Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Maret 2018

Aspegnu Jalin Kerjasama dengan Garuda Food

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Asosiasi Petani Garam Nusantara (Aspegnu), sebuah asosiasi petani garam Nahdlatul Ulama, akan menandatangani kesepakatan bersama (MoU) dengan PT Garuda Food. Kesepakatan tersebut akan berlangsung di Pati, Jawa Tengah, pada 24 November nanti.

Aspegnu Jalin Kerjasama dengan Garuda Food (Sumber Gambar : Nu Online)
Aspegnu Jalin Kerjasama dengan Garuda Food (Sumber Gambar : Nu Online)

Aspegnu Jalin Kerjasama dengan Garuda Food

Hal tersebut mengemuka pada konferensi pers yang digelar Komite Garam PBNU di gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (22/11). Komite Garam adalah semacam syuriyah dari Aspegnu.

Ketua Komite Garam PBNU Prof. Rokhmin Dakhuri mengatakan, Aspegnu adalah tindak lanjut dari Kongres Garam Rakyat yang digelar di Madura, awal Juli 2012 lalu. Tujuannya adalah mensejahterakan petani garam.

Pondok Pesantren Tegal

Pada kesempatan itu, Dian Astriana, perwakilan dari Garuda Food, mengatakan pihaknya membutuhkan 30 ton garam per hari dan 400 ton per tahun. Kebutuhan itu dipenuhi berbagai suplayer yang telah menjadi langganan Garuda Food.

“Pihak kami siap untuk menerima suplai garam dari petani garam yang tergabung di Aspegnu karena sudah lama bekerjasama dengan NU,” katanya.

Pondok Pesantren Tegal

Pada pertemuan itu, belum menyebutkan harga, dan jumlah garam yang akan diterima PT Garuda Food. Hal itu akan akan ditentukan pada penandatangan MoU nanti.

Konferensi pers yang dipandu anggota Komite Garam PBNU, Ahmad Solechan, tersebut dihadiri belasan wartawan beragam media. Hadir pula pada salah seorang Ketua PBNU KH Mochammad Maksum Machfoedz dan Sekretaris PP Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama, Mustolihin Majid.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nasional, Lomba Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 10 Maret 2018

Sebar Wawasan Keindonesiaan, IPNU Tasikmalaya Terbitkan Buletin Jumat

Tasikmalaya, Pondok Pesantren Tegal - Pimpinan Cabang  (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Tasikmlaya menerbitkan Buletin Jumat  Santri Nusantara,  Jumat (22/01).

Menurut Pimpinan Redaksi Buletin Santri Nusantara Husni Mubarok, buletin tersebut dibuat untuk mengembangkan kreativitas dan wawasan pelajar NU dan masyarakat umum. “Buletin ini juga bertujuan untuk lebih membumikan dan menjembatani  terciptanya pelajar NU dan masyarakat  yang berwawasan keislaman dan keindonesiaan,” ujarnya.

Sebar Wawasan Keindonesiaan, IPNU Tasikmalaya Terbitkan Buletin Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebar Wawasan Keindonesiaan, IPNU Tasikmalaya Terbitkan Buletin Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebar Wawasan Keindonesiaan, IPNU Tasikmalaya Terbitkan Buletin Jumat

Wakil Ketua IPNU Kabupaten Tasikmalaya ini menambahkan, upaya ini juga sebagai bentuk perlawanan atas beredarnya buletin yang diterbitkan suatu ormas tertentu yang selama ini menentang NKRI, Pancasila, dan UUD 1945.

Pondok Pesantren Tegal

“Materi dari buletin ini bertema tentang keislaman dan keindonesiaan dan kami menerima tulisan dari kader IPNU dan masyarakat secara umum dengan cara dikirim ke email pcipnukab.tasikmalaya@gmail.com,” imbuhnya.

Untuk distribusi, buletin ini akan disebarkan ke Pimpinan Anak Cabang dan Pimpinan Komisariat  IPNU di Kabupaten Tasikmalaya. Selain itu juga akan disebar ke masjid- masjid di Kabupaten Tasikmalaya terutama di Masjid Agung di Kawasan Kompleks Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya yang selama ini menjadi tempat beredarnya buletin yang kerap kampanye anti-NKRI, Pancasila dan UUD 1945.

Pondok Pesantren Tegal

“Buletin ini juga akan terus terbit setiap hari Jumat dan menunggu tulisan dari rekan-rekan semua,” pungkasnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Sejarah, Lomba, Ulama Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

IPNU-IPPNU Rekrut Ratusan Siswa Baru SMK Maarif NU 1 Cilongok

Banyumas, Pondok Pesantren Tegal - Sebanyak 363 kader IPNU-IPPNU mengikuti kaderisasi lanjutan, Latihan Kader Muda (Lakmud) selama dua hari, Sabtu-Ahad (30-31/7). Mereka adalah siswa dan siswi baru SMK Ma’arif NU 1 Cilongok, Kabupaten Banyumas. Dibantu pimpinan komisariat sekolah, Pimpinan Anak Cabang? IPNU-IPPNU Cilongok membekali kader baru dengan sejumlah materi lanjutan.

Perekrutan ini menunjukkan keaktifan gerakan kaderisasi IPNU-IPPNU di Kecamatan Cilongok, bagian barat Kabupaten Banyumas.

IPNU-IPPNU Rekrut Ratusan Siswa Baru SMK Maarif NU 1 Cilongok (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Rekrut Ratusan Siswa Baru SMK Maarif NU 1 Cilongok (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Rekrut Ratusan Siswa Baru SMK Maarif NU 1 Cilongok

Pada kesempatan ini pimpinan anak cabang pelajar NU setempat meluncurkan buku panduan Lakmud yang memuat amaliyah NU serta materi internal IPNU-IPPNU.

Pondok Pesantren Tegal

Ketua IPNU Cilongok Ahmad Syarif Hidayat mengatakan, “Buku panduan ini merupakan pedoman kita dalam kaderisasi sehingga semua materi yang kita berikan bisa menyatukan paham walau pematerinya berbeda-beda.”

Sementara Ketua IPPNU Cilongok menambahkan, IPNU-IPPNU merupakan saluran harapan untuk mengurangi kenakalan-kenakalan remaja di mana sekarang hampir semua media memberitakan tentang pelecehan seksual.

Pondok Pesantren Tegal

“Karenanya kami imbuhi materi Pengenalan Reproduksi Remaja, dengan harapan peserta paham akan bahaya perilaku reproduksi yang menyimpang,” ujar Ketua IPPNU Cilongok. (Khafidz Syabani/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Lomba Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

PBNU Berikan Tanda Jasa kepada 37 Pahlawan NU

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan tanda jasa kepada 37 tokoh yang dianggap berkontribusi besar dalam perjuangan NU pada malam puncak peringatahn hari lahir (Harlah) ke-88 NU di Jakarta, Jumat (31/1).

Prosesi penganugerahan dilakukan antara PBNU dan perwakilan keluarga sang tokoh. Ketiga puluh tujuh pahlawan NU itu terdiri dari berbagai latar belakang, mulai dari para pendiri, komandan perang, hingga budayawan.

PBNU Berikan Tanda Jasa kepada 37 Pahlawan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Berikan Tanda Jasa kepada 37 Pahlawan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Berikan Tanda Jasa kepada 37 Pahlawan NU

Di antara mereka adalah Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, KH Bisri Syansuri, KH Abdullah Faqih Maskumambang, KH Idam Kholid, Asrul Sani, Djamaludin Malik, KH Masum Lasem, KH Zainul Arifin, dan para pejuang NU lainnya. Plakat kehormatan diserahkan secara simbolis kepada 10 perwakilan keluarga tokoh yang hadir pada acara itu.

