Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

NU Sumberwetan Terbitkan Buletin Sumber Pena NU

Probolinggo, Pondok Pesantren Tegal



Dalam rangka sebagai media komunikasi, informasi dan dakwah bil qolam lil ummah, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kelurahan Sumberwetan Kecamatan Kedopok Kota Probolinggo menerbitkan buletin Sumber Pena NU. Buletin ini disebarluaskan kepada seluruh Nahdliyin di Kota Probolinggo.

NU Sumberwetan Terbitkan Buletin Sumber Pena NU (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sumberwetan Terbitkan Buletin Sumber Pena NU (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sumberwetan Terbitkan Buletin Sumber Pena NU

“Buletin Sumber Pena NU singkatan dari Suara Umum Media Berita Pendidikan Agama Nahdlatul Ulama. Buletin ini merupakan sebuah insprirasi yang datang begitu saja tanpa ada undangan dan permintaan dari pihak lain,” kata Ketua PRNU Kelurahan Sumberwetan Hamdan Amrullah, Selasa (10/1).

Menurut Hamdan, buletin ini diterbitkan atas dorongan banyaknya buletin-buletin yang beredar di berbagai masjid dan majelis yang isinya justru memprovokasi dan mendiskriminalisasi keutuhan NKRI, ke-NU-an dan ke-Aswaja-an.

“Menyikapi hal tersebut, kita patut mengklarifikasi dan menjawab yang sebenarnya lewat media buletin juga. Dalam artian membuat tandingan argumen yang sudah jelas dan benar menurut referensi dalil-dalil kitab mu’tabaroh dan fakta sejarah,” jelasnya.

Buletin Sumber Pena NU jelas Hamdan juga diperkuat dan didukung penuh oleh para pengurus Ranting NU Kelurahan Sumberwetan yang dievaluasi setiap lailatul ijtima’ yang diikuti para pengurus ranting NU dan beberapa alumnus berbagi pesantren.

Pondok Pesantren Tegal

“Isi buletin ini meliputi ke-NU-an, ke-Aswaja-an dan konsultasi fiqh yang diisi dan dikaji oleh para pengurus Ranting NU sendiri dan dibahas sebelum diterbitkan. Durasi edarnya setiap bulan dan terdiri 4 halaman sederhana. Buletin ini diedarkan diberbagi masjid se-Kota Probolinggo,” terangnya.

Hamdan menegaskan bahwa pencetaan buletin Sumber Pena NU dilakukan setiap bulan dari 3-4 ribu exemplar. Harapannya penerbitan buletin ini bisa memberikan manfaat kepada seluruh Nahdliyin yang ada di Kota Probolinggo.

Pondok Pesantren Tegal

“Semoga dari MWCNU dan PCNU juga bisa membuat buletin yang lebih bagus atau setidaknya memberikan semangat, penguatan manajemen, dukungan pemikiran, materi, terlebih dukungan pendanaan,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Warta, Halaqoh, Kyai Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 25 Februari 2018

Gus Mus Puji Masyarakat Desa sebagai Umat yang Pandai Bersyukur

Magelang, Pondok Pesantren Tegal. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin Rembang Jawa Tengah, KH A Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus, memuji masyarakat desa sebagai umat yang memiliki sifat banyak bersyukur.

Gus Mus Puji Masyarakat Desa sebagai Umat yang Pandai Bersyukur (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Puji Masyarakat Desa sebagai Umat yang Pandai Bersyukur (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Puji Masyarakat Desa sebagai Umat yang Pandai Bersyukur

Hal ini dia ungkapkan ketika berjalan-jalan di desa dan menemani seorang petani menyantap makan siang di dalam rantang yang dibawa dari rumah. Kegiatan ini dilakukan Gus Mus sebelum menghadiri Festival Lima Gunung XIV tahun 2015 di lereng Gunung Andong di Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jateng, Ahad (16/8) lalu.

“Setelah makan dan minum air dari kendi, kami berdua bersendawa keras sekali. Kami berucap alhamdulillah, bersyukur atas kenikmatan yang baru saja kami rasakan tersebut,” ujar Gus Mus seperti dilansir Harian Kompas, Jum’at (21/8).

Pondok Pesantren Tegal

Menurutnya, kenikmatan serupa tidak dirasakannya saat diundang makan di sebuah restoran asing di Jakarta. Sebaliknya, dia justru beralih sedih karena melihat rekan yang mengundangnya makan. Gus Mus menuturkan, selesai makan, rekannya tersebut lantas mengeluarkan aneka ragam obat pencegah sakit.

“Masyarakat kota harus sering bertandang ke desa untuk menyerap nilai-nilai luhur di sana,” jelasnya.

Pondok Pesantren Tegal

Gus Mus pun menandaskan, bahwa dia ingin masyarakat desa terus menularkan nilai-nilai kebaikan mereka dan tidak berubah untuk berperilaku seperti masyarakat kota. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal PonPes, Warta Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Alissa: Teladani Gus Dur dengan Perilaku

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Pemasangan baliho bergambar tokoh agama dan mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dilakukan sejumlah politisi ataupun menempelkan gambar Gus Dur yang dilakukan kalangan masyarakat bukanlah cara yang tepat untuk meneladani sang tokoh yang merakyat itu.

Alissa: Teladani Gus Dur dengan Perilaku (Sumber Gambar : Nu Online)
Alissa: Teladani Gus Dur dengan Perilaku (Sumber Gambar : Nu Online)

Alissa: Teladani Gus Dur dengan Perilaku

Putri almarhum mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid yaitu Alissa Wahid menggambarkan sosok ayahnya adalah sosok yang tidak tidak pernah mengajarkan orang lain dengan ceramah kebaikan, melainkan dengan perilakunya. Misalnya, dengan kata-kata ikhlas harus melakukan "ini dan itu", tidak begitu, tapi almarhum selalu mengajarkan dengan tindakan. 

"Keluarga pernah mengingatkan bapak yang selalu menolong orang yang datang, padahal tidak sedikit di antara mereka hanya menipu, mencari "sesuatu" dengan gampang. Banyak orang yang menitipkan (uang) ke bapak untuk diberikan kepada yang membutuhkan. Saat itu, jawabannya, kalau urusan itu (menipu) itu urusan dia sama Gusti Allah," ucapnya, mengenang.

Pondok Pesantren Tegal

Ia mengatakan Gus Dur tidak pernah bersikap "suudhon" (buruk sangka) kepada orang lain dan selalu bersikap "husnudhon" (berbaik sangka), karenanya ia sangat bangga mempunyai figur ayah yang demikian, dan sosok seperti itu terus ia tanamkan pada keluarga ataupun rekan-rekannya.

"Suatu ketika, saya pernah menasihati anak yang menolak untuk diajak makan di Malioboro. Saat itu, anak saya beranggapan merasa tidak nyaman karena saat ia makan, orang lain sedang bekerja. Namun, saya memberikan masukan dan pengertian, tentang kondisi mereka dan upaya mereka untuk mencari nafkah. Saya memberikan pandangan berbeda, saya perlihatkan banyak orang yang hidupnya seperti itu (bekerja keras), serba kekurangan dan jika tidak bersama mereka, maka kita tidak bisa menolong mereka," tuturnya.

Pondok Pesantren Tegal

Ia juga mengingatkan kepada anaknya saat itu, melihat masyarakat, berusaha membuat kebijakan harus dengan melihat kondisi mereka langsung dan jangan hanya melihat dari kota besar sekelas Jakarta, sebab Indonesia itu bukan hanya Jakarta, melainkan luas.

Putri sulung mantan Presiden Gus Dur ini juga pernah teringat dengan kejadian yang membuatnya sangat prihatin. Saat itu, putrinya sedang berulang tahun pada Mei 2009 dan Gus Dur datang ke rumahnya, Jogjakarta.

Gus Dur meminta sejumlah uang kepadanya yang digunakan sebagai "pegangan", karena Gus Dur mengatakan tidak punya uang saat itu. Padahal, ayahandanya tersebut tidak pernah mau meminta pada anak-anaknya, sehingga jika sampai meminta uang benar-benar beliau tidak mempunyai uang.

"Saat itu, saya tanya ke bapak, untuk proyek atau apa, tapi hanya dijawab untuk pegangan,"paparnya.

Ia menyebut Gus Dur sebenarnya tidak sulit untuk bisa mendapatkan sejumlah materi. Banyak orang yang datang memberikan uang, bahkan uang pensiun pun ada. Terlebih lagi, ayahnya seorang mantan Presiden. 

Namun, ia sadar prinsip Gus Dur tentang "terima kasih", yaitu "saya terima, saya kasihkan" pada masyarakat yang membutuhkan. Bahkan, uang pensiun, ia yang memegang dan tidak pernah digunakan sendiri. 

Secara personal, kata dia, itu adalah puncak penghayatan dirinya betapa ikhlasnya Gus Dur dalam berjuang, bahkan untuk pegangan sendiri saja tidak punya. 

"Betapa Gus Dur berjuang untuk orang lain, bukan untuk dirinya sendiri," kata perempuan yang aktif dalam jaringan Gusdurian ini. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal RMI NU, Warta Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Cabang-Cabang Ansor Aceh Didorong Segera Konfercab

Banda Aceh, Pondok Pesantren Tegal. Sebanyak 23 Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Provinsi Aceh dinyatakan habis masa kepengurusan periode 2011-2014i. Karenanya Pimpinan Pusat GP Ansor melalui surat instruksi bernomor 920/PP/SR-01/IX/2014 meminta Pengurus Wilayah untuk mendorong konferensi cabang (konfercab).

