Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Maret 2018

Sebar Wawasan Keindonesiaan, IPNU Tasikmalaya Terbitkan Buletin Jumat

Tasikmalaya, Pondok Pesantren Tegal - Pimpinan Cabang  (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Tasikmlaya menerbitkan Buletin Jumat  Santri Nusantara,  Jumat (22/01).

Menurut Pimpinan Redaksi Buletin Santri Nusantara Husni Mubarok, buletin tersebut dibuat untuk mengembangkan kreativitas dan wawasan pelajar NU dan masyarakat umum. “Buletin ini juga bertujuan untuk lebih membumikan dan menjembatani  terciptanya pelajar NU dan masyarakat  yang berwawasan keislaman dan keindonesiaan,” ujarnya.

Sebar Wawasan Keindonesiaan, IPNU Tasikmalaya Terbitkan Buletin Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebar Wawasan Keindonesiaan, IPNU Tasikmalaya Terbitkan Buletin Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebar Wawasan Keindonesiaan, IPNU Tasikmalaya Terbitkan Buletin Jumat

Wakil Ketua IPNU Kabupaten Tasikmalaya ini menambahkan, upaya ini juga sebagai bentuk perlawanan atas beredarnya buletin yang diterbitkan suatu ormas tertentu yang selama ini menentang NKRI, Pancasila, dan UUD 1945.

Pondok Pesantren Tegal

“Materi dari buletin ini bertema tentang keislaman dan keindonesiaan dan kami menerima tulisan dari kader IPNU dan masyarakat secara umum dengan cara dikirim ke email pcipnukab.tasikmalaya@gmail.com,” imbuhnya.

Untuk distribusi, buletin ini akan disebarkan ke Pimpinan Anak Cabang dan Pimpinan Komisariat  IPNU di Kabupaten Tasikmalaya. Selain itu juga akan disebar ke masjid- masjid di Kabupaten Tasikmalaya terutama di Masjid Agung di Kawasan Kompleks Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya yang selama ini menjadi tempat beredarnya buletin yang kerap kampanye anti-NKRI, Pancasila dan UUD 1945.

Pondok Pesantren Tegal

“Buletin ini juga akan terus terbit setiap hari Jumat dan menunggu tulisan dari rekan-rekan semua,” pungkasnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Sejarah, Lomba, Ulama Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Penghormatan Ajengan Masthuro kepada Preman

Suatu hari seseorang mencari tahu seluk-beluk memancing ikan di wahangan (sungai). Padahal biasanya orang itu menggengam pena, menekuri kitab kuning, mengajar santri, dan kadang menulis kitab. Ia adalah Ajengan Muhammad Masthuro.

Tak tanggung-tanggung, sang ajengan bertanya kepada dedengkot tukang mancing. Ia bernama Mar’i. Selain tukang mancing, pria berperawakan kekar tersebut dikenal sebagai seorang preman yang berperangai buruk dan ditakuti warga.

Penghormatan Ajengan Masthuro kepada Preman (Sumber Gambar : Nu Online)
Penghormatan Ajengan Masthuro kepada Preman (Sumber Gambar : Nu Online)

Penghormatan Ajengan Masthuro kepada Preman

Bagi Ajengan Masthuro, memancing adalah celah untuk mengenal Mar’i. Pucuk dicinta ulam pun tiba, ketika ditanya kegemarannya, Mari menanggapi dengan semangat. Ia menjelaskan dari A hingga Z. Tentu saja memancing tidak berhenti di teori. Keduanya memutuskan mempraktikannya di wahangan.

Ketika asyik memancing, Ajengan Masthuro tiba-tiba berhenti. Ia melaksanakan Shalat Dhuhur di atas batu. Sementara Mar’i menyaksikan sambil memancing. Selepas shalat, Ajengan Masthuro kembali memancing. Ketika Ashar tiba, kembali ia menunaikannya.

Pondok Pesantren Tegal

Menjelang maghrib, kaduanya pulang. Ajengan Masthuro mengajak Mar’i mampir ke rumahnya. Mar’i setuju. Istiri sang ajengan pun sudah menyiapkan makan malam untuk keduanya. Sebelum makan, Ajengan Masthuro izin shalat Maghrib. Seperti sebelumnya, Mar’i mengiyakan tanpa turut serta.

Karena ada tamu, Ajengan Masthuro meninggalkan dua kebiasaan yang tak pernah ditinggalkannya, yaitu wiridan dan shalat sunat. Kemudian keduanya makan bersama. Setelah makan dan ngobrol, Mar’i undur diri. Tak dinyana, Ajengan Masthuro membekalinya dengan ikan-ikan besar untuk keluarga yang ditinggal seharian karena mancing tadi siang tak membuahkan hasil.

Pondok Pesantren Tegal

Penghormatan Ajengan Masthuro tersebut, menghunjamkan kesan mendalam di hati Mari. Ia simpatik kepadanya.

Di lain waktu, Ajengan Masthuro pernah menyambangi komunitas penggemar tembang Sunda; sekitar 4 km dari kediamannya. Sayangnya kegemaran tersebut melupakan tuntunan Islam, seperti shalat. Untuk mendekati mereka, ia mengajak temannya yang pandai melantunkan tembang Sunda.

Keduanya mendatangi mereka dan turut memperbincangkan tembang. Hal itu menimbulkan simpati, apalagi ketika temannya Ajengan Masthuro menyumbangkan tembang. Karena sudah simpati, mereka mudah diajak membaca Qul-hu (surat al-Ikhlas) dan mempelajari bacaan-bacaan shalat dan Al-Quran.

?

***

Ajengan KH Muhammad Masthuro adalah pendiri Pondok Pesantren Al-Masthuriyyah, Tipar, Cisaat, Sukabumi. Ia lahir di Kampung Cikaroya pada tahun 1901.

Masa kanak-kanak Masthuro dihabiskan untuk belajar kepada ayahnya bernama Kamsol, seorang amil atau lebe yang bertugas mengurusi masalah keagamaan di desa. Kemudian ia berguru kepada kiai-kiai di Sukabumi diantaranya: H. Asy’ari (dari tahun1909 sampai 1911) KH Katobi (dari1911 sampai 1914) KH Hasan Basri (tahun 1914 sampai 1915) KH Muhammad Kurdi (tahun 1914 sampai 1915), KH Ghazali (dari 1915-1916) KH Muhammad Sidiq (tahun1916-1916) KH Ahmad Sanusi (tahun 1918 sampai 1920).

Ia juga mereguk ilmu kepada Al-Habibib Syekh Ibnu Salim Al Attas, guru para ajengan Sukabumi. KH Masthuro merupakan santrinya paling disayang. Sehingga, menjelang wafat, Habib Syekh berpesan? supaya dikebumikan di samping KH Masthuro.

Sebelum wafat, KH Masthuro mewasiatkan 6 hal kepada anak-anak dan mantu-mantunya, yaitu: 1. Kudu ngahiji dina ngamajukeun Pesantren, Madrasah. Ulah Pagirang-girang tampian. (harus bersatu untuk kemajuan pesantren) 2) Ulah hasud (jangan hasud) .3) Kudu nutupan kaaeban batur, (harus menutupi aib orang lain) 4.) Kudu silih pikanyaah, (saling mengasihi) 5.) Kudu boga karep sarerea hayang mere,(suka memberi) 6.) Kudu mapay thorekat anu geus dijalankeun ku Abah (harus mengikuti tarekat KH Masthuro).

Wasiat tersebut, hingga kini menjadi pegangan keturunan dan penerus KH Masthuro di pesantren Al-Masthuriyah.

Kepemimpinan pesantren yang sudah lengkap dari PAUD hingga perguruan tinggi ini, kini dilanjutkan putra-putrinya. Salah seorang putranya, KH E. Fachrudin Masthuro, pernah menjabat Wakil Rais ‘Aam PBNU. (Hingga wafatnya ia menjadi salah seorang Musytasyar PBNU).

KH Masthuro mengarang kitab berjudul Kaifiyatus Solat, tebal 89 halaman, yang ditulis dengan bahasa Arab. Kitab ini merupakan tukilan dari berbagai kitab yang membahas bab solat, mulai dari Safinatun Naja, Sulam Munajat, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, tapi lebih banyak dari kitab Bajuri. Kitab ini ditulis dengan bahasa Arab yang mudah dipahami. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Sejarah, RMI NU, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

PCNU Probolinggo Dirikan Business NU Center

Probolinggo, Pondok Pesantren Tegal - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Probolinggo membangun Business NU Center dalam rangka mewujudkan kemandirian organisasi. Business Center NU ini berlokasi terpadu dengan Kantor PCNU Kota Probolinggo di Jalan Bengawan Solo 1 Kota Probolinggo.