Pondok Pesantren Tegal

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, kiprah para pahlawan yang menerima tanda jasa ini sangat besar tak hanya untuk NU tapi juga untuk bangsa Indonesia secara umum. Mereka berjuang total demi kemaslahatan bersama.

Pondok Pesantren Tegal

Anita Hayatun Nufus, putri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang juga mewakili keluarga untuk menerima pengharagaan tersebut, memberikan apresiasi tinggi kepada PBNU. “Ini bukti bahwa NU enggak pernah lupa akan asal-usulnya. NU sangat menghargai orang-orang yang berjuang di organisasi,” ujarnya.

Pada peringatan Harlah ke-88 bertema “Setia Menjaga NKRI” ini, Kiai Said berharap, NU bisa istiqamah dalam menjaga NKRI untuk tetap utuh. “Tidak hanya utuh secara geografis tapi juga ekonomi, politik, ideologi, budaya, dan lainnya,” katanya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Lomba, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Tegal

PTIQ Helat Diskusi Islam Nusantara ala Gus Dur

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta menghelat diskusi ilmiah bertema “Islam Nusantara perspektif KH Abdurrahman Wahid”, Senin (6/4) pagi. Diskusi tersebut dihelat bebarengan dengan pemilihan ketua Forum Kajian Ushuluddin (Fokus) 2015.

Acara yang digelar di lantai 4 gedung Pascasarjana PTIQ ini diinisiasi oleh Fakultas Ushuluddin. Hadir selaku narasumber dosen Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Syaiful Arif dan dosen Tafsir dan Ulumul Quran yang juga Dekan Fakultas Ushuluddin PTIQ Dr A Khusnul Hakim.

PTIQ Helat Diskusi Islam Nusantara ala Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
PTIQ Helat Diskusi Islam Nusantara ala Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

PTIQ Helat Diskusi Islam Nusantara ala Gus Dur

Dalam sambutannya selaku dekan, Khusnul mengatakan, persoalan tafsir selalu berkembang sesuai zaman dan tempat. Penafsiran untuk konteks Indonesia tentu berbeda pendekatannya dengan di mancanegara, termasuk Timur Tengah khususnya Arab Saudi di mana Islam dilahirkan.

Pondok Pesantren Tegal

"Penafsiran Quran di Indonesia selama ini melulu menggunakan pendekatan Arab atau Timur Tengah. Mestinya, kita juga tak melupakan pendekatan ala Nusantara agar lebih kontekstual,” kata khusnul.

Menurut khusnul, mahasiswa PTIQ memiliki tugas penting terkait dua realitas pendekatan Al-Quran: tekstual dan kontekstual. Untuk tugas menjaga realitas teks dari Al-Quran, bisa dilakukan melalui hapalan. Selain itu, ada juga realitas konteks. Harus sesuai dengan kaidah shalih likulli zaman wa makan.

Pondok Pesantren Tegal

“Nah, ketika masuk term ‘di mana saja’, ini jadi tidak pas jika pendekatan kita Timur Tengah atau Arab minded, sementara kita tinggal di Indonesia. Oleh karena itu, pemikiran Gus Dur yang akan dipaparkan saudara Syaiful Arif ini kita harapkan bisa membuka wacana Tafsir baru untuk merespons ayat tersebut,” tegasnya.

Senada dengan Khusnul Hakim, Syaiful Arif dalam presentasinya menyatakan sangat senang bisa bersilaturrahim sembari berdiskusi dengan sivitas akademika PTIQ Jakarta. Sebab, dirinya sejak lama telah bermimpi bahwa kebangkitan peradaban Islam lahir dari PTIQ.

“Sejak dahulu saya memimpikan kebangkitan peradaban Islam itu di sini (PTIQ-red), bukan di tempat lain. Jadi, teman-teman ketika datang dari kampung ke kampus PTIQ di Jalan Batan Pasar Jumat ini mau nggak mau mendaulat diri sebagai pengusung kebangkitan Islam Indonesia,” ujar Arif mengawali diskusi yang langsung disambut aplaus panjang hadirin.

Arif beralasan, banyak sekali kesalahpahaman terhadap Islam, salah satunya tak paham Ulumul Qur’an. Kalau sekedar mengetahui ayat lalu ditafsirkan semaunya sendiri, itu berarti sudah tidak memakai ilmu lagi. Hal terpenting, bagi dia, PTIQ merupakan mesin penggali dan pembangkit peradaban Islam Indonesia.

“Nah, PTIQ di sini sebagai mesin penggali sekaligus pembangkit peradaban Islam Indonesia yang kemudian kita sebut sebagai Islam Nusantara itu, akarnya ya di PTIQ, yang merupakan institusionalisasi modern dalam rangka tradisi akademik dari komunitas sekaligus lembaga pendidikan pesantren,” urai pria lulusan Pesantren Ciganjur Jakarta ini.

Ketika kita membicarakan Islam Nusantara perspektif Gus Dur, lanjut Arif, maka akan ditemukan sebuah pandangan bahwa pesantrenlah yang menjadi bentuk paripurna dari Islam Indonesia.?

“Akan tetapi, pesantren bukan hanya sebatas lembaga pendidikan semata, karena sekarang ini banyak pesantren yang tidak memiliki cukup persyaratan kultural, ideologis, dan metodologis dari pesantren yang sesungguhnya,” tandasnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Lomba, Tokoh, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Menpora Segera Realisasikan Atlet Peraih Emas Jadi PNS

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Menteri Pendidikan dan Olahraga Imam Nahrawi segera merealisasikan janji kepada para atlet Indonesia yang meraih medali emas di SEA Games 2017 Kuala Lumpur 2017 untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pernyataan tersebut disampaikan setelah Menpora menemui Menpan-RB, Asnan Abnur di Kantor Kemenpan-RB, Selasa (5/9).?

Menpora Segera Realisasikan Atlet Peraih Emas Jadi PNS (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora Segera Realisasikan Atlet Peraih Emas Jadi PNS (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora Segera Realisasikan Atlet Peraih Emas Jadi PNS

Pertemuan itu terkait koordinasi tindak lanjut usulan pengangkatan menjadi PNS yang saat ini berubah nama menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) bagi para atlet peraih medali emas SEA Games 2017.

"Terima kasih tentunya kepada Menpan RB yang telah memberikan terobosan bagi masa depan atlet. Hal ini sebagai bentuk kesungguhan pemerintah terhadap masa depan atlet. Tentunya atlet tersebut harus memenuhi kualifikasi dan peraturan yang sudah baku di Kemenpan RB, baik dari sisi pendidikan, umur dan sebagainya,” kata Imam Nahrawi usai melakukan pertemuan tertutup dengan Menpan RB Asnan Abnur, Selasa (5/9) siang.

Lebuh lanjut, Imam yang didampingi Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Raden Isnanta dan Asisten Deputi Standardisasi dan Infrastruktur Olahraga Muhamad Hanan Rahmadi menambahkan, kemudahan untuk menjadi PNS merupakan salah satu bonus yang sudah disiapkan.?

"Bonus untuk SEA Games 2017 tidak hanya berupa uang tunai. Tentunya ini merupakan terobosan baru yang disiapkan pemerintah kepada para atlet. Berapa banyaknya atlet yang akan di promosikan menjadi PNS tentu akan diverifikasi lebih lanjut sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” pungkas Imam.

Pondok Pesantren Tegal

Sementara itu, Menpan-RB Asnan Abnur mengakui pihaknya bersama Kemenpora tengah merancang ? terobosan untuk ? para atlet yang berprestasi khususnya di SEA Games 2017.?

