Minggu, 16 November 2014

Jokowi: Perbedaan Pilihan Politik Jangan Memecah Belah Persatuan

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Presiden RI Joko Widodo bersama ibu negara Iriana kembali menyalurkan hak pilihnya dalam Pilkada DKI Jakarta putaran kedua di TPS 04 Kelurahan Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (19/4). Seperti halnya pada putaran pertama, Jokowi memberikan pernyataan singkat usai melakukan pencoblosan.

Jokowi: Perbedaan Pilihan Politik Jangan Memecah Belah Persatuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi: Perbedaan Pilihan Politik Jangan Memecah Belah Persatuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi: Perbedaan Pilihan Politik Jangan Memecah Belah Persatuan

Mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta ini meyakini, Pemilihan Gubernur DKI Jakarta ini akan menghasilkan pemimpin yang terbaik dan terpercaya.

“Sebab itu perbedaan pilihan politik jangan sampai memecah belah persatuan kita. Karena kita ingat, kita semua bersaudara,” ujar Jokowi didampingi Mensesneg Pratikno, Wali Kota Jakarta Pusat Mangara Pardede, dan Camat Gambir Fauzi.

Menurut ayah tiga anak ini, apapun hasilnya dan siapapun yang terpilih harus diterima oleh seluruh kalangan dengan lapang dada.

Pondok Pesantren Tegal

Setelah menyampaikan pernyataan resminya, Jokowi yang mengenakan kemeja khas putihnya langsung meninggalkan TPS 04 Gambir. Terlihat sejumlah aparat Kepolisian dan TNI berjaga dan mengatur lalu lintas di sekitar TPS.?

Di Pilkada DKI Jakarta putaran kedua ini, personil polisi dan TNI dikerahkan untuk menjaga setiap TPS. Formasi 1 Polisi dan 1 TNI ditempatkan di setiap TPS dengan dibantu oleh Personil Linmas.?

Pondok Pesantren Tegal

Menurut keterangan Mabes Polri, sebanyak 65.000 aparat gabungan dari Polri, TNI, Pemda, dan Perlindungan Masyarakat (Linmas) diterjunkan untuk membantu pengamanan jalannya pemungutan suara. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Habib, Doa, Nasional Pondok Pesantren Tegal

Senin, 29 September 2014

Ini Cara Melaporkan Akun-akun Radikal di Twitter

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal

Narasi ekstrimisme begitu masif dan viral di media sosial, khususnya Twitter Konten ini sampai mampu menjadi image Islam yang seolah identik dengan kekerasan, perang, dan bom. Dasar ini adalah salah satu alasan bagi The Wahid Institute untuk menggandeng Twitter Indonesia untuk menggelar Workshop Tweet For Peace bersama puluhan aktivis media.

Ini Cara Melaporkan Akun-akun Radikal di Twitter (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Melaporkan Akun-akun Radikal di Twitter (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Melaporkan Akun-akun Radikal di Twitter

Menurut salah satu narasumber dari pihak Twitter Indonesia Roy Simangunsong, twitter memang dibangun berdasarkan konsep freedom of expressions atau kebebasan berekspresi para penggunanya.

“Tetapi kebebasan berekspresi tetap harus menjunjung tanggung jawab dan etika. Sebab itu, Twitter sangat mendukung dalam memerangi radikalisme,” tegas Roy.

Roy mengajak kepada para pengguna twitter untuk melaporkan akun-akun radikal yang berpotensi ke tindakan terorisme dengan melaporkan ke platform yang disediakan oleh Twitter yaitu dengan mengakses: support.twitter.com/forms.

Untuk mendukung gerakan radikal di media sosial, lanjut Roy, twitter juga menyediakan berbagai tools (alat) yang dapat dimanfaatkan oleh para pengguna. Hingga saat ini menurut Roy, tagar atau hashtag merupakan tools yang sangat efektif untuk mempopulerkan konten atau pesan damai. Selain itu, banyak tools-tools lain yang bisa dimanfaatkan.

Pondok Pesantren Tegal

“Namun demikian, partisipasi aktif dalam menyampaikan konten dan informasi yang baik sangat penting. Karena Twitter juga sangat menekankan konten yang beretika di Twitter,” tutur Roy.