Sekretaris PW GP Ansor Aceh, Zulfikar Djamaluddin mengaku sudah menerima surat intruksi tersebut. “Ya, surat itu sudah kita terima. PP Ansor berharap Konfercab tersebut bisa segera dilaksanakan. Tapi melihat kesiapan seluruh PC, kami menargetkan harus selesai sebelum April. Karena pada April nanti akan ada Rakornas Ansor,” ungkapnya melalui siaran pers Senin (20/10).

Cabang-Cabang Ansor Aceh Didorong Segera Konfercab (Sumber Gambar : Nu Online)
Cabang-Cabang Ansor Aceh Didorong Segera Konfercab (Sumber Gambar : Nu Online)

Cabang-Cabang Ansor Aceh Didorong Segera Konfercab

Masih menurutnya, berdasarkan surat instruksi tersebut yang langsung ditandatangani Ketua PP GP Ansor, Nusron Wahid dan Sekretaris Jenderal, Muhammad Aqil Irham, pelaksanaan Konfercab ini merupakan hal yang sangat penting sembari melakukan konsolidasi di 23 kabupaten/kota di Aceh.

Pondok Pesantren Tegal

Apalagi, sambung dia, pasca-Konbes Ansor di Purwarkarta, Jawa Barat, belum lama ini, PW Ansor Aceh sudah menawarkan diri sebagai tuan rumah Kongres GP Ansor pada 2016 nanti. Tawaran tersebut dilontarkan langsung Ketua PW Ansor Aceh, Samsul B Ibrahim dalam forum itu untuk pelecut konsolidasi Ansor, khususnya di daerah-daerah terisolir di Aceh.

Pondok Pesantren Tegal

Di lain hal diakui Zulfikar, dalam lima tahun terakhir ini, pergerakan GP Ansor di Aceh mengalami penurunan eksistensi. Di beberapa daerah, pengurus cabang belum mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan yang ada. Kecuali itu, beberapa GP Ansor khususnya di Pantai Timur dan Tengah Aceh masih menunjukkan taringnya dan mampu bersinergi dengan Pemerintah Daerah.

“Pembenahan ini masih terus kita lakukan. Pasca gempa bumi dan bencana tsunami, harus diakui motor pergerakan organisasi kepemudaan mengalami disorientasi. Sekarang kita benah pelan-pelan. Kami berharap dukungan seluruh masyarakat Aceh agar peran GP Ansor di Aceh dapat menyentuh kepentingan-kepentingan masyarakat luas,” tandasnya.

Sementara itu berkaitan dengan teknis pelaksanaan Konfercab sendiri, kegiatan itu akan diawali dengan Pelatihan Kader Dasar (PKD) dan Diklatsar yang rencananya akan dipusatkan di salah satu pondok pesantren. PKD dan Diklatsar itu sendiri merupakan seremoni wajib yang harus diikuti Pengurus Cabang GP Ansor dan para calon ketua PC Ansor untuk kepengurusan empat tahun mendatang.

“Itu syarat wajib. Yang tidak mengikuti PKD dan Diklatsar belum bisa dikatakan kader Ansor. Konon lagi ingin berpartisipasi dalam bursa pemilihan ketua PC. Semua kader Ansor wajib mengikuti kegiatan tersebut, dan kita (PW Ansor Aceh) sedang mengonsepkan agenda tersebut dalam waktu dekat,” tutupnya.

Di lain tempat, sejumlah Pengurus Cabang berkomitmen akan mendukung pelaksanaan Konfercab tersebut oleh PW Ansor Aceh. Dukungan itu salah satunya disampaikan oleh Ketua PC GP Ansor Bireuen, Mukhtaruddin AB. Menurutnya, penyegaran kepengurusan merupakan hal penting untuk melanjutkan penguatan kaderisasi pemuda Nahdlatul Ulama di Aceh. Apalagi dikatakannya, selama ini pemerintah di Aceh terkesan menutup mata dengan kehadiran organisasi kepemudaan.

“Bila perlu, kami siap kalau hal ini kita bicarakan secara strategis di Banda Aceh. Kader Ansor harus kita benah. Jangan sampai organisasi yang besar ini bersinggungan dengan politik. Pasti rusak,” tukasnya tegas yang juga Ketua Komisi Independen Pemilihan Kabupaten Bireuen.

Hal senada juga dilontarkan oleh Ketua PC GP Ansor Aceh Tamiang, Ichsan Nur. Selama ini, kepengurusan Ansor khususnya di sejumlah kabupaten/kota dinilai terlalu mempersoalkan surat keterangan (SK) PW Ansor yang belum diterbitkan oleh PP Ansor. Bagi Ichsan Nur, sebagai kader NU, harusnya SK tidak dilihat sebagai harga mati.

“SK sebagai alat penting, tapi sebagai kader NU dan Ansor, itu bukan segala-galanya. Gerakan harus terus dilanjutkan. Kami sendiri insyaAllah akan menggelar Konfercab pada Desember ini. Dalam waktu dekat akan kami surati PW Ansor Aceh,” jelasnya.

Selain Mukhtar dan Ichsan Nur, dukungan yang sama disampaikan Ketua PC Ansor Bener Meriah Turham AG, Ketua PC Ansor Aceh Jaya Tengku Nasai, dan Ketua PC Ansor Kota Langsa, Rahmat Hidayat. Ketiganya mendukung langkah-langkah sistematis yang dilakukan PW Ansor Aceh sebagaimana instruksi yang disampaikan oleh PP GP Ansor.

“Atas nama kebaikan, kita harus mendukung tahapan-tahapan yang ada. Konsolidasi Ansor ke arah yang lebih baik harus menjadi perhatian kader Ansor. Apalagi kalau Ansor menjadi tuan rumah Kongres. Ini langkah maju yang bisa dilakukan PW Ansor,” tutup ketiganya yang dimintai tanggapan melalui telepon selular. (Red: Abdullah Alawi)

?

Keterangan gambar: Ketua dan Sekretaris PW GP Ansor Aceh saat mengikuti Konbes GP Ansor di Purwakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Warta, Kajian Islam, Pendidikan Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

PC IPNU-IPPNU Ini Gelar Lomba Baca Puisi Gus Mus

Brebes, Pondok Pesantren Tegal. Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Brebes kembali menggelar lomba baca puisi religi karya KH Mustofa Bisri (Gus Mus) tingkat Kabupaten Brebes. Acara yang berlangsung di aula Gedung NU Brebes pada Minggu (14/11) ini mendapat antusias yang tinggi, terutama dari kalangan pelajar dan pemuda di Kabupaten Brebes.

PC IPNU-IPPNU Ini Gelar Lomba Baca Puisi Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
PC IPNU-IPPNU Ini Gelar Lomba Baca Puisi Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

PC IPNU-IPPNU Ini Gelar Lomba Baca Puisi Gus Mus

Lomba baca puisi religi yang diikuti sekitar 50 peserta ini bekerjasama dengan Dewan Kesenian Daerah Brebes dan Badan Narkotika Kabupaten Brebes. Bupati Brebes Hj. Idza Priyanti, SE melalui Kabag Humas dan Protokol Setda Kabupaten Brebes Drs. Atmo Tan Sidik mengapresiasi ide cerdas dakwah lewat seni ini, terlebih dalam lomba yang diikuti pemuda dan pelajar ini disisipi sosialisasi bahaya narkoba.

“Dakwah dengan berkesenian adalah langkah yang cerdas, terlebih tema lomba membangun generasi bangsa yang bebas narkoba sangat tepat dengan kondisi generasi muda saat ini,” kata Atmo.

Pondok Pesantren Tegal

Menurutnya, kemampuan Wali Songo dalam membumikan ajaran Islam di Indonsia ini patut menjadi renungan kita, tidak hanya mengandalkan logika saja tidak cukup, maka melalui seni lah akhirnya agama Islam dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Pondok Pesantren Tegal

Untuk itu, melalui lomba baca puisi religi ini, diharapkan para pemuda generasi penerus bangsa mampu mengaktualisasikan diri dengan baik dan memiliki jiwa seni yang tinggi sehingga terhindar dari bahaya narkoba.

Melalui lomba baca puisi karya Gus Mus ini, peserta diharapkan tidak hanya dapat membacakan puisi karya-karyanya. Juga dapat mengartikulasikan setiap kata yang sehingga didapat nilai filosofi dan ruhiyah yang tinggi.

Sementara itu, Ketua Cabang IPNU-IPPNU Brebes Zaki Al Aman, SPd mengatakan bahwa dipilihnya puisi kaya Gus Mus adalah selain beliau tokoh NU, juga karyanya mempunyai nilai sastra dan religi yang tinggi dan tentunya sudah dikenal di seluruh Indonesia.

Pengurus BNK Brebes, Lukman Suyanto, SH memberikan sosialisasi bahaya narkoba bagi generasi muda, dan mengingatkan akan bahaya penjajahan dengan narkoba. Menurutnya dalam 30 tahun mendatang bukannya tidak mungkin bangsa Indonesia sudah terjajah oleh kekuatan asing. Untuk itu, narkoba yang dijadikan alat jajahan bangsa lain harus disadari oleh generasi muda.