“Ini merupakan terobosan khusus. Ini juga merupakan bentuk apresiasi kepada para atlet yang sudah berprestasi terutama ? di level internasional. ? Dengan demikian, kalau mereka sudah tidak jadi atlet maka mereka bisa bekerja sesuai dengan keahliannya,” tandas Asnan. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Hikmah, Lomba Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

NU harus Mampu Cegah Intervensi Politik

Blitar, Pondok Pesantren Tegal. Pimpinan Cabang NU Kabupaten Blitar harus mampu mencegah intervensi kepentingan politik praktis yang hendak membawa NU secara institusi untuk kepentingan partai tertentu, kepentingan perorangan dalam Pileg, Pilpres, Pilgub, Pilbup yang berisiko memecah belah ulama dan warga nahdliyin.

NU harus Mampu Cegah Intervensi Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
NU harus Mampu Cegah Intervensi Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

NU harus Mampu Cegah Intervensi Politik

Butir diatas merupakan kesepakatan rekomendasi dan tausiyah peserta Konfercab PCNU Kabupaten Blitar di Pesantren Mambaul Hikam Matenan Udanawu. 

“Selain butir diatas, Pengurus NU terpilih agar mempertahankan secara intitusi NU tetap netral dalam semua kepentingan politik aliran, memilih untuk menjadi pelindung dan pengayom bagi semua golongan sesuai dengan khittah NU tahun 1926 berdasarkan Qonun Asasi KH Hasyim Asy’ari dalam upaya menjaga dan melestarikan amaliyah nahdliyah ala ahlusunnah wal jama’ah,” ujar Wijianto, sekretaris panitia Konfercab NU, kemarin.

Pondok Pesantren Tegal

Selain itu, Konfercab merekomendasikan agar NU ke depan tetap menjadi patner kritis pemerintah dalam pengertian mendukung kebijaksanaan pemerintah yang baik, maslahat dan bernilai ibadah. Namun juga berani mengingatkan kebijakan pemerintah yang munkar, maksiat, korupsi, kolusi dan nepotisme. 

“Artinya pengurus NU ke depan meski seia sekata dalam pembangunan kebaikan. Namun juga tetap kritis kepada pemerintah. Khususnya terhadap kebijakan yang menyimpang dan merugikan warga masyarakat,” ungkap Wijianto

Pondok Pesantren Tegal

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Imam Kusnin

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Lomba Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Muslimat NU Ajak Perempuan Tampil Cantik dengan Produk Halal

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Banyak wanita kerap mengartikan kata cantik dengan pengunaan kosmetik yang tebal dan mahal. Apalagi, saat ini ada banyak sekali produk kecantikan yang membanjiri pasar dengan harga yang beragam. Anggapan tersebut tentu tidak sepenuhnya benar.

Terkait itu, PP Muslimat  NU mengajak masyarakat tampil cantik dan halal dalam sebuah acara yang  digelar di Gedung Aneka Bhakti Kementerian sosial RI, Jumat (27/11/2015). Ormas perempuan terbesar itu menggandeng Dharma Wanita Kemeterian Sosial untuk menyosialisasikan kosmetik yang mengedepankan prinsip kosmetik halal.

Muslimat NU Ajak Perempuan Tampil Cantik dengan Produk Halal (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Ajak Perempuan Tampil Cantik dengan Produk Halal (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Ajak Perempuan Tampil Cantik dengan Produk Halal

Fatwa MUI Nomor 30 Tahun 2011 Tentang penggunaan plasenta hewan halal untuk bahan kosmetika dan obat luar menyatakan, bahwa penggunaan kosmetik untuk kepentingan berhias hukumnya boleh dengan syarat bahan yang digunakan halal dan suci.

Pondok Pesantren Tegal

Ketua Periodik PP Muslimat NU, Dr Mursyidah Thohir yang juga anggota komisi fatwa MUI mengatakan, bahwa ada titik kritis yang akan mengganggu jika kita menggunakan kosmetik yang tidak halal, itu dikarenakan kosmetik tersebut menggunakan plasenta hewan babi, alkohol bahkan bangkai binatang.

Mursyidah juga mendukung penuh kegiatan sosisalisasi seperti ini agar sampai pada akar rumput karena tidak banyak yang tahu bahwa ada produk halal dan juga produksi Indonesia yang bisa digunakan dengan aman dan halal tentunya. "Produk kosmetik yang ramah wudlu harus bisa meresap air minimal 30 persen, dan produk wardah bisa menyerap air sampai 50,” imbuhnya

Pondok Pesantren Tegal

Sementara itu Ketua Umum Muslimat NU yang juga Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengajak ibu-ibu tampil cantik dan halal. "Tetaplah jadi diri kita, syukuri nikmat yang dianugerahkan kita, dengan cara merawat anugerah tersebut dengan cara yang sehat, halal dan asli," katanya.

"Menggunakan kosmetik yang halal sama saja dengan kita menjaga anugerah Allah, jadilah kita indah di mata orang, indah ragawi, dan indah jasmani," imbuhnya. (Winnie Diova/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Lomba Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Delegasi 350 Pesantren Akan Bahas Masalah Aktual Agama di Pesantren Nurul Qadim

Probolinggo, Pondok Pesantren Tegal - Pesantren Nurul Qadim Kabupaten Probolinggo tengah mempersiapkan diri sebagai tuan rumah bahtsul masail yang diikuti di Pesantren se-Jawa-Madura pada Rabu 23 Maret 2016. Pihak pesantren telah menyebar undangan kepada pengurus 350 pesantren yang ada di Jawa dan Madura.

Untuk kedua kalinya Pesantren Nurul Qadim menyelenggarakan Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) yang beralamat di Jalan KH Hasyim Minu, Desa Kalikajar Kulon, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.

Delegasi 350 Pesantren Akan Bahas Masalah Aktual Agama di Pesantren Nurul Qadim (Sumber Gambar : Nu Online)
Delegasi 350 Pesantren Akan Bahas Masalah Aktual Agama di Pesantren Nurul Qadim (Sumber Gambar : Nu Online)

Delegasi 350 Pesantren Akan Bahas Masalah Aktual Agama di Pesantren Nurul Qadim

Mereka yang diundang antara lain Pesantren Lirboyo, Pesantren Sidogiri, Pesantren Langitan, Pesantren Pacul Gowang, Pesantren Al-Anwar,  Pesantren Buntet Cirebon, Pesantren Sukorejo-Situbondo, Pesantren Bata-Bata Pamekasan, Pesantren Kaliwungu, Pesantren Ploso, Pesantren Genggong, Pesantren Darussalam, Pesantren Nurul Kholil Bangkalan, dan lain-lain dari berbagai pesantren salaf se-Jawa Madura.

Sebab Dinamika Perubahan zaman yang semakin Dinamis, dan diskursus perkembangan teknologi serta peradaban yang terkadang bersebrangan dengan nilai-nilai agama membuat pesantren salaf beserta para ulama dituntut untuk memberikan solusi actual serta berimbang dengan kondisi masyarakat indonesia.

Pondok Pesantren Tegal

Beberapa tema yang akan dibahas kali ini antara lain hukum melindungi kaum (Lesbian Homosexual, Biseksual, Transjender (LGBT), polemik Islam Nusantara, transplantasi gelap, polemik seputar perlunya sertifikasi jilbab halal MUI, dan hukum memutus silaturahmi di media sosial.

Pondok Pesantren Tegal

Menurut Ketua Yayasan Pesantren Nurul Qadim KH Abdul Hadi Noer, "Kegiatan ini penting untuk membangkitkan semangat para penerus ulama untuk menghidupkan syiar salaf. Adanya FMPP ini setidaknya memunculkan solusi bagi problematika umat.