Awal April lalu, Business NU Center sebanyak dua unit berukuran 4x9 meter ini diresmikan oleh Rais Syuriyah PCNU Kota Probolinggo KH Abdul Aziz Fadhol melalui penandatanganan prasasti didampingi mantan aktivis IPNU H Muzamiil Syafi’i dan pengurus harian PCNU Kota Probolinggo.

PCNU Probolinggo Dirikan Business NU Center (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Probolinggo Dirikan Business NU Center (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Probolinggo Dirikan Business NU Center

“Business NU Centre ini didirikan sebagai upaya organisasi dalam rangka pemberdayaan ekonomi nahdliyin. Di samping juga untuk kemandirian organisasi sebagai goal-nya,” kata Wakil Ketua PCNU Kota Probolinggo H Ahmad Hudri, Senin (10/4).

Menurut Hudri, dengan berdirinya Business NU Center maka nantinya diharapkan akan mampu mewujudkan aktivitas perekonomian bagi warga NU. Kemandirian organisasi juga bisa terwujud di masa yang akan datang sehingga organisasi tidak lagi bergantung kepada pihak-pihak lain dalam hal pendanaan.

Pondok Pesantren Tegal

“Dengan kata lain, Business NU Center ini nantinya bisa menjadi pusat pemberdayaan perekonomian warga NU. Sehingga warga NU bisa mandiri dalam mengangkat potensi ekonomi yang ada di wilayahnya masing-masing demi meningkatkan kesejahteraan mengangkat dan kemandirian warga NU itu sendiri,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Sejarah, Syariah Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Semaan Al-Qur’an untuk Kuatkan Religiusitas Kader IPNU

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Dalam rangka memperingati hari lahir ke-63, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) menggelar acara Semaan Al-Quran di Masjid An-Nahdlah PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (24/2).

Semaan Al-Qur’an untuk Kuatkan Religiusitas Kader IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Semaan Al-Qur’an untuk Kuatkan Religiusitas Kader IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Semaan Al-Qur’an untuk Kuatkan Religiusitas Kader IPNU

Ketua Panitia Peringatan Harlah ke-63 IPNU Ahmad Farikhul Badi menyampaikan bahwa IPNU sebagai kader muda NU harus mampu menggabungkan kekuatan intelektual dan religiusitas guna mencapai kader yang berakhlakul karimah.

Menurutnya, dalam setiap gerakannya, IPNU tentu harus selalu berpedoman pada Al-Quran. Oleh karenanya, semaan ini merupakan bagian dari ikhtiar PP IPNU agar semua kader berintrospeksi atas gerak langkah yang telah dan akan dilakukan oleh IPNU.

“Semaan ini merupakan bagian dari ikhtiar PP IPNU untuk kita, semua kader, melakukan instrospeksi diri atas gerak dan langkah yang sudah, sedang, dan akan dilakukan oleh IPNU,” ujarnya saat ditemui di sela-sela kegiatan tersebut.

Ia menambahkan, hal ini juga sebagai bagian dari respons IPNU sebagai garda terdepan mempertahankan NKRI dari berbagai polemik yang terjadi, seperti radikalisme, disintegrasi, dan terorisme.

Pondok Pesantren Tegal

“Terlebih melihat kondisi negara yang belakang ini mengalami berbagai gangguan, baik radikalisme, disntegrasi maupun terorisme yang terjadi di mana-mana. Maka IPNU harus mengambil perannya sebagai civil society yang harus berdiri di garda terdepan memperhankan NKRI,” imbuhnya.

Sementara itu, senada dengan Badi’, Ketua Umum PP IPNU Asep Irfan Mujahid menyampaikan bahwa semaan ini adalah momen reflektif di hari lahir IPNU yang ke-63 untuk menegaskan kembali perannya sebagai wadah kaderisasi anak muda NU dalam menjawab berabgai tantangan kekinian.

“Melalui semaan Al-Quran sebagaimana yang telah para ulama NU dulu ajarkan, kita menemukan momen reflektif untuk menegaskan kembali keberperanan kita sebagai wadah kaderisasi anak muda NU dalam menjawab berbagai tantangan kekinian,” katanya.

Menurutnya, kegiatan ini bukanlah tujuan, tetapi bagian dari proses yang akan terus dilakukan guna menegakkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Pondok Pesantren Tegal

“Kegiatan ini bukanlah tujuan, melainkan bagian dari proses yang akan terus kita laksanakan secara kontinu demi menegakkan syiar Islam Ahlussunah wal Jamaah an-Nahdliyyah,” tambahnya. (Syakir/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Sejarah, Doa Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah

Brebes, Pondok Pesantren Tegal. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti siap meluncurkan Peraturan Bupati (Perbup) tentang Madrasah Diniyah Takmiliyah (Madin) ? sebagai upaya meningkatkan ketakwaan masyarakat Brebes sejak dini. Terutama tentang regulasi poin masuk pendidikan SD, SMP maupun SMA/SMK dengan prasarat menempuh pendidikan madrasah. Juga untuk melegalisasi bantuan pendidikan madrasah dari Pemerintah Kabupaten Brebes sehingga keberadaan Madin makin mendapat perhatian di hati masyarakat.

Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Siap Luncurkan Perbup Madrasah Diniyah

Hal ini disampaikannya saat membuka Pekan Olahraga dan Seni Santri antar-Madrasah Diniyah (Porsadin) II tingkat Kabupaten Brebes, di Madin Al-Ghoniyah Desa Kalialang Kecamatan Jatibarang Brebes, Sabtu (16/5) lalu.

Bupati meminta kepada pengurus Madin untuk secepatnya membuat draf dan digodok bersama dengan bagian Hukum Setda Brebes. Ini dimungkinkan untuk selanjutnya menjadi bahan acuan diterbitkannya Peraturan Daerah (Perda).?

“Pendidikan madrasah itu mampu menjadi pondasi akhlak generasi muda sejak dini sehingga perlu mendapat perhatian khusus,” tutur Bupati.

Pondok Pesantren Tegal

Bupati turut perihatin dengan kondisi gedung Madin yang perlu mendapat perawatan. Juga ketersediaan sarana dan prasarana yang minim serta kesejahteraan ustadz-ustadzah yang perlu ditingkatkan. “Pendidikan formal saja belum cukup karena moral dan spiritual harus ditata sejak dini,” kata Bupati.?

Pondok Pesantren Tegal

Pendidikan itu, lanjutnya, adalah rahim untuk mencerdaskan jasmani maupun rohani anak-anak bangsa. Sehingga mutlak hukumnya untuk setiap warga Brebes mengenyam pendidikan formal maupun non formal secara seimbang.

Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Brebes H Ahmad Sururi SPdI menjelaskan, jumlah ustadz ustadzah yang terhimpun di FKDT ada 3945 orang yang tersebar di 808 Madin se-Kabupaten Brebes. Mereka mengabdi dengan ketulusan hati seraya mengharap ridlo dari Allah SWT. “Tidak ada gaji khusus seperti layaknya PNS tetapi hanya mengandalkan syahriah dari santri dan usaha dari pengurus yayasan,” terangnya.

Ketua FKDT Provinsi Jateng Asikin MSi menambahkan, baru tiga daerah yang telah memiliki peraturan daerah (Perda) tentang Madin yakni Kudus, Wonosobo, dan Jepara. “Kami berharap, Pemkab Brebes bersama DPRD setempat bisa secepatnya mengorbitkan Perda tentang Madin,” desaknya.

Ketua Panitia Forsadin Subkhi SE dalam laporannya menerangkan, Porsadin diikuti 799 santri utusan dari 17 Kecamatan se-Brebes. Mereka bakal berebut piala Bupati Brebes dalam 17 macam mata lomba. Lomba yang digelar meliputi Tanfidz Juz Amma, Cerdas Cermat Diniyah, Pidato Bahasa Arab, Pidato Bahasa Indonesi, Kaligrafi, Murotal wal Imla, Atletik lari 60 meter, puisi Islami, Qiro’atul Kitab, Hafalan Aqidatul Awam, MTQ, dan Khadroh.?

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Camat Jatibarang Darmadi SH, dan unsure Forkompinda Kecamatan, Ketua MWCNU Jatibarang Muhidin dan sejumlah undangan lainnya. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Hadits, Makam, Sejarah Pondok Pesantren Tegal

GP Ansor Surabaya Lakukan Napak Tilas Pesantren Se-Surabaya

Surabaya, Pondok Pesantren Tegal - Sejumlah kegiatan telah disiapkan oleh GP Ansor Kota Surabaya. Kegiatan diawali dengan penyambutan rombongan Kirab Resolusi Jihad NU yang dipimpin oleh PBNU pada tanggal 15 Oktober 2016 dini hari di Makam Sunan Ampel. Setelah Shubuh mereka mengunjungi gedung HBNO (sekarang Kantor PCNU Kota Surabaya) dan Monumen Resolusi Jihad di Jalan Bubutan Surabaya.