Turut hadir Pengurus NU Cabang Brebes Imam Badjuri, MPd mewakili Ketua PC NU Brebes.

Setelah melalui penjurian yang ketat, akhirnya Rr Adinda Prameswari? dari Brebes menjadi Juara 1, juara 2 Siti Cahaya dari Kota Tegal, juara 3 Amalia Hardiyanti dari Brebes. Selain mendapatkan piala Ketua PC NU Brebes, Ketua BNK dan Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Brebes, pemenang juga mendapatkan sejumlah uang pembinaan. (Wasdiun/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kyai, Warta Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Polres Pekalongan Siap Amankan Forum Muktamar Ke-12 Jatman

Pekalongan, Pondok Pesantren Tegal - Polres Pekalongan beserta jajarannya siap membantu panitia mengamankan jalannya kegiatan besar berupa Muktamar XII Jamiyyah Ahlit Thariqah Al-Mutabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) yang akan berlangsung di Pekalongan pada 23-27 Desember 2017 mendatang.

Kesiapan jajaran Polres Pekalongan mengamankan kegiatan muktamar disampaikan langsung oleh Kapolres Pekalongan AKBP Wawan Kurniawan di hadapan Panitia Muktamar XII Jatman yang beraudiensi dengan jajaran Polres Pekalongan di Mapolres Kajen, Kamis (30/11).

Polres Pekalongan Siap Amankan Forum Muktamar Ke-12 Jatman (Sumber Gambar : Nu Online)
Polres Pekalongan Siap Amankan Forum Muktamar Ke-12 Jatman (Sumber Gambar : Nu Online)

Polres Pekalongan Siap Amankan Forum Muktamar Ke-12 Jatman

Kegiatan pengamanan tidak saja pada area pembukaan yang rencananya akan dilangsungkan di kompleks Rumah Dinas Jabatan Bupati di Kajen saja, tetapi di tempat-tempat pemondokan dan sidang-sidang komisi di wilayah kerjanya.

"Ini kegiatan besar sejak saat saya menjabat sebagai Kapolres Pekalongan, apalagi kegiatan pembukaannya akan dihadiri oleh Presiden sehingga saya beserta jajaran akan melaksanakan pengamanan secara maksimal," ujar Kapolres yang didampingi Kabag Ops Polres Pekalongan Kompol Mohammad Udjir dan Kasat Lantas AKP Bobby A Rachman.

Pondok Pesantren Tegal

Kegiatan audiensi yang dilakukan Panitia Muktamar XII dengan jajaran kepolisian untuk menjalin kerja sama khususnya di bidang pengamanan di samping dengan Polres Pekalongan, pihaknya juga melakukan dengan Polres Pekalongan Kota. Hal ini dimaksudkan agar kegiatan besar yang dilaksanakan di dua wilayah, yakni di Kota dan Kabupaten Pekalongan dapat berjalan dengan aman dan lancar.

"Kami berharap pihak Polres di dua wilayah dapat membantu keamanan dan kenyamanan peserta yang datang dari berbagai daerah yang ribuan jumlahnya dan pemondokannnya tersebar di delapan kecamatan," ujar Sekretaris Jenderal Jatman KH Masroni kepada Kapolres.

Pondok Pesantren Tegal

Ada sekitar 10 ribu muktamirin yang akan mengikuti kegiatan Muktamar yang ke-12. Mereka terdiri atas tamu undangan dari dalam negeri dan luar negeri. Melihat animo peserta yang cukup besar, maka perlu dibantu keamanan yang memadai baik di lokasi acara juga di pemondokan-pemondokan peserta.

Kapolres Pekalongan berpesan kepada panitia, setiap perkembangan persiapan dan pelaksanaan kegiatan Muktamar XII agar selalu dikomunikasikan dengan jajaran polres. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan bersama, terutama pada saat kehadiran RI 1 di pembukaan Muktamar XII.

Ikut mendampingi Sekjend Jatman yakni jajaran pengurus harian Idaroh Aliyah (pengurus pusat), Pengurus Mahasiswa Ahlith Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (MATAN), dan Humas Panitia Muktamar M Ngisom Chollil. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal PonPes, Warta, Pertandingan Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Mengembangkan Perguruan Tinggi sebagai Media Diplomasi Internasional

Malang, Pondok Pesantren Tegal. Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang mengembangkan universitas sebagai media diplomasi internasional. UNIRA tergabung dalam jaringan Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPT-NU). Hal ini dilakukan, agar mahasiswa dapat memahami kondisi ekonomi-politik global dan menjadi agen dari misi pendidikan Indonesia. 

Mengembangkan Perguruan Tinggi sebagai Media Diplomasi Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengembangkan Perguruan Tinggi sebagai Media Diplomasi Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengembangkan Perguruan Tinggi sebagai Media Diplomasi Internasional

Misi ini tercermin, dalam Ambassador Lecture "Comprehensive Interactive an Efficient Approach for ASEAN-China Economically and Socially Integration", di Auditorium Unira, Malang, pada Sabtu, 07 Oktober 2016. Agenda ini, dihadiri oleh Tim Young (Executive Board of Jakarta Foreign Correspondents Club and Chief of Correspondent of CED ASEAN Bureau). 

Dalam agenda ini, Rektor UNIRA, Hasan Abadi mengungkapkan bahwa pimpinan kampus berusaha mendorong UNIRA sebagai universitas yang berjejaring di level internasional dan menjadi media diplomasi. 

"Kami ingin agar UNIRA berjejaring tidak hanya di level nasional, namun juga internasional. Dengan kedutaan China, kami sedang menjalin kerjasama tentang pengembangan masyarakat, di antaranya Green Technology dan peningkatan SDM perempuan desa," terang Hasan Abadi, yang juga Ketua Pengurus Cabang GP Ansor Kabupaten Malang. 

Pondok Pesantren Tegal

Tim Young, dalam forum Ambassador Lecture, mengungkapkan bahwa Indonesia dan China harus bersama-sama mengembangkan potensinya. "Hubungan kerjasama antara pemerintah Indonesia dan China perlu diintensifkan lagi, tidak hanya dalam politik dan ekonomi, namun juga dalam pendidikan, kebudayaan dan dimensi sosial," terang Tim Young, yang menjadi Executive Board Member of Jakarta Foreign  Correspondent Club. 

Dalam analisanya, Tim Young berharap generasi muda, khususnya akademisi UNIRA Malang, memahami peta diplomasi global, sekaligus berperan aktif dalam perbaikan bangsa. "Saya harap, dengan kerjasama antara Pemerintah dan beberapa lembaga China dengan kampus UNIRA, akan terbentuk kesepahaman dalam pemberdayaan masyarakat serta pengembangan ekonomi di antara kedua negara," ungkap Tim. 

Ia berharap, kerjasama China dan Indonesia  dalam pengembangan infrastruktur, khususnya Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung dapat terealisasi dengan maksimal. "Kami berjanji dengan Presiden Joko Widodo agar proyek ini selesai sebelum tahun 2019. Jadi, kami berharap dukungan dari semua pihak agar dapat bekerja efektif," jelas Tim Young. 

Agenda Ambassador Lecture merupakan kerjasama antara Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial (FEIS) UNIRA dengan Economic Daily-JFCC, untuk peningkatan pemberdayaan masyarakat dan diplomasi internasional. Saat ini, UNIRA dan beberapa lembaga dari China sedang menjalin kerjasama dalam pengembangan riset dan pemberdayaan. (Red: Fathoni)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Humor Islam, Warta Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Batasan Haid Perempuan Pengguna KB

Assalamu alaikum. Redaksi Pondok Pesantren Tegal yang terhormat. Saya mau bertanya perihal haid pengguna KB dengan alat kontrasepsi hormonal suntik. Setelah mengikut program itu, haid saya jadi tidak teratur. Saya kadang haid lebih dari lima belas hari. Itu pun hanya keluar flek. Apakah darah flek itu darah haid? Kalau bisa disebut haid, apakah flek yang keluar lebih dari 15 hari masih bisa disebut darah haid atau istihadloh? Mohon penjelasannya karena ini menyangkut dengan ibadah. Terima kasih. Wassalamualaikum wr.wr. (Putri Hidayani)

 

Jawaban

Assalamu’alaikum wr. wb.

Batasan Haid Perempuan Pengguna KB (Sumber Gambar : Nu Online)
Batasan Haid Perempuan Pengguna KB (Sumber Gambar : Nu Online)

Batasan Haid Perempuan Pengguna KB

Mbak Putri yang dirahmati Allah. sebagaimana dimaklumi bahwa haid itu menurut madzhab syafi’I paling sedikit selama siang dan malam. Paling lama 15 hari. Namun lazimnya 6 atau 7 hari. Sementara mazdhab Hanafi, haid paling lama 10 hari.

Kendati demikian, di kalangan syafi’iyah sendiri terdapat perbedaan pendapat. Untuk itu baiklah disimak keterangan Imam Nawawi dalam karyanya Raudhotut Tholibin.

? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?