"FMPP kali ini berbeda dengan FMPP perdana yang dilaksanakan sebelumnya di Pesantren Nurul Qadim. Kenapa? Karena pada kali ini ditutup oleh Rektor Universitas Al-Ahgaf Hadlramaut pada malam Jumatnya," kata Kiai Hadi Noer. (Moh Nasirul Haq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Internasional, Lomba Pondok Pesantren Tegal

Senin, 08 Januari 2018

Kader IPNU-IPPNU Harus Memberikan Warna di Lampung

Gunung Sugih, Pondok Pesantren Tegal. Keluarga besar Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di kabupaten Lampung Tengah telah menggelar agenda Latihan Kader Muda (Lakmud) sekabupaten Lampung Tengah, sekaligus pelantikan Pimpinan Cabang IPNU Lampung Tengah masa khidmat 2014-2016.

Kegiatan bertempat di komplek pondok pesantren Darussa’adah Seputih Jaya Gunung Sugih Lampung Tengah, Sabtu-Senin, 20-22 Desember 2014 lalu bertepatan 27-29 Shafar 1436 H.

Kader IPNU-IPPNU  Harus Memberikan Warna di Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader IPNU-IPPNU Harus Memberikan Warna di Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader IPNU-IPPNU Harus Memberikan Warna di Lampung

Ketua Panitia Pelaksana Lakmud Irham Maulana Irsyad kepada Pondok Pesantren Tegal mengatakan, kabupaten Lampung Tengah merupakan salah satu daerah yang strategis di provinsi Lampung, diantara 14 kabupaten lainnya lainnya. Di kabupaten Lampung Tengah ini banyak pondok pesantren, sekolah-sekolah Ma’arif mulai dari TK, MI, MTs hingga MA dam SMK yang berciri khas Aswaja.

Pondok Pesantren Tegal

“Oleh karena itu melalui lembaga pendidikan NU tersebutlah kader-kader IPNU dan IPPNU? harus masuk sekaligus memberikan warna dan kontribusi yang kongkrit untuk NU khususnya, dan warga masyarakat umumnya di wilayah kabupaten Lampung Tengah,” katanya.

Pondok Pesantren Tegal

Lakmud IPNU dan IPPNU Lampung Tengah dengan mengusung tema “Dengan Lakmud kita wujudkan Revolusi kader yang militan dan bertanggung jawab dalam memperjuangkan tradisi kemurnian akidah Ahlussunnah Waljamaah.”

Wasekjen PP IPNU Rahmat Basuki yang juga alumni IAIM NU Metro sekaligus mantan Ketua PC IPNU Lampung Tengah berharap, hasil dari proses Lakmud selama tiga hari ini memunculkan sekaligus menciptakan kader-kader IPNU dan IPPNU yang siap terjun di PAC dan PK nya masing yang militan dan tangguh dan mengamalkan ajaran Ahlussunnah Waljamaah.

Para peserta Lakmud IPNU dan IPPNU Lampung Tengah terdiri PAC-PAC dari 28 kecamatan se kabupaten Lampung Tengah dan PK-PK.

Materi Lakmud IPNU dan IPPNU Lampung Tengah selama tiga tersebut adalah keorganisasian dan administrasi, Aswaja dan ke-NU-an, problem solving, kewirausahaan, dan diisi dengan outbond.

Di sela-sela Lakmud IPNU dan IPPNU sekaligus digelar pelantikan Pimpinan Cabang IPNU Lampung Tengah masa khidmat 2014-2016 yang dinahkodai rekan Edi Hermawan selaku Ketua, rekan Marsum selaku Sekretaris dan rekan Aris Susanto selaku Bendahara. (Akhmad Syarief Kurniawan/Anam)

Keterangan foto : Sambutan rekan Edi Hermawan, Ketua PC IPNU Lampung Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal IMNU, Pertandingan, Lomba Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

Fatayat NU Serukan Keadilan dan Kesetaraan Gender

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Fatayat NU menyerukan keadilan dan kesetaraan gender antara laki-laki dengan kaum perempuan dalam pembangunan nasional. Hal itu mengemukan pada peringatan Harlah ke-65 Fatayat NU yang diselenggarakan di kantor PBNU Jakarta Pusat, Jumat (24/4).

Dengan mengusung tema “Mewujudkan Ikhtiar Perempuan NU untuk Indonesia Berkeadaban”, Fatayat NU mengharapkan kaum perempuan Indonesia memiliki peran penting dan strategis dalam pembangunan bangsa dan negara sehingga terwujudnya Indonesia yang berkeadaban.

Fatayat NU Serukan Keadilan dan Kesetaraan Gender (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Serukan Keadilan dan Kesetaraan Gender (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Serukan Keadilan dan Kesetaraan Gender

Ketua Umum Fatayat NU Ida Fauziah dalam pidatonya mengatakan, Indonesia yang berkeadaban hanya akan dapat diwujudkan jika ada penegakan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan dalam kehidupan masyarakat, harmonitas dan penghargaan terhadap kebhinekaan, serta terlaksananya pembangunan berkelanjutan yang berorientasi pada kesejahteraan warga bangsa.

Pondok Pesantren Tegal

Ida menambahkan, salah satu prasyarat merujudkan keberadaban sebuah bangsa adalah ketika negara dan masyarakat dapat membangun keadilan dan kesetaraan antara kaum laki-laki dan perempuan. “Prasyarat tersebut merupakan satu keniscayaan karena perempuan merupakan bagian besar dari warga Indonesia dan merupakan elemen penting dan strategis yang harus terlibat dalam pembangunan bangsa,” ujar anggota Komisi I DPR-RI ini.

Pondok Pesantren Tegal

Namun saat ini, Ida menyayangkan bahwa potensi perempuan tersebut bertolak belakang dengan fakta tentang nasib perempuan. Berdasarkan data Word Bank, dari 28 juta jumlah penduduk miskin di Indonesia, 63% adalah penduduk perempuan miskin yang tinggal di perdesaan. “Situasi ini merupakan dampak dari praktik dan pendekatan pembangunan selama ini yang masih menempatkan perempuan sebagai obyek, bahkan kerap menjadi korban pembangunan,” ujarnya.

Situasi ini semakin mengenaskan dengan fakta sosiologis di mana perempuan masih dihadapkan pada permasalahan budaya yang belum menempatkan perempuan secara setara, sehingga terus mengalami diskriminasi dan kekerasan mulai dari tingkat keluarga, masyarakat, hingga negara.

Fatayat NU, menurut Ida, sudah melakukan upaya-upaya dalam memperjuangan kesetaraan gender. Salah satunya adalah memperjuangkan kesetaraan gender melalui fungsi nya sebagai legislative yaitu fungsi legislasi. Namun sayangnya, pembentukan Undang-Undang Keadilan dan Kesetaraan Gender yang telah dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat “digagalkan” oleh kelompok politik tertentu yang geraham patriarkal.

Namun, sebagai komunitas masyarakat yang menjunjung tinggi keadilan dan menghargai kesetaraan perempuan dan laki-laki, Nahdlatul Ulama (NU) khususnya Fatayat NU berkomitmen dan senantiasa berdiri di baris depan untuk mendorong terwujudnya keadilan dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan secara proporsional. “Sebagai organ perempuan NU, Fatayat NU akan terus memperjuangkan terwujudkan keadilan dan kesetaraan gender sebagai salah satu pilar utama bagi terwujudnya Indonesia yang berkeadaban,” ujar Ida menambahkan.

Dalam kesempatan tersebut, sebagai Ketua Fatayat NU periode 2010-2015, Ida juga melaporkan perkembangan Fatayat NU selama dipimpin lima tahun kebelakang. Di bidang penguatan kelembagaan dan organisasi, Pimpinan Pusat Fatayat NU telah melakuan penguatan kelembagaan dan struktur organisasi di seluruh Indonesia dan bahkan luar negeri.