Agenda peringatan hari santri nasional dilanjutkan dengan napak tilas ke pesantren-pesantren di Kota Surabaya. “Napak tilas pesantren ini dilaksanakan pada tanggal 17-20 Oktober,” kata Ketua Pelaksana Peringatan Hari Santri M Faridz Afif, Rabu (20/10).

GP Ansor Surabaya Lakukan Napak Tilas Pesantren Se-Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Surabaya Lakukan Napak Tilas Pesantren Se-Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Surabaya Lakukan Napak Tilas Pesantren Se-Surabaya

Pesantren yang dikunjungi antara lain Pesantren An-Najiyah Sidosermo KH Mas Yusuf Muhajir, Pesantren Nurul Huda Sencaki KH Abdurrahman Navis, Pesantren Luhur Al-Husna Wonocolo KH Ali Maschan Moesa, dan Pesantren Al-Muhibbin Asemrowo KH Mas Ali Ja’far.

Pondok Pesantren Tegal

Hari Santri Nasional yang sudah ditetapkan oleh pemerintah sejak tahun 2015 kemarin merupakan momentum bagus yang bisa digunakan para pemuda NU dalam hal ini GP Ansor yang notabene merupakan santri NU untuk menunjukkan perannya di masyarakat, bangsa, dan negara.

“GP Ansor dalam gerakannya tidak boleh terlepas dari apa yang dibutuhkan masyarakat nahdliyyin, bangsa dan negara. Tentunya harus tetap taat patuh pula kepada ulama dan NU,” tutur Wakil Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdurrahman Navis dalam kegiatan tersebut.

Pondok Pesantren Tegal

Ketua GP Ansor Kota Surabaya M Asrori Muslich menjelaskan, napak tilas pesantren ini selain bertujuan untuk silaturahmi kepada para ulama dan konsolidasi organisasi dengan pimpinan anak cabang juga memberikan makna bahwa pesantren menjadi ujung tombak terwujudnya masyarakat yang bertakwa, berilmu, dan berakhlakul karimah khususnya para pemuda di kota Surabaya.

“GP Ansor adalah Santri NU. Santri dalam setiap gerakannya harus selalu berbuat mencerahkan dan manfaat untuk orang lain,” kata Asrori Muslich. (M Mundir/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nasional, Tegal, Sejarah Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

IPPNU Aktifkan Kembali Korp Kepanduan Putri

Bandung, Pondok Pesantren Tegal

Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) mengaktifkan kembali Lembaga Korp Kepanduan Putri (L-KPP) sebagai sayap organisasi yang bertugas melakukan perekrutan kader-kader potensial, pembangunan sumber daya manusia dan program pengabdian masyarakat.

Lencana tugas disematkan oleh Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Bagdja sesaat setelah pembukaan Rapat kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di Pondok Pesantren Darul Ma’arif, Cigondewah Bandung, Kamis (30/8).

IPPNU Aktifkan Kembali Korp Kepanduan Putri (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Aktifkan Kembali Korp Kepanduan Putri (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Aktifkan Kembali Korp Kepanduan Putri

L-KKPdibentuk berdasarkan Keputusan Konbes I IPPNU di Pekalongan, Jawa Tengah, pada 28 Oktobner 1964. Pada awalnya korp ini bernama CPB-Wati yang dibentuk untuk mengimbangi munculnya berbagai barisan yang berkibar dari panji-panji komunis.

Dalam perjalannnya CBP-Wati mengalami stagnasi dan selanjutnya diputuskan dalam amanat Kongres XII IPPNU di Makassar dengan perubahan nama menjadi L-KKP yang dikukuhkan dalam kongres XIII di Surabaya.

Sebagai salah satu ujung tombak dalam pergerakan IPPNU, L-KKP diharapkan mampu menjadi monitor utama perekrutan potensi-potensi kader IPPNU yang belum tergarap secara organisatoris. Ketua Umum Pimpinan Pusat IPPNU Wafa Patria Umma pada kesempatan itu berharap korp ini menjadi pendukung utama dalam menjalankan segala aktifitas organisasi IPPNU.

Pondok Pesantren Tegal

L-KKP diaktifkan kembali dengan mengadakan perubahan-perubahan yang disesuaikan dengan dinamika dan kebutuhan organisasi serta peran kemasyarakatan saat ini.(nam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Sejarah, Humor Islam Pondok Pesantren Tegal

Senin, 08 Januari 2018

Doa Makmum yang Sedang Meluruskan Shaf

Shalat berjamaah merupakan ibadah yang sangat penting. Bukan hanya dimensi ketuhanan, ibadah ini juga memiliki dimensi kemanusiaan. Melaksanakan shalat berjamaah berarti kita menuruti perintah Allah, dan berarti kita sedang menggalang persatuan dengan saudara-saudara kita sesama Muslim, karena dengan menghadiri shalat berjamaah baik di masjid maupun mushala, kita memiliki kesempatan untuk bersilaturahim dengan mereka.

Begitu besar perhatian Nabi Muhammad SAW terhadap shalat berjamaah, sampai-sampai beliau menjanjikan pahala lipat 27 kali sebagaimana hadits riwayat Imam Bukhari nomor 618:

Doa Makmum yang Sedang Meluruskan Shaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Makmum yang Sedang Meluruskan Shaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Makmum yang Sedang Meluruskan Shaf

? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Tegal

“Shalat berjamaah melebihi shalat sendirian dengan 27 kali lipat derajat”

Pondok Pesantren Tegal

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam shalat berjamaah ialah meluruskan shaf. Bagi imam, ia hendaknya mengingatkan jamaah agar meluruskan shaf karena hal tersebut merupakan bentuk kesempurnaan berjamaah.

Syekh Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi, dalam kitab Al-Adzkâr al-Muntakhabah min Kalâmi Sayyid al-Abrâr (Surabaya: Kharisma, 1998), hal. 54, menyebutkan bahwa bagi makmum yang sedang meluruskan shaf, disunnahkan untuk membaca doa di bawah ini:

? ? ? ? ? ? ?

Allâhumma âtinî afdlala mâ tu’tî ‘ibâdakash shâlihîn

“Ya Allah, berilah padaku apa-apa yang Engkau berikan pada hamba-hamba-Mu yang saleh.”

Dengan membaca doa ini, kita berharap agar Allah memberikan anugerah kepada kita sebagaimana anugerah-anugerah yang Allah berikan kepada orang-orang saleh, di antaranya ialah anugerah keistiqomahan dalam melaksanakan ibadah shalat berjamaah. Semoga kita semua bisa mengamalkan doa ini dan memperoleh manfaat darinya. ?Amin. Wallahu a’lam bi shawab. (Muhammad Ibnu Sahroji)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Sejarah Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Gunung Pun Tak Berani Memikul Beratnya Al-Qur’an

Pringsewu, Pondok Pesantren Tegal



Mustasyar PCNU Pringsewu H Sujadi didaulat mengimami kegiatan peringatan setahun Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Husna yang diasuh oleh Ustadz Abdul Hamid pada Ahad Malam (8/1).?

"Kami ingin keberkahan dan keselamatan selalu menaungi pesantren kami ini melalui wasilah doa yang diimami oleh KH. Sujadi yang juga seorang hafidz quran," kata Ustadz Hamid saat kegiatan berlangsung di pesantren yang terletak di Pringsewu Barat tersebut.

Gunung Pun Tak Berani Memikul Beratnya Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Gunung Pun Tak Berani Memikul Beratnya Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Gunung Pun Tak Berani Memikul Beratnya Al-Qur’an

Sesaat sebelum mengimami doa, H. Sujadi mengatakan bahwa Pesantren Al Husna merupakan salah satu aset yang perlu terus dikembangkan dalam rangka mencetak para generasi penjaga dan penghafal Al-Qur’an di Kabupaten Pringsewu.

Menurutnya, hal ini selaras dengan pernyataan Gubernur Lampung yang mengatakan bahwa Pringsewu menjadi lumbung bagi sumber daya manusia (SDM) di Provinsi Lampung.?

Pondok Pesantren Tegal

Walaupun baru berkiprah setahun, lanjutnya, Pesantren Al Husna sudah mampu memberikan sumbangsing SDM unggul di bidang Ilmu Al-Qur’an dengan para penghafalnya.

H. Sujadi mengapresiasi perjuangan para santri yang terus menghafal 30 juz Al Quran. Menurutnya banyak sekali godaan, cobaan atau ujian yang sering dihadapi oleh mereka yang memiliki tekad menghafal Al-Qur’an.

Pondok Pesantren Tegal

"Allah telah menjelaskan saking beratnya ilmu Al Qur’an, gunung pun tidak kuat dan tidak berani untuk memikul Al-Qur’an," jelas Abah Sujadi seraya membacakan Ayat Al Quran yang menjelaskan tentang hal tersebut.