Pondok Pesantren Tegal

Haid paling sebentar hanya sehari semalam menurut ini Madzhab. Atas dasar pendapat ini persoalan bisa bercabang. Paling lama 15 hari. Lazimnya 6-7 hari. Masa suci antara satu dan haid lainnya, 15 hari. Biasanya masa suci sebulan penuh. Paling banyak, tiada batas. Kalau kita dapati seorang perempuan mengalami haid secara teratur kurang dari sehari semalam atau lebih dari 15 hari; atau perempuan yang suci kurang dari 15 hari, maka sekurangnya ada 3 pendapat berbeda di kalangan ulama. Pendapat pertama, tidak ada model pada kasus ini. Kedua, ia harus mengikuti pola siklus demikian. Ketiga, kalau pola ini sesuai dengan temuan sebagian madzhab ulama salaf, kita ikuti pola demikian. Kalau tidak sesuai, kita tidak terima pola demikian.

Iklim dingin dan panas juga memengaruhi siklus haid perempuan. Ini pula yang membuat penetapan bilangan hari-hari haid menjadi berbeda di kalangan ulama. Demikian diterangkan Imam Nawawi dalam Raudhohnya.

Imam Nawawi dalam Al-Majemuk, Syarah Muhadzdzab menyebutkan sejumlah pendapat ulama yang menyatakan bahwa haid perempuan paling lama 15. Ada lagi yang mengatakan, 17 hari. Ada lagi yang menyatakan, 20 hari.

Pondok Pesantren Tegal

Ibrahim Al-Baijuri dalam hasyiyatul Baijuri ala Fathil Qarib menyebutkan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pendapat muktamad pada kasus haid ini harus dadasarkan pada metode istiqra, induktif dengan menarik prinsip umum dari banyak kasus. Artinya prinsip yang bisa dijadikan pedoman dalam menetapkan batas minimal, maksimal, hingga standar kelaziman haid.

Demikian disebutkan Abdurahman Zaidi dalam karyanya Al-Ijtihad bi Tahqiqil Manath wa Sulthonihi fil Fiqhil Islami, Kairo, Darul Hadits, Halaman 429.

? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ?. ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Para ahli fiqih berbeda pendapat di dalam bilangan lamanya haid. Imam Malik dan imam Syafi’I menyebutkan 15 hari sebagai batasan maksimal. Sementara Imam Hanafi, 10 hari. Sementara tidak ada nash jelas yang menyebutkan ketentuan haid ini. yang jelas, sebab itu tidak bisa dipulangkan pada perbedaan dalil, tetapi pada perbedaan kebiasaan masing-masing perempuan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bersandar pada kaidah ini, bantuan keterangan ahli medis untuk mengetahui kebiasaan haid perempuan sangat dimungkinkan. Demikian halnya pada kasus haid, begitu juga pada kasus nifas.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bila masalah ini tidak bisa dirujuk pada nash secara hakiki-yang mana sebagian dari para ulama merasa nyaman pada sebagian nash-maka dimungkinkan bisa dibantu dengan ketetapan para dokter perihal batasan jenis darah apakah itu memang darah haid, istihadloh, atau nifas. Dengan ini, kesulitan dan kebimbangan perempuan pada isu ini selesai.

Menurut hemat kami, yang lebih pas penetapan jenis darah haid berikut penghitungannya mesti didasarkan pada riset kalangan medis. Mengingat tidak ada nash perihal ini, maka keterangan dokter yang bisa dipercaya akan sangat membantu kita dalam menetapkan apakah darah yang bersangkutan betul darah haid atau bukan.

Jadi, kalau kita memakai patokan sederhana Imam Syafi’i, haid paling lama 15 hari. Lebih dari itu dihukumi sebagai darah istikhadzoh atau darah haid yang tidak lazim dan yang bersangkutan wajib melakukan shalat kembali seperti biasa.

Namun penjelasan dari dokter atau bidan yang mengerti soal ini penting juga sebagai acuan. Pasalnya, makanan, cuaca, macam-macam bahan kimia sudah masuk ke dalam manusia sekarang ini. Itu semua tentu akan memengaruhi darah haid berikut siklus regulernya. Sekali lagi, untuk soal haid, keterangan dokter atau bidan KB sangat membantu untuk menjawab pertanyaan saudari penanya yang terhormat. Wallahu a’lam

Wallahul Muwaffiq ila Aqwami Thoriq.

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Alhafiz K.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Warta, Fragmen, Quote Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

100 Santri di Jawa Timur Ikuti Musabaqoh Kitab Kuning

Sidoarjo, Pondok Pesantren Tegal. Sekitar 100 santri putra dan putri dari berbagai pondok pesantren mengikuti musabaqoh kitab kuning tingkat nasional di Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat Lebo Sidoarjo, Jawa Timur. Acara yang diinisiasi Garda Bangsa, organisasi sayap? Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini juga dimeriahkan ribuan rebana se-Sidoarjo.

Ketua panitia musabaqoh kitab kuning tingkat nasional, Syaikhul Islam Ali mengatakan, ada sekitar 40 pondok pesantren dari Gresik, Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, Lamongan, Bojonegoro, dan Tuban yang tampil di dalam tahap penyisian musabaqoh kitab kuning tingkat nasional tersebut.

"Bagi juara satu, dua putra-putri akan mengikuti babak final di Jakarta pada tanggal 12-13 April 2016. Sedangkan untuk juara tiga dan empat putra-putri akan mengikuti babak final tingkat Jawa Timur di pesantren Denanyar Jombang," kata pria yang akrap disapa Gus Syaikhul ini, Sabtu (2/4/2016).

100 Santri di Jawa Timur Ikuti Musabaqoh Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)
100 Santri di Jawa Timur Ikuti Musabaqoh Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)

100 Santri di Jawa Timur Ikuti Musabaqoh Kitab Kuning

Gus Syaikhul mengemukakan, digelarnya musabaqoh kitab kuning ini adalah untuk membangkitkan semangat generasi muda agar meneladani para ulama serta menumbuhkan semangat berkompetisi para santri untuk menghadapi persaingan global.

Pihaknya berharap, para santri tetap menjaga kelestarian khazana pengetahuan dari para ulama sebagai bekal untuk menghadapi tantangan zaman.

Menurutnya, kitab kuning adalah benteng yang kokoh bagi para santri. Selain itu, kitab kuning dapat menjadi filter bagi para santri dari gempuran budaya luar yang tidak produktif, atau bahkan cenderung merusak.

Pondok Pesantren Tegal

"Kitab yang dipakai dalam musabaqoh ini yaitu kitab Ihya Ulumuddin. Karena kitab tersebut memberikan pesan kepada kalangan pesantren akan pentingnya gerakan deradikalisasi," terangnya.

Gus Syaikhul menambahkan, kitab Ihya Ulumuddin itu merupakan salah satu kitab yang mengajarkan luasnya makna jihad.

"Jihad disini bukan sekadar jihad fisik menghadapi musuh Islam. Akan tetapi, jihad adalah satu upaya menegakkan ajaran agama dalam seluruh sendi kehidupan. Contohnya, jihad melewan kemiskinan, jihad melawan kebodohan, jihad melawan penindasan serta jihad melawan korupsi," pungkas Gus Syaikhul.

Pondok Pesantren Tegal

Sementara itu menurut Wakil Bupati Sidoarjo Nur Achmad Syaifuddin, mengaku bersyukur karena pemerintah mendapatkan bantuan yang luar biasa. Ia menegaskan bahwa seandainya tidak ada pemikian dari para kiai atau ulama di pesantren terutama dari kalangan Nahdliyin, tentu bangsa ini akan sulit mempertahankan NKRI.

"Kita akan berat mempertahankan NKRI jika tidak ada pesantren, kiai dan para ulama dari NU. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berterima kasih atas pemikiran pondok pesantren. Mudah-mudahan acara ini bisa berjalan baik sesuai dengan harapan dan tidak hanya pada momen PKB saja. Karena PKB juga dari para pesantren," ucap pria yang akrap disapa Cak Nur ini. (Ika Auza Riati/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Warta Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Diiringi Shalawat, Kiai Said Resmi Lantik PP Muslimat NU 2016-2021

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Shalawat menggema mengiringi pelantikan Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Selasa (28/3) di Masjid Istiqlal Jakarta. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang melantik para pengurus bangga terhadap tradisi baru yang dilakukan oleh Muslimat NU.

Diiringi Shalawat, Kiai Said Resmi Lantik PP Muslimat NU 2016-2021 (Sumber Gambar : Nu Online)
Diiringi Shalawat, Kiai Said Resmi Lantik PP Muslimat NU 2016-2021 (Sumber Gambar : Nu Online)

Diiringi Shalawat, Kiai Said Resmi Lantik PP Muslimat NU 2016-2021

“Membaca shalawat dalam pelantikan adalah tradisi baik. Muslimat NU mengawalinya. Hal ini menjadi contoh bagi para pengurus lembaga dan banom NU yang lain,” ujar Kiai Said sesaat setelah melantik PP Muslimat NU.

Dalam pembacaan janji dan sumpah pelantikan, Kiai Said menegaskan sejumlah hal terkait loyalitas dan komitmen para pengurus dalam menggerakkan organisasi.