Kegiatan workshop ini dihadiri oleh puluhan aktivis media dan komunitas yang aktif dalam menangkal serta memerangi radikalisme dan terorisme di dunia maya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Tegal Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 14 September 2014

Kaderisasi Miliki Peran Penting dalam Organisasi

Jember, Pondok Pesantren Tegal. Hidup matinya sebuah organisasi sangat tergantung pada kaderisasi. Jika kaderisasi lancar, maka organisasi tersebut bisa ‘survive’. Sebaliknya, jika kaderisasi stagnan, maka umur organisasi itu tinggal menunggu waktu. Hal tersebut diungkapkan Ketua Pengurus Cabang IPNU Kencong, Jember, Jawa Timur, Muhammad Mansur saat menyampaikan materi dalam acara Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) IPNU-IPPNU di aula MA Yunisma, Kencong, Rabu (28/9).?

Kaderisasi Miliki Peran Penting dalam Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaderisasi Miliki Peran Penting dalam Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaderisasi Miliki Peran Penting dalam Organisasi

Menurutnya, kaderisasi sangat penting dan harus dilakukan secara terus-menerus agar organisasi tak kekurangan kader. “Demikian juga IPNU-IPPNU, tak boleh berhenti melakukan kaderisasi. Semakin banyak kader atau anggota maka kita semakin kokoh. Semakin banyak yang memahami nilai-nilai Aswaja sekaligus mendakwahkannya,” ucapnya.

Mahasiswa semester akhir Jurusan Matematika FKIP Univeritas Islam Jember tersebut ? menambahkan, dalam hal pengkaderan, IPNU-IPPNU ? selalu berada di garda terdepan dan paling awal memperkenalkan NU kepada pelajar. IPNU-IPPNU-lah yang pertama kali keluar masuk sekolah untuk merekrut anggota.?

Baru setelah “lulus” IPNU-IPPNU, mereka aktif di berbagai ? organisasi sayap atau Banom NU yang lain. Dengan demikian, maka sesunguhnya IPNU-IPPNU merupakan ujung tombak untuk menanamkan pondasi ke-NU-an di kalangan pelajar.?

“Itu tugas mulya dan amanah yang wajib kita laksanakan. Dari sinilah banyak tokoh bahkan pemimpin bangsa muncul. Anggota IPNU-IPPNU saat ini adalah calon pemimpin ? NU di masa depan, dan kami harus bangga dengan itu semua,” tukasnya.

Pondok Pesantren Tegal

Makesta itu sendiri berlangsung selama dua hari dan diikuti oleh 60 orang peserta. Sebelum menyampaikan meteri, Mansyur melakukan pembai’atan terhadap peserta Makesta. Sejumlah narasumber dihadirkan untuk mengasah sekaligus memperluas wawasan mereka mengenai soal kepemimpinan, organisasi dan tentu saja soal ke-NU-an. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)

Pondok Pesantren Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Makam, Halaqoh, Tegal Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 29 Agustus 2014

Nasihat Mufti Syiria dan Aljazair untuk Para Santri

Situbondo, Pondok Pesantren Tegal. Puncak kunjungan para mufti di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo (P2S3) diakhiri di Masjid Jami Ibrahimy. Dua mufti yakni Syekh Prof DR Wahbah Zuhaily (Syiria) dan Syekh Abdul Karim Dibaghi (Aljazair) berkesempatan menyampaikan pesan kepada ribuan santri dan pengurus pesantren.

Pada kesempatan tersebut Syekh Wahbah Zuhaili mengingatkan para pengurus dan ribuan santri yang hadir untuk bersungguh-sungguh dalam belajar. Karena ilmu pengetahuan tidak akan diraih tanpa kesungguhan.

Nasihat Mufti Syiria dan Aljazair untuk Para Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasihat Mufti Syiria dan Aljazair untuk Para Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasihat Mufti Syiria dan Aljazair untuk Para Santri

Pada akhir ulasannya, pengarang kitab al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu ini mendoakan pengasuh, para pengurus, dan santri demi kebaikan dan kejayaan pesantren.   

Pondok Pesantren Tegal

Pada kesempatan kedua, Syekh Abdul Karim Dibaghi mengingatkan para santri agar tidak hanya belajar ilmu tapi juga disertai memahami rahasia dan nur dari ilmu pengetahuan yang tengah dipelajari.