Oleh karenanya, ia berpesan kepada para santri untuk senantiasa istiqomah dan terus berdoa agar niat untuk menghafal Al Quran senantiasa ada dalam diri.?

"Ilmu Al-Qur’an merupakan harta kekayaan yang tak ternilai harganya dan tak akan habis barokahnya. Mudah-mudahan para santri senantiasa diberi kemudahan oleh Allah SWT," harapnya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Nusantara, Sejarah Pondok Pesantren Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Terungkap! Ini Penyebab Gus Dur Tinggalkan Istana Negara

Subang, Pondok Pesantren Tegal

Saat menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, parlemen mencoba menggulingkan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dari kursi Presiden RI dengan dalih kasus hukum yang sampai hari ini tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Melihat kejanggalan tersebut, tentu saja Gus Dur menolak untuk diturunkan.

Terungkap! Ini Penyebab Gus Dur Tinggalkan Istana Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Terungkap! Ini Penyebab Gus Dur Tinggalkan Istana Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Terungkap! Ini Penyebab Gus Dur Tinggalkan Istana Negara

Hal ini disampaikan oleh KH Maman Imanulhaq saat mengisi kegiatan peringatan Isra Miraj di Pondok Pesantren Raudlatul Hasanah, Subang, Jawa Barat, Rabu (13/4).

"Gus Dur tahu bahwa ini adalah masalah politik, bukan masalah hukum. Beliau tidak pernah bersalah secara hukum, tapi dikalahkan secara politik,” tegas Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka, Jawa Barat itu.

Kiai muda yang akrab disapa Kang Maman itu melanjutkan, masyarakat pun tahu soal kejanggalan masalah ini sehingga dukungan dari daerah terus mengalir kepada Gus Dur. Namun Gus Dur berpikir kalau situasi ini dibiarkan begitu saja dikhawatirkan akan terjadi perang saudara antara kelompok pro Gus Dur dan pro parlemen.

"Gus Dur saat itu berpikir daripada perang saudara hanya gara-gara mempertahankan jabatan duniawi, lebih baik ia mundur saja dari jabatan presiden," tambah Wakil Ketua Lembaga Dakwah PBNU itu.

Pondok Pesantren Tegal

Namun, lanjut Kang Maman, Gus Dur masih belum menemukan alasan yang tepat untuk keluar dari Istana Negara. Karena yang dituduhkan parlemen jelas tidak bisa diterima sebab inkonstitusional dan tidak rasional.

"Sampai suatu ketika Gus Dur meminta kepada salah satu menterinya, Luhut Binsar Panjaitan untuk menemui Lurah Gambir, Jakarta Pusat karena Istana Negara berdomisili di Kelurahan Gambir," ungkap anggota DPR RI itu.

Pondok Pesantren Tegal

Waktu itu, imbuh Maman, Luhut diinstruksikan untuk meminta agar Lurah Gambir segera membuat surat sakti yang isinya menyatakan bahwa situasi sedang genting sehingga Gus Dur harus meninggalkan Istana Negara.

Saat Gus Dur ditanya kenapa harus membuat surat ini. "Supaya nanti ketika di hadapan Allah ditanya kenapa kamu meninggalkan istana? Saya menjawab: coba tanya saja ke Lurah Gambir,” pungkas Maman. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kajian, Sejarah Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Di Hong Kong, Kiai Said Jelaskan Islam Nusantara

Hong Kong, Pondok Pesantren Tegal - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menghadiri Halal Bihalal dengan warga Muslim dan nahdliyyin Hong Kong di Aula BNI Hongkong, Ahad (30/7). Agenda ini diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Hong Kong. Pada pertemuan ini Kiai Said memberi arahan dan taushiyah tentang Islam Nusantara, di tengah perspektif politik dan geostrategis global.

"Saat ini, warga Muslim di seluruh dunia sedang mencari referensi beragama yang tepat, berislam yang ramah dan moderat. Setelah konflik di Timur Tengah dan kondisi politik Turki yang tidak stabil, warga Muslim internasional sedang melirik Islam di Indonesia," terang Kiai Said.

Di Hong Kong, Kiai Said Jelaskan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Hong Kong, Kiai Said Jelaskan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Hong Kong, Kiai Said Jelaskan Islam Nusantara

Kita, kata Kang Said, memiliki warisan nilai dan tradisi keislaman yang demikian istimewa. Islam Nusantara dengan segenap karakter dan pengetahuannya, menjadi referensi dalam berislam.

Pondok Pesantren Tegal

Ia mengajak segenap warga Muslim Indonesia, baik yang berada di tanah air, maupun yang sedang di berbagai negara, untuk tetap menjalin persaudaraan dan menguatkan tali silaturahmi. Ia juga menyampaikan pentingnya menjaga tradisi keislaman, sebagai khazanah budaya dan pengetahuan yang menjadi penguat beragama, serta media dakwah yang santun dan ramah.

"Sebagai warga Muslim, kita wajib menjaga persaudaraan. Sesungguhnya setiap warga Muslim itu saudara, apalagi sesama Muslim dari Indonesia, sesama pengamal Islam Nusantara," jelas Kiai Said.

Dalam ceramahnya, Kiai Said mengajak kepada seluruh warga Muslim Indonesia yang sedang di Hong Kong, untuk menjadi Duta Islam Nusantara. "Saudara-saudaraku warga Muslim dari Indonesia, maupun warga Muslim seluruh dunia yang sedang di Hong Kong, kita perlu memberi contoh berislam yang santun, beragama yang ramah. Bukan menjadi bagian kelompok teror yang bertentangan dengan Islam. Muslim yang santun, yang ramah, menjadi duta dari Islam Nusantara," kata Kiai Said.

Pondok Pesantren Tegal

Setelah acara Halal Bihalal, Kiai Said meresmikan mushala dan sekretariat PCINU yang terletak di jantung kota Hongkong. "Semoga perjuangan teman-teman NU di sini (Hong Kong, Red) selalu diberi kekuatan dan semoga mendapat balasan yang berlipat ganda," ujar Kiai Said.

Dalam safari dakwahnya, Kiai Said didampingi Ketua PP Muslimat NU Hj Nurhayati, Ketua Umum PP Pagar Nusa Nabil Haroen, PCINU Hong Kong, serta beberapa pejabat dari Konjen RI di Hong Kong, pejabat pemerintahan, dan tokoh Muslim setempat Ustadz H Abdul Muhaemin Karim. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Jadwal Kajian, Sejarah Pondok Pesantren Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

KH Ridwan Mujahid, Pendiri NU Asal Semarang

Mengenang kembali sosok pendiri Nahdlatul Ulama (NU) asal Semarang bernama KH Ridwan Mujahid sangat dibutuhkan. Belum banyak orang mengetahui sosoknya. KH Ridwan Mujahid berasal dari Kauman Semarang. Sebagaimana disebutkan oleh Agus Tiyanto, KH Ridwan Mujahid adalah keturunan dari kiai Lasem yang sama dengan kerabat KH Makshum dan KH Baidlawi yang bersambung nasabnya hingga Mbah Sambu. Silsilah KH Ridwan Mujahid yang didapatkan Amirul Ulum dari KH Maimun Zubair dalam buku "Muassis Nahdlatul Ulama" adalah: KH Ridwan bin KH Mujahid bin KH Baidlawi bin Kiai Abdul Lathif bin Kiai Abdul Bar bin Kiai Abdul Alim bin Sayyid Abdurrahman (Mbah Sambu Lasem). Makam KH Ridwan Mujahid berada di Pemakaman Umum Bergota (tepatnya di selatan Makam KH Sholeh Darat, satu area makam keluarga H. Abu Bakar Kauman).

Dalam buku “Kemelut di NU Antara Kiai dan Politisi” karya Abdul Basith Adnan disebutkan peran besar KH Ridwan Mujahid. Jasanya dalam membentuk organisasi ulama pesantren bersama KH M Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah tidak dapat dilupakan. Ulama yang semula berkumpul untuk membahas persoalan negeri Hijaz bernama Komite Hijaz, berubah nama dengan Nahdlatul Ulama.

KH Ridwan Mujahid, Pendiri NU Asal Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ridwan Mujahid, Pendiri NU Asal Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ridwan Mujahid, Pendiri NU Asal Semarang

Usaha mengenalkan NU di Semarang bagi KH Ridwan Mujahid awalnya tidak mudah. Namun berkat ajaran Islam ahlussunnah wal jama’ah yang ditinggalkan oleh KH Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (KH Sholeh Darat), maka NU mudah dikenal dan diikuti oleh warga Semarang. Sehingga ketika NU diresmikan pada tahun 1926, masyarakat Semarang dan sekitarnya mudah menerima dan mengakar dalam sanubari (Amirul Ulum: 2014).

