pesantren Tegal

Tentu, kata dia, hal ini menjadi kebanggaan bagi PMII. Selain kepercayaan, ini bisa menjadi ruang bagi kader untuk mengimplementasikan nilai-nilai yang sudah dipelajari. “Disamping belajar dan mengaktualiasasikan pengetahuan di kampus, PMII tidak akan melupakan masjid sebagai basis berdakwah,” ujar ketua yang akrab disapa Modiy ini.

Pondok Pesantren Tegal

Sementara menurut Rizki Puji Astutik koordinator kegiatan, sebagai generasi yang mempertahankan nilai-nilai Aswaja, selayaknyalah meneguhkan dan menjaga tradisi yang ada di NU. “Kami berharap kader PMII selalu mengingat Rasulullah dengan membiasakan bershalawat seperti ini, sehingga juga mau dan mampu meneladani beliau,” jelas sekretaris bidang keputrian ini.

Antusiasme peserta cukup tinggi mengikuti kegiatan ini. Bahkan dalam permulaan saja, sudah hampir seratus mahasiswa yang hadir.  “Sebenarnya masih banyak yang mau mengikuti kegiatan ini, tapi tidak dapat izin dari pondoknya,” pungkas Rizki. “Selain itu, banyak yang konfirmasi bertepatan dengan jadwal kuliah,” lanjutnya.

Kegiatan ini diikuti anggota dan kader PMII baik putra maupun putri dari enam komisariat yang ada di kampus se-Kabupaten Jombang. Mulai dari Komisariat Darul Ulum-Undar, Hasyim Asy’ari-Unhasy, Wahab Hasbullah-Unwaha, Umar Tamim-Unipdu, Ya’qub Husein-STIT-UW dan Pattimura-STKIP-STIE PGRI Jombang. (Romza/Abdullah Alawi)

    

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Olahraga Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 12 Februari 2014

Pemkab Jombang Cairkan Anggaran 4,3 Miliar untuk Guru Ngaji

Jombang,Pondok Pesantren Tegal. Pemerintah kabupaten Jombang mencairkan anggaran sebesar Rp 4,3 miliar untuk guru ngaji. Anggaran itu diperuntukkan bagi 8610 guru yang mengajar di 1722 Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) yang tersebar di 21 kecamatan.

Pemkab Jombang Cairkan Anggaran 4,3 Miliar untuk Guru Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Jombang Cairkan Anggaran 4,3 Miliar untuk Guru Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Jombang Cairkan Anggaran 4,3 Miliar untuk Guru Ngaji

Kabag Kesra pemkab Jombang, Muhamad Bisri mengatakan, setiap tahun pemerintah mengalokasikan anggaran untuk guru TPQ. Untuk tahun ini dikatakannya, sebanyak 1.722 lembaga yang mendapatkan bantuan.

"Setiap lembaga mendapatkan alokasi sebesar Rp 2.500.000 untuk 5 guru ngaji. Jadi masing masing guru mendapatkan bantuan sebesar Rp 500 ribu setiap tahunnya," bebernya ketika ditemui di kantornya, Kamis( 4/12).

Pondok Pesantren Tegal

Pencairan bantuan untuk guru TPQ ini, dikatakan Bisri, langsung dikirim ke rekening masing masing lembaga. "Dari total TPQ yang terdaftar sebanyak 1.722 lembaga, sampai hari ini yang belum tanda tangan untuk pencairan tinggal 37 lembaga," tandasnya mengatakan.

Pondok Pesantren Tegal

Di samping pemberian intensif bagi guru TPQ, pemkab juga mengucurkan anggaran untuk para penghafal Alquran atau hafidz. Total anggaran untuk hufadz ini sebesar Rp 967 juta. "Hufadz yang mendapatkan sebanyak 320 orang. Setiap desa satu orang, ditambah koordinator sebanyak 14 orang," imbuhnya.

Diakuinya, pemerintah belum bisa memberikan keseluruhan penghafal Al Quran, karena jumlahnya yang cukup banyak.  Dan untuk mendapatkan bantuan itu, para hufadz diwajibkan mengikuti seleksi karena nantinya mereka mendapat tugas membantu imam masjid dan musholla di masing masing desa.

"Masing masing hufadz mendapatkan semacam honor sebesar Rp 3 juta setiap tahun sedangkan coordinator yang membawahi dua kecamatan mendapatkan Rp 3,5 juta," bebernya.