Ulama Aljazair ini juga menandaskan bahwa para santri P2S3 hendaknya merasa bangga karena pengasuhnya, KHR A Azaim Ibrahimy adalah santri dari guru di Makkah yakni Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani yang memiliki hubungan langsung hingga Nabi Muhammad SAW.

Pondok Pesantren Tegal

"Syekh Azaim adalah berasal dari keturunan orang shaleh dan langsung bersambung dengan Rasulullah SAW," terangnya Ahad (30/3).

Ia juga mengajak para santi untuk belajar dengan bekal seperti anjuran kitab Talim Mutaallim, yakni kecerdasan, ketamakan terhadap ilmu, kesabaran, biaya, petunjuk guru, serta waktu yang lama.

"Para santri jangan malas. Miliki tekad kuat serta mengamalkan ilmu yang telah diperioleh dalam keseharian," tuturnya.

Pada kesempatan terakhir, ia juga mendoakan kemajuan pesantren dan kebaikan bagi pengasuh, pengurus serta para santri dalam berkhidmat di pesantren dan masyarakat. Tidak lupa ia berdoa untuk negeri ini agar dijauhkan dari bencana dan musibah. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Sejarah, Nahdlatul Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 08 Agustus 2014

Menengok Toleransi Beragama di Masa Majapahit

Saling menghargai dan menghormati sesama warga merupakan ajaran yang sudah diberikan oleh nenek moyang kita sejak Indonesia belum bernama ‘Indonesia’. Hal itu bisa kita ketahui dari kerajaan besar yang pernah berdiri dan berkembang pesat di wilayah Nusantara seperti Majapahit pada sekitar abad ke-13 M.?

Apakah kerajaan Majapahit mengajarkan persatuan dan kesatuan? Hal itu bisa kita lihat dari novel yang ditulis Langit Kresna Hariadi dengan Judul Gajah Mada. Buku Gajah Muda merupakan cerita Kerajaan Majapahit dengan menyoroti kebesaran Mahapatihnya, Gajah Mada. Buku ini terdiri dari lima seri dengan judul besar yang sama, yaitu Gajah Mada.?

Dari kelima seri buku tersebut, buku Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa merupakan buku kelima yang mengisahkan tentang Gajah Mada yang mengundurkan diri dari jabatan Mahapatih. Pengunduran tersebut dikarenakan tragedi Perang Bubat yang menjadi tragedi berdarah antara kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Sunda Galuh. Tragedi tersebut menyeret Gajah Mada yang pada saat itu bertindak sebagai Mahapatih menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Sampai pada akhirnya, Gajah Mada meninggalkan jabatannya dan yang pada awalnya mengambil sumpah Hamukti Palapa untuk menyatukan Nusantara, kini memilih Hamukti Moksa di tempat yang selanjutnya dinamakan Madakaripura.?

Menengok Toleransi Beragama di Masa Majapahit (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Toleransi Beragama di Masa Majapahit (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Toleransi Beragama di Masa Majapahit

Madakaripura merupakan tanah perdikan milik mahapatih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit. Tanah perdikan tersebut saat ini lebih terkenal dengan air terjunnya yang terletak di Dusun Branggah, Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang,Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur.?

Dalam novel tersebut, terdapat cuplikan perisitiwa yang menunjukkan bagaimana kuatnya saling menghormati dan menghargai pada masa Majapahit. Pengarang menceritakan mahapatih Gajah Mada dalam perjalanannya saat menuju tanah perdikan mengalami berbagai peristiwa. Salah satunya yaitu ? peristiwa yang terjadi di ? Perkampungan Pamadan. Kampung Pamadan merupakan sebuah desa yang harus dilalui ketika akan menuju tempat Madakaripura tersebut.?

Saat itu, Gajah Mada mendapati perkampungan dalam keadaan sepi. Padahal ketika beberapa kali didatanginya merupakan tempat yang amat hidup dan penuh geliat. Gajah Mada bertanya-tanya dalam hati. Ke mana perginya mereka. Untuk memastikan penasarannya, ia memutuskan berbelok ke sebuah rumah. Namun, setelah mencoba masuk ke dalam rumah, ia tidak mendapati seorang pun di sana. Akhirnya, Gajah Mada memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.?