KH Ridwan Mujahid adalah salah satu murid KH Sholeh Darat. Perkenalan KH Ridwan Mujahid dengan KH M Hasyim Asy’ari lebih karena keduanya merupakan murid KH Sholeh Darat saat mondok di Pesantren Darat Semarang. Maka perjuangan mendirikan NU merupakan hasil dari kerjasama para murid sesepuh ulama Nusantara semisal: KH Cholil Bangkalan, KH Sholeh Darat Semarang, KH Nawawi Banten, KH Mahfudz Termas dan ulama lainnya.

Pondok Pesantren Tegal

Murid KH Sholeh Darat lainnya yang berjuang menegakkan Ahlussunnal wal Jama’ah di Semarang antara lain KH Ridwan bin Mujahid, Kiai Sya’ban bin Hasan, Kiai Thahir Mangkang, Kiai Sahli Kauman, Kiai Ali Barkan, Kiai Abdullah Sajad dan lain-lain. Anasom dalam papernya “KH Saleh bin Umar dan Pondok Pesantren Darat” menyebutkan bahwa salah satu karya KH Ridwan Mujahid Semarang adalah “I’anatul ‘Awam fi Mufhimmati Syara’ Al-Islam”.

KH Ridwan Mujahid selain dikenal sebagai Kiai yang berjuang dalam pengembangan organisasi NU juga dikenal mengembangkan dakwah di Pesantren. Salah satu muridnya yang juga bersama-sama mendirikan NU adalah KH Ma’shum Ahmad Lasem Rembang. Dengan demikian semakin nyata, bahwa perjuangan keagamaan, dakwah dan pesantren menjadi semangat yang dimiliki oleh KH Ridwan Mujahid.

Pondok Pesantren Tegal

Keakraban KH Ridwan Mujahid dengan para pendiri NU lainnya sudah tidak asing. KH Ridwan Mujahid bersama ulama Jawa Tengah lainnya, KHR Asnawi Kudus dan KH Kamal Hambali Kudus turut serta hadir dalam deklarasi pendirian NU pada 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 M di kediaman KH Abdul Wahab Chasbullah Kertopaten Surabaya.

Di antara ulama yang hadir dalam pendirian NU di Surabaya berasal dari Semarang, Kudus, Tegal, Jombang, Sidoarjo, Pasuruhan, Bangkalan Madura, Gresik, Bangil,? Mojokerto dan Mesir. Mereka antara lain: KH Abdul Wahab Chasbullah, KH M Hasyim Asy’ari, KHR Muntaha (menantu KH Cholil Bangkalan), Kiai Mas Nawawi, KHR Asnawi, KH Kamal Hambali, KH Ridwan Mujahid, KH Muhammad Zubair Gresik, Syaikh Ahmad Ghonaim Al Mishri dan lain-lain.

Oleh para pendiri NU, KH Ridwan Mujahid diamanahi sebagai Musytasyar Syuriyah dalam struktut Pengurus NU periode pertama bersama dengan: KH Muhammad Zubair Gresik, KHR Muntaha Bangkalan Madura, KH Mas Nawawi Sidogiri, Syaikh Ahmad Ghonaim Al Mishri, KHR Asnawi Kudus dan KH Kamal Hambali Kudus. Adapun Rois Akbar dipegang oleh KH M Hasyim Asy’ari dan Katib KH Abdul Wahab Chasbullah.

Keberadaan KH Ridwan Mujahid dalam struktur NU semakin membawa daya tarik bagi masyarakat Semarang. Maka KH Ridwan Mujahid mengajak KH Abdullah dan KH Showam untuk mendirikan NU Kota Semarang. Tepat tanggal 24 April 1926, pengurus NU Cabang Kota Semarang berdiri dan dilantik oleh Katib Syuriyah KH Abdul Wahab Chasbullah yang berpusat di Surabaya. Lokasi pelantikan berada di Alun-Alun Kota Semarang yang berada di depan Masjid Agung Kauman Semarang.

Keberadaan resmi NU Cabang Semarang ini menjadi titik perjuangan para Kiai dalam mengenalkan Islam ahlussunnah wal jama’ah.Dan pergerakan NU Kota Semarang menjadi ringan karena ditopang oleh murid-murid KH Sholeh Darat yang sudah lebih dulu mengenalkan ahlussunnah wal jama’ah sebelum NU lahir dan berdiri di Semarang.

Walapun sudah dilantik dan resmi berdiri di Semarang, oleh karena NU belum memiliki gedung, maka koordinasi NU masih secara tradisional dari Masjid ke Masjid. Di antara Masjid yang sering digunakan untuk koordinasi NU adalah Masjid Nahdlatul Ulama di Jomblang Kecamatan Candisari Kota Semarang. Zainul Milal Bizawie (2016) mencatat sejak 1916 sudah berdiri Madrasah Nahdlatul Wathan di Surabaya dan mempunyai Cabang di Semarang yang bernama Madrasah Akhul Wathan. Oleh Choirul Anam (2015) lokasi Madrasah Cabang Nahdlatul Wathan di Semarang berada di Jomblangan Kidul.

Dalam catatan Amirul Ulum disebutkan bahwa NU Kota Semarang hingga tahun 1950-an masih menempati sekretariat di rumah-rumah pengurus. Di antara tempat yang dijadikan bascamp koordinasi pengurus NU adalah di rumah KH Irhas (Ketua Syuriyah tahun 1950-an). Pada tahun 1970-an NU Semarang memiliki gedung di Jalan Sudirman dari hasil wakaf. Anasom menjelaskan, sejak 1992 hingga sekarang, NU Semarang menempati gedung di Jalan Puspogiwang Semarang.

Kematangan organisasi KH Ridwan Mujahid dalam berkhidmah kepada NU ditunjukkan dengan kesiapan Semarang sebagai tuan rumah Muktamar NU keempat. Muktamar NU keempat adalah pertama kalinya Muktamar yang digelar di luar Kota Surabaya. Dikisahkan bahwa dalam kegiatan Muktamar NU keempat ini, KH Ridwan Mujahib berperan kuat dalam mensukseskan.

Muktamar NU keempat digelar pada 12-15 Rabiuts Tsani 1348 H/17-20 September 1929 M di Hotel Arabistan Kampung Melayu Semarang. Muktamar di Semarang tergolong sukses karena dihadiri 1.450 peserta terdiri dari 350 Kiai, 900 pengawal Kiai dan 200 pengurus Tanfidziyah. Saat Muktamar keempat di Semarang sudah terdaftar: 63 Cabang (13 Jawa Barat, 27 Jawa Tengah dan 23 Cabang Surabaya dan Madura).

Penutupan Muktamar Semarang juga sangat meriah karena digelar di Alun-Alun Semarang dengan dihadiri 10.000 jama’ah. Muktamar Semarang dihadiri langsung oleh Rais Akbar KH M Hasyim Asy’ari dinilai sebagai tonggak awal perkenalan NU daerah-daerah di luar Surabaya (Choirul Anam: 2015).

Melihat sepak terjang yang tidak kenal lelah dari KH Ridwan Mujahid, maka semangat ini patut ditiru oleh para generasi muda saat ini dalam memperjuangkan NU. Termasuk belum terungkapnya kisah-kisah lain dari KH Ridwan Mujahid masih perlu diperdalam. Sehingga dibutuhkan waktu lagi untuk melacak kiprahnya dalam semangat mendirikan NU dan menyebarkan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

M. Rikza Chamami, Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang dan Dosen UIN Walisongo



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal PonPes, Sejarah, Nusantara Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Harlah IKA-PMII, Tiga Lembaga Kolaborasi Bedah Buku ‘Fiqh Nusantara’

Jember, NU Jember.?

Dalam rangka memperingari harlah IKA-PMII dan pelantikan HMPS Hukum Tata Negara, Fakultas Syari’ah IAIN Jember mengadakan seminar dan bedah buku Fiqih Nusantara dan Sistem Hukum Nasional, pada Kamis, (20/4). ?

Acara yang dihadiri tak kurang dari 300 orang itu diadakan di auditorium IAIN Jember. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerja sama PC IKA-PMII Jember, Ponpes Darul Hikam Mangli Jember dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara Fakultas Syari’ah IAIN Jember. ?

Harlah IKA-PMII, Tiga Lembaga Kolaborasi Bedah Buku ‘Fiqh Nusantara’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah IKA-PMII, Tiga Lembaga Kolaborasi Bedah Buku ‘Fiqh Nusantara’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah IKA-PMII, Tiga Lembaga Kolaborasi Bedah Buku ‘Fiqh Nusantara’

Dalam sambutannya, Ketua Jurusan Hukum Islam, Muhaimin, mengatakan sangat senang adanya kegiatan ini.?