“Apakah ibu-ibu siap untuk menjadi pengurus PP Muslimat NU?” tanya Kiai Said. Pertanyaan ini dijawab tegas dan lantang oleh Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawnasa dibarengi para pengurus lain.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini juga memberikan penegasan kepada para pengurus agar senantiasa setia menjaga NKRI, menjaga bangsa dan negara, menegakkan Ahslussunnah wal Jamaah (Aswaja), serta menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

Pondok Pesantren Tegal

Dalam kegiatan yang juga dirangkai dengan peringatan Harlah ke-71 dan dihadiri oleh sekitar 23.000 kader Muslimat NU ini, hadir Menko PMK Puan Maharani, Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar, Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, dan Nyai Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Budaya, Warta, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Hewan pun Berpuasa untuk Capai Cita-citanya

Khartoum, Pondok Pesantren Tegal. Selain meningkatkan keimanan dan kepekaan sosial, berpuasa juga penting untuk meningkatkan derajat atau kualitas seseorang. Kegiatan menahan serta mengendalikan diri dari hawa nafsu dan perilaku negatif itu ternyata tidak hanya dilakukan oleh manusia, melainkan juga hewan.

“Ulat yang ingin terbang, mula-mula ia harus puasa dulu kemudian menjadi kepompong. Baru setelah melewati puasa kemudian menjadi kupu-kupu yang berterbangan. Ini contoh ulat yang ingin terbang, manusia pun harus puasa,” terang HM Badrussalam Shof, Mustasyar Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan.

Hewan pun Berpuasa untuk Capai Cita-citanya (Sumber Gambar : Nu Online)
Hewan pun Berpuasa untuk Capai Cita-citanya (Sumber Gambar : Nu Online)

Hewan pun Berpuasa untuk Capai Cita-citanya

Kang Badrus, demikian panggilan akrab HM Badrussalam Shof, menyampaikan hal itu saat menjadi penceramah pada pengajian rutin komunitas masyarakat Indonesia di Sudan, yang digelar di ruang serbaguna Kedutaan Besar Republik Indonesia di Khartoum, Jum’at (06/10) lalu. Pengajian tersebut dikelola oleh Lembaga Dawah PCINU Sudan.

Selain Kang Badrus, hadir juga pada pengajian yang mengangkat tema “Puasa, Cara Efektif Melatih Cinta” itu sejumlah petinggi PCINU Sudan, Afifullah Rifai Lc (Rois Syuriah), Gus Ali Zamroni (Katib Syuriah) dan Gus Shohib (Ketua Tanfidziyah).

Menurut Kang Badrus, puasa juga merupakan salah satu acara efektif melatih cinta. Ada sejenis kaidah jiwa, terangnya, bahwa cinta timbul dari rasa sakit. Di situlah yang katanya letak rahasia besar sosial dari hikmah berpuasa. Dengan jelas dan akurat, Islam melarang keras segala bentuk makanan, minuman, aktivitas seks, penyakit hati dan ucapan merasuki perut dan jiwa orang yang berpuasa.

Pondok Pesantren Tegal

“Dari lapar dan dahaga, betapa kita dapat merasakan mereka yang berada di garis kemiskinan, manusia papa yang berada di kolong jembatan, atau kaum tunawisma yang kerap berselimutkan dingin di malam hari atau terbakar terik matahari di siang hari. Ini adalah suatu sistem, cara praktis melatih kasih sayang jiwa dan nurani manusia,” urai Kang Badrus.

“Adakah cara lain yang paling efektif untuk melatih cinta?” tanya Kang Badrus. “Bukankah kita tahu, imbuhnya, bahwa selalu ada dua sistem yang saling terkait; yang melihat dan yang buta, yang cendikia dan yang awam, serta yang teratur dan yang mengejutkan.”

Dijelaskannya, jika cinta antara orang kaya yang lapar terhadap orang miskin yang lapar tercipta, maka untaian hikmah kemanusiaan di dalam diri menemukan kekuasaannya sebagai sang mesias, juru selamat.

Orang yang berpunya dan hatinya selalu diasah dengan puasa, maka telinga jiwanya mendengar suara sang fakir yang merintih. Ia tidak serta-merta mendengar itu sebagai suara mohon pengharapan, melainkan permohonan akan sesuatu hal yang tidak ada jalan lain untuk disambut, direngkuh dan direspon akan makna tangisannya itu. Orang berpunya akan memaknai itu semua atas pengabdian yang tulus. (nus)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Warta, Budaya Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Keistimewaan Puasa Ramadhan

Oleh KH A Mustofa Bisri



Semestinya, kalau melihat sambutan dan pernyataan-pernyataan kaum muslimin menjelang Ramadhan, tentu bulan suci itu adalah bulan yang istimewa. Tapi di manakah letak istimewanya? Apakah hanya pada perubahan jadwal makan, ramainya tarawih keliling, dan lomba ceramah agama, termasuk dagelan-dagelan di televisi? Bukankah selain itu semuanya seperti berjalan sebagaimana biasa?

Keistimewaan Puasa Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Keistimewaan Puasa Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Keistimewaan Puasa Ramadhan

Simaklah media massa, media cetak, atau elektronik; bacalah berita-berita. Bukankah isinya tidak banyak berbeda dengan hari-hari sebelum Ramadhan? Anda masih dapat menikmati gosip selebritas, sinetron percintaan, dan film kekerasan. Anda masih bisa membaca berita, mulai copet yang dikeroyok di pasar hingga korupsi dengan manuver-manuver politikus. Anda masih bisa menyaksikan demo-demo dan tindakan-tindakan kekerasan atas nama agama. Anda masih melihat tokoh-tokoh memamerkan keahliannya mengulas dan memutarbalikkan fakta.

Pondok Pesantren Tegal

Apakah hanya pedagang-pedagang warung yang harus “menghormati” Ramadhan dan mereka yang merusak tatanan justru bisa terus melenggang “melecehkan” kesucian Ramadhan? Atau apakah sebenarnya maksud kita dengan penghormatan terhadap Ramadhan itu?

Bukankah lebih mirip dan cukup jika penghormatan kita terhadap bulan suci itu berupa berpuasa dan beribadah? Mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Suci? Konon puasa berasal dari bahasa Sanskerta: upavasa. “Upa” berarti dekat dan “vasa/wasa” berarti yang maha agung. Upavasa berarti mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung. Mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya adalah yang paling disukai-Nya. Semua perintah Allah adalah untuk kepentingan hamba-Nya. Untuk kesempurnaannya sebagai hamba sehingga pantas dekat dengan-Nya.

Para wali, kekasih Allah, memulai pendekatannya kepada Allah dengan cara itu. Dengan menunjukkan kehambaan mereka yang tulus dan tuntas kepada Tuan mereka. Allah Yang Maha Agung. Melaksanakan segala perintah Tuan adalah prioritas utama hamba sejati. Jadi mereka memulai dari niat dan membersihkan hati.

Pondok Pesantren Tegal

Puasa adalah salah satu perintah Allah yang istimewa. Kebanyakan perintah-perintah Allah sangat rentan terhadap godaan pamer. Shalat, misalnya, yang seharusnya sebagaimana ibadah-ibadah yang lain dan dilaksanakan semata-mata untuk Allah, sering kali pelaksanaannya tak dapat mengelak dari godaan pamer. Puasa, karena sifatnya, lebih jauh dari godaan itu. Kecuali, mereka yang memang maniak pamer, hampir sulit dibayangkan orang yang berpuasa pamer kepada orang lain: menunjukkan puasanya.

Orang yang berpuasa seharusnya adalah orang yang berkeyakinan kuat bahwa puasanya dapat membuat Tuhannya ridha, atau minimal yakin ada pahala untuk puasanya. Kalau tidak, alangkah ruginya berpuasa hanya untuk menahan lapar dan haus.

Semua amal ibadah diganjar minimal 10 kali lipat dan bisa sampai 700 kali lipat dan seterusnya, kecuali puasa. Puasa merupakan ibadah yang hanya Allah sendiri yang tahu seberapa besar Ia akan mengganjarnya. “Kullu ‘amali Ibni Adam lahu illash shiyaam,” kata Allah dalam hadis Qudsi, “fainnahu lii wa anaa ajzii bihi.” (HR Bukhari Muslim dari Abu Hurairah r.a). “Semua amal manusia miliknya, kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku; Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Tulisan ini pernah dimuat di Koran Tempo, Edisi 26 Agustus 2011 dan dimuat ulang Tempo.co pada 08 Juni 2016



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Warta Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Menuju Konfercab, PCNU Jombang Adakan Evaluasi Program Organisasi

Jombang, Pondok Pesantren Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, Jawa Timur mengadakan workshop hasil evaluasi program kepengurusan periode 2012-2017 di aula Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Rabu (29/3).

.

Menuju Konfercab, PCNU Jombang Adakan Evaluasi Program Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Menuju Konfercab, PCNU Jombang Adakan Evaluasi Program Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Menuju Konfercab, PCNU Jombang Adakan Evaluasi Program Organisasi

Acara sengaja dilakukan jelang konferensi cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama (NU) Jombang sebagai bahan pertimbangan untuk konfercab 2017. Pada evaluasi kali ini di fokuskan pada pencapaian program kepengurusan satu periode.

Dalam pelaksanaan kegiatan evaluasi ini dipimpin oleh tim khusus bagian meneliti dan melakukan kajian mendalam terkait program PCNU Jombang. Tim ini di isi oleh Machwai Huda, Mochammad Muchlis, Alfiyah Ahmad, Maghfirul Ridwan, Muhammad Fathoni Mahsun dan Titik Hidayati.

Pondok Pesantren Tegal

Menurut Machwal Huda, dalam melakukan penggalian kinerja kepengurusan PCNU, tim evaluasi melakukan dua metode yakni wawancara dan quitioner. Selain itu, tim juga dibekali dokumen yang dimiliki oleh PCNU, program kerja 5 tahun dan pertahun.