Di bidang pendidikan dan kaderisasi, Fatayat NU telah melakukan revitalisasi sistem kaderisasi dan percepatan implementasi kaderisasi di lapangan. Di bidang hukum, politik dan advokasi, kita telah mengembangkan Lembaga Konsultasi Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LKP2A) serta mengupayakan shelter bagi korban kekerasan dan memberikan pendampingan terhadap buruh migran, perempuan dan anak korban kekerasan.

Di bidang kesehatan dan lingkungan hidup, Fatayat NU telah melaksanakan beragam kegiatan yang berorientasi pada terwujudnya kesehatan ibu dan anak serta masyarakat secara umum.  Di bidang sosial, seni dan budaya,  Fatayat NU melaksanakan kegiatan yang berorientasi pada terwujudnya kesetaraan sosial khususnya bagi kaum perempuan.

Di bidang pengembangan ekonomi, Fatayat NU telah membentuk dan mendorong tumbuh dan berkembangnya koperasi Yasmin. Di bidang dakwah dan pembinaan anggota, kita terus mengembangkan dakwah Islam Aswaja yang rahmatan lil ‘aalamin dan berperspektif gender dan mengembangkan strategi dakwah sesuai dengan kebutuhan masyarakat global.

Di bidang penelitian dan pengembangan, kita telah memiliki dan mengembangkan sistem database organisasi, melakukan penelitian dan kajian terhadap berbagai persoalan strategis di masyarakat yang berkaitan dengan penegakkan hak-hak perempuan, melakukan kajian dan penafsiran ulang terhadap pemahaman-pemahaman agama yang patriarkhis.

Sebagai Ketua Fatayat NU periode 2010-2015 yang akan mengakhiri masa jabatannya ini, Ida berharap Fatayat NU kali ini harus dijadikan sebagai momentum untuk meneguhkan peran dan keterlibatan perempuan dalam proses pembangunan, mulai dari perencanaan, pelaksanakaan dan pengawasan, hingga pemanfataan hasil pembangunan.

“Semoga peringatan Harlah tahun ini mengandung makna penting bagi peningkatan peran Fatayat NU untuk terlibat aktif dalam proses pembangunan bangsa sebagai salah satu ikhtiar untuk mewujudkan Indonesia yang berkeadaban,” ujarnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Lomba, Cerita, Makam Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Seberangi Laut, GP Ansor Giligenting Sowani Mbah Maimoen dan Gus Mus

Sumenep, Pondok Pesantren Tegal - Sebanyak 15 pengurus Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Giligenting Kabupaten Sumenep mengunjungi sesepuh NU KH Maimoen Zubair dan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) di Rembang, Ahad (25/12). Mereka berangkat dari Pulau Giligenting dan transit di asta Kiai Kholil Bangkalan pada sehari sebelumnya.

Untuk sampai ke Rembang mereka memerlukan waktu, dana, dan tenaga.

Seberangi Laut, GP Ansor Giligenting Sowani Mbah Maimoen dan Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Seberangi Laut, GP Ansor Giligenting Sowani Mbah Maimoen dan Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

Seberangi Laut, GP Ansor Giligenting Sowani Mbah Maimoen dan Gus Mus

Ketua GP Ansor Giligenting Rudy Hartono mengatakan, usai silaturahmi ke Mbah Maimoen dan Gus Mus, rombongan langsung ziarah ke asta lima wali di Jawa Timur, yaitu Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Derajat, dan Sunan Ampel.

Pondok Pesantren Tegal

"Kami meminta wejengan untuk memperkuat aqidah Aswaja dan keyakinan untuk tetap semangat mengabdi di NU dan negara," terang Rudy.

Kegiatan tersebut merupakan rangkaian peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang diisi dengan silaturahmi ke sesepuh NU di Rembang dan ziarah wali di Jawa Tmur.

Pondok Pesantren Tegal

"Melalui kegiatan ini, semoga kami bisa tergugah untuk terus mengingat sembari meneladani perjuangan Nabi Muhammad dan Wali Songo yang sudah gigih berjuang untuk menyebarkan dan mempertahankan agama Islam di indonesia," tukasnya. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Olahraga, Nahdlatul, Lomba Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Makesta IPNU-IPPNU di MA Gandrirojo Masukkan Materi Islam Nusantara

Pondok Pesantren Tegal, Rembang. Ratusan pelajar NU yang tergabung dalam IPNU-IPPNU Komisariat Madrasah Aliyah (MA) Yayasan Sosial Pendidikan Islamiyah Syafiiyah (YSPIS) desa Gandrirojo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang Jawa Tengah mengikuti Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di aula sekolah setempat, Senin hingga Kamis (6-9 Juli 2015).

Madrasah yang didirikan dibawah naungan Badan Pelaksana Pendidikan Maarif NU (BPPM-NU) ini menyelenggarakan kegiatan Makesta dalam rangkaian acara Orientasi Studi dan Pengenalan Madrasah (Ospem) yang diikuti 205 peserta didik baru tahun pelajaran 2015-2016.

Makesta IPNU-IPPNU di MA Gandrirojo Masukkan Materi Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Makesta IPNU-IPPNU di MA Gandrirojo Masukkan Materi Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Makesta IPNU-IPPNU di MA Gandrirojo Masukkan Materi Islam Nusantara

Muhtar Nur Halim selaku Kepala Madrasah menuturkan, kegiatan ini sebagai wujud kaderisasi yang juga tidak meninggalkan proses pembentukan sikap akhlakul karimah. "Karena bagaimanapun Makesta ini merupakan rangkaian acara orientasi madrasah, kita juga harus menyiapkan kader-kader muda NU ini untuk tetap menjaga sikap akhlakul karimah", jelas Muhtar yang juga sebagai Ketua MWCNU Sedan itu.

Pondok Pesantren Tegal

Dalam acara ini, panitia menyiapkan materi seputar ke-NU-an dan orientasi madrasah, diantaranya, Aswaja, tradisi ke-NU-an dan Islam Nusantara, kajian historis IPNU-IPPNU, serta sistem administrasi IPNU-IPPNU. Sedangkan materi untuk orientasi madrasah yaitu, program kegiatan kesiswaan, visi misi dan grand design madrasah, serta sistem pembelajaran di madrasah setempat.

Nashihun Amin selaku Pembina Komisariat MA YSPIS menuturkan, pihaknya telah menyiapkan materi-materi seputar ke-NU-an dan orientasi madrasah. "Ini sebagai bekal awal pengaderan NU yang kita selipkan dalam kegiatan orientasi madrasah, karena memang dalam madrasah kami menerapkan sistem ke-NU-an dalam proses pendidikan,” jelas Amin.

Pondok Pesantren Tegal

Lebih lanjut, Amin menuturkan, apalagi dengan pentingnya kajian Islam Nusantara ini, sehingga apapun itu kita harus tetap membekali siswa dengan wajah Islam yang toleran, moderat dan juga berkebudayaan.

Acara yang dibuka pada Senin (6/7) malam itu juga turut dihadiri KH Sahlan M Nur selaku Ketua Yayasan BPPM-NU yang juga menjabat sebagai Ketua Mustasyar PCNU Rembang. (Ainun Najib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Lomba Pondok Pesantren Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Pangeran Saudi Dieksekusi karena Pembunuhan

Dubai, Pondok Pesantren Tegal



Pangeran Arab Saudi, Turki Saud al-Kabir, telah menjalani eksekusi pada Selasa setelah pengadilan menyatakan ia bersalah menembak hingga mati seorang warga Saudi, kata laporan media resmi.?

Laporan tidak menyebutkan dengan cara apa eksekusi terhadap Pangeran Turki itu dilakukan. Namun, sebagian besar orang yang dihukum mati di kerajaan Arab Saudi menjalani hukuman dengan cara kepala mereka dipenggal dengan pedang.?