“Saya berterima kasih atas semua yang telah berkonstribusi dalam acara ini. Ini membuktikan bahwa prodi Hukum Tata Negara sangat bagus dan hebat. Saya harap akan banyak acara-acara serius tentang Islam Nusantara ini. Apalagi, sebentar lagi, Fakultas Syari’ah akan punya guru besar baru,” tukas Muhaimin memotivasi. ? ?

Pondok Pesantren Tegal

Pengasuh Putri Ponpes Darul Hikam, Nyai Robiatul Adawiyah menyebut pentingnya pesantren dalam mendukung kegiatan IAIN Jember dengan visinya Pusat Pengembangan Pesantren dan Islam Nusantara.?

“Kami, selaku pengasuh PP Darul Hikam mendukung visi IAIN Jember dengan Islam Nusantaranya, termasuk kegiatan bedah buku ini. Jadi, kalau ada acara yang berskala nasional bahkan internasional di masa-masa mendatang, kami siap berkonstribusi,” papar ibu Nyai muda yang masih menyelesaikan S2 Hukum Keluarga Pascasarjana IAIN Jember tersebut.?

Sementara itu, Ketua IKA-PMII Jember, Akhmad Taufik, mengatakan bahwa bedah buku ini adalah rangkaian harlah IKA-PMII yang ke-57.?

“Kita tanggal 17 April 2017 kemarin ada santunan anak yatim. Dan hari ini, 20 April, ada bedah buku Fiqh Nusantara. Selanjutnya, nanti tanggal 24 April ada tahlil dan halaqah kebangsaan untuk alm. KH Hasyim Muzadi di Masjid Sunan Kalijaga Jember. Selanjutnya, kerja sama tiga lembaga ini yaitu PC IKA PMII Jember, Ponpes Darul Hikam dan HMPS Hukum Tata Negara Fakultas Syari’ah berarti menunjukkan adanya kegiatan yang bisa diusung bersama,” kata Mas Taufik, panggilan akrabnya, yang juga dosen FKIP Universitas Jember.?

Pondok Pesantren Tegal

Seminar dan bedah buku ini juga berlangsung gayeng hingga berakhirnya pada pukul 13.00 WIB. Zaini Rahman, penulis buku ini menyebut bahwa pondasi hukum nasional di Indonesia ada dua, hukum Islam dan hukum adat.?

“Jadi, hukum Barat tidak menjadi pondasi hukum nasional di negara kita. Di sinilah, makanya para sarjana hukum Islam di negeri ini menjadi sangat penting, terutama untuk penalaran hukum. Itu kalau kita kembali ke hukum Islam. Saya sudah belajar bermacam-macam hukum, tapi akhirnya tetap kembali pada hukum Islam. Dan belajar hukum Islam ya di pesantren,” tukas Ketua PB IKA-PMII dan anggota DPR RI 2009-2014 ini.?

Kiai MN Harisudin memberi catatan buku ini sebagai buku yang lengkap untuk referensi buku pengetahuan hukum dan penalaran hukum.?

“Buku ini buku yang komprehensif membahas pengetahuan hukum dan penalaran hukum, dua hal yang dijadikan kompetensi hukum. Hanya, ada tiga catatan yang saya ajukan dalam buku ini. Pertama, buku ini kurang up date dalam hukum positif seperti UU Perbankan Syari’ah 2009, UU Produk Halal 2014, UU Haji 2014 dan sebagainya. Kedua, buku ini tidak menjelaskan metodologi fiqih Nusantara. Ketiga, buku ini sangat sedikit mengupas tentang fiqih Nusantara,” tukas Kiai yang juga Katib Syuriyah PCNU Jember.?

Al Khanif menambahkan tentang pentingnya hukum Islam. “Saya sering bertanya pada mahasiswa saya, kenapa hukum Islam dipelajari ? Apakah karena mayoritas? Mahasiswa saya tidak bisa menjawab. Saya katakan, hukum Islam dipelajari karena sudah menjadi bagian dari sistem hukum di dunia,” tandas al-Khanif yang juga Dosen Fakultas Hukum Universitas Jember. (Anwari/Mukafi Niam) ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Sejarah, Internasional, Daerah Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 15 November 2017

Kisah 3 Perempuan yang Selamat ketika Gempa Aceh

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Pagi itu, Rabu 7 Desember 2016, kesadaran Nurhayati belum sepenuhnya datang ketika gempa bumi berkekuatan 6,4 skala richter melanda Pidie Jaya, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

“Saya masih tidur, merasa kayak mimpi. Gempanya bukan goyang, tapi kayak hentakan ke bawah terus ke atas,” tutur ibu tiga anak warga desa Loknga, Aceh Besar, kepada saya di lokasi pengungsian warga terdampak gempa di Desa Mesjid Tuha, Meurudu, Pidi Jaya, 13 Desember lalu.

Kisah 3 Perempuan yang Selamat ketika Gempa Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah 3 Perempuan yang Selamat ketika Gempa Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah 3 Perempuan yang Selamat ketika Gempa Aceh

Nurhayati meneruskan cerita. Tak lama setelah hentakan itu ia rasakan, ia segera membangunkan ketiga anaknya, dan membawa mereka keluar dari rumah.

Keadaan tempat tinggal Nurhayati yang berupa rumah panggung terbuat dari kayu, ternyata sudah agak miring. Sebagian dari rumah itu tertelan tanah. Ia dan anak-anaknya, serta ibu kandungnya, makin masuk ke dalam keadaan terkejut dan cemas.?

Lebih mengejutkan dan cemas lagi, saat ia melihat dari tanah yang terbelah di dekat rumahnya, keluar air yang memancar. Ingatan Nurhayati tertuju pada peristiwa tsunami Aceh 14 tahun lalu. Ia mulai berpikir, jangan-jangan gempa yang tengah terjadi memang bersusulan dengan tsunami.

Pondok Pesantren Tegal

“Mak, ayo keluar. Ini ada banjir. Ayo kita pergi ke gunung (bukit),” tutur Nurhayati menirukan teriakan kepada ibunya.

Dengan gerak cepat, mereka pun bersiap untuk lari ke arah bukit.?

Pondok Pesantren Tegal

“Gunung terdekat dari sini jauhnya 20 kilometer. Kami pergi ke gunung naik becak motor. Saya melihat semua orang panik. Selain kami banyak juga yang berlari ke arah gunung,” lanjut Nurhayati.

Belum tiba di bukit yang dituju, gempa pun berhenti dirasakan Nurhayati. Gempa pagi itu memang hanya berlangsung sekitar 15 detik. Ia melihat banyak orang sudah berkumpul di Kantor Bupati di Manyang Lancok. Ia pun bergabung dengan mereka.

“Kalau ada banjir kami sudah berada di tengah-tengah. Kami cari aman di situ,” kata Nurhayati menceritakan alasannya mengapa bergabung dengan warga di Kantor Bupati Pidie Jaya. Waktu itu sudah ribuan warga yang mengamankan diri di sana.

Pada saat yang bersamaan, Jumyati sedang mengambil air wudlu. Ia mendengar suara atap rumah seperti diketuk-ketuk. Ia mengira ketukan di atap rumah itu dilakukan binatang.

“Tetapi sesudah itu bumi seperti bergoyang-goyang. Saya pun keluar dari rumah. ‘La illaahaillallah…’ teriak saya sambil berlari ke masjid. Lalu ikut salat subuh,” cerita wanita 52 tahun itu.

Di lokasi lainnya, Asmawati yang baru terbangun dari tidur, melihat pintu rumanya terbanting-banting berkali-kali. Ketika ia mencoba membuka pintu itu, ia tidak bisa melakukannya.?

Merasakan pusing di kepalanya, wanita 50 tahun ini, memilih merangkak. Aswawati dan dua orang anaknya, berusaha untuk secepatnya keluar dari rumah.?

Kepada saya, Asmawati mengatakan gempa tersebut adalah sebagai peringatan agar dirinya dan warga Pidie Jaya selalu ingat kepada Allah SWT.?

Bantuan pemulihan kepada mereka harus diberikan. Nurhayati, misalnya, ia berharap ada bantuan dana untuk perbaikan rumahnya yang rusak akibat gempa.

Di Pidie Jaya ada banyak orang yang nasibnya serupa dengan Nurhayati, Asmawati, dan Jumyati. Bantuan dan dukungan kepada mereka harus diwujudkan dan menjadi kepedulian kita bersama. Mengutip Ketua LPBINU M Ali Yusuf, bantuan pemulihan harus menjadikan warga Pidie Jaya tidak hanya kembali seperti keadaan semula, tetapi jika dapat, menjadikan mereka lebih baik. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Sejarah, Kajian Pondok Pesantren Tegal

Senin, 30 Oktober 2017

AS Hikam: Tuduhan Allan Nairn kepada As’ad Ali Fitnah

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Wakil Ketua Umum PBNU KH As’ad Said Ali (ASA) diberitakan tempo.co bermasalah sehingga tidak layak menjadi Kepala BIN. Kesimpulan tersebut diperoleh dari Allan Nairn, warga AS yang mengaku sebagai jurnalis investigasi. (3/11/2014).