"Tim melakukan evaluasi atas program kerja, antara lain yaitu majalah nahdah yang hanya terbit 5 kali. Di lain sisi, komunikasi antara syuriah, tahfidziyah dan banom sudah bagus, ini harus di lanjutkan untuk kepengurusan selanjutnya," jelasnya

Ia menambahkan, evaluasi ini bukan untuk menyudut satu kepengurusan yang programnya tidak berjalan. Evaluasi disini dimaksud untuk merapikan kepengurusan PCNU dan menuju organisasi yang terbuka serta bersih.

Pondok Pesantren Tegal

"Jangan tersinggung kalau ada kinerja kepengurusan yang dinilai buruk," ujarnya di hadapan puluhan peserta workshop.

Beragam pola dakwah juga disoroti dalam evaluasi ini, pengajaran Aswaja ditingkat LP Maarif, Lazisnu diusahakan masuk keberbagai lapisan masyarakat. Selain itu BMT NU diharapkan hadir disetiap kecamatan di Jombang. Hal itu untuk membentengi warga NU dari berbagai ancaman, misalkan sisi ideologi, tatanan kemasyarakatan, pemerintahan juga terhadap gejolak perekonomian masyarakat.

"Tidak hanya ideologi yang menjadi target evaluasi kita, namun juga integrasi masyarakat, ekonomi, pemerintahan," imbuh dia.

Untuk itu kegiatan evaluasi kepengurusan PCNU pra-Konfercab dirasa sangat tepat untuk membangun sinergi antar berbagai pihak untuk bersama-sama menyelamatkan eksistensi NU di tengah-tengah masyarakat. "NU harus lebih aktif dalam menyoroti permasalahan masyarakat," ungkapnya.

Seperti diketahui, Konfercab NU Jombang akan berlangsung pada 22-23 April 2017 mendatang di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Makam, Humor Islam, Warta Pondok Pesantren Tegal

Senin, 27 November 2017

Muludan, NU Lampung Selatan Keliling Kota Kalianda

Lampung Selatan,Pondok Pesantren Tegal. Memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW pada Sabtu (3/1) siang, PCNU Lampung Selatan menggelar Kirab Maulid dengan mengelilingi kota Kalianda. Kegiatan tersebut  diikuti ribuan peserta dengan 150 berkendaraan motor, 50 kendaraan roda 4.

PCNU Lampung Selatan H.Nur Mahfud mengatakan, kegiatan tersebut berpegang kepada “Almukhafadhotu alal qodimi solih wal akhdu biljadidil aslah (menjaga tardisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang baik pula).

Muludan, NU Lampung Selatan Keliling Kota Kalianda (Sumber Gambar : Nu Online)
Muludan, NU Lampung Selatan Keliling Kota Kalianda (Sumber Gambar : Nu Online)

Muludan, NU Lampung Selatan Keliling Kota Kalianda

PCNU Lampung Selatan, kata dia, melalui kegiatan tersebut ingin mengingatkan kembali kepada nahdliyini dan kahlayak umum tentang sejarah kehidupan Rasulullah Muhammad shollallohu alaihi wasallam. Selain kirab, PCNU juga mengadakan dengan pengajian, sholawatan,

Pondok Pesantren Tegal

Ia berpesan kepada warga NU agar selalu menjaga persatuan dan kestuan ketika melaksanakan kegiatan-kegiatan peringatan hari besar Islam. “Bersama NU kita jadikan Nabi Muhammad saw sebagai suri tauladan dalam kehidupan kita sehari-hari,” imbaunya.

Pondok Pesantren Tegal

Menurut dia, kegiatan ini juga adalah salah satu program PCNU Lampung Selatan dalam rangka memperkenalkan, memberikan pemahaman tentang NU sebagai organisasi Islam beraqidah Ahlussunah wal Jamaah. (M.Munir/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Warta, Pertandingan Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 21 Oktober 2017

JK Nyatakan Siap Bantu Perkembangan NU

Makassar, Pondok Pesantren Tegal. Selasa (9/9), H Muhammad Jusuf Kalla (JK) berkunjung ke Kantor Pengurus Wilayah NU (PWNU) Sulsel dan Universitas Islam Makassar (UIM) untuk pertama kali pasca penetapan Mahkamah Konstitusi sebagai wakil presiden terpilih mendampingi H Joko Widodo.

JK yang tiba di kantor PWNU Sulsel, Makassar, pada pukul 14.30 WITA disambut hangat oleh Rais Syuriyah PWNU Sulsel Anregutta KH Sanusi Baco, Rektor UIM Andi Majdah M Zain, beserta segenap pengurus syuriah, pengurus tanfidziah, dan civitas akademika UIM.

JK Nyatakan Siap Bantu Perkembangan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
JK Nyatakan Siap Bantu Perkembangan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

JK Nyatakan Siap Bantu Perkembangan NU

Dari puncak lantai 5 Kantor NU Sulsel, JK juga meninjau pembangunan UIM dan mengaku kagum atas kepemimpinan NU Sulsel kali ini, termasuk sang rektor, Andi Majdah.

Pondok Pesantren Tegal

Andi Majdah yang juga ketua pembangunan UIM melaporkan beberapa kemajuan NU dan universitas yang dipimpinnya. “Mahasiswa yang kami bina saat ini tiap tahun mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, bahkan kali ini ada sekitar 8000 mahasiswa yang kami bina,” katanya.

Pondok Pesantren Tegal

Perkembangan salah satu kampus unggulan NU tersebut, menurutnya, tak lepas dari komtmen pembangunan Trimatra yang meliputi Nahdlatul Ulama Sulsel, Yayasan Perguruan Tinggi Al Gazali, dan Rektorat. Andi Majdah juga menegaskan, pembangunan baik secara fisik dan mental akan terus dilakukan.

“Dan tentunya kedatangan Bapak Jusus Kalla sebagai orang yang pernah menjabat Ketua Yayasan Al Gazali dan saat ini menjadi Ketua Dewan Penyantun Yayasan Al Gazali Universitas Islam Makassar bisa membawa berkah untuk kemajuan NU dan UIM ke depannya,” tuturnya disambut senyum dan anggukan JK.

JK yang masih berstatus Mustasyar PBNU ini berharap, NU dan Universitas Islam Makassar ke depan memperbanyak ibadah sosial, agar keduanya betul-betul menjadi lokomotif perubahan masyarakat Sulawesi Selatan. Pembangunan infrastruktur dan fasilitas Kantor NU dan UIM yang terus berlangsung akan berfungsi baik, ketika keduanya memberikan sumbangsih yang rill di tengah masyarakat.

“NU dan UIM ke depan mesti mengembangkan pusat-pusat pendidikan, agar NU mampu menjadi perubahan sosial di tengah masyarakat,” katanya sembari menegaskan, ia siap membantu apa yang menjadi kekurangan dari Nahdlatul Ulama, Yayasan Al Gazali dan Universitas Islam Makassar. (Andy/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Pendidikan, Warta, Ubudiyah Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 18 Oktober 2017

PBNU: Gerakan Politik Harus Berasaskan Pancasila

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta masyarakat Indonesia untuk mewaspadai gerakan yang berideologi trans-nasional (antar-negara) yang marak belakangan ini. Pasalnya, gerakan dari ideologi tersebut tidak bersumber dari akar budaya Indonesia sehingga berbahaya bagi keutuhan bangsa.

“Seperti Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, Al-Qaeda, dan lain-lain. Mereka itu bagian dari international political movement (gerakan politik dunia). Mereka menggunakan agama Islam sebagai ideologi politik, bukan sebagai way of life (jalan hidup),” terang Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (23/4)

Karena itu, menurutnya, jika ideologi dari kelompok-kelompok tersebut diterapkan di Indonesia, maka tidak akan cocok karena tidak lahir dari akar budaya, visi kebangsaan, visi keumatan setempat. Jika dipaksakan, maka akan mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

PBNU: Gerakan Politik Harus Berasaskan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Gerakan Politik Harus Berasaskan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Gerakan Politik Harus Berasaskan Pancasila

Hasyim mengatakan, gerakan ideologi trans-nasional itu mulai kuat menggejala di negeri ini. Di antaranya bisa dilihat dari maraknya peraturan-peraturan daerah yang kuat sekali nuansa agamanya, tidak saja Islam, tapi juga agama lain. “Formalisasi seperti ini mestinya dicegah. Seharusnya yang dilakukan bukan formalisasi, tapi substansialisasi agama,” jelasnya.

Untuk mencegah meluas dan berkembangnya ideologi trans-nasional itu, kata Hasyim, solusinya adalah memantapkan penggunaan ideologi yang berasal dari Indonesia sendiri, yakni Pancasila. “Semua gerakan politik harus berasaskan atau berdasarkan Pancasila, tidak boleh ideologi lain,” pungkasnya.

Pondok Pesantren Tegal

“Bukan bermaksud menyeragamkan seperti Orde Baru, tapi mencegah meluasnya ideologi trans-nasional yang bisa mengancam integritas bangsa. Jangan karena Pancasila itu dianggap produk Orde Baru, lantas kita tidak mau berasaskan Pancasila,” tambah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jatim, itu.