Pangeran Saudi Dieksekusi karena Pembunuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pangeran Saudi Dieksekusi karena Pembunuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pangeran Saudi Dieksekusi karena Pembunuhan

Pangeran Turki sebelumnya telah menyatakan bersalah menembak hingga tewas Adel al-Mohaimeed setelah perkelahian, kata kementerian dalam negeri dalam pernyataan yang dimuat oleh kantor berita SPA.?

Para anggota keluarga kerajaan Arab Saudi yang sedang berkuasa jarang terkena eksekusi. Salah satu kasus paling mengemuka di kalangan kerajaan adalah ketika Faisal bin Musaid al Saud, yang membunuh pamannya Raja Faisal, menjalani eksekusi pada 1975.?

Pondok Pesantren Tegal

Keluarga kerajaan diperkirakan beranggotakan beberapa ribu orang.?

Mereka menerima tunjangan bulanan dan sebagian besar pangeran senior memiliki kekayaan dalam jumlah besar serta kekuasaan politik.?

Namun, hanya sebagian kecil dari keluarga kerajaan yang memiliki jabatan-jabatan penting pada pemerintahan.?

Pondok Pesantren Tegal

"Pemerintah... bertekad untuk menjaga ketertiban, menstabilkan keamanan serta menjunjung tinggi keadilan dengan menerapkan aturan-aturan yang ditentukan oleh Allah (Tuhan, red)...," kata pernyataan kementerian itu, demikian dilansir Reuters. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kiai, Lomba, Amalan Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Atasi Problem Lahan Transmigrasi, Mendes Marwan Tekan MoU dengan Dua Menteri

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Permasalahan tanah, hutan desa dan kawasan transmigrasi sering kali menjadi polemik dari masa ke masa. Salah satunya adalah permasalahan di bidang legalitas tanah seperti sengketa tanah yang selalu menjadi polemik yang belum dapat diselesaikan dengan tuntas.?

Atasi Problem Lahan Transmigrasi, Mendes Marwan Tekan MoU dengan Dua Menteri (Sumber Gambar : Nu Online)
Atasi Problem Lahan Transmigrasi, Mendes Marwan Tekan MoU dengan Dua Menteri (Sumber Gambar : Nu Online)

Atasi Problem Lahan Transmigrasi, Mendes Marwan Tekan MoU dengan Dua Menteri

Untuk mengatasi masalah tersebut, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Marwan Jafar membangun nota kesepakatan bersama dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya dan Menteri Agraria dan Tata Ruang, Ferry Mursyidan Baldan.

"MoU ini diharapkan bisa menyelesaikan permasalahan sengketa tanah, penyelesaian persetujuan prinsip pelepasan kawasan hutan pada 354 lokasi di 24 provinsi, tumpang tindih peruntukkan pada 40 lokasi di 31 Kabupaten, penyelesaian hak pengelolaan transmigrasi di 260.982,88 Ha serta masih adanya tunggakan penyelesaian penerbitan sertifikat hak milik 340.940 bidang," ujar Menteri Marwan dalam sambutannya sebelum penandatangan MoU tiga Kementerian di Kantor Transmigrasi, Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (7/5).

Pondok Pesantren Tegal

Program penyediaan lahan sembilan juta hektar yang ditargetkan Presiden, menurut Menteri Marwan diharapkan bisa diprioritaskan untuk masyarakat marginal khususnya para petani.?

"Program ini menjadi harapan besar bagi penduduk di daerah padat yang selama ini tidak mendapatkan akses untuk memanfaatkan, mengelola dan atau memiliki lahan," ujar Menteri Marwan.

Pondok Pesantren Tegal

Distribusi lahan yang berkeadilan, imbuh Menteri Marwan, harus diikuti upaya pengelolaan dan pemanfaatan secara optimal untuk tercapainya produktifitas guna mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas.

"Program penempatan transmigrasi yang telah lebih dari enam puluh tahun diselenggarakan pemerintah dan telah berkontribusi membentuk 2 provinsi, 104 Kabupaten/Kota, 385 Kecamatan dan 1.183 Desa, dapat menjadi salah satu solusi untuk terlaksananya distribusi lahan yang berkeadilan sekaligus mendukung ketersediaan pangan nasional," tandasnya.

Dengan adanya reforma agraria 9 Juta Hektar di bidang redistribusi lahan dan legalisasi aset, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi akan membangun dan mengembangkan kawasan transmigrasi dengan model Satuan Permukiman Baru, Satuan Permukiman Tempatan dan Satuan Permukiman Pugar di daerah tertinggal, perbatasan dan pulau-pulau terluar.

"Kawasan transmigrasi bisa menjadi kawasan yang strategis dan cepat tumbuh dengan berbagai pola usaha yang dikembangan seperti pangan, perkebunan, perikanan dan jasa industri. Untuk itu diperlukan dukungan pelepasan kawasan hutan disamping percepatan penerbitan beban sertifikat hak milik," tandasnya.

Dengan adanya kesepakatan bersama dengan tiga kementerian, Menteri Marwan berharap semua permasalahan terkait dengan kawasan hutan, distribusi lahan, dan sinkronisasi tata ruang bisa cepat selesai.

"Saya berharap semua permasalahan dan beban tugas terkait dengan pencadangan dan perubahan peruntukan kawasan hutan, sinkronisasi tata ruang, distribusi lahan, serta sertifikasi tanah dapat lebih cepat diselesaikan dalam rangka mendukung percepatan pembangunan desa, daerah tertinggal dan transmigrasi," tutupnya. Red: mukafi niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Quote, Lomba, Pesantren Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 30 November 2017

Sahur Bersama Hj Sinta Nuriyah Disambut Antusias di Bojonegoro

Bojonegoro, Pondok Pesantren Tegal

Hj Sinta Nuriyah, istri mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengadakan sahur bersama di Pendopo Pemkab Bojonegoro, Kamis (30/6) dinihari. Kehadirannya mendapat sambutan antusias dari masyarakat setempat.

Sahur Bersama Hj Sinta Nuriyah Disambut Antusias di Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)
Sahur Bersama Hj Sinta Nuriyah Disambut Antusias di Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)

Sahur Bersama Hj Sinta Nuriyah Disambut Antusias di Bojonegoro

Peserta sahur bersama terdiri dari tukang becak, pemulung, petugas kebersihan, penghuni panti asuhan, santri, dan orang-orang dari lintas agama. Acara ini diselenggarakan Yayasan Puan Amal Hayati bersama Gusdurian, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Pemkab Bojonegoro, Gereja Kristen Indonesia, Gereja Katolik Santo Paulus, TITD Hok Swie Bio, PMII, KP-Lima, Pemuda Bamag, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, dan Satkorcab Banser.

"Jumlah peserta sahur bersama melebihi aspektasi yang direncanakan, dari 450 orang yang diundang hadir hingga 500 orang lebih, panitia akhirnya menyediakan makan sahur tambahan," jelas Hasan Bisri selaku ketua kegiatan.

Pondok Pesantren Tegal

Sahur bersama tersebut berlangsung khidmat dan meriah. Para peserta memenuhi ruang Pendopo Malowopati Pemkab Bojonegoro. Turut berpartisipasi tokoh lintas agama di antaranya Ketua FKUB Bojonegoro KH Alamul Huda, Pendeta Stefanus Semianta (Gereje Kristen Indonesia), Romo Antonius Yuni Wimarta (Gereja Katolik Santo Paulus), Pendeta Daiman Sinaga (Ketua Bamag), Pendeta Joko Waluyo (GPPS).

Sebelum acara sahur bersama dimulai, kegiatan diawali dengan sambutan tentang kerukunan yang disampaikan secara bergantian oleh Pendeta Stefanus Semianta dilanjutkan Romo Yuni dan diakhiri KH Alamul Huda.