AS Hikam: Tuduhan Allan Nairn kepada As’ad Ali Fitnah (Sumber Gambar : Nu Online)
AS Hikam: Tuduhan Allan Nairn kepada As’ad Ali Fitnah (Sumber Gambar : Nu Online)

AS Hikam: Tuduhan Allan Nairn kepada As’ad Ali Fitnah

Dalam status Facebook-nya yang diunggah pada Rabu, 5 November 2014 (19:54 WIB) Muhammad AS Hikam sangat meragukan pengakuan Allan Nairn tersebut. “Terus terang, saya tak percaya sama sekali dengan ocehan Allan Nairn (AN) yg diberitakan tempo.co ini,” tulis Hikam.

Wartawan AS tersebut, lanjut Hikam, mengatakan bahwa mantan Wakil Kepala BIN yang juga Waketum PBNU, ASA mengakui dirinya “bertanggungjawab atas kematian Munir” dalam sebuah wawancara. AN pernah juga menggunakan klaim yang mirip ketika dia menulis tentang Prabowo Subianto (PS), yakni hasil wawancara “off the record” yang dia buka kepada publik.

Pondok Pesantren Tegal

“Wartawan ini, dengan mengatasnamakan jurnalisme investigasi, hemat saya mencoba mempengaruhi publik Indonesia dengan informasi yang sulit untuk dibuktikan atau diverifikasi validitasnya. Hasilnya, bisa jadi hanya fitnah atau minimum sebuah sensasi politik murahan belaka,” tegas Menteri Riset dan Teknologi era Presiden KH Abdurrahman Wahid ini.

Pondok Pesantren Tegal

Hikam menganggap ocehan AN tentang statemen As’ad sebagai tidak nalar dan sangat lemah. Tidak mungkin menurut nalar yang waras, seoramg pejabat intelijen buka mulut semaunya kepada wartawan asing yang reputasinya dikenal kurang bagus di negeri ini. “Sebodoh-bodoh agen intelijen, jika ia buka mulut tentu melihat dulu siapa yang diajak bicara dan apa gunanya. ASA jelas bukanlah seorang pejabat intelijen kemarin sore, dan jelas bukan orang bodoh,” tulis Hikam.

Menurut pria bernama lengkap Muhammad Athoillah Shohibul Hikam ini, fakta bahwa ASA menjadi orang sipil pertama yang mencapai karir wakil kepala BIN tentu cukup menjadi bukti kecakapan dan keahliannya.

Dengan geram, Hikam menulis di akun Facebook-nya: “Apakah AN sudah demikian hebat dan penting sehingga bisa membuat seorang ASA bicara dan bahkan mengaku terlibat dalam kasus pembunuhan Munir kepada dia? Yang lebih penting lagi mana bukti yang diberikan AN kpd wartawan tempo.co dan apakah sudah divalidasi akurasinya serta ditanyakan kpd ASA sebelum memuat ocehan tersebut.”

Agar publik tak terjebak dalam teori konspirasi atau dianggap anti orang asing atau anti wartawan dan media, Hikam berpendapat agar AN mesti diusut omongannya secara tuntas. Demikian pula tempo.co harus diminta menjadi saksi dalam pengusutan tersebut.

“Sebab AA bukan saja mantan pejabat intelijen negara, tetapi juga tokoh NU, sebuah ormas Islam terbesar di negeri ini yang punya reputasi baik dan terhormat dlm urusan membela HAM,” tulis Hikam beralasan.

Bagi Hikam, reputasi ASA dan NU dipertaruhkan jika ASA dituding sebagai orang yang bertanggung jawab dalam pembunuhan tokoh HAM Munir yang juga dihormati oleh Almaghfurlah Gus Dur. “Munir merupakan salah seorang teman seperjuangan Gus Dur ketika beliau berdua masih hidup,” tambah Hikam. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Sejarah Pondok Pesantren Tegal

Senin, 25 September 2017

“Satire Sang Kapiten” Pentas di Pesantren Az Zahra

Jepara, Pondok Pesantren Tegal. Pesantren Az Zahra Mlonggo Jepara menggelar pentas monolog “Satire Sang Kapiten” bersama Zaki Zarung (pegiat komunitas Matapena Yogyakarta), Sabtu (24/1) malam.

Kegiatan bulanan itu dihadiri ratusan orang dari santri, alumni dan masyarakat umum. Monolog tersebut bercerita tentang dinamika kejahatan. Bahwa hadits kullu mauludin yuladu ‘alal fithrah (setiap anak terlahir dalam kondisi suci) bermakna, karakter buruk anak tidak berasal dari dirinya sendiri sejak lahir, melainkan pengaruh luar, termasuk mungkin orang tuannya.

“Satire Sang Kapiten” Pentas di Pesantren Az Zahra (Sumber Gambar : Nu Online)
“Satire Sang Kapiten” Pentas di Pesantren Az Zahra (Sumber Gambar : Nu Online)

“Satire Sang Kapiten” Pentas di Pesantren Az Zahra

Ceritanya, ada seorang Kapiten yang mencari anak buah. Kesempatan itu Malin yang cerdas namun jahat mengikuti audisi. Setelah menjadi anak buah kapal Malin malah meracun sang Kapiten.

Pondok Pesantren Tegal

Alhasil ia menggantikan posisi sang Kapiten dan memimpin gerombolan bajak laut. Plus memperoleh anak sang Kapiten, si cantik. Singkat cerita, saat si Malin mendarat di sebuah pulau ia bertemu dengan ibunya. Karena Malin tak mau mengakui ibunya ia lalu diterjang badai.   

Nah, kesempatan itu, dimanfaatkan oleh Zaki Zarung, pegiat Komunitas Matapena Yogyakarta untuk menyampaikan pesan dalam monolognya. Pertama, Guru Matematika SMKN 1 Sewon Bantul itu tidak sepakat dengan konsep anak durhana sebagaimana kisah Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu.

Pondok Pesantren Tegal

Orang tua (Ibu, red) tidak boleh mendoakan hal jelek kepada anaknya. “Saat ibu sudah terlanjur berdoa jelek sebaiknya ada rasa penyesalan,” papar Ahmad Zaki, nama aslinya.

Kedua, sejahat apapun seseorang masih mempunyai ruang untuk bertaubat. Sehingga, saat si Malin diterjang badai, Kiai Samuderalah yang menolognya dan si Malin bertaubat.

Pengasuh pesantren Az Zahra, Hj. Luluk Waqifiyah yang diwakili Kepala SMK Az Zahra, Hasan Khaeroni menerangkan melalui pentas tersebut harapannya bisa menjadi pelajaran untuk santri. “Pelajaran tidak hanya diterima dari kelas namun dari pentas juga banyak ilmu yang bisa diunduh dan di amalkan,” harapnya. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Kyai, Sejarah Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 05 September 2017

Liga Santri Nusantara 2016 Resmi Dibuka di Balikpapan

Balikpapan, Pondok Pesantren Tegal. Liga Santri Nusantara (LSN) Piala Menpora Sepakbola U 18 tahun 2016 secara resmi dimulai di Stadion Persiba Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (19/8) sore. Pembukaan turnamen nasional ini ditandai dengan pemukulan lima beduk diiringi lantunan lagu resmi Gerakan Nasional Ayo Mondok.

Prosesi pemukulan beduk dilakukan secara bersama-sama oleh Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyah NU (RMINU) KH Abdul Ghaffar Rozin, Panglima Kostrad Letnan Jendral Edy Rahmayadi, Pangdam 6 Mulawarman, Ketua Panpel Region I Kaltim Abdulloh.

Kiai Said dalam kata sambutan memotivasi para santri untuk menjadi orang yang maju dalam segala hal, termasuk di bidang olahraga. Ia berharap kelak ada santri yang menjadi bintang sepakbola nasional.?

Liga Santri Nusantara 2016 Resmi Dibuka di Balikpapan (Sumber Gambar : Nu Online)
Liga Santri Nusantara 2016 Resmi Dibuka di Balikpapan (Sumber Gambar : Nu Online)

Liga Santri Nusantara 2016 Resmi Dibuka di Balikpapan

"Kita tunjukkan bahwa santri serba bisa," ujarnya disambut gemuruh tepuk tangan yang datang dari berbagai daerah. Mayoritas dari mereka adalah para santri.

Acara pembukaan berlanjut dengan pertandingan eksebisi antara Tim PON Kaltim berhadapan dengan PON Jabar. Di stadion yang berada di Jalan Perikesit, Kompleks Perumahan Pertamina itu juga berlangsung kick off ? LSN 2016 yang mempertemukan Pondok Pesantren Naam Darussalam Balikpapan dan Pondok Pesantren Al-Muhajirin Samarinda. Masing-masing berasal dari Region Kalimantan I yang meliputi Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Pondok Pesantren Tegal

Meski pembukaan resmi secara nasional diselenggarakan hari ini, kick off sudah berlangsung di sejumlah region seperti Nusa Tenggara Barat dan DKI Jakarta.