Khusus bagi Islam sendiri, tambah Hasyim, yang harus dilakukan adalah memperkuat gerakan Islam moderat. Islam moderat, seperti NU, merupakan gerakan yang khas, berasal dan berkembang di domestik Indonesia. “Islam moderat seperti NU adalah domestik nasional,” tandasnya. (rif)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Warta, Kajian Islam, Quote Pondok Pesantren Tegal

Senin, 28 Agustus 2017

Ratusan Santri Rembang Galang Aksi Seribu Foto Selfie Antiradikalisme

Rembang, Pondok Pesantren Tegal - Rastusan santri di Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang menolak penyebaran radikalisme di Indonesia. Mereka mengadakan aksi “Seribu Foto Selfie Gerakan Santri Antiradikalisme” yang berpusat di aula MA YSPIS Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan, Kamis (18/2) pagi.

Ketua Panitia Pelaksana Aan Ainun Najib mengatakan, aksi ini merupakan buntut dari maraknya pemberitaan tentang bahaya penyebaran kelompok-kelompok radikalisme yang sebagian besar juga menyerang pesantren dan madrasah tertentu.

Ratusan Santri Rembang Galang Aksi Seribu Foto Selfie Antiradikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Santri Rembang Galang Aksi Seribu Foto Selfie Antiradikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Santri Rembang Galang Aksi Seribu Foto Selfie Antiradikalisme

Pihaknya berharap dengan adanya kegiatan semacam ini, para santri akan mengetahui bahaya perilaku dan paham radikalisme. "Memang kami menyosialisasikan bahaya perilaku dan paham radikal ini dengan berfoto selfie karena remaja sekarang hobi berfoto selfie," jelas Wakil Ketua IPNU Rembang tersebut.

Pondok Pesantren Tegal

Aksi ini juga menggalang dukungan dari para pengguna media sosial, baik facebook, twitter maupun instagram dengan menggunakan hashtag #GerakanSantriAntiRadikalisme atau #Ge_SAR.

Pondok Pesantren Tegal

"Kami berharap partisipasi para pengguna media sosial agar turut peduli dalam aksi pencegahan perilaku dan paham radikal ini dengan menggunakan hashtag #GerakanSantriAntiRadikalisme atau #Ge_SAR," pungkasnya.

Dengan menggunakan kertas yang bertuliskan pesan penolakan paham radikal para santri mengekspresikan diri lewat foto selfie. Mereka juga diwajibkan untuk mengikuti hashtag yang telah ditentukan pihak panitia sebagai upaya sosialisasi pencegahan perilaku dan paham radikal lewat media sosial.

Ketua MWCNU Sedan Muhtar Nur Halim mengatakan, pihaknya akan terus mengawal upaya untuk menangkal paham dan perilaku radikal.

"Nanti malam kita akan mengadakan talkshow dengan tema menggugat paham dan perilaku radikal yang mana akan dihadiri ratusan peserta dari remaja-remaja NU yang peduli terhadap upaya penolakan radikalisme," ujar Muhtar di sela-sela mengikuti sesi acara foto selfie.

Peserta yang mayoritas merupakan anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) tampak begitu sangat semangat dalam menggelorakan penolakan terhadap perilaku dan paham radikali.

Turut hadir para pengurus harian IPNU-IPPNU Rembang, serta aktivis pelajar NU dari komisariat IPNU-IPPNU MA YSPIS Gandrirojo. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Warta Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 25 Agustus 2017

ASBIHU Persilahkan PWNU dan PCNU Buka Kantor Perwakilan

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Asosiasi Bina Haji dan Umrah (ASBIHU) Nahdlatul Ulama Tour and Travel mempersilahkan Pengurus Wilayah NU (PWNU) dan Pengurus Cabang NU (PCNU) untuk membuka kantor perwakilan di masing-masing daerahnya.?

ASBIHU melalui manajemen perusahaan PT Al-Abshar Asbihutama Sejahtera memposisikan setiap perwakilannya sebagai rekanan perusahaan. Karena itu, manajemen memberikan insentif berharga bagi perwakilan di seluruh Indonesia yang dikelola PWNU dan PCNU.?

ASBIHU Persilahkan PWNU dan PCNU Buka Kantor Perwakilan (Sumber Gambar : Nu Online)
ASBIHU Persilahkan PWNU dan PCNU Buka Kantor Perwakilan (Sumber Gambar : Nu Online)

ASBIHU Persilahkan PWNU dan PCNU Buka Kantor Perwakilan

Selain mendapatkan biaya khusus perjalanan ibadah umrah, perwakilan juga berkesempatan membawa dan mempimpin jamaah mereka sendiri.

“Siapa pun yang menjadi perwakilan ASBIHU, akan mendapatkan pembiayaan dari perusahaan. Mereka juga punya kesempatan untuk beribadah umrah berkali-kali,” terang Direktur PT Al-Abshar Asbihutama Sejahtera, H Hafidz Taftazani.

Tak hanya kepada perwakilan ASBIHU, insentif juga diberikan kepada wilayah dan cabang NU di setiap daerah yang memiliki perwakilan ASBIHU. Besarnya insentif senilai US$10 per jamaah di tingkat wilayah dan US$20 per jamaah di tingkat cabang.

Pondok Pesantren Tegal

Pemberian insentif kepada cabang dan wilayah NU tidak mengharuskan cabang dan wilayah bersangkutan untuk mendapatkan jamaah umrah dan melakukan perjalanan ibadah umrah melalui ASBIHU Tour and Travel.?

Sebaliknya, pemberian insentif juga tidak mengikat perwakilan untuk menjadi bagian dari pengurus cabang dan wilayah NU. Artinya, perwakilan juga bisa berasal dari non-pengurus NU maupun banom/lembaga NU.

Pondok Pesantren Tegal

Hafidz menegaskan, pemberian insentif kepada cabang dan wilayah semata-mata sebagai bentuk penghargaan karena jamaah umrah berada di wilayah dan cabang NU.?

“Namanya ibadah umrah, jamaahnya berada di wilayah dan cabang. Insentif diberikan karena cabang dan wilayah memiliki jamaah atau warga yang berangkat umrah melalui ASBIHU. Dengan adanya insentif kepada cabang dan wilayah, perwakilan sudah melakukan imbal balik kepada cabang dan wilayah,” kata pria yang juga menjabat Bendahara PBNU ini.

Pemberian insentif dilakukan pada akhir tahun dengan mengakumulasi banyaknya jamaah yang melakukan ibadah umrah melalui ASBIHU Tour and Travel. Pihaknya berharap dengan pemberian insentif ini akan memotivasi setiap cabang dan wilayah serta setiap perwakilan untuk menjadi mitra ASBIHU.

“Kami harapkan PWNU dan PCNU mulai tahun ini mendapatkan insentif atau fee tersebut,” kata Hafidz seraya menambahkan bahwa sementara ini sistem pemberian insentif yang sudah berjalan kebanyakan adalah di Wilayah Jawa Tengah.

Saat ini, ASBIHU Tour and Travel telah memiliki 60 perwakilan di seluruh Indonesia. “Selain di Jawa Tengah, perwakilan juga tersebar di Bekasi, Sukabumi, Lampung, Malang, dan Banjarmasin,” kata Hafidz.?

Jumlah perwakilan diyakini Hafidz akan terus meningkat seiring dengan kesadaran umat Islam akan pentingnya menjalankan ibadah umrah. Tentu upaya ini bisa menjadi potensi usaha bagi PWNU dan PCNU itu sendiri untuk menggerakkan roda organisasi secara dinamis. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Tokoh, Warta Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 27 Juli 2017

Ekonomi Ditata dari Orientasinya

Oleh KH Abdurrahman Wahid. Sejak kemerdekaan di tahun 1945, orientasi ekonomi kita banyak ditekankan pada kepentingan para pengusaha besar dan modern. Di tahun 1950-an, dilakukan kebijakan Benteng, dengan para pengusaha pribumi atau nasional memperoleh hampir seluruh lisensi, kredit dan pelayanan pemerintah untuk “mengangkat” mereka. Hasilnya adalah lahir perusahaan “Ali-Baba” , yaitu dengan mayoritas pemilikan ada di tangan para pengusaha pribumi (Ali) dan pelaksana perusahaan seperti itu dipimpin oleh keturunan Tionghoa (Baba). Ternyata, kebijakan itu gagal. ‘Si Baba’ atau pengusaha keturunan Tionghoa, karena ketekunan dan kesungguhannya mulai menguasai dunia usaha, baik yang bersifat peredaran/perdagangan barang-barang maupun pembuatan/produksinya, walau adanya pembatasan ruang gerak warga negara keturunan Tionghoa, untuk tidak aktif/memimpin di bidang-bidang selain perdagangan.

Demikian pula dengan sistem quota dalam pendidikan, mau tidak mau mempengaruhi ruang gerak warga negara keturunan Tionghoa di bidang perdagangan saja. Mereka dengan segera memanfaatkan kelebihan uang mereka, untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka di luar negeri. Karena tidak terikat dengan sistem beasiswa yang disediakan pemerintah untuk berbagai bidang studi, mereka lalu memanfaatkan pendidikan luar negeri yang memberikan perhatian lebih besar kepada pendidikan berbagai bidang seperti, teknologi, produksi, kimia, komunikasi terapan, kemasan (package), pemasaran, penciptaan jaringan (networking) dan permodalan. Di tahun-tahun terakhir ini, para pengusaha keturunan Tionghoa itu bahkan sudah mencapai tingkatan kesempurnaan (excellence) dalam bidang-bidang tersebut, seperti terbukti dari hasil-hasil yang dicapai anak-anak mereka di luar negeri.