Pondok Pesantren Tegal

Setelah berpacu dengan kudanya beberapa saat, ia melihat ada hal yang berbeda. Sebuah rumah, merupakan satu-satunya rumah yang mengalami nasib berbeda, hangus terbakar dan dengan kasat mata terlihat adanya jejak-jejak perusakan. Berbekal pengalaman yang dimiliki sebagai mantan pasukan khusus Bhayangkara, ia mencoba menelusuri jejak hangusnya tersebut.?

Pada akhirnya, Gajah Mada terbelalak melihat pemandangan yang mendebarkan dari ketinggian tempatnya berada. Ia melihat sekelompok orang dalam sebuah barisan berhadapan dengan kelompok lain yang bersikap sama. Dua kelompok itu terlihat seperti sedang bersiap untuk berperang habis-habisan. Selanjutnya, mereka diketahui berasal dari orang-orang yang berasal dari desa Saleces dan desa Pamadan.?

Pondok Pesantren Tegal

Konflik itu tersulut oleh peristiwa yang bermula dari anak gadis Ki Buyut Saleces yang dibawa lari oleh Ki Pintasmerti. Hal itu sertamerta dilakukan akibat dari penolakan secara mentah-mentah dari Ki Buyut Saleces, pemimpin dari desa Saleces, yang anak gadisnya dipinang oleh Ki Pintasmerti, pemimpin dari desa Pamadan. Penolakan itu mempunyai dua alasan. Pertama, anak gadisnya telah dijodohkan dengan kerabat bangsawan Lumajang. Alasan kedua yaitu dari pihak Ki Buyut Saleces beragama Syiwa, sedangkan Ki Pintasmerti menganut Budha. Akhirnya, imbas dari perseteruan tersebut adalah bentrok dari kedua warga tersebut.

Sebelum terjadi perpecahan yang menimbulkan korban, akhirnya Gajah Mada menampakkan diri di tengah-tengah dua kelompok itu. Ia meminta keterangan lebih lanjut dari dua pihak yang berseteru. Sampai pada akhirnya, ia mengetahui bahwa sebenarnya kedua anak mereka saling mencintai. Namun, karena alasan yang sudah disebutkan di atas, mereka akhirnya melakukan tindakan tersebut. Selain itu, Gajah Mada juga terkejut dengan fenomena yang ada di warga Saleces, bahwa mereka semua menganut Syiwa. Setelah Gajah Mada bertanya kepada warga, ternyata Ki Buyut Saleces sebagai pemimpin melarang warganya menganut ajaran selain Syiwa. Jika ada yang menganut Budha, Ki Buyut mengancam mereka.?

Dari pengakuan tersebut, pada akhirnya Gajah Mada dengan suara lantang menjelaskan bahwa Majapahit memberikan pengakuan kepada agama Syiwa dan agama Budha serta meminta kepada semua penganutnya untuk hidup rukun dan berdampingan. Hal itu semuanya diatur dalam Tripaksa. Karena mereka udah melakukan kesalahan, mereka disuruh menghadap ke kotaraja Majapahit untuk menghadap Prabu dan meminta hukuman yang setimpal.

Pada akhirnya, dengan karisma yang dimiliki oleh Gajah Mada, mereka menghadap kepada Prabu serta meminta hukuman yang setimpal atas perbuatannya dalam melanggar aturan toleransi yang terkandung dalam Tripaksa tersebut.

Gambaran yang dilakukan oleh penulis buku ini membawa pembaca untuk menyelami kurun waktu abad ke-13 M. Pembaca dapat memahami Majapahit secara historis, geneologis, dan ideologis. Tokoh-tokoh yang terdapat dalam kerajaan Majapahit juga dapat pembaca temukan di dalam buku yang banyak menghadirkan rujukan buku sejarah dan kitab kuno yang ditulis oleh Empu Prapanca secara otoritatif ini.