Sampai berita ini ditulis, prosesi pembukaan hanya ditandai dengan pemukulan beduk. Sementara kick off yang sedianya dilaksanakan secara simbolis oleh Menpora Imam Nahrawi urung dilakukan lantaran gangguan kesehatan. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Hadits, Sejarah Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal

Rabu, 09 Agustus 2017

GP Ansor dan Bagana Bantu Korban Banjir Mojoagung

Jombang,Pondok Pesantren Tegal. Gerakan Pemuda Ansor Jombang mengirim bantuan korban Mojoagung dan Sumobito Jombang. Bantuan berupa susu dan mie instan langsug diserahkan kepada korban akibat luapan sungai Gunting Mojoagung, Jombang.

GP Ansor dan Bagana Bantu Korban Banjir Mojoagung (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor dan Bagana Bantu Korban Banjir Mojoagung (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor dan Bagana Bantu Korban Banjir Mojoagung

Komandan Satuan Koordinasi Cabang Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Subandi pada Jumat ? (21/2) malam mengatakan, bantuan berupa susu formula untuk makanan bayi, mie instan serta air mineral langsung diserahkan kerumah rumah warga yang mendapatkan musibah.

"Kita datang ke rumah warga d Desa Sanan dan Desa Betek Mojaogung untuk menyerahkan bantuan berupa kebutuhan bayi dan juga mie instan serta air, yang itu memang menjadi kebutuhan mereka,” ujarnya kepada Pondok Pesantren Tegal.

Pondok Pesantren Tegal

Di samping mengirimkan bantuan, lanjut Subandi, juga mengirimkan relawan Banser Tanggap Bencana (Bagana) yang sejak musibah banjir terjadi Kamis malam. Mereka membantu para warga dan pengungsi yang ada di RTH mojoagung.

Pondok Pesantren Tegal

"Ada 10 relawan Bagana yang kita terjunkan ke lokasi sejak hari pertama banjir. Dan memang Bagana ini sudah menyatu dengan BPPD kabupaten Jombang dan selalu stanby on call ketika menghadapi bencana," imbuhnya.

Seperti didiketahui, banjir melanda tiga kecamatan di kota santri tersebut sejak Jumat dini hari. Banjir akibat luapan sungai menerjang tiga kecamatan, yakni Mojowarno, Mojoagung dan Sumobito.?

Akibat luapan air sungai ini, 3 desa di Mojowarno, 8 desa di Mojoagung dan beberapa desa di Sumobito terendam hingga satu meter. "Ketinggian air rata rata 70 centi meter. Bahkan ada yang 2 meter lebih," ujar Kepala BPPD Nur Huda mengatakan.

Tak hanya itu, beberpa fasilitas pemerintah seperti sekolah, Kantor Pos, dan Polsek terendam dan sedikitnya 1000 warga mengungsi. Mereka menempati masjid-masjid dan sebagian berada di ruang terbuka hijau (RTH) depan masjid Jami’ Mojoagung. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Sejarah, Humor Islam, Hadits Pondok Pesantren Tegal

Selasa, 04 Juli 2017

Mengatur Sifat Amarah dalam Diri Manusia

Pringsewu, Pondok Pesantren Tegal

Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu dihadapkan dengan berbagai macam permasalahan. Hal ini sebagai konsekuensi interaksi dengan lingkungan yang kadangkala mengikis kesabaran dan akhirnya melahirkan sifat amarah dalam diri manusia.

"Sifat marah adalah sifat dasar manusia. Tidak ada manusia yang tidak mempunyai sifat marah. Manusia yang tidak punya marah itu malaikat yang berwujud manusia. Namun manusia yang kerjannya marah terus itu Iblis yang berwujud manusia," kata Ustadz Ahmad Syaifuddin saat mengisi materi pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi), di Aula Gedung PCNU Pringsewu, Lampung, Ahad (28/2).

Mengatur Sifat Amarah dalam Diri Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengatur Sifat Amarah dalam Diri Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengatur Sifat Amarah dalam Diri Manusia

Ustadz Syaiful, demikian ia disapa, menerangkan dengan merujuk hadits Nabi nomor 16 pada kitab Arbain Nawawi bahwa Nabi Muhammad SAW berpesan kepada umatnya agar senantiasa menahan amarah dalam menghadapi setiap persoalan.

"Marah boleh. Yang tidak diperbolehkan adalah marah-marah. Karena marah-marah itu seperti bara api yang membakar manusia," tegasnya.

Menurut Imam Al-Ghazali, kemarahan merupakan pembuka segala keburukan dan dapat menghilangkan kebaikan. Lalu bagaimana menghilangkan kemarahan yang sering muncul di tengah problematika kehidupan?

"Jika rasa marah datang menghampiri maka duduklah, jika belum hilang berebahlah, jika belum hilang berwudhulah, jika belum hilang shalatlah, jika belum hilang bacalah Al-Quran. Insyaallah rasa marah yang membuncah akan sirna," katanya.

Pondok Pesantren Tegal

Ustadz Syaiful menekankan, manusia adalah makhluk yang banyak dosa dan tidak memiliki kekuasaan apa-apa. "Orang yang suka marah-marah itu merasa banyak wewenang, banyak kekuasaan. Mereka merasa bisa apa-apa dan punya apa-apa. Padahal tidak,"  terangnya.

Ia juga mengingatkan jamaah agar senantiasa menanamkan sifat sabar dan selalu menebar kebaikan kepada sesama. "Tebarkan kebaikan dan peganglah prinsip bahwa kebaikan apa pun yang dilakukan jangan ada terbersit keinginan untuk mendapat pamrih dan dipuji oleh orang lain," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal

Pondok Pesantren Tegal Pendidikan, Nahdlatul Ulama, Sejarah Pondok Pesantren Tegal

Minggu, 02 Juli 2017

Gusdurian: Tindak Tegas Pelaku Kekerasan di Yogyakarta

Jakarta, Pondok Pesantren Tegal. Kekerasan dengan dalih agama kembali terjadi. Kali ini menimpa? salah seorang aktivis Forum Lintas Iman, Aminuddin Azis, di Gunung Kidul, DI Yogyakarta, Jumat (2/05). Menurut sejumlah sumber, aksi kekerasan dilakukan oleh segerombolan orang dari? FJI (Front Jihad Islam).? Kekerasan ini ditengarai akibat pernyataan korban di sebuah media massa.

Koordinator Jaringan Gudurian Indonesia Alissa Wahid dalam rilis yang diterima Pondok Pesantren Tegal, Ahad (4/5), menuntut aparat kepolisian bertindak tegas dan menangkap pelaku. Ia juga mendesak para penegak hukum, khususnya di DIY, untuk melindungi kebebasan berpendapat dan beragama sesuai amanat Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.

Gusdurian: Tindak Tegas Pelaku Kekerasan di Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian: Tindak Tegas Pelaku Kekerasan di Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian: Tindak Tegas Pelaku Kekerasan di Yogyakarta

Menurut Alissa, kasus yang menimpa Aminuddin Azis ini mengikuti peristiwa-peristiwa kekerasan atas nama agama yang sebelumnya terjadi di wilayah DI Yogyakarta, seperti perusakan kantor Yayasan LkiS, ancaman terhadap Rausyan Fikr, ancaman penutupan Gereja dan lain-lain.

Pondok Pesantren Tegal

"Selama ini berbagai kasus kekerasan atas nama agama tidak pernah diusut secara tuntas. Para pelaku tetap dibiarkan berkeliaran tanpa hukuman," kata putri sulung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)? ini.

Hal tersebut, lanjut Alissa, menunjukkan bahwa penegak hukum di Indonesia, khususnya di DIY, gagap dan tidak mampu menjamin kebebasan berpendapat dan kebebasan beragama yang sebenarnya dijamin oleh konstitusi.

Pondok Pesantren Tegal

Jaringan Gusdurian juga meminta aparat hukum untuk tidak takut terhadap siapapun dan kelompok manapun yang melanggar hukum dengan dalih agama.? Para pecinta dan penerus perjuangan Gus Dur diseluruh Indonesia didorong untuk terus berjuang mewujudkan keadilan hukum dan melawan semua bentuk diskriminasi serta penindasan.

Komunitas yang berdiri pascawafatnya Gus Dur ini menyerukan kepada masyarakat luas untuk terus memantau dan mengawal penegakan hukum terhadap kasus-kasus kekerasan atas nama agama.? (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Tegal Hadits, Nasional, Sejarah Pondok Pesantren Tegal