Pondok Pesantren Tegal

Setibanya Ibu Shinta Nuriyah, langsung menuju ruang utama Pendopo Malowopati dan memimpin sahur bersama tersebut. "Sebagai warga negera yang baik kita harus menjaga hubungan lintas sosial, agama, ras dan golongan sebagai pilar pembangunan Indonesia dan saling menghormati antaragama," terang Bu Sinta. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Santri, Lomba, Ahlussunnah Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 04 November 2017

Kanwil Kemenag DIY: Madrasah Kini Berdaya Saing Tinggi

Yogyakarta, Pondok Pesantren Tegal. Madrasah sekarang pada banyak bidang sudah bersaing menandingi lembaga pendidikan umum favorit. Banyak siswa-siswi madrasah yang menoreh prestasi di tingkat nasional. Masyarakat perlu mengubah stigma negatif terhadap lembaga pendidikan keagamaan ini.

Kanwil Kemenag DIY: Madrasah Kini Berdaya Saing Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kanwil Kemenag DIY: Madrasah Kini Berdaya Saing Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kanwil Kemenag DIY: Madrasah Kini Berdaya Saing Tinggi

"Fakta di level nasional para siswa madrasah bisa bersaing dengan yang lainnya. Dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) misalnya, banyak siswa madrasah yang meraih prestasi tinggi, bahkan sampai di tingkat nasional," kata Kepala Kanwil Kemenag DIY H Nizar Ali dalam Sosialisasi Kebijakan Kanwil Kemenag DIY dengan Media Massa Tahun 2015 di Ruang Rapat I Kanwil Kemenag DIY, Rabu (15/4).

Salah satu program prioritas Kakanwil baru ini ialah peningkatan mutu pendidikan madrasah dan kemitraan dengan pesantren. Guru besar bidang hadis ini menegaskan, peningkatan mutu madrasah itu hal yang tidak sulit.?

Pondok Pesantren Tegal

“Ukuran sekolah unggulan sekarang itu NEM-nya tinggi. Nah, kita bisa datangkan pengajar-pengajar profesional untuk memberikan pelajaran tambahan bagi para siswa,” jelas Nizar Ali yang kini dipercaya sebagai Wakil Rais Syuriyah PWNU DIY.

Pondok Pesantren Tegal

Di samping mempunyai kemampuan di bidang ilmu umum, siswa madrasah juga mempunyai kemampuan di bidang ilmu agama. Bahkan banyak yang hafal Al-Quran. Tapi keunggulan yang mereka miliki itu jarang terekspose media massa.

Kanwil Kemenag DIY, ia berharap, ingin menjadi cyber Kanwil pertama di Indonesia. Ke depan, semua surat menyurat, pendaftaran nikah, dan haji-umroh difasilitasi secara teknologi informasi dan tidak perlu menumpuk berkas. Program itu dicanangkan dapat terwujud dalam dua tahun ke depan. (Suhendra/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal AlaSantri, Lomba, Tegal Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 03 November 2017

Alumni Pondok Tremas DKI Jakarta Gelar Haul Masyayikh

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Ikatan Alumni Pondok Tremas (IAPT) DKI Jakarta dan Banten menggelar pertemuan silaturahmi akbar di Yayasan Al Ahyar Amanah Kramat Jati, Jakarta Timur, Ahad (15/11). Mereka memperingati haul masyayikh pondok Tremas Pacitan almagfurlah KH Muhammad Dimyathi bin Abdulloh.

Alumni Pondok Tremas DKI Jakarta Gelar Haul Masyayikh (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Pondok Tremas DKI Jakarta Gelar Haul Masyayikh (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Pondok Tremas DKI Jakarta Gelar Haul Masyayikh

Kegiatan yang baru pertama kali digelar ini berlangsung khidmat dan penuh suasana kekeluargaan. Hadir pengasuh pondok Tremas KH Luqman Harits Dimyathi, KH Muad Harits, dan keluarga.

Ratusan alumni dari berbagai periode turut menyukseskan acara ini. Mereka merupakan para alumni yang bermukim di wilayah Jabodetabek dan Banten. Tampak pula perwakilan pengurus IAPT Pekalongan dan IAPT Purwodadi.

Pondok Pesantren Tegal

KH Luqman Harits menekankan peran penting santri dan alumni Tremas dalam berkiprah di tengah masyarakat untuk memperkuat ajaran Ahulussunnah Wal Jama’ah di antaranya melalui jamiyyah Nahdaltul Ulama.

Pondok Pesantren Tegal

Koordinator Gerakan Nasional Ayo Mondok itu menyampaikan, peran alumni Tremas sangat dinanti oleh masyarakat, terutama dalam rangka turut menjaga keutuhan NKRI. Terlebih pemerintah telah mengakui peran perjuangan para santri dengan ditetapkanya 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional yang merupakan wujud penghargaan kepada perjuangan ulama.

Kiai Luqman mendorong para alumni untuk selalu menjaga sanad keilmuan yang diperolehnya dengan cara memasukkan putra-putrinya untuk belajar di pesantren. "Minimal satu dari putra-putrinya untuk dikirim ke pesantren, agar sanad keilmuan kita terus tersambung dan tidak putus," demikian kata Katib Syuriah PBNU itu.

Sementara Ketua PP LDNU KH Manarul Hidayat yang hadir menyampaikan taushiyah menyampaikan bahwa dengan adanya Gerakan Nasional Ayo Mondok dapat dijadikan wadah dalam menanggulangi paham radikalisme seperti Wahabi dan ISIS yang membahayakan keutuhan NKRI yang telah terbangun sejak zaman wali songo itu.

"Melalui organisasi ikatan alumni pesantren di seluruh Indonesia, mari kita perkuat NKRI dan dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah," ajak Kiai Manarul Hidayat.

Kegiatan Haul Masyayikh dan silaturahim alumni DKI Jakarta rencananya akan digelar tiap tahun sekali. Acara ini merupakan salah satu wujud meneladani kiprah para kiai dalam mendidik para santrinya. (Zaenal Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kajian Sunnah, Lomba Pondok Pesantren Tegal

Kiai Wahab dan Pergaulan Lintas Batas

Jombang, Pondok Pesantren Tegal. Sejarawan Choirul Anam mulai menjelaskan pergerakan KH Wahab Chasbullah tidak dari jasa atau karyanya, tapi membidik pada pergaulannya. Kiai Wahab berbekal ragam ilmu dan pendidikan pesantren, tidak kemudian menutup diri hanya bergaul dengan kiai-kiai, melainkan lintas batas. ?

“Mbah wahab itu kalau saya mengatakan, beliau itu ulama lintas batas,” katanya pada Sarasehan dan Launching Buku KH Wahab Chasbullah, Kaidah Berpolitik dan Bernegara karya H Abdul Mun’im DZ. Launching yang digelar di Aula Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Rabu (3/9) tersebut dalam rangka Haul Kiai Wahab yang ke-43.

Kiai Wahab dan Pergaulan Lintas Batas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Wahab dan Pergaulan Lintas Batas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Wahab dan Pergaulan Lintas Batas

Jadi, kata pria yang akrab disapa Cak Anam ini Kiai Wahab bergaul dengan kalangan nasionalis seperti Dr Soetomo yang melahirkan Budi Utomo. Kiai Wahab aktif dan sering jadi pembicara kunci di kelompok Indonesiche studieclub (kelompok diskusi Dr Soetomo).