Masih menurut Bisri, tugas hafidz di masing-masing desa diantaranya, membina guru TPQ dan imam masjid dan musala serta ikut meramaikan masjid dengan acara semaan Al Quran. "Semoga dana insentif itu semakin menambah semangat para hafidz dalam membumikan Al Quran di masing-masing desa, dan meramaikan kegiatan di masjid dan musholla," pungkasnya. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Doa Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 11 Januari 2014

Menyantap Ikan Bakar Pemakan Tinja

Ikan dalam keadaan hidup-hidup maupun bangkainya, dihukumkan halal. Bagi yang hobi, ikan bisa diolah dengan pelbagai macam cara dan aneka bumbu. Ikan bisa dibakar, digoreng, dipepes, atau diolah dengan lain cara. Status hukumnya bisa sedikit bergeser bagi ikan pemakan kotoran di sebuah empang.

Namun demikian Rasulullah SAW seperti dalam riwayat Turmudzi mengajarkan umatnya untuk menunda selama beberapa hari jika mau mengonsumsi hewan pemakan kotoran. Dari sana ulama menetapkan kemakruhan memakan hewan demikian.

Menyantap Ikan Bakar Pemakan Tinja (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyantap Ikan Bakar Pemakan Tinja (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyantap Ikan Bakar Pemakan Tinja

Syekh Abu Zakaria dalam Syarah Tahrir mengatakan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal

Makruh hukumnya mengonsumsi hewan pemakan kotoran baik itu hewan ternak, ayam, atau hewan selain keduanya. Maksudnya, kemakruhan itu meliputi anggota tubuh hewan pemakan kotoran itu seperti susu, telur, daging, bulu, atau mengendarainya tanpa alas.

Ungkapan saya “anggota tubuh” lebih umum dibanding ungkapan “dagingnya”. Makruh ini dikarenakan ada perubahan pada dagingnya yang mencakup rasa, bau, dan warnanya. Menyantap daging hewan seperti ini akan tetap makruh hingga hewan ini dibiarkan hidup beberapa waktu agar ia memakan barang-barang yang suci. Tujuannya tidak lain agar tubuhnya kembali bersih dengan sendirinya tanpa bantuan sesuatu (seperti mencucinya hingga bersih).

Sementara Syekh Syarqawi dalam Hasyiyah-nya menyebutkan.

? ? ? ? ? ? ? ?

Yang dimaksud dengan “hewan pemakan kotoran” di sini ialah segala hewan yang memakan najis mutlaq (najis apapun itu) seperti tinja.

Uraian ini cukup terang menjelaskan kedudukan ikan pemakan tinja di sebuah empang, sapi yang berkeliaran mencari makan di tempat pembuangan sampah, ayam yang mengais-kais gundukan sampah, atau hewan lain yang memakan barang-barang kotor. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Fragmen, Bahtsul Masail, Ahlussunnah Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 09 Januari 2014

Ketika Hukum Syariat Islam Bicara Cinta Tanah Air

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Pondok Pesantren Tegal yang saya hormati, beberapa waktu ada seorang teman lama datang ke rumah. Kami mengobrol ke sana-ke sini. Di tengah obrolan teman saya membicarakan soal Indonesia sebagai tanah air kita bersama.

Ia menyatakan bahwa cinta tanah air Indonesia tidak disyariatkan. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa ‘hubbul wathan minal iman’ (cinta tanah air sebagian dari iman) bukanlah hadits sehingga mencintai Indonesia sebagai tanah air itu bukan sesuatu yang masyru` atau disyariatkan karena tidak ada dalilnya.

Ketika Hukum Syariat Islam Bicara Cinta Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Hukum Syariat Islam Bicara Cinta Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Hukum Syariat Islam Bicara Cinta Tanah Air

Yang ingin saya tanyakan adalah apakah mencintai Indonesia yang merupakan tanah air kita dan dihuni oleh mayoritas umat Islam adalah memang tidak disyariatkan? Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Agung/Brebes)

Pondok Pesantren Tegal

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Tanah air sebagaimana yang kita ketahui bersama adalah negeri tempat kelahiran. Al-Jurjani mendefiniskan hal ini dengan istilah al-wathan al-ashli yaitu tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya.