Kajian buku yang mengupas habis sejarah kebesaran Majapahit pada masa mahapatih Gajah Mada ini, menggambarkan betapa besar dan luasnya pengaruh yang disebarkan oleh nenek moyang kita terdahulu. Bahkan, sebelum Pancasila lahir sebagai dasar negara, fenomena kehidupan yang ditampilkan dalam buku ini sudah menerapkan itu semua. Bahkan, sila ketiga menyebutkan bahwa negara kita menjadikan asas persatuan sebagai landasan bangsa, hal itu sudah diajarkan jauh sebelum Indonesia menjadi seperti sekarang. Persatuan itu tidak hanya kelompok-kelompok tertentu saja, entah kelompok suku maupun agama, tetapi persatuan yang dibingkai melalui keragaman budaya serta agama yang menjunjung tinggi toleransi.?

Review buku secara singkat ini tentu belum menghadirkan semua informasi dan gagasan penulis buku secara utuh sehingga pembaca dapat memahami lebih jauh lagi dengan membaca bukunya secara langsung. Selamat membaca!

Identitas buku:

Judul Buku ? ? : Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa

Penulis ? ? ? ? ? : Langit Kresna Hariadi

Tebal ? ? ? ? ? ? ? : 574 halaman

Cetakan ? ? ? ? ? : Keenam, Desember 2008

Penerbit ? ? ? ? ? : Tiga Serangkai Solo

ISBN ? ? ? ? ? ? ? ? : 979 33 0712 9

Peresensi ? ? ? : M. Ilhamul Qolbi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kiai Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 20 Juli 2014

Semangat NU Care Bantu Pesantren Tahfidh di Bogor

Bogor, Pondok Pesantren Tegal

Mendung yang menggantung di langit Pondok Pesantren Annur di Jalan Cibeureum Gang Menteng, Kampung Nyalindung, Desa Sukamantri Kecamata Tamansari, Bogor Jawa Barat sejak sebelum shalat Jumat (24/30) berubah jadi hujan. Selama dan beberapa saat setelah pelaksanaan shalat, hujan masih turun, hingga perlahan berubah gerimis.

Semangat NU Care Bantu Pesantren Tahfidh di Bogor (Sumber Gambar : Nu Online)
Semangat NU Care Bantu Pesantren Tahfidh di Bogor (Sumber Gambar : Nu Online)

Semangat NU Care Bantu Pesantren Tahfidh di Bogor

Suasana basah dan dingin mengantar jamaah shalat Jumat terutama penduduk sekitar meninggalkan masjid di kompleks pesantren. Keadaan menjadi hangat saat beberapa santri menabuh rebana, membawakan musik hadrah. Sementara para santri lainnya mendendangkan shalawat.

Setelah sajian musik hadrah dan shalawat, Ustadz Fathurrohman, salah satu pengajar di pesantren tersebut, mengumumkan bahwa siang itu Pondok Pesantren Annur kedatangan tamu.

Pondok Pesantren Tegal

Kepada para tamu, Ustadz Fathurrohman menjelaskan Pondok Pesantren Annur merupakan pesantren tahfidh Al-Qur’an. Dirintis pada tahun 2007, semula pesantren itu hanya memiliki delapan santri. Berdiri di atas lahan seluas 1, 8 hektar, Pesantren Annur dibangun atas cita-cita H Amran yang ingin mewadahi para yatim dan dhuafa untuk menghafal Al-Quran.

Pondok Pesantren Tegal

“Perkembangan berikutnya, dilihat dari hasil yang cukup memuaskan terbukti dengan hafalan yang baik, masyarakat mulai tertarik untuk menitipkan anak mereka menghafal Al-Quran di sini,” kata Ustadz Fathurrohman.

Saat ini ada 125 santri di Pesantren Annur. Para santri yang berada pada rentang usia SMP-SMA, berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka belajar secara gratis di pesantren tersebut, baik untuk makan, tempat tinggal, maupun biaya pendidikan. Sementara alumninya banyak yang meneruskan belajar maupun mengabdikan diri di berbagai tempat termasuk luar negeri seperti Qatar dan Turki. ?

Para tamu yakni tim NU Care LAZISNU siang itu datang ke pondok pesantren Annur untuk menyerahkan bantuan berupa beras seberat 1,5 ton.

“Setelah saya bertemu dengan dan berbicara dengan para pengasuh dan ustadz di Pesantren Annur, saya dipenuhi pikiran apa yang bisa kami (NU Care) lakukan. Adalah? tanggung jawab kita untuk saling berbagi. Kalau ada sedikit yang kami salurkan sekarang, ini adalah apresiasi dan penghormatan kepada para santri di sini,” kata Samsul.