Ekonomi Ditata dari Orientasinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ekonomi Ditata dari Orientasinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Ekonomi Ditata dari Orientasinya

Karena itu tidaklah mengherankan, jika lalu dunia usaha (bisnis) mereka kuasai. Para manager/pimpinan usaha ada di tangan mereka, bahkan hal itu terasa pada tingkat usaha di bidang keuangan/finansial. Bahkan Bulog dan Dolog hampir seluruhnya berhutang uang pada mereka. Sehingga praktis merekalah yang menentukan jalannya kebijakan teknis, dalam hal-hal yang menyangkut sembilan macam kebutuhan pokok bangsa. Tidak mengherankan jika lalu ada pihak yang merasa, ekonomi negeri kita dikuasai oleh keturunan Tionghoa. Itu wajar saja. Bahkan lontaran emosional itu akan menjadi sangat berbahaya, jika ditutup- tutupi oleh pemerintah dan media dalam negeri. Namun, harus segera ditemukan sebuah kerangka lain, untuk menghindarkan lontaran-lontaran perasaan yang emosional seperti itu. Janganlah berbagai reaksi itu, lalu berkembang karena dipercaya oleh orang banyak.

Pondok Pesantren Tegal

Kesenjangan kaya-miskin yang terus menjadi besar dalam kenyataan, maka diperlukan sebuah penataan ekonomi bangsa kita. Bagaimanapun juga harus diakui, bahwa apa-apa yang terbaik di negeri kita, dikuasai/dimiliki oleh mereka yang kaya, baik golongan pribumi maupun golongan keturunan Tionghoa. Namun untuk menyelamatkan diri dari kemarahan orang melarat, baik yang merasa miskin ataupun yang memang benar-benar tidak menguasai/memiliki apa-apa, maka elite ekonomi/orang kaya kalangan pribumi selalu meniup-niupkan bahwa perekonomian nasional kita dikuasai/dimiliki para pengusaha golongan keturunan Tionghoa. Karena memang selama ini media nasional dan kekuasaan politik selalu berada di tangan mereka, dengan mudah saja pendapat umum dibentuk dengan menganggap golongan keturunan Tionghoa, yang lazim disebut golongan non-pribumi, sebagai penguasa perekonomian bangsa kita.

Kesan salah itu dapat segera dibetulkan dengan sebuah koreksi total atas jalannya orientasi perekonomian kita sendiri. Koreksi total itu harus dilakukan. Orientasi yang lebih mementingkan pelayanan kepada pengusaha besar dan raksasa, apapun alasannya, termasuk klaim pertolongan kepada pengusaha nasional “pribumi”, haruslah disudahi. Sebenarnya yang harus ditolong adalah pengusaha kecil dan menengah, seperti yang diinginkan oleh Undang-undang Dasar kita, maupun berbagai peraturan yang lain. Dengan demikian tidaklah tepat mempersoalkan “pribumi” dan “non-pribumi”, karena persoalannya bukan terletak di situ, masalahnya adalah kesenjangan antara kaya dan miskin.

Pondok Pesantren Tegal

Jadi, yang harus dibenahi, adalah orientasi yang terlalu melayani kepentingan orang-orang kaya, atas kerugian orang miskin. Kita harus jeli melihat masalah ini dengan kacamata yang jernih. Perubahan orientasi itu terletak pada dua bidang utama, yaitu pertolongan kepada UKM, Usaha Kecil dan Menengah dan upaya mengatasi kemiskinan. Kedua langkah itu harus disertai pengawasan yang ketat, disamping liku-liku birokrasi, yang memang merupakan hambatan tersendiri bagi upaya memberikan kredit murah kepada UKM. Padahal saat ini, apapun upaya yang dilakukan untuk menolong UKM, selalu menghadapi hambatan. Jadi, haruslah dirumuskan kerangka yang tepat untuk tujuan ini. Dan tentu saja, upaya mengatasi kemiskinan menghadapi begitu banyak rintangan dan hambatan, terutama dari lingkungan birokrasi sendiri.

***

Padahal tujuan pemerintah dan kepemimpinan dalam pandangan Islam adalah maslahah ‘âmmah, yang secara sederhana diterjemahkan dengan kata kesejahteraan. Kata kesejahteraan ini, dalam Undang-undang Dasar kita, dinamakan keadilan dan kemakmuran. Sekaligus dalam pembukaan UUD 1945 diterangkan, bahwa tujuan bernegara bagi kita semua diibaratkan menegakkan masyarakat yang adil dan makmur. Ini juga menjadi sasaran dari ketentuan Islam itu, dengan pengungkapan “kebijakan dan tindakan seorang pemimpin atas rakyat yang dipimpinnya, terkait langsung dengan kepentingan rakyat yang dipimpinnya (tasharruful imâm ‘alâr-ra’iyyah manûthun bil- mashlahah).”

Dalam bahasa sekarang, sikap agama seperti itu dirumuskan sebagai titik yang menentukan bagi orientasi kerakyataan. Itulah yang seharusnya menjadi arah kita dalam menyelenggarakan perekonomian nasional. Bukannya mempersoalkan asli dan tidak dengan latar belakang seorang pengusaha. Pandangan picik seperti itu, sudah seharusnya digantikan oleh orientasi perekonomian nasional kita yang lebih sesuai dengan kebutuhan mayoritas bangsa.

Masalahnya sekarang, perekonomian nasional kita terkait sepenuhnya dengan persaingan bebas, keikutsertaan dalam perdagangan internasional yang bebas dan mengutamakan efisiensi rasional. Karenanya orientasi ekonomi rakyat harus difokuskan kepada prinsip “menjaga dan mendorong” UKM. Namun sebelumnya dalam hal ini adalah, keharusan merubah orientasi perekonomian nasional itu sendiri.

*) Diambil dari Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute). Tulisan ini pernah dimuat di Memorandum, 3 Januari 2003.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Warta Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 18 Juli 2017

Ketum Pagar Nusa: Rekrut Pendekar Pagar Nusa dengan Cara Kreatif

Temanggung, Pondok Pesantren Tegal. Sebanyak 323 pendekar berkumpul di SMK Nahdlatul Ulama Kabupaten Temanggung, Sabtu (28/10). Seratus delapan puluh pendekar berasal dari Temanggung, 54 dari Magelang, dan 89 berasal dari Wonosobo. 

Dalam perhelatan akbar se-Eks Karesidenan Kedu tersebut mengambil tajuk Istighosah dan Gemblengan Ilmu Hikmah Pagar Nusa se-Eks Karesidenan Kedu.

Ketum Pagar Nusa: Rekrut Pendekar Pagar Nusa dengan Cara Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum Pagar Nusa: Rekrut Pendekar Pagar Nusa dengan Cara Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum Pagar Nusa: Rekrut Pendekar Pagar Nusa dengan Cara Kreatif

Ketua Umum Pagar Nusa, yang hadir pada kesempatan itu menyampaikan harapannya agar kegiatan-kegiatan Pagar Nusa ke depan bisa berlanjut, berjenjang dan lebih inovatif.

“Mari kita persubur dengan aneka kegiatan di berbagai tingkatan, baik itu Kejurkab maupun Kejurda,” katanya.

Ia meminta pengingkatan kualitas dan kuantitas para pendekar Pagar Nusa.

Pondok Pesantren Tegal

“Melalui rekriutmen anggota baru dengan cara-cara yang kreatif,” tandasnya. 

Ketua PCNU Temaggung KH Muhammad Furqon, menegaskan pendekar Pagar Nusa harus siap menjadi benteng ulama.

Pondok Pesantren Tegal

“Kader penggerak bangsa yang memiliki kompetensi kanuragan, juga cerdas secara intelektual, dan siap berjuang untuk lebih dikenal tak hanya lokal dan interlokal, namun hingga go internasional,” ungkap Gus Furqon, panggilan akrabnya.

Acara semakin padat dan sarat kandungan hikmah, karena selain istighosah, juga ditampilkan Salam Pagar Nusa dan Silat Budaya, Atraksi Pagar Nusa, Prasetya Pagar Nusa dan ditutup dengan Tumpengan Selamatan dan Gemblengan Ilmu hikmah (kanuragan) khusus yang diberikan kepada para pendekar yang hadir itulah acara yang terlaksana malam tersebut.

Pagar Nusa Temanggung yang selama ini didukung LP Maarif mengalami perkembangan yang cukup pesat. Dalam kurun waktu tak lama banyak pendekar Pagar Nusa bermunculan, termasuk jajaran panitia kegiatan ini juga digawangi salah satu pendekar yang juga sebagai Kepala Madrasah Ibtidaiyah di Temanggung.

“Dengan adanya kegiatan istighosah dan gemblengan ilmu hikmah ini, kami sangat berharap bisa menjadi media untuk lebih menebalkan Ilmu Kanuragan dan tenaga bagi para Pendekar,” ungkap Eko Purwanto, Ketua Panitia.

Ia sangat berharap kegiatan malam itu sebagai awal untuk membumikan Pagar Nusa di eks- Karesidenan Kedu, sehingga mampu menjadi benteng ulama yang berujung menjadi benteng NKRI. (Ja’far/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Hadits, Warta, Aswaja Pondok Pesantren Tegal