Pondok Pesantren Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Al-wathan al-ashli adalah tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya,” (Lihat Ali bin Muhammad bin Ali Al-Jurjani, At-Ta`rifat, Beirut, Darul Kitab Al-‘Arabi, cet ke-1, 1405 H, halaman 327).

Dari definisi ini maka dapat dipahami bahwa tanah air bukan sekadar tempat kelahiran tetapi juga termasuk di dalamnya adalah tempat di mana kita menetap. Dapat dipahami pula bahwa mencintai tanah air adalah berarti mencintai tanah kelahiran dan tempat di mana kita tinggal.

Pada dasarnya setiap manusia itu memiliki kecintaan kepada tanah airnya sehingga ia merasa nyaman menetap di dalamnya, selalu merindukannya ketika jauh darinya, mempertahankannya ketika diserang dan akan marah ketika tanah airnya dicela. Dengan demikian mencintai tanah air adalah sudah menjadi tabiat dasar manusia.

Rasulullah SAW sendiri pernah mengekspresikan kecintaanya kepada Mekah sebagai tempat kelahirannya. Hal ini bisa kita lihat dalam penuturan Ibnu Abbas RA yang diriwayatkan dari Ibnu Hibban berikut ini:

? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Alangkah baiknya engkau sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu,” (HR Ibnu Hibban).

Di samping Mekah, Madinah adalah juga merupakan tanah air Rasulullah SAW. Di situlah beliau menetap serta mengembangkan dakwah Islamnya setelah terusir dari Mekah. Di Madinah Rasulullah SAW berhasil dengan baik membentuk komunitas Madinah dengan ditandai lahirnya watsiqah madinah atau yang biasa disebut oleh kita dengan nama Piagam Madinah.

Kecintaan Rasulullah SAW terhadap Madinah juga tak terelakkan. Karenanya, ketika pulang dari bepergian, Beliau memandangi dinding Madinah kemudian memacu kendarannya dengan cepat. Hal ini dilakukan karena kecintaannya kepada Madinah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dari Anas RA bahwa Nabi SAW apabila kembali dari berpergian, beliau melihat dinding kota Madinah, maka lantas mempercepat ontanya. Jika di atas atas kendaraan lain (seperti bagal atau kuda, pen) maka beliau menggerak-gerakannya karena kecintaanya kepada Madinah,” (HR Bukhari).

Apa yang dilakukan Rasulullah SAW ketika kembali dari bepergian, yaitu memandangi dinding Madinah dan memacu kendaraannya agar cepat sampai di Madinah sebagaimana dituturkan dalam riwayat Anas RA di atas, menurut keterangan dalam kitab Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani menunjukkan atas keutamaan Madinah disyariatkannya cinta tanah air.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Hadits tersebut menunjukan keutamaan Madinah dan disyariatkannya mencitai tanah air serta merindukannya” (Lihat, Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari, Beirut, Darul Ma’rifah, 1379 H, juz III, halaman 621).

Dari penjelasan singkat ini maka setidaknya kita dapat menarik kesimpulan bahwa mencintai tanah air merupakan tabiat dasar manusia, di samping itu juga dianjurkan oleh syara` (agama) sebagaimana penjelasan dalam kitab karya Ibnu Hajar Al-Asqalani yang dikemukakan di atas.

Kesimpulannya adalah bahwa mencintai tanah air bukan hanya karena tabiat, tetapi juga lahir dari bentuk dari keimanan kita. Karenanya, jika kita mendaku diri sebagai orang yang beriman, maka mencintai Indonesia sebagai tanah air yang jelas-jelas penduduknya mayoritas Muslim merupakan keniscayaan. Inilah makna penting pernyataan hubbul wathan minal iman (Cinta tanah air sebagian dari iman).

Konsekuensi, jika ada upaya dari pihak-pihak tertentu yang berupaya merongrong keutuhan NKRI, maka kita wajib untuk menentangnya sebagai bentuk keimanan kita. Tentunya dalam hal ini harus dengan cara-cara yang dibenarkan menurut aturan yang ada karena kita hidup dalam sebuah negara yang terikat dengan aturan yang dibuat oleh negara.

Saran kami, cintailah negeri kita dengan terus merawat dan menjaganya dari setiap upaya yang dapat menghancurkannya.

Demikian jawaban kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.


(Mahbub Maafi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Syariah, Pemurnian Aqidah, Pendidikan Pondok Pesantren Tegal