Menurutnya, suasana menyenangkan dan melegakan di pondok pesantren sebagai tempat belajar harus selalu diciptakan. Karenanya ia berharap akan ada banyak hal yang bisa dilakukan dalam waktu ke depan untuk pesantren tersebut.

“Apa yang kurang di sini dan bisa kita tambahkan untuk perbaikan, akan kita diskusikan. Semuanya untuk meningkatkan semangat dan konsentrasi para santri di sini,” harapnya. (Kendi Setiawan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ulama, News, Kyai Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 04 Juli 2014

Amal Perbuatan Perspektif Kitab Al-Hikam

"Jika Tuhan hendak menampakkan Karunia-Nya kepadamu, maka Dia ciptakan amal dan kemudian dinisbatkannya kepadamu.” (Al-Hikam - Ibn Athaillah)

Seringkali kita terpesona dengan cara Allah menuntun kita membuka jalan menuju ladang amal kebaikan. Dibentangkannya kesempatan untuk kita menunaikan janji, mengabdi dan mengamalkan apa yang telah Tuhan ajarkan sebelumnya kepada kita.

Amal Perbuatan Perspektif Kitab Al-Hikam (Sumber Gambar : Nu Online)
Amal Perbuatan Perspektif Kitab Al-Hikam (Sumber Gambar : Nu Online)

Amal Perbuatan Perspektif Kitab Al-Hikam

Tuhan bekerja dengan cara-Nya, lantas semua kesuksesan itu dinisbatkan kepada kita. Seolah-olah itu semua hasil kerja keras dan perjuangan kita. Sebenarnya itu hanyalah Karunia-Nya kepada kita karena Dia-lah yang menciptakan amal untuk kemudian kita turut mengerjakannya.

Maka pada setiap amal pekerjaan kita, niatkanlah sebagai bentuk pengabdian kita untuk-Nya. Mengapa demikian? Amal itu bermula dari-Nya dan kita kembalikan hanya kepada-Nya. Dia-lah yang Awal dan Dia pula yang Akhir. Inilah teologi amal.

Ibn Athaillah: "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan.”

Pondok Pesantren Tegal

Cara kita menyambungkan niat kita dengan Allah sebelum melakukan aktivitas menentukan nilai keberhasilan. Segala amal perbuatan tergantung niat. Begitu pesan Nabi dalam Hadits shahih.?

Begitu niat sudah kita pasang efeknya dahsyat karena semua gerak panca indera mengikuti niat tersebut. Hati dan pikiran menjadi fokus. Begitu hebatnya nilai sebuah niat, langsung tercatat sebagai sebuah kebajikan meskipun kelak tak jadi dilaksanakan

Pondok Pesantren Tegal

Ibn Athaillah: "Janganlah cita-citamu tertuju pada selain Allah. Harapan seseorang tak akan dapat melampaui yang Maha Pemurah".?

Pasang niat yang baik di awal, dan tujukan semua akhir kepada-Nya. Karena Dia-lah yang Maha Pemurah. Seberapa pun besar harapan yang kita tujukan padanya, semua akan berada dalam jangkauan rahmat-Nya. Rahmat-Nya meliputi semuanya. Maka janganlah berputus asa baik di awal perbuatan, di tengah maupun di akhir karena sudah kita letakkan harapan di Tangan-Nya

"Siapa yang tidak mensyukuri nikmat, berarti menginginkan hilangnya. Dan siapa yang mensyukurinya, berarti telah secara kuat mengikatnya." Ibn Athaillah kembali mengajarkan kita bahwa sebaiknya kita ikat nikmat pemberian Allah itu dengan rasa syukur.

Pemberian Allah yang kita ikat dengan rasa syukur, akan semakin kuat nilainya, dan terus bertambah. Sebaliknya, kufur nikmat akan menghapusnya. Komplit sudah amalan kita jika niat sudah mantap di awal, tujuan amal hanya kepada Allah dan syukur mengikat nikmat di akhir.

Nadirsyah Hosen, Pengasuh Pondok Pesantren Mahad Aly Raudhatul Muhibbin, Caringin Bogor Pimpinan KH M. Luqman Hakim.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Ahlussunnah, Humor Islam Pondok Pesantren Tegal