Pondok Pesantren Tegal

Anam menambahkan, Kiai Wahab bergaul dengan tokoh-tokoh Islam dari berbagai kalaingan juga. ia bergaul dengan Sarekat Islam pimpinan HOS Tjokroaminoto. Bahkan pernah menjadi sekretaris organisasi itu di Mekkah dengan ketuanya KH Asnawi Kudus (sebelum NU berdiri). Ia bergaul dengan KH Mas Mansur yang kemudian jadi tokoh Muhammadiyah. Bergaul dengan Ir Soekarno yang kemudian jadi presiden pertama Indonesia.

Anam juga menyebut pergaulan Kiai Wahab dengan kalangan pendekar pencak. “Dan kalau ada pendekar-pendekar kuat itu mesti diajak bertarung. Ditanya sama Kiai Abdul Halim, kok suka bertarung begitu lho,” katanya.

Pondok Pesantren Tegal

Dalam hal ini menurut Anam, Kiai Wahab menyuruh belajar ilmu silat supaya tidak kalah dengan pendekar yang tarikus shalat (meninggalkan shalat). “Jadi memang lincah. Badannya kecil, tapi lincah,” katanya.

Pergaulan Kiai Wahab juga dengan para pedagang. Menurut Cak Anam, dari pergaulan itu, Kiai Wahab melihat pedagang Cina, Belanda, Arab dan sebagainya mengusai komoditi, sementara petani-petani yang menjual komoditinya dalam keadaan melarat. Ini yang kemudian akan mempengaruhi Kiai Wahab dalam pemikiran dan pergerakannya.

Sejarawan Anhar Gonggong menyebut pergaulan Kiai Wahab itu dengan dialog. “Ada hal yang menarik dalam konteks sekarang itu sering dilupakan, beliau memulai organisasinya dengan mengajak untuk pandai berdialog dan ini sangat penting,” katanya.

Sejarawan Universitas Indonesia ini menmbahkan, negara Indonesia dibentuk karena dialog. Sepak terjang Kiai Wahab waktu itu, menguatkan pendapatnya bahwa para pemimpin pergerakan untuk mencapai kemerdekaan dilakukan dengan dialog. “Saya baru menangkap, yang berdialog itu tidak hanya orang-orang sekuler, justru pendiri-pendiri organisasi agama juga berdialog. Nah, itu poin yang sangat penting,” tukasnya.

Sementara Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Abdul Mun’im DZ pada buku yang dibedah saat itu, KH Abdul Wahab Chasbullah, Kaidah Berpolitik dan Bernegara, menulis, sepulang dari belajar di Makkah, Kiai Wahab memilih tinggal di Surabaya. Waktu itu, kota tersebut merupakan salah satu kota dagang dan industri besar di Asia sehingga Kiai Wahab bergaul dengan berbagai kalangan.

Ditemui selepas sarasehan, salah seorang putri Kiai Wahab, Ny Mhafudloh Ali Ubaid menyebutkan, ayahnya meski tokoh besar kaliber nasional, menyempatkan diri? bergaul dengan masyarakat. “Jadi kalau ada orang PBNU mau bertamu, beliau belanja ke pasar sendiri naik dokar,” kenangnya di kediaman Kiai Wahab di Tambakberas.

Putri ketujuh Kiai Wahab, Ny Khjibiyah Rachim membetulkan keterangan kakaknya. Ia menjelaskan pergaulan Kiai Wahab ketika di rumahnya. “Ini ruangan ini tak pernah telat dari tamu. Beliau datang, setiap malam ada tamu. Tiap hari terus begitu. Tamu dari NU dari mana saja, mengadu masalah segala macam. Saya habis sekolah suka dengerin,” ungkapnya di tempat yang sama. ?

Sementara dari pergaulan di pesantren sendiri Kiai Wahab dikenal sebagai santri kelana. Ia bergaul dengan lingkungan satu pondok dan pondok lain, dari satu kiai ke kiai lain, dari satu ilmu yang lain.

Pada buku yang diterbitkan panitia, KH Abdul Wahab Chasbullah, dari Pesantren untuk Indonesia,? disebutkan, setidaknya Kiai Wahab pernah nyantri di pesantren Langitan (Kiai Ahmad Sholeh), Mojosari (KH Zainuddin), Cempaka, Tawangsari, Sepanjang (KH MS Ali dan KH Ms Abdullah), Bangkalan (Syekh Kholil), Branggahan (KH Faqihuddin), Tebuireng (KH Hasyim Asy’ari).

Pada waktu di Makkah ia menuntut ilmu Kiai Mahfudz Tremas, Kiai Muhtarom Banyumas, Syekh Ahmad Khotib Minangkabau, Kiai bakir Yogyakarta, Kiai Asyari Bawean, Syekh Said Yamani, Syekh Abdul Hamid Kudus, Syekh Umar Bajened. Dari beragam pesantren dan kiai itu, Kiai Wahab belajar lintas ilmu pengetahuan.

Dari pergaulan KH Wahab dan ilmu yang diserapnya, ia mendirikan Nahdlatul Wathon, mendirikan Tashwirul Afkar, Nahdlatut Tujjar, koperasi muslimin, salah seorang yang mendorong lahirnya organisasi Nahdlatul Ulama.

KH Wahab Chasbullah lahir dari pasangan KH Chasbullah dan Ny Lathifah di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur pada Maret 1888 M. Sejak kecil dididik ayahnya mengaji dan diperkenalkan pada kitab-kitab kuning. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Lomba, Humor Islam, Syariah Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 29 Oktober 2017

Pergunu DKI: Konferwil Momentum NU Jakarta Berbenah

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal

Konferensi Wilayah Nahdlatul Ulama (Konferwil NU) DKI Jakarta akan digelar 25 - 27 Maret 2016, di TMII Jakarta. Hajatan penting untuk menentukan kiprah pengabdian NU kepada masyarakat Jakarta ke depan.

Pergunu DKI: Konferwil Momentum NU Jakarta Berbenah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu DKI: Konferwil Momentum NU Jakarta Berbenah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu DKI: Konferwil Momentum NU Jakarta Berbenah

Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta berharap momentum Konferwil dapat dijadikan sarana refleksi, evaluasi, serta merumuskan program kerja sesuai dengan kebutuhan masyarakat Jakarta. Masyarakat Jakarta memiliki karakteristik yang khas, sehingga perlu pendekatan yang khas pula. Pada kondisi seperti ini, NU DKI Jakarta ke depan harus memiliki program yang lebih menyentuh dan melayani grass root masyarakat Jakarta.

Lebih dari itu, secara ideologis NU DKI Jakarta juga harus mampu menjaga marwah paham Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah. Apalagi Jakarta menjadi lahan bebas pertarungan ideologi transnasional, gerakan anti NKRI, dan, gerakan radikalisme agama.?

Untuk itu, momentum Konferwil dapat memilih pemimpin NU DKI Jakarta yang mampu menjawab tantangan Aswaja dan kondisi masyarakat Jakarta,” ujar Ketua PW Pergunu DKI Jakarta Aris Adi Leksono lewat rilis yang diterima Pondok Pesantren Tegal, Selasa (22/3).

Pondok Pesantren Tegal

Intinya, kata Aris, NU Jakarta harus mampu hadir di tengah problematika masyarakat Jakarta, menyapa, melayani, ? dan menjadi oase bagi masyarakat.

Melihat kebutuhan dan tantangan ke depan, maka ke depan NU DKI Jakarta harus dipimpin oleh figur yang tepat. Figur yang melayani, penggerak, ikhlas bekerja, mempunyai leadership dan manajerial handal.

“NU DKI Jakarta harus steril dari kepentingan pribadi dan golongan, apalagi kepentingan politik atau birokrasi tertentu. Semua harus berkerja untuk nahdliyin dan warga Jakarta,” terangnya. (Red: Fathoni)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Lomba, Pertandingan, Ahlussunnah Pondok Pesantren